Archive for category POLHUKAM

Muslim Memilih Pemimpin

Hormat saya kepada Riyan Fajri yang telah menertawakan dua buah tulisan berjudul “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN” dan “Menjawab Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN” dengan tulisan berjudul “Menertawakan Surat Orang-Orang Pintar”. Alumnus yang suka menertawakan kesokpintaran ini juga menyebutkan bahwa tulisan pertama menggelikan dan tulisan kedua menyedihkan. Bukan hanya tulisannya menurut saya, namun julukan itu juga ditujukan kepada penulisnya. Namun itu bukan masalah, karena sebaik-baik manusia adalah yang membalas keburukan dengan kebaikan.

Ragam Pembacaan Semiotika

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Bayang-Bayang Tuhan : Agama dan Imajinasi” menyebutkan dua arah utama pendekatan semiotika yang telah dikembangkan dan digunakan dalam cultural studies. Pertama, semiotika struktural, dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, yang telah menekankan telaah tanda sebagai sebuah sistem, struktur, dan relasi yang disebut langue. Kedua, semiotika sosial, memusatkan perhatian pada telaah tentang tindakan penggunaan tanda secara konkret di dalam masyarakat, yang disebut parole. Yang pertama, menelaah bahasa sebagai sistem kode yang baku, yang kedua menelaah penerapan atau pengamalan kode-kode itu secara sosial, yaitu bagaimana kode-kode itu diinterpretasikan dan digunakan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Semiotika struktural lebih memusatkan perhatian pada telaah kode, konvensi, atau aturan-aturan main yang telah disepakati secara sosial-historis sebagai sebuah konvensi sosial yang telah mempunyai ketetapan dan tidak pernah berubah. Semiotika sosial lebih membantu dalam membantu dalam memahami pembacaan plural masyarakat teks disebabkan ia lebih memusatkan perhatian pada tindak penggunaan tanda sehari-hari secara sosial dalam konteks sosial-kultural yang ada.

Seharusnya untuk mendapatkan pemahaman teks yang utuh, model pembacaan semiotika struktural harus dipadukan dengan model pembacaan struktural sosial. Namun, dalam hal pembacaan teks suci yang mengandung kebenaran awal (Logosentrisme) penggunaan semiotika struktural harus lebih dikedepankan dibandingkan semiotika sosial. Karena, teks suci memiliki kebenaran yang berasal dari Tuhan, dan kebenaran baku itulah yang dicari dalam pendekatan semiotika struktural.

Sosial-Historis dalam Pembacaan Semiotika Sosial

Pembaca semiotika sosial selalu mengaitkan teks dengan keadaan sosial sebagai realita yang tidak dapat dibantah. Indonesia, pasca kemerdekaan, ketika dalam tahap menentukan ideologi nasional, para founding father kita mengalami pergulatan ideologi yang cukup kontroversial. Yang paling mencolok adalah antara ideologi islam dengan nasionalis-sekuler. Mayoritas dari mereka pada mulanya setuju bahwa spirit Islam harus dibawa ke dalam tataran negara, sehingga akan mewarnai praktik ke-Islam-an dalam tataran masyarakat. Namun, sebagian takut apabila Indonesia yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama akan berubah menjadi sebuah negara theokrasi dengan Islam sebagai pemegang kendali kekuasaan.

Sungguh, itu merupakan alasan yang menihilkan perjuangan para ulama dan santri dalam membebaskan tanah air ini dari kerajaan protestan belanda dengan tiga misi utama yakni gold, gospel dan glory. Sehingga, generasi indonesia kini yang lupa dan buta akan sejarah begitu bersemangat menjadikan demokrasi-sekuler sebagai realita sosial yang harus diterima semua lapisan masyarakat.

