Archive for June, 2016

Refleksi Masa Kecil Melalui Kisah Le Petit Prince (1943)

“But tell me, my brothers, what the child can do, which even the lion

could not do? Why must the predatory lion still become a child?

Innocence is the child, and forgeting, a new beginning, a game, a selfpropelling

wheel, a first movement, a sacred Yes”

Friedrich Nitzche

 

Setiap orang dewasa di dunia ini pasti pernah mengalami menjadi seorang anak. Momen dimana diri begitu polos, lugu, dan bersih. Segala sesuatu sangat rentan dan tergantung oleh ulur tangan manusia. Meminjam istilah Sigmund Freud, anak-anak  memiliki dorongan Id begitu besar sehingga setiap benda dan momen dianggap sebagai kesenangan semata.

Jika kita lupa telah menjadi seorang anak karena kepelikan hidup, ada baiknya mengamati anak-anak disekitar lapangan atau sekolah dasar. Lihat! Mereka bermain dengan riang tanpa ada kekhawatiran di wajah. Mereka, terutama yang balita, berkawan dengan siapa saja; melihat lawan jenis terkadang langsung menciumnya tanpa permisi; melihat yang sejenis langsung mereka bersapaan dan menjadi teman. Di dunia dewasa tidak ada lagi hal itu. Wajah-wajah manusia dewasa selalu diliputi kekhawatiran. Entah itu cicilan rumah, uang muka gedung pernikahan, kontrakan atau kemacetan yang membunuh waktu. Di dalam bercinta dan berteman pun manusia jarang menjadi tulus. Mereka memikirkan prestise dibandingkan isi, permukaan dibandingkan kedalaman. Maka betebaranlah munafik-munafik di dunia orang dewasa.

Antoine de Saint-Exupéry melalui dongeng sederhananya berjudul “Le Petit Prince” kiranya bisa mengembalikan ingatan masa kecil orang-orang dewasa. Buku tipis dengan kalimat dan ilustrasi yang sederhana ini bisa dibilang kritik halus terhadap dunia orang dewasa. Dalam pembukanya Exupéry menekankan bahwa sasaran buku ini adakah anak-anak yang kemudian menjadi dewasa karena orang dewasa memahami segalanya termasuk buku untuk anak-anak.

Kisah dalam buku ini menggunakan kata ganti orang pertama. Seperti memoar; sebuah pengalaman pribadi penulis yang diberi bumbu fiksi. Pembukaan buku ini menarik karena menggambarkan keegoisan orang dewasa yang selalu menganggap bodoh imajinasi seorang anak berusia enam tahun:

Gambarku tidak melukiskan topi, tetapi ular sanca yang sedang mencernakan gajah. Maka aku menggambar bagian dalam ular sanca itu, supaya orang dewasa dapat mengerti. Mereka selalu membutuhkan penjelasan. Gambarku nomor dua seperti ini:

elephant.png

Orang dewasa memberi aku nasihat agar aku mengesampingkan gambar ular sanca terbuka atau tertutup, dan lebih banyak memperhatikan ilmu bumi, sejarah ilmu hitung dan tata bahasa. Demikianlah pada umur enam tahun aku meninggalkan sebuah karir cemerlang sebagai pelukis

Bukankah paragraf di atas sangat dimaksudkan menyindir kita sebagai orang dewasa –terutama yang sudah memiliki anak. Sering anak-anak bermain di tanah lapang berkubang di dalam lumpur dan orang tua melarangnya. Atau bermain dengan pensil warna mencoret tembok dan orang tua membetaknya. Atau bermain dengan anak tetangga yang karena terlihat kumal orang tua melarangnya. Orang tua komtemporer lebih memilih anaknya bermain gadget di rumah dan bisa mengawasinya sepanjang waktu. Padahal larangan-larangan itu hanya akan menghambat pencarian bakat anak-anak. Maka terjadilah yang harus terjadi: para remaja lulusan SMA yang gamang akan melanjutkan kuliah di jurusan apa.

