Posts Tagged bali

Nusa Penida

Bali, Aku pergi sebentar yah

Pergi dari jalanmu yang mulai macet

Mulai gak nyaman, mulai.. aaaa

Bali, Aku pergi sebentar yah..

Pergi dari pantaimu yang katanya indah.

Yang disekelilingnya, dibangun hotel megah.. wah!

Ini Judulnya Belakangan, Nosstress

***

Perhelatan tahunan International Monetary Fund dan World Bank Group pada tanggal 8 s.d. 16 Oktober 2018 di BTDC, Bali adalah kunjungan saya yang ke sekian kalinya ke Bali. Sejak kuliah di bilangan Denpasar sejak tahun 2009, beberapa kali saya meninggalkan Bali untuk sekedar liburan ke kota kelahiran, melaksanakan tugas negara, dan tugas belajar kurun 2014-2016. Jika dihitung secara kasar, lama tinggal saya di Bali sekitar 6 tahun. Waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan Bali dari segala seginya.

Namun, pada tulisan ini, saya tidak memposisikan diri menjadi pengamat sosial karena saya hanya menuangkan kesan yang saya tangkap atas kunjungan ke Nusa Penida, Klungung beberapa hari lalu serta membandingkannya dengan Bali kurun waktu 2009-2013. Layaknya kesan, ia bisa benar dan juga bisa salah, oleh karena itu saya mohon maaf apabila terdapat kekeliruan.

Nusa Penida adalah pulau besar di tenggara Pulau Bali. Secara administratif wilayah ini menjadi bagian Kapubaten Klungkung. Curah hujan di Nusa Penida sangat rendah. Kontur daratan didominasi perbukitan dengan garis pantai yang hampir seluruhnya tebing. Jalur satu-satunya untuk lalu lintas kapal adalah di Desa Toya Pakeh, utara Penida, yang menghubungkan pelabuhan Padang Bay, Sanur dengan dua pulau tujuan wisata lain yakni Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Geliat ekonomi di Nusa Penida terasa lambat. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa lain hanya cukup dilalui dua mobil. Bahkan sebagian besar jalan menuju destinasi wisata seperti Pantai Angel Billabong dan Pantai Klingking dalam kondisi berlubang dan berpasir. Sektor usaha pariwisata lokal yang menonjol adalah homestay lokal yang dikelola secara informal oleh pihak keluarga. Restauran dan minimarket adalah pemandangan langka. Sebagian besar wilayah Nusa Penida adalah perkebunan kelapa, peternakan babi dan sapi, serta semak belukar dengan ranting-ranting kering yang rawan terbakar.

Tapi semua keterbatasan fasilitas publik dan akses tersebut terbayar ketika saya menyaksikan indahnya pemandangan di Pantai Angel Billabong dan Pantai Klingking.. Tebing-tebing tinggi di sebrang laut itu menghubungkan daratan Nusa Penida dengan laut yang sangat biru. Gelombang air laut, udara segar, pepohonan yang menghijau, langit yang cerah dan bebatuan kapur artistik pasti membuat takjub siapapun yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

Nusa Penida mirip degan pantai-pantai di Nusa Dua sebelum ekspansi pariwisata besar-besaran.. Dahulu akses menuju Pantai Dream Beach, Pantai Gunung Payung, Pantai Pandawa dll. sulit untuk ditempuh. Kesulitan itu akan terbayar setelah wisatawan menyaksikan birunya laut dan ombak tinggi yang cocok digunakan untuk olahraga berselancar. Ketelanjangan (naked) dalam arti sesungguhnya pun adalah pemandangan jamak di pantai-pantai Nusa Dua. Namun, semua itu berakhir setelah rombongan bus-bus sekolah menengah atas dari wilayah lain Indonesia mengunjungi pantai-pantai tersebut dan berebut mengambil foto. Mungkin bule-bule itu risih dan memutuskan untuk tetap mengenakan bikini walau berjemur di pantai.

