Archive for June, 2011

Cita-Cita dan Kebebasan

Ilustrasi : pantai suluban, bali. (doc. pribadi)

Ia terduduk di atas karang, dihadapannya ada lautan yang bergitu luas, dengan ombak yang begitu besar, seolah-olah ingin menggaruk pinggiran daratan yang terdiri dari karang-karang yang keras. Langit begitu gelap, hujan turun rintik seolah menangisi bumi yang kian hari semakin rusak oleh perbuatan manusia.

“ah malang sekali hidup ku, memandang luasnya alam semesta tetapi tidak lebih dari katak dalam tempurung”, ia menghela nafas panjang, lalu menunduk dalam, menangis ia dalam batin tapi air matanya sudah surut tidak pernah bisa keluar lagi.

Cita-cita nya besar, dahulu. Tapi kemudian ia menggandaikannya karena iming-iming stabilitas ekonomi, padahal kini ia tidak lebih dari seekor sapi perah yang diperas para pemangku kepentingan. Ia dituakan oleh keadaannya sekarang, padahal ia masih muda, sangat muda bahkan untuk ukuran para pekerja zaman sekarang.

“aku ingin sekali bebas melanglang buana ke seberang lautan itu, menemui banyak orang, banyak budaya dan belajar banyak darinya, tapi kenapa harta, waktu, dan orang-orang sekitar ku seolah mengutuku atas perbuatan yang bukan dosa itu”.

“Hey ! Sudahlah, untuk apa kau  menggerutu seperti itu sendirian di sini ?”

 “Apa? Siapa kau ? mengapa kau tiba-tiba di sini, aku sedang ingin sendiri !”

 “Bodoh ! Aku ini kamu, aku ini kamu, aku dan kamu adalah sama, aku!

”Diam kau dengan segala teori-teori filsafat bodohmu itu, aku pusing dibuatmu!”

”kamu memang bodoh, sudah lama hatimu beku kawan !”

Tiba-tiba, ia merasa ada kehangatan yang berdesir di balik hatinya. Benar, sudah lama ia tidak merasakan hangatnya memaknai kehidupan ini dengan cinta, persahabatan dan petualangan. Bukan karena ia juga sebenarnya tapi karena rutinitas hariannya lah yang membuatnya seperti itu. Kaku dan membeku.

“kalau begitu siapa kau sebenarnya ?”

 “Aku adalah kamu, aku adalah cita-citamu yang terkubur dahulu sekali, tapi kini aku bangkit karena ada sinyal bahwa kau masih membutuhkan aku lagi kawan”

”ya memang aku sangat berharap cita-cita ku dahulu tercapai, itu dulu kawan, sekarang semua telah berubah”

”Apa yang berubah ? kau tetap engkau, tidak berubah, ayolah kau pikirkan baik-baik, hidup ini hanya sekali, apa kau mau hidup yang sekali ini kau habiskan dengan rutinitas yang biasa saja, apa bedanya kamu dengan mereka-mereka itu !”

Denyut jantungnya semakin kencang, ia ingin sekali keluar dari pekerjaannya tapi ia takut mereka yang ia kenal mengutuknya habis-habisan. Kepala nya pusing, ia berdiri lalu berjalan lunglai menuju ombak yang mengganas.

“ah, beri aku waktu cita-cita ku, aku butuh waktu untuk berpikir!”

Belum selesai ia mengambil keputusan, angin kencang bertiup menampar tubuhnya, ia tidak bergeming, tapi lautan yang diterpanya mengirimkan ombak besar yang menggulung-gulung. Ia tidak kuasa menahannya, tubunya terhembas  ke karang yang tajam, lalu terseret ke lautan dalam. Ia meronta kesakitan, semua yang ia lewati ia coba raih, tapi sia-sia, semua berlalu begitu cepat.”Ah apa dosa ku Tuhan, aku belum siap untuk sebuah kematian”

***

Langit kembali cerah, secerah harapan para pemuda yang ingin membahagiakan orang tuanya. Tiba-tiba saja pesisir pantai yang tadinya tenang dikejutkan oleh sebuah penemuan. Mayat lelaki yang terbujur kaku. Semua orang mengerubunginya seperti semut, ada yang bersedih ada pula yang acuh tak acuh. Tapi yang jelas, ada mimik damai dalam wajah sang mayat, senyum tersungging di wajahnya, ia seakan tertidur dalam pelukan Tuhan. Karena semua tahu, kini ia telah terbebas dari jerat dunia yang begitu menyiksa.

Badung, 27 Juni 2011

,

Leave a comment

Tugu Kematian

"bukankah mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan dunia ini, lalu ketika itu mereka yang mencari kebahagiaan dari dunia akan mencari kebahagiaan dari mana lagi ?”

