Posts Tagged islam

Bunuh Diri

httpwww_esquire_co_ukBaru-baru ini, beredar di jejaring Whatsapp, dua orang wanita muda terjun bebas dari apartemen mewah di Kota Bandung. Perekam video waswas sambil terus melantunkan kalimat ilahiah. Diduga, keduanya memiliki masalah kejiwaan.

Beberapa bulan sebelumnya, pukul sembilan malam, di depan toilet Terminal Kampung Melayu, Ahmad Sukri meledakan bom panci rakitan yang dibawanya di dalam ransel. Satu polisi tewas di tempat. Dua polisi meninggal di rumah sakit. Sukri adalah salah satu jejaring ISIS di tanah air.

Tahun lalu, selepas ceramah Ustadz Evi Efendi di Masjid Al-Latif, seorang pemuda memberikan persaksian. Pernah dirinya dirundung setumpuk masalah. Diputus kekasih, dipecat atasan, dijauhi keluarga. Baygon dengan campuran porselin muncul sebagai solusi. Untung mati belum teraih. Tuhan masih memberinya kesempatan.

Menurut Emile Durkheim (1858-1917), bunuh diri tidak dipengaruhi oleh individu, tetapi fakta sosial yang meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Fakta sosial bisa diteliti secara empiris-objektif sedangkan pilihan individu terlalu subjektif.

Konsekuensi dari pemikiran ini, Durkheim menampik faktor bunuh diri para peneliti sezamannya. Seperti bunuh diri akibat pengaruh alkohol, ras dan keturunan, faktor alam dan imitasi. Di dalam bukunya Suicide, ia membantah semua faktor itu dengan semangat positivisme dan fungsionalisme.

Di dalam bukunya itu, Durheim menjelaskan bahwa bunuh diri disebabkan oleh ketidakseimbangan integrasi dan regulasi di dalam faktor sosial. Integrasi yang terlalu rendah menyebabkan bunuh diri egoistik. Sebaliknya, integrasi yang tinggi menyebabkan bunuh diri altruistik. Begitu juga dengan regulasi. Tingginya regulasi menyebabkan bunuh diri fatalistik, sedangkan rendahnya regulasi menyebabkan bunuh diri anomik.

Dalam kasus seorang pemuda yang meminum baygon, setelah dirundung masalah ia lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Baginya ia bukan lagi bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan lagi bagian dirinya. Pada saat itulah perasaan kecewa, depresi dan kesedihan muncul. Maka kasusnya disebut bunuh diri egoistik.

Sebaliknya, saat pertalian individu dengan sebuah kelompok terlalu tinggi, maka seseorang dapat meniadakan diri demi kelompoknya. Harapannya adalah sebuah alam ‘sana’ yang lebih indah dan menawarkan kebahagian sepanjang masa. Hal seperti ini terjadi dalam kasus bunuh diri atas nama agama seperti yang dilakukan gerombolan ISIS atau harakiri dalam kebudayaan Jepang.

Dalam faktor sosial berupa regulasi juga hal tersebut dapat terjadi. Saat terjadi depresi ekonomi, kebutuhan hidup begitu sulit atau seorang buruh migran yang diperlakukan dengan biadab. Maka bunuh diri fatalistik dapat menjadi pilihan. Sebaliknya yang akhir-akhir ini pada seorang musisi. Ketenaran diraih, kekayaan digapai, kebebasan gaya hidup menjadi kebiasaan.  Tapi kemudian ia kehilangan makna hidup. Maka bunuh diri anomiklah yang terjadi.

Emile Durkheim dalam teorinya ini benar-benar membuat penyangga yang kaku antara pilihan individu dan faktor sosial. Hal ini lumrah melihat kepercayaan filsafatnya yang positivistik dan fungsionalistik.

Santi Marliana, Mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, dalam skripsinya berjudul Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu: Analisa Kritis Filosofis Terhadap Konsep Bunuh Diri Emile Durkheim membantah teori Durkheim. Ia menggunakan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan sosiologi Max Weber untuk membantah Durkheim. Menurutnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih karena manusia memiliki kesadaran atas konsekuensi pilihannya. Seseorang yang bunuh diri tentu secara sadar mengerti akibat dari pilihannya. Keputusannya tidak semata-mata merupakan konstruksi faktor sosial.

Sebenarnya, antara pilihan individu dan faktor sosial memiliki tali temali yang saling mempengaruhi. Semua memang berasal dari faktor sosial yang membentuk alam berpikir masyarakat. Suprastruktur menentukan infraksturktur dalam bahasa Marxian. Namun, masalahnya sekarang bukanlah apa mempengaruhi apa. Tapi sebuah solusi konkrit untuk menekan angka bunuh diri di negeri ini.

Agama, yang akhir-akhir ini hadir sebagai mata air yang diperebutkan, bisa menjadi solusi ampuh. Agama menghadirkan dimensi lahir-batin dengan kekayaan pemikiran dan ritual yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Masalahnya timbul, ketika agama hanya dipahami dengan pendekatan normatif-politis. Alih-alih, memunculkan ketenangan dan kedamaian, pada titik ekstrim pendekatan ini akan memunculkan pengantin-pengantin bom bunuh diri yang siap mengancurkan para kafir dan thagut.

Ada dimensi esoteris dari agama yang kerap terlupakan. Ada penyucian jiwa dan pengembangan intuisi dengan seni dan ritual yang dianggap sesat. Sebagian pemuda hijrah yang gandrung agama hari ini sibuk dengan hukum dan menghukumi. Begini benar, begitu salah. Ini salaf, itu murtad. Padahal harusnya mereka memahami agama beserta dimensi spiritualnya. Harapannya mereka menjadi oase di tengah kehidupan yang akhir-akhir ini depresif bukan malah menjadi penyulut bara dalam sekam yang sudah muram.

Semangat mencari pemahaman universal atas agama juga bisa menyumbang permasalahan serupa. Mereka cenderung berfikir bahwa sistem yang sesuai dengan tafsiran kelompoknya akan menuntaskan setiap permasalahan, tanpa kecuali. Tafsir-tafsir itu harus sesuai dengan garis politik pendiri partainya. Disebarlah brosur di masjid, direkrutlah pemuda universitas. Pekik perubahan disuarakan dijalanan. Semua kebijakan pemerintah jadi serba salah. Niat luhur untuk mengubah yang diluar tapi mungkin lupa untuk melihat yang di dalam.

Kini, saatnya, dalam beberapa hal, agama ditarik ke arah individu. Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda dalam mengarungi samudra agama yang begitu luas. Begitu juga dengan permasalahan dan kesukaran yang dihadapi manusia berbeda dengan manusia lainnya.

Seorang ibu rumah tangga yang dihimpit hutang oleh para rentenir belum butuh kajian pergerakan Islam. Seorang pemuda yang kesepian belum butuh kajian fiqih empat mahzab. Seorang pekerja yang ditindas atasannya belum butuh ceramah pernikahan. Biarlah agama berbicara bagi permasalahan mereka masing-masing. Keluar dari universalitas menuju keragaman partikular yang pluralistik. Tantangan agama kini bukanlah mewujudkan negara adidaya lintas bangsa seperti ribuan tahun silam, tapi menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang resah.

Semalam, diriku seorang yang pandai dan aku berhasrat mengubah dunia. Hari ini, aku seorang yang bijaksana dan aku mau mengubah diriku sendiri, -Jalaludin Ar-Rumi-

 Ferry Fadillah. Kuta, 27 Juli 2017.

***

sumber gambar: http://www.esquire.co.uk

, , , , ,

2 Comments

​Islam Tuhan, Islam Manusia

IMG20170626065504

Banyak muslim dari Mahzab Sunni yang merasa ragu ketika akan membaca buku ini. Alasannya, penulis dan penerbit diindikasi terafiliasi dengan Mahzab Syiah*). Dalam sebuah sesi wawancara oleh wartawan Madina Online bersama Haidar Bagir di bilangan Depok. Warsa Tarsono menanyakan, “Anda sendiri syiah atau sunni?” yang dijawab berikut: “Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga. Bukan Syiah dan Sunni lagi. Saya pernah menulis bahwa non-Muslim tidak identik dengan kafir.” Jawaban ini mengukuhkan manifestasi ke-Islam-an Haidar Bagir pada bagian pembuka, yaitu: keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi.

Buku ini adalah upaya menjawaban fenomena merebaknya gerakan Islam konservatif**) yang menemukan panggung terbuka setelah kejatuhan Orde Baru, keterbukaan informasi dan demonstrasi besar-besaran melawan penista agama di Ibu Kota beberapa waktu silam. Tidak hanya itu, ada juga gerakan Islam trans-nasional yang berupaya mengubah dasar negara berdasarkan keyakinan bahwa tata negara islam (berdasarkan pemahamannya) adalah solusi segala permasalahan umat. Gerakan-gerakan tersebut dalam titik ekstrim memiliki dampak negatif bagi keutuhan bangsa Indonesia yang dibangun atas keragaman agama dan kepercayaan.
Padahal agama, setelah manusia merasakan manfaat besar dari kemajuan teknologi dan pengetahuan, adalah mata air yang sedang menjadi tujuan mayoritas manusia modern. Hal ini senada dengan pendapat William James dalam Varieties of Religious Experience (1904), “….meski “sains” boleh jadi akan melakukan apa saja yang melawan kecenderungan ini, manusia akan terus bersembahyang sampai akhir masa.. Dorongan naluriah untuk bersembahyang adalah konsekuensi niscaya dari fakta bahwa -meski bagian paling dalam dari diri- empirisnya adalah Diri yang bersifat sosial – ia hanya akan bisa menemukan Kawan yang menentramkannya (yakni, “Kawan-agung-Nya”) dalam dunia ideal.”

