Posts Tagged demokrasi

Doktrin, Motivasi Palsu : Serang Demi Kesadaran!

Hari Minggu, 21 Oktober 2012, kota Denpasar tampak lenggang. Perhatian masyarakat tertuju kepada pusat-pusat olahraga. Misalnya, lapangan Puputan Renon, lapangan Puputan Caturmuka, dan lapangan Pegok. Namun pada hari itu perhatian masyarakat Denpasar tidak hanya tertuju pada keolahragaan, ada sebuah ‘kerumunan’ yang membuat orang terheran-heran sekaligus penasaran karena kerapihan pakaiannya. Saya kurang tahu pasti apa itu, hati saya mengatakan, “Itu pasti gerombolan anggota MLM.”

Cara mereka berbicara, berpakaian, berjalan, berkumpul sekilas hampir seragam. Pikiran saya melayang ke negeri di Asia Timur sana, Korea Utara, yang dengan hegemoni kekuasaan Komunis dapat mencetak manusia-manusia berideologi sama, berkelakuan sama, beraktivtas sama dan bercita-cita sama! Tentu mereka bukan anggota partai komunis dengan ciri-ciri  dimaksud, namun sekali lagi  saya tegaskan, mereka adalah anggota MLM.

Uraian saya pada paragrap pertama sebenarnya dusta. Saya tahu siapa mereka sebelumnya dan faktanya saya adalah bagian dari mereka. Namun, seperti kebiasaan ‘para pembangkang’, saya berusaha menjaga jarak dengan setiap komunitas yang saya ikuti. Bukan bermaksud mencari permusuhan atau persiapan untuk keluar jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, tetapi saya berusaha untuk menjadi orang objektif, yang dengan sadar melihat sesuatu tanpa pengaruh perasaan, doktrin dan motivasi palsu dari pihak lain.

Terkadang orang menilai saya sebagai seorang Yahudi yang menyebalkan (padahal saya seorang muslim, secara administrasi maupun kebatinan). Banyak bertanya ini itu, membuat kekisruhan dari sebuah kemapanan ide. Sesungguhnya, jiwa dan hati saya damai, tidak terbesit sedikitpun untuk memberontak apalagi membuat kekisruhan dari sebuah sistem. Akan tetapi, ketika kebebasan berpikir dikekang, demokrasi dibelenggu, pertanyaan dibalas dengan retorika dan kekritisan dilempar dengan cemoohan, saya dengan semangat revolusi akan menentang semua pihak itu, dengan ‘garang’, bahkan dengan ‘kekerasan’ intelektual akan menyerang tanpa rasa takut.

Dengan senang hati saya dapat menerima niatan baik para motivator bisnis untuk memantik api semangat dalam jiwa para anggotanya. Di lain sisi, dengan jengkel hati saya tidak dapat menerima setiap lontaran pertanyaan kritis yang dipermainkan dan diputar-putar menjadi tidak berharga.

Demi jiwa demokrasi dan manusia yang sadar, saya berharap, setiap generasi muda mulai kritis dengan apa yang mereka ikuti. Jangan sampai urusan perut dan angan-angan kosong menghalangi diri kita untuk menjadi manusia sadar dan bebas. Sadar dalam memilih tujuan hidup tanpa intervensi pihak di luar diri kita, bebas untuk berpikir dan mengemukakan pendapat untuk mencapai iklim sosial yang intelektual.

Ingat, hidup tidak semata-mata untuk uang, jauh dari itu, bagaimana hidup ini menjadi bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain.

Denpasar, Rumah Sederhana, Sore Hari, Ferry Fadillah

, , , , , , , , , , , , ,

Leave a comment

Menggugat Nilai-Nilai Sendiri

Pertama saya sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai hidup saya yang berubah. Penyesalan mulanya ada, tetapi ketika menimbang kembali saya baru tergugah bahwa nilai-nilai hidup adalah sesuatu yang dinamis, terus berubah seiring interaksi sosial dan pengetahuan yang diserap.

Bukan berarti saya orang yang tidak prinsipal, tidak memiliki sikap, tidak memiliki pendirian dan berubah-ubah sekehendak hati, nihilisme nilai. Namun saya paham bahwa kebenaran yang saya anggap benar (yang kemudian disebut nilai-nilai) adalah benar menurut saya saja atau benar menurut beberapa gelintir orang dari milyaran manusia di dunia ini, bisa jadi salah bisa jadi benar, apalagi sebagai orang beragama saya yakin bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah kebenaran dari Tuhan itu dapat kita ketahui dengan tepat padahal Tuhan bersemayam entah dimana, berbeda-beda bentuk sesuai persepsi kebudayaan masing-masing? Beberapa dari agama-agama di dunia memiliki klaim kebenaran masing-masing melalui kitab yang mereka pegang teguh, disebarkan dari mulut ke mulut atau budaya tulisan, dari para Nabi, Resi atau orang suci . Para umat agama didoktrin sedemikian rupa, dengan prosesi selama berabad-abad atau bertahun-tahun sehingga mereka –pada umumnya- kehilangan daya kritis terhadap apa yang mereka terima. Ini prinsip, beragama tidak bisa dibandingkan dengan rasio! Menurut beberapa orang yang mengaku agamawan.

Sayang beribu sayang, kebenaran-kebenaran ini jika tidak dikritisi akan menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tertutup, nilai-nilai yang egositik, tertutup bagi pintu diskusi untuk mencapai konklusi yang lebih mendekati kebenaran. Dengan mudah kita label-melabeli, membawa nama Tuhan, tetapi budi pekerti tidak lebih jauh dari binatang buas.

***

Negara kita memiliki iklim demokrasi yang cukup baik. Dalam sebuah bingkai demokrasi kebebasan berpikir adalah hal yang harus dijamin oleh negara, selama tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain atau dalam kata sederhana kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan yang bertanggung jawab berarti nilai-nilai yang kita pegang seyogyanya dibandingkan dengan prinsip oposisi untuk mencapai kebenaran sejati. Yang diharapkan dari praktik ini adalah kita, umat manusia, menjadi makhluk yang tidak terikat otoritas apapun dari luar dirinya, takhayul, adat yang mengekang, otoritas pemerintah, ketakutan akan kesialan dan lain sebagainya. Manusia menjadi pemikir-pemikir yang secara sadar memilih jalan yang mereka tempuh, bukan manusia-manusia yang dikuasai jalan-jalan yang sudah ditentukan manusia lain tanpa mengetahui kenapa harus memilih jalan tersebut.

Kemerdekaan sudah kita genggam, lantas mengapa masih saja kita abai untuk memanfaatkannya. Duduk  santai dalam lamunan masa kolonialisme-keterkekangan, perbudakan, penghambaan.

Ferry Fadilah
25 Oktober 2012

, , , , , , ,

Leave a comment