Archive for April, 2010

Hukum Kekekalan Kejahatan :Orang Jahat Akan Selalu Ada, Itu Pasti!

"siang dan malam, kejahatan akan selalu ada"

Masihkah anda ingat pelajaran SMP mengenai Hukum Kekekalan Energi yang berbunyi : ”Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan.” Memang hukum ini masih mengundang kontrovesi, dari kalangan ilmuwan sendiri ada yang pro dan kontra, tapi biarlah mereka yang memiliki kapasitas sebagai ilmuwan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, kita–sebagai awam–hendaknya menunggu dan meyakini teori yang paling rasional dan ilmiah saja.

Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Saya hanya terinspirasi oleh Hukum yang dikemukakan oleh James Prescoot Joule tersebut. Setelah memutar otak beberapa lama saya pun dengan berani menyatakan sebuah hukum, yaitu Hukum Kekekalan Kejahatan.

“Kejahatan dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain serta berpindah dari satu manusia ke  manusia lain tetapi kejahatan tidak bisa diciptakan (oleh Tuhan) ataupun dimusnahkan (oleh Tuhan).” Kurang lebih beginilah hukum yang keluar dari otak saya ini. Mungkin anda berpikir bahwa hukum ini adalah sebuah lelucon, sesat bahkan bodoh. Oleh karena itu marilah kita kaji secara mendetail.

Meninjau Hukum Kekekalan Kejahatan

“Kejahatan dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain…”

Sebenarnya hal ini jelas bagi kita. Kita ambil contoh bentuk kejahatan terhadap Tuhan yang dinamakan syirik (mempersekutukan Tuhan dengan makhluk lain). Pada zaman Jahiliyah dahulu di jazirah arab, bentuk kejahatan ini dengan jelas tercermin dengan perbuatan orang arab yang menyembah berhala. Sekarang tentu seorang muslim tidak akan terang-terangan menyembah berhala, tetapi bentuknya lebih canggih lagi, seperti mempercayai sebuah benda kecil memiliki kekuatan tertentu, mempercayai ramalan primbon, mempercayai kartu tarot, mempercayai ramalan ‘dukun artis’ dan yang sekarang lagi trend adalah horoscope. Bentuknya beragam, mulai dari yang sifatnya mistik sampai yang dipoles dengan gaya anak muda sehingga dianggap sebagai trend zaman modern.

“…berpindah dari satu manusia ke manusia lain…”

Kita ambil contoh kehidupan di dunia pendidikan. Ada seorang guru dan beberapa murid. Seorang penjahat intelek tentu akan dengan mudahnya mendoktrin masyarakat awam– yang tidak berfikir kritis. Mereka akan dengan mudahnya meng-aminkan segala macam ajaran guru penjahatnya, semenjak ajarannya seolah-olah ilmiah dan rasional. Alhasil, mereka akan melakukan segala tindak kejahatan yang dilakukan guru penjahat mereka, misal : perompakan kapal, pemerkosaan berjamaah, perampokan toko emas, aliran sesat dan seabagainya.

“…tetapi kejahatan tidak bisa diciptakan (oleh Tuhan)..”

Anda pasti setuju jika saya berkata bahwa Tuhan itu Maha Baik. Dan anda pasti akan men-cap saya sebagai seorang yang sesat apabila saya mengatakan Tuhan itu Maha Jahat. Doktrin agama pada umunya selalu menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang baik, dan segala keburukan yang menimpa kita selalu dilimpahkan sebagai kesalahan kita sendiri. Dari pemahaman ini saja kita tentu setuju bahwa Segala Yang Baik tentu tidak akan pernah menciptakan kejahatan. Namanya saja Segala, pasti tidak ada pengecualian.

“…ataupun dimusnahkan (oleh Tuhan)…”

Saya sempat bingung sendiri dalam mengkaji kalimat ini. Akhirnya saya teringat akan kisah Iblis yang tidak menuruti perintah Tuhan untuk bersujud kepada manusia. Disini, apakah Tuhan tidak memiliki kuasa agar Iblis bersujud kepada manusia? Jika kita ibaratkan Iblis sebagai simbol kejahatan, apakah Tuhan tidak memiliki kekuatan untuk memusnahkan cikal bakal kejahatan di muka bumi tersebut? Tentu kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui apa yang tidak ketahui, dan Tuhan itu Maha adil.

Di dalam kasus ini, menurut saya, Iblis telah diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalannya sendiri, menjadi makhluk mulia atau menjadi makhluk terkutuk. Dan menurut ajaran di dalam kitab suci, ternyata iblis menggunakan hak memilihnya untuk menjadi makhluk terkutuk.

Jadi–masih menurut saya–Tuhan itu memang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan segala kejahatan di muka bumi, tapi Dia memberikan kita hak untuk memilih menjadi jahat atau baik. Tuhan memfasilitasi mereka, yang menggunakan hak memilih untuk menjadi orang baik , dengan diturunkannya Kitab suci melalui nabi-nabi.

Inti Hukum Kekekalan Kejahatan

Hukum ini jelas menggambarkan bahwa kejahatan di dunia itu akan selalu eksis sampai kapanpun, karena memang itu hukumnya. Mungkin anda kurang sependapat atau bagaimana, yang jelas ini hanya pemikiran saya—yang masih butuh banyak belajar.

Dengan adanya kepastian ini, maka orang-orang yang selalu mengganggap dirinya paling shaleh dan paling suci harus lebih berhati-hati lagi dan harus lebih rendah diri, mungkin saja sekarang mereka shaleh tapi bagaimana dengan mereka di masa depan. Masa depan itu masih absurb dan ghaib. Apakah kita bisa menjamin mereka akan selalu hidup dalam keshalehan mereka ?

Bagi para pendakwah, hukum ini bukanlah sebuah angin pesimistis, hanya saja saya berusaha memutar otak para pendakwah yang selalu berambisi ( dalam arti yang negatif) dalam berdakwah, kapanpun dan dimanapun selalu berdakwah, dan terkadang menyakiti hati orang yang di dakwahkan. Memang perkataannya benar, tapi apakah cara yang digunakan sudah baik? Benar bukan berarti baik, dan baik sudah pasti benar. Akan selalu adanya orang jahat di dunia, maka gunakan pula cara berdakwah yang baik, bukan malah menjadi bagian dari keburukan.

Saya pernah bertanya kepada seorang ustadz, “Pak, jika melihat bahwa kejahatan itu akan selalu ada sampai hari kiamat nanti. Apakah yang seharusnya pendakwah lakukan hari ini?”