Tentu kita tidak mau, disaat musim hijrah yang sedang populer kini, para pemuda kita terjebak dalam gerakan ekstrim. Seperti gerakan amar makruf nahi munkar penuh kekerasan, presekusi yg melecehkan hukum dan wibawa negara, agenda makar terhadap pemerintah bahkan ISIS yg belakangan menghancurkan Kota Marawi, Filipina.

Haidar Bagir dalam buku ini berusaha untuk mengajak pembaca muslim kembali mengawinkan Agama dengan Filsafat (yg sempat mesra selama beberapa abad) untuk mendapatkan pemahaman Islam yg lebih spiritualistik-mistis dan holistik. Menurutnya, fokus kepada syariat (bukan meremehkan syariat) semata-mata tanpa dibarengi perubahan akhlak yang baik hanya akan menumbuh suburkan kelompok yang merasa benar sendiri di negeri ini. Misalnya kelompok takfiri yang dengan mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain bahkan terhadap sesama saudara muslimnya.

Kita perlu belajar dari sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Walaupun Sunan Takdir Alisyahbana menyatakan bahwa lapisan budaya Islam telah membawa rasionalisme keagamaan dan ilmu pengetahuan faktanya Islam mayoritas bangsa Indonesia tidak semodernis itu. Lapis Islam pun sesungguhnya masih banyak dikuasai spiritualisme, bahkan panteisme (monistik) yang menekankan kebersatuan manusia dengan alam selebihnya dan Tuhan. Itulah mengapa dakwah walisongo begitu mudah diterima oleh para masyarakat Hindu yang pada masa itu kental oleh mistisme dan wacana esoteris.

Islam Tuhan, Islam Manusia juga berarti bahwa Islam semenjak berada dalam ranah manusia tidak akan pernah lepas dari prakonsepsi budaya, kepercayaan, pendidikan dll sehingga selalu memiliki tafsir yang beragam. Tidak ada satupun ulama atau golongan, sepanjang mereka menggunakan cara ilmiah dalam menafsir, boleh menganggap tafsir yang berbeda darinya sesat atau bahkan kafir.

Haidar juga mempromosikan Islam cinta sebagai basis gerak. Kenyataannya memang begitu. Bukan saja Tuhannya Islam adalah Tuhan kasih sayang yang menyatakan “Kasih sayang-Ku meliputi apa saja” dan “Kasih sayang-Ku menundukan murka-Ku”, tetapi juga sebagi al-rahman al rahim: Yang menyayangi seluruh makhluknya tanpa terkecuali dengan semua bekal yang memungkinkannya hidup berbahagia, dan memberikan kasih sayang khusus berupa petunjuk kepada manusia yang mau menapaki jalan-Nya.

Akhirul kalam, semoga buku yang apabila dibaca dengan kaca mata kritis ini dapat menjadi oase dari padang gurun huru-hara berlatar belakang agama yg kini merebak tidak hanya di Indonesia namun seluruh penjuru dunia ini. Amin.

Ferry Fadillah. Juni, 2017.

 

 

Catatan Kaki:

*) menyebut syiah sebagai Mahzan masih menyulut kontrovesi. Penyebutan dalam tulisan ini semata-mata menggunakan hasil Konverensi Aman di tahun 2009

**) fenomena konservatisme di bahas dalam majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017 dalam sesi liputan khusus bertajuk “Konservatisme dalam Banyak Segi”

, ,

2 Comments

Akhir Hidup

 

I know you’re tired but come, this is the way

Jalaluddin Rumi

 

Masjid itu terletak di ujung Kantor Wilayah. Di sebelah utaranya berdiri Pura megah dengan ukiran artsitik. Di sebelah selatan berderet tanaman singkong yang ditata dengan apik. Masjid sederhana itu memiliki dua lantai. Lantai pertama dilengkapi karpet hijau mewah, rak buku dengan koleksi seadanya, mimbar polos tanpa sentuhan ukiran, dan beberapa mushaf ustmani yang sudah mulai menguning.

Pagi itu, kala mentari baru dua puluh menit terbit dari timur, Raden Taufik Wiralaga, yang kemudian disebut Taufik, bertafakur dalam kesendirian. Pandangannya kosong menghadap tempat sujud, posisi duduknya bersila, ada bekas-bekas air wudhu menetes ke kerah bajunya. Sesekali mulutnya mengucap sesuatu yang tidak jelas. Lebih menyerupai ceracau seorang mabuk.

“Ampun… Aduh.. Ampun.. Aduh.. Jangan..”

Air mata menganak sungai mebasahi pipinya. Suaranya semakin parau dan pandangannya semakin dalam. Komat-kamit semain tidak keruan. Badannya bergetar hebat, matanya kosong. Tiba-tiba, ia bisa mengusai dirinya sendiri dan berdzikir pelan, “Allah, Allah, Allah…”

Dzikirnya pelan seiring dengan kondisinya yang semakin tenang. Nafasnya mulai teratur. Taufik mulai menguasai dirinya, wajahnya kembali cerah dan aura lembut melingkupi tubuhnya.

“Allah..Allah..Allah”, ucapnya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mau menyelesaikan kalimat tahlil itu dalam dzikir karena takut malaikat maut mencabut nyawanya saat kalimat Laa terucap. Yang berarti penolakan atas keimananya.

Dzikirnya semakin hebat dan dalam. Ia merasakan dirinya semakin ringan. Sebuah berkas cahaya putih mendekatinya, masuk kedalam qalb nya. Ia merasakan dirinya mengembang memenuhi ruangan masjid. Membesar, membesar, membesar sampai ia kehilangan kesadaran dan memasuki dimensi lain.

Dalam dimensi itu, ia melihat latar belakang pohon pinus yang berderet di perbukitan. Di antara hutan itu sebuah danau biru dipenuhi ikan yang terlihat jelas dari pinggiran. Pasirnya hitam, airnya tidak beriak. Tidak ada angin, tidak ada kabut, tidak ada matahari dan langit dipenuhi gemintang. Sesuatu terjadi mendadak. Air danau tiba-tiba mengalami pasang. Pusarannya menghisap tubuh Taufik. Dalam, dalam, terus ke dalam dasarnya.

Tapi… Ia tidak menemukan dasar itu. Dalam pusaran itu Taufik diberi penglihatan ilahiah tentang masa hidupnya. Ia melihat wajah ibunya yang tersenyum saat ia masih bayi. Wajah bapaknya yang lelah selepas bekerja. Ia merasa rindu dengan mereka. Ia berusaha menggapai mereka, tapi mereka hanyalah bayang-bayang di antara air danau. Kemudian, ia melihat dirinya sewaktu kecil. Ia berlari ke sana ke mari dengan riang, tanpa beban, penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bapak dan Ibunya selalu mengecup keningnya sebelum berangkat sekolah. Ia merasakan pengalaman itu begitu dekat, sangat dekat.

Lama-lama bayangan itu pudar. Ia kemudian melihat sosok remajanya sedang berduaan dengan seorang wanita di pojok kafe sebuah kota. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing. Tapi, ia juga melihat kelakuan buruknya ketika berbohong kepada orang tuanya, pulang malam tanpa kabar, dan selalu meminta uang demi membelikan hadiah bagi sang kekasih. Ia juga melihat ibunya berdoa sambil menangis dalam tahajudnya. Ia merasa bersalah, “Bu, maafkan, Taufik, Bu..”, bisiknya lirih.

Tiba-tiba semua berubah hitam. Ada titik putih kecil dikejauhan yang mendekat. Taufik mendekati titik itu. Pemandangan mendadak berubah. Ia melihat dirinya sedang duduk dengan seragam berpangkat di depan komputer. Ia sadar bahwa ia sedang melihat dirinya lagi. Ia melihat perubahan tanda pangkatnya. Semakin lama semakin semarak. Di antara berubahan itu berseliweran pemandangan aneh. Wanita-wanita penghibur, botol wisky, kartu remi, asap rokok, perbicangan dengan tertawaan, anak buahnya yang pernah ia sakiti, istrinya yang menangis, anaknya yang kepergok merokok, orang tuanya dengan kain kafan, nisan, kemudian titik itu menghilang, gambaran itu pudar, semua kembali hitam.

Taufik terjebak dalam gelap itu. Ia tidak paham ia berada dimana dan akan menuju kemana. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Ia tidak ingat lagi apa yang terakhir ia lakukan. Akhirnya ia berzikir, “Allah, Allah, Allah..” Gelap itu menghilang, Taufik merasakan cahaya putih membawanya terbang entah kemana.

Adzan Dzuhur berkumandang, masjid gempar, seorang pegawai ditemukan meninggal dalam persujudannya.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Ibu

People are asleep and when they die, they awaken

Hadith of the Prophet Muhammad

Know that you are imagination, and all that you perceive

And about which yous say “that’s not me”, is imagination.

So the whole existence is imagination within imagination

Ibn Arabi

 

 “Ah! Aku paling nggak suka kalau kamu terus suruh aku salat,” bentakku sambil memuntahkan kepalan ke lemari baju.

Dialah Aminah, ibu kandungku, yang selalu cerewet menyuruhku untuk salat, puasa dan segala ritus pra-ilmiah lainnya. Biasanya aku hanya berkata “ya” setiap ia mulai berceramah, sialnya kini aku sedang mendapat banyak masalah. Bentakan ini adalah puncak kekesalan itu.

“Alif…,” panggilnya lirih dengan air mata menetes, “Salat itu kewajiban, kalau kamu nggak salat apa bedanya kamu sama orang kafir. Allah perintahkan itu semua lewat Al-Quran. Kitab ini surat cinta dari Allah bagi manusia. Ibu nggak mau kamu nanti dapat adzab karena menyepelekan salat. Salat ya, Nak. Salat..”

Aku muntab dibuatnya. Aku tahu ia ibuku. Guru sekolah dasarku mengajariku untuk hormat dan berbakti padanya. Tapi hari ini.. Ah.. persetan!

“Udah ibu nggak usah ngurusin hidup Alif. Mau Alif salat, pindah agama, atau nggak percaya sama Al-Quran itu urusan Alif! Ini hidup Alif! Alif bebas untuk milih, Bu!” bentakku kasar sambil menunjuk tepat ke hidung ibuku.

Tanpa berbicara ibuku meninggalkan kamar. Jilbabnya basah oleh air mata. Setelah kepergiannya aku merasakan sesal menyeruak di dalam hati. Buru-buru aku menampiknya, “Kau benar Alif, kau benar.”

***

 Aku berjalan di sebuah hutan pinus. Sekitarku hampir semuanya berwarna merah. Di langit tidak ada satu pun bintang menggantung. Bahkan di waktu yang tidak jelas pukul berapa ini, tidak ada suara binatang apapun. Entah itu jangkrik atau nyamuk liar yang mencari darah.

Dari kejauhan aku melihat sebuah gubuk tua tidak terawat. Sebuah bangunan gaya kolonial dengan cat putih dan sulur yang menjalar menutupi tiang dan atap merahnya.

Ketika akan melangkahkan kaki ke gubuk itu, aku melihat sosok ibu. Samar. Tersembunyi dalam gelap dan pekat hutan yang berwarna darah. Ia berjalan cepat menuju gubuk yang sama.

“Ibu! Ibu mau kemana! Tunggu Alif, Ibu!”

Panggilanku tidak menghentikan langkah kakinya, bahkan ia semakin cepat meninggalkanku jauh dibelakang.

“Ibu tunggu Alif, Ibu. Tunggu…” jeritku semakin parau di tengah segala kebingungan.

Akhirnya aku sampai di gubuk itu. Nafasku terengah-engah. Aku mendapati sosok ibu duduk di sebuah meja usang dengan gelas dan piring di depannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jilbabnya yang kusam dan kepalanya yang tertunduk membuatku bertanya-tanya, “benarkah ini ibuku?”

“Duduk.” serunya datar.

Aku mematuhi perintahnya. Kugeser kursi reyot itu. Sambil mengambil posisi duduk aku pandang lekat sosok ibu di hadapanku. Aku mulai ragu, apakah dia ibuku? Tapi kemudian aku mulai memberanikan diri untuk bertanya.

“Kita ada dimana, Bu? Kenapa ibu begitu pucat, kenapa ibu tidak kembali saat Alif panggil?”

Sosok ibuku terdiam lama. Aku mengulang pertanyaan yang sama namun ia tetap bergeming. Tidak ada angin, tidak ada suara nafas, tidak ada percakapan. Penantian ini adalah siksaan terberat dalam hidupku.

Tiba-tiba saja sosok ibu membuka percakapan.

“Ibu? Hahahaha.. Aku bukan ibumu. Aku bukan ibumu. Tidakah kau mengenal ibumu? Bukankah kau yang dilahirkannya, disapihnya, diberinya pengetahuan, didoakannya, tapi kau tidak mengenal ibumu. Hahahaha..”

Setelah tawa itu lepas ia terdiam. Kembali kepada sikap angker semula. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah kiri. Sontak mataku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah kamar besar dengan pintu lebar. Di tengahnya ada kasur dengan kelambu nyamuk yang sudah berdebu. Sebuah lilin yang sudah tinggal seperempat adalah satu-satunya alat bantu penerangan. Dalam samar aku melihat sosok tubuh yang terbujur kaku.

“Siapa dia?”

“Kau lihat sendiri”, senyumnya terlihat ganjil.

Aku beranjak dari kursiku. Berjalan perlahan ke arah kasur itu. Di pintu kamar aku berusaha membersihkan sarang laba-laba yang menutupi jalan masuk. Saat berada di dalam kamar aku terkejut. Tiba-tiba dinding-dinding kamar berubah menjadi padang rumput yang luas.

Astagfirullah. Kemana rumah tadi. Aku ini dimana?”

Saat aku berbalik, aku tidak lagi melihat sosok wanita misterius tadi. Sepanjang mata hanyalah padang stepa tanpa ujung. Pada momen itu hanya ada aku dan sosok terbujur kaku di dalam kasur di tengah ruang waktu yang bahkan tidak aku pahami.

Di antara kengerian dan kebingungan itu aku lanjutkan perjalanan menuju kasur. Walaupun terlihat dekat namun langkah-langkahku terasa berat seperti tertahan oleh tangan-tangan imajiner.

Aku membuka kelambu itu sambil terbatuk-batuk. Debu masuk ke dalam hidung dan mataku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku gosok mataku perlahan. Saat mataku jernih kembali, aku bisa jelas melihat tubuh itu. Aku terkejut. Bingung. Hampa.

“Ibu..! Ibu kenapa.. Ibu jangan ninggalin Alif. Ibu maafin Alif.. Ibuuu!”

Itu ibuku. Itu ibuku yang terbujur kaku. Wajahnya pucat. Ia tidak bernapas. Ia mati pikirku.

Ia mati dan aku sendiri.

***

“Suster! Ambil cepat alat kejut jantung!”

“Baik, dokter!”

Tubuh itu tidak berdaya. Luka bakar tampak memenuhi sekujur tubuhnya. Wajahnya rusak. Bentuknya sudah tidak lagi dikenali.

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tubuh itu terangkat beberapa senti dari kasur. Tangannya bergerak tidak beraturan. Namun mesin di sebelah kepalanya belum menandakan adanya tanda kehidupan.

“Tambah lagi daya listriknya, Suster!”

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tiba-tiba saja aku merasa tertarik dari semburat cahaya warna-wani yang tidak beraturan. Aku melihat fragmen-fragmen samar ingatan yang berkelibatan seperti film: rumah tua, wanita misterius, hutan pinus merah, padang luas dan ibuku yang terbujur kaku. Kesadaran mulai masuk ke dalam tubuhku. Perlahan-lahan aku membuka mata.

“Siapa kalian? Aku dimana? Dimana ibuku?”

“Tenang, Dek. Kamu belum sehat. Tidak perlu bertanya dulu.”

“Tolong Dok jelaskan semuanya, dimana aku, dimana ibuku?”

Dokter itu terdiam.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

Aku terus bertanya. Memaksa. Merajuk sambil meraung-raung.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

“Ibumu? Bukankah ibumu mati. Hahahaaha..”

Aku terkejut kenapa dokter itu tertawa memberitakan kematian ibuku. Sialnya ia terus tertawa sambil memperlihatkan gigi serinya yang berjarak. Ia terus tertawa sambil memegang perut dan menahan derai air mata. Ia terus tertawa.

Di tengah kebingungan itu, aku mengalihkan pandangan kepada sosok suster di sebelahnya. Ia tidak ikut tertawa dan tampak misterius. Saat aku perhatikan ia malah memalingkan muka. Tapi aku seperti mengenal wajah itu. Wajah yang sudah tidak asing lagi.

“Suster! Kenapa dokter gila ini tertawa. Dimana ibuku? Dimana aku?”

Tiba-tiba kepalanya berbalik tanpa membalikan tubuh. Seperti burung hantu di dahan pohon yang melihat tikus di semak belukar.

“Sudah ku bilang ibumu terbujur kaku di ranjang itu! Hahahaha..”

Aku merinding dibuatnya. Siapa dia? Kenapa semua mentertawakanku. Ruangan itu pecah oleh suara tawa yang lebih menyerupai jerit hantu dikuburan. Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku coba duduk. Kucabut infus yang menempel di nadiku. Aku tabrak tubuh dokter itu. Tapi saat akan mencapai pintu, sebuah benda keras menghajar kepalaku. Aku kehilangan keseimbangan. Kemudian semuanya gelap belaka.

***

“Alifff.. Alifff.. bangun, Nak. Ibu sudah siapkan sarapan. Kamu kan sebentar lagi sekolah!”

Aku terbangun mendengar teriakan ibuku dan ketukan di pintu. Tiba-tiba air mata menganak sungai. Aku merasakan kebingungan yang luar biasa dan rindu kepada ibuku, “Ibu? Itu kah ibu?”

Ibu langsung membuka pintu. Saat mendapat anaknya dalam kebingungan ia mendekat. Wajahnya teduh dan menenangkan.

“Alif, kamu kenapa?”

Melihatnya mendekat tubuhku gemetar. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Aku langsung bersimpuh dan mencium kaki ibuku. Aku rangkul kaki ibuku sambil menundukan kepala. Tangisku pecah. Aku rindu ibuku. Aku ingin memeluknya dan tidak mau lagi mencelanya. Aku sayang ibuku.