Pariwisata memang menjadi primadona. Pemerintah terus meningkatkan target kunjungan wisatawan asing ke Pulau Bali. Sayangnya, Bali seolah belum siap dalam menanggulangi permasalahan sampah yang menumpuk. Sampah plastik tersebar dipinggir jalan, sungai, danau, dan pantai. Tindak kejahatan juga menjadi jamak di Bali. Tahun 2009 di Denpasar, saya masih sering melihat orang meninggalkan motor di pinggir jalan dengan kunci kontak menempel. Kini, pencurian motor terjadi dimana-mana, kostan juga tidak lepas dari target pencurian bahkan saat penghuninya masih berada di dalam.

Nusa Penida adalah Bali di masa lalu. Hampir semua orang meninggalkan motor dengan kunci kontak yang menempel. Sampah plastik mulai terlihat berserakan tapi belum sampai mencemari pantai. Mungkin ini adalah berkah dari lambatnya pertumbuhan ekonomi. Karena tidak semua wisatawan ingin menikmati peradaban kapitalis berupa resort mewah dan restaurant premium dengan pemandangan pantai. Ada sebagian orang yang rindu dengan keaslian. Alam itu indah pada dirinya sendiri. Manusia berusaha memaksakan ide budayanya dengan menghancurkan tebing dan menebang pepohonan. Dalam logika kapitalisme liberal, setiap potensi pariwisata harus dimiliki korporasi dengan dalih peningkatan kesejahteraan rakyat. Padahal tanpa mereka rakyat tetap hidup sejahtera dalam kesederhanaan.

Saya berharap Nusa Penida tidak mengalami ekspansi industri pariwisata berlebihan seperti yang terjadi di pulau induknya. Biarlah alam mengajarkan kepada para manusia tentang keindahan asali yang kali pertama Tuhan ciptakan bagi semua makhluk.

Ferry Fadillah. Nusa Penida, 19 Oktober 2018

Advertisements

, ,

1 Comment

Ubud

pada detik di meja kantor

orang pada menanti

“Kapan ini akan berhenti?”

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

(“Kantor. Maret, 2017)

 Hampir bisa dipastikan tidak ada seorang pegawai pun yang rela menghabiskan masa hidupnya di kantor. Itulah mengapa para karyawan bersorak ketika jumat datang dan bersedih saat senin menjelang. Itu semua manusiawi. Susunan fisiologis manusia memang diciptakan untuk bergerak dan melihat alam bebas, bukan duduk anteng dengan tumpukan dokumen di depan meja.

Bagi pegawai di wilayah Bali, saat-saat jenuh bekerja di kantor bisa diobati dengan berwisata bersama kerabat. Lari di tepian pantai Kuta, bersepeda di pantai Sanur atau mandi air hangat di bawah kaki Gunung Batur. Namun, seiring dengan meningkatnya arus wisatawan dalam dan luar negeri, dibeberapa titik pulau ini kepadatan dan keruwetan menjadi pemandangan jamak layaknya kota besar lain di Pulau Jawa.

Tapi jangan berkecil hati. Masih ada daerah yang bebas dari segala keruwetan itu. Salah satunya adalah Ubud. Berada di Kabupaten Gianyar, Ubud dapat ditempuh selama dua jam menggunakan sepeda motor dari Kecamatan Kuta. Waktu itu hari kamis, panas begitu terik menciptakan bayang-bayang di aspal jalan. Aku berkendaraan dengan motor sekitar pukul sepuluh pagi dengan membawa ransel berisi buku Sejarah Estetika dan baju ganti seadanya. Sepanjang jalan aku melihat rumah-rumah tradisional yang diubah menjadi showroom kesenian. Mereka menjual patung, relief, lukisan, ukiran kayu, meja, kerajinan tangan, kerajinan perak, buah-buahan, wayang, meja kayu dan produk kesenian lainnya. Read the rest of this entry »

, , , ,

Leave a comment

Alam dan Kebebasan

"Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali"

“Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali”

Camera 360

“Seorang Ibu membawa ikan di atas kepalanya, Amed, Karangasem, Bali”

"Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali"

“Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali”

Ketika kita bekerja,

jiwa kita sepenuhnya bukan milik kita

jiwa kita terkurung oleh aturan dan norma yang mengekang.

