Bunuh Diri

httpwww_esquire_co_ukBaru-baru ini, beredar di jejaring Whatsapp, dua orang wanita muda terjun bebas dari apartemen mewah di Kota Bandung. Perekam video waswas sambil terus melantunkan kalimat ilahiah. Diduga, keduanya memiliki masalah kejiwaan.

Beberapa bulan sebelumnya, pukul sembilan malam, di depan toilet Terminal Kampung Melayu, Ahmad Sukri meledakan bom panci rakitan yang dibawanya di dalam ransel. Satu polisi tewas di tempat. Dua polisi meninggal di rumah sakit. Sukri adalah salah satu jejaring ISIS di tanah air.

Tahun lalu, selepas ceramah Ustadz Evi Efendi di Masjid Al-Latif, seorang pemuda memberikan persaksian. Pernah dirinya dirundung setumpuk masalah. Diputus kekasih, dipecat atasan, dijauhi keluarga. Baygon dengan campuran porselin muncul sebagai solusi. Untung mati belum teraih. Tuhan masih memberinya kesempatan.

Menurut Emile Durkheim (1858-1917), bunuh diri tidak dipengaruhi oleh individu, tetapi fakta sosial yang meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Fakta sosial bisa diteliti secara empiris-objektif sedangkan pilihan individu terlalu subjektif.

Konsekuensi dari pemikiran ini, Durkheim menampik faktor bunuh diri para peneliti sezamannya. Seperti bunuh diri akibat pengaruh alkohol, ras dan keturunan, faktor alam dan imitasi. Di dalam bukunya Suicide, ia membantah semua faktor itu dengan semangat positivisme dan fungsionalisme.

Di dalam bukunya itu, Durheim menjelaskan bahwa bunuh diri disebabkan oleh ketidakseimbangan integrasi dan regulasi di dalam faktor sosial. Integrasi yang terlalu rendah menyebabkan bunuh diri egoistik. Sebaliknya, integrasi yang tinggi menyebabkan bunuh diri altruistik. Begitu juga dengan regulasi. Tingginya regulasi menyebabkan bunuh diri fatalistik, sedangkan rendahnya regulasi menyebabkan bunuh diri anomik.

Dalam kasus seorang pemuda yang meminum baygon, setelah dirundung masalah ia lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Baginya ia bukan lagi bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan lagi bagian dirinya. Pada saat itulah perasaan kecewa, depresi dan kesedihan muncul. Maka kasusnya disebut bunuh diri egoistik.

Sebaliknya, saat pertalian individu dengan sebuah kelompok terlalu tinggi, maka seseorang dapat meniadakan diri demi kelompoknya. Harapannya adalah sebuah alam ‘sana’ yang lebih indah dan menawarkan kebahagian sepanjang masa. Hal seperti ini terjadi dalam kasus bunuh diri atas nama agama seperti yang dilakukan gerombolan ISIS atau harakiri dalam kebudayaan Jepang.

Dalam faktor sosial berupa regulasi juga hal tersebut dapat terjadi. Saat terjadi depresi ekonomi, kebutuhan hidup begitu sulit atau seorang buruh migran yang diperlakukan dengan biadab. Maka bunuh diri fatalistik dapat menjadi pilihan. Sebaliknya yang akhir-akhir ini pada seorang musisi. Ketenaran diraih, kekayaan digapai, kebebasan gaya hidup menjadi kebiasaan.  Tapi kemudian ia kehilangan makna hidup. Maka bunuh diri anomiklah yang terjadi.

Emile Durkheim dalam teorinya ini benar-benar membuat penyangga yang kaku antara pilihan individu dan faktor sosial. Hal ini lumrah melihat kepercayaan filsafatnya yang positivistik dan fungsionalistik.

Santi Marliana, Mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, dalam skripsinya berjudul Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu: Analisa Kritis Filosofis Terhadap Konsep Bunuh Diri Emile Durkheim membantah teori Durkheim. Ia menggunakan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan sosiologi Max Weber untuk membantah Durkheim. Menurutnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih karena manusia memiliki kesadaran atas konsekuensi pilihannya. Seseorang yang bunuh diri tentu secara sadar mengerti akibat dari pilihannya. Keputusannya tidak semata-mata merupakan konstruksi faktor sosial.

Sebenarnya, antara pilihan individu dan faktor sosial memiliki tali temali yang saling mempengaruhi. Semua memang berasal dari faktor sosial yang membentuk alam berpikir masyarakat. Suprastruktur menentukan infraksturktur dalam bahasa Marxian. Namun, masalahnya sekarang bukanlah apa mempengaruhi apa. Tapi sebuah solusi konkrit untuk menekan angka bunuh diri di negeri ini.