Dengan bijak beliau berkata, “Nabi nuh beratus-ratus tahun berdakwah, tapi hanya sekitar 70-an orang pengikutnya. Berdakwah tiada henti tetap semangat dan sabar serta mohon pertolongan Allah.”

Berdakwah itu wajib. Jadi kewajiban itu tidak akan hilang sampai kapan pun. Justru klo dah mendekati kiamat tambah banyak orang jahat karena ilmu akan dicabut dari manusia. Jadi pendakwah saat ini harus terus berdakwah”, tambah teman saya yang pernah menikmati suasana pesantren di Purworejo, Jawa Timur.

Sekarang semuanya tergantung anda.

Ferry Fadillah, Denpasar, 29 April 2010

Advertisements

, , , , , ,

10 Comments

Ulang Tahun? Ulang Tanggal, Ulang Bulan, Beda Tahun

"ulang tahun bersama keluarga"

“Selamat ulang tahun yah.. Semoga panjang umur dan sukses selalu. Jangan lupa makan-makan, bro.. hehehehe”. Bagi anda yang pernah berulang tahun–dan tentu semua orang pernah–ungkapan tersebut tentu sudah tidak asing lagi. Puluhan sms dan ucapan yang tertangkap 2 buah indera kita–mata dan telinga–seringkali membanjiri HP kita, dan dapat dipastikan semua orang akan mengirim hal yang sama namun dalam bentuk yang beragam.

***

Ulang tahun tidak hanya pertambahan umur yang berlalu begitu saja dengan ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Bagi pemuda-pemudi di kota besar, ulang tahun merupakan momen yang tepat bagi kawan-kawan ‘si punya hajat’ untuk mengusili ‘si punya hajat’. Beragam cara usil yang pernah saya saksikan adalah : Menggampari ‘si punya hajat’, melempar ‘si punya hajat’ ke kolam ikan, memandikan ‘si punya hajat’ dengan adona terigu dan telur, bahkan ada yang menculik ‘si punya hajat’ lalu membawanya ke gunung untuk di usili. Masih banyak sebenarnya selebrasi yang biasa mereka lakukan. Entah apa yang menginspirasi mereka, yang pasti, saya salut karena selalu saja ada cara baru untuk korban baru.

Setelah serangkain ‘penderitaan’ yang diterima ‘si punya hajat’ biasanya kawan-kawan nya akan menagih traktiran. Mungkin ini dia rasa syukur yang dipanjatkan ‘si punya hajat’. Umumnya ia akan mentraktir kawan-kawan yang telah mengusili dirinya di rumah, cafe-cafe, restoran bahkan di hotel.

Apa yang mereka lakukan? Ya jelas traktiran. Apa itu traktiran? Biasanya disebut juga makan bersama.

Makan bersama antara ‘si punya hajat’ dengan kawan-kawannya. Bisa dikatakan makan bersama bagi mereka yang bisa makan. Atau dalam istilah lain makan bersama bagi mereka yang biasa makan.

***

Ulang tahun? Apa iya semua terjadi di tahun yang sama? Apa iya semua terjadi di hari yang sama? Tentu tidak! Ulang tahun disini, menurut saya, adalah sebuah kesalahan istilah. Kenapa tidak kita ganti saja dengan istilah : Ulang Tanggal, Beda Bulan, Beda Tahun. Biarpun panjang, lebih adil rasanya.

Berbicara masalah adil dan tidak adil, tahukah anda bahwa?

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, mereka yang berulang tahun makan bersama di tempat ‘wah’ bersama kawan-kawannya yang bermotor dan bermobil.

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, anak-anak pedalaman indonesia harus berjalan kaki ribuan mil hanya untuk mendapatkan air bersih.

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, anak-anak jalanan indonesia harus mencari sesuap nasi di jalanan Ibu Kota dengan bermodalkan kemampuannya bernyanyi.

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, pedagang kaki lima di indonesia harus bermain kucing-kucingan dengan satpol PP.

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, buruh-buruh harus bekerja keras tanpa duduk untuk memakmurkan pemilik modal.

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, lumpur lapindo semakin melebar dan merusak alam sekitarnya, dan tentu menyengsarakan penduduk sekitar.

Di tanggal yang sama tiap tahunnya, balita kurang gizi meninggal dunia

Di tanggal yang sama tiap  tahunnya, Ibu yang melahirkan meninggal karena tidak punya biaya ke rumah sakit.

"kelaparan/republikan21.wordpress.com"

(Ferry Fadillah, Denpasar, 27 April 2010)

Dipersembakan bagi mereka yang berulang tahun hari ini dan hari esok, semoga hidupmu penuh kebijaksanaan.

4 Comments

27 April, Jangan Bersedih

"kawan SMA ala sunda"

“Kebiasaan yang hilang aja sedih pisan ya.. apalagi orangnya yang hilang, pih “, Rieke Arya Putri, 19 Oktober 2008

Kesedihan  merupakan hal alami yang dapat dirasakan oleh setiap manusia di manapun ia berada dan dari manapun ia berasal. Manusia yang berpenampilan garang sekalipun– dengan tato naga di punggungnya, dan anting bintang di telinga kirinya– pasti akan merasakan juga yang namanya kesedihan jika memang ada pemicunya.

Adalah hal yang mustahak jika manusia bersedih tanpa sabab musabab yang jelas. Seperti Hukum Fisika : “Ada aksi, ada reaksi. Gaya sebesar X Newton yang di berikan oleh tangan kita ketika menekan tembok pasti akan berbalas dengan gaya sebesar X Newton dari tembok menuju tangan kita, hingga terjadi sebuah keseimbangan, yaitu tembok tidak bergerak dan kita tidak  terpental.” Begitu pula kesedihan, dapat dipastikan dalam setiap kesedihan akan ada pemicunya, yang tentu berbeda-beda tiap individu, tergantung riwayat hidup masing-masing.

***

Ketika saya harus merantau ke Pulau Dewata, tentu saya harus meninggalkan segala jenis rutinitas kehidupan dan ikatan sosial (sementara) yang sudah lama terbentuk di tanah kelahiran saya, Kota Bandung. Dari kebiasaan lama menuju kebiasaan baru. Dari kawan lama menuju kawan baru. Dari lingkungan lama menuju lingkungan baru. Pergeseran-pergeseran inilah yang membuat saya sedih, atau mungkin anda merasakan juga hal yang sama seperti saya.

