Archive for category FILSAFAT

Stasiun

Dalam sebuah perjalanan, aku mendapat kabar: Patriot akan segera menikah. Seharusnya aku hadir di sana. Menjadi saksi sebuah tonggak sejarah. Awal dari tumbuhnya peradaban. Namun, jarak, waktu, dan kesempatan berkata lain. Aku harus memendam dalam-dalam keinginanku itu.

Dari prosesi yang aku amati dari jauh itu. Aku melihat wajah-wajah ceria dalam citra fotografi. Ada senyuman, ada kebahagiaan dan ada keceriaan. Tapi, dari sorot mata setiap orang muncul pertanyaan, “Mengapa hari ini datang begitu cepat?”

Belum tenggelam dalam ingatan. Gerombolan anak SMA yang lebih banyak bermain dibanding belajar. Setiap malam dihabiskan dengan bermain Pro Evolution Soccer, Tekken 3, Guitar Hero dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut malam. Siapa sangka, kesia-siaan itu merajut sebuah tali persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu dan tidak bisa dianggap sia-sia.

Sebenarnya, episode-episode dalam hidup ini seperti jejeran stasiun kereta yang terbentang sejauh 225 km dari Semarang ke Bandung. Pada mulanya kita akan bertemu orang baru di stasiun awal. Senyum dan sapa mencairkan suasana. Terjalinlah obrolan sepanjang perjalanan. Timbulah keakraban. Kemudian petugas kereta memberitahukan. Bahwa sebentar lagi akan memasuki stasiun Pekalongan. Mungkin itu tujuan orang itu. Segera saja kita berpamitan. Membalas senyum dan melihat kursi di sebelah menjadi kosong.

Selang beberapa menit akan ada orang lain yang mengisi kursi itu. Pertama kita kikuk. Seperti biasa, senyum  dan salam akan mencairkan suasana. Obrolan kembali terjalin. Keakraban terjadi dan pengumuman berbunyi. Kereta mendekati stasiun Cirebon. Orang tadi berkemas dan menyalami tangan kita. Dan kursi itu kembali kosong.

Read the rest of this entry »

1 Comment

Apakah Seperti ini Manusia Hidup

Dalam perjalanan Denpasar-Kuta yang lengang, seorang sahabat tiba-tiba bertanya, “Sudah beli apa aja, fer?” Heran mendengar pertanyaan itu lantas saya bertanya, “Maksudnya?” Tanpa basa-basi, ia melanjutkan, “Itu loh rumah, tanah atau asset apa gitu.”

Pertanyaan di terik siang mentari itu membuat saya bertanya hal yang serupa kepada diri sendiri. Tiba-tiba kesadaran saya beralih ke kilas fotografi di masa lalu. Mencari-cari barang yang pernah saya beli dengan hasil keringat sendiri. Motor bekas, buku bekas, buku sastra dan … hampir tidak ada aset yang bisa dibilang berharga dari kacamata kapitalis. Mau bagaimana lagi. Adanya begitu.

Sebenarnya pertanyaan itu adalah refleksi dari budaya persaingan di setiap lapisan masyarakat. Ketika duduk di sekolah dasar saya sering mendengar orang tua murid yang memiliki ambisi serius. Anaknya harus menduduki peringkat teratas mulai dari kelas satu hingga enam. Selepas sekolah berdatanganlah guru privat dengan bayaran mahal. Malam datang sang anak juga harus dibebani dengan tugas sekolah dan persiapan ujian akhir.

Di sekolah menengah, semua kisah cinta dan persahabatan harus rehat sejenak saat ujian saringan masuk perguruan tinggi di depan mata. Jauh-jauh hari bimbingan belajar dengan beragam jargon sudah menyebar brosur. Programnya menarik. Ada yang menawarkan probabilitas tinggi diterima perguruan tinggi bergengsi dengan jaminan uang kembali. Tentu bukan program yang bisa dijangkau kelas menengah bawah.

Setelah diterima di perguruan tinggi, mahasiswa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Persetan dengan ilmu humaniora. Kekayaan hanya menjadi milik orang-orang praktis. Menimba ilmu untuk menjadi sekrup industri. Atau bagi yang enggan bersaing ketat di sektor privat, menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah opsi yang menarik. Hidup dengan penuh kepastian dan kemudahan mendapatkan pembiayaan dari bankir dengan jaminan SK CPNS.

Setelah bekerja sekian tahun mulai datang kebutuhan lain. Pekerja di kota besar berebut lahan yang semakin terbatas. Pengajuan kredit rumah semakin semarak dengan uang muka rendah. Orang-orang ini kehilangan sebagian pendapatan, bekerja lembur, menghemat pengeluaran pangan, bermain valas atau investasi spekulatif dengan harapan memperoleh rumah idaman.

Jalanan semakin macet di beberapa ruas kota, mobil pribadi menjadi pilihan cerdas untuk mengatasi letih menunggu transportasi publik dan meningkatkan pamor di tengah masyarakat. Maka berbondong-bondonglah belanja kebutuhan ini dipenuhi walau harus mengurangi pendapatan sekali lagi. Karena semua orang bersaing untuk dapat datang tepat waktu ke kantor.

Sekilas kehidupan seperti ini sungguh merepotkan. Tidak ada jalan bagi penempuh jalan mistik yang mencari damai di pemukiman sepi. Kini, semua tanah dikapitalkan, setiap kesempatan diuangkan bahkan jalan spiritualitas dikemas layaknya produk industri yang diproduksi massal.

Kita, manusia, dibebani dengan rutinitas kerja, persaingan akan ruang untuk hidup dan capaian-capaian yang kapitalistik-materialistis. Seolah-olah kerja, mengumpulkan uang, membeli asset adalah jalan hidup yang dilakoni. Sebuah anugerah Tuhan yang tidak boleh ditolak.

Syahdan di Mongolia sana, ketika Jengis Khan belum tumbuh dewasa, orang-orang mongol tidak pernah berfikir seruwet ini. Hamparan padang rumput luas adalah tanah yang bisa diduduki siapa saja. Rumah dengan mudah diciptakan dengan material sederhana. Kalau sumber makanan di suatu padang habis, rumah itu tinggal dibongkar dan disusun di lain tempat. Tidak ada yang permanen bagi mereka. Semua hanya siklus perpindahan yang tidak berkesudahan.

Mungkin, kita, para pekerja, birokrat atau siapa pun yang memiliki pemikiran ruwet di atas perlu untuk belajar menjadi seorang pengelana. Membuka mata dan hati atas segala kemungkinan yang ada. Kiranya nurani kita bisa menjadi peka sehingga terbangun dan bertanya: apakah seperti ini manusia hidup?

 

Ferry Fadillah. Kuta, 16 Februari 2017

Leave a comment

Identitas yang Cair

Saat terlempar ke dunia, kita dihadapkan oleh manusia-manusia yang saling berebut pengaruh. Mulanya adalah Ibu kita yang dengan sabar mengasuh dan memberi pengertian norma. Mana yang baik dan mana yang buruk. Agama juga mulai diperkenalkan. Setiap perbuatan buruk akan diingatkan dengan konsekuensi tragis hukuman neraka. Sebaliknya, setiap perbuatan baik akan diganjar dengan nikmat surga. Pengalaman agama ini mendapat penguatan saat duduk di sekolah dasar. Bagi pembaca yang sekolah di era 90-an tentu tidak asing dengan komik ‘Siksa Neraka’ karya Tatang S. Komik dengan ilustrasi realis ini menggambarkan tingkatan siksa di neraka sehingga mudah dipahami oleh para bocah. Mungkin denga cara ini, di sela-sela permainan adu biji pala dan antrian es lilin para bocah sekolah dasar bisa mengalami peningkatan relijiusitas.

Masyarakat dengan arahan orang tua juga mempengaruhi manusia-manusia awal ini. Setiap kunjungan kerabat ke rumah selalu di ingatkan untuk menjaga lisan dari perkataan kotor. Maklum, anak kecil adalah peniru yang baik. Masih ingat video viral tentang seorang bocah yang berbicara kasar dalam bahasa jawa sambil nikmat menghisap rokok dengan lihainya? Tentu semua orang tua tidak mau anaknya gagal didik seperti itu.

Masalahnya adalah apakah orangtua bisa terus menerus mengawasi ide dunia yang masuk ke dalam benak anaknya?

Ada saatnya, orang tua menganggap anaknya sudah dewasa dan mulai melonggarkan pengawasan. Misalnya ketika anak duduk di bangku sekolah menengah. Ciri fisik mereka sudah berubah. Tidak ada lagi bayi imut yang wangi. Kini orang tua menghadapi anaknya yang sudah ditumbuhi bulu kemaluan dan matang secara seksual.

Pada masa seperti ini, manusia mulai mendapat banyak pengaruh dari luar dirinya. Misal, pacar, teman sepergaulan, kegatan ekstra, agama, pergaulan bebas, film, musik, sampai kebijakan pemerintah terhadap ruang publik.

Interaksi anak terhadap hal-hal tersebut akan mengalami penguatan apabila mereka nyaman akan ide tersebut. Jika masjid adalah tempat yang nyaman untuk berdiskusi agama dan mendekatkan diri kepada entitas adikodrati maka mereka akan mengidentifikasi diri sebagai seorang islamis. Bila bar, café, atau diskotik adalah tempat yang nyaman untuk curhat dan berdansa ria, mungkin, mereka akan melabeli diri sebagai pejuang kebebasan atau apalah yang menurut mereka cocok.

Ketika memasuki dunia kerja, identitas tersebut tidak akan mengalami perubahan drastis. Namun, bukan berarti identitas tersebut mapan hingga akhir hayat.

Kerasnya hidup di zaman kapitalis sekarang ini, antara beratnya menjaga rasio pendapatan terhadap hutang dengan biaya membesarkan anak hingga mandiri, sedikit demi sedikit manusia akan mengubah identitasnya. Mungkin kita pernah betemu kawan lama yang dulunya pemabuk kini menjadi motivator relijius dengan ratusan jamaah setia. Atau sebaliknya, kawan lama yang dulu relijius kini menjadi mucikari sukses di sebuah kawasan lokalisasi yang dilindungi politisi-pengusaha setempat. Mungkin, semua itu mungkin.

