Posts Tagged pemuda

Sejarah

Sejak sekolah dasar di Bandung, seorang guru sudah mengenalkanku dengan sejarah. Sebuah pengetahuan tentang tanggal bulan tahun berikut peristiwa-peristiwa yang ada di masa lampau. Pikiran kecilku dipenuhi hapalan-hapalan yang banyak sekali, mulai dari zaman Sriwijaya sampai Kemerdekaan. Alhasil, bukannya memancing minat, sejarah adalah salah satu pelajaran yang sangat aku hindari.

Saat kelas dua sekolah menengah, aku beruntung mendapat guru sejarah yang sangat memikat. Beliau –yang aku lupa namanya- begitu antusias menghubungkan sejarah yang ada di Nusantara. Beliau bercerita dengan mata berbinar dan intonasi yang jelas. Terkadang antara fakta dan mitos pun ia campur. Memang sejarah negeri ini di tangan para leluhur tidak pernah lepas dari mitos dan legenda. Seorang pahlawan besar kerap diceritakan dengan berlebihan berikut kesaktian-kesaktiannya, sedangkan seorang penjahat juga tidak luput dari gambaran berlebihan itu : buto, raksasa dalam epos Ramayana sering dijadikan personifikasi tokoh antagonis.

Sebenarnya, apa penting mempelajari  sejarah?

Kini, anak muda, termasuk saya, berpikir praktis. Kuliah lah di jurusan yang akan mengantarkanmu kepada kepastian kerja dan kekayaan! Fakultas Kedokteran, IPDN, STAN, ITB, Manajemen, Ekonomi dan semua yang nanti akan terpakai di dunia industri; atau kapitalisme sebagai istilah sarkasme atas ketamakan yang membabi buta. Tidak hanya dunia industri, dunia birokrasi pun menjadi incaran, dengan gaji dan tunjangan yang naik setiap tahun dan kehidupan masa tua yang pasti.

Seorang sejarawan professional bahkan tidak pernah dilirik (kecuali oleh satu kawanku yang terinspirasi film Indiana Jones dan memilih jurusan arkeologi di UGM). Mungkin benar, tidak pernah ada ceritanya seorang sejarawan menjadi kaya raya. Alhasil, sejarah hanya menjadi hobi orang yang mampu membeli buku dan orang-orang Indonesia tetap membiarkannya ditutupi kabut misteri tanpa penelitian serius dan mendalam.

Peter Carey, seorang sejarawan Inggris yang telah melakukan penelitian selama 30 tahun tentang Pangeran Dipenogoro, dalam kata pengantar bukunya berjudul Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro (1785-1855), menulis demikian :

Saya berharap mereka (generasi muda, pen) tergugah oleh perkiraan mutakhir yang menyebutkan bahwa 90 persen karya tulis ilmiah tentang Indonesia justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia, yang sebagian besar tentunya orang asing. Jika angka ini benar, maka Indonesia merupakan sala satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri pada dunia luar (Reid 2011)… Istilah “jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kini terdengar lebih benar dari sebelumnya. Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya dan akan kemana mereka akan pergi.

Kutukan itu bukan hanya kata kosong di awal pengantar buku, namun telah benar-benar terjadi. Pernah suatu hari aku berjalan-jalan ke museum di sekitar kota tua Jakarta, waktu itu aku berbincang banyak dengan  seorang kawan kelahiran Makassar tentang Pangerang Dipenogoro, dan pertanyaan yang mengagetkan itu muncul, “Siapa sih Pangeran Dipenogoro?”

Bukan hanya itu, lupa akan sejarah menyebabkan generasi muda menganggap remeh produk budaya negerinya sendiri. Jika pada awal abad ke-20, Soekarno muda dapat menjadikan kopiyah/peci yang biasa dipakai rakyat banyak dan dicibir priyayi jawa serta Belanda menjadi identitas kebanggaan nasional. Kini, muda-mudi (mungkin tidak semua) menanggalkan identitas nasionalnya dan berbangga dengan pakaian mahal mode barat, berbicara lancar dalam Bahasa Inggris, memiliki minat besar di dunia tarik suara dengan standar barat, menjadi produser film picisan dengan cerita-cerita jiplakan dari barat dan menamai anak-anak mereka dengan nama para penjajah kita dulu.

