Posts Tagged doa

Ketetapan-Nya

Delapan tahun silam, ketika saya masih mengenakan seragam putih abu, semangat untuk memasuki bangku kuliah begitu menggebu. Tentu, karena sudah menjadi tren, kedokteran dan insinyur menjadi prioritas utama. Kalau di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung seolah menjadi hadiah terindah bagi orang tua kita. Saya pun begitu. Maka, segera saja memantapkan hati untuk masuk ke Teknik Sipil ITB.

Mendadak suasana sekolah menjadi relijius. Ada siswa yang setiap pagi bertafakur di masjid selepas shalat duha, ada pengajian bersama dan ceramah keagamaan yang kerap mengundang tangis histeris para siswi. Saya pun bagian dari suasana itu. Bagaimana lagi. Dalam setiap kebutuhan tentu kita akan lebih dekat kepada Tuhan.

Sayangnya gaung tidak bersambut. Mahalnya biaya ujian saringan masuk mandiri, migrain yang diakibatkan les tambahan siang malam, doa-doa dan tekad kuat di dalam hati ternyata tidak menyebabkan saya bisa mempersembahkan ITB sebagai hadiah bagi orang tua.

Saya sempat kecewa tapi tidak larut dalam penderitaan. Toh di saat kegagalan itu, saya diterima pada sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Dayeuhkolot. Bagi saya, biaya di sana mahal. Tapi melihat prospek jurusan teknik, sepertinya biaya kuliah bisa diganti dikala kerja kelak.

Tidak disangka-sangka, ada kejadian luar biasa yang membuat kondisi keuangan keluarga morat-marit. Biaya lima juta satu semester menjadi beban yang memilukan. Syukurnya, di bulan kedua masa kuliah, saya diterima di Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Hanya Diploma I. Saya meremehkan dan orang tua pun menjadi bimbang. Tapi ini jalan yang harus dipilih agar dapur tetap mengepul.

***

Dalam setiap kegagalan. Setiap kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Kita pasti kecewa. Merasa Tuhan tidak adil dan memaksa-Nya dalam doa agar mengabulkan kondisi yang kita inginkan. Manusia yang begitu kecil kadang terlalu sombong dan dungu untuk memaksakan apa yang mereka kira pantas bagi dirinya. Kalau semua orang bisa meraih harapan sesuai amalnya mengapa kita selalu menganggil-Nya Maha Besar?

Ibnu Athaíllah As-Sakandari pernah memberi nasihat singkat: Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. Alangkah bodoh saya yang memaksa untuk masuk ITB padahal tidak dibarengi kemampuan otak. Alangkah bodoh saya jika memaska membayar lima juta satu semester jika harus menghabiskan tabungan keluarga. Alangkah bodoh saya jika menolak Diploma I padahal itu adalah yang dikehendaki-Nya.

Begitu juga gelombang kekecewaan yang melanda ketika saya tidak diterima Diploma III Akuntansi Khusus di ujian yang pertama dan kedua. Bisa jadi ada banyak manfaat bagi orang sekitar jika saya tetap bekerja dibanding kuliah dengan potongan gaji yang membuat hidup menjadi ‘cukup’.

Kini saya yakin, akan selalu ada rahasia dibalik setiap kekecewaan. Lebih baik hidup mengalir dan menerima qadarnya dengan tunduk. Berbahagia dengan setiap episode yang diberikanNya kepada kita. Daripada berkeluhkesah dan mengotori hati  dengan sesal.

Ferry Fadillah. Kelan, 10 Juni 2017


 

, ,

Leave a comment

Doa yang Terkabul

Hal paling membahagiakan bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) adalah lulus kemudian menjadi pegawai negeri di lingkungan Kementerian Keuangan. Itulah yang aku alami. Setelah lulus dari Prodip I Kepabeanan dan Cukai tahun 2010, aku langsung ditugaskan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Aku sebenarnya tidak bercita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil. Semua orang tahu, menjadi pegawai negeri berarti siap hidup dalam ritme yang membosankan; aturan ketat; apel setiap senin; pakaian yang seragam dan kepatuhan kepada atasan. Namun, melihat kondisi keuangan keluarga yang morat-marit, aku tidak memiliki pilihan, aku harus menghadapi itu semua.

Tahun pertama masa kedinasanku dilalui tanpa kendala yang berarti. Bahkan, aku sangat bersyukur mendapatkan ilmu dari proses bisnis di unit kerjaku dan peraturan-peraturan yang kubaca. Aku juga bersyukur karena dikaruniai seorang atasan yang sangat ramah dan paham akan keinginan anak buah. Tidak jarang aku diberi kesempatan untuk menjadi pembicara dihadapan pegawai-pegawai senior, menyampaikan ilmu administrasi pemerintahan yang aku pahami, dan tidak ada satu pun dari mereka yang meremehkan aku, aku sangat bersyukur.

Setelah dirasa cukup lama aku di unit tersebut, aku dipindah tugaskan ke unit yang baru. Banyak pegawai menginginkan untuk menjadi pegawai di unit baru ini. Ilmu Kepabeanan dan Cukai dapat sepenuhnya di aplikasikan, dan –yang terpenting- pekerjaan didominasi pekerjaan lapangan, bukan administrasi.

Satu hal yang kurang aku suka di unit ini adalah setiap pegawai harus tunduk patuh secara totalitas kepada kehendak atasan. Sialnya, atasanku adalah seorang pengidap insomnia. Beliau biasa pulang kantor pukul 03.00 dini hari, dan aku harus menemani beliau di kantor dengan kewajiban masuk pagi keesokan harinya. Belum lagi tugas protokoler tambahan di hari sabtu dan minggu. Aku benar-benar kehilangan kebahagiaan.

Aku mulai rindu lari sore di pinggiran pantai kuta; berkumpul dalam pengajian mingguan dan silaturahmi dengan warga sunda di Denpasar. Aku merasa kehilangan jiwa dan bertransfromasi menjadi sebuah mesin. Kaku dan Statis.

Medio tahun 2014, ujian saringan masuk STAN untuk Prodip III Khusus dibuka. Aku begitu antusias mendengar kabar ini. Aku berpikir, bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk bebas dari rutinitas kantor yang membosankan. Tanpa banyak tanya, aku langsung mendaftar dan mempersiapkan segala sesuatu. Namun, karena beban pekejaan dan waktu tidur yang kurang aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar. Alhasil, tahun itu aku belum diberi kesempatan untuk kuliah di Bintaro.

Tahun 2013, aku mengikuti ujian saringan masuk di lokasi yang sama. Lagi-lagi, aku merasa tidak siap menghadapi ujian pada saat itu. Entah mengapa rasa pesimistis itu selalu datang. Tanpa perlu banyak berangan-angan, aku sudah memastikan diri bahwa aku tidak akan lulus untuk seleksi masuk tahun ini, dan itu pun yang terjadi.

Aku berkontemplasi. Rutinitas pekerjaan ku yang mekanis siklis telah mengikis habis nalar berpikir. Aku juga sadar, beberapa tahun bekerja dengan penghasilan yang dapat aku peroleh sendiri, aku mulai hidup dalam hura-hura, hedonisme, dunia malam dan, ah, hal-hal imanen lain yang tidak berguna dan bermanfaat. Aku ambil kesimpulan bahwa ini disebabkan oleh dosa-dosaku, bukan semata kemampuan akademik.

Awal tahun 2014, aku terkejut, pelaksanaan ujian saringan masuk STAN dimajukan. Kamu tahu? Aku benar-benar tidak siap menghadapi kegagalan yang ke tiga kalinya. Waktu belajar sudah sangat sempit. Doa? Ah, mana Tuhan dengar makhluknya yang berdosa ini.

Dalam sebuah perenungan di masjid, tiba-tiba aku tercerahkan. Jika belajar sudah tidak ada waktu dan doa pendosa ini tidak didengar, maka solusinya satu, dengan logika sederhana : Tuhan pasti mengabulkan doa; doa harus dipanjatkan oleh manusia yang dijamin pengabulan doanya; doa harus dihaturkan di tempat yang mustajab (probabilitas pengabulan doa tinggi)

Akhirnya, aku mengumpulkan tabunganku sebagai pegawai paling rendah di Kementerian Keuangan. Aku hitung, dan berdoa agar uang itu cukup. Dan aku menelpon ibuku, “Mah, besok tolong urus passport ke Kantor Imigrasi. Minggu depan mamah berangkat umrah. Nanti uangnya aa transfer, mudah-mudahan cukup. Jangan lupa, tolong doakan aa sukses dunia akhirat dan lulus ujian saringan masuk STAN.”

Mendengar kabar itu, ibuku sangat terkejut. Nada haru terdengar dari ujung telepon. Maklum, beliau belum pernah sama sekali menginjakan kaki di tanah suci. Alasannya ekonomi. Untuk masalah kontrak rumah dan studi kedua adik saja sudah pusing tujuk keliling, bagamana memikirkan untuk umrah dan lain-lain.

Namun aku yakin, dengan cara ini aku telah berbakti walau tidak sempurna. Dengan cara ini, aku telah membuktikan kepada Tuhan, walaupun aku banyak dosa, ujung dari segala masalah adalah Dia semata.

Pelaksanaan ujian dimulai, pagi yang cerah di Kota Denpasar, namun aku merasa sesak dan tertekan. Aneh, aku sulit memahami hampir seluruh soal matematika. Sinonim, antonim dan ah, apalah itu, aku baru dengar semua kata-kata itu! Namun, aku tetap berdoa dan mengerjakan yang aku bisa. Ketika, waktu ujian selesai, aku keluar ruang ujian dengan penuh pengharapan.

Ada waktu sebulan dari waktu ujian menuju pengumuman kelulusan. Aku sudah pasrah dengan segala hasil yang ada. Bayang-bayang kegagalan selalu menghantuiku. Karena bila gagal, aku akan kembali hidup dalam rutinitas yang menjemukan dengan kepatuhan total kepada atasan yang memuakkan.

Saat pengumuman kelulusan tiba, aku terkejut, namaku tertera di pengumuman itu. Tidak terkira rasa syukur dan bahagia yang aku rasakan. Aku telepon ibuku, aku ucapkan terimakasih berkali-kali. Aku bersyukur pula kepada Tuhan, ternyata ia benar-benar mengabulkan segala doa.

Aku membayangkan bebas dari rutinitas kantor. Aku akan kembali menjadi mahasiswa; berdiskusi tentang isme-isme; mengkaji permasalahan secara intelektual dan tentu banyak waktu untuk berkontemplasi dihadapan Sang Khalik.

Sejak saat itu, aku tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Aku juga yakin bahwa ridho Ibu adalah ridho Tuhan. Dan teruntuk Ibu tercinta, semoga engkau selalu dalam keadaan sehat dan berbahagia. Amin.

Ferry Fadillah
Bintaro, 7 OKtober 2014

, , , , , , ,

4 Comments