Perlu diingat. Tidak ada identitas yang mapan. Semua selalu berada pada titik ‘proses menjadi’. Maka tidaklah bijak menjadikan identitas kini sebagai dasar justifikasi seseorang kelak memperoleh siksa neraka atau nikmat surga.

Di antara silang sengkarut pengaruh orang dan ide-ide terhadap diri, ditambah cobaan hidup yang datang bertubi-tubi yang bisa kita harapkan adalah akhir cerita yang baik. Karena seorang pelacur yang memberi seekor anjing air sesaat sebelum matinyalah ia meraih surga.

Ferry Fadillah. Kuta, 18 Februari 2017

Leave a comment

Refleksi Masa Kecil Melalui Kisah Le Petit Prince (1943)

“But tell me, my brothers, what the child can do, which even the lion

could not do? Why must the predatory lion still become a child?

Innocence is the child, and forgeting, a new beginning, a game, a selfpropelling

wheel, a first movement, a sacred Yes”

Friedrich Nitzche

 

Setiap orang dewasa di dunia ini pasti pernah mengalami menjadi seorang anak. Momen dimana diri begitu polos, lugu, dan bersih. Segala sesuatu sangat rentan dan tergantung oleh ulur tangan manusia. Meminjam istilah Sigmund Freud, anak-anak  memiliki dorongan Id begitu besar sehingga setiap benda dan momen dianggap sebagai kesenangan semata.

Jika kita lupa telah menjadi seorang anak karena kepelikan hidup, ada baiknya mengamati anak-anak disekitar lapangan atau sekolah dasar. Lihat! Mereka bermain dengan riang tanpa ada kekhawatiran di wajah. Mereka, terutama yang balita, berkawan dengan siapa saja; melihat lawan jenis terkadang langsung menciumnya tanpa permisi; melihat yang sejenis langsung mereka bersapaan dan menjadi teman. Di dunia dewasa tidak ada lagi hal itu. Wajah-wajah manusia dewasa selalu diliputi kekhawatiran. Entah itu cicilan rumah, uang muka gedung pernikahan, kontrakan atau kemacetan yang membunuh waktu. Di dalam bercinta dan berteman pun manusia jarang menjadi tulus. Mereka memikirkan prestise dibandingkan isi, permukaan dibandingkan kedalaman. Maka betebaranlah munafik-munafik di dunia orang dewasa.

Antoine de Saint-Exupéry melalui dongeng sederhananya berjudul “Le Petit Prince” kiranya bisa mengembalikan ingatan masa kecil orang-orang dewasa. Buku tipis dengan kalimat dan ilustrasi yang sederhana ini bisa dibilang kritik halus terhadap dunia orang dewasa. Dalam pembukanya Exupéry menekankan bahwa sasaran buku ini adakah anak-anak yang kemudian menjadi dewasa karena orang dewasa memahami segalanya termasuk buku untuk anak-anak.

Kisah dalam buku ini menggunakan kata ganti orang pertama. Seperti memoar; sebuah pengalaman pribadi penulis yang diberi bumbu fiksi. Pembukaan buku ini menarik karena menggambarkan keegoisan orang dewasa yang selalu menganggap bodoh imajinasi seorang anak berusia enam tahun:

Gambarku tidak melukiskan topi, tetapi ular sanca yang sedang mencernakan gajah. Maka aku menggambar bagian dalam ular sanca itu, supaya orang dewasa dapat mengerti. Mereka selalu membutuhkan penjelasan. Gambarku nomor dua seperti ini:

elephant.png

Orang dewasa memberi aku nasihat agar aku mengesampingkan gambar ular sanca terbuka atau tertutup, dan lebih banyak memperhatikan ilmu bumi, sejarah ilmu hitung dan tata bahasa. Demikianlah pada umur enam tahun aku meninggalkan sebuah karir cemerlang sebagai pelukis

Bukankah paragraf di atas sangat dimaksudkan menyindir kita sebagai orang dewasa –terutama yang sudah memiliki anak. Sering anak-anak bermain di tanah lapang berkubang di dalam lumpur dan orang tua melarangnya. Atau bermain dengan pensil warna mencoret tembok dan orang tua membetaknya. Atau bermain dengan anak tetangga yang karena terlihat kumal orang tua melarangnya. Orang tua komtemporer lebih memilih anaknya bermain gadget di rumah dan bisa mengawasinya sepanjang waktu. Padahal larangan-larangan itu hanya akan menghambat pencarian bakat anak-anak. Maka terjadilah yang harus terjadi: para remaja lulusan SMA yang gamang akan melanjutkan kuliah di jurusan apa.

Selanjutnya, tokoh “Aku” menceritakan pengalamannya terdampar di Gurun Sahara yang sunyi dan bertemu dengan sosok Pangeran Kecil. Kekaguman tokoh utama bertambah karena Pangeran Kecil memahami apa yang dia gambar dan selalu mempertanyakan hal-hal aneh. Baru kemudian ia sadar  bahwa Pangeran Kecil bukan berasal dari bumi. Bagian menarik dari pertemuan ini adalah percakapan mengenai kepercayaan:

Aku menceritakan semua detail mengenai Asteroid B 612 (tempat Pangeran Kecil tinggal) ini sampai menyebut nomornya, gara-gara orang-orang dewasa. Orang dewasa menyukai angka-angka…

Maka jika kalian berkata pada mereka, “Buktinya Pangeran Kecil itu ada, ialah ia sangat rupawan, ia tertawa dan ia menginginkan seekor domba. Bila seseorang menghendaki domba , itu buktinya ia ada”,  mereka akan mengangkat bahu dan mengatakan kalian hanya anak-anak. Tapi jika kalian berkata, “Planet asalnya adalah Asteroid B 612”,  baru mereka akan merasa yakin dan tidak akan melelahkan kalian dengan pertanyaan lain.

Mungkin tokoh aku salah, zaman sekarang orang dewasa tidak cukup dengan angka-angka untuk percaya, mereka pasti menanyakan gambar, video atau bukti-bukti lain yang menguatkan keyakinan. Paragraf di atas mirip dengan perdebatan antara Plato yang idealis dan Aristoteles yang materialis. Penulis mungkin berusaha untuk menyerang materialisme yang menjadi kiblat zaman itu. Kepercayaan tidak harus dimulai dari keberadaan benda-benda yang dapat dicerap oleh indra, cukup dengan adanya kehendak maka sesuatu itu ada. Hal ini diperkuat oleh percakapan Pangeran Kecil dengan Sang Rubah saat ia telah menjinakannya dan bermaksud untuk meninggalkannya:

“Selamat jalan,” kata rubah. “Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya dengan hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”

Kritik selanjutnya tergambar dalam perjalanan Pangeran Kecil ketika meninggalkan planetnya dan mengitari planet-planet di sekitarnya. Planet pertama dihuni oleh seorang Raja yang merasa memiliki keuasaan tanpa ada seorang rakyat yang dapat diperintahnya. Planet kedua ia bertemu dengan seorang sombong yang sangat senang dikagumi ketampanan dan kekakayaannya. Planet ketiga dihuni seorang pemabuk yang memiliki alasan tidak rasional atas perbuatannya. Planet keempat dihuni seorang pengusaha sibuk dan serius yang menghitung semua bintang yang dimilikinya. Planet kelima dihuni seorang penyulut lentera yang terlalu patuh kepada aturan sehingga merepotkan dirinya sendiri. Planet keenam dihuni seorang ahli bumi yang hanya mendengar pengetahuan dari para penjelajah tanpa mau mengobservasi langsung objek penelitiannya. Semua perjalanan ke planet itu, apabila dibaca secara saksama adalah kritik penulis terhadap kekuasaan, kesombongan, amoralitas, kapitalisme, birokrat dan para cendikiawan yang berkubang di menara gading.

Inti cerita dongeng ini adalah kisah cinta Pangeran Kecil dengan mawar di planet asalnya. Mawar di sini bukan nama samaran korban perkosaan tapi wujud bunga berwarna merah dengan duri di sekujur batangnya. Pangeran Kecil begitu mencintai mawar, merawat dan menjaganya. Tapi mawar begitu angkuh dan tidak berterimakasih atas semua kebaikan Pangeran Kecil. Maka mengembaralah Pangeran Kecil sampai ke bumi dan mendapati ada banyak mawar di sana. Ia kecewa ternyata mawar yang ia cintai tidaklah unik, satu-satunya di semesta, tapi mawar biasa seperti mawar-mawar lain di bumi. Tapi persepsinya berubah setelah Pangeran Kecil bertemu rubah dan memahami arti dari sebuah penjinakan:

“Aku mencari teman. Apa artinya jinak?

“Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi kalau kamu menjinakan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia…”

“Aku paham”, kata Pangeran Kecil.

Setelah pencerahan itu pangeran kecil memiliki persepsi lain kepada mawar yang ditinggalnya. Baginya mawarnya adalah yang paling special, ia tidak tergantikan dan perasaan untuk bertemu sang mawar kembali menguat.

Bukankah ini sebuah pesan cinta yang begitu halus namun mengena? Berapa banyak kasus perceraian dan perselingkuhan akibat pasangan merasa bosan, jenuh, muak dengan omelan istri, gaji kecil suami dan lain sebagainya. Manusia dewasa sudah tidak lagi bisa memahami cinta menggunakan hatinya tapi berupaya menggunakan akalnya dengan logika untung-rugi yang begitu dangkal. Kiranya sebagai penutup perlu kita menyimak pesan terakhir Sang Rubah kepada Pangeran Kecil:

“Manusia telah melupakan kenyataan ini,” kata rubah.

“Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu…”

 baobao

Referensi:

Exupéry, Antoine. 1943. Le Petit Prince. Terjemahan H. Chambert-Loir. 2016. Pangeran Cilik. Cetakan Kelima. Gramedia Pustaka Jaya: Jakarta.