Adakah semua itu tidak tampak seperti kutukan?

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015.

, , , , ,

4 Comments

Run (baca : lari)

Saya bukan seorang kritikus apalagi mahaguru. Namun, perkembangan budaya akhir-akhir ini, khususnya di kalangan muda-mudi, memancing saya untuk membahasnya.

Color Run. Light Run. Night Run. Seolah-olah menggambarkan jenis kegiatan yang berbeda-beda, padahal semua berada dalam satu rumpun yang sama yakni run (lari;Indonesia). Yang membedakan antara satu dan yang lain bukanlah atas kehendak run itu sendiri tapi manusia sebagai creator yang memang tidak memiliki rasa puas sejak Adam di kahyangan sana.

Manusia ditempatkan dalam Kingdom Animalia bukan tanpa alasan. Tipis. Manusia tanpa pikir, maka binatanglah ia. Begitu juga sebaliknya, binatang dengan pikir, maka manusialah ia. Dan yang mempertautkan antara manusia dengan binatang adalah libido atau hasrat (desire). Manusia dan Binatang memiliki hal yang sama.

Mula-mula ketika mood jelek, muda-mudi berpikir untuk mengkonsumsi coklat untuk menghilang penat. Kemudian, coklat tidak lagi memiliki efek. Ketika rasa gusar itu kembali datang, mungkin, ia akan mengkonsumsi ice cream mahal di mall terdekat. Sayang, ice cream itu lagi-lagi tidak memiliki efek. Maka, mereka akan terus mencari pemenuhan hasratnya. Makan di restoran mahal, belanja membabi buta, bercumbu dengan kekasih atau berganti-ganti pasangan sampai libido itu terpenuhi, padahal tidak mungkin terpenuhi.

***

Run, bisa dikategorikan sebagai meme yang menurut Mihaly Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psycology for the Third Millenium, menggunakan istilah ini untuk menjelaskan unit informasi kultural, yang merupakan padanan dari istilah gen (gene). Istilah meme berkaitan dengan kata Yunani mimesis, yang berarti meniru. Meme adalah semacam pesan kultural yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui contoh-contoh dan imitasi1

Run sebagai meme pun demikian. Melalui dunia nyata yang dilipat dalam bit-bit televise dan media online, Run mengalami salinan (replica), kembaran (doubles), duplikat, ikonisme atau keserupaan (similitude). Sehingga kita bisa saksikan, perkembangannya yang memikat padahal hanya berkutat di masalah olaharaga belaka : lari.

Manusia sebagai puncak rantai makanan memang dikaruniai libido. Saya tidak pernah menyarankan siapa pun untuk menghilangkan libido itu seperti petapa yang mencari moksa di pedalaman hutan Kambodja. Masalah timbul ketika konsep masyarakat tontonan (Society of Spectacle) diperkenalkan . Yakni, masyarakat yang hampir segala kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan, dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Pasif. Dikendalikan oleh media.

Libido. Meme. Society of Spectacle Semua muncul dalam ruang perbincangan budaya. Pertanyaanya bukanlah masalah mana yang baik-buruk, transenden-imanen, luhur-rendah, tapi sejauh mana peran kita sebagai muda-mudi. Penerus kehidupan di masa yang akan datang.

Terpengaruh oleh suatu meme kemudian dengan libido melakukan salinan atau kembaran dan meng-amin-kan diri sebagai masyarakat tontonan. Pasif. Tanpa perlawanan, tanpa daya cipta. Atau, menciptakan meme, membuat orang mempunyai libido untuk meneruskan pesan itu dan mengendalikan mereka sebagai masyarakat tontonan.

Ferry Fadillah

Note :

1. Yasraf A. Piliang, Semiotika dan Hiper Semiotika : Kode, Gaya dan Matinya Makna, Matahari, Bandung, 2012, hlm. 382

, , , , , ,

4 Comments