Parahnya lagi, hal-hal yang bertetangan dengan itu dengan serampangan dilabeli anti-pancasila, anti-pluralisme, penyokong Negara Islam Indonesia, pemberontak dan lain sebagainya. Akibatnya, lawan dari itu seuma atau label-label itu selalui identik dengan musuh yang harus dienyahkan.

Kembali ke dalam semiotika, pembacaan teks suci pun mengalami hal yang serupa. Alih-alih mencari makna asal sesuai kebenaran mutlak Tuhan, pembaca kini lebih memilih menyesuaikan teks suci itu dengan ideologi demokrasi-sekuler yang menempatkan teks suci dibawah konvensi buatan manusia.

Apakah ini tepat? Apakah dalam memaknai teks suci kita harus menjadikan realita sosial sebagai pijakan kebenaran, sehingga penafsiran teks suci harus menyesuaikan dengannya?

Kebenaran ada dalam Pembacaan Semiotika Struktural

Coba bayangkan sebuah daerah. Zinah telah menjadi komoditi lumrah yang diperjual belikan. Mayoritas masyarakat menjadikan zinah sebagai tumpuan ekonomi keluarga. Lantas, untuk melindungi masyarakat dan ekonomi daerah tersebut, para ulama mengeluarkan fatwa akan halalnya zinah asalkan dengan alasan ekonomi. Apakah hal ini waras?

Ketika Allah menurunkan QS An-Nisa ayat 144 dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin, haruskah kita harus menjadikan demokrasi-sekuler dan konvensi turunannya sebagai sebuah realita sosial di atas hukum-hukum Allah yang sudah sangat jelas ini :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir auliya’ dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

M. Quraish Shihab di dalam “Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran” menafsirkan ayat diatas sebagai berikut :

Setelah jelas sudah apa yang harus dihindari, termasuk menghindari orang-orang kafir dalam konteks menjadikan mereka sebagai auliya’, dan jelas pula keadaan orang-orang munafik dan keadaan orang-orang mukmin, kini melalui ayat ini Allah menyeru kepada semua yang mengaku beriman :”Wahai orang-orang yang mengaku beriman, baik pengakuan benar maupun bohong, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir auliya’ teman-teman akrab tempat menyimpan rahasia, serta pembela dan pelindung kamu dengan meninggalkan persahabatan dan pembelaan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu atau bukti yang jelas bahwa kamu benar-benar bukan orang-orang beriman? Sungguh, hal yang demikian tidak sejalan dengan keimanan kamu, tidak juga dengan nilai-nilai ajaran agama Islam yang kamu anut.

Ayat di atas menggunakan kata aturidunal/maukah kamu pada firman-Nya : Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah. Redaksi demikian yang dipilih, bukan kata apakah kamu menjadikan, untuk menekankan betapa hal tersebut sangat buruk. Baru pada tingkat mau saja mereka telah dikecam, apalagi jika benar-benar telah menjadikannya seperti itu.

Ayat ini merupakan kecaman keras yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman akrab, tempat menyimpan rahasia, bukannya larangan untuk bergaul secara harmonis dan wajar, atau bahkan memberi bantuan kemanusiaan buat mereka. Allah membolehkan kaum muslimin bersedekah untuk non-muslim dan menjanjikan ganjaran untuk yang bersedekah.

Saya melihat tafsir di atas adalah tafsiran jelas yang lebih condong kepada jalan tengah. Menjadikan pemimpin kafir sebagai wali amanah, wazhoif qiyadiyah atau wilayat madaniyah itu sama saja menjadikan mereka sebagai pembela dan pelindung orang mukmin.

Setelah saya paparkan logika saya yang mungkin tidak waras bagi sebagian orang, saya ingin mengajak mereka yang muslim untuk tetap berpegang teguh kepada keyakinan ini. Biarlah orang berpendapat berdasarkan ideologi yang mereka anut. Pada akhirnya, dunia akan diisi oleh tiga jenis manusia : mukmin, munafik dan kafir.

Dan bershaf lah bersama mereka yang mukmin!