Ketika kita liburan,

jiwa kita bebas

jiwa kita bisa melihat kembali mimpi-mimpi yang hampir menghilang ditelan rutinitas

 

Lalu, kemanakah liburan kita?

Perkotaan hanya menyisakan debu dan polusi yang menyiksa

Bapak-bapak tukang bangunan yang bermandi peluh

membangun café dan resort demi sang tuan kapitalis

Ibu-ibu gila uang mangkir di tempat porstitusi

menjajakan tetangga mudanya yang masih gadis

Anak-anak pemukiman kumuh berebut lahan bermain

melawan para teknokrat yan selalu berpikir ekonomis

 

Di sisi lain, Desa berjalan perlahan

Petani yang sederhana berjalan memakul pacul menuju sawah

Ibu-ibu membawa sajen di atas kepala  menuju Pura

Anak-anak bertelanjang ria bermain air di pinggi sungai

Dan saya yang kebetulan lewat berdecak kagum melihat kesederhanaan itu

 

Penduduk desa berusaha menyesuaikan diri dengan alam

Penduduk kota berusaha mengubah alam sekehendak mereka

 

Aku muslim, namun aku tahu nilai sakral sebuah Pura

Lalu mengapa pemerintah mau mengubah beberapa Pura sebagai kawasan pariwisata?

Aku bukan orang Bali, namun aku tahu moral dan etika universal

Lalu mengapa pemerintah mau mereklamasi perairan Benoa?

Ketika pekerjaan, Koran dan manusia di selatan Bali hanya membuat keruwetan

Aku berjalan jauh ke Timur Bali, menuju gunung Batur

Di Karangasem, aku menuju bukit-bukit gersang

Membelah jalan menuju Amed

Pantainya hitam

Bebatuan vulkanik dingin bertebaran

Itu tetap indah, kawan

Lautnya jernih

Aku masuk dan melihat-lihat

Memasukan air laut ke pori-pori, memadatkan cahaya matahari ke tulang-tulang

Lalu..

Aku menari bersama ikan-ikan

Satu jam..

Dua jam..

Tiga jam..

Aku bebas, aku bebas

Aku bebas kawan

Ferry Fadillah
Amed, Karangasem, 10 November 2013
 
 

, , , , , , ,

Leave a comment

Teater

Mencoba sesuatu yang baru merupakan kesenangan yang tak terhingga bagi saya. Apalagi, selama ini , lima kali dalam seminggu, saya selalu melakukan rutinitas membosankan yang saya yakini dapat melumpuhkan daya imajinasi dan kebebasan berpikir.

Oleh karena itu, siang kemarin (24/11), saya berkesempatan untuk menonton kompetisi pertunjukan teater di Gedung Dharma Wanita Lumintang, Denpasar. Kompetisi yang bertajuk “4th Equilibrium Theatre Competition” ini merupakan kompetisi teater SMA tingkat Nasional yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Tidak kalah gengsi, kompetisi ini digelar untuk memperebutkan piala Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Siang itu saya baru sempat hadir pukul 14.00 WITA. Atmosfernya berbeda sekali. Di sana-sini yang saya lihat anak SMA dengan gayanya yang muda. Panitianya pun muda-muda. Hal yang jarang saya temukan selama bekerja dua tahun di Pulau Dewata.

Begitu masuk ke dalam gedung lampu sudah padam. Ternyata pertunjukan sudah setengah berjalan. Dengan santai saya berjalan ke depan dan duduk di lantai. Panas, sumpek, bau itulah yang membuat saya tidak merasa nyaman. Namun, cerita yang membingungkan di depan panggung  membuat saya rela untuk berdiam diri dan menerka-nerka apa pesan yang akan di sampaikan para tokoh.