Sumber gambar:

The Little Prince terjemahan Bahasa Inggris oleh Katherine Woods.

 

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

 

 

 

 

, , , , , ,

Leave a comment

The Three Metamorphosis: Interpretasi Sederhana atas Wacana Zarathustra

Ini merupakan kali pertama saya mengenal Friedrich Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra yang diterjemahkan dengan kurang baik ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Thus Spoke Zarathustra oleh H.B. Jassin, Ari Wijaya,dan Hartono Hadikusumo melalui Penerbit Narasi. Oleh karena kekurangan terjemahan itu maka saya harus membandingkan karya itu dengan terjemahan Bahasa Inggris yang ditulis oleh Bill Chapko sekaligus menandai kata yang ambigu di beberapa paragraf dan membuat terjemahan amatiran pada sisi kiri dan kanan buku.

 Secara umum buku ini berbicara mengenai teori Ubermensch yang diterjemahkan menjadi Manusia Unggul, superman, atau overman; sebuah istilah bagi manusia yang sudah melampaui manusia rata-rata. Teori mengenai Manusia Unggul ini banyak dibahas dalam Prolog dalam bentuk metaforis yang membingungkan. Pada intinya konsep Manusia Unggul menandakan sebuah kondisi dimana manusia memiliki kehendak bebas atas dirinya sendiri, menciptakan nilai-nilainya sendiri, tidak terikat konstruksi moral tertentu dan memiliki kreativitas tanpa batas.

Dalam ceramah pertama Zarathustra yang berjudul The Three Metamorphosis, Nietzche memberikan tahap-tahap spiritualitas untuk mencapai Manusia Unggul. Dalam wacana itu, dia menceritakannya dalam bentuk alegoris sehingga beberapa pembaca memiliki interpretasi yang beraneka ragam; sebagian melihatnya sebagai transformasi individu, sebagian lagi sebagai transformasi masyarakat. Dalam ulasan ini saya akan membahasnya dari segi individu.

Metamorfosis paling pertama dideskripsikan oleh Nitzhche sebagai seekor unta yang dituliskannya sebagai berikut:

“Apakah berat? Demikianlah bertanya si roh pemanggul beban demikianlah ia berlutut bagai unta, ingin dipunggah beban sepantasnya. Apakah hal yang paling berat, hai pahlawan, demikianlah bertanya si roh pemanggul beban (the spirit that would bear much), sehingga aku boleh memanggulnya dan bergembira dengan kekuatanku?”

Setelah kalimat ini Nietzche menjelaskan hal-hal yang dianggap berat oleh ruh tersebut. Salah satunya tergambarkan dalam ucapan ini:

“Ataukah hal ini: mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita kepada sang hantu ketika ia akan menakuti kita?”

Fase menjadi unta menandakan ketertundukan kepada aturan, norma, agama dan konstruksi eksternal yang menentukan cara pandang manusia. Hal ini dimetaforakan menjadi ruh yang berlutut seperti unta. Selain itu untuk mencapai dua tahap selanjutnya ruh harus merasakan derita, kegamangan, penderitaan, pengasingan agar memiliki kesiapan mental memasuki tahap selanjutnya.

Sang Unta kemudian berjalan sendiri menuju gurunnya sendiri. Sebuah fase yang menandakan kesadaran bahwa dengan penderitaan dalam hidup yang  dipanggulnya telah membedakannya dari manusia lain. Dalam kesendirian itu ia mempertanyakan segalanya: agama, norma, budaya, dan kesusilaan. Pada fase ini ia mendapati bahwa tidak ada kebenaran universal dan kebajikan adalah omong kosong. Biasanya dalam kondisi ini manusia merasakan bahwa hidupnya tidak memiliki makna dan memilih satu di antara dua jalan: bunuh diri atau menciptakan nilai/maknanya sendiri. Untuk menjadi Manusia Unggul ia harus menciptakan maknanya sendiri dan masuk ke fase berikutnya.

“Tetapi di gurun yang paling sunyi terjadi metamorphosis yang kedua: roh menjadi singa, ia ingin merdeka dan menjadi tuan di gurunnya sendiri. Ia mencari tuannya yang terakhir: ia akan melawannya dan Tuhan terakhirnya; untuk kemenangan yang akbar dia akan melawan Si Naga Besar. Siapakah Si Naga Besar yang tak lagi hendak dipanggil Tuan dan Tuhan ? “Engkau Harus (Thou shalt)” adalah nama Si Naga Besar. Tetapi roh si Singa berkata “Aku Hendak (I will)”

Dalam paragraf ini Nietzhe berusaha untuk mempertentangkan ruh Singa yang identik dengan sifat marah, liar, dan berani dengan Si Naga Besar yang menamai dirinya “Engkau Harus”. Pertentangan ini juga menandakan bahwa ruh pada fase kedua harus berani untuk menolak semua kebenaran universal (agama, budaya dsb) yang berusaha dicangkokan pihak eksternal untuk membentuk dirirnya. Untuk menolak ini tentu ruh tidak bisa berwujud menjadi unta yang penurut tapi harus menjelama menjadi singa yang berani. Setelah semua penolakan atas konstruk eksternal, ruh harus membuat nilai-nilainya sendiri –hal ini kemudian disebut dengan nihilisme.

Fase terakhir adalah menjadi anak-anak (child) karena:

“Si anak itu lugu dan pelupa, suatu awal baru, sebuah permainan, roda yang berputar sendiri suatu gerak pertama dan suatu “Ya” yang suci”

Mungkin Nietzche menyarankan agar ruh dalam wujud singa untuk melupakan fase-fase sebelumnya; seperti anak-anak yang polos dan ceria. Melupakan dalam artian tetap menjaga rasa penasaran dan pertanyaan kritis atas segala sesuatu sehingga temuan-temuan nilai baru dapat dilakukan melalui tahap-tahap metamorphosis. Pada fase inilah Manusia Unggul itu tercapai saat ruh mencapai kebebasan dan memiliki makna yang terbebas dari konstruksi eksternal.

Pertanyaan selanjutnya adalah apabila moralitas dikembalikan kepada subjeknya (nihilis) bagaimana menentukan suatu perbuatan itu salah atau benar (seperti pembunuhan, pemerkosaan dsb)? Sepertinya untuk memahami ini penulis harus banyak membaca lagi karya Nietzche lainnya.

Sekian.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment

Percikan Pemikiran

Aku salah mengenal shubuh. Aku pernah melaluinya dengan selimut tebal dan kasur empuk. Samar suara adzan dari masjid komplek tidak pernah menembus telingaku; bahkan tidurku semakin dalam dan pulas.

Ada saat dalam kebodohan itu, aku terbangun begitu saja ketika muadzin hampir usai melantunkan adzan. Shalat itu lebih baik daripada tidur. Aku tahu itu. Sejak kecil aku mengaji di taman pendidikan Al-Quran. Belajar aqidah dan etika islam. Tapi saat dewasa, aku rasa bekas-bekas pengajian itu memudar perlahan. Dimulai dari cita-cita ku yang semakin banal.

Dulu aku bercita-cita mejadi seorang ustadz. Tapi setelah melihat kehidupan guru ngaji komplek yang sederhana, aku mengurungkan niat itu. Kemudian aku bercita-cita menjadi dokter. Hidup mereka berkah, menolong orang lain dan kekayaan seakan tidak ada habisnya menghampiri mereka.

Tapi takdir berkata lain. Aku tidak pernah tahu apa yang ditulisNya di lauhul mahfudz. Aku tidak pernah tahu akan menjadi seperti apa aku kelak. Dan ketika aku bersalaman dengan filsafat aku juga berpikir: kenapa aku diciptakan?

Bukankah dunia itu tempat segala dosa. Bukankah adzab neraka itu pedih? Kenapa Tuhan membiarkan makhluknya bersentuhan dengan dosa? Kalau neraka diciptakan sebelum penciptaan bumi, berarti sudah ada makhlukNya yang dipastikan menghuni tempat itu? Lalu kenapa mereka diciptakan untuk dimusnahkan?

Aku tidak pernah sempat menjawab itu semua. Aku juga belum pernah menanyakan kepada para alim. Ah, mereka itu, aku tidak suka dengan retorika-komersial nan dangkal itu. Mereka tidak pernah memuaskan dahaga filsofiku. Bahkan aku mengambil jarak dan mulai mengaji dengan mereka yang melabeli diri sebagai filsuf dan teolog.

Apakah aku salah?

Aku kira ayat-ayatNya terhampar tidak hanya dalam teks-teks suci. Gunung, lembah, laut, pasir, batu, bintang, langit, musim juga ayat-ayatnya. Juga manusia itu sendiri. Aku takut ketika teks-teks itu menguasai diriku, aku tidak lagi bisa memahami manusia. Aku hanya bisa memahami teks tapi tidak bisa memahami manusia. Aku tidak mau seperti itu. Bukankah Sang Nabi terlebih dahulu memahami karakter bangsanya, istrinya, kaulanya sebelum menerima perintah iqra? Bukankah yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya?

Cukup. Aku tidak pernah terampil menyusun kata-kata. Paragraf-paragraf ini hanyalah percikan-percikan pemikiran yang tidak terarah. Kau tidak perlu terlalu serius membacanya.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Maret 2016

, ,

Leave a comment

Hikayat Tiga Tahanan

Alam priyangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Pepohonan hijau nan rindang menutupi bukit-bukit di sepanjang patahan vulkanik. Air jernih mengular dari hulu gunung Sunda menuju sungai-sungai di hilirnya. Memberi kehidupan bagi tumbuhan, serangga, ikan dan burung; semua demi kelangsungan siklus kehidupan. Sekumpulan kera hutan bercengkrama di bawah pohon mahoni besar, berusaha keras membuka ubi yang baru saja dicuri dari petani sekitar. Anak-anak mereka –berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa- berlari ke sana ke mari; tanpa khawatir seolah dunia adalah milik mereka. Benih-benih pohon mulai tumbuh dengan menghisap unsur hara dari tanah, perlahan namun pasti akarnya mulai melebar ke segala arah sumber air, batang mudanya menengadah ke langit memohon sinar matahari; perlambang kasih dari Sang Hyang Tunggal.