Pulau Dewata, 15 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Menjawab “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN”

Agama adalah candu. Begitu keyakinan kaum materialis-komunistis ketika melihat kenyataan bahwa agama telah menjadi alat pembenaran bagi penguasa negara theokrasi memeras habis kapital rakyatnya. Namun, pendapat itu tidak selamanya benar. Bagi sebagian orang, agama adalah obat. Oase di tengah padang pasir keserakahan manusia yang menjadikan benda sebagai landasan berpikir. Cahaya bagi kegelapan peradaban yang menjadikan pikiran manusia yang terbatas sebagai acuan kebenaran.

Dalam perjalanannya, agama selalu berdampingan dengan politik. Agama dan Politik seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pemilihan Umum Presiden 2014 tanggal 9 Juli lalu pun diwarnai isu-isu seputar agama. Antara Islam dan non-Islam. Antara Islam dan sekularis. Ternyata, geliat politik di perhelatan besar lima tahunan ini bergulir ke sebuah kampus bagi para abdi Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Dalam pemilihan presiden mahasiswa tahun ini, warga STAN dihadapi oleh dua pilihan. Fandy, mahasiswa D-IV, semester 7, beragama Islam dan Gilang, mahasiswa D-IV, semester 9, beragama Katolik.

Merujuk tulisan Meidiawan Cesaria Syah berjudul “Surat Tebuka Kepada Mahasiswa STAN”, saya dapat membayangkan bahwa pertunjukan politik di sekolah kedinasan populer itu pun tidak sarat dari isu-isu agama. Di dalam tulisan beliau, isu yang menjadi pokok tulisan adalah sebuah pernyataan : bahwa sudah seharusnya muslim memilih kawan muslimnya, jangan yang non-muslim.

Apakah benar ini hanyalah sekedar isu dari sekelompok orang yang sudah tidak dapat berargumen untuk mencitrakan pemimpin pilihannya?

Sebelumnya, saya jabarkan dulu secara singkat tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memandang agamanya dan mengkaitkannya dengan segala aspek kehidupan. Asy-Syahid Hasan Al-Bana pernah berkata mengenai agama ini, “Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, atau ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, atau kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.” Hasan Al-Bana menggambarkan wajah islam yang universal dan totalitas. Tidak mendikotomi permasalahan apapun di dunia ini dengan Islam. Bahwa, Islam tidak hanya mengurusi hal-hal berbau ritual belaka. Namun, Islam pun mengurusi hal besar yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak : politik.

Keyakinan Islam seperti di atas, hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki derajat iman. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya puncak kebenaran, acuan perkataan dan perbuatan. Bukankah Islam dalam bahasa arab bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Alah? Sehingga, adalah sebuah perkara yang jelas jika seorang muslim menjadikan kitabnya (Al-Quran) sebagai acuan kebenaran.

Pertanyaan bergulir menjadi, “Apakah kehendak Allah dalam menentukan pemimpin umat?”

Saya kutip dasar hukum yang nyata, yang berasal dari Tuhan yang saya dan anda yakini keberadaannya :

Hai, orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah untuk menghukummu? (An-Nisa :144)

Meidiawan Cesaria, saya bertanya kepada nurani anda sebagai seorang muslim, apakah ayat ini hanyalah sebagai isu belaka yang dapat diacuhkan atas nama negara demokrasi? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan dalam memilih pemimpin masuk kedalam kategori pemilih sosiologis, yang anda tempatkan dibawah posisi pemilih rasional dan pemilih psikologis? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan adalah orang-orang yang tidak rasional? Saya, tidak satu pendapat dengan anda.

Kalau memang demokrasi membebaskan kita untuk berpendapat dan berkeyakinan, maka inilah pendapat dan keyakinan seorang muslim yang benar, yang tidak dapat dikacaukan dengan pemahaman apapun juga. Bahwa ini adalah pemahaman paling rasional bagi mereka yang tergerak hatinya ketika dipanggil oleh Tuhan sebagai “orang-orang yang beriman”.