Ibuku tidak berkata apa-apa. Ia melihatku lekat-lekat seperti seorang bocah yang terjatuh saat bermain layangan. Ia mengelus kepalaku perlahan. Aku merasakan kedamaian. Aku tenang. Aku hidup. Aku tercerahkan. Kemudian aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, semoga kenyataan ini bukan sebuah mimpi.”

“Say: Come. I will recite unto you that which your Lord has made a sacred duty for you; that you ascribe nothing as partner unto Him and that you do good to parents…” (Quran 6:151)


Ferry Fadillah, April 2016

tulisan ini pernah dikirim untuk lomba cerpen festival seni budaya Masjid Baitul Mal (2016), STAN, dan memperoleh peringkat ketiga

, , , , , , , ,

Leave a comment

Pemuda Hijrah: Antara Gaul-Sekuler dan Cupu-Islamis

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”, Pidi Baiq.

Kalimat ini ditulis di bawah jembatan penyebrangan khas kolonial sekitar alun-alun Kota Bandung. Ditulis seniman asli kota ini yang dikenal melalui novel romansanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Sayangnya kita tidak akan membahas Pidi Baiq dan novel populernya itu. Tulisan ini akan membahas “itu melibatkan perasaan” kalimat dimuka yang akan membawa lamunan indah tentang kota kembang.

Bandung berhasil memikat setiap orang yang pernah bertandang walau sesaat. Setiap akhir pekan, mungkin, ribuan mobil bernomor polisi “B” memenuhi ruas tol Pasteur dan Buah Batu. Mereka membawa uang yang akan menambah pundi-pundi para pengusaha kota kreatif ini. Kuliner yang enak, café disekitar dago yang romantis, harga barang yang murah dan taman tematik yang menawan adalah produk wisata kota ini yang selalu dirindukan oleh pendatang. Terutama bagi mereka yang dapat membeli apapun dengan uang.

Perantau yang bekerja di luar Bandung juga merindukan hal serupa. Bandung yang berkabut di tengah lampu temaram Jalan Braga, kerlap-kerlip neon pemukiman yang indah dari perbukitan dago dan pemusik jalanan yang lihai bermain harmonika bersamaan dengan gitar di perempatan jalan adalah lembar-lembar grafis di alam bawah sadar yang selalu mengingatkan perantau tentang orang tua mereka, persahabatan atau kisah cinta yang pernah kandas.

Tapi apakah Bandung hanyalah tentang makanan, belanja dan pemandangan belaka? Mula-mulanya itulah yang saya rindukan. Namun, setelah mengenal sebuah gerakan islam di masjid Al-latif paradigma ini berubah.

Gerakan Pemuda Hijrah dimotori oleh event organizer bernama SHIFT yang menjadikan Masjid Al-Latif sebagai markas besarnya. Seperti namanya, hampir setiap hari kegiatan ini diikuti oleh pemuda edisi 90an. Mereka menemukan jalan hijrah melalui para dai di atas mimbar yang kerap menggunakan bahasa populer dalam menyampaikan risalah Islam. Misalnya kajian yang diberikan oleh Ustadz Evie Effendi. Dai nyentrik dengan busana gaul  ini selalu menyelipkan puisi, bahasa sunda gaul, dan lagu populer sembari menyelipkan tauhid dan syariat Islam kepada para jamaah. Walaupun isi ceramahnya tidak dalam, tapi tampilan dan gaya bahasanya berhasil memikat psikologi para pemuda yang baru menempuh jalan hijrah. Sehingga pemandangan anak muda dengan kaos oblong yang menangis dalam ceramahnya adalah hal lumrah sekaligus mengagumkan.

Metode dakwah semacam ini mengingatkan saya cara dakwah Marxian ala Martin Suryajaya (2014) dalam essainya berjudul “Marxisme dan Propaganda ” yang saya bahasakan ulang sesuai iman Islam:

Sebaliknya, mulailah dengan cara ortodoks: (1) abaikan semua kosakata Islami, (2) masuk ke dalam kosakata sang subjek, (3) ikuti penalaran si subjek dan rekonstruksi metodenya, (4) ekplisitkan atau beri penekanan pada “Iman Islam” yang sebetulnya sudah inheren dalam penjelasan sang subjek tanpa sekalipun menggunakan kosakata Islam, atau tunjukan kekeliruan dari metode pemikiran yang ia gunakan dengan penjelasan yang selaras bagi sekema dan kosakata berpikirnya, (4) tunjukan bahwa Islam itu punya konsekuensi  pada gagasan tertentu tentang kenyataan seperti yang dikupas Al-Quran dan Al-Hadist.

Bagaimana langkah-langkah ini bekerja dalam metodologi dakwah pemuda hijrah? Selain gaya bahasa para dai yang populer dan menghindari kedalaman materi. Para marketing pemuda hijrah pandai menyebarkan gagasan melalui jejaring sosial seperti instagram, twitter dan line. Tajuk-tajuk setiap pertemuan juga mengambil kalimat populer yang muda diingat. Seperti Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Dusta Pembawa Sengsara, Ladies Day: The Real Miss Universe, Defend Your Faith, Light and Dark Side, Math of God  dan lain sebagainya. Selain itu, hijrahnya pemain band, pentolan klub motor dan mantan narapidana berhasil memikat orang-orang senasib sehingga menghilangkan rasa sungkan calon jamaah untuk ikut mendengarkan ceramah di Masjid Al-latif.

Hal paling menarik dari kegiatan ini adalah keberhasilan panitia acara untuk mengajak ratusan jamaah muda di malam minggu, hingga masjid di pusat kota ini penuh sesak. Kalau hal ini terjadi di malam senin tentu hal biasa. Malam minggu! Alih-alih kongkow sambil ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi dan rokok atau pacaran bergandengan tangan di Paris van Java, mereka malah merelakan waktu untuk berdesakan sambil duduk bersila mendengar wejangan para ustadz. Sebuah bentuk militansi yang mengagumkan ditengah nikmat hedonisme yang selalu menggoda.

Pertanyaan kemudian yang layak diajukan adalah mengapa anak muda kota Bandung tertarik dengan kegiatan ini?

Saya sebagai warga kota Bandung yang lahir di tahun 90-an berusaha menjawab dengan pengamatan sederhana selama bersekolah di Jalan Citarum. Bandung pada masa itu (hingga kini?) adalah surga bagi para pemusik. Band-band lokal banyak yang mendapatkan ketenaran di tingkat nasional karena berhasil meramu lagu unik dan sederhana yang mudah diingat kawula muda. Gaya hidup anak muda juga terfasilitasi oleh investor swasta maupun koperasi angkatan darat. Arena billiard, bowling, kolam renang, bioskop, café, restaurant, taman tematik atau minimarket 24 jam menjadi destinasi kongkow sekaligus monumen gaya hidup urban yang sayang untuk ditinggalkan. Pemuda yang berkubang dalam gaya hidup seperti ini saya sebut ‘pemuda dalam kondisi pertama’.

Di lain sisi, ‘pemuda dalam kondisi kedua’ adalah mereka yang kebetulan terlahir dalam keluarga relijius. Umumnya mereka akan sibuk dengan urusan akhirat di masjid-masjid, berkumpul secara eksklusif bersama komunitas islami dan memiliki wawasan dunia seputar keislaman semata hingga –beberapa-  lupa untuk menerangi kejahiliahan menuju cahaya seperti yang diamanatkan Muhammad SAW. Bagi pemuda dalam kondisi pertama, mereka dilabeli sok relijius atau nggak gaul.

Saya yakin bahwa -bagi pemuda dalam kondisi pertama- hasrat yang terus disalurkan dengan kesenangan pasti akan menemukan titik jenuh. Mereka akan merasakan kekosongan kemudian depresi. Pada saat itu pertanyaan eksistensial akan mengemuka. Siapa Aku? Kenapa aku diciptakan? Mengapa Aku ada? Saat pemuda di dalam kondisi kedua mengambil jarak dari permasalahan mereka, pemuda dalam kondisi pertama akan sangat mudah terjerumus kepada tindakan amoral seperti penggunaaan narkotika, seks bebas bahkan dalam kondisi ekstrim dapat mengakhiri hidupnya dengan menenggak segelas baygon cair di kamar kost.

Gerakan pemuda hijrah seolah hadir untuk menghubungkan kedua kondisi pemuda ini. Seperti Nabi yang selalu menggunakan bahasa kaumnya untuk berdakwah. Pemuda hijrah juga menggunakan bahasa populer untuk berdakwah. Sehingga distingsi antara pemuda gaul-sekuler dengan cupu-islamis dapat dirombak dan dikonstruksi menjadi ukhuwah tauhid yang egaliter.

Tampaknya kalau gerakan ini tetap istiqomah dan secara teratur menghasilkan pemuda yang militan dalam Islam, ‘Bandung Juara’ tidak lagi berwujud tata kelola kota yang semata-mata estetis dan ramah anak tapi juga melimpahnya berkah dari Sang Pencipta di jantung Priangan.

Semoga.

Ferry Fadillah. Bandung, 16 April 2016.

, , , , , , ,

12 Comments

Percikan Pemikiran

Aku salah mengenal shubuh. Aku pernah melaluinya dengan selimut tebal dan kasur empuk. Samar suara adzan dari masjid komplek tidak pernah menembus telingaku; bahkan tidurku semakin dalam dan pulas.