Agama, yang akhir-akhir ini hadir sebagai mata air yang diperebutkan, bisa menjadi solusi ampuh. Agama menghadirkan dimensi lahir-batin dengan kekayaan pemikiran dan ritual yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Masalahnya timbul, ketika agama hanya dipahami dengan pendekatan normatif-politis. Alih-alih, memunculkan ketenangan dan kedamaian, pada titik ekstrim pendekatan ini akan memunculkan pengantin-pengantin bom bunuh diri yang siap mengancurkan para kafir dan thagut.

Ada dimensi esoteris dari agama yang kerap terlupakan. Ada penyucian jiwa dan pengembangan intuisi dengan seni dan ritual yang dianggap sesat. Sebagian pemuda hijrah yang gandrung agama hari ini sibuk dengan hukum dan menghukumi. Begini benar, begitu salah. Ini salaf, itu murtad. Padahal harusnya mereka memahami agama beserta dimensi spiritualnya. Harapannya mereka menjadi oase di tengah kehidupan yang akhir-akhir ini depresif bukan malah menjadi penyulut bara dalam sekam yang sudah muram.

Semangat mencari pemahaman universal atas agama juga bisa menyumbang permasalahan serupa. Mereka cenderung berfikir bahwa sistem yang sesuai dengan tafsiran kelompoknya akan menuntaskan setiap permasalahan, tanpa kecuali. Tafsir-tafsir itu harus sesuai dengan garis politik pendiri partainya. Disebarlah brosur di masjid, direkrutlah pemuda universitas. Pekik perubahan disuarakan dijalanan. Semua kebijakan pemerintah jadi serba salah. Niat luhur untuk mengubah yang diluar tapi mungkin lupa untuk melihat yang di dalam.

Kini, saatnya, dalam beberapa hal, agama ditarik ke arah individu. Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda dalam mengarungi samudra agama yang begitu luas. Begitu juga dengan permasalahan dan kesukaran yang dihadapi manusia berbeda dengan manusia lainnya.

Seorang ibu rumah tangga yang dihimpit hutang oleh para rentenir belum butuh kajian pergerakan Islam. Seorang pemuda yang kesepian belum butuh kajian fiqih empat mahzab. Seorang pekerja yang ditindas atasannya belum butuh ceramah pernikahan. Biarlah agama berbicara bagi permasalahan mereka masing-masing. Keluar dari universalitas menuju keragaman partikular yang pluralistik. Tantangan agama kini bukanlah mewujudkan negara adidaya lintas bangsa seperti ribuan tahun silam, tapi menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang resah.

Semalam, diriku seorang yang pandai dan aku berhasrat mengubah dunia. Hari ini, aku seorang yang bijaksana dan aku mau mengubah diriku sendiri, -Jalaludin Ar-Rumi-

 Ferry Fadillah. Kuta, 27 Juli 2017.

***

sumber gambar: http://www.esquire.co.uk

, , , , ,

2 Comments

Mutasi

“Alhamdulillah, selamat ya Mas.”

“Selamat, Mas. Semoga betah di tempat yang baru.”

Pesan melalui layanan Whatsapp dengan nada serupa datang bertubi-tubi. Tambahannya adalah tanda emosi (emoticon) diantara kalimat sehingga pesan lebih atraktif dan ekspresif. Namun, pesan itu tidak tertuju kepada saya pribadi. Pesan-pesan itu adalah kehebohan hasil kopi-tempel di grup kantor. Persis seperti ucapan selamat ulang tahun.

Malam sebelum lebaran sebuah keputusan mutasi terbit. Hal serupa sudah pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat kenyamanan terhadap Bali sudah mengakar kuat dan segala kegiatan sudah menjadi rutinitas. Keputusan mutasi di malam sabtu itu terulang lagi. Dan, lagi-lagi, mengusik ketenangan, meluluhkan setiap rencana.

Tapi, apa yang bisa diperbuat seorang pegawai negeri rendahan yang suaranya redam dipusaran para elit. Tidak ada yang bisa diperbuat kecuali berkata “asu” yang disusul kalimat-kalimat istigfar.

Mutasi bagi pegawai negeri pusat di daerah adalah niscaya. Dalam jangka empat sampai lima tahun seorang pegawai bisa berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain, dari satu kota ke kota lain. Memang ada fenomena lain. Seperti yang berputar hanya antar kota satu provinsi atau satu kota antar kantor. Tapi itu adalah anomali. Hanya orang-orang beruntung atau mungkin para penjemput keberuntungan yang bisa meraih itu. Beberapa kawan pernah menyarankan. Dekati bapak ini, dekati bapak itu, tapi hati berkata lain. Bagaimana bisa saya melakukan itu bila setiap hari mengucap, “Hanya kepada-Mu lah memohon dan hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan!”

Maka, cara elegan untuk menghadapi keputusan mutasi dari pusat kekuasaan itu adalah nrimo. Dipindah atau tidak dipindah. Diputar atau tidak diputar. Toh hidup akan selalu menawarkan ketidaknyamanan. Kenyamanan hanyalah utopia di dunia dan realita di surga.

Saat berada di rantau, yang dipikirkan adalah harga tiket yang mahal. Harga sewa kamar yang tinggi. Atau rasa sepi yang selalu menikam dalam sunyi. Begitu berada di kota asal masalah juga akan datang. Mengatur waktu menjemput anak. Membagi waktu dengan istri. Atau menampik tawaran mantan yang kerap ingin kembali. Karena inilah hidup.

Namun, saya paham, tidak semua orang memiliki pikiran seperti ini. Mungkin ada yang menyikapinya dengan keras. Setiap keputusan mutasi yang dianggapnya semena-mena akan ditampiknya dimeja pengadilan. Tidak peduli biaya yang dikeluarkan. Mengalahkan pusat kekuasaan di meja hijau tentu merupakan kenikmatan yang hakiki.

Orang seperti itu tidak boleh dipaksakan untuk nrimo begitu saja. Itu sudah menjadi tabiatnya. Mungkin itu adalah cara Tuhan menegur penguasa. Agar lebih arif dalam menelurkan kebijakan mutasi.

Kenapa harus lebih arif? Karena keputusan mutasi bukanlah perihal mengganti kolom kantor lama dan kolom kantor baru atau memasukan nama pegawai beserta nomor induk dan gelar-gelarnya itu. Kata-kata dalam keputusan tidak bernyawa, tidak memiliki keluarga, tidak berperasaan. Mereka hanyalah deretan tinta yang patuh digilas mesin cetak dan dilipat dalam amplop. Manusia bukan kata-kata. Ia punya nyawa, punya keluarga, punya perasaan yang harus dihormati. Urusan pindah memindah manusia harus memperhatikan itu semua.

Bagaimanapun kearifan itu berusaha dicapai tentu akan ada selalu cela dalam tangan manusia. Tidak ada manusia sempurna. Dalam setiap keputusan tentu selalu saja ada penolakan. Bagaimana mungkin memenuhi keinginan pegawai negeri yang tersebar dipelosok nusantara. Pembuat kebijakan hanya bisa meminimalisir kekecewaan. Jangan sampai ada banyak pegawai yang berkata “asu” namun lupa menutupnya dengan istigfar.

Terakhir, pesan saya bagi para pegawai negeri rendah di seluruh Indonesia yang melihat mutasi sebagai momok menakutkan. Bersabarlah, kiranya Tuhan bersama kita.

Ferry Fadillah. Kuta, 20 Juli 2017

, , , , ,

2 Comments

​Islam Tuhan, Islam Manusia

IMG20170626065504

Banyak muslim dari Mahzab Sunni yang merasa ragu ketika akan membaca buku ini. Alasannya, penulis dan penerbit diindikasi terafiliasi dengan Mahzab Syiah*). Dalam sebuah sesi wawancara oleh wartawan Madina Online bersama Haidar Bagir di bilangan Depok. Warsa Tarsono menanyakan, “Anda sendiri syiah atau sunni?” yang dijawab berikut: “Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga. Bukan Syiah dan Sunni lagi. Saya pernah menulis bahwa non-Muslim tidak identik dengan kafir.” Jawaban ini mengukuhkan manifestasi ke-Islam-an Haidar Bagir pada bagian pembuka, yaitu: keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi.

Buku ini adalah upaya menjawaban fenomena merebaknya gerakan Islam konservatif**) yang menemukan panggung terbuka setelah kejatuhan Orde Baru, keterbukaan informasi dan demonstrasi besar-besaran melawan penista agama di Ibu Kota beberapa waktu silam. Tidak hanya itu, ada juga gerakan Islam trans-nasional yang berupaya mengubah dasar negara berdasarkan keyakinan bahwa tata negara islam (berdasarkan pemahamannya) adalah solusi segala permasalahan umat. Gerakan-gerakan tersebut dalam titik ekstrim memiliki dampak negatif bagi keutuhan bangsa Indonesia yang dibangun atas keragaman agama dan kepercayaan.
Padahal agama, setelah manusia merasakan manfaat besar dari kemajuan teknologi dan pengetahuan, adalah mata air yang sedang menjadi tujuan mayoritas manusia modern. Hal ini senada dengan pendapat William James dalam Varieties of Religious Experience (1904), “….meski “sains” boleh jadi akan melakukan apa saja yang melawan kecenderungan ini, manusia akan terus bersembahyang sampai akhir masa.. Dorongan naluriah untuk bersembahyang adalah konsekuensi niscaya dari fakta bahwa -meski bagian paling dalam dari diri- empirisnya adalah Diri yang bersifat sosial – ia hanya akan bisa menemukan Kawan yang menentramkannya (yakni, “Kawan-agung-Nya”) dalam dunia ideal.”

Tentu kita tidak mau, disaat musim hijrah yang sedang populer kini, para pemuda kita terjebak dalam gerakan ekstrim. Seperti gerakan amar makruf nahi munkar penuh kekerasan, presekusi yg melecehkan hukum dan wibawa negara, agenda makar terhadap pemerintah bahkan ISIS yg belakangan menghancurkan Kota Marawi, Filipina.