“Teater”

Setiap SMA dengan komunitas teaternya unjuk gigi satu persatu. Waktu itu hanya ada tiga pertunjukan teater yang saya tonton. Yang paling berkesan adalah pertunjukan terakhir. Pertunjukan yang berjudul Out karya Putu Wijaya dibawakan oleh komunitas teater Angin dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Denpasar. Dengan latar tempat kantor kepala lingkungan/desa. Teater Angin mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan seni yang kaya makna namun tidak terjebak dalam monotonisme. Buktinya banyak penonton tertawa terkekeh karena lelaku para tokoh yang sedikit nakal. Di lain sisi, mereka dapat memotret kelakuan aparat desa yang ada-ada saja walaupun tidak dengan bahasa sarkasme.

***

Teater menurut beberapa budayawan merupakan wadah dimana permainan di rayakan dan kepura-puraan dipertontonkan. Di sana para tokoh dituntut untuk menjadi orang lain selama pertunjukan, ber-gesture, bersuara bahkan berjiwa seperti orang lain. Akan tetapi hal ini tidak menjadikan para pemain teater berubah sifatnya –menjadi orang lain dalam arti sesungguhnya.

Saya hargai, untuk menjadi orang lain berarti dituntut kemauan keras untuk berempati terhadap jiwa orang lain. Dalam lingkup dunia seni teater berarti pemain harus bisa mendalami jiwa sang tokoh. Ketidakmampuannya untuk manunggal dengan sang tokoh akan mengakibatkan datarnya pertunjukan.

Oleh karena itu, saya yakin bahwa dari mereka –para seniman teater- negeri ini akan dipenuhi pemuda-pemudi yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka sudah terbiasa untuk berempati, menyatu dengan jiwa para tokoh. Sehingga mungkin saja mereka bisa ‘menyatu’ dengan penderitaan para kelompok yang termarjinalkan di negeri ini. Dari kepedulian muncul perubahan. Dan itu dimulai dari sebuah panggung teater. Semoga.

Ferry Fadillah
25 November 202
 
sumber gambar :www. whutzups.net

, , , , , , ,

2 Comments

Lansekap Subak Catur Angga Batukaru

“hijau”

“takjub”

“konyol”

Yah, anak kota  -walaupun berasal dari desa- tetap saja kehidupan kota lebih dominan di dalam otak mereka. Dari pagi hingga malam hanya tembok, gedung, dan komputer yang mereka hadapi. Semua mati, tidak menyejukan dan membuat gersang jiwa.

Sesekali mereka keluar bersama kawan dan sahabat  menuju utara Bali yang masih tenang dan bersih. Tabanan tujuannya. Terhampar lansekap terasering yang menghijau, hijau yang berbeda dari sawah-sawah yang mereka temukan di Pulau Jawa. Di sini ada alam, kepercayaan dan sosial kemasyarakatan. Semua bersatu, saling melengkapi satu-sama lain. Tri Hita Kirana mereka sebut.

Bentang Lansekap Budaya Provinsi Bali : Sistem Subak sebagai manifestasi filosofi Tri Hita Karana, merupakan kesatuan kawasan yang meliputi Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur, Lansekap Subak dan Pura pada DAS pakerisan, Caturangga batukaru dan Pura Taman Ayun, telah ditetapkan dalam Daftar Warisan Dunia atas dasar Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia. Penetapan dalam Daftar Warisan Dunia menegaskan bahwa kawasan budaya atau alam yang memiliki nilai universal yang luar biasa, layak mendapatkan perlindungan untuk kemanfaatan bagi seluruh umat manusia. (Tulisan pada Tugu UNESCO, Jatiluwih, Tabanan, Bali)

Ferry Fadillah
18 Oktober 2012

, , , ,

Leave a comment

Bali Cliff

Tahun lalu saya pernah mengulas sebuah potensi wisata yang masih sepi pengunjung di selatan Kabupaten Badung, Bali, yaitu Pantai Bali Cliff. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi lokasi wisata ini pada tanggal 9 September 2012, pukul 17.00 WITA. Adapun kondisi pada saat itu yakni suhu diperkirakan 23-31 derajat celcius, langit cerah berawan, air laut surut menampakan hijaunya karang.