Ada aksi, ada reaksi. Ada pergeseran bentuk kehidupan, maka ada kesedihan. Begitulah saya simpulkan.

Berpisah dari orang tua, yang artinya bergeser dari hidup penuh kasih sayang menuju hidup mandiri. Berpisah dari kekasih, yang artinya bergeser dari hidup penuh canda, tawa, kasih sayang, menuju hidup penuh keseriusan. Berpisah dari kawan lama, yang artinya pergeseran cara bergaul yang biasanya ala sunda, menjadi ala jawa. Dan pergeseran-pergeseran lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya, pasti akan terjadi dalam kehidupan kita, pasti! Hukum alam ini tidak dapat ditawar lagi.

Memang sedih, dan itu adalah normal. Tapi pergeseran bukanlah akhir dari dunia. Hanya perubahan, dari satu bentuk ke bentuk lain, tanpa menghilangkan sifat asli manusia itu sendiri. Dan dari semua pergeseran itu , yang pada akhir dari semua perubahan bentuk adalah kita membisu diam terbujur  kaku dalam kesunyian dan kesendirian di liang lahat.

Awal-akhir. Kita lahir dalam kesendirian di dalam rahim Ibunda kita tersayang tapi tetap tergantung dengan asupan makanan yang ia berikan. Kita mati dalam kesendirian di dalam kubur tapi tetap akan tergantung pada amalan kita semasa hidup.

Entah apa yang dapat saya simpulkan dari celoteh–tentunya dengan menulis– saya ini.Tapi inilah hidup, pasti akan penuh pergeseran. Lempeng benua pun bergeser dan menyebabkan bencana. Jika mengingat semua ini, saya hanya dapat berkata dalam hati : La Tahzan, Jangan bersedih !

Denpasar, 27 April 2010

Dipersembahkan bagi kekasihku di ranah minang, yang menjadi Kahlil Gibran dalam kehidupan, dan bagi mereka yang merasakan kesedihan hari ini.

Selamat tanggal 27, hari bersejarah bagi kehidupan sepasang insan.

9 Comments

Malam Asmara di Lapangan Puputan

"Monumen Puputan menjelang malam"

Lapangan Puputan–dimana berdiri sebuah monumen yang menjadi simbol pertempuran heroik antara Rakyat Bali dengan Pasukan Belanda*1 pada tahun 1906–memiliki beragam fasilitas olahraga. Masyarakat sekitar kota Denpasar biasanya menggunakan fasilitas ini untuk jogging, meditasi, yoga, bermain sepak bola, bermain voli dan berlatih pencak silat. Pedagang pun tidak mau kehilangan kesempatan, walaupun harus bermain kucing-kucingan dengan aparat, mereka turut meramaikan suasana lapang dengan menjajakan makanan dan minuman. Di saat malam, ketika semua masyarakat pulang ke rumah untuk melepas lelah, lapangan renon tidak pernah sepi pengunjung, muda-mudi yang sedang dimadu kasih kerap kali mengunjungi tempat ini.

Gelapnya malam dan minimnya penerangan tidak menjadi penghalang bagi sebagian muda-mudi  Kota Denpasar untuk tetap melaksanakan ‘aktivitas’ di Lapangan Puputan. Setiap harinya mereka datang menggunakan motor pribadi. Saling berboncengan dan berpelukan tentunya. Pakaian pemudinya sudah tidak tanggung-tanggung, minimalis sekali. Puncak keramaian ‘aktivitas’ mereka bisanya pada malam minggu. Lapangan gelap dan sepi itu seolah menjadi pusat perbelanjaan jika kita melihat jumlah motor yang di parkir.

Tentu kita harus ber-husnudzan*2 melihat jumlah motor yang diparkirkan sebanyak itu. Tapi apa salahnya melakukan sedikit pengamatan mengenai ‘aktivitas’ mereka di Lapangan tersebut. Saya dengan rasa keingintahuan mencoba memasuki Lapangan itu, gelap memang, tapi beruntung masih ada satu dua penerang jalan yang membantu penglihatan saya. Tepat di depan saya, ada sepasang remaja yang berpegangan tangan. Saya pun melambatkan langkah saya dan mengamati pergerakan mereka. Beberapa menit setelah mencapai tengah lapang, mereka keluar dari jalan utama dan masuk ke lapang bola. Di situ ada banyak sekali pohon perdu. Ternyata mereka duduk di bawah pohon itu dan saling ‘berinteraksi*3’ dengan bahagianya. Karena takut disangka mengganggu privasi orang, saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju pintu keluar.

Cukup  jauh memang menuju pintu keluar, dan saya mendapat banyak objek pengamatan selama perjalanan itu. Ternyata bukan mereka saja pasangan yang berada di pohon itu. Pasangan lain di pohon yang berbeda pun melakukan hal yang sama. Entah apa yang mereka lakukan, yang pasti mereka berpasangan saling ‘berinteraksi’ di kegelapan malam. Sesekali mereka keluar ke tempat terang untuk membeli jagung bakar.

***

Bukan maksud saya mencampuri urusan kota orang, tetapi ini masalah pantas-tidak pantas, baik-buruk, dan benar-salah. Jika melihat dari kaca mata agama tentu sulit untuk menemukan titik temunya*4. Oleh karena itu saya akan melihat hal ini dari segi pantas-tidak pantas.

Memang merupakan hak asasi manusia untuk melakukan kegiatan apapun asal tidak mengganggu hak asasi manusia lainnya. Dengan pemahaman ini saya rasa semua orang akan menjadikannya dalih ketika melakukan suatu perbuatan.

Berkaca dengan hewan menurut saya adalah hal yang sederhama untuk mengukur pantas-tidak pantas-nya sesuatu. Hewan yang bersifat instinktif tentu hanya menuruti apa yang mereka mau tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu. Hidup mereka hanya di penuhi pemenuhan nafsu yang berkelanjutan tanpa ada perbaikan kualitas hidup yang lebih baik. Demi makan seekor kucing rela mengais makanan di tempat sampah bahkan mencuri, seekor macan akan membunuh pejantan yang mendekati betinanya, seekor beruang akan saling membunuh untuk mendapatkan pujaan hatinya, sepasang anjing akan melakukan hubungan intim di pinggir jalan, taman, hutan, dan di manapun mereka mau. Begitulah hewan, melakukan hal yang sama dari hari ke hari yang sifatnya sekedar memenuhi nafsu dirinya.