Haidar Bagir dalam buku ini berusaha untuk mengajak pembaca muslim kembali mengawinkan Agama dengan Filsafat (yg sempat mesra selama beberapa abad) untuk mendapatkan pemahaman Islam yg lebih spiritualistik-mistis dan holistik. Menurutnya, fokus kepada syariat (bukan meremehkan syariat) semata-mata tanpa dibarengi perubahan akhlak yang baik hanya akan menumbuh suburkan kelompok yang merasa benar sendiri di negeri ini. Misalnya kelompok takfiri yang dengan mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain bahkan terhadap sesama saudara muslimnya.

Kita perlu belajar dari sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Walaupun Sunan Takdir Alisyahbana menyatakan bahwa lapisan budaya Islam telah membawa rasionalisme keagamaan dan ilmu pengetahuan faktanya Islam mayoritas bangsa Indonesia tidak semodernis itu. Lapis Islam pun sesungguhnya masih banyak dikuasai spiritualisme, bahkan panteisme (monistik) yang menekankan kebersatuan manusia dengan alam selebihnya dan Tuhan. Itulah mengapa dakwah walisongo begitu mudah diterima oleh para masyarakat Hindu yang pada masa itu kental oleh mistisme dan wacana esoteris.

Islam Tuhan, Islam Manusia juga berarti bahwa Islam semenjak berada dalam ranah manusia tidak akan pernah lepas dari prakonsepsi budaya, kepercayaan, pendidikan dll sehingga selalu memiliki tafsir yang beragam. Tidak ada satupun ulama atau golongan, sepanjang mereka menggunakan cara ilmiah dalam menafsir, boleh menganggap tafsir yang berbeda darinya sesat atau bahkan kafir.

Haidar juga mempromosikan Islam cinta sebagai basis gerak. Kenyataannya memang begitu. Bukan saja Tuhannya Islam adalah Tuhan kasih sayang yang menyatakan “Kasih sayang-Ku meliputi apa saja” dan “Kasih sayang-Ku menundukan murka-Ku”, tetapi juga sebagi al-rahman al rahim: Yang menyayangi seluruh makhluknya tanpa terkecuali dengan semua bekal yang memungkinkannya hidup berbahagia, dan memberikan kasih sayang khusus berupa petunjuk kepada manusia yang mau menapaki jalan-Nya.

Akhirul kalam, semoga buku yang apabila dibaca dengan kaca mata kritis ini dapat menjadi oase dari padang gurun huru-hara berlatar belakang agama yg kini merebak tidak hanya di Indonesia namun seluruh penjuru dunia ini. Amin.

Ferry Fadillah. Juni, 2017.

 

 

Catatan Kaki:

*) menyebut syiah sebagai Mahzan masih menyulut kontrovesi. Penyebutan dalam tulisan ini semata-mata menggunakan hasil Konverensi Aman di tahun 2009

**) fenomena konservatisme di bahas dalam majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017 dalam sesi liputan khusus bertajuk “Konservatisme dalam Banyak Segi”

, ,

2 Comments

Ayo Makan, Ma

Bocah itu membuka setengah kaca mobil. Air hujan membasahi wajahnya. Dinginnya menentramkan jiwa. Hutan pinus di pinggir jalan menebar aroma daun basah. Tanah yang diguyur air. Serangga-serangga yang bernyanyi di dahan mahoni.

“Boy, tutup kaca! Nanti basah baju kamu!”, perintah Ibu dari bangku depan. Sebelahnya Ayah sedang mengemudi. Pukul satu siang hari, kabut mulai turun dari gunung Sunda, menutup jalan menebar aura mistik.

Dua jam berlalu. Perjalanan yang sungguh menyenangkan. Di sepanjang jalan terhampar kebun teh. Warnanya hijau tua dengan galur jalan bagi para petani. Penjaja makanan ringan dengan rumah kayu berderet. Penjual tape, indomie, sate kelinci dan sate biawak. Di sebuah kampung, di puncak bukit, sebuah rumah sederhana berdiri, itulah tujuan kami.

Setibanya di sana, Ibu membuka perbekalan. Ada nasi merah yang masih hangat. Ikan terasi jambal roti. Tahu Yun Yi digoreng setengah matang. Sambal terasi mentah dengan air jeruk nipis. Ayam kampung goreng dengan serundeng penggugah selera. Kami bertiga berkumpul di teras rumah. Berdoa dimulai. Ibu menyuapiku. Sesekali bersenda gurau dengan ayah. Aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan. Perutku sangat lapar. Hanya makanan dan alam yang membuatku diam.

***

Hujan deras mengguyur Kintamani. “Aduh, gimana sih sayang, kok kamu ngajak ke sini. Udah tau ujan!”, wanita sebelahku geram sepanjang perjalanan . Dia memang selalu begitu. Setiap keputusanku tidak pernah ia aminkan. Seperti para pendemo di depan istana Negara.