Ada saat dalam kebodohan itu, aku terbangun begitu saja ketika muadzin hampir usai melantunkan adzan. Shalat itu lebih baik daripada tidur. Aku tahu itu. Sejak kecil aku mengaji di taman pendidikan Al-Quran. Belajar aqidah dan etika islam. Tapi saat dewasa, aku rasa bekas-bekas pengajian itu memudar perlahan. Dimulai dari cita-cita ku yang semakin banal.

Dulu aku bercita-cita mejadi seorang ustadz. Tapi setelah melihat kehidupan guru ngaji komplek yang sederhana, aku mengurungkan niat itu. Kemudian aku bercita-cita menjadi dokter. Hidup mereka berkah, menolong orang lain dan kekayaan seakan tidak ada habisnya menghampiri mereka.

Tapi takdir berkata lain. Aku tidak pernah tahu apa yang ditulisNya di lauhul mahfudz. Aku tidak pernah tahu akan menjadi seperti apa aku kelak. Dan ketika aku bersalaman dengan filsafat aku juga berpikir: kenapa aku diciptakan?

Bukankah dunia itu tempat segala dosa. Bukankah adzab neraka itu pedih? Kenapa Tuhan membiarkan makhluknya bersentuhan dengan dosa? Kalau neraka diciptakan sebelum penciptaan bumi, berarti sudah ada makhlukNya yang dipastikan menghuni tempat itu? Lalu kenapa mereka diciptakan untuk dimusnahkan?

Aku tidak pernah sempat menjawab itu semua. Aku juga belum pernah menanyakan kepada para alim. Ah, mereka itu, aku tidak suka dengan retorika-komersial nan dangkal itu. Mereka tidak pernah memuaskan dahaga filsofiku. Bahkan aku mengambil jarak dan mulai mengaji dengan mereka yang melabeli diri sebagai filsuf dan teolog.

Apakah aku salah?

Aku kira ayat-ayatNya terhampar tidak hanya dalam teks-teks suci. Gunung, lembah, laut, pasir, batu, bintang, langit, musim juga ayat-ayatnya. Juga manusia itu sendiri. Aku takut ketika teks-teks itu menguasai diriku, aku tidak lagi bisa memahami manusia. Aku hanya bisa memahami teks tapi tidak bisa memahami manusia. Aku tidak mau seperti itu. Bukankah Sang Nabi terlebih dahulu memahami karakter bangsanya, istrinya, kaulanya sebelum menerima perintah iqra? Bukankah yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya?

Cukup. Aku tidak pernah terampil menyusun kata-kata. Paragraf-paragraf ini hanyalah percikan-percikan pemikiran yang tidak terarah. Kau tidak perlu terlalu serius membacanya.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Maret 2016

, ,

Leave a comment

Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

, , , ,

Leave a comment

Resensi : Tasawuf Modern

tasawufJudul                           : Tasawuf Modern

Penulis                         : Prof. DR. HAMKA

Penerbit                       : Republika Penerbit

Cetakan                       : Pertama

Jumlah Halaman          : 377 halaman

Tahun Terbit                : Maret 2015

Bahagia adalah pokok bahasan yang tidak pernah selesai diperbincangkan. Filsuf, sastrawan hingga para nabi datang silih berganti di setiap zaman mengajarkan kebahagiaan menurut wahyu atau pengalaman kehidupan. Bagi mereka yang mencari bahagia melalui pengalaman kerap kali menemui jalan yang terjal nan curam. Ujung jalan terjal itu ialah dua kemungkinan: cahaya atau kegelapan.

Ada yang menyatakan bahagia apabila tekun menempuh laku spiritual tertentu, menyiksa badan hingga hancur lebur, dikiranya dengan itu dapat mencapai kebahagiaan hakiki, yakni berjumpa dengan Sang Pencipta Alam. Ada pula yang menyatakan bahwa bahagia dapat diraih dengan memuaskan semua keinginan nafsu, nurani dan jiwa dibuat buta karenanya, hingga tidak ada perbedaan lagi antara manusia dengan hewan.  Terakhir, beberapa pemikir berkesimpulan bahwa salah satu jalan ekstrim dimuka tidaklah dapat ditempuh. Kebahagiaan itu berada di jalan tengah, antara jiwa yang penuh cahaya dan badan yang sehat bugar. Begitulah Buya Hamka menjelaskan perihal kebahagiaan di dalam bukunya berjudul ‘Tasawuf Modern’.

Walaupun buku ini berjudul ‘Tasawuf Modern’, namun isi buku ini tidaklah menjelaskan berbagai macam tarikat yang ada di dalam tasawuf atau sejarah panjang tasawuf dari era klasik yang kerap menimbulkan perdebatan di kalangan ahli fiqih. Maksud tasawuf dalam buku ini yaitu keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Jadi, tasawuf digunakan sebagai instrumen bedah jiwa manusia, mencari penyakit yang ada di dalamnya sekaligus mengobatinya, melihat perangai baik yang ada kemudian meningkatkannya dengan tujuan mendekatkan diri ( jiwa dan raga) kepada Ilahi Rabi.

Jika diibaratkan, cocoklah buku ini disebut sebagai peta jiwa. Secara detil Buya Hamka menjelaskan apa itu syaja’ah, ‘iffah, hikmah dan ‘adalah? Bagaimana jika empat unsur dalam jiwa itu kurang atau lebih? Penyakit hati apa saja yang timbuk akibat kurang atau lebih itu? Bagaimana pula mengobatinya? Apa hakikat kekayaan? Bagaimana menyikapi kekayaan? Apa sederhana itu?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, buku ini tidak akan menyajikan uraian panjang lebar penuh dalil seperti teks-teks agama kekinian. Buya Hamka yang memiliki jiwa sastra menulis dengan memadukan dalil Al-Quran, Al-Hadist, syair arab kelasik, kisah spiritual sufistik, pepatah petitih dan pantun berima melayu sehingga buku ini enak untuk dibaca. Coba kita simak salah satu uraiannya,

“Maka alam ini adalah laksana kebun bunga itu. Bunga-bunga yang ada di dalamnya ialah perjalanan kehidupan manusia. Kita cium setiap hari untuk menjadi keuntungan diri, yang busuk kita jauhi, durinya kita awasi, baunya dicium juga. Dari sebab memetik bunga dan menghindarkan durinya itu, kita merasakan lezat cita tenteram.

Pulanglah kapal dari mekah,

Penuh muatan orang haji

Awas-awas adik melangkah,

Memetik bunga dalam duri.”

Bagi mereka yang terjebak dalam gelap dunia dan gamang mencari kebahagiaan hakiki, buku ini merupakan suluh yang tepat untuk menuntun kepada cahaya kebahagiaan.

Selamat membaca!

Ferry Fadillah.

Bintaro, 14 Juni 2015.

, , , ,

Leave a comment

Kontemplasi Pagi

Hampa. Kata yang pantas menggambarkan suatu perasaan. Yakni ketika makna dan arti alpa untuk hadir. Keramaian. Senda gurau. Pesta pora. Menawarkan pemenuhan kepuasan ragawi. Bahkan menurut beberapa orang merupakan surga itu sendiri. Libido dicurahkan. Hasrat dihormati. Badan dianakemaskan. Itulah fenomena yang telah menjadi tujuan; bahkan ilahi rabi bagi anak masa kini.

Dahulu, ditengah carut marut moral negeri arab, Sang Nabi menyepi ke gua nan jauh dari hiruk pikuk percakapan. Prosesi ini bukanlah titik antisosial. Hanya sebuah proses sementara untuk mendengar Dia –yang hadir lebih dekat dari urat leher itu. Sebuah kontemplasi. Mengukur diri dan menimbang-nimbang ini dan itu. Menyelaraskan kehendaknya agar sesuai dengan kehendakNya. Pada saat itulah Sang Ilahi berfirman : bacalah, bacalah, bacalah!

Membaca lekat dengan kontemplasi. Perenungan. Jalan flosofi. Dibawanya akal mendahului badan. Menjelajah jauh melewati bima sakti. Mendekat lekat kedalam unsur atom. Membedah misteri agar menjadi pengetahuan. Mengolah pengetahuan agar menjadi science .Membawa diri dari gelap menuju terang. Mengubah masyarakat dari taklid menjadi rasional.

Pada saat itulah hampa akan hilang. Akal asyik diberi makan ilmu. Jiwa asyik diberi minum hikmah. Kalau ada misteri, dipecahkannya hingga terang benderang. Kalau ada masalah, dihadapinya hingga bijaksana. Diri tenang pembawaan damai.

Kalau orang umum pasti banyak menduga-duga. Ah gila lah mereka dengan paham ini. Aduh, serius nian hidup Kau. Aih, bicaramu melangit tinggi, Bung. Tapi jiwa yang terang tidak pernah terusik. Ia selalu tersenyum, karena tahu akan menang. Apa menang itu? Coba awam tanya pasal mati, seringkala mereka menjawab :

“Mati? Ah, hanya sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Jiwa kita akan bebas. Untuk apa lagi risau”

Sebuah jawaban tegas nan tenang, dari pikiran yang dipenuhi ilmu dan jiwa yang diterangi hikmah.

Ferry Fadilah. Bintaro, Juni 2014.