Pantas-tidak pantas saya rasa relatif, tergantung dari mana orang memandang, tetapi jika kita melihat diri kita sebagai manusia– yang dikarunia akal dan nurani–dengan hewan– yang instikntif–tentulah jelas dimana letak pantas-tidak pantas itu. Manusia hendaknya menjadi manusia tanpa pernah bersifat hewan, hewan hendaknya menjadi hewan tanpa hendak bersifat manusia. Itulah hukum alam.

Denpasar, 23April 2010

*1 pertempuran ini dikenal dengan nama Puputan, yaitu pertempuran sampai titik darah penghabisan.

*2 Husnudzan adalah bahasa arab yang artinya berbaik sangka

*3 saya gunakan kata ‘berinteraksi’ karena saya tidak melihat jelas apa yang mereka lakukan, sebatas penglihatan saya mereka pada umunya saling berdempetan dan berangkulan

*4 ada agama yang menyatakan bahwa hal semacam itu haram, dan haram itu dosa (dalam agama Islam). Mungkin ada agama yang memperbolehkan, saya kurang tahu.

2 Comments

Hal Kecil, Rumah Sakit dan Hal Besar

Hari ini tidak biasanya Kota Denpasar kehilangan cahaya mentari dari Tuhan Yang Maha Esa. Hujan deras bersambung hujan rintik datang bergantian dari pagi hingga senja. Tentu hal ini tidak membuat semua warga kota meninggalkan aktivitas mereka, toh hujan hanyalah air, bukan batu yang dapat melukai tubuh seseorang hingga memar dan mengucurkan darah.

Bagi kami, mahasiswa , hujan merupakan sebuah kekhawatiran. Karena hujan adalah sebuah sinyal yang menandakan bahwa : cucian akan semakin menumpuk!. Tapi tentunya jasa laundry –yang biasanya tumbuh di daerah kost-kostan– telah meminimalisir tenaga yang harus kami keluarkan walaupun harus merogoh kocek lebih dalam lagi.

——————————–

Alksiah di sebuah kampus kecil di Kota Denpasar, seorang anak bernama Herjuno berniat makan siang di kantin pada saat jam istirahat tiba. Hujan besar yang masih saja mengguyur kota ini sempat mengurungkan niat beberapa mahasiswa, termasuk Herjuno, untuk membeli makan siang. Maklum, kelas kami berada di lantai 3, dan kantin berada jauh di dekat masjid, perjalan menuju ke sana mestilah menempuh beceknya jalan beraspal dan serangan hujan dari langit tanpa atap.

Bagaimanapun kondisinya, ternyata jeritan perut telah menjadi motivator kuat bagi kami untuk menerobos hujan yang lebat. Berbagai cara kami tempuh menuju kantin, ada yang berlari sambil mengenakan jaket, ada yang berjalan santai sambil mengenakan jas hujan dan ada yang nekat berlari sekencang mungkin tanpa mengenakan pelindung hujan. Herjuno ternyata lebih memilih cara ke-3, berlari tanpa pelindung hujan, ia bergerak cepat seperti kijang, lompat ke sana ke mari. Sialnya, entah lompatana keberapa, ia menginjak paku kecil yang tajam. Langkah lincahnya itu terhenti di sebuah gardu listrik. Disana ia membuka sepatunya.  Setelah membuka sepatu, ia dapati darah yang deras mengalir dari telapak kakinya. Ia gelisah, pucat dan butuh bantuan. Akhirnya seorang teman memapah ia kembali ke kampus. Sungguh nahas nasibnya, niatan mengisi perut dengan nasi malah ‘mengisi’ telapak kaki dengan paku.

——————————–

"perban pada luka"

Karena paku selalu identik dengan tetanus, maka pada malam harinya Juno bertanya kepada mbah google mengenai gejala-gejala tetanus. Merasa ada gejala yang serupa, ia pun meminta temannya agar menemani ia ke Rumah Sakit. Suntikan, jahitan dan obat diberikan oleh pihak rumah sakit kepada Juno. Teman yang satunya lagi pastilah mengurusi biaya administrasi perawatannya. Dan teman Juno ini kaget bukan main. Kenapa? Karena biaya administrasi mencapai Rp 600.000,00 !. Saya sendiri tertawa melihat angka ini, lucu memang, paku yang begitu kecil, telah menyakiti sosok manusia yang begitu besar, dan menghasilkan biaya yang besar pula.

Tentulah biaya medis seperti itu wajar. Karena, mungkin, harga obat-obatan sangatlah mahal. Maklumlah di negeri ini untuk berobat saja susahnya bukan main. Biaya yang selangit bisa membuat orang miskin memilih mati perlahan dari pada harus terlilit hutang dengan pihak rumah sakit. Tampaknya negeri ini butuh sekali mereka yang bersedia menjadi abdi negara (bekerja tanpa upah) di bidang kesehatan, siapapun ia, pasti rakyat akan berterima kasih banyak kepadanya.

Hal kecil, rumah sakit, dan hal besar. Sebuah paku kecil telah mengantarkan seorang mahasiswa ke rumah sakit untuk mejumpai biaya besar. Kecil jadi besar. Tampaknya kita benar-benar tidak bisa menganggap remeh hal kecil di manapun dan kapanpun kita berada. Seperti paku kecil, di siang hari pastilah semua orang dapat dengan mudah menghindarinya. Tapi di saat hujan? Paku kecil tidak lebih seperti seekor predator yang siap menerkam mangsanya.

Mungkin hal kecil banyak sekali diremehkan. Namun saya sekarang sadar bahwa hal kecil itu memang kadang luput dari perhatian kita, tapi dari ketidak perhatian kita terhadap hal kecil lah yang akan menjadikan kita dibuat harus memperhatikan hal kecil tersebut.

Ferry Fadillah

Denpasar, 20 April 2010, sehari menjelang Hari Kartini

Leave a comment

Saya 18 Tahun dan Saya Masih Hidup

merenung

Sebenarnya judul di atas tidak ada hubungannya dengan kondisi kesehatan saya saat ini. Saya ketika menulis hal ini sedang berada dalam kondisi yang sehat. Bukan juga judul diatas berhubungan dengan bencana alam yang menimpa diri saya beberapa waktu lalu karena itu belum terjadi pada diri saya, dan –sekali lagi saya katakan- saya dalam keadaan sehat ketika menulis hal ini.