Di bawah Gunung Sunda terdapat sebuah gua purbakala. Gua ini terbentuk akibat desakan larva gunung api yang mendesak keluar dari punggung gunung ribuan tahun lalu. Mulut guanya tidak terlalu lebar, kira-kira lima orang bershaf rapat di depannya sudah dapat menutup mulut gua. Tinggi gua di dekat mulutnya pun rendah. Orang harus menundukan punggung menyerupai gerakan rukuk sebelum memasuki gua. Tidak ada penerangan di dalamnya. Beberapa kelelawar hilir mudik mencari makanan di malam hari dan berisitirahat di siang hari. Menariknya, udara di dalam gua tidak lembab. Udara yang memasuki celah-celah gua ditambah rimbunnya pohon disekitarnya menciptakan iklim sejuk di dalam gua.

***

Syahdan, hiduplah tiga orang tahanan di dalam gua itu yang dijaga tentara Kerajaan Dayeuhluhur. Danaraja, Danurwinda , dan Darmakusuma. Mereka adalah keluarga kerajaan di pedalaman Priyangan. Leluhur mereka merupakan tahanan politik zaman kelaliman Raja Dayeuhluhur, Sri Maharaja Sakwasangka. Konon dahulu sang raja adalah penganut agama leluhur yang taat, namun harta dan tahta telah lama merenggut ketaatan itu. Tanpa lagi mempedulikan ajaran luhur Kitab Pangabeda, ia menghisap habis tenaga dan kekayaan petani dan pekerja di wilayah itu.

Kekejamannya bertambah parah ketika Portugis menguasai Kerajaan Malaka dan membuka hubungan dagang dengan Kerajaan Dayeuhluhur. Para pekerja dipaksa pindah ke Sunda Kelapa membangun benteng Portugis dan kuil pemujaan dewa mereka; bangunan itu semua terbentuk dari batu bata, beberapa ornamennya dilengkapi patung manusia bersayap dan patung seorang pria berambut panjang dan berjenggot sebagai pusat. Para petani dipaksa menjual hasil bumi priyangan dengan harga murah kepada pedagang-pedagang Portugis. Di pedalaman, resi-resi mereka menyebarkan agama baru sampai-sampai kalangan muda melupakan ajaran Sang Hyang Tunggal dan mulai bertingkah seperti orang-orang Portugis.

Pada bulan ke empat perhitungan Candrakala, tiga orang bangsawan berpengaruh di Kerajaan Dayeuhluhur, setelah melihat kerusakan ekonomi dan sosial di Priyangan, bersepakat untuk menggulingkan kuasa sang raja. Rencana makar disusun; rakyat yang marah dipropaganda di setiap balai desa dan dipersenjatai dengan pedang serta panah. Wanita dan anak-anak diperintahkan bersiap mengungsi bilamana pemberontakan ini gagal.

Suatu malam, ketika Raja Sakwasangka sedang bermain-main dengan para selirnya di keputrian, terdengar suara lengkingan terompet dari arah pegunungan, diikuti pekik perang tentara rakyat. Itulah awal mula revolusi fisik di bumi priyangan. Tentara kerajaan merasa kewalahan membedakan rakyat yang memberontak dengan yang tidak. Ribuan tubuh tumbang bersimbah darah. Mata-mata geram dengan kujang terhunus berusaha membabibuta membunuh setiap musuh yang dihadapi.

Setelah pertempuran berlangsung selama dua belas jam, jumlah kekuatan tentara rakyat mulai berkurang. Beberapa bahkan melarikan diri ke gunung selatan. Wajar, tentara itu masih perlu dipupuk keahlian perang dan moralitas seorang pendekar sejati. Tentara kerajaan merasa di atas angin, hanya dalam beberapa jam semua tentara rakyat yang tersisa tumpas tanpa bekas, termasuk ketiga bangsawan yang menjadi provokator revolusi itu. Seketika bumi yang subur dan asri itu dipenuhi lautan mayat.

Penderitaan tentara rakyat tidak sampai di situ. Raja Sakwasangka memerintahkan untuk membunuh keluarga para pemberontak termasuk setiap bayi yang baru lahir. Mereka semua dipaksa keluar dari rumah mereka pagi-pagi buta dengan tangan dan kaki terikat. Di alun-alun kota mereka di kumpulkan. Ribuan jumlahnya. Dengan pedang tumpul, ratusan tentara kerajaan membuat formasi lingkaran, menutupi para keluarga pemberontak. Letusan meriam ke udara terdengar nyaring, pembataian terbesar sepanjang sejarah terjadi malam itu.

Beruntung bagi Danaraja, Danurwinda, dan Darmakusuma, yang kala itu berusia 3 tahun. Mereka luput dari bencana itu. Semua karena bujuk rayu Ibu Permaisuri. Dengan lemah lembut ia menyatakan keberatannya kepada Raja Sakwasangka. Alasannya, walaupun ayah mereka melakukan makar, mereka tidak terlibat dalam dosa itu dan ketiganya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sang Raja. Luluh karena bujukan ibunya, raja pun memerintahkan ke tiga anak itu untuk tidak dieksekusi dan dibawa ke Keraton.

Bukan Sakwasangka namanya kalau tidak penuh dengan prasangka buruk. Ketika ibunya mengunjungi wakil kerajaan di Samudra Pasai, ia perintahkan punggawa kerajaan untuk mengikat mereka bertiga di gua angker di bawah kaki Gunung Sunda. Leher mereka diikat seperti anjing, kaki dan tangan mereka dibelenggu dengan rantai besar yang saling berhubungan. Setiap pagi dan malam petugas kerajaan bergantian mengantarkan makanan dan minuman. Itulah awal bagi Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma kecil menjalani hukuman kurung; dalam kegelapan dan keterkucilan.

***

Dua puluh tahun sejak hukuman kurung, Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma mulai melupakan dunia luar. Mereka lupa warna air dan pepohonan, bentuk gunung di sekeliling Priyangan, suara gamelan, geguritan di pendopo ibu kota serta gerak lincah kera liar yang kadang masuk ke kampung mereka. Warna sudah luluh dalam gelap, rasa sudah lebur dalam pahit, bunyi sudah campur dalam hening. Kini dunia mereka adalah kesunyian dan kegelapan.

Wajah mereka bertiga menghadap ke tembok gua yang datar. Ketika malam menjelang, suhu di dalam gua sangat dingin, maka penjaga menaruh tumpukan api unggun di balik tembok tahanan. Mereka bergantian menjaga agar api itu selalu menyala. Cahayanya menerangi seluruh isi gua, namun para tahanan tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Mereka hanya bisa melihat pantulan bayangan dari para petugas dan benda-benda yang hilir mudik di balik tembok. Seperti arena menonton pertunjukan wayang kulit di balai desa.

“Ah, Darmakusuma, lama-lama aku merasa bosan. Berdiam puluhan di sini, yang bahkan aku pun tidak tahu pasti tahun keberapa sekarang, di ruang sempit dengan belenggu menahan kita,” celoteh Danurwinda memulai percakapan.

“Ya begitulah nasib kita. Kata penjaga, ini merupakan karma buruk leluhur kita yang harus ditebus hingga muncul belas kasih Sang Maharaja,” balas Darmakusuma berusaha menenangkan.

“Tenang bagaimana maksudmu, Darmakusuma, apa kita harus berdiam di sini hingga akhir hayat kita? Persetan dengan welas asih Sang Maharaja. Mengharapkannya hanyalah memupuk harapan palsu,”bentak Danareja.

“Tenang saja saudara-saudaraku, kita memang ditahan, namun kita masih punya pikiran di bawah sini. Dengan pikiran itu kita dapat mendiskusikan apa saja, saling menarik kesimpulan atas setiap fenomena. Bukankah diskusi kita ketika melihat bayang-bayang di dinding gua dan suara-suara di belakang kita telah berhasil membunuh rasa jenuh dalam diri kita?”

“Ah, betul juga kau Darmakusuma, kau memang orang yang bijak, kalau begitu ayo kita mulai lagi diskusi kita kali ini!”

Tiba-tiba segerombolan orang memasuki gua. Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga diiringi gelak tawa dan aroma tuak di udara. Di antara gelak tawa itu terdengar sayup-sayup jerit tangis wanita yang sangat memilukan hati. Jerit tangis itu berhenti ketika suara berat membentak dan memaki mereka. Dari tempat mereka bertiga, hanya bayangan yang tampak, berduyun-duyun, beragam bentuk, melewati api unggun di balik tembok satu persatu.

“Nah,” Darmakusuma memulai, “kita mulai diskusi kita. Menurut kalian ada berapa orang yang lewat di belakang tembok kita?”

“Sepuluh!”

“Bukan, dua puluh. Aku bisa jelas melihat bayangan mereka”

“Hai, Danurwinda, tidakkah kau dengar gelak tawa mereka. Pendengaran ku tajam, penglihatanku jeli, aku bisa tahu jumlah mereka. Semuanya adalah dua puluh orang!”

“Sombong sekali kau Danaraja, bagaimana kau bisa begitu saja mempercayai pendengaran dan penglihatanmu, padahal kita sejak kecil sudah berada di sini. Makan sama banyak, melihat sama warna. Sejak kapan kau merasa lebih daripada kita. Aku tetap dalam keyakinanku, jumlah mereka adalah sepuluh”

“Sudah, sudah, mengapa kalian jadi bersitegang begini. Aku hanya ingin kalian berdiskusi dengan kepala dingin. Bukan merasa paling benar. Aku sendiri belum berani memutuskan berapa jumlah mereka, mungkin setelah mereka kembali dari bawah, aku akan kembali menghitung bayang-bayang mereka dan mengujinya dengan kesimpulan kalian”

“Sial kau Darmakusuma, aku kira sikap bijaksanamu perlambang kecerdasanmu, ternyata tidak. Kau tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak berani berargumen”

“Tutup mulutmu, Danareja, setidaknya ia tidak pernah menyakiti hatiku!”