Atas nama keberagaman bukan berarti setiap pemeluk beragama harus mengilangkan truth claim agama yang mereka miliki. Karena truth claim itulah yang membedakan satu agama dengan agama lainnya. Bayangkan semua orang menganggap tidak perlu lagi memegang truth claim dalam agamanya, maka untuk apa lagi ada agama di dunia ini?

Akhir kata, saya mengajak semua mahasiswa STAN yang bergama Islam, yang menyatakan diri loyal kepada Allah dan berlepas diri selainnya agar menjadikan kitabullah sebagai satu-satunya acuan dalam memilih pemimpin. Jangan pernah goyah oleh pendapat-pendapat mereka yang menjadikan demokrasi sebagai illah-illah pengganti Allah. Sungguh, Allah akan memenangkan kita jika berada di jalan yang lurus. Ingatlah cita-cita founding father kita sebelum mendapat protes dari tokoh agama dari Indonesia timur : ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Bali, 13 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , , , ,

1 Comment

Pemimpin Ideal bagi NKRI

Oleh Ferry Fadillah

Indonesia tanah tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

S’lalu dipuja-puja bangsa

Begitulah sepenggal lagu dengan judul Indonesia Pusaka, yang tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Lagu ini biasa terdengar pada upacara bendera di pagi hari, pada saat tenggang waktu pergantian acara di RRI, dan pada saat anak-anak TK lantunkan sebelum memulai pelajaran.

Dalam penggalan lagu di atas ada sebuah realita bahwa dari dahulu hingga sekarang negara kita selalu di puji oleh bebagai bangsa. Mengapa bisa? Lihat saja negara ini, minyaknya melimpah ruah, emas bertebaran membentuk bukit dan gunung, timah berserakan, harta karun berjatuhan di laut jawa, pohon-pohon besar tumbuh liar di hutan, hewan-hewan banyak yang gemuk dan berbulu lebat, dan panorama alam yang indah bagai di negeri para dewa.

Tapi rakyat banyak yang sengsara, ada apa ini?

Akhir-akhir ini saya baru sadar bahwa yang bangsa lain puji adalah negara kita, bukan warga negaranya! Jadi jangan heran jika TKI kita diperlakukan semena-mena di negara lain, janganlah terpukau jika pekerja indonesia dihina oleh pengusaha asing, jangan berkerut dahi jika tetangga kita mencaplok pulau yang kaya minyak, dan jangan uring-uringan jika gunung emas kita diangkut oleh neo- kompeni.

Pemimpin Ideal

"Istana Bogor yang mewah dan wah"

Pemimpin seperti Ir. Soekarno, yang berani meneriakan go to hell with your aid kepada Amerika, adalah langka di negeri ini. Sosok pemimpin yang benar-benar ingin menjadikan indonesia BERDIKARI tanpa ada intervensi asing memang ada, tapi sulit untuk ditemukan. Langka bukan berarti tidak ada, bukan? Tapi tetap saja Pak Karno masih memiliki kekurangan dalam memimpin, dan begitupun manusia, tidak akan ada yang sempurna.

Saya, sebagai rakyat biasa, sangat memimpikan pemimpin yang begitu memperhatikan rakyat dibanding gedung-gedung pemerintahan yang begitu megah, kendaraan-kendaraan raja dan permaisuri pemerintah yang begitu mengkilap, dan pertemuan-pertemuan elit politik yang begitu mahal. Pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, buka keindahan halaman negara ini (tugu-tugu, istana, gedung-gedung dll), padahal rakyatnya menjerit dalam kesusahan.

Agar anda memiliki mimpi yang sama seperti saya marilah simak kisah di bawah ini.

Khalifah Umar

Kisah pertama :

Diceritakan dari Anas bin Malik, bahwa perut Umar bin Khatab pada suatu saat berbunyi, lantaran beliau hanya memakan minyak pada musim paceklik saat itu. Sebelumnya, Umar memang telah mengharamkan mentega untuk dirinya. Beliau tidak mau memakannya, karena beranggapan bahwa makan itu tergolong mewah.

“Engkau berbunyi karena tidak terisi. Maafkan aku, tak ada sesuatu untukmu sebelum masyarakat hidup makmur,” kata Khalifah sambil mengetuk perutnya yang kosong.

Kisah kedua :

Diceritakan, berita tentang keadilan dan kebijaksanaan Umar dalam memimpin sautu negara sampai ketelinga Kaisar Romawi. Maka, dia mengutus seorang pengawal pergi ke Madinah guna membuktikan kebenaran berita tersebut. Dan ingin mengetahui lebih dalam lagi bagaimana cara Umar dalam memerintah, sejauh mana kedekatannya dengan masyarakat, serta sejauh apa cinta rakyat kepadanya.

Ketika memasuki Madinah, utusan itu bertanya kepada seseorang, “mana rajamu?”

“Kami tidak mempunyai raja. Yang kami miliki adalah amir. Pada saat seperti ini, biasanya beliau sedang berkeliling madinah,” jawab orang itu.

Tanpa menunggu lebih lama, pengawal tersebut langsung berjalan mencari Umar. Dan ternyata, sang Khafilah sedang tidur dibawah terik matahari beralaskan pasir. Ia menjadikan tongkatnya sebagai bantal penyangga kepala, dan terlihat keringat mengucur dari keningnya.

Mendapati kenyataan diahadapannya, hatinya hancur, “Beginikah keadaan seorang lelaki yang kekuasannya terbentang demikian luasnya, seorang raja yang ditakuti oleh seluruh penguasa di segala penjuru. Engkau telah berbuat adil wahai Umar sampai-sampai engkau merasa aman tidur dimana saja sesuka hati. Aku bersaksi bahwa agamamu adalah benar. Seandainya aku bukan seorang utusan, pasti aku sudah memeluk agamamu. Aku akan kembali dahulu dan mengabarkan apa yang aku saksikan pada Kaisar Romawi, dan setelah itu, aku akan masuk Islam, “ ucap utusan itu.

***

Coba anda bayangkan jika Indonesia dipimpin oleh sesorang yang berkepribadian seperti Khalifah Umar. Cukup bayangkan, tidak perlu dicari! Sulit menurut saya jika harus mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Marilah kita berdoa dan kembali bermimpi..

"Masih banyak saudara kita tinggal di sini"

2 buah kisah di atas dikutip dari buku karangan Ustadz Ahmad Al-Habsyi yang berjudul Kisah-kisah Muslim yang kaya dan sukses.
sumber gambar : http://www.matanews.com dan www.primaironline.com

Leave a comment

Korupsi? Jangan Saling Tunjuk

Nama Gayus Tambunan tentu sudah tidak asing di telinga kita. Nama dan kisahnya telah beredar luas di udara melalui pemancar radio, di kertas koran melalui media masa, dan di layar komputer melalui pemberitaaan online. Pegawai Direktorat Jenderal Pajak ini termasuk salah satu mafia perpajakan yang melakukan tindak pidana korupsi sebesar 25 miliyar. Tentunya ini merupakan jumlah uang yang begitu besar dan prestasi terbaik bagi pegawai golongan IIIA.

Kisah seorang Gayus tentulah sangat berdampak bagi nama baik instansi tempat dimana ia bekerja. Pandangan sinis dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Direktorat Jenderal Pajak telah menjalar dimana-mana. Bahkan ada gerakan untuk memboikot pembayaran pajak di media sosial facebook yang anggotanya cepat sekali bertambah dari hari ke hari. Tentu apabila pemboikotan ini benar-benar terjadi hanya akan menambah permasalahan di negeri ini, mengingat pajak merupakan sumber keuangan vital bagi pembiayaan keperluan pemerintah dan rakyat.