Semoga ulasan ini bisa menjadi informasi bagi anda yang mempunyai rencana berwisata ke Pulau Dewata. Terima kasih.

Ferry Fadillah, 10 September 2012

Foto oleh Yudha AP

, , , , , ,

Leave a comment

Damainya Lovina

Pembaca yang terhormat, bukan maksud saya untuk berangkuh ria memamerkan segala tujuan wisata, namun saya ingin mengajak anda melihat keindahan alam Indonesia ini walaupun belum pernah mengunjunginya. Terutama Bali, sebuah destinasi wisata dengan segala potensi daerah yang tidak ada habisnya. Pesisir Pantai yang indah, pegunungan yang serasi dan kebudayaan yang unik. Beruntung waktu itu saya memiliki kesempatan untuk mejelajahi utara bali (jalur denpasar-bedugul-singaraja) bersama seorang kawan. Dengan persiapan seadanya kami bermalam di Kota Singaraja yang sepi. Esoknya, dini hari, kami mencari pemilik jukung untuk mengantar kami melihat lumba-lumba. Dan ternyata, wow, semua keindahan ini hanya bisa saya haturkan dalam tiga buah gambar. Selamat menikmati

“Wisatawan asing dan lokal, dengan menggunakan jukung, mencari sekumpulan lumba-lumba di lepas laut Bali, Lovina, Buleleng, Bali”

 

, , , , ,

Leave a comment

Terasering di Ceking

Sawah ? Untuk apa saya upload foto sawah di blog ini. Pemandangan biasa di Pulau Jawa dan  pulau-pulau lain di nusantara bukan ? Namun saat itu entah mengapa saya terisnpirasi salah seorang senior yang mendeskripsikan sawah sebagai ‘keindahan yang tidak bisa dipresentasikan melalui kata-kata’. Sejak itu saya tersihir, dan mencoba mengunjungi terasering di Ceking, Tegalalang, Gianyar.

Di sebuah cafe sederhana, dengan pondok-pondok bambu ber-design bali saya terdiam. Terkadang menyeruput kopi dan memamah biak pisang goreng. Pandangan saya tujukan ke hamparan hijau pesawahan, petani yang bekerja keras dan para turis asing yang riang gembira melihat keajaiban yang sulit ditemukan di negaranya.

Hal ini biasa, tetapi kalau kita mau memendam rasa angkuh kita, dan melihat sesuatu dari sudut pandang lain, kebahagiaan akan menghampiri dan menghiasi perjalanan wisata kita sampai tiba esensi dari setiap kepariwisataan : kesan.

Selamat Mencari Kesan di Bali 🙂

“bukan promosi loh :)”

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Pura Goa Gajah

“Arca Bidadari di depan Goa Gajah. Terdapat tiga arca di utara dan selatan, sehingga seluruhnya berjumlah enam. Dari arca ini keluar air (simbol kesuburan) menuju pemandian sakral”

“Pintu Masuk Goa Gajah. Gua berbentuk ‘T’ ini terdapat Arca Ganesa di sebelah barat dan Lingga Siwa di sebelah Timur”

“Arca Ganesa di sebelah Timur Goa”

“Lingga di sebelah Timur Goa Gajah. LIngga ini merupakan peninggalan sekte Hindu Siwa Pasupata. Ke-3 lingga ini sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Tri Pusura”

Ferry Fadillah
Badung, 1 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Bacot Saya Mengenai Budaya