, , , ,

Leave a comment

Membaca Islam Melalui Kacamata Indonesia

Akhir-akhir ini media sosial dipenuhi dengan isu berbau agama, terutama yang menyangkut dengan Islam. Bermula dari perhelatan akbar lima tahunan, pemilihan umum 2014. Saat itu, masyarakat hanya diberi dua pilihan calon presiden dan wakil presiden. Masing-masing pihak didukung oleh kekuatan partai politik; ormas daerah serta organisasi keagamaan. Kampanye-kampanye di dunia online dan media massa tidak terkendali terlihat dari cara bertutur berbagai pihak. Beberapa orang memandang perseteruan politik ini mengerucut menjadi dua kubu yaitu pro-Islam melawan kontra-Islam.

Demokrasi dengan logika vox populi vox dei atau suara rakyat suara Tuhan telah menyatakan satu dari dua calon yang diusung sebagai pemenang. Gegap gempita rakyat yang mendukung kedua pasangan di masa-masa kampanye membahana ke seluruh negeri. Pesta musik dan pesta kuliner diselenggarakan di  Monumen Nasional  Jakarta setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Istana Negara. Bahkan diperkirakan ada ribuan warga yang memadati acara tersebut hingga larut malam.

Sayang, kegembiraan masyarakat kini seperti sebuah paradoks: pemimpin yang dulu dieluk-elukan, kini banyak mengundang tanda tanya besar. Selain kondisi perekonomian yang tidak menentu, langkah sepihak Kementerian Komunikasi dan Informasi menutup 21 website Islam merupakan langkah mundur menuju era orde baru; ketika kebebasan pers dibungkam dan kritik dicurigai sebagai langkah subversif.

 Masalah lain adalah mengenai isu Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) -gerakan islam radikal sadistis- yang dikhawatirkan menyebar di tanah air dan memicu serangan-serangan teror baru pasca tragedi Bom Bali I dan II. Patut disayangkan, dalam memberitakan permasalahan ISIS media masa terkesan berlebihan sehingga  memunculkan citra Islam yang kurang baik bagi orang Islam sendiri maupun orang non-Islam.

Tidak hanya di Indonesia, kecurigaan terhadap Islam terjadi di banyak negara. Paska penyerangan kantor majalah satire Charli Hebdo di Perancis oleh dua orang bersenjata, negeri itu dan merambat ke negeri-negeri Eropa lain mengalami gejala islamophobia. Di Indonesia, islamophobia bukanlah hal baru, isu-isu terorisme seringkali disangkutpautkan dengan agenda milisi islam radikal dan berujung kepada pembenturan ide antara Islam dengan Pancasila. Tragedi Bom Bali I dan II, pengeboman Hotel J.W. Mariot, tindakan anarki Forum Pembela Islam (FPI), Rohianiawan Islam (Rohis) SMA yang dicurigai dan fenomena ISIS dilebih-lebihkan. Dampaknya? Generasi muda muslim jauh dari agamanya, enggan untuk memperdalam agamanya karena takut dituduh radikal, enggan membahas masalah Jihad karena takut dituduh ekstrimis dan sungkan mengikuti sunah Rasul yang berkaitan dengan fashion karena kesan yang dimunculkan akan disamakan dengan teroris. Dari semua pemaparan dimuka, hanya satu kata yang cocok menggambarkan Islam kini, teralienasi.

Membaca Sejarah Islam Nusantara

Teralienasinya Islam di negeri yang mayoritas muslim ini tentu menimbulkan keheranan bagi semua pihak. Bagaimana bisa? Padahal Islam adalah agama yang datang ke Indonesia tanpa kekerasan dan invasi langsung dari Kekhalifahan di timur tengah sana. Bahkan ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menginjakan kaki di negeri ini dan berusaha memonopoli perdagangan internasional di pelabuhan-pelabuhan utama hingga masa awal pergerakan nasional di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Islam hadir sebagai ideologi penjunjung kesetaraan, kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan.

Teralienasinya Islam selain disebabkan oleh pengaruh media yang terlalu vokal menghubungkan terorisme dengan Islam juga tidak terlepas dari pendidikan Agama Islam yang terlepas dari konteks sejarah Islam Nusantara. Silahkan tanya pahlawan-pahlawan besar penyebar agama Islam di timur tengah sana, berikut para ulama dan cendikiawannya, pasti para ustadz dan mubaligh dengan lancar dan detail menjelaskan ini dan itu. Padahal sejarah dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia tidak bisa dianggap perjuangan lokal semata, tetapi juga berdimensi internasional.

Ketika Sultan Ali Alaoedin Mansoer Sjah (1838-1870) memimpin Kesultanan Aceh, kerajaan yang menjadikan Islam sebagai hukum positif dalam bernegara di semenanjung Sumatra ini telah mengadakan hubungan diplomatik dengan Republik Perancis, Amerika Serikat, Inggris dan Kesultanan Ottoman Turki (Suryanegara  2009 : 259). Hubungan-hubungan tersebut diadakan guna menggalang bantuan militer untuk menghadapi pasukan Belanda yang telah menduduki Banda pada Maret dan April 1873. Sayang bantuan-bantuan tersebut tidak pernah sampai, dikarenakan:  Pertama, Perang Perancis-Jerman (1870-1871) antara Kaisar Napoleon III versus Kaisar Willem I mengakibatkan Republik Perancis sedang menuju keruntuhan; Kedua, Amerika Serikat baru saja selesai dari Perang Saudara (1861-1865) pada masa Presiden Abraham Lincoln, dengan demikian kondisi dalam negerinya masih parah. Ketiga,  Kesultanan Turki sedang dalam perang dengan Rusia  dalam Perang Turki-Rusia kurun waktu 1875-1878 (Suryanegara 2009 : 262-263). Karena aktivitas perang di negara-negara tersebut, bantuan militer kepada Kesultanan Aceh terhenti dan Aceh sebagai satu-satunya kekuatan Islam di Sumatera yang tersisa harus menghadapi Kerajaan Belanda seorang diri  mulai dari tahun 1873 hingga 1914.

Perang besar ini menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi dan agama yang dijunjung. Semangat pasukan Aceh dalam menghadapi pasukan belanda adalah semangat jihad, perang sabil, perang di jalan Allah, bukan nasionalisme sempit. Dengan dibantu para ulama, perang Aceh adalah perang terlama di negeri ini yakni kurang lebih 70 tahun. Jika perang Aceh berakhir 1914 dan Indonesia merdeka tahun 1945 berarti negeri di ujung Sumatera ini hanya dijajah selama 31 tahun, bukan 350 tahun seperti yang kita percayai selama ini.

Sejarah Islam di tanah Jawa tidak kalah menarik. Perang Jawa (1827-1830) merupakan perang lima tahun yang memiliki dampak luar biasa. Perang ini telah menelan korban 10.000 orang Eropa dan kurang lebih 200.000 orang Jawa terbunuh dan menelan biaya sebesar f19.000.000 (Djamhari, 2014). Perang ini bukan bermula dari hal sepele : pemasangan patok-patok pembangunan jalan di tanah miliki Pangeran Dipenogoro; seperti yang dipelajari ketika penulis sekolah menengah dulu. Tujuan utama pangerang Dipenogoro dalam memimpin Perang Jawa adalah memajukan agama Islam, lebih khusus lagi mengangkat keseluruhan agama Islam di seluruh Jawa –yaitu tatanan moral secara umum , tidak hanya Pratik Islam formal (Carey 2014 :67).

Yang menarik adalah pakaian perang Pangeran Dipenogoro. Pakaian yang tidak lazim digunakan dalam perang-perang jawa sebelumnya yaitu jubah dan sorban islami, menandakan perlawanan sang pangeran terhadap hegemoni budaya Barat di Keraton Yogyakarta. Dari penamaan jabatan-jabatan militer pun, pangeran Dipengoro tidak menggunakan istilah-istilah Belanda. Pangkat militer tertinggi disebut Alibasah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan komandan divisi model Janissari. Pangkat selanjutnya adalah Dulah, yaitu komandan pasukan yang membawahi 400 orang prajurit, setara dengan detasemen. Pangkat perwira terendah, She¸adalah perwira yang membawahi pasukan setara dengan kompi. Istilah-istilah tersebut diadopsi dari istilah-istilah militer Kesultanan Turki Ottoman. (Djamhari 2014 : 38)

Zaman awal kebangkitan bangsa pun menghadirkan tokoh-tokoh Islam dengan pergerakannya yang layak diperhitungkan. Bahkan penulis percaya bahwa penggagas kebangkitan bangsa adalah Sarikat Islam bukan Budi Oetomo. Hal ini digambarkan oleh Suryanegara (2009 : 376) sebagai berikut :

…tidak mungkin kebangkitan kesadaran nasional dipelopori oleh para prijaji yang sedang menjabat sebagai regent atau boepati dengan organisasinya Boedi Oetomo, seperti yang telah penulis tuturkan sebelumnya karena ciri dari organisasi gerakan kebangkitan kesadaran nasional, bersifat kerakyatan dan antipenjajah. Sedangkan kelompok prijaji, terutama yang menjabat boepati atau pangreh pradja yang bersikap loyal kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah. Terbaca dari keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta pada 6-9 April 1928, “Menolak pelaksanaan tjita-tjita persatoean Indonesia”, walaupun sudah berusia 20 tahun, Boedi Oetomo tetap bersikap ekslusif.