Aku jarang menjawab tuntas celotehannya. Sesekali aku melihat dan tersenyum kecut. Kalau amarahnya bertambah, aku hanya menjawab “iya, iya..” atau “Sabar yah, sayang” dan berdoa semoga Tuhan memberikan damai di dalam hatinya. Tapi ia tidak pernah diam. Ia selalu berbicara tanpa peduli kapan dan dimana.

“Kamu tuh ya kalau aku lagi ngomong dengerin kenapa sih. Daritadi iya.. iyaa.. doang. Udah bosen yah sama aku. Kalau bosen cari cewe lain aja. Dulu aja perhatian sama aku. Giliran udah bertahun-tahun pacaran kok jadi dingin gini sih. Ah, nyebelin!”

Aku malas menanggapinya. Aku biarkan celotehnya masuk ke telinga dan hilang dihempas melodi hujan. Pikiranku fokus ke jalan. Telat sebentar saja maka kabut dari Gunung Agung akan menutup keseluruhan kota. Jika sudah begitu kita hanya bisa duduk dan berdoa.

IMG_20170613_104529_314Sebenarnya ada yang aku sesali dari kisah cinta kami. Sejak kali pertama bertemu dengannya aku jadi jarang bertemu ibu. Setiap malam minggu ia selalu saja mengajakku ke bioskop, nonton konser musik atau makan di restauran jepang terkenal. Aku turuti semua ajakannya.

Tapi ada yang mengganjal di dalam hati. Setiap ia berbicara di depan meja makan atau duduk di bioskop, aku selalu membayangkan ibuku yang menjadi dia. Ibuku yang selalu tersenyum walau gurat tua sudah mulai mengakar di wajahnya. Ibuku yang selalu menanyakan kabar anaknya tanpa basa-basi cinta dan kata sayang. Ibuku yang selalu peduli dan cerewet itu.

Aku punya sebuah obsesi. Berkelana bersama Ibu dan ayahku. Mengajaknya keliling pulau-pulau di zamrud khatulistiwa ini. Berlayar dari Bali menuju Pulau Komodo. Bertemu ragam budaya, melihat Danau Kelimutu dan merasakan ragam kuliner. Atau mungkin kita berjalan menuju sebuah bukit, membuka bekal nasi merah dan merasakan suasana damai seperti kecil dulu. Dengan hujan, angin lembah dan bau tanah saat diguyur hujan.

***

Tujuanku sedikit lagi sampai. Mobil aku parkirkan di pinggir hutan. “Sayang, aku di mobil aja yah. Males ah becek kalau ke sana”. Tanpa menoleh aku mengiyakannya. Kemudian aku ambil perbekalan di bagasi. Nasi merah, ayam bakar, tahu dibungkus dengan daun pisang. Masih hangat-hangatnya. Aku berjalan dengan payung hitam di tangan kanan dan perbekalan di tangan kiri. Hutan pinus itu kini dipenuhi semak. Sesekali Aku melewati jalan tanah yang menjadi lengket oleh lumpur. Di sebelah utara dekat dengan hulu sungai ada sebuah pohon beringin besar. Di bawahnya ada gundukan tanah dengan batu nisan berwarna hitam. Aku duduk disamping batu itu.

“Ma, makasih ya selama ini udah baik sama, Boy. Ini Boy bawa makanan. Ayo, Ma, kita makan bareng”

Ferry Fadillah. Kuta, 13 Juni 2016

, , , ,

Leave a comment

Ketetapan-Nya

Delapan tahun silam, ketika saya masih mengenakan seragam putih abu, semangat untuk memasuki bangku kuliah begitu menggebu. Tentu, karena sudah menjadi tren, kedokteran dan insinyur menjadi prioritas utama. Kalau di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung seolah menjadi hadiah terindah bagi orang tua kita. Saya pun begitu. Maka, segera saja memantapkan hati untuk masuk ke Teknik Sipil ITB.

Mendadak suasana sekolah menjadi relijius. Ada siswa yang setiap pagi bertafakur di masjid selepas shalat duha, ada pengajian bersama dan ceramah keagamaan yang kerap mengundang tangis histeris para siswi. Saya pun bagian dari suasana itu. Bagaimana lagi. Dalam setiap kebutuhan tentu kita akan lebih dekat kepada Tuhan.

Sayangnya gaung tidak bersambut. Mahalnya biaya ujian saringan masuk mandiri, migrain yang diakibatkan les tambahan siang malam, doa-doa dan tekad kuat di dalam hati ternyata tidak menyebabkan saya bisa mempersembahkan ITB sebagai hadiah bagi orang tua.

Saya sempat kecewa tapi tidak larut dalam penderitaan. Toh di saat kegagalan itu, saya diterima pada sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Dayeuhkolot. Bagi saya, biaya di sana mahal. Tapi melihat prospek jurusan teknik, sepertinya biaya kuliah bisa diganti dikala kerja kelak.

Tidak disangka-sangka, ada kejadian luar biasa yang membuat kondisi keuangan keluarga morat-marit. Biaya lima juta satu semester menjadi beban yang memilukan. Syukurnya, di bulan kedua masa kuliah, saya diterima di Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Hanya Diploma I. Saya meremehkan dan orang tua pun menjadi bimbang. Tapi ini jalan yang harus dipilih agar dapur tetap mengepul.

***

Dalam setiap kegagalan. Setiap kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Kita pasti kecewa. Merasa Tuhan tidak adil dan memaksa-Nya dalam doa agar mengabulkan kondisi yang kita inginkan. Manusia yang begitu kecil kadang terlalu sombong dan dungu untuk memaksakan apa yang mereka kira pantas bagi dirinya. Kalau semua orang bisa meraih harapan sesuai amalnya mengapa kita selalu menganggil-Nya Maha Besar?

Ibnu Athaíllah As-Sakandari pernah memberi nasihat singkat: Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. Alangkah bodoh saya yang memaksa untuk masuk ITB padahal tidak dibarengi kemampuan otak. Alangkah bodoh saya jika memaska membayar lima juta satu semester jika harus menghabiskan tabungan keluarga. Alangkah bodoh saya jika menolak Diploma I padahal itu adalah yang dikehendaki-Nya.

Begitu juga gelombang kekecewaan yang melanda ketika saya tidak diterima Diploma III Akuntansi Khusus di ujian yang pertama dan kedua. Bisa jadi ada banyak manfaat bagi orang sekitar jika saya tetap bekerja dibanding kuliah dengan potongan gaji yang membuat hidup menjadi ‘cukup’.

Kini saya yakin, akan selalu ada rahasia dibalik setiap kekecewaan. Lebih baik hidup mengalir dan menerima qadarnya dengan tunduk. Berbahagia dengan setiap episode yang diberikanNya kepada kita. Daripada berkeluhkesah dan mengotori hati  dengan sesal.

Ferry Fadillah. Kelan, 10 Juni 2017


 

, ,

Leave a comment

Gelap dan Pengap

Aku berjuang menyalakan rokok di tengah angin yang berhembus kencang. Cahaya bulan begitu terang memenuhi langit dengan kemilau peraknya. Bintang dan planet asing bercahaya di balik awan kelabu yang berjalan cepat ke arah selatan.

Saat rokok sudah menyala, aku menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Asapnya memenuhi paru-paru. Saat membuka mata, saat itu juga aku menghebuskan nafas perlahan. Menikmati ketenangan yang dipicu oleh 1,6 milgram nikotin dalam tembakau.

Di hadapanku adalah bulan yang sangat bulat dan besar. Di wajah dewi itu ada noda hitam yang menyerupai kelinci. Semua orang tidak setuju denganku. Mereka bilang itu kawah yang dibentuk tumbukan meteorid. Aku bersikeras. Itu kelinci! Dan menutup perdebatan dengan satu batang rokok sambil rela menyalakan api bagi mereka.

Bulan di atasku begitu magis. Aku sangat terpesona. Ia adalah saksi saat aku dilahirkan di dunia. Ia juga adalah saksi saat aku berciuman di bawah pohon tua di pinggir sekolah. Ia juga adalah saksi saat aku memakamkan Doni –kelinciku yang mati terkilir. Ia bahkan ada sebelum ayah dan ibuku membuatku. Bahkan, sebelum kemerdekaan negeri ini atau VOC mencampuri urusan perdagangan Banten. Ia tetap di sana dengan segala kejelitaannya.

Berlama-lama memandang bulan seperti membuka lembar sejarah yang berlarut-larut. Karena ia adalah saksi dari kehidupan, tentu ia hafal apa saja yang terjadi di dunia ini. Itu pun kalau ia memandang penting kehidupan manusia di dunia. Setiap orang hanya mengingat apa yang dianggapnya penting. Tapi bulan bukan orang, tentu ia bisa mengingat melebihi batas kemampuan manusia.

Angin utara tiba-tiba datang membawakan pesan. Isinya adalah riwayat hidupku. Ia memberiku ingatan fotografis. Saat aku wisuda dan memeluk kedua orang tuaku. Aku ingat baju dan sepatu yang aku pakai. Saat aku sekolah di SMA. Wajah-wajah ramah yang selalu menemaniku di saat sepi dan guru-guru yang menyebalkan namun sangat berjasa. Aku ingat pecahnya piring saat kedua orang tuaku cek cok. Adik yang kabur entah kemana dan ikan cupang yang mati karena rumahnya pecah terkena lemparan piring.

Ingatan-ingatan itu terus mengalir tidak terbendung. Perasaanku dibuat hanyut. Kadang tertawa. Kadang menangis. Kadang hampa. Sampai momen ketika aku baru dilahirkan dan dokter yang menanganiku tersenyum ramah, aku terbangun dan mendapati diriku tertidur di sebuah dinding yang begitu sempit. Aku melihat orang-orang menangis di atasku. Mereka memakai baju hitam sembari melantunkan bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku berteriak namun mereka seperti memakai penyumbat botol wine di telinga.

Aku bertanya-tanya. Kemana bulan cantiku itu?  Mengapa aku di sini? Mengapa waktu begitu cepat? Dan di saat aku mencari sisa-sisa rokok yang aku hisap tadi sambil menikmati bulan, seorang kakek melempar tanah ke wajahku. Segenggam demi segenggam hingga gelap bersama pengap menemaniku selamanya.

Ferry Fadillah. Mei, 2017.

2 Comments

Tumbuh

Menatap Bandung dari kejauhan seperti menyaksikan mimpi dalam tidur. Potongan-potongan masa lalu berkelindan membentuk lukisan-lukisan realis yang humoris sekaligus tragis. Ada saat tawa menjadi penganan kecil disela-sela pertemuan dengan secangkir kopi. Ada juga saat sedih menjadi mendung yang membanjiri jiwa dengan hujan air mata. Read the rest of this entry »

Leave a comment

Ubud

pada detik di meja kantor

orang pada menanti

“Kapan ini akan berhenti?”

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

(“Kantor. Maret, 2017)

 Hampir bisa dipastikan tidak ada seorang pegawai pun yang rela menghabiskan masa hidupnya di kantor. Itulah mengapa para karyawan bersorak ketika jumat datang dan bersedih saat senin menjelang. Itu semua manusiawi. Susunan fisiologis manusia memang diciptakan untuk bergerak dan melihat alam bebas, bukan duduk anteng dengan tumpukan dokumen di depan meja.

Bagi pegawai di wilayah Bali, saat-saat jenuh bekerja di kantor bisa diobati dengan berwisata bersama kerabat. Lari di tepian pantai Kuta, bersepeda di pantai Sanur atau mandi air hangat di bawah kaki Gunung Batur. Namun, seiring dengan meningkatnya arus wisatawan dalam dan luar negeri, dibeberapa titik pulau ini kepadatan dan keruwetan menjadi pemandangan jamak layaknya kota besar lain di Pulau Jawa.

Tapi jangan berkecil hati. Masih ada daerah yang bebas dari segala keruwetan itu. Salah satunya adalah Ubud. Berada di Kabupaten Gianyar, Ubud dapat ditempuh selama dua jam menggunakan sepeda motor dari Kecamatan Kuta. Waktu itu hari kamis, panas begitu terik menciptakan bayang-bayang di aspal jalan. Aku berkendaraan dengan motor sekitar pukul sepuluh pagi dengan membawa ransel berisi buku Sejarah Estetika dan baju ganti seadanya. Sepanjang jalan aku melihat rumah-rumah tradisional yang diubah menjadi showroom kesenian. Mereka menjual patung, relief, lukisan, ukiran kayu, meja, kerajinan tangan, kerajinan perak, buah-buahan, wayang, meja kayu dan produk kesenian lainnya. Read the rest of this entry »

, , , ,

Leave a comment

Pindah

Pada saat masyarakat Kali Jodo meringis dan menjerit melihat rumah-rumah mereka dibuldoser oleh aparat, aku hanya bisa terpekur dari balik layar kaca. Pagi itu sebelum berangkat sekolah, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kekejaman yang terjadi pada sebuah sudut ibu kota. Di antara gedung mewah dan jalanan yang lebar ternyata ada orang-orang yang terusir paksa. Alasannya klise padahal mereka kalah karena miskin dan jauh dari kekuasaan.

Aku segera menghabiskan sarapan pagi yang sempat tertunda. Menunya hanya nasi satu centong dan tahu dengan bumbu kecap. Maklum, sudah satu bulan Ayah belum juga membawa uang. Untuk keperluan dapur, Ibu harus menyiasati dengan menjual beli perhiasan emas kesayangannya. Setelah nasi habis, aku pamit kepada Ayah dan Ibu. Seperti kebiasan anak-anak pada umumnya Aku mencium tangan keduanya lalu mengucapkan salam.

Sekolahku hanya berjarak  1 km dari rumah. Tepat di sebelah sawah besar yang sudah mengering. Kata orang itu akan diubah menjadi perumahan elit. Entahlah. Saat sekolah dasar dulu aku sering bermain layang-layang di pematangnya, mencari belut untuk dijual atau sekedar memakan bekal makan siang sembari menikmati angin yang berhembus dihamparan padi.

“Anak-anak sekarang waktunya kalian menceritakan pengalaman kalian di depan kelas. Sambil melatih keberanian bicara di depan umum. Bisa cerita apa saja. Tapi kali ini Ibu minta kalian menceritakan masa kecil kalian bersama Ayah dan Ibu. Ya kira-kira  lima menit lah. Mungkin bisa dimulai dari Tery. Ayo, Tery, jangan malu maju ke depan.”

