Posts Tagged sahabat

Percintaan dan Persahabatan

Sulit bagi manusia untuk mejelaskan emosi-emosi yang terjadi pada jiwanya. Kita hanya bisa menjelaskan dengan perumpamaan-perumpaan yang justru menjauhkan penjelasan itu dari keadaan yang sebenarnya. Jelasnya, butuhkah perumpamaan-perumpamaan untuk menjelaskan segala gejala emosi?

Persahabatan. Percintaan. Dua entitas yang menjadi buah bibir manusia muda. Selalu berkembang dalam berbagai produk budaya : sastra, film, musik, drama bahkan agama. Keduanya memiliki daya magnet yang memikat; mungkin saya salah, namun, kini energi anak muda hanya terbatas kepada dua entitas tersebut. Untungnya, mereka dapat mengemas dengan semenarik mungkin, hingga, bisa jadi, kita lupa, bahwa produk budaya kini hanyalah pengulangan belaka.

Alih-alih seorang rasional yang berusaha menghindari kedua entitas tersebut mereka malah terjebak didalamnya. Persahabatan dan Percintaan bukanlah sesuatu yang irasional, namun sesuatu yang melampaui rasio, kita tidak mungkin menjabarnya dalam rumusan-rumusan.

Dalam satu titik, manusia sering merasakan tarik menarik antara keduanya. Tarik menarik yang begitu keras sehingga bisa meremukan sang pemilik jiwa : putus asa, rasa dihianati, putus cinta. Namun, seperti para sufi, begitulah hidup, dengan segala sukha dan dukha. Dalam percintaan dan persahabatan sukha dan dukha adalah hal yang niscaya.

Sebenarnya, sikap kita yang harus diutamakan dalam menanggapi hal ini. Sikap tidak melekat terhadap emosi. Bukan berarti kita menjadi robot tanpa jiwa dan emosi. Tapi menyeimbangkan kemanusiaan dan kerobotan kita adalah salah satu cabang dari kebahagiaan.

Ferry Fadillah
2 Juli 2013

 

,

Leave a comment

Sahabat

Setiap hari mustahil kita tidak berkomunikasi dengan beranekaragam individu. Perbincangan ringan hingga serius terus saja bergulir, dari senin sampai minggu, dari minggu sampai senin lagi. Dari berbagai macam bentuk komunikasi, kita dapat memahami orang dengan penilaian-penilaian kita sendiri, dari sana dapat dibedakan mana rekan kerja, mana teman main, mana sahabat dan mana kekasih.

Saya ambil ‘sahabat’ sebagai pokok bahasan berikutnya. Mengapa ? karena kata sahabat selalu menjadi rujukan kisah-kisah klasik SMA, bentuknya belum jelas, absurb, selalu saja disesuaikan dengan nilai yang dianut tiap-tiap individu. Namun demikian, saya akan membahas sisi lain dari persahabatan.

Bagi sebagian besar orang, sahabat adalah seorang kawan yang diposisikan lebih. Ia tempat berbagi segala sesuatu, menumpahkan rasa, asa, suka dan duka. Tempat menampung segala aspirasi, ide dan argumen. Dengan keberadaannya kita menganggap diri kita exist/ada. Karena hukum keterikatan yang kita buat sendiri. Ia senang, kita senang. Ia sedih, kita sedih, Satu asa, satu jiwa.

Dalam angan-angan kekanakan mungkin saja kita membayangkan sahabat kita akan selalu berada dalam kehidupan kita. Sesudah atau sebelum menikah. Lantas, apa iya semua itu ada, sahabat sejati itu ada?

Sahabat adalah manusia yang memiliki alam berpikirnya sendiri. Sesenang bagaimana pun kita menyamakan diri kita dengan sahabat. Pasti ada banyak alam berpikir yang berbeda. Belum lagi alam berpikir merupakan sesuatu yang dinamis, terus berubah mengikuti stasiun sosial dan tingkat kesadaran. Dalam beberapa bulan atau tahun kedepan, sahabat yang kita kenal saat ini, pahitnya, bisa jadi berubah derastis, menjadi benci bahkan musuh bagi kita.

Semua pasti berlalu, kata yang sering saya dengan ketika Ajahn Brahm bercerita dalam buku ‘Cacing dan Kotoran Kesayangannya’. Intinya semua tidak ada yang abadi. Ya jelas, harapan kita sebagai manusia adalah kita memiliki persahabatan abadi yang tidak lekang oleh waktu. Namun jika hukum alam sudah berkata lain maka apa daya kita manusia yang penuh keterbatasan ini.

Bagaimana menyiasati hal ini?  adalah benar konsep kemelekatan diapresiasi sebagai solusi bagi dinamika persahabatan. Ketika kita bersahabat jangan sampai kita terlalu melekat kepada sahabat kita. Kita harus menjadi individu independen yang suasana hati, pikiran dan kebahagiaannya tidak melekat terhadap suatu hal apapun. Kasarnya, ada atau tidak ada sahabat, kita harus tetap bahagia.

Namun hal ini jangan disalah artikan, jangan sampai kita menjadi apatis terhadap pintu persahabatan. Bukalah pintu persahabatan, bukalah. Nikmatilah suasana berbagi, susah senang bersama, tertawa bersama, namun hanya pada saat ini, untuk saat ini. Karena masa depan hubungan dengan sahabat kita masih diselimuti kabut misteri.

Jika usaha kita untuk membuka pintu persahabatan yang tulus telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Biarlah Tuhan yang menjalankan tugasnya, untuk merekatkan kita atau merenggangkan kita. Yang pasti niat yang baik akan berbuah hidup yang baik, niat yang buruk akan berbuah hidup yang buruk. Berbaik sikaplah kepada sahabat kita saat ini, anggap ia saudara kita, berbagi lah, dan Let God do the rest for us.

Kabupaten Badung, 30 Juni 2012
Ferry Fadillah

, , ,

2 Comments

Dua Orang Sahabat

Kala itu langit malam sedang terang benderang disinari cahaya bulan, gemintang pun seolah tidak mau kalah, berlomba-lomba memamerkan cahaya mereka, jumlahnya ribuan, tergantung dilangit seolah dengan sengaja Tuhan pada malam itu memamerkan ciptaan Nya.

Duduklah sepasang sahabat ditepian Pantai Kuta. Wajah mereka hampa, dengan lutut diangkat sebagai sandaran wajah sesekali mereka melihat indahnya bintang lalu melempar pandangan ke lautan yang luas, jauh dan gelap.

Lalu seorang dari mereka memecah kesunyian dengan berkata, “sudah lama aku menikmati asam dan manisnya sebuah perpisahan, namun tak kusangka, untuk yang kali ini aku harus serta merta mengangkat kedua tanganku kepada Tuhan seraya berkata ‘aku menyerah’

Pasangan bicaranya menatap tajam dan dalam seolah berusaha menebak isi hatinya, lalu melihat rembulan yang tersenyum kepadanya, dan menghebuskan nafas panjang seperti orang yang menderita kesusahan.

“Bukan saja engkau yang merasakan hal tersebut kawan. Aku rasa hari ini pikiran ku sedang melayang jauh melebihi perasaan sedih dari perpisahan mu. Aku memikirkan sebuah penghianatan yang kelak menodai makna persahabat dikarenakan racun-racun harta duniawi yang begitu menawan, aku memikirkan sebuah kehampaan yang kelak menghampiri kita yang kaya lagi tua karena terpisah dari makna persahabatan dan cinta yang sejati.”

“Jadi menurutmu, jalan kita ini hanya akan menjadikan kita terpisah dari makna persahabatan dan cinta dikarenakan kita sibuk mengarungi laut yang penuh dengan monster jahat ketidak- idealis-an dan mabok akan pencarian harta karun yang terpendam begitu dalam, padahal kita tidak akan pernah tahu apakah harta itu pernah ada atau tidak”

“Ya begitulah kurang lebih, dan kebanyakan dari kita nanti akan menyesal di hari tua nanti, merengek seperti bayi yang terlilit perutnya karena berhari-hari belum mendapat air susu dari ibunya  lalu mengingat masa lalu yang hanya akan membuat kita menyesal lebih dalam dan meracuni pikiran kita dengan kata-kata ketidak beradilannya Tuhan, padahal Ia sendiri telah membebaskan kita untuk memilih akhir dari kisah hidup kita : baik atau buruk ”

Perbincangan itu tidak berlangsung lama, kini keduanya berjalan perlahan kedua arah yang berbeda. Sesekali mereka menengok ke belakang disaat yang berbeda, lalu melihat kedepan seraya menunduk dan meneteskan air mata. Tetesannya jatuh kepasir yang lembut lalu menciptakan gumpalan-gumpalan kecil air yang berisi pasir. Tapi hal itu terlalu kecil untuk mereka pikirkan, karena belum beberapa langkah mereka beranjak dari tempat bersejarah itu, ingatan tentang kisah persahabatan yang indah dan penuh tawa telah mereka kubur dalam hati mereka yang mulai menggelap dan membeku.

                                                                                 Ferry Fadillah, 10 Mei 2011,
My Best Regards to all of you, my best friends everywhere, never forget our friendship’s story in dewata island.

,

Leave a comment