Sarikat Islam dibawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan organisasi pribumi yang tidak bisa dianggap remeh. National Congres Centraal Sjarikat Islam yang pertama (17-24 Juni 1916) diadakan di Gedung Merdeka, Bandung, dengan berani memelopori tuntutan Indonesia Merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri atau Zelf Bestuur. Selain itu kongres pertama ini juga menuntut kepada pemerintah Belanda agar rakyat diizinkan membangun Indie Werbaar (Pertahanan India atau Pertahanan Indonesia), guna memperkuat pertahanan apabila Perang Dunia I (1914-1919), meletus ke Nusantara Indonesia, yaitu dengan cara menyertakan pemuda Indonesia dalam milisi militer Pertahanan Indonesia. Walaupun tuntutan-tuntutan itu tidak sepenuhnya dikabulkan oleh Kerajaan Belanda, namun kita bisa menilai bawah umat Islam pada saat itu dengan organisasi Islam bernama Sarikat Islam memiliki posisi tawar yang kuat, mengingat jumlah anggota yang banyak dan diantara mereka memegang kendali ekonomi di daerahnya masing-masing.

Dari petikan-petikan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kebudayaan islam (bahasa tulis mapun lisan serta simbol-simbol) pada waktu itu tidak diangap asing oleh rakyat di kepulauan Nusantara, bahkan telah menginspirasi beberapa kerajaan untuk mendirikan Daulah Islam dengan hukum positif  Islam sebagai pedoman kehidupan bernegara. Kedua, para Ulama memiliki andil yang besar dalam menanamkan ajaran agama Islam dan cinta tanah air bagi rakyat nusantara, ini dapat dibuktikan bahwa pertempuran-pertempuran pada masa penjajahan bermotif jihad membela agama Allah. Ketiga, pakaian dan penyebutan jabatan militer yang mengikuti Kesultanan  Turki menandakan bahwa Pangeran Dipenogoro ingin merdeka dari hegemoni Belanda hingga ketingkat terkecil yakni bahasa – coba bandingkan dengan era globalisasi saat ini. Keempat, ada distorsi sejarah mengenai penggagas kebangkitan bangsa yang berdampak kepada psikologis umat Islam yang membaca sejarah kebangkitan bangsanya sendiri. Seolah-olah Islam tidak memiliki peranan yang  besar, padahal sebaliknya, sejak zaman kesultanan hingga kemerdekaan, Islam adalah satu-satunya agama yang mempererat suku bangsa se-nusantara dalam melawan penjajah. Kelima, melihat  fakta bahwa Kerajaan Aceh hanya dijajah selama 31 tahun, mematahkan bahwa Indonesia secara keseluruhan dijajah selama 350 tahun, memberikan rasa bangga bagi umat Islam hari ini, bahwa karena semangat Islamlah Aceh menjadi benteng terakhir melawan penjajah Belanda di tanah melayu.

Setelah menyimak serpihan kecil sejarah Islam di Indonesia ini, masihkah kita menganggap Islam sebagai agama asing bahkan meng-alienasi agama ini dari pemeluknya sendiri?

Pendidikan Agama Berbasis Sejarah Islam Nusantara

Pendidikan memiliki peran vital dalam mencetak karakter bangsa. Melalui pendidikan, interaksi antara guru, literatur dan murid akan menghasilkan pemahaman yang baik akan jati diri dan bagaimana menghadapi dunia yang semakin tidak menentu. Karakter pengacau dan anarkis seharusnya tidak ada bagi insan pendidikan karena tujuan akhir pendidikan adalah menajamkan pikiran dan menghaluskan budi.

Pendidikan agama Islam adalah salah satu unsur pendidikan di Indonesia. Namun, pendidikan agama dari sekolah dasar hingga menengah selalu menjadikan fiqih (hukum) sebagai pokok bahasan utama. Peserta didik diajarkan hukum-hukum dengan segala perbedaannya. Hal ini memang baik. Namun, bagi peserta didik yang belum terbiasa dengan perbedaan dan belum memiliki mental yang dewasa, perbedaan ini akan menjadi awal mula percikan konflik antar umat se-agama dan dikhawatirkan memuncak menjadi konflik antar umat beda agama.

Satu hal yang dilupakan, aspek sejarah nusantara dalam pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam sering kali menjelaskan tokoh-tokoh timur tengah secara detil dan heroik. Padahal negeri kita tidak kekurangan tokoh-tokoh Islam yang tidak kalah heroiknya. Mengapa harus sejarah Islam Nusantara? Seperti yang kita ketahui, Islam menyebar secara masif di Indonesia secara damai. Wali Sanga (sembilan penyebar Islam di tanah Jawa) memiliki pendekatan moderat dalam menyebarkan cahaya Islam di tengah-tengah hegemoni Hindu-Budha. Beberapa wali menggunakan pendekatan budaya seperti penggunaan cerita wayang yang memodifikasi kisah Mahabrata dengan ajaran Islam dan pendekatan ekonomi Islam yang menonjolkan prinsip keadilan dan kejujuran.

Islam model inilah yang sangat berbeda dengan model Islam timur tengah. Islam model ini dapat  merangkul ideologi nasionalisme dan sosialisme sekaligus, karena sejak dulu memang memiliki tujuan yang sama yakni menuju Indonesia merdeka. Selain itu, sejarah Islam Nusantara harus disajikan seobjektif mungkin, agar semua menjadi jelas, bahwa Islam sejak zaman kesultanan hingga pergerakan kemerdekaan selalu mendapat tempat di hati masyarakat  bukan malah jauh dan dijauhkan dari masyarakat seperti sekarang ini. Bahkan pendiri bangsa kita, yang dapat merangkul semua –isme di negeri ini, Soekarno, semasa dalam tahanan Belanda pernah tercerahkan oleh Islam, seperti yang beliau tuturkan  sebagai berikut (Adams 2011 : 136) :

Kemudian aku membaca Al-Quran. Dan hanya setelah menyerap pemikiran-pemikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mencari-cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan-ucapan Nabi. Dan aku sangat puas.

Dari perkataan beliau –dimana cahaya Islam telah merasuk kedalam pikirannya- kita tahu bahwa perjuangan beliau di negeri ini tidak hanya berdasarkan nasionalisme sempit belaka, tidak juga sosialisme model Karl Marx namun menjadikan Islam sebagai ideologi universal dan menjadikannya rumah bersama bagi semua golongan di Indonesia dan beliau berhasil mereproduksinya menjadi butir-butir Pancasila yang luhur itu.

Harapan dari pendidikan agama Islam berbasis sejarah Islam Nusantara –dari zaman kesultanan hingga kebangkitan bangsa- adalah, kelak, pemuda-pemudi negeri ini akan paham bahwa Islam adalah jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia. Memahami bahwa Islam adalah cikal bakal kebangsaan dan kemerdekaan sehingga tidak adalagi yang mempertentangkan antara Islamisme dan Nasionalisme, bahkan kecintaan terhadap Islam akan berbanding lurus dengan kecintaan terhadap tanah air. Sadar bahwa Sosialisme bukanlah ide yang pertama kali diusung oleh Karl Marx, melainkan ide orisinil Islam dengan sistem ekonomi berkeadilan dan sistem sosial yang egaliter. Insyaf  bahwa kebudayaan Islam adalah sebuah keluhuran yang membuka peluang bagi perubahan, bukan konservatisme yang berlawanan dengan semangat zaman.

Kesimpulan

Islam kini mendapatkan tantangan, baik dari kebijakan pemerintah hingga media massa yang makin memperburuk citra Islam di Indonesia. Akibatnya, Islam sering dikaitkan dengan isu terorisme. Gejala islamophobia terjadi, simbol-simbol dan kegiatan islam dicurigai, pemuda-pemudi Islam di negeri mayoritas muslim ini semakin jauh dari agamanya.

Pendidikan agama Islam dengan pendekatan sejarah Islam nusantara dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan kembali Islam dengan generasi muda masa kini. Dengan pendekatan  ini, diharapkan Islam dipandang sebagai jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia asli, dan tercipta pemahaman bahwa ada irisan toleransi antara ide nasionalisme dan islamisme yang pada akhirnya semangat Islamisme akan memperkuat semangat kebangsaan dan cita tanah air dalam dunia yang semakin tanpa batas ini.

Ferry Fadillah, Mei 2015

Referensi

Adams, Cindy. 1965. Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams. The Bobbs Merrill Company Inc. New York. Terjemahan Syamsu Hadi. 2011. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cetakan Kedua. Yayasan Bung Karno dan PT Media Pressindo. Jakarta.

Suryanegara, A. Mansur. 2012. Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cetakan Kelima. PT Grafindo Media Pratama. Bandung.

Djamhari, S. As’ad. 2014. Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stelsel Benteng 1827-1830. Cetakan Kedua. Komunitas Bambu. 2014.

Carey, Peter. 2014. Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro, 1785-1855. Cetakan Pertama. Kompas. 2014.

, , , ,

Leave a comment

Dipenogoro

Musuh sengaja mengatur siasat

Untuk menangkap Dipenogoro secara khianat.

Demikianlah berita di tengah rakyat Magelang

Ketika ia di dalam masjid asyik sembahyang.

(Dipenogoro oleh Sitor Situmorang)

***

Pria berperawakan sedang berjubah putih dengan surban besar di atas kepala itu bukan ekstrimist garis keras yang ditakuti dunia kini. Dia putra raja, memilih bersama rakyat, melakukan revolusi, namun, miris, sejarah kelak menulisnya semata melawan karena patok di tanah leluhur belaka.