Perdebatan panjang dimulai. Mereka tidak berhenti saling membantah, yang satu merasa lebih benar daripada yang lain sedangkan Darmakusuma tetap dalam sikapnya yang berhati-hati. Untung saja lengan dan kaki mereka terbelenggu. Kalau tidak, tentu pembunuhan pertama di dalam gua itu akan terjadi.

“Asu buntung, anjing sial, bisa kalian semua diam!,” bentak penjaga dari ujung gua.

Seketika mereka pun terdiam. Dan perdebatan itu untuk sementara terhenti.

“Ini salah kalian, penjaga sampai marah terhadap kita. Bagaimana kalau mereka marah dan menumpahkan kekesalannya terhadap kita. Bisa habis nyawa kita hari ini”

“Diam kau, Danurwinda, mereka tidak akan berminat melukai kita. Apalah harga kita dihadapan mereka. Lagipula mereka tidak lebih dari seekor anjing yang tindakannya ditentukan oleh titah raja keparat itu!”

“Ya, tapi jangan hanya karena bentakan seorang petugas, kita menghentikan diskusi kita, satu-satunya kesenangan kita di tempat ini”

“Apalagi yang ingin kau diskusikan, Darmakusuma?”

“Begini. Setiap malam, ketika serigala gunung melolong dan kelelawar mulai beterbangan di atas kita, aku melihat penampakan aneh di dinding gua. Sebuah mahluk aneh kerap melewati kita. Jalannya mundur ke belakang, ia memiliki paruh, namun memiliki leher yan sangat tipis untuk ukuran kepalanya. Bunyinya berdecit seperti tikus yang setiap hari bermain di bawah kaki kita. Apakah itu kira-kira, Saudaraku?”

“Sebentar, aku harus berpikir sejenak. Mungkin saja itu adalah burung unta yang bernyanyi dan mencari makan di dasar gua”

“Ringan sekali mulutmu, Danurwinda, mana pernah kau melihat burung unta. Apalagi yang ini berjalan mundur. Burung apa yang berjalan mundur?!”

“Aku benar, Danaraja, paruh itu jelas paruh burung. Masalah ia berjalan mundur itu bukan urusanku, urusanku hanyalah menilai berdasarkan apa yang terlihat. Sedangkan suara berdecit itu jelas-jelas suara unta. Dan burung yang bersuara seperti onta tidak lain dan tidak bukan disebut burung unta”

“Kau terlalu gegabah dalam menyimpulkan, Danurwinda”

“Kau menyela tanpa memberikan solusi, sekarang apa yang bisa kau jelaskan!”

“Itu jelas belalai seekor gajah yang ditekuk menyerupai paruh burung. Suara berdecit itu adalah bunyi gesekan kulit sang gajah dengan dinding gua di kiri kanannya yang terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar.”

“Kalau memang gajah itu besar. Mengapa bumi di bawah kita tidak bergetar ketika mahluk itu lewat. Bahkan bumi bergeming ketika bayangan itu melewati kita.”

“Kau benar juga, Danareja,” bela Darmakusuma, “namun sekali lagi maafkan keraguanku, Saudaraku. Aku masih belum bisa menyimpulkan apakah gerangan bayangan itu seekor burung unta atau seekor gajah atau bahkan mahluk lain yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Pembelaan Darmakusuma tidak memantik percakapan lain. Hari sudah malam dan ereka sudah lelah berdiskusi sepanjang hari. Tidak hanya kali ini; Setiap hari mereka berdebat tentang benda-benda yang terpantul menjadi bayang-bayang di dinding gua. Perdebatan itu tidak pernah berujung. Masing-masing pihak memiliki argumennya sendiri yang tampak meyakinkan. Terkadang caci maki keluar dari mulut mereka apabila sudah terdesak. Namun, jauh di dalam hati mereka muncul kesadaran, bahwa kebenaran itu jauh dari apa yang mereka lihat dan dengar, hal inilah lebih dalam dipikirkan oleh Darmakusuma. Tapi karena lamanya mereka di tahan, suara hati itu lenyap, mereka merasa pendapat merekalah yang benar bahkan bayang-bayang dan pantulan suara di gua adalah kebenaran itu sendiri.

***

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Musim hujan berubah menjadi musim kering. Kerajaan Dayeuhluhur yang subur mengalami masa-masa sulit tahun ini. Koalisi politik tidak dapat dibangun dengan kokoh. Kekecewaan bangsawan terjadi dimana-mana. Tidak heran jika terjadi pemberontakan di kota-kota pesisir.

Portugis yang menjadi sekutu kerajaan mengalami kekalahan di Malaka. Adipati Unus dari Kerajaan Demak berhasil menggalang pasukan gabungan Aceh-Pasai-Gowa untuk menghantam kekuatan Portugis di Malaka. Pelabuhan dunia itu dikuasai koalisi gabungan. Di priyangan, Portugis tidak lebih dari pesakitan yang meminta perlindungan kepada Raja dengan musuh dimana-mana.

***

Pada suatu malam, bulan purnama menampakan keanggunannya. Serigala gunung takzim melihat sang dewi, melolong lirih sebagai tanda syukur. Ikan-ikan sungai Cikapundung mencari batu-batuan, mulai mengeluarkan telur mereka yang kelak dibuahi para penjantan. Kera-kera hutan merasakan energi yang luar biasa dari bulan, mereka mulai mencari pasangan dan menggodanya dengan teriakan-teriakan. Inilah malam dimana semua makhluk melampiaskan hasrat mereka, tanpa mereka sadari, demi kelangsungan hidup bangsa mereka.

Jauh di dasar gua, di bawah gunung Sunda, dimana mitos bertemu dengan kekacauan politik, seorang penjaga keluar dari pos jaga dan tergopoh-gopoh menuruni tangga gua yang curam. Menuju tempat ketiga tahanan dibelenggu.

“Sampurasun. Sampurasun. Hei, salah satu dari kalian, dengar!” teriak penjaga kepada para tahanan.

Sayang, mereka sudah tertidur pulas. Namun tidak bagi Darmakusuma, ia memang selalu tidur larut, memikirkan apa yang tidak kedua saudaranya pikirkan.

“Rampes. Ya, ada apa? Siapa kau?”

“Aku penjagamu yang biasa menjaga agar api unggun di belakang kalian tetap menyala, dan memastikan belenggu di tangan dan kaki kalian tetap terkunci”

“Ya, apa keperluanmu sehingga selarut ini datang dan mengganggu istirahat kami”

“Begini. Aku mendapat laporan dari para bangsawan yang memberontak, bahwa Raja telah tiada, tubuhnya ditusuk keris oleh abdi setianya yang membelot. Tahta kerajaan jatuh ke tangan putra mahkota yang bijak dan menaruh hormat kepada ajaran Kitab Pangabeda. Semua penduduk merasa senang dengan bertahtanya sang raja muda ini. Panen berlimpah dan berdagangan dengan kerajaan lain mulai dibuka. Beberapa tahanan di kota dibebaskan. Sayangnya, kalian adalah tahanan politik. Dewan kerajaan tidak setuju jika kalian dibebaskan begitu saja, khawatir pemberontakan tanpa akhir akan terjadi lagi di Dayeuhluhur”

“Syukur kepada Hyang Tunggal atas terpilihnya raja bijaksana lagi paham akan ajaran linuhung. Tapi aku belum mengerti mengapa dewan kerajaan bersikap keras terhadap kami. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun semenjak kami kecil.”

“Aku tidak paham karena aku hanya menyampaikan berita. Janganlah berkecil hati. Besok, seluruh penjaga gua ini akan dipanggil ke alun-alun kerajaan untuk merayakan hari ulang tahun ibu permaisuri. Perjalan dari sini ke ibu kota kerajaan memakan waktu 3 hari dan kembali 3 hari. Aku bisa membantu kalian keluar menghirup udara bebas selama itu. Tapi ingat, aku tidak bisa membantu kalian bertiga sekaligus. Satu per satu dari kalian akan keluar pada pagi hari dan kembali ke bawah setelah hari ke dua. Jika kalian ingkar dan memilih untuk kabur, maka anjing-anjing lapar penjaga gua akan memakan kalian bulat-bulat!”

“Ah, sungguh! Terimakasih penjaga. Sudah lama aku memimpikan melihat dunia luar. Melihat yang belum pernah terlihat dan menghirup yang belum pernah terhirup”

“Tidak usah kau berterima kasih. Aku juga berharap kelak Raja akan membebaskan kalian dan menghapus catatan dusta tentang kalian. Cepat kembali tidur! Besok pagi kau bersiap. Kabarkan kepada semua saudaramu yang masih terlelap”

“Terimakasih penjaga, terimakasih sekali lagi”

Pikiran Darmakusuma melayang-layang sebelum tidur. Membayangkan segala kemungkinan yang muncul di luar sana. Sebuah dunia yang berbeda dari dunianya sekarang, dunia yang memiliki warna dan rasa, yang diliputi kebenaran tanpa kepalsuan. Ketika lamunannya mulai mencapai titik yang tak terbayangkan, sarafnya mulai tenang, jiwanya pergi menuju genggamaNya, ia tertidur pulas.

***

Matahari keluar dari singgasananya. Menyinari bumi persada dengan sinar hangatnya. Para petani mulai beraktivitas. Lembu-lembu kekar dikerahkan untuk membajak sawah. Para istri sibuk mengumpulkan kaya bakar untuk menyediakan makanan bagi keluarga mereka. Setelah sarapan, penjaga gua mengambil kunci belenggu. Dengan langkah berat ia mulai memasuki mulut gua, menundukan punggungnya dan berhati-hati menuruni anak tangga yang licin akibat hujan deras tadi malam. Pembebasan Darmakusuma pun dimulai.

“Terima kasih petugas, aku sangat terharu kau rela melakukan ini demi kami.”

“Ah, bukankah ajaran leluhur kita mengajarkan memperlakukan manusia layaknya manusia. Dan kau adalah manusia, tidak peduli apa dosa yang telah kau perbuat.”

“Iya terimakasih, semoga Sang Hyang Tunggal memberkati engkau.”

Darmakusuma melakukan olahraga ringan. Punggungnya terasa kaku. Lehernya pun berat, begitu juga dengan kaki dan lengannya. Setelah perederan darah lancar mengaliri seluruh anggota tubuhnya, ia mulai berjalan perlahan menaiki tangga gua. Di ujung ia melihat cahaya yang sangat terang benderang. Rasa penasaran meluap-luap dalam jiwa Darmakusuma. Cepat-cepat ia berjalan menuju mulut gua. Ketika ia sudah sampai di mulut gua, ia terkejut.

“Ah, apa ini! Cahaya apa ini! Sial aku tidak bisa melihat apapun!”

Darmakusumu merasakan matanya terbakar. Ia tidak terbiasa dengan sinar matahari. Berkali-kali ia menggosok matanya dan mencoba membuka untuk melihat sekitar. Namun rasa perih itu terus ada. Bahkan bertambah-tambah ketika melihat ke langit.

Ketika hari beranjak petang, ketika ayam-ayam hutan kembali ke lubang persembunyiannya, Darmakusuma mulai bisa melihat sekitarnya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat adalah pantulan dirinya di sungai. Ia melihat wujud yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bentuk mata, hidung dan telinga. Rambut, janggut dan bentuk dada. Ia menyaksikan dirinya sendiri, yang bahkan dahulu ia tidak percaya bahwa dirinya benar-benar ada. Setelah itu, ia melihat hutan dihadapannya. Indah, sungguh indah, pepohonan itu hijau dan teduh. Di dahannya ratusan burung bernyanyi dan berterbangan ke dahan pohon berikutnya. Ia juga melihat gunung yang bertumpuk di utara gua. Halimun senja menutupi puncak gunung, menciptakan suasana mistis dan syahdu. Tak dirasa, air matanya menganak sungai melihat keajaiban itu.

“Terimakasih Sang Hyang Tunggal, kini aku paham apa itu kebenaran, apa itu kepalsuan. Sungguh indah alam yang terbentang dihadapanku. Warna dan suara yang belum pernah aku dengar kini berwujud dan terpatri di dalam jiwaku. Matahari menyinari sekelilingku, menyibak kebenaran yang selama ini terbenam dalam kegelapan. Setelah ini aku arus memberitahu Danaraja dan Danurwinda, bahwa penglihatan kita selama ini adalah palsu dan diskusi kita selama ini adalah omong kosong.”

Langit mulai gelap dan matahari kembali keperaduannya. Darmakusuma mengambil obor dan menyusuri jalan setapak menuju mulut gua. Penjaga mengikutinya dari belakang. Setelah berada di tembok tahanan penjaga kembali mengunci tangan dan kaki Darmakusuma dengan belenggu. Sesaat sebelum meninggalkannya, penjaga mematikan obor dan kembali ke atas tanpa bersuara.

“Celaka, kenapa kini mataku tidak bisa melihat dalam gelap. Ah kemana penjaga tadi mengapa ia mematikan obor dan api unggun di belakang tembok!”

Lagi-lagi matanya merasa perih. Kali ini kegelapan dimana ia bermulalah yang menyebabkan kepedihan itu. Matanya tidak dapat lagi melihat dalam gelap, bahkan oleh cahaya sedikit dari obor penjaga yang lalu lalang di belakang tembok, matanya masih juga tidak melihat. Ia mulai menyesali keputusannya melihat dunia luar.

“Kalau gua gelap ini adalah keabadian dalam hiduku, mengapa aku harus melihat dunia luar yang terang benderang, yang hanya dapat aku nikmati sementara dan bahkan kini menghilangkan penglihatanku, sumber kesenanganku, sumber diskusiku bersama saudara-saudaraku,” bisik Darmakusuma di dalam hati.

“Hai Darmakusuma, apa yang kau pikirkan, mengapa kau tampak seperti orang bingung, bukankah kau tadi mampir ke dunia luar, seharusnya kau merasakan kebahagiaan?”

“Aku pada mulanya sangat bahagia ketika melihat dunia luar. Aku bisa melihat warna langit ketika senja datang dan nyanyian burung hutan bersahut-sahut menyambut malam. Namun ketika aku tahu bahwa dunia luar itu sementara dan kepastian adalah mendekam dalam gua ini bersama kalian, penglihatanku mulai tidak terbiasa dengan kegelapan, bahkan aku tidak bisa melihat lagi wajah kalian dari dekat. Ah, sungguh meruginya diriku ini, Saudaraku.”

“Asu buntung, kenapa kemarin kau terima begitu saja bujuk rayu penjaga untuk melihat dunia luar, Darmakusuma. Sekarang kau rasakan akibatnya. Kebijaksanaanmu telah menyeretmu kedalam lembah kecelakaan!”

“Kau sungguh-sungguh kehilangan penglihatanmu, Darmakusuma?”

“Ya, aku tidak berdusta, aku tidak lagi bisa melihat kalian. Aku kira kita akan mendapatkan kebahagiaan setelah melihat dunia luar. Ternyata kebutaan yang aku dapat. Kalau ini yang akan terjadi tentu aku akan menolak tawaran penjaga tadi malam.”

“Tenang Darmakusuma, mungkin penglihatanmu akan pulih kembali seiiring berjalannya waktu. Kita berdoa saja kepada Sang Hyang Tunggal.”

“Terima kasih, saudaraku”

“Kalau begitu, besok jika penjaga itu datang, kita tolak saja semua kebaikannya, kalau perlu kita maki dan ludahi wajahnya. Bilang saja kepadanya bahwa kegelapan adalah rumah kita, dan cahaya adalah musuh bagi kehidupan kita.”

“ya, ya, aku setuju denganmu, Danaraja”

Percakapan itu berakhir ketika malam menjelang. Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma terdiam dalam pikirannya masing-masing. Mereka tidak habis pikir mengapa dunia luar yang penuh warna dan cahaya bisa begitu menyakitkan. Padahal mereka bosan melihat bayang-bayang dan berdiskusi dalam kepalsuan. Kini harapan untuk melihat dan hidup di dunia luar telah mereka kubur dalam-dalam. Hati mereka telah terkunci. Kebenaran bagi mereka adalah kegelapan. Langit bagi mereka adalah dinding gua. Surga bagi mereka adalah makanan dari penjaga. Hidup mereka tidak lebih kisah binatang ternak, bahkan lebih hina dari mereka.

Diadaptasi dari Alegori Gua Plato

Ferry Fadilah. 25 September 2015, Bandung.

, ,

Leave a comment

Pangeran Kecil

“All grown ups were once children.. but only few of them remember it”

Antoine de Saint-Exupery

Aku mengucapkan terimakasih kepada Antoine de Saint-Exupery yang telah menginspirasi Mark Osborne untuk memproduksi film animasi inspiratif berjudul The Little Prince (2015). Film yang merupakan karya adaptasi dari novel grafis Le Petit Prince (1943) ini benar-benar telah membawaku kepada sebuah kesadaran baru.

Masa kanak-kanak dengan segala petualangan dan imajinasi sering kali dianggap tidak penting oleh orang dewasa. Menggambar, melukis, menyusun balok, bermain layangan, melihat bintang di tengah malam adalah kumpulan kegiatan yang tidak relevan dengan masa depan seorang anak. Apalagi kini, ketika kapitalisme telah berhasil mendobrak setiap jiwa manusia, masa depan cemerlang digambarkan sebagai sosok manusia dewasa disiplin dengan pekerjaan tetap dan uang untuk kesenangan.

Setelah membaca novel dan menonton film itu, aku mulai menjelajah kembali ingatan masa kecil. Ketika kebahagiaan adalah membaca buku di atas pohon kersen di depan masjid di tengah komplek. Menyusuri kali di bilangan Antapani sambil mengumpulkan ikan impun ke dalam botol kratingdeng. Berlarian di pinggir sungai Cidurian sambil mengamati pohon buah yang tumbuh liar: jambu air, jambu monyet, dan jambu biji. Lamunan-lamunan horor tentang monster menyerupai dinosaurus yang bersemayam disungai itu padahal permukaan air hanya sebatas pinggang orang dewasa. Dan gelak tawa bersama sahabat kecil ketika membuat rangkaian cerita bergambar di lorong sekolah. Ingatan-ingatan ini adalah kesadaran itu. Bahwa petualangan kecil dengan daya imajjinasi yang kuatlah sumber keceriaan diriku, bahkan semua anak di seluruh dunia.

Tumbuh dewasa adalah kepastian. Seiring dengan bertambahnya usia, maka masalah hidup juga akan bertambah. Suatu saat masalah itu datang dari orang tuamu. Sosok penyayang yang begitu kau kagumi. Namun, suatu saat sosok ini akan mengecewakanmu. Dan pada saat itulah kau sadar bahwa mereka juga manusia yang terkadang berbuat salah. Atau ketika kau beranjak remaja. Masalah timbul dalam bentuk cinta. Alih-alih menciptakan kebahagiaan, cinta seringkali menyesakan dadamu dan membuatmu sulit tidur. Atau ketika masa kehidupan di kampus. Mata pelajaran yang kau benci adalah masalah-masalah baru. Perlahan-lahan kau kehilangan waktu bagi hobimu yang semula kau kira tujuan hidupmu. Aalsannya, seringkali orang yang lebih dewasa mentertawakan cita-citamu yang melangit itu. Hingga suatu saat ka lupa cita-cita itu. Dirimu terombang-ambing oleh berbagai cita-cita palsu. Dan mulai bertingkah sebagaimana orang dewasa yang mentertawakanmu.

Ingatlah. Akan ada suatu hari ketika kau berdiri di suatu bangunan tinggi. Melihat kisah-kisah masa lalu begitu cepat berlalu tanpa sempat kau pikirkan. Kau terlalu cepat meng-iya-kan perkataan orang; menenggelamkan dirimu sesuai kehendak orang; menghilangkan jadi dirimu yang sebenarnya dalam identitas palsu pecinta dunia.

Kini, di usia 23 tahun aku merasa telah berada di bangunan tinggi itu. Film dan novel itu pemicunya. Aku merasa bingung dan gamang seketika. Apakah ini sebuah penyesalan? Aku belum berani menyimpulkan. Warna-warni dan daya imajinatif dialog dalam karya ini telah megaktifkan bagian otak, yang entah bagaimana, telah membuat aku merasa terlahir kembali.

Sebagai akhir tulisan. Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih kepadamu yang merasakan sepi di dunia orang dewasa. Tapi aku yakin bahwa engkau tidak sendiri. Kau bersama jutaan orang dewasa yang tidak pernah melupakan masa kecilnya. Dan sampaikan salam hangatku bagi mereka. Terimakasih sekali lagi. Antoine de Saint-Exupery.

Ferry Fadillah. Tangerang Selatan, 4 November 2015.

, ,

Leave a comment

Dunia Digital

Telepon telah mengalami perkembangan yang pesat. Setelah kali pertama ditemukan Alexander Graham Bell, teknologi komunikasi ini terus mengalami regenerasi hingga titik tak terhingga. Seiring dengan berkembangnya teknologi komputer, regenerasi ini terjadi tidak lagi dalam hitungan tahun, bahkan setiap bulan teknologi komunikasi yang baru muncul.

Jiwa smartphone adalah software. Semesta bagi mereka adalah cyberspace yang terdiri dari bit bit digital. Kombinasi angka satu dan null yang berhasil mengatasi sekat ruang dan waktu. Kini, interaksi antar manusia bisa terjadi tanpa melibatkan tubuh biologis. Mengurung diri dalam kamar, dengan kelihaian akal dan kelincahan jari, manusia satu dengan yang lainnya bisa berinteraksi, berdiskusi, berbisnis, berpolitik, bermain hingga bercabul ria dengan pasangan manapun di negeri manapun.

Euforia konektifitas ini telah melumpuhkan kesadaran. Manusia telah lupa bahwa dunia digital hanyalah citra yang dibangun oleh imajinasi dan terlepas dari realita. Manusia dalam dunia digital bisa menjadi siapa saja dan apa saja, terlepas dari kenyataan dirinya di dunia nyata. Seorang penyamun dengan kata-kata relijius bisa menjadi seorang ustadz. Seorang ustadz yang aku facebook-nya diretas dan menyebarkan konten porno, sekejap dicap munafik oleh penduduk digital. Seorang penipu dengan pencitraan di media masa maka menjelmalah ia seorang satrio piningit yang digadang akan membebaskan bangsa dari keterpurukan.

Semua itu adalah wajar, mengingat hasrat paling primitif manusia ialah ingin selalu terlihat indah lebih dari kenyatannya. Maka hasrat itu mendapat surga di dalam dunia digital. Seperti ikan yang bertemu dengan air. Manusia dengan mudah mencabut identitasnya di dunia nyata demi ketenaran di dunia maya. Dengan bantuan kamera 360, misalnya, seorang pemuda bisa memodifikasi citra dirinya menjadi lebih rupawan sesuai dengan konstruksi budaya saat ini. Dimana rupawan dikaitkan dengan kulit bersih dan tubuh atletis. Citra modifikasi itu adalah identitas baru yang akan disebarkan di dunia maya. Dengan tujuan mendapatkan like sebanyak-banyaknya dari sesama manusia di dunia itu.

Fenomena ini terjadi tidak hanya dikalangan muda-mudi yang kemudian dicap alay oleh komunitas sosial. Kini manusia-manusia digital lintas usia dan budaya telah enggan memahami dirinya sebagaimana adanya. Dalam benak mereka, ‘apa yang seharusnya’ yang bahkan musykil untuk terwujud dalam realita harus terwujud dengan kebohongan, kemunafikan dan manipulasi di dunia digital. Harapannya adalah mendapatkan pujian atau sekedar terbebas dari realita yang enggan mereka hadapi.

Sikap manusia di dunia digital yang terakumulasi menjadi sikap global seperti di atas menunjukan kini ras mansuia telah memasuki the dark age yang ditandai dengan kebingungan dalam menilai kepribadian. Politisi dengan sumber daya ekonominya bisa memoles diri sesuai dengan yang diinginkan. Dengan uang, media takluk. Dengan media, rakyat tunduk. Maka jangan lah terheran-heran, di era demokrasi langsung ini yang berbarengan dengan era kemahsyuran dunia digital, rakyat selalu geram dan gemas ketika melihat pemimpin yang mereka agungkan ketika kampanye dulu bekerja tidak sesuai dengan harapan.

Begitulah dunia sekarang. Manusia akan disibukan dalam memilah jarum dalam jerami, karena citra yang sudah tercerabut dari realita dan cara baru berpikir manusia: Aku online, maka aku ada!

Ferry Fadillah

Bandung, 23 Oktober 2015

, ,

Leave a comment

Hidup Sebelum Kelahiran

The Death of Socrates. Oil On Cavas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New Yorl. Wikiedia,com

The Death of Socrates. Oil On Canvas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New York. wikipedia.com

Filsafat bukan kegiatan orang tanpa kerjaan. Filsafat adalah semangat terus-menerus untuk mencari kebenaran. Menyibak yang tampak agar terbuka segala hakikat.

Belakangan ini, saya menyibukan diri untuk mengkaji buku-buku filsafat. Dimulai dari filsafat ilmu, saya mulai tertarik dengan alur pemikiran Platonik. Seorang yang lahir dalam keluarga bangsawan di Athena pada 427 SM. Beliau sangat dipengaruhi oleh gurunya, Sokrates, yang dikenal dengan awal mula filsafat idealisme.

Dalam buku Plato yang sudah saya baca yakni Republik dan Phaedo narasi di dalamnya didominasi dialog Sokrates bersama murid-muridnya. Dialog memang metode yang digunakan Sokrates untuk bertanya kepada kaum muda di Athena tentang Idea atau kebenaran mutlak yang sudah ada di dalam jiwa manusia, sebelah mereka lahir ke dunia.

Dalam bukunya Phaedo yang kemudian diterjemahkan menjadi Matinya Sokrates oleh A. Asnawi dari Penerbit Narasi, dinukil dialog yang menunjukan kepercayaan Socrates bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia :

Kalau begitu, kita pasti telah memperoleh pengetahuan tentang bandingan ideal pada suatu waktu sebelum ini?

Ya.

Artinya, sebelum kita lahir, kukira?

Benar.

Dan jika kita memperoleh pengetahuan ini sebelum kita lahir, dan lahir dengan memilikinya, maka kita juga tahu sebelum kita lahir dan begitu kita lahir bukan hanya sesuatu yang sama atau yang lebih besar atau lebih kecil, tapi semua ide lainnya…

Itu benar.

…Kalau begitu, Simmias, jiwa-jiwa kita pasti sudah eksis sebelum mereka dalam bentuk manusia-tanpa tubuh, dan pasti telah memiliki inteligensi.

Tidak hanya percaya bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran di dunia, dari dialog di atas Sokrates juga percaya manusia dalam wujud ruh-ruh itu manusia memiliki intelegensia, mampu berpikir dan mengetahui hal-hal. Pengetahuan di alam sana itulah yang berusaha untuk diingat kembali oleh Sokrates melalui pertanyaan-pertanyaan dalam dialog dengan para pemuda. Kemudian teori ini dikenal dengan Theori of Recollection (mengingat kembali).

Teori ini memiliki kesamaan dengan teologi Islam. Di dalam ajaran Islam dipercaya ada alam ruh sebelum kelahiran manusia di dunia. Seperti yang tertulis dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 173 :

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) manusia keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, “Bukankah Saya Tuhamu?”, mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan, kami sungguh bersaksi”…

Dari dialog di atas antara Tuhan dengan manusia tergambar jelas bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia. Bahkan jawaban manusia seperti itu bukankah ini menandakan bahwa manusia di alam sana memiliki intelegensi. Lantas adakah pengetahuan lain yang dimiliki manusia di alam sana yang kemudian terlupakan ketika manusia terlahir ke dunia?

Ini masih pertanyaan besar. Kalau ternyata manusia sudah mengetahui rahasia alam sebelum kelahiran kemudian karena proses kelahiran pengetahuan itu lenyap dan harus diingat kembali cukup dengan logika (a priori) maka, mungkin, kita akan menemukan manusia-manusia ajaib yang terkucil dalam masyarakat dan buta akan buku referensi namun dapat menceritakan dengan detil fenomena di dasar lautan dan galaksi raya hingga ke dasar hakikatnya. Saya belum mengetahui hal ini.

Yang pasti hingga kini, ilmu pengetahuan didapat tidak saja hanya dengan berpikir dan mengingat-ingat pengetahuan di alam sana. Namun juga dengan pengamatan indra (posteriori) dan melakukan penyeldikan mendalam atas setiap benda yang tampak.

Namun, sebagai kesimpulan, bukan berarti saya tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa didapat dengan mengingat pengetahuan di alam sana. Tuhan ialah sumber pengetahuan, awal dari segala sesuatu yang megajarkan Muhammad ilmu syariat dan hakikat, yang memberi penerangan para wali tentang kehidupan. Tidaklah musykil bagi manusia, pada maqam atau derajat tertentu untuk mengetahun rahasia alam semesta, pengetahuan alam sana, logos jika memang dikehendaki oleh Nya.

Wallahu a’lam.

Ferry Fadillah. Bandung, 22 September 2015.

, , , , , ,

6 Comments

Tentang Koi

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hujan deras dengan angin kencang baru saja mengguyur Bandung. Daun-daun berjatuhan menumpuk di pinggir jalan di antara bebatuan dan trotoar. Air yang tidak terserap tanah mulai menggenangi lubang-lubang jalan dan daerah yang lebih rendah. Banjir orang menyebutnya.