Waktu itu langit begitu cerah, secerah wajah orang-orang yang berfoto ria di depan tugu itu. Semua seolah melupakan kejadian beberapa waktu silam. Sebuah kejadian yang jika direnungkan bisa saja terjadi kepada siapapun dan dimanapun di dunia ini.

***

“Kau tahu tugu apa itu ?”

“entahlah, tapi kenapa ada deretan nama-nama di sana, dan kenapa ada karangan bunga di sana, seolah ada pertanda akhir dari mereka yang terpampang namanya di sana”

“tepatnya itu adalah tugu kematian”

“wah! Lantas mengapa mereka yang berziarah begitu sumringah berfoto-foto disana. Apa mungkin mereka sudah merasa tidak takut lagi ketika jiwa harus meninggalkan raganya?”

“Entahlah, aku tidak tahu, karena hati hanya yang memiliknya dan Tuhannya lah yang tahu”

“Aku mendapat kabar, katanya sekitar sini adalah tempat dugem yang begitu terkenal oleh wisatawan asing di malam hari. Ratusan orang tumpah dalam naungan musik R & B, lantas botol minuman keras selalu mereka pegang dan tenggak di manapun, tidak jarang ada tempat yang sengaja memajang wanita sexy untuk memikat para tamunya, dan sialnya mereka berdalih untuk mencari kebahagiaan hidup !”

“Kebahagiaan hidup ? ah, apa mesti kebahagiaan hidup itu dicari dari dunia, bukankah mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan dunia ini, lalu ketika itu mereka yang mencari kebahagiaan dari dunia akan mencari kebahagiaan dari mana lagi ?”

“Entah lah, kawan. Tapi yang jelas sebenarnya Tuhan telah memperingatkan mereka melalui tugu yang tadi kau sebut itu. Itu tugu kematian kawan-kawan mereka yang menjadi korban bom. Pada saat itu orang tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Andai kita semua bayangkan, apa mungkin terbangun sebuah tugu lagi untuk sebuah kematian yang lebih luas ?”

“Maksudmu?”

“Aku tidak berbicara mengenai bom terorisme dan tetek bengeknya tapi aku berbicara mengenai Kuasa Tuhan ku. Bukankah begitu mudah bagi Tuhan untuk menaikan ombak di pantai lalu menghantam mereka yang sedang mencari kesenangan dunia tanpa persiapan apapun, bukankah mudah bagi Tuhan untuk menggoncangkan bumi ini dan meluluh lantahkan semua yang berdiri di atasnya, lantas ketika semua itu selesai, kita akan dikenang menjadi tugu kematian, yang sebenarnya menjadi sarana bagi manusia untuk mengingat-ngingat bahwa kematian itu pasti akan datang”

“Dan pada saat itu, kita akan bertemu Tuhan kita, mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan”

“tepat sekali kawanku”

“lalu dengan adanya tugu kematian bencana itu, apa manusia setelah kita akan ingat tentang hari perjumpaan dengan Nya”

“Bisa jadi iya, bisa jadi mereka seperti kita yang saat ini, masih bisa tersenyum dan berfoto ria di atas tugu-tugu kematian kawan-kawan sebelum kita”

“Ah celaka sekali manusia !”

“Itulah kita”

Keduanya nya pun meninggalkan tugu kematian tersebut. Tiba-tiba langit mendung. Hujan gerimis turun dari langit. Semua orang lari dari tempat terbuka, tergesa mencari tempat berteduh. Tapi apakah mereka bisa lari dari kematian ?

Badung, 22 Juni 2011

, ,

2 Comments

Uang

“Ah, lagi-lagi kau terima uang itu, kau tahu darimana asalnya uang itu ?”

“Ini rezeki dari Tuhan-ku, melalui tangan yang memberinya”

“Polos sekali dirimu, salah-salah kita yang kecil ini bisa kena masalah, sudah banyak kisah para wong cilik menjadi korban kambing hitam lingkaran setan kejahatan sistematis”

“Ah, kau itu terlalu banyak membaca kasus-kasus korupsi dan sebagainya, semua itu hanya membuat otak pusing tau..”

“ya tapi kita harus tahu benar asal-usul dari yang kita terima !”

“begini saja, bung. Apa anda berani ketika diberi uang anda tanyakan dari mana asal uang itu”

“bodoh! Itu menyinggung perasaan yang memberi, bung!”

“kalau begitu kenapa aku harus melakukan sesuatu yang kau anggap itu bodoh”

“Lantas bagaimana ?”

“sudahlah bung. Kau terima saja uang itu, dan berdoa kepada Tuhan semoga kita dijauhkan dari segala fitnah dunia dan haramnya harta yang terkandung daripadanya”

“ya tapi…”

Perbincangan mereka tiba-tiba berhenti. Tanpa kata-kata, mereka tersenyum dan mengangguk satu sama lain. Perlahan mereka melangkah ke pintu keluar, ke sana dikegelapan jalan di kota yang suram.

 20 Juni 2011

1 Comment

The Hidden Paradise : Bali Cliff Beach

“Tangga Turun Menuju Bali Cliff Beach”

Beberapa waktu yang lalu, bali dikejutkan oleh sebuah tulisan yang dengan terang-terangan mengkritik habis beberapa permasalahan pariwisata di Pulau yang dijuluki Pulau Dewata tersebut. Tulisan tersebut tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Andrew Marshall pada majalah TIME dengan judul Holidays in Hell : Bali Ongoing Woes. Beragam tanggapan mulai beredar di dunia maya berkenaan dengan tulisannya, mulai dari yang tidak setuju sampai dengan meng-iya-kan dan menjadikannya sebagai bahan instropeksi pariwisata bali kedepannya.

Memang apa yang penulis deskripsikan ada benarnya, tapi yang dia sorot adalah bali pada sebagian tempat, sehingga tidak lah tepat jika yang sebagian itu digeneralisir sebagai kondisi bali pada umumnya. Faktanya, pulau ini (Bali) masih memiliki tempat-tempat indah dan eksotis dari ujung utara sampai selatan dan ujung barat sampai timur.

Salah satunya adalah Pantai Bali Cliff atau lebih enak disebut Bali Cliff Beach. Mungkin bagi sebagian orang nama tempat ini begitu asing. Dan beruntungnya, dengan ‘keterasingan’ tempat ini, Bali Cliff Beach dapat diumpamakan sebagai The Hidden Paradise in Bali.

Tidak seperti di Kuta. Di sini hanya ada dua pedagang yang berjualan di pintu masuk, tidak di pantai. Yang satu berjualan air minum dekat tangga turun, dan yang satunya berjualan makanan dekat dengan parkiran motor atau mobil. Sehingga bisa saya jamin ditempat ini pengunjung tidak akan melihat tumpukan sampah yang tidak terurus dan menimbulkan bau tidak sedap.

Jalan menuju pantainya sangat berkesan. Ratusan anak tangga dengan pohon perindang dikiri dan kanan jalan menciptakan suasana yang teduh dan damai. Dari ketinggian anak tangga, kita bisa melihat lautan yang terbentang luas dengan hijau dan birunya laut yang begitu menawan (segala puji bagi Allah yang telah menciptakan Alam yang begitu indah). Buih-buih air laut yang berhamburan di udara karena terbawa oleh angin setelah ombak menabrak tebing membuat keadaan di anak tangga menjadi segar, tidak gersang. Coba anda pejamkan mata lalu hirup  udara dalam-dalam, deru ombak dan harumnya air laut seolah membuat hati ini melayang dan bersatu dengan alam semesta. Sebuah terapi jiwa yang tidak dapat anda temukan di perkotaan.

Jika anda telah selesai menuruni anak tangga, maka anda akan dibuat kagum oleh hamparan pasir putih yang empuk dan bersih. Tapi anda mesti hati-hati jika berniat berenang di siang hari, karena kondisi ombaknya belum bersahabat. Oleh karena itu ada baiknya berkunjung pada sore hari, sehingga anda dapat menikmati segarnya air laut tanpa kerepotan terpontang-panting oleh ombak lautan.

Yang terakhir dan terpenting, Bali Cliff Beach cukup mudah diakses dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dari pintu keluar terus saja sampai lampu merah By Pass I Gusti Ngurah Rai, belok kanan ke arah jimbaran, sampai ketemu pertigaan yang ada KFC-nya belok kanan ke arah Universitas Udayana, ikuti terus petunjuk jalan sampai ke GWK, setelah GWK ada perempatan dengan ciri khas minimarket lokal Nirmala(?) di sebelah kanan, ambil jalan ke kiri (daerah ungasan, Jl. Bali Cliff) dan ikuti terus jalan sampai ada pohon besar, belok kiri dan ikuti terus jalan sampai ada penunjuk ke arah Pura. Insya Allah sampai. Untuk harga tiket masuk hanya seribu rupiah alias bayar parkir saja. Murah Bukan ? Bagi anda yang sedang berlibur ke bali silahkan berkunjung ke sana dan ingat jangan sekali-kali buang sampah sembarangan.

Wilujeng Jalan-Jalan. Wassalam..

Leave a comment