Saya 18 tahun, berarti saya telah hidup selama ini dan masih hidup sampai saya menulis hal ini. Memang kehidupan tidak ada yang bisa menebak kedepannya. Entah itu ramalan astrologi, ramalan shio dan ramalan primbon. Semua tidaklah bisa menebak akan jadi apa kita kedepannya. Akankah menjadi sesosok mayat yang tewas dalam kemaksiatan atau sesosok mayat yang tewas dalam perjuangan membela yang hak. Semua hanyalah misteri yang tidak bisa diungkap, tapi kita bisa memilihnya.

Saya 18 tahun, berarti ada rentetan peristiwa yang telah saya hadapi sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Entah itu peristiwa suka maupun duka. Semua pasti telah saya hadapi, karena memang suka dan duka tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Ada hidup maka ada pula mereka.

Masa kecil adalah hal terindah bagi sebagian orang dan hal terburuk bagi sebagian lainnya. Dan telah saya hadapi masa-masa ini. Masa penuh kebahagiaan rohani dan hartawi. Sosok kecil mungil tanpa dosa yang menjalankan hidupnya dengan arahan orang tua yang penuh kasih, tapi tanpa mempedulikan keadaan orang tuanya sendiri. Entah orang tua sedang dalam keadaan sedih maupun gembira. Yang saya tahu bahwa kebutuhan saya tercukupi dan saya dapat bermain.

“Kehidupan itu seperti roda”, kata orang tua saya, “Kadang diatas, kadang dibawah”, sambungnya. Saya pun membantah, “Bagaimana jika roda tersebut diganjal, jadi kehidupan akan tetap diatas”. Disaat itu saya membantah tapi realita berpihak pada orang tua saya. Bahwa kehidupan kadang di atas kadang dibawah. Masa kecil penuh bahagia hanyalah masa menunggu masa lain penuh derita. Kita gembira berarti kita sedang menunggu derita, kita menderita berarti kita sedang menunggu gembira. Itulah yang terjadi. Itulah masa saya, kegembiraan itu semua berbalik menjadi derita bagi seorang bocah kecil yang belum paham akan kerasnya dunia. Semua terjadi begitu saja, berputar seperti yang bahagia itu belum terjadi sebelumnya.

Seperti petuah orang tua saya diatas bahwa kehidupan akan kembali keatas. Segala daya usaha orang tua berkembang. Kehidupan kembali normal seperti semula. Tapi sudah hukumnya bahwa : segala sesuatu tidak ada yang abadi. Ya, sudah dapat ditebak, semua itu kembali sirna dan kehidupan kembali  ke bawah, mungkin sampai sekarang. Walaupun hal ini relatif.

Tanah Pasundan telah menjadi saksi kehidupan saya. Sebuah tanah yang begitu indah, dengan bentangan pegunungannya, dan iklim yang begitu ramah. Tanah ini kini saya tinggalkan, dalam daya upaya memperbaiki kehidupan. Saya tinggalkan bagi mereka yang berada di tanah pasundan. Bagi mereka yang telah berputus asa, dan menggantungkan perubahan hidup kepada saya.

Tanah rantau bukanlah hal luar biasa bagi suku minang. Tapi saya seorang minang sekaligus seorang sunda. Dua suku yang terpaut dalam diri saya melalui ke dua orang tua saya. Seorang Ibu dan seorang Ayah dengan sikap dan pandangan masing-masing.

Dari keduanya tersampaikanlah berita baik dari tanah kelahiran. Tidak lupa pula berita buruk tersampaikan ke telinga saya dari tanah kelahiran. Buruk memang, sedih memang, derita memang. Tapi adakah hal yang bisa diperbuat seorang saya. Bukanlah penguasa bukanlah saudagar. Saya hanyalah saya. Dan mereka.. bukanlah penguasa bukanlah saudagar.. mereka adalah mereka.

Berita buruk itu sedih memang, dan tentu memusingkan. Tapi kepada siapa saya minta bantuan? Teman ? Ah mereka pun punya masalah, dan mungkin masalah mereka lebih hebat. Orang Tua? Ah mereka pun berharap kepada saya. Saudara? Ah mereka juga punya masalah keluaga yang harus diselesaikan. Tuhan ? ah, benar! Tapi apakah ia akan berwujud ke dunia dan menolong seorang saya dengan tangan sucinya, mungkinkah? Irasional !. Ia Suci, Ia memberi kebebasan kepada kita untuk menentukan nasibnya sendiri, dan Ia akan tetap menjaga kita dengan caranya sendiri. Itu yang saya yakini, bukan begitu? Tentu.

Yang dapat saya lakukan hanyalah. Melihat 18 tahun perjalanan hidup saya ini. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan yakin bahwa kehidupan ini berada di garis yang telah ditentukan. Diantara garis itu ada cabang, dan disanalah kita memilih. Dan saya memilih untuk tetap hidup—entah sampai kapan—di tanah rantau ini, dan berusaha menaikan roda kehidupan saya yang telah turun. Mungkin saya berhasil mungkin tidak. Tapi siapa yang tahu? Tuhan hanya menyuruh kita mencoba.

Entah apa makna dari tulisan ini. Mungkin ini sampah, mungkin juga bermanfaat. Tapi semua hanyalah kemungkinan. Pastinya, saya mengerti sekarang, derita dan kesedihan dari kabar buruk tanah lahir dan kehidupan penuh duka di masa lampau hanyalah bumbu. Bumbu yang nantinya akan menyedapkan kehidupan kedepannya. Semua itu adalah pemicu. Pemicu untuk menjadi manusia bersemangat dalam kehidupan. Semangat dalam memperbaiki kehidupan.

Saya 18 tahun dan saya masih hidup. Saya ingin sampai saatnya nanti saya menjadi cahaya. Bermanfaat bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Khayalan memang, dan bahkan irrasional. Tapi inilah impian, seorang anak dalam duka dan derita.

cahaya

Tulisan ini dimuat juga di www.kompasiana.com

Leave a comment

Monumen Puputan Niti Mandala

Monumen Puputan

Kebudayaan adalah total dari fikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakal kepada nalurinya dan yang hanya dicetuskan oleh manusia sesudah proses belajar, Koentjaraningrat (2006).

Negara kita yang begitu luas dengan beribu pulau dan beribu etnis merupakan hal yang sangat menarik untuk di kaji. Lain pulau, lain geografis, lain suku, lain pula kebudayaannya. Keragaman budaya nusantara yang kini sedang ‘tertatih-tatih’ menghdapi arus globalisasi tampaknya butuh uluran tangan anak bangsa yang sadar akan mulai hilangnya identitas bangsa ini.