Aku terperangah. Namaku dipanggil duluan. Apa yang harus aku ceritakan. Masa kecil? Mmm.. aku sama sekali tidak mempunyai bayangan. Tapi aku beranikan melangkah ke depan kelas. Melihat para siswa memandangku tajam jantungku berdebar keras.

“Selama Siang, teman-teman. Kali ini Aku akan menceritakan pengalaman masa kecilku. Jadi dulu Aku, Ayah dan Ibu …”

Perkataanku terputus sampai di sana. Pikiranku berusaha untuk mencari arsip bernilai di masa kecil. Lokasi rumah, kamar tidur, perabotan, wisata alam dan … ah, sial, kenapa harus aku yang pertama maju. Aku tidak bisa mengingat apapun.

“Tery, kenapa kamu diam. Ayo lanjutkan. Teman-teman kamu sudah menunggu.”

“Iya, sebentar, Bu. Aku minta waktu sebentar.”

Wajahku memerah. Pandanganku kabur. Tanganku berkeringat. Aku mencoba memejamkan mata sekejap. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku fokus kepada nafasku. Tenang, tenang, tenang…

Pikiran membawaku ke sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Ada kolam ikan, pohon jambu setinggi pinggang dan rumput gajah yang lama tidak terurus. Di dalam rumah ada kolam ikan besar dengan air terjun buatan yang kering. Di gudang sebelah timur aku melihat diriku sendiri. Aku sedang bermain dengan mobil-mobilan. Mobil itu aku tarik dengan tali rapia sambil berlari. Tiba-tiba dari arah gudang keluar asap. Api muncul kemudian. Diriku berusaha keluar dari gudang itu. Aku berusaha menolong. Sialnya pintu terkunci. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Asap itu semakin pekat dan aku pingsan dibuatnya.

Saat terbangun, aku berada pada sebuah kamar dengan dinding terbuat dari triplek. Di sana hanya ada kasur tanpa kaki-kaki. Beberapa langkah dari kasur itu ada kelelawar besar yang menutupi perut dengan sayap hitamnya. Ia tertidur. Namun, taring dan besarnya makhluk itu membuatku ngeri. Aku coba mengumpulkan kesadaran. Saat beranjak dari tidur makhluk itu terbangun. Matanya merah dan ia lekas terbang ke arahku. Aku terkejut dan melompat ke belakang. Ternyata tembok itu rapuh. Aku terjerumus, menabrak penyangga atap, langit-langit, lantai, kemudian lubang gelap yang menarikku dengan sangat kejam.

Saat muncul cahaya, aku sudah berada di sebuah rumah sederhana dengan dua kamar. Di ruang tamu tidak ada perabot apapun. Pada sebuah pojok tembok aku melihat tulisan tiga buah nama: Tery, Dery, Lary. Aku mengenal mereka semua. Itu adalah adik-adiku. Tapi kemana mereka semua. Mengapa rumah ini begitu sepi. Dari arah dapur aku mendengar suara orang bertengkar. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Lonte, siapa lagi yang kamu bawa. Jahanam!”

“Bajingan, ngomong apa kamu itu. Mulut ga bisa dijaga!”

Sumpah serapah itu terus berulang. Memantul dari satu tembok ke lain tembok. Bergema. Bertambah keras. Kini suara-suara itu merasuk ke dalam diriku. Aku sudah menutup telinga. Suara itu terus saja hadir. Aku menutup mata. Suara itu bertambah ganas. Aku dibuatnya mual.

Saat memejamkan mata, aku sudah berada di lain tempat. Sebuah rumah kost dengan  empat kamar yang berjejer. Di kamar nomor 14 tepat di depannya ada tumpukan piring kotor dengan noda kuah batagor yang sudah mengering. Aku coba memanggil para penghuni kost. Yang keluar adalah seorang anak kecil dengan botol berisi ikan cupang di tangan kanan. Wajahnya pucat. Bibirnya terkatup rapat. Ia mirip sekali dengan diriku. Tapi berbeda dari pertemuan pertama. Ia tampak sakit tidak terurus.  Ia duduk bersila. Ikan cupang dihapannya ia perhatikan dengan saksama. Aku juga memperhatikan ikan itu. Warna birunya, bekas cacing yang mati di dasar botol, gelembung udara, dan pipi yang menghitam ketika melihat cermin.

Tiba-tiba anak kecil dan ikan cupang itu menatap tajam ke arah diriku. Sekelilingku  berubah. Menjadi rumah yang terbakar. Menjadi kamar dengan kelalawar. Menjadi dapur. Menjadi kamar mandi. Menjadi ruang tamu. Menjadi panas. Menjadi basah. Menjadi hingar bingar oleh suara-suara. Aku tidak bisa mendengar suara siapa saja ini. Seperti pertengkaran suami istri