Daun-daun tadi jatuh ke kolam ikan di depan rumah. Tidak hanya daun. Mangga kecil. Bunga. Ranting ringkih. Dan semut-semut tanpa daya jatuh ke kolam.

Di dasar kolam ikan koi menari girang. Yang besar 7 ekor. Yang kecil 6 ekor. Dengan cepat dan gesit mereka muncul ke permukaan. Memakan apa saja yang jatuh ke dalam kolam. Tanpa mengenal rasa. Tanpa menimbang-nimbang. Tanpa harus berpikir.

Begitulah ikan koi, bahkan hewan secara umum..

Ikan koi di peternakan dipilah bedasarkan warna tubuh. Koi yang memiliki variasi warna yang bagus, kontras dengan warna dasar, atau lincah dipisahkan dari koi-koi yang tidak memiliki sifat itu. Pada saat itulah kelas-kelas dibentuk. Bukan oleh ikan koi itu sendiri, namun oleh manusia yang kerap disebut homo economicus.

Ikan koi tidak pernah tau kelas-kelas itu. Manusia lah biang keladinya. Ikan-ikan tadi mulai dipasarkan dan diberi label harga sesuai keindahan warna dan bentuk tubuh. 2 juta, 750 ribu, 200 ribu. Dengan semangat peternak menjelaskan harga dan keunggulan koi-koi itu. Konsumen terpengaruh oleh bujuk rayu peternak dan dalam anggukan mereka pun meng-amin-kan konstruksi kelas-kelas imajiner itu: Koi super, koi mahal, koi murahan.

Kelas-kelas itu dikonstruksi oleh manusia tidak hanya di dunia koi -hewan secara umum- juga dikonstruksi ke dalam dunia mereka sendiri. Dalam bahasa Sunda kita mengenal lagam halus, lagam sedeng, lagam kasar. Kapan harus berbicara dan dengan siapa kita berbicara sungguh sangat diperhatikan. Begitu juga dengan kasta sosial zaman Hindu. Brahma, Waisya, Kesatria dan Sudra. Semacam identitas kaku yang tidak bisa di campur adukan. Kelas-kelas tidak saja ada di negeri ini. Dunia secara luas pun memahami kelas-kelas sosial sebagai keniscayaan yang tidak bisa dielakan.

Koi bukan manusia, dan manusia bukan koi. Namun, apa menyebabkan manusia berani membuat konstruski sosial sedangkan koi tidak? Pikiran. Dengan daya pikir manusia membuat batas-batas imajiner, menggolongkan yang satu dengan yang lain, menentukan mana yang luhur dan mana yang rendah. Sedangkan koi tidak memahami itu karena mereka tidak memiliki daya pikir. Bagi mereka makan adalah kebutuhan dan air adalah kehidupan. Tidak pernah seekor koi memakan koi yang lain karena kelaparan. Tidak pernah. Apalagi berunding dengan pakar intelektual untuk mengolongkan bangsa mereka sendiri menjadi beberapa kelas.

Kalau koi bisa begitu bijaksana, lantas apa perlu kita menghilangkan daya pikir ini agar lebih bijaksana melihat perbedaan?

Ferry Fadillah. Bandung, 21 September 2015

, , , , ,

Leave a comment

Kerja, Hidup, Mati

Dengan mengabaikan setiap masalah. Manusia Indonesia pasti bisa tersenyum melihat sekelilingnya. Pusat perbelanjaan mewah berderet dengan baliho iklan yang megah. Apartemen mewah disekelilingnya berlomba menawarkan harga kepada pasang mata yang melewatinya. 200 juta, 300 juta, 500 juta, bonus smart phone, sudah full furnished pula. Seolah uang sembilan digit itu adalah daun kelor yang dengan mudah dipetik di pekarangan rumah. Mobil mewah, mobil menengah dan mobil umum bercampur di jalanan. Berderet memanjang menciptakan kepadatan. Isinya paling-paling satu atau dua orang. Menyisakan ruang kosong yang sia-sia. Tidak hanya itu. Polusi keluar dari knalpot. Menambah muram wajah atmosfer bumi yang sudah menua.

Mungkin senyum manusia Indonesia adalah sebuah ironi. Senyum pasrah karena tahu ada masalah namun bingung untuk melakukan apa. Ironi ini pun hadir di dunia maya.

Berkah teknologi sangat terasa sampai ke pelosok dukuh di pulau Jawa. Teknologi menjadikan yang jauh menjadi dekat. Memperpendek jarak. Mempermudah pengawasan. Sekaligus memperdalam kecemburuan sosial.

Dunia maya itu dunia tanpa sekat dan hierarki. Pejabat hingga pejahat; ustadz hingga pezinah; atau ilmuwan hingga pembual sah-sah saja beropini dan menyebarkan sesuatu yang mereka miliki. Tulisan, gambar, atau video.

Kini populer mengabadikan momen kehidupan di dunia mikroblog semisal twitter, facebook dan path. Makanan mewah yang akan disantap, difoto, di-upload. Hotel mewah yang baru dikunjungi, difoto, check in, diberi komentar, di-publish. Pacar cantik yang baru bertemu kemarin, di update-nya status hubungan di facebook, ditunggu-tunggunya komentar pujian, dibalasnya dengan emoticon ini itu. Begitu seterusnya entah sampai kapan.

Padahal di lain sisi, di dunia maya yang sama, namun di dunia nyata yang berbeda, kehidupan bisa sangat miris. Makanan mewah itu mungkin hanya bisa dinikmati beberapa kalangan dengan menabung upah bekerja selama satu tahun. Hotel mewah itu bisa jadi hanya impian anak kecil penghuni rumah kardus di bantaran sungai ciliwung. Pacar cantik itu juga sudah pasti barang langka bagi jomblowan jomblowati NKRI yang mulai kehilangan kemampuan komunikasi verbal karena terdegradasi komunikasi singkat ala social media. Bukankah ini semua mengundang iri dengki saudara kita di jagat maya dan nyata? Moga-moga saja santet dan teluh tidak bisa masuk melalui jalur komunikasi digital. Amin.

Hidup, Kerja, Mati

Hidup, kerja, mati. Siklus kehidupan yang harus dilalui semua manusia. Tapi apakah hanya untuk itu manusia hidup. Hanya kerja kemudian mati. Nothing special.

Ketimpangan sosial yang terjadi di dunia maya dan nyata telah menularkan virus pragmatis bagi semua kalangan. Kekayaan adalah panglima, caranya ditempuh dengan segala cara.

Sialnya media masa negeri ini bukan berusaha mengikis pemikiran itu malah memupuk liar dengan tontonan yang kurang mendidik. Kemewahan, kesenangan, kekonyolan dipertontonkan dari pagi hingga malam. Dari acara talkshow remeh temeh, gosip urusan ranjang hingga ceramah agama penuh banyolan disiarkan kepada 200-an juta pasang mata di nusantara. Dengan rendahnya tingkat literasi maka tontonan itu akan sangat cepat membentuk pola pikir kolektif. Sialnya pola pikir itu berwujud pragmatisme.

Bagi seorang pragmatis hidup itu yang untuk kerja, kerja ya untuk kaya, beli mobil nyicil, rumah nyicil, nikah ngutang, dan selesai –mati.

Kalau ada orang kritis bertanya ini itu tentang agama, tujuan kehidupan, siapa itu Tuhan, apa itu kerja, apa itu hidup, bagaimana itu ekonomi berjalan, tentu mereka akan acuh dan meneruskan pekerjaan praktis mereka. Pertanyaan itu hanya membunuh waktu yang bisa mereka pergunakan untuk bekerja dan memanen uang.

Padahal, sebelum memiliki keingininan akan makanan dan mainan, dahaga pertama manusia adalah menjawab segala pertanyaan hidup. Ketika kecil, manusia selalu bertanya akan setiap hal yang ia lihat dan rasa. Apa itu hidup. Apa itu sakit. Apa itu Tuhan. Apa itu mati. Kenapa harus hidup. Kenapa harus kerja. Kenapa harus mati. Kenapa budaya berbeda dll. Semua itu pertanyaan kanak-kanak yang berhenti manusia renungi ketika orang tua membentak karena lelah sepulang kerja. Atau dimarahi guru karena dianggap melawan. Dipelototi ustadz karena dikira kualat. Atau mulai terpengaruh pikiran pragmatis bahwa hidup itu ya yang penting cari uang.

Padahal pertanyaan itu akan membuat hidup manusia lebih bermakna. Manusia tidak lagi sekadar variable dari siklus produksi yang dapat dieleminir oleh pemilik perusahaan. Dipindah ke sana kemari tanpa ada daya upaya. Pertanyaan itu juga yang akan menuntun manusia kepada hal-hal pokok dan mengabaikan hal-hal remeh. Bekal yang penting di saat banyak manusia sibuk bertikai untuk hal-hal remeh dan lalim akan hal-hal pokok. Pertanyaan itu juga yang akan menciptakan rasa puas dalam pekerjaan karena didasari semangat dan kesadaran. Perasaan yang sangat penting ketika manusia modern merasa hampa melakukan rutinitas keseharian. Penuh harap akan hari jumat dan penuh cemas ketika perjumpa senin.

Seandainya boleh melamun melambung tinggi. Kiranya ada sebuah dunia. Dimana setiap manusia mendapat upah setara untuk setiap jenis pekerjaan. Pilihan pekerjaan didasari oleh keinginan dan kemampuan. Bukan paksaan atau faktor ekonomi. Produksi tidak kurang atau lebih karena didasari nilai guna bukan nilai tukar. Semua orang bahagia dan memiliki banyak waktu luang. Siang dipakai bekerja, malam dipakai apesiasi sastra.

Ah, imaji tinggalah imaji, selama nafsu masih di kandung badan pragmatisme adalah sebuah keniscayaan.

Ferry Fadillah

Cekungan Bandung, 27 Agustus 2015.

sumber gambar : http://www2.warwick.ac.uk

, , , ,

Leave a comment