Bukan Direktorat Jenderal Pajak saja sebenarnya yang ikut malu akibat kasus Gayus ini. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara sebagai almamater Gayus Tambunan beberapa tahun yang lalu pun ikut menjadi cibiran masyarakat. Kini ada sebagian masyarakat yang mengidentikan STAN sebagai sekolah calon koruptor. Tentu bukan hal yang bijak jika kesalahan seseorang digeneralisasikan terhadap semua hal yang terkait dengan kesalahan tersebut.

Saya sebagai mahasiswa sekolah tinggi kedinasan dibawah naungan Kementrian Keuangan sering mendengar cibiran dari masyarakat. Walaupun spesalisasi tempat saya belajar bukanlah perpajakan, tapi kasus pajak gayus turut mencemari spesialisasi yang saya jalani. Didalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu yang lalu, seorang bapak yang bekerja sebagai PNS di Kepulauan Riau mencandai saya dengan pernyataan bahwa tempat saya bekerja nanti merupakan lahan ‘basah’, dan tentu banyak ‘uang basahnya’. Ditambah lagi pernyataan seorang ibu yang biasa shalat di mushala kampus saya, “koyoe percuma ya mas. Rajin shalatne tapi nanti kerjane koyo gitu lah.” Entah apa maksud dari ucapan ibu tadi, yang jelas pernyataan tersebut telah menyinggung perasaan beberapa teman saya.

Jika kita bicara korupsi maka ada 3 aktor utama yang biasanya bermain : pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Ke-3 nya saling melengkapi dalam memulai kisah korupsi. Seorang pejabat pemerintah tentu akan goyah imannya jika masih ada masyarakat dan pengusaha yang selalu memberikan ‘uang pelicin’ untuk mendapatkan kemudahan. Begitu pula sebaliknya, masyarakat dan pengusaha tentu akan selalu memberi ‘uang pelicin’ jika ternyata ada pejabat pemerintah yang memang mau menerimanya dengan tangan terbuka. Kita ambilah contoh kasus pembuatan SIM yang tentu semua orang sudah tahu ‘jalan pintas untuk mendapatkan SIM dalam waktu singkat’. Jika memang masyarakat mau negeri ini bersih kenapa yah malah mengajak kerabatnya untuk memiliki ‘SIM singkat’ tersebut, seharusnyakan melaporkan ke pihak yang berwenang. Apa masyarakat juga takut jika terlibat ?, sebab pemberi dan penerima ‘uang pelicin’ tentu memiliki kesalahan yang sama di dalam hukum.

Disini saya bukannya memihak kepada pemerintah, dan tidak pula saya memihak kepada mereka yang kerap kali menyalahkan pemerintah. Saya ingin tahu apakah jadinya mereka yang berkoar dengan semangat di muka umum dengan slogan BERSIHKAN KORUPSI DI NEGERI INI dijamin bakal bebas korupsi jika bekerja di dalam pemerintahan. Apakah para akivis pemberantas korupsi akan menghindari korupsi jika mereka memungkinkan melakukan hal tersebut. Benarlah salah satu lyric lagu Ebit G Ade : tengoklah ke dalam sebelum bicara. Tampaknya bangsa ini lebih suka beretorika dengan kata-kata dibanding menyegerakan tindakan yang semestinya. Korupsi hanya akan terselesaikan jika 3 aktor utama : pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menggunakan hati nuraninya dalam menjalankan kehidupan ini. Jika salah satu aktor tidak dapat bekerja sama dalam pembersihan korupsi, jangan harap negeri ini akan bersih.

notes : tulisan ini pernah ditulis oleh Ferry Fadillah di http://www.kompasiana.com dengan judul yang sama

Leave a comment