Archive for January, 2015

Sekedar Renungan (1)

Menyanyi. Menari. Tersenyum hadapi dunia, begitulah saran-saran motivator. Anggap saja mereka tidak punya latar belakang bisnis. Bersih, tanpa maksud buruk. Maka, kita telan bulat-bulat saja nasihat mereka.

Saya coba terapkan. Sejak pundi-pundi uang memenuhi Anjungan Tunai Mandiri. Menyanyi. Menari. Tersenyum hadapi dunia. Aneh, rasa-rasanya ada yang hilang.

“Suatu kata bermakna apabila dihadapkan dengan kata oposisinya”, kurang lebih itu yang saya ingat mengenai oposisi biner di dalam buku-buku Cultural Studies. Siang bermakna dengan adanya malam. Pria bermakna dengan adanya wanita. Baik terhadap buruk. Atas terhadap bawah. Jika Suka (cita) ada tanpa Duka, apakah Suka (cita) masih bermakna?

Mungkin, kita enggan melihat dunia ini bulat-bulat. Menghindar menuju dunia ‘imaji’ yang diinginkan. Dunia damai, tanpa perang, tanpa lapar.

Tapi apakah pernah ada dunia seperti itu. Sejak adam turun (dipaksa turun?) dari surga menuju Bumi, dan anak-anak mereka melakukan pembunuhan prasejarah , sejak itulah kita harus merasakan perihnya ‘neraka’ kecil ini : bumi.

Ferry Fadillah, Januari 2015

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Dipenogoro

Musuh sengaja mengatur siasat

Untuk menangkap Dipenogoro secara khianat.

Demikianlah berita di tengah rakyat Magelang

Ketika ia di dalam masjid asyik sembahyang.

(Dipenogoro oleh Sitor Situmorang)

***

Pria berperawakan sedang berjubah putih dengan surban besar di atas kepala itu bukan ekstrimist garis keras yang ditakuti dunia kini. Dia putra raja, memilih bersama rakyat, melakukan revolusi, namun, miris, sejarah kelak menulisnya semata melawan karena patok di tanah leluhur belaka.

Rade Mas Antarwirya, begitulah pangeran kecil dipanggil, putra sulung Hamengkubuwono III, Raja Jawa di Yogyakarta1. Seperti Gautama, dia memilih meninggalkan gemerlap dunia istana. Menyendiri dari gua ke gua, belajar agama dari kiai ke kiai. Kebahagian baginya ialah berkumpul dengan santri miskin  dan mendengar penderitaan rakyat.

Dia tanggalkan pakaian Jawa. Menggantinya dengan pakaian Rasul serba putih. Baginya masyarakat jawa adalah masyarakat jahiliyah pra-islam. Seperti tugas rasul saat itu : menyempurnakan akhlak dan menata masyarakat Jawa menjadi Islami adalah tujuan utama.

Alkisah, Belanda semakin kurang ajar. Keraton sudah kehilangan wibawa. Pejabat Jawa lupa akan jati diri. Hedonisme dan pesta pora menjadi Tuhan baru. Tidak tanggung-tanggung, rakyat dibebani pajak-pajak yang tidak masuk akal. Bagi pejabat Jawa di keraton, menyenangkan hati kafir belanda adalah lebih penting dari nyawa rakyatnya sendiri.

Amarah memasuki jiwa Dipenogoro. Dia kumpulkan rakyat yang akan berjuang bersamanya. Para pejabat keraton yang memihak rakyat, dan petarung-petarung tangguh seantero  Jawa. Bagi Dipenogoro, haram baginya meniru-niru kafir belanda. Dia tiru model organisasi Jannisari dari Turki Ustamani sana. Pangkat militer tertinggi digelari Alibasah, membawahi pasukan infanteri dan kavaleri.

Rakyat dari desa ke desa semakin banyak mendukung perjuangan Dipenogoro. Bagi mereka ini bukan perjuangan menuntut keadilan, sandang, pangan belaka, namun perang sabil di jalan yang suci.

Kejam. Belanda tidak mau ambil pusing. Mereka bakar setiap desa yang mendukung Sang Pangeran. Ternak dan beras dijarah, penduduk tidak bedosa dibunuh. Namun, rakyat tidak pernah kehilangan nyali.

Sebagian besar wilayah kerajaan berhasil diduduki. Sayang, beberapa pasukan membelot. Lelah dengan perang bertahun-tahun, tergiur akan harta dan tahta. Namun, Dipenogoro tidak gentar. Pabrik-pabrik mesiu dibangun, perang gerilya terus dilancarkan. Benteng-benteng Belanda kewalahan menghadapi perlawanan mujahid. Mereka takjub : pasukan Dipenogoro bisa bertahan dengan logistik seadanya.

Perang terus menelan korban. Belanda semakin beringas, pasukan mujahid Dipenogoro tidak mau menyerah. Baginya, ini perang suci, nyawa hanya titipan Tuhan. Jika perang ini berhasil, sistem kerajaan Jawa akan dihapuskannya. Diganti dengan Kekhalifahan di Tanah Jawa. Dengan harap berkah dan makmur meliputi negeri  yang subur permai.

Bagi rakyat, perang menimbulkan penderitaan lahir batin. Bagi belanda, perang ini memakan biaya yang tidak sedikit. Genjatan senjata dimulai. Gegap gempita seantero negeri Jawa. Rakyat bisa kembali istirahat dengan tenang.

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Bukan Belanda jika tidak licik. Dipenogoro diajak berunding, namun pasukan pribadinya dilucuti. Dipenogoro ditahan semena-mena. Babad berkisah 2:

Bab ing aprang kabeh sun kang luput yekti (mengenai perang, semua itu saya yang bersalah)

Kabeh apan darma (semua itu darma)

Anglakoni prentah mami (melaksanakan perintah saya)

Prang iki satanah jawa (perang di seluruh tanah Jawa)

Itulah keluhuran budinya, tidak ingin rakyat Jawa di bantai Belanda, maka semua kesalahan perang disematkan kepadanya

Kini, Dipenogoro dikenal sebagai pahlawan nasional. Pelajar se-Indonesia hapal betul tanggal lahir dan kapan terjadinya perang itu. Sayang, Negeri Islam yang dulu dicita-citakannya kini dicibir, oleh bangsanya sendiri.

Ferry Fadillah, 25 Januari 2014

Catatan :

  1. id.wikipedia.org
  2. Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stesel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu, Depok, 2014, hal. 180

, , , ,

Leave a comment

Run (baca : lari)

Saya bukan seorang kritikus apalagi mahaguru. Namun, perkembangan budaya akhir-akhir ini, khususnya di kalangan muda-mudi, memancing saya untuk membahasnya.

Color Run. Light Run. Night Run. Seolah-olah menggambarkan jenis kegiatan yang berbeda-beda, padahal semua berada dalam satu rumpun yang sama yakni run (lari;Indonesia). Yang membedakan antara satu dan yang lain bukanlah atas kehendak run itu sendiri tapi manusia sebagai creator yang memang tidak memiliki rasa puas sejak Adam di kahyangan sana.

Manusia ditempatkan dalam Kingdom Animalia bukan tanpa alasan. Tipis. Manusia tanpa pikir, maka binatanglah ia. Begitu juga sebaliknya, binatang dengan pikir, maka manusialah ia. Dan yang mempertautkan antara manusia dengan binatang adalah libido atau hasrat (desire). Manusia dan Binatang memiliki hal yang sama.

