Tanya

Di kaki langit segerombolan orang berjalan menembus awan. Ada yang duduk sambil membaca majalah perjalanan. Ada yang melihat ke jendela sambil membayangkan hidupnya yang sial. Ada orang tua yang membentak anaknya. Juga, anak yang membentak ayahnya.

Yang lebih durhaka adalah, ada seorang pemuda yang kencing sambil berdiri di atas langit, padahal mungkin di bawahnya seorang janda selepas shalat sedang menengadah ke langit dengan kedua tangan dibuka berbisik memohon petunjuk-Nya. Semua pasti tahu amuk seperti apa yang diberikan seorang janda ketika mengetahui apa yang terjadi di atas sana. Tetapi biarlah. Kita tidak akan membicarakan janda itu.

Di tengah hiruk pikuk itu. Sepasang anak muda berusia akhir 20-an saling memandang.  Tawaran produk bebas bea pramugara dengan troleynya atau ledak tangis seorang bocah yang minta dibelikan miniatur pesawat terbang tidak mereka gubris.

“Kapan kamu akan menikahiku?”

Anjing, makinya dalam hati. Ia kaget bukan kepalang. Baru saja mereka berbincang hangat tentang singa pemalas di Bali Safari and Marine Park. Kemudian berdebat tentang jumlah turis homo yang menyamar sebagai hetero di Pantai Uluwatu. Atau marjin laba pedagang ikan di Pasar Kelan dibanding Cafè Menega. Tetiba pertanyaan itu muncul. Ia tidak habis pikir.

“Kok kamu diam. Kamu sayang kan sama aku?”

Mendapat serangan kedua ia mulai menghembus nafas dalam. Ingin rasanya ia meminta parasut, membuka pintu darurat dan terjun bebas ke pegunungan di bawahnya. Biar ia hilang. Di makan harimau mungkin. Pun kalau mereka punah, masih ada ular berbisa yang tidak kalah mematikan.

*

Tahun lalu, di bulan Rajab, Ical bertemu Dewi di sebuah kelas pranikah yang diisi oleh seorang dai kondang cum selebgram. Pada pertemuan ke-5 yang sangat membosankan mereka tanpa saling mengetahui memutuskan keluar masjid dan membeli cilok di parkiran.

“Loh, mba. Kelas belum usai kok malah jajan cilok,” tanya Ical memecah kebekuan.

“Bosan, mas. Isinya standar”

Sejak pertemuan di gerobak cilok itulah mereka lebih intens bertemu. Tidak peduli jargon-jargon agamis yang menyindir pasangan pacaran. Bagi mereka hidup hanya sekali. Sangatlah merugi kalau hidup tanpa ia yang dicintai.

*

“Cal, kok kamu diem terus sih!”

Ical tahu Dewi menuntut kepastian. Namun, apakah harus secepat ini. Sebentar lagi pesawat mendarat. Tanda kenakan sabuk pengaman sudah dinyalakan. Beberapa menit lagi Bandung di depan mata. Ia tidak mau membawa beban langit di muka bumi.

Roda mulai dikeluarkan. Saat roda itu menyentuh landasan pacu dan penumpang goyang ke sana ke mari akibat gravitasi, Ical menyentuh pundak Dewi.

“Baik kalau begitu. Kita putus…”

Ferry Fadillah. November, 2017.

 

Advertisements
  1. #1 by rezzafahlevy on March 6, 2018 - 16:15

    Semangat berkarya bang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: