Posts Tagged INtelektualitas

Aku dan Ujian yang Sudah di Depan Mata

Sebenarnya aku tidak memiliki kompetensi untuk membahas hal ini. Aku hanyalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi kedinasan dengan nilai seadanya. Ya yang penting lulus lah. Setiap pelajaran di kelas aku selalu gagal fokus menyimak ceramah para dosen. Aku selalu bertanya-tanya, apakah ini disebabkan cara bicara dosen yang kering atau otakku saja yang tumpul, namun setiap malam ketika jaringan internet lancar aku mencari penjelasan dari dosen virtual di youtube dan mencapai pencerahan tentang materi kuliah. Ya, pembaca mungkin bisa menyimpulkan siapa sebenarnya yang salah.

Menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi jelas bukan cita-citaku. Aku juga tidak terlalu suka dengan pelajaran yang ada. Oh iya, aku mengambil jurusan akuntansi bukan karena aku suka akuntansi, tapi karena itulah satu-satunya pilihan untuk meningkatkan pangkat ketika lulus nanti. Pertimbangannya sangat pragmatis. Kenaikan pangkat berimbas kepada naiknya gaji pokok dan tunjangan. Dan kenaikan penghasilan itu semata-mata untuk menutup hutang selama kuliah, sewa rumah di penempatan, gaya hidup atau ya sekedar menambah koleksi pustaka di rumah. Begitulah hidup!

Minggu depan adalah hari yang banyak dicemaskan oleh mahasiswa. Ujian! Ya, ujian! Para dosen akan mengolah soal-soal dan menuangkannya dalam kertas ujian. Mahasiswa akan belajar semalam suntuk suntuk menghapal buku referensi (bagi yang rajin) atau sekadar mengingat slide kuliah seperti para santri penghapal kitab di pesantren-pesantren. Beberapa minggu menjelang ujian para dosen biasanya mengingatkan kembali pentingnya semangat belajar, batas minimal IPK yang 2,75 itu dan nilai-nilai UTS yang kacau balau. Semua itu akan menjadi beban dalam pikiran, beberapa putus asa atau bahkan kehilangan nafsu makan. Ujian yang semestinya dihadapi dengan santai, malah menjelma menjadi momok yang menakutkan.

Aku sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan ujian itu. Aku hanya khawatir dengan dampak dari ujian itu.

Aku selalu berpikir bahwa seorang mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang bisa berargumen dengan baik, paham fenomena ekonomi politik, berempati dengan pergerakan sosial dan tajam dalam melihat persoalan. Fenomena menjelang ujian di kampusku yang tidak sehat ini akan menggerus ciri-ciri ideal itu. Mahasiswa dipastikan hanya fokus dengan pelajaran dan nilai kemudian apatis dengan apa yang terjadi di dunia sekitarnya. Ya kurang lebih menjelma menjadi seekor katak dalam tempurung.

Aku juga sering terkejut dengan sebagian dosen yang mengajarkan hal kurang intelek. Misal dalam kuliah sistem informasi akuntansi. Dosen menekankan kepada mahasiswa untuk menggunakan satu referensi saja yaitu Accounting Information System karya Marshal B. Romney. Bahkan beliau menekankan ketika mengisi ujian nanti mahasiswa harus hapal persis tahap-tahap dalam siklus akuntansi beserta ancaman dan pengendaliannya berdasarkan buku itu saja. Harus persis, katanya! Persis! Ah, daya analitis benar-benar dibungkam, bung!

Suatu ketika, di semester 4, aku juga menghadapi fenomena ujian yang sama. Aku tidak bertemu dosen seperti tadi, tapi ada fenomena lain yang membuat aku sedih sekaligus gusar. Seperti biasa aku berjalan kaki di sekitaran kalimongso dan menembus gang-gang kecil menuju kampus. Di sepanjang jalan aku melihat anak-anak yang membawa buku Microeconomics karya Mankiw. Mereka membaca sambil berjalan, dan menerawang ke langit-langit; berusaha membenamkan semua kurva dan rumus ke dalam alam bawah sadar dengan komat-kamit yang hanya bisa didengar telinga mereka. Malam sebelumnya melalui jejaring whatssup beredar gambar kurva produksi yang disulap menjadi gambar ikan dan beberapa orang merasa terbantu untuk mengingat itu. Ah! Menghapal, ikan, kurva! Mau jadi apa mahasiswa kalau hanya tahu menghapal?

Aku sendiri tidak pernah berusaha keras untuk menghapal semua materi. Aku hanya membaca kemudian mereflesikannya dengan kejadian aktual. Kalau materi itu nyangkut di kepala ya syukur kalau tidak juga mau bagaimana lagi. Intinya aku tidak mau sengaja menghapal. Manusia-manusia cemerlang itu bukan yang bisa menghapal banyak. Bukan! Kalau hapalan menjadi tolak ukur kecerdasan tentu komputer lebih cerdas dari manusia. Mesin ini bisa menyimpan milyaran data tanpa tertukar dan mengolahnya menjadi informasi yang presisi. Tapi ya seperti mesin lainnya, komputer tidak bisa merasa, menagis, berpuisi, berdansa, berdiskusi atau berfilsafat karena jelas: komputer itu mati! Apakah para pengajar itu ingin menggiring nalar mahasiswanya menuju kematian?

Oh, iya, aku baru ingat. Kampus kedinasan ini adalah kampus gratis. Bahkan ketika aku di Diploma 1 dulu mendapatkan uang bulanan sebesar empat puluh ribu dibayar tunai. Lulusan dari kampus ini juga sudah dijamin untuk bekerja di sebuah kementerian yang terkenal dengan jargon reformasi birokrasinya.

Kalau melihat pangkal dan ujung dari lulusan kampus ini. Aku mendapatkan benang merah. Sebagai kementerian yang tentu menggunakan logika bisnis, mereka pasti membutuhkan tenaga manusia andal yang muda, mudah diatur, disiplin dan siap mengikuti budaya organisasi. Mana ada perusahaan mau merekrut tenaga manusia yang banyak protes, kritis, tegas dan berlidah tajam. Bisa-bisa banyak bos stres dan mengundurkan diri. Nah, ancaman DO, kedisiplinan ala-ala (semi)militer, dan minimnya kegiatan intelektual ekstrakampus, menurutku adalah cara-cara neo-kolonial untuk membungkam daya kritis mahasiswa. Ujung-ujungnya adalah para mahasiswa disiapkan menjadi pegawai kelas menengah yang ke kantor ketika matahari masih diperaduan dan pulang ketika matahari kembali ke peraduan, menanti pensiun dengan gaji pas-pasan atau mati dalam rangka dinas dengan kenaikan pangkat anumerta dan ucapan duka dari para kolega. Hanya itu!

Sial, aku jadi ngelantur tidak karuan. Bukannya banyak berdoa dan belajar untuk ujian minggu depan aku malah sibuk tulis menulis di dunia maya. Sebagai penutup, aku akan memberikan tips agar tidak stres menjelang ujian. Kalau tidak setuju ya jangan lakukan kalau setuju silahkan lakukan dan membagi pengalaman itu dengan mahasiswa stres di sekitaran indekos. Setiap pagi sebelum membaca buku pelajaran aku akan menulis reflektif di buku harian. Setelah puas mencurahkan isi hati, aku akan membaca keras sajak-sajak karya Aan Mansur atau Wiji Thukul di depan cermin. Setelah tenggorokan kering, aku akan membaca cerita pendek karya Maxim Gorky ditemani melodi klasik Rimsky Korsakov dan membayangkan diriku mengembara di sekitar laut mati bertemu dengan para gipsi yang misterius. Dan yah aku akan mandi, mengaji barang sesaat, dan siap menghadapi kenyataan.

 

Ferry Fadillah. Bintaro, Februari 2016

 

 

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Matinya Intelektualitas

Aku memberi kesaksian,

Bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

Dan penghayatan kenyatataan dikekang

Diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

Kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

Dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

Karena nalar dicurigai dan diawasi.

Penggalan Syair W.S. Rendra berjudul Kesaksian Mastodon-Mastodon (1973)

***

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipuja-puja, disanjung-sanjung, dieluk-elukan, kata orang, sekolah ini sekolah favorit, sekolah papan atas, incaran para lulusan sekolah menengah atas. Tunggu dulu? Apa yang mereka cari dari sekolah ini?

Jelas. Tujuan material adalah tujuan mereka. Sebab, konsekuensi lulus dari dari STAN adalah diangkatnya menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan. Nasib mereka akan berubah. Tingkat pengangguran di Indonesia akan berkurang. Dan tentu bertambah juga kelas menengah  se-antero Indonesia. Masalahnya adalah, apakah lulusan STAN telah benar-benar insyaf akan dirinya sendiri dan kelak untuk siapa mereka bekerja (baca : berjuang)? Kita harus tilik kembali ke dalam kehidupan kampus dibilangan bintaro ini.

Matinya Intelektualitas

Sekolah para akuntan, pemungut pajak, penilai dan ekonom ini menawarkan subjek-subjek ilmu pengetahuan yang menarik. Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro, Akuntansi, Ilmu Hukum, Keuangan Publik, Hukum Keuangan Negara dan puluhan ilmu pengetahuan lain yang berbeda di setiap prodi.

Saya yakin, semua Mahasiswa, berlomba-lomba untuk memahami itu semua. Mereka akan belajar keras menjelang ujian, berusaha untuk menghapal semua slide yang diberikan oleh dosen di kelas. Sayang, saya sempat kecewa –mohon maaf- ketika melontarkan kritik atas cara penyampaian seorang dosen ekonomi dihadapan teman sekelas. “Sudah, cara dosen menyampaikan materi tidak perlu digubris, yang penting dia baik memberi nilai”, celoteh seorang teman.

Miris. Apakah ini cara berpikir semua mahasiswa STAN? Saya harap hanya satu dua orang berpikir seperti ini. Kalau sampai semua anak STAN berpikir seperti ini, maka benar-benar intelektualitas telah mati di kampus yang katanya favorit ini.

Mereka yang Lupa

Saya bukan seorang pakar pendidikan, apalagi professor sebuah perguruan tinggi. Saya hanyalah mahasiswa yang rindu akan hingar bingar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya mencetak mahasiswa menjadi kritis, progresif dan revolusioiner.

Mahasiswa kelak selalu mempertanyakan status quo. Mengapa ini seperti ini? Mengapa tidak seharusnya seperti itu? Pertanyaan yang berulang atas segala sesuatu yang orang awam anggap sebagai kewajaran adalah perlu untuk menciptakan inovasi-inovasi, perubahan dunia menuju kemapanan di segala bidang.

Ketika ilmu pengetahuan hanya dihapal kemudian dijadikan capital memperoleh ijazah agar kelak bekerja tenang di lingkungan pemerintahan, maka sesungguhnya mahasiswa telah melacurkan intelektualitas mereka sendiri.

Pola pikir pragmatis seperti ini hanya akan melahirkan birokrat muda yang sibuk mengisi kantongnya dengan pundi-pundi gaji. Mereka malas berpikir, yang terpenting adalah mengikuti instruksi atasan dan bermuka  manis atas setiap perintah dengan harapan pengharggaan berupa : kedudukan.

Saat ini semua terjadi, mahasiswa yang telah menjadi birokrat muda itu telah lupa bahwa mereka adalah bagian dari rakyat. Rakyat yang kesusahan setiap hari karena harus ditindih oleh kebijakan pemerintah yang mengakibatkan kemiskinan struktural. Rakyat yang terus meratap dan berdoa kemudian dinina bobokan dengan janji pahala kesabaran dan imbalan surga yang kemudian lupa untuk menuntuk hak-hak mereka atas hidup dan penghidupan.

Menjadi Intelektual

Intelektualitas berarti kita insyaf bahwa semua ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku kuliah adalah untuk memperkuat daya kritis kita dan mensejahterakan mereka yang marjinal. Leon Trotsky pernah berkata, “The intellectual wants to rise above capitalist mental oppression, the academics are capitalist mental oppression”

Maka yang kita perlukan agar tetap berpihak kepada rakyat adalah mejadi seorang intelektual. Menjadikan ilmu pengetahuan yang kita dalami di kampus sebagai amunisi yang kelak membebaskan tetangga kita, orang satu daerah dengan kita, rakyat di tempat penempatan kelak, merdeka semerdek-merdekanya dengan membuka mata mereka akan hak-hak mereka dihadapan para penguasa.

Ketika filsafat hidup, dan penghayatan akan kenyataan dibebaskan, saya yakin mahasiswa STAN yang kelak menjadi birokrat muda, yang tersebar seantero Nusantara, yang jumlahnya beribu-ribu itu, dengan tegas dan gagah akan mengatakan tidak atas segala kelaliman siapapun juga.Ingat : Vox Populi Vox ‘Dei’!

Ferry Fadillah, dimuat dalam Warta Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Edisi 27, Januari 2015.

, , , ,

Leave a comment