Selanjutnya, tokoh “Aku” menceritakan pengalamannya terdampar di Gurun Sahara yang sunyi dan bertemu dengan sosok Pangeran Kecil. Kekaguman tokoh utama bertambah karena Pangeran Kecil memahami apa yang dia gambar dan selalu mempertanyakan hal-hal aneh. Baru kemudian ia sadar  bahwa Pangeran Kecil bukan berasal dari bumi. Bagian menarik dari pertemuan ini adalah percakapan mengenai kepercayaan:

Aku menceritakan semua detail mengenai Asteroid B 612 (tempat Pangeran Kecil tinggal) ini sampai menyebut nomornya, gara-gara orang-orang dewasa. Orang dewasa menyukai angka-angka…

Maka jika kalian berkata pada mereka, “Buktinya Pangeran Kecil itu ada, ialah ia sangat rupawan, ia tertawa dan ia menginginkan seekor domba. Bila seseorang menghendaki domba , itu buktinya ia ada”,  mereka akan mengangkat bahu dan mengatakan kalian hanya anak-anak. Tapi jika kalian berkata, “Planet asalnya adalah Asteroid B 612”,  baru mereka akan merasa yakin dan tidak akan melelahkan kalian dengan pertanyaan lain.

Mungkin tokoh aku salah, zaman sekarang orang dewasa tidak cukup dengan angka-angka untuk percaya, mereka pasti menanyakan gambar, video atau bukti-bukti lain yang menguatkan keyakinan. Paragraf di atas mirip dengan perdebatan antara Plato yang idealis dan Aristoteles yang materialis. Penulis mungkin berusaha untuk menyerang materialisme yang menjadi kiblat zaman itu. Kepercayaan tidak harus dimulai dari keberadaan benda-benda yang dapat dicerap oleh indra, cukup dengan adanya kehendak maka sesuatu itu ada. Hal ini diperkuat oleh percakapan Pangeran Kecil dengan Sang Rubah saat ia telah menjinakannya dan bermaksud untuk meninggalkannya:

“Selamat jalan,” kata rubah. “Inilah rahasiaku. Sangat sederhana: hanya dengan hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.”

Kritik selanjutnya tergambar dalam perjalanan Pangeran Kecil ketika meninggalkan planetnya dan mengitari planet-planet di sekitarnya. Planet pertama dihuni oleh seorang Raja yang merasa memiliki keuasaan tanpa ada seorang rakyat yang dapat diperintahnya. Planet kedua ia bertemu dengan seorang sombong yang sangat senang dikagumi ketampanan dan kekakayaannya. Planet ketiga dihuni seorang pemabuk yang memiliki alasan tidak rasional atas perbuatannya. Planet keempat dihuni seorang pengusaha sibuk dan serius yang menghitung semua bintang yang dimilikinya. Planet kelima dihuni seorang penyulut lentera yang terlalu patuh kepada aturan sehingga merepotkan dirinya sendiri. Planet keenam dihuni seorang ahli bumi yang hanya mendengar pengetahuan dari para penjelajah tanpa mau mengobservasi langsung objek penelitiannya. Semua perjalanan ke planet itu, apabila dibaca secara saksama adalah kritik penulis terhadap kekuasaan, kesombongan, amoralitas, kapitalisme, birokrat dan para cendikiawan yang berkubang di menara gading.

Inti cerita dongeng ini adalah kisah cinta Pangeran Kecil dengan mawar di planet asalnya. Mawar di sini bukan nama samaran korban perkosaan tapi wujud bunga berwarna merah dengan duri di sekujur batangnya. Pangeran Kecil begitu mencintai mawar, merawat dan menjaganya. Tapi mawar begitu angkuh dan tidak berterimakasih atas semua kebaikan Pangeran Kecil. Maka mengembaralah Pangeran Kecil sampai ke bumi dan mendapati ada banyak mawar di sana. Ia kecewa ternyata mawar yang ia cintai tidaklah unik, satu-satunya di semesta, tapi mawar biasa seperti mawar-mawar lain di bumi. Tapi persepsinya berubah setelah Pangeran Kecil bertemu rubah dan memahami arti dari sebuah penjinakan:

“Aku mencari teman. Apa artinya jinak?