Mula-mula ketika mood jelek, muda-mudi berpikir untuk mengkonsumsi coklat untuk menghilang penat. Kemudian, coklat tidak lagi memiliki efek. Ketika rasa gusar itu kembali datang, mungkin, ia akan mengkonsumsi ice cream mahal di mall terdekat. Sayang, ice cream itu lagi-lagi tidak memiliki efek. Maka, mereka akan terus mencari pemenuhan hasratnya. Makan di restoran mahal, belanja membabi buta, bercumbu dengan kekasih atau berganti-ganti pasangan sampai libido itu terpenuhi, padahal tidak mungkin terpenuhi.

***

Run, bisa dikategorikan sebagai meme yang menurut Mihaly Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psycology for the Third Millenium, menggunakan istilah ini untuk menjelaskan unit informasi kultural, yang merupakan padanan dari istilah gen (gene). Istilah meme berkaitan dengan kata Yunani mimesis, yang berarti meniru. Meme adalah semacam pesan kultural yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui contoh-contoh dan imitasi1

Run sebagai meme pun demikian. Melalui dunia nyata yang dilipat dalam bit-bit televise dan media online, Run mengalami salinan (replica), kembaran (doubles), duplikat, ikonisme atau keserupaan (similitude). Sehingga kita bisa saksikan, perkembangannya yang memikat padahal hanya berkutat di masalah olaharaga belaka : lari.

Manusia sebagai puncak rantai makanan memang dikaruniai libido. Saya tidak pernah menyarankan siapa pun untuk menghilangkan libido itu seperti petapa yang mencari moksa di pedalaman hutan Kambodja. Masalah timbul ketika konsep masyarakat tontonan (Society of Spectacle) diperkenalkan . Yakni, masyarakat yang hampir segala kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan, dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Pasif. Dikendalikan oleh media.

Libido. Meme. Society of Spectacle Semua muncul dalam ruang perbincangan budaya. Pertanyaanya bukanlah masalah mana yang baik-buruk, transenden-imanen, luhur-rendah, tapi sejauh mana peran kita sebagai muda-mudi. Penerus kehidupan di masa yang akan datang.

Terpengaruh oleh suatu meme kemudian dengan libido melakukan salinan atau kembaran dan meng-amin-kan diri sebagai masyarakat tontonan. Pasif. Tanpa perlawanan, tanpa daya cipta. Atau, menciptakan meme, membuat orang mempunyai libido untuk meneruskan pesan itu dan mengendalikan mereka sebagai masyarakat tontonan.

Ferry Fadillah

Note :

1. Yasraf A. Piliang, Semiotika dan Hiper Semiotika : Kode, Gaya dan Matinya Makna, Matahari, Bandung, 2012, hlm. 382

, , , , , ,

4 Comments

Matinya Intelektualitas

Aku memberi kesaksian,

Bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

Dan penghayatan kenyatataan dikekang

Diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

Kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

Dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

Karena nalar dicurigai dan diawasi.

Penggalan Syair W.S. Rendra berjudul Kesaksian Mastodon-Mastodon (1973)

***

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipuja-puja, disanjung-sanjung, dieluk-elukan, kata orang, sekolah ini sekolah favorit, sekolah papan atas, incaran para lulusan sekolah menengah atas. Tunggu dulu? Apa yang mereka cari dari sekolah ini?

Jelas. Tujuan material adalah tujuan mereka. Sebab, konsekuensi lulus dari dari STAN adalah diangkatnya menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan. Nasib mereka akan berubah. Tingkat pengangguran di Indonesia akan berkurang. Dan tentu bertambah juga kelas menengah  se-antero Indonesia. Masalahnya adalah, apakah lulusan STAN telah benar-benar insyaf akan dirinya sendiri dan kelak untuk siapa mereka bekerja (baca : berjuang)? Kita harus tilik kembali ke dalam kehidupan kampus dibilangan bintaro ini.

Matinya Intelektualitas

Sekolah para akuntan, pemungut pajak, penilai dan ekonom ini menawarkan subjek-subjek ilmu pengetahuan yang menarik. Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro, Akuntansi, Ilmu Hukum, Keuangan Publik, Hukum Keuangan Negara dan puluhan ilmu pengetahuan lain yang berbeda di setiap prodi.

Saya yakin, semua Mahasiswa, berlomba-lomba untuk memahami itu semua. Mereka akan belajar keras menjelang ujian, berusaha untuk menghapal semua slide yang diberikan oleh dosen di kelas. Sayang, saya sempat kecewa –mohon maaf- ketika melontarkan kritik atas cara penyampaian seorang dosen ekonomi dihadapan teman sekelas. “Sudah, cara dosen menyampaikan materi tidak perlu digubris, yang penting dia baik memberi nilai”, celoteh seorang teman.

Miris. Apakah ini cara berpikir semua mahasiswa STAN? Saya harap hanya satu dua orang berpikir seperti ini. Kalau sampai semua anak STAN berpikir seperti ini, maka benar-benar intelektualitas telah mati di kampus yang katanya favorit ini.

Mereka yang Lupa

Saya bukan seorang pakar pendidikan, apalagi professor sebuah perguruan tinggi. Saya hanyalah mahasiswa yang rindu akan hingar bingar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya mencetak mahasiswa menjadi kritis, progresif dan revolusioiner.

Mahasiswa kelak selalu mempertanyakan status quo. Mengapa ini seperti ini? Mengapa tidak seharusnya seperti itu? Pertanyaan yang berulang atas segala sesuatu yang orang awam anggap sebagai kewajaran adalah perlu untuk menciptakan inovasi-inovasi, perubahan dunia menuju kemapanan di segala bidang.

Ketika ilmu pengetahuan hanya dihapal kemudian dijadikan capital memperoleh ijazah agar kelak bekerja tenang di lingkungan pemerintahan, maka sesungguhnya mahasiswa telah melacurkan intelektualitas mereka sendiri.

Pola pikir pragmatis seperti ini hanya akan melahirkan birokrat muda yang sibuk mengisi kantongnya dengan pundi-pundi gaji. Mereka malas berpikir, yang terpenting adalah mengikuti instruksi atasan dan bermuka  manis atas setiap perintah dengan harapan pengharggaan berupa : kedudukan.

Saat ini semua terjadi, mahasiswa yang telah menjadi birokrat muda itu telah lupa bahwa mereka adalah bagian dari rakyat. Rakyat yang kesusahan setiap hari karena harus ditindih oleh kebijakan pemerintah yang mengakibatkan kemiskinan struktural. Rakyat yang terus meratap dan berdoa kemudian dinina bobokan dengan janji pahala kesabaran dan imbalan surga yang kemudian lupa untuk menuntuk hak-hak mereka atas hidup dan penghidupan.

Menjadi Intelektual

Intelektualitas berarti kita insyaf bahwa semua ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku kuliah adalah untuk memperkuat daya kritis kita dan mensejahterakan mereka yang marjinal. Leon Trotsky pernah berkata, “The intellectual wants to rise above capitalist mental oppression, the academics are capitalist mental oppression”

Maka yang kita perlukan agar tetap berpihak kepada rakyat adalah mejadi seorang intelektual. Menjadikan ilmu pengetahuan yang kita dalami di kampus sebagai amunisi yang kelak membebaskan tetangga kita, orang satu daerah dengan kita, rakyat di tempat penempatan kelak, merdeka semerdek-merdekanya dengan membuka mata mereka akan hak-hak mereka dihadapan para penguasa.

Ketika filsafat hidup, dan penghayatan akan kenyataan dibebaskan, saya yakin mahasiswa STAN yang kelak menjadi birokrat muda, yang tersebar seantero Nusantara, yang jumlahnya beribu-ribu itu, dengan tegas dan gagah akan mengatakan tidak atas segala kelaliman siapapun juga.Ingat : Vox Populi Vox ‘Dei’!

Ferry Fadillah, dimuat dalam Warta Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Edisi 27, Januari 2015.

, , , ,

Leave a comment