Posts Tagged kartini

Memahami Feminisme (Feminisms)

Pada awalnya, wanita sebagai subjek maupun objek merupakan topik yang tidak menarik minta saya. Kemudian saya sadar, bahwa kehidupan sosial saya akan selalu dipengaruhi oleh wanita dan pemikiran-pemikiran yang mereka sebarkan secara langsung maupun tidak langsung. Ketika berada di dalam rahim, Ibu saya, yang tentu seorang wanita, dengan sabar memberi asupan gizi, membacakan lantunan ayat-ayat suci, berbisik dengan doa agar kelak saya lahir dengan selamat. Dari Ibu, saya belajar arti dari kesabaran. Ketika sudah lahir, saya diasuh oleh seorang Bidan di daerah Margahayu, Bandung. Bidan yang kesehariannya bekerja tanpa kenal lelah untuk merawat bayi-bayi yang baru lahir ke dunia. Dari Sang Bidan, saya belajar arti pengabdian. Beranjak remaja, saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada saat itulah, pertama kali saya mengenal yang namanya cinta, tentu cinta kepada wanita. Dari kekasih, saya belajar makna memahami, menghargai, menyayangi dan mengasihi. Dalam perjalanan hidup, saya menemukan pekerjaan sebagai abdi negara di Pulau Dewata.

Read the rest of this entry »

Advertisements

, , , , ,

Leave a comment

Kebebasan dan Pertimbangannya

“Bebas!”

Era Informasi, keterbukaan, semua bebas beropini, semauanya, konstruktif maupun destruktif. Orang gegap gempita manyambut era ini, namun saya cemas, begitu banyak informasi yang masuk ke otak saya, mempengaruhi saya, mereka melebihi kapasitas otak saya, saya takut menjadi mesin-yang berjalan atas kuasa di luar dirinya.

Menjamur karya-karya populer yang menjual ide-ide kebebasan. Kebebasan dalam menentukan takdir, pekerjaan, gaya hidup, pasangan hidup atau pandangan hidup. Semuanya saya rekam dengan baik dalam otak saya. Satu ide dengan ide lain ada yang berkolerasi, banyak pula yang kontradiksi, bahkan kontraproduktif.

Saya ingin menjadi, apa ia saya akan menjadi. Apa ia manusia punya keinginan ? jika ia, apa benar itu keinginan murni dari diri kita, atau utopia sesaat karena informasi yang baru saja kita dengar. Passion ? saya dengar kata asing itu, dan saya setuju jika kita bekerja/hidup dengan passion maka kita akan merasakan kebebasan itu. Bekerja/hidup tanpa paksaan sepadan dengan kebebasan bukan ?

Suatu ketika saya mengkaji ulang ide-ide mengenai kebebasan ini. Apa saya harus menjadi manusia bebas ? Berkarir sesuai keinginan ? Menyepak segala batas-batas yang ada dalam budaya kita ?

Dalam hati saya menjawab, ya, saya ingin menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya. Menjadi diri saya sejadi-jadinya. Bekerja sesuai minat saya sepuas-puasnya. Menyepak segala prasangka orang tentang saya. Namun saya sadar, saya manusia, saya hamba, saya mikro, saya inferior dibanding semesta yang begitu luas ini.

“Apa yang baik menurutmu, belum tentu baik bagimu, bisa jadi apa yang kamu anggap buruk, itu baik bagimu”

Kalimat itu terus terngiang dalam telinga saya. Itu kata-kata Tuhan ! Setelah itu saya tertunduk, bahwa saya banyak kekurangan, saya makhluk !

Sejak itu saya hormati perasaan mereka yang mencintai saya. Mereka yang bangga dengan keadaan saya seperti ini. Tabu-tabu yang mengatur kehidupan orang-orang agar selaras dengan alam dan harmoni dengan pesan Tuhan. Firman-firman yang sepertinya mengekang, namun bermakna kasih sayang bagi para hamba.

Sebagai penutup, saya mengutip surat Kartini kepada Nona E.H. Zeehandelar pada tanggal 23 Agustus 1900 (dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Door Duisternis tot Licht, halaman 78, Penerbit Narasi)

“Saya akan memperjuangkan kebebasan saya. Saya mau stella, saya mau mendengarkan kamu ? bagaimana mungkin saya akan mendapat kalau saya tidak mencari ? Tanpa perjuangan tidak ada kemenangan. Saya akan berjuang stella. Saya ingin merebut kebebasan saya. Saya tidak gentar menghadapi keberatan dan kesulitan, saya merasa cukup kuat mengatasinya, tetapi ada sesuatu yang saya anggap sangat berat Stella. Saya telah berulang kali mengatakan kepadamu, bahwa saya amat sangat mencintai Ayah. Saya tidak tahu, apakah saya akan berani melanjutkan kemauan saya jika dengan perbuatan itu saya akan mematahkan hatinya yang berdetak penuh cinta kepada kami. Saya mencintai ayah saya yang telah tua dan beruban. Tua dan beruban karena memeras pikiran untuk kami, untuk saya. Dan kalau seorang dari kami berdua harus celaka juga, biarlah saya yang celaka. Juga disini tersembunyi sifat memikirkan diri sendiri, sebab saya tidak akan dapat berbahagia apabila untuk mendapat kebebasan, kemerdekaan dan bertegak sendiri itu akan membuat ayah celaka.”

 

Ferry Fadillah
Bali, 6 Mei 2012

, , , ,

Leave a comment