“Buatku, kamu masih seorang bocah saja, yang sama dengan seratus ribu bocah lain. Dan aku tidak membutuhkan kamu. Kamu juga tidak membutuhkan aku. Buat kamu, aku hanya seekor rubah yang sama dengan seratus ribu rubah lain. Tetapi kalau kamu menjinakan aku, kita akan saling membutuhkan. Kamu akan menjadi satu-satunya bagiku di dunia. Aku akan menjadi satu-satunya bagimu di dunia…”

“Aku paham”, kata Pangeran Kecil.

Setelah pencerahan itu pangeran kecil memiliki persepsi lain kepada mawar yang ditinggalnya. Baginya mawarnya adalah yang paling special, ia tidak tergantikan dan perasaan untuk bertemu sang mawar kembali menguat.

Bukankah ini sebuah pesan cinta yang begitu halus namun mengena? Berapa banyak kasus perceraian dan perselingkuhan akibat pasangan merasa bosan, jenuh, muak dengan omelan istri, gaji kecil suami dan lain sebagainya. Manusia dewasa sudah tidak lagi bisa memahami cinta menggunakan hatinya tapi berupaya menggunakan akalnya dengan logika untung-rugi yang begitu dangkal. Kiranya sebagai penutup perlu kita menyimak pesan terakhir Sang Rubah kepada Pangeran Kecil:

“Manusia telah melupakan kenyataan ini,” kata rubah.

“Tetapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu menjadi bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakan. Kamu bertanggung jawab atas mawarmu…”

 baobao

Referensi:

Exupéry, Antoine. 1943. Le Petit Prince. Terjemahan H. Chambert-Loir. 2016. Pangeran Cilik. Cetakan Kelima. Gramedia Pustaka Jaya: Jakarta.

Sumber gambar:

The Little Prince terjemahan Bahasa Inggris oleh Katherine Woods.

 

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

 

 

 

 

, , , , , ,

Leave a comment

The Three Metamorphosis: Interpretasi Sederhana atas Wacana Zarathustra

Ini merupakan kali pertama saya mengenal Friedrich Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra yang diterjemahkan dengan kurang baik ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Thus Spoke Zarathustra oleh H.B. Jassin, Ari Wijaya,dan Hartono Hadikusumo melalui Penerbit Narasi. Oleh karena kekurangan terjemahan itu maka saya harus membandingkan karya itu dengan terjemahan Bahasa Inggris yang ditulis oleh Bill Chapko sekaligus menandai kata yang ambigu di beberapa paragraf dan membuat terjemahan amatiran pada sisi kiri dan kanan buku.

 Secara umum buku ini berbicara mengenai teori Ubermensch yang diterjemahkan menjadi Manusia Unggul, superman, atau overman; sebuah istilah bagi manusia yang sudah melampaui manusia rata-rata. Teori mengenai Manusia Unggul ini banyak dibahas dalam Prolog dalam bentuk metaforis yang membingungkan. Pada intinya konsep Manusia Unggul menandakan sebuah kondisi dimana manusia memiliki kehendak bebas atas dirinya sendiri, menciptakan nilai-nilainya sendiri, tidak terikat konstruksi moral tertentu dan memiliki kreativitas tanpa batas.

Dalam ceramah pertama Zarathustra yang berjudul The Three Metamorphosis, Nietzche memberikan tahap-tahap spiritualitas untuk mencapai Manusia Unggul. Dalam wacana itu, dia menceritakannya dalam bentuk alegoris sehingga beberapa pembaca memiliki interpretasi yang beraneka ragam; sebagian melihatnya sebagai transformasi individu, sebagian lagi sebagai transformasi masyarakat. Dalam ulasan ini saya akan membahasnya dari segi individu.