Rade Mas Antarwirya, begitulah pangeran kecil dipanggil, putra sulung Hamengkubuwono III, Raja Jawa di Yogyakarta1. Seperti Gautama, dia memilih meninggalkan gemerlap dunia istana. Menyendiri dari gua ke gua, belajar agama dari kiai ke kiai. Kebahagian baginya ialah berkumpul dengan santri miskin  dan mendengar penderitaan rakyat.

Dia tanggalkan pakaian Jawa. Menggantinya dengan pakaian Rasul serba putih. Baginya masyarakat jawa adalah masyarakat jahiliyah pra-islam. Seperti tugas rasul saat itu : menyempurnakan akhlak dan menata masyarakat Jawa menjadi Islami adalah tujuan utama.

Alkisah, Belanda semakin kurang ajar. Keraton sudah kehilangan wibawa. Pejabat Jawa lupa akan jati diri. Hedonisme dan pesta pora menjadi Tuhan baru. Tidak tanggung-tanggung, rakyat dibebani pajak-pajak yang tidak masuk akal. Bagi pejabat Jawa di keraton, menyenangkan hati kafir belanda adalah lebih penting dari nyawa rakyatnya sendiri.

Amarah memasuki jiwa Dipenogoro. Dia kumpulkan rakyat yang akan berjuang bersamanya. Para pejabat keraton yang memihak rakyat, dan petarung-petarung tangguh seantero  Jawa. Bagi Dipenogoro, haram baginya meniru-niru kafir belanda. Dia tiru model organisasi Jannisari dari Turki Ustamani sana. Pangkat militer tertinggi digelari Alibasah, membawahi pasukan infanteri dan kavaleri.

Rakyat dari desa ke desa semakin banyak mendukung perjuangan Dipenogoro. Bagi mereka ini bukan perjuangan menuntut keadilan, sandang, pangan belaka, namun perang sabil di jalan yang suci.

Kejam. Belanda tidak mau ambil pusing. Mereka bakar setiap desa yang mendukung Sang Pangeran. Ternak dan beras dijarah, penduduk tidak bedosa dibunuh. Namun, rakyat tidak pernah kehilangan nyali.

Sebagian besar wilayah kerajaan berhasil diduduki. Sayang, beberapa pasukan membelot. Lelah dengan perang bertahun-tahun, tergiur akan harta dan tahta. Namun, Dipenogoro tidak gentar. Pabrik-pabrik mesiu dibangun, perang gerilya terus dilancarkan. Benteng-benteng Belanda kewalahan menghadapi perlawanan mujahid. Mereka takjub : pasukan Dipenogoro bisa bertahan dengan logistik seadanya.

Perang terus menelan korban. Belanda semakin beringas, pasukan mujahid Dipenogoro tidak mau menyerah. Baginya, ini perang suci, nyawa hanya titipan Tuhan. Jika perang ini berhasil, sistem kerajaan Jawa akan dihapuskannya. Diganti dengan Kekhalifahan di Tanah Jawa. Dengan harap berkah dan makmur meliputi negeri  yang subur permai.

Bagi rakyat, perang menimbulkan penderitaan lahir batin. Bagi belanda, perang ini memakan biaya yang tidak sedikit. Genjatan senjata dimulai. Gegap gempita seantero negeri Jawa. Rakyat bisa kembali istirahat dengan tenang.

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Bukan Belanda jika tidak licik. Dipenogoro diajak berunding, namun pasukan pribadinya dilucuti. Dipenogoro ditahan semena-mena. Babad berkisah 2:

Bab ing aprang kabeh sun kang luput yekti (mengenai perang, semua itu saya yang bersalah)

Kabeh apan darma (semua itu darma)

Anglakoni prentah mami (melaksanakan perintah saya)

Prang iki satanah jawa (perang di seluruh tanah Jawa)

Itulah keluhuran budinya, tidak ingin rakyat Jawa di bantai Belanda, maka semua kesalahan perang disematkan kepadanya

Kini, Dipenogoro dikenal sebagai pahlawan nasional. Pelajar se-Indonesia hapal betul tanggal lahir dan kapan terjadinya perang itu. Sayang, Negeri Islam yang dulu dicita-citakannya kini dicibir, oleh bangsanya sendiri.

Ferry Fadillah, 25 Januari 2014

Catatan :

  1. id.wikipedia.org
  2. Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stesel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu, Depok, 2014, hal. 180

, , , ,

Leave a comment

Menjawab “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN”

Agama adalah candu. Begitu keyakinan kaum materialis-komunistis ketika melihat kenyataan bahwa agama telah menjadi alat pembenaran bagi penguasa negara theokrasi memeras habis kapital rakyatnya. Namun, pendapat itu tidak selamanya benar. Bagi sebagian orang, agama adalah obat. Oase di tengah padang pasir keserakahan manusia yang menjadikan benda sebagai landasan berpikir. Cahaya bagi kegelapan peradaban yang menjadikan pikiran manusia yang terbatas sebagai acuan kebenaran.

Dalam perjalanannya, agama selalu berdampingan dengan politik. Agama dan Politik seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pemilihan Umum Presiden 2014 tanggal 9 Juli lalu pun diwarnai isu-isu seputar agama. Antara Islam dan non-Islam. Antara Islam dan sekularis. Ternyata, geliat politik di perhelatan besar lima tahunan ini bergulir ke sebuah kampus bagi para abdi Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Dalam pemilihan presiden mahasiswa tahun ini, warga STAN dihadapi oleh dua pilihan. Fandy, mahasiswa D-IV, semester 7, beragama Islam dan Gilang, mahasiswa D-IV, semester 9, beragama Katolik.

Merujuk tulisan Meidiawan Cesaria Syah berjudul “Surat Tebuka Kepada Mahasiswa STAN”, saya dapat membayangkan bahwa pertunjukan politik di sekolah kedinasan populer itu pun tidak sarat dari isu-isu agama. Di dalam tulisan beliau, isu yang menjadi pokok tulisan adalah sebuah pernyataan : bahwa sudah seharusnya muslim memilih kawan muslimnya, jangan yang non-muslim.

Apakah benar ini hanyalah sekedar isu dari sekelompok orang yang sudah tidak dapat berargumen untuk mencitrakan pemimpin pilihannya?

Sebelumnya, saya jabarkan dulu secara singkat tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memandang agamanya dan mengkaitkannya dengan segala aspek kehidupan. Asy-Syahid Hasan Al-Bana pernah berkata mengenai agama ini, “Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, atau ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, atau kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.” Hasan Al-Bana menggambarkan wajah islam yang universal dan totalitas. Tidak mendikotomi permasalahan apapun di dunia ini dengan Islam. Bahwa, Islam tidak hanya mengurusi hal-hal berbau ritual belaka. Namun, Islam pun mengurusi hal besar yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak : politik.

Keyakinan Islam seperti di atas, hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki derajat iman. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya puncak kebenaran, acuan perkataan dan perbuatan. Bukankah Islam dalam bahasa arab bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Alah? Sehingga, adalah sebuah perkara yang jelas jika seorang muslim menjadikan kitabnya (Al-Quran) sebagai acuan kebenaran.

Pertanyaan bergulir menjadi, “Apakah kehendak Allah dalam menentukan pemimpin umat?”

Saya kutip dasar hukum yang nyata, yang berasal dari Tuhan yang saya dan anda yakini keberadaannya :

Hai, orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah untuk menghukummu? (An-Nisa :144)

Meidiawan Cesaria, saya bertanya kepada nurani anda sebagai seorang muslim, apakah ayat ini hanyalah sebagai isu belaka yang dapat diacuhkan atas nama negara demokrasi? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan dalam memilih pemimpin masuk kedalam kategori pemilih sosiologis, yang anda tempatkan dibawah posisi pemilih rasional dan pemilih psikologis? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan adalah orang-orang yang tidak rasional? Saya, tidak satu pendapat dengan anda.

Kalau memang demokrasi membebaskan kita untuk berpendapat dan berkeyakinan, maka inilah pendapat dan keyakinan seorang muslim yang benar, yang tidak dapat dikacaukan dengan pemahaman apapun juga. Bahwa ini adalah pemahaman paling rasional bagi mereka yang tergerak hatinya ketika dipanggil oleh Tuhan sebagai “orang-orang yang beriman”.

Atas nama keberagaman bukan berarti setiap pemeluk beragama harus mengilangkan truth claim agama yang mereka miliki. Karena truth claim itulah yang membedakan satu agama dengan agama lainnya. Bayangkan semua orang menganggap tidak perlu lagi memegang truth claim dalam agamanya, maka untuk apa lagi ada agama di dunia ini?

Akhir kata, saya mengajak semua mahasiswa STAN yang bergama Islam, yang menyatakan diri loyal kepada Allah dan berlepas diri selainnya agar menjadikan kitabullah sebagai satu-satunya acuan dalam memilih pemimpin. Jangan pernah goyah oleh pendapat-pendapat mereka yang menjadikan demokrasi sebagai illah-illah pengganti Allah. Sungguh, Allah akan memenangkan kita jika berada di jalan yang lurus. Ingatlah cita-cita founding father kita sebelum mendapat protes dari tokoh agama dari Indonesia timur : ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Bali, 13 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , , , ,

1 Comment