Bicara kebudayaan, marilah kita tengok pulau yang sudah tidak asing lagi bagi kita.Ya, pulau itu adalah Pulau Bali. Pulau yang dijuluki Pulau Dewata ini merupakan sumber inspirasi budaya. Kebudayaan masyarakat Bali telah mengakar kuat dalam semua segi kehidupan, pantas saja jika pelancong nusantara maupun internasional tidak pernah bosan untuk mengunjungi pulau ini. Semuanya mengandung unsur budaya bali, arsitekturnya, organisasi sosialnya, pakaiannya, planologinya dan masih banyak lagi unsur-unsur budaya Bali yang selalu menyejukan mata para pelancong.

Kota Denpasar merupakan Ibu Kota dari Provinsi Bali. Di tengah-tengah kota ini kita bisa melihat sebuah monumen yang begitu indah. Indahnya monumen ini seperti sebuah astana ditengah kota. Ukiran lembut penuh makna dapat kita lihat di setiap sudut monumen ini.

Monumen Puputan Niti Mandala namanya. Sebuah simbol perjuangan heroik ketika terjadi perang Puputan di Denpasar antara Pihak Kerajaan Bali(?) dengan Pasukan Ekspidisi Belanda. Semua keluarga kerajaan  meninggal dalam pertempuran tersebut. Menandakan begitu besarnya semangat perjuangan mereka dalam mengahadapi bangsa penjajah.

Monumen ini terdiri dari tiga lantai. Pada lantai pertama ada sebuah kolam ikan yang berisi puluhan ikan koi besar. Disamping kolam ada ruang pameran lukisan sejarah. Sebuah potret pedih perjuangan bangsa kita dalam  mengahadapi Pasukan Ekspedisi Belanda. Potret hitam putih tersebut seolah hidup memberikan petuah kepada pengunjung. “Inilah kami dahulu, wahai anakku, tetes darah kami dan keluarga kami telah tumpah membasahi bumi ini, hanya untuk masa depan kamu, masa depan kamu sebagai anak cucu kami, yang nantinya akan mejayakan negara ini, mensejahterakan rakyatnya, dan ingat anaku, jangan pernah lupakan perjuangan kami

Dilantai kedua kita bisa melihat miniatur sejarah yang terpanjang di etalase kaca. Masing-masing etlase mengisahkan keadaan Pulau Bali mulai dari masa prasejarah sampai mengisi kemerdekaan. Miniatur tersebut begitu indah dan informatif. Di etalase tersebut ada miniatur yang menggambarkan kekejaman tentara Fasis Jepang di pulau Bali, di saat bersamaan ada juga turis Jepang yang melihat-lihat miniatur tersebut. Saya sedari dulu kesal terhadap bangsa Jepang, walau memang guru PKN maupun Agama disekolah mewajibkan kita untuk tidak menyimpan dendam terhadap musuh di masa lalu. Saya tidak dendam hanya kesal. Budaya Jepang telah merasuk ke dalam negara ini. Tidak aneh jika komunitas pecinta budaya jepang yang sebagian besar merupakan anak muda Indonesia semakin hari semakin banyak peminatnya. Saya kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi budaya barat yang jelas telah  merasuk dalam kehidupan bangsa ini. Ah, tak perlulah dibahas lebih lanjut. Sedari dulu saya punya impian jika nanti bangsa kita pergi  kemanapun akan menggunakan pakaian adat nusantara yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan memiliki rumah tinggal yang sesuai dengan adat masing-masing. Sehingga kita pumya identitas, punya harga diri, punya budaya, yang perlu ditunjukan kepada mereka, bangsa dunia.

Dilantai paling atas pengunjung dapat melihat kota Denpasar dari 8 penjuru mata angin. Tidak ada gedung pencakar langit sepenglihatan saya. Begitu rapihnya kota ini. Begitu bersahabat dengan alam. Manusia, alam dan langit seolah bersatu membentuk keselarasan. Hal yang jarang kita temukan di kota-kota besar di Pulau Jawa. Kota penuh polusi dan kemacetan.

Dilangit-langit lantai terakhir ini ada hal yang begitu menarik bagi saya. Ada simbol-simbol yang mewakili 8 penjuru mata angin. Simbol apakah ini? mungkin pembaca bisa menjelaskan. Yang saya tahu bahwa budaya kita memang memiliki ribuan simbol yang memiliki filosofi masing-masing.

Yang harus kita ingat adalah bahwa monumen ini hanyalah satu dari ribuan karya anak bangsa. Bangsa yang begitu luhur dan agung tapi ternoda oleh egoisme bangsa penjajah. Oleh karena itu, saya mengajak pembaca, marilah kita angkat budaya kita sebagai pondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Mulia pasti Berbudaya Mulia. Jayalah Nusantara !

Ferry Fadillah

Denpasar, 17 April 2010

3 Comments

Penjara, Penjahat dan Manusia

Mungkin semua orang di negara ini telah kenal yang namanya penjara. Sebuah ruangan lembab berjeruji besi berisikan beberapa orang yang benar-benar jahat dan dituduh jahat serta dikelola oleh pemerintah dan dinamakan Lembaga Pemasyarakatan. Dari istilah pemasyarakatan jelaslah disini penjara sebagai tempat pendidikan bagi mereka yang khilaf maupun sengaja melakukan tindak pidana. Tapi apakah benar-benar pendidikan yang terjadi di dalam penjara?

Tidak perlulah saya sengaja melakukan suatu tindak kejahatan lalu dijerumuskan ke dalam penjara untuk menjawab pertanyaan di atas. Bagi mereka yang punya riwayat masuk penjara berapapun lamanya pasti tahu jawaban ini, dan bisa dijadikan sumber informasi yang –-untuk sementara—dapat kita percaya.

Kehidupan penjara tidaklah seringan yang anak-anak kira, “mah enak yah dipenjara, gak usah ngapa-ngapain, dapet makanan gratis lagi.” Menurut penuturan kawan dari sahabat saya—seorang anggota genk motor yang pernah masuk penjara karena terlibat pidana pembunuhan—penjara merupakan tempat uji nyali, kesiapan finansial, fisik, dan psikis sangat di butuhkan di dalamnya. Tiap-tiap penjara memiliki seorang tahanan yang dijadikan RT, ia memiliki kuasa penuh dalam menjamin kesalamatan anggota tahanan lain. Setiap RT biasanya meminta iuran rutin kepada tahan lain dengan jumlah yang beragam, mulai dari puluhan ribu sampai puluhan juta. Ini benar-benar terjadi dan siapapun yang melawan karena tidak mau membayar pasti berujung dengan tindak kekerasan ( mis: pemukulan). Seorang RT bukan berarti pintar dalam mengelola, tapi yang paling kuat dan ditakuti di antara tahanan lain.

Manusiawikah hal ini? mereka yang di dalam penjara harus membayar sekian rupiah kepada RT setempat. Jika menolak akan mendapatkan tindakan kekerasan dari para jawara bahkan perbuatan asusila bisa saja terjadi bagi mereka yang dibawah umur dan remaja. Mereka yang mendekam dalam penjara dengan masa tahanan yang sangat lama pasti sangat tertekan jiwanya, tidak aneh jika ada saja tahanan yang bunuh diri maupun kabur dari penjara.

penjara/detiknews.com

penjara/detiknews.com

Itulah sekelumit kisah dari penjara, anda boleh percaya atau tidak karena penuturan sumber informasi mungkin benar mungkin juga salah. Yang semestinya kita ketahui adalah mereka yang di dalam penjara adalah manusia seperti kita yang tidak luput dari dosa dan mendekam di dalam jeruji besi yang penuh tekanan. Mereka ada yang benar-benar melakukan kejahatan dan ada juga yang dituduh melakukan kejahatan.

Setiap kejahatan yang dilakukan seseorang kerap kali memunculkan amarah yang berlebihan. Padahal kejahatan mereka mungkin juga kejahatan kita. Saat kita memukuli seorang pencuri ayam, apakah kita pernah memperhatikan kondisi ekonominya sehingga ia lapar dan mencuri ayam. Saat kita memaki dan menyumpah seorang koruptor, apakah kita pernah tahu dia telah melakukan hal itu atau memang dia dituduh. Kita selalu saja merasa lebih suci dari mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang lupa (khilaf) dan butuh uluran tangan kita dalam hal mengingatkan, mendidik, maupun ekonomi.

Denpasar, 11 April 2010

Ferry Fadillah

notes : tulisan ini menjadi headline di www.kompasiana.com tgl 11 April 2010

Leave a comment

Korupsi? Jangan Saling Tunjuk

Nama Gayus Tambunan tentu sudah tidak asing di telinga kita. Nama dan kisahnya telah beredar luas di udara melalui pemancar radio, di kertas koran melalui media masa, dan di layar komputer melalui pemberitaaan online. Pegawai Direktorat Jenderal Pajak ini termasuk salah satu mafia perpajakan yang melakukan tindak pidana korupsi sebesar 25 miliyar. Tentunya ini merupakan jumlah uang yang begitu besar dan prestasi terbaik bagi pegawai golongan IIIA.

Kisah seorang Gayus tentulah sangat berdampak bagi nama baik instansi tempat dimana ia bekerja. Pandangan sinis dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Direktorat Jenderal Pajak telah menjalar dimana-mana. Bahkan ada gerakan untuk memboikot pembayaran pajak di media sosial facebook yang anggotanya cepat sekali bertambah dari hari ke hari. Tentu apabila pemboikotan ini benar-benar terjadi hanya akan menambah permasalahan di negeri ini, mengingat pajak merupakan sumber keuangan vital bagi pembiayaan keperluan pemerintah dan rakyat.

Bukan Direktorat Jenderal Pajak saja sebenarnya yang ikut malu akibat kasus Gayus ini. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara sebagai almamater Gayus Tambunan beberapa tahun yang lalu pun ikut menjadi cibiran masyarakat. Kini ada sebagian masyarakat yang mengidentikan STAN sebagai sekolah calon koruptor. Tentu bukan hal yang bijak jika kesalahan seseorang digeneralisasikan terhadap semua hal yang terkait dengan kesalahan tersebut.

Saya sebagai mahasiswa sekolah tinggi kedinasan dibawah naungan Kementrian Keuangan sering mendengar cibiran dari masyarakat. Walaupun spesalisasi tempat saya belajar bukanlah perpajakan, tapi kasus pajak gayus turut mencemari spesialisasi yang saya jalani. Didalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu yang lalu, seorang bapak yang bekerja sebagai PNS di Kepulauan Riau mencandai saya dengan pernyataan bahwa tempat saya bekerja nanti merupakan lahan ‘basah’, dan tentu banyak ‘uang basahnya’. Ditambah lagi pernyataan seorang ibu yang biasa shalat di mushala kampus saya, “koyoe percuma ya mas. Rajin shalatne tapi nanti kerjane koyo gitu lah.” Entah apa maksud dari ucapan ibu tadi, yang jelas pernyataan tersebut telah menyinggung perasaan beberapa teman saya.

Jika kita bicara korupsi maka ada 3 aktor utama yang biasanya bermain : pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Ke-3 nya saling melengkapi dalam memulai kisah korupsi. Seorang pejabat pemerintah tentu akan goyah imannya jika masih ada masyarakat dan pengusaha yang selalu memberikan ‘uang pelicin’ untuk mendapatkan kemudahan. Begitu pula sebaliknya, masyarakat dan pengusaha tentu akan selalu memberi ‘uang pelicin’ jika ternyata ada pejabat pemerintah yang memang mau menerimanya dengan tangan terbuka. Kita ambilah contoh kasus pembuatan SIM yang tentu semua orang sudah tahu ‘jalan pintas untuk mendapatkan SIM dalam waktu singkat’. Jika memang masyarakat mau negeri ini bersih kenapa yah malah mengajak kerabatnya untuk memiliki ‘SIM singkat’ tersebut, seharusnyakan melaporkan ke pihak yang berwenang. Apa masyarakat juga takut jika terlibat ?, sebab pemberi dan penerima ‘uang pelicin’ tentu memiliki kesalahan yang sama di dalam hukum.

Disini saya bukannya memihak kepada pemerintah, dan tidak pula saya memihak kepada mereka yang kerap kali menyalahkan pemerintah. Saya ingin tahu apakah jadinya mereka yang berkoar dengan semangat di muka umum dengan slogan BERSIHKAN KORUPSI DI NEGERI INI dijamin bakal bebas korupsi jika bekerja di dalam pemerintahan. Apakah para akivis pemberantas korupsi akan menghindari korupsi jika mereka memungkinkan melakukan hal tersebut. Benarlah salah satu lyric lagu Ebit G Ade : tengoklah ke dalam sebelum bicara. Tampaknya bangsa ini lebih suka beretorika dengan kata-kata dibanding menyegerakan tindakan yang semestinya. Korupsi hanya akan terselesaikan jika 3 aktor utama : pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menggunakan hati nuraninya dalam menjalankan kehidupan ini. Jika salah satu aktor tidak dapat bekerja sama dalam pembersihan korupsi, jangan harap negeri ini akan bersih.

notes : tulisan ini pernah ditulis oleh Ferry Fadillah di http://www.kompasiana.com dengan judul yang sama

Leave a comment

Sisi Gelap Paris van Java

Ilustrasi-Karaoke/Admin (shutterstock)

Ilustrasi-Karaoke/Admin (shutterstock)

Hari Jumat, 18 Maret 2010 merupakan hari ke-4 saya di Kota Bandung. Kota yang menjadi saksi bisu kelahiran saya dari seorang Ibu yang begitu gigihnya menahan rasa sakit di dalam perutnya untuk mempertahankan sebuah jiwa, kota yang dengan segala gejala dan pergaulan sosialnya yang telah membentuk sebuah pola pikir yang tertanam di dalam benak saya sampai hari ini, dan kota yang dengan segala kisah di dalamnya telahmenjadikan seorang anak manusia mampu bertahan dan merenungi kehidupan dalam kesendirian di kota perantauannnya.

Selepas Adzan magrib saya dengan seorang kawan, yang juga saat itu baru pulang dari kota perantauan, berangkat menuju pusat kota untuk bersilaturahim dengan kawan-kawan lama. Kawan-kawan yang telah menjadi tempat saling berbagi ketika SMA dulu. Hujan yang mengguyur kota bandung disertai dinginnya suhu saat itu membuat kami berinisiatif untuk membeli mie bakso yang dijual di warung depan. Dengan penuh kemantapan dan atas dasar kesadaran sendiri semua kawan saya mulai mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan membakarnya dengan korek api gas seharga seribuan. Tanpa mempedulikan kontrovesi haramnya rokok, mereka terus membuat kepulan-kepulan asap beracun melambung ke udara, sambil sesekali memakan bakso yang telah mereka pesan. Saya sendiri konsentrasi dengan bakso santapan saya dan mau tidak mau menikmati menjadi seorang perokok pasif.

Diakhir acara menyantap bakso bersama di salah satu sudut kota bandung tersebut, kami melanjutkan acara untuk berbagi cerita yang telah terpendam selama 3 bulan sejak terpisahnya kami ke tanah rantau masing-masing. Ada yang becerita mengenai kehidupannya di kampus, kehidupannya di tanah rantau, misteri, wanita dan seks. Di sela-sela kesibukan menjadi pendengar setia cerita kawan-kawan tersebut, saya meminjamhandphone salah satu kawan saya dan mengeksplorasi file gambar di dalamnya. Ada sesuatu yang mengejutkan bagi saya di sana. Ternyata saya mendapati kawan saya tersebut, bersama 2 orang kerabat kuliahnya berfoto bersama dengan seorang wanita cantik berpakaian sexy di sebuah tempat karaoke di daerah Braga dengan beberapa botol minuman keras di meja.

Tanpa bermaksud mencampuri urusan pribadi kawan saya tersebut, saya memberanikan diri untuk bertanya asal-usul foto tersebut. Setelah melakukan sedikit wawancara, ternyata wanita yang berada di foto tersebut adalah seorang Pekerja Seks Komersial di sebuah tempat karaokean plus plus di kota Bandung. Wanita tersebut berumur sekitar 25 tahun dan kawan-kawan saya barulah berumur 19 tahunan. Sungguh hal yang bertentangan, seharusnya yang lebih tua menjadi contoh bagi yang muda, ini malah menjadi partner bagi keburukan bersama. Kawan saya pun menuturkan bahwa harga yang di keluarkan untuk mendapatkan wanita tersebut bisa di bilang murah yaitu Rp 250.000,00 sudah termasuk fasilitas karokean dan minuman beralkohol. Tapi harga tersebut tidaklah memperkenankan pelanggan untuk menyelup sang PSK tetapi hanya sekedar ciuman, raba-raba dada, peluk-peluk tubuh dan berfoto mesra.

Ada sebuah rasa haru di dalam diri saya ketika mengetahui hal ini. Kabar dari perantauan yang mengatakan bahwa anak-anak Bandung itu pergaulannya bebas bukan hisapan jempol belaka. Di atas adalah salah satu contohnya, belum lagi beberapa (bisa dikatakan banyak) pengakuan kawan saya di SMA dulu yang menyatakan dengan penuh kesadaran bahwa dia telah melakukan hubungan badan, ciuman, memeluk dan hal-hal sejenis dengan pasangannya di kostan, rumah orang tua bahkan di mobil pribadi. Saya tahu bahwa bukan Kota Bandung saja yang seperti ini, masih banyak kota-kota lain di negeri ini yang pemudanya melakukan hal-hal serupa, haya saja Kota Bandung dengan kecantikan pemudi-pemudinya selalu menjadi sorotan media masa dan maniak film bokep di dunia maya maupun nyata.

Menyadari hal ini saya sebagai anak dari ibu bapak saya, dan anak dari Indonesia Yang Mulia ini, berharap kepada semua bapak ibu di tanah indonesia agar menjaga kami, anak-anak anda, secermat-cermatnya tanpa menghilangkan hak-hak kebebasan yang semestinya kami peroleh. Jagalah kami dengan pemahaman ilmu agama yang dalam, jagalah kami dengan suri tauladan dari bapak ibu sekalian, jagalah kami dengan menaruh perhatian terhadap teman-teman sepergaulan kami, jagalah kami dengan mencermati konsumsi informasi yang kami peroleh, dan jagalah kelancaran komunikasi antara ibu dan bapak dengan kami, tanpa menghalangi kebebasan kami dalam bergaul dan mengembangkan minat.

Saya yakin dengan penjagaan yang secermat-cermatnya dari ibu dan bapak maka akan tercetaklah benih-benih unggul yang nantinya akan berkembang menjadi tanaman-tanaman muda indonesia yang siap menyelimuti negeri ini dengan kemuliaan dan kesejahteraan. Semoga Kemuliaan Indonesia akan segera tumbuh di saat krisis seperti ini, maafkan saya ini bila banyak menggunakan kata-kata yang kurang pantas. Akhir pesan saya :

INDONESIA AKAN MULIA JIKA PEMUDANYA MULIA

note : artikel ini pernah dimuat di http://www.kompasiana.com dengan judul Bapak dan Ibu, Baca Ini ! pada tanggal 19 Maret 2010  pukul  09:32 oleh Ferry Fadillah

Leave a comment