Saya gigih soal itu karena, pertama, saya orang batak. Kedua, masih banyak anak muda batak, juga dari etnis lain, yang malu mengakui asal etnisnya. Saya ingin mengembalikan mereka kepada budayanya. Karena jika setiap etnis di Indonesia ini kuat budayanya, Indonesia pun akan menjadi Negara yang kuat dan terpandang di dunia internasional, Viky Paulus Sianipar, Musisi dan Komposer (dalam Kompas edisi 8 Mei 2012)

***

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, ketika jiwa ini begitu menggebu-gebu menggali nilai-nilai budaya yang saya punya : Budaya Sunda. Banyak artikel, wacana, buku atau petuah sunda yang saya lahap, saya cerna dan saya coba terapkan dalam kehidupan. Sayangnya orang mempunyai perspektif negatif dengan kegemaran saya itu, saya dikatakan kolot, tua dan ketinggalan zaman. Dalam batin saya mengelak, bahwa saya berjalan di jalan yang benar, sebuah proses menuju keontentikan identitas.

Opini negatif sialnya datang dari manusia angkatan baru (muda), yang disematkan kebanggaan agent of change, yang katanya dapat merubah kehidupan berbangsa kita yang kian hari kian hilang kehormatan di dunia internasional, tetapi nyatanya malah jauh dari nilai budayanya sendiri. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan mereka semua, dan saya menaruh rasa hormat yang tingi kepada manusia baru (muda) yang rela mengerahkan segala daya dan upaya untuk menggali dan merevitalisasi nilai-nilai budaya luhur melalui cara-cara mereka sendiri : musik,kegiatan sosial, fesyen dan sebagainya.

Mungkin kita bertanya ? Untuk apa sih saya cerewet masalah budaya ini toh yang penting kita menjadi manusia cerdas dan sejahtera ? Ok saya setuju pendapat itu, namun terus terang ada yang ganjil. Saya ingin manusia muda itu menjadi cerdas dan sejahtera dengan cara mereka sendiri, otentik, berbalut budaya leluhur mereka, bangga dengan etnis mereka namun tidak terjebak dalam etnosentrisme sempit-mengagungkan etnis dan budaya sendiri serta memandang rendah etnis dan budaya lain.

Saya menggebu-gebu karena di Bali para wisatawan asing begitu terkesima melihat budaya materi kita : seni tari, lagu-lagu, ritual-ritual. Karena mereka melihat luhurnya budaya kita, cerminan dari kedekatan para leluhur kita dengan Tuhan, alam dan kehidupan sosial. Berbeda dengan kebudayaan materi post-modernisme yang dipenuhi banalisme, kerendahan, bentukan kekuasaan korporat budaya dan jauh dari nilai-nilai transenden.

Ah, sebenarnya masih banyak yang harus saya sampaikan sampai-sampai saya bingung apa inti dari tulisan ini. Untuk mengakhirinya, saya dengan rasa hormat dan tanpa memandang diri paling peduli, mengajak kepada pembaca untuk kembali menggali nilai-nilai budaya kita, mencari tahu siapa kita, siapa leluhur kita, bagaimana seharusnya kita hidup dengan identitas kita itu.Namun janganlah bingung masalah etnis, suku, karena saya memandang etnis atau suku sebagai value bukan sebagai gen. Bapa saya seorang sunda, Ibu saya seorang padang, namun saya lahir di tanah sunda, hidup di lingkungan sunda, cinta budaya sunda dan berinteraksi dengan orang sunda, maka saya berikrar saya telah ber-value sunda dan pada saat itulah saya menjadi seorang sunda.

Ingat, suku itu adalah nilai bukan gen. Maka cintailah etnisitas mu.

Ferry Fadillah
Bali, 8 Maret 2012

“Sekelompok orang menggunakan pakaian adat sunda di Braga Festival tahun lalu, Bandung, Jawa barat”

, , , ,

5 Comments

Air Terjun Gigit

"Jalan menuju The Twin Waterfall, Air Terjun Gigit, Bedugul, Bali"

Tadi, ketika matahari masih jauh dalam perjalanan menuju peraduannya, aku berjalan menuruni anak tangga yang dikelilingi pemandangan indah di kedua sisi-sisinya. Pohon, semak dan perdu lah yang menjadi pemandangan indah itu. Ketiganya berkolaborasi mencipta pemadangan yang begitu menenangkan hati. Dari kejauhan terdengar gemuruh air yang terhempas jatuh, semakin aku menuruni anak tangga  semakin dekat gemuruh itu terdengar.

"The Twin Waterfall, Air Terjun Gitgit"

Pada akhirnya, aku menemukan sebuah hal menakjubkan. Sebuah air terjun besar  tingggi, dengan airnya yang bening bersih, mencipta sebuah pengalaman keindahan yang memenuhi dimensi fisik dan spiritual sekaligus. Buihnya berhamburan, menampar halus sekelilingnya dan diriku, dan menjadikannya segar dan bersemangat. Dari tempatnya jatuh, sebuah kolam dengan dasar batu, menyala-nyala bak terbakar api biru dari dalamnya. Begitu indah nyala biru itu, menerangi apa yang sekelilingnya tidak terterangi.

Setelah cuku puas, aku pun kembali naik untuk melihat air terjun yang kedua. Sebuah air terjun yang sama tidak kalah indahnya. Kali ini aku mengangkat celana jeans ku hingga paha dan memasuki kolam hasil terjunan air tersebut. Ternyata, segar ! dingginnya merasuk hingga ke sumsum tulang belakang. Walau aura mistis terlukis dari dinding-dinding tebing yang dihiasi tanaman gantung, namun hal itu menjadikan air terjun tersebut, sekali lagi, terlengkapi secara fisik dan spiritual. Aku pun berlama-lama menikmati air di kakiku itu, sesekali mebasuhnya ke lengan dan muka. Memandangi dasarnya yang bening, dan melakukan basuh membasuh yang sama berulang-ulang seolah hendak memindahkan jiwa air terjun itu ke dalam diriku. Ternyata aku baru sadar, bahwa air terjun yang satu ini berbeda, ia kembar, bersama-sama selama berabad-abad mencipta keindahan ini, tanpa ada pertentangan dan perselisihan.

Tidak terasa, raga pun haus akan asupan energi, tubuhku lemas, dan mentari sudah mulai malu berlama-lama di angkasa. Aku menghirup dalam-dalam sekelilingku, memejamkan mata, seolah menyimpan semua memori yang telah aku lihat sedalam-dalamnya ke dalam relung jiwaku. Aku lambaikan tanganku kepada tempat menakjubkan itu, sebagai tanda terima kasih kepadanya. Tangga naik kembali aku susuri, terus keatas, sampai kepada gerbang antara keindahan dan rusaknya perbuatan manusia.

Bali, 27 Maret 2011
Ferry Fadillah

, ,

Leave a comment

Pulau Dewata

Oleh Ferry Fadillah

kerinduanku kepada pulau dewata tidak lah lebih besar
daripada kerinduanku kepada tanah sunda..
tanah yang, semenjak aku masih berupa segenggam daging dalam rahim ibuku,
telah  menciptakan sejuta rasa..
tanah yang, semenjak aku menemukan kekasih yang begitu terkasih,
telah menciptakan seribu asa..
tanah yang, semenjak aku harus meninggakannya untuk pengaharapan baru,
telah mencipta seribu duka..

lain dengan dewata..
walau aku baru membuka mata tuk bersua..
tapi aku sadar
aku telah jatuh cinta
seolah inilah alam terindah di saptabuana..

kini, sepertinya kita akan lama tak jumpa
saling mengikat rasa, dan menapaki asa
tapi tidak lah mengapa, karena aku tidak pernah alpa
akan indahnya alam dewata

,

Leave a comment