Metamorfosis paling pertama dideskripsikan oleh Nitzhche sebagai seekor unta yang dituliskannya sebagai berikut:

“Apakah berat? Demikianlah bertanya si roh pemanggul beban demikianlah ia berlutut bagai unta, ingin dipunggah beban sepantasnya. Apakah hal yang paling berat, hai pahlawan, demikianlah bertanya si roh pemanggul beban (the spirit that would bear much), sehingga aku boleh memanggulnya dan bergembira dengan kekuatanku?”

Setelah kalimat ini Nietzche menjelaskan hal-hal yang dianggap berat oleh ruh tersebut. Salah satunya tergambarkan dalam ucapan ini:

“Ataukah hal ini: mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita kepada sang hantu ketika ia akan menakuti kita?”

Fase menjadi unta menandakan ketertundukan kepada aturan, norma, agama dan konstruksi eksternal yang menentukan cara pandang manusia. Hal ini dimetaforakan menjadi ruh yang berlutut seperti unta. Selain itu untuk mencapai dua tahap selanjutnya ruh harus merasakan derita, kegamangan, penderitaan, pengasingan agar memiliki kesiapan mental memasuki tahap selanjutnya.

Sang Unta kemudian berjalan sendiri menuju gurunnya sendiri. Sebuah fase yang menandakan kesadaran bahwa dengan penderitaan dalam hidup yang  dipanggulnya telah membedakannya dari manusia lain. Dalam kesendirian itu ia mempertanyakan segalanya: agama, norma, budaya, dan kesusilaan. Pada fase ini ia mendapati bahwa tidak ada kebenaran universal dan kebajikan adalah omong kosong. Biasanya dalam kondisi ini manusia merasakan bahwa hidupnya tidak memiliki makna dan memilih satu di antara dua jalan: bunuh diri atau menciptakan nilai/maknanya sendiri. Untuk menjadi Manusia Unggul ia harus menciptakan maknanya sendiri dan masuk ke fase berikutnya.

“Tetapi di gurun yang paling sunyi terjadi metamorphosis yang kedua: roh menjadi singa, ia ingin merdeka dan menjadi tuan di gurunnya sendiri. Ia mencari tuannya yang terakhir: ia akan melawannya dan Tuhan terakhirnya; untuk kemenangan yang akbar dia akan melawan Si Naga Besar. Siapakah Si Naga Besar yang tak lagi hendak dipanggil Tuan dan Tuhan ? “Engkau Harus (Thou shalt)” adalah nama Si Naga Besar. Tetapi roh si Singa berkata “Aku Hendak (I will)”

Dalam paragraf ini Nietzhe berusaha untuk mempertentangkan ruh Singa yang identik dengan sifat marah, liar, dan berani dengan Si Naga Besar yang menamai dirinya “Engkau Harus”. Pertentangan ini juga menandakan bahwa ruh pada fase kedua harus berani untuk menolak semua kebenaran universal (agama, budaya dsb) yang berusaha dicangkokan pihak eksternal untuk membentuk dirirnya. Untuk menolak ini tentu ruh tidak bisa berwujud menjadi unta yang penurut tapi harus menjelama menjadi singa yang berani. Setelah semua penolakan atas konstruk eksternal, ruh harus membuat nilai-nilainya sendiri –hal ini kemudian disebut dengan nihilisme.

Fase terakhir adalah menjadi anak-anak (child) karena:

“Si anak itu lugu dan pelupa, suatu awal baru, sebuah permainan, roda yang berputar sendiri suatu gerak pertama dan suatu “Ya” yang suci”

Mungkin Nietzche menyarankan agar ruh dalam wujud singa untuk melupakan fase-fase sebelumnya; seperti anak-anak yang polos dan ceria. Melupakan dalam artian tetap menjaga rasa penasaran dan pertanyaan kritis atas segala sesuatu sehingga temuan-temuan nilai baru dapat dilakukan melalui tahap-tahap metamorphosis. Pada fase inilah Manusia Unggul itu tercapai saat ruh mencapai kebebasan dan memiliki makna yang terbebas dari konstruksi eksternal.

Pertanyaan selanjutnya adalah apabila moralitas dikembalikan kepada subjeknya (nihilis) bagaimana menentukan suatu perbuatan itu salah atau benar (seperti pembunuhan, pemerkosaan dsb)? Sepertinya untuk memahami ini penulis harus banyak membaca lagi karya Nietzche lainnya.

Sekian.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment

Dangkal

Dia datang tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah melakukan registrasi elektronik di mesin absensi, ia melangkah santai menuju kantin, memesan segelas kopi dan gorengan hangat di piring kecil. Orang-orang belum berdatangan ke kantor. Hanya ada dia dan cleaning service  yang bersungut membersihkan debu di atas lemari arsip. Ia tidak peduli dengan para pesuruh itu. Sambil menyeruput secangkir kopi Toraja ia menyalakan personal computer dan mendengarkan gamelan Bali yang mengalun mistis. Ia memejamkan mata sejenak. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat membuka mata, wajahnya berseri. Ia buka ransel hadiah pelatihan komputer di Bandung tempo lalu, sebuah buku merah setebal 600 halaman dengan potret Tan Malaka berjudul “Materialisme, Dialektika dan Logika” siap untuk dibaca.

Dia sangat suka membaca, membaca apapun.  Majalah Menara Pengawal yang dibagikan Jemaat Saksi Yehowah yang diterimanya dipinggir jalan saat senja di ibu kota ditelannya habis. Jurnal kebudayaan yang diunduh dari laman sebuah situs universitas ternama luar negeri  ia lumat perlahan-lahan. Buku filsafar dari era Plato hingga Amartya Sen ia telaah dengan teliti. Bahkan tanda merek yang terdapat pada baju yang berisi informasi negara pembuat, bahan dan cara perawatan tidak luput dari matanya. Ia suka membaca apapun. Kali ini di kantor ia kembali melanjutkan membaca “Madilog” yang sempat tertunda karena padatnya pekerjaan.

Sambil mengarahkan telunjuk ke arah kalimat pada buku, ia membaca lirih, “Buat Hegel absolute idea ialah, yang membikin benda Realitat. Die Absolute Ide Macht die Gesichte….”

Ia menghentikan bacaannya. Dahinya berkernyit. Kedua jarinya memegang pelipis dengan tekanan yang kuat, ”Istilah apa itu?”

Tidak mau kalah sebelum bejuang, ia melanjutkan bacaan, “Absolute idea yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya melainkan absolute idea “deren nachdrucklichen ausdruck. Die pilosohie ist”, yang tergambar nyata pada….

“Hei, Lif! Ngapain kok serius banget. Pagi bener dah datang ke kantor kaya anak kuliahan.” tegur teman satu kantornya menghentikan bacaannya.

“Emang gue biasa datang cepet kok,”  jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia pegang.

Ah sombong lu, diajak ngomong nengok aja kaga!” balas kawannya kesal.

Alif menoleh kemudian memberi senyum sinis. Sebenarnya dia tidak seketus itu. Kali pertama bertemu dengan kawannya, ia menunjukan sikap persahabatan yang tulus. Percakapan bisa terjalin berjam-jam, kapan pun dan dimana pun. Tapi ini tahun ke tiga mereka bekerja di sana. Waktu yang cukup lama bagi seorang pegawai di tempat yang sama. Dia mulai muak dengan semua perbincangan. Menurutnya, tidak hanya kawannya itu tapi semua orang di kantor itu adalah pecinta kedangkalan. Mereka lebih suka membicarakan besaran gaji, kenaikan gaji, tunjangan tambahan, uang pensiun, biaya perjalanan dinas, uang lembur, cicilan mobil, uang muka rumah, botol arak, wanita penghibur, pernikahan, istri, atau tentang anaknya yang kebetulan baru bisa berjalan walau tertatih. Dia muak dengan semua itu. Muak. Ia rindu perbincangan filosofis. Ia rindu dengan percakapan tentang hidup, kematian, jiwa, keadilan, cinta, hukum, politik, ekonomi dan pengalaman ruhiyah semasa kuliah. Ia rindu bercakap berjam-jam sambil merenungkan berbagai hal di dunia. Ia rindu berbicang imajinatif dengan Aristoteles hingga Sigmund Freud tentang segalanya. Ia rindu itu semua. Momen itulah yang membuatnya selalu tampak ceria dan antusias. Tapi kantor ini dan orang-orangnya hanya menyuguhkan kedangkalan dan kebanalan,. Sejak itulah hidupnya murung dan ia jarang terlibat dalam percakapan.

Waktu menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Ruangan sempit bersekat itu sudah dipenuhi pegawai yang berpakaian necis. Karena pekerjaan belum terlalu banyak, mereka berkumpul di dekat mejanya dan terlibat dalam gelak tawa yang memekakan telinga. Dalam keriangan itu, Alif tetap dalam posisinya semula, tertunduk membaca buku.

Dia kembali membaca di dalam hati, “Madilog  bukanlah barang yang baru dan bukanlah….”

“Lif, ngapain sih lu. Sini gabung kita. Sombong dah!

Tanpa menoleh, ia meneruskan membaca, “…bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya. Madilog adalah pusaka yang saya terima dari…”

Lu denger kaga? Cieee.. yang berasa paling pinter sekantor. Serius amat bacanya.. hahaha..”

Mendengar itu mukanya merah. Ia kehilangan fokus. Baginya deretan tulisan pada buku hanyalah penampakan tanpa arti. Pandangannya berputar dari kata ke kalimat, dari kalimat ke paragraf. Ia lupa dengan apa yang sudah dibacanya. Seketika juga otaknya berdenyut keras. Namun ia tetap dalam posisinya semula, tertunduk seolah-olah membaca.

Lif! Sini lu mah kok kaya kurang pergaulan gitu!”  salah satu kawannya menghampiri meja Alif. Mengangkat buku “Madilog” yang agung itu. Melihatnya terheran-heran kemudian melemparkannya ke meja sebelah namun terjatuh dan mendarat beberapa cm dari tempat sampah.

“Bangsat!” maki Alif.

Emosinya memuncak. Ia tahu amarahnya bisa menyulut konflik berkepanjangan. Tapi ia tidak rela waktu senggang yang biasa ia gunakan untuk membaca itu kini harus terampas. Pulang kerja pukul enam sore ia harus berjibaku dengan macetnya jalan ibu kota. Perjalan berpeluh keringat dengan motor bebek tahun dua ribuan itu mengantarnya sampai ke Tangerang Selatan pukul delapan malam. Setelah itu ia harus membersihkan tai anjing tetangga yang kerap mejeng  di teras rumah. Belum lagi membersihkan sisa bocor akibat hujan badai seminggu berturut-turut. Setelah itu minatnya untuk membaca pasti ambruk. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan menanti alarem handphone Oppo edisi selfie berdering di samping telinganya. Esoknya ia harus kerja lagi. Dan melakukan hal yang sama berulang. Maka sebuah waktu senggang untuk membaca buku adalah momen berharga baginya.

“Apa lu bilang?”

“Bangsat. Anjing. Babi. Ambil buku itu, njing!”

Tanpa banyak pikir kawannya melayangkan tinju ke arah hidung Alif. Namun, ia tidak mengelak. Tiga tahun ia habiskan untuk belajar Tae Kwon Do. Satu tahun Merpati Putih. Tiga bulan Kungfu Wing Chun. Ia melangkah dengan anggun, menyambut pukulan itu dengan tangan terbuka, mencengkeramnya dan menariknya ke arah telinga kiri sambil menyerang dengan sikut ke arah hidung lawan. Darah bercucuran di karpet. Semua orang terpengarah. Tapi ada senyum puas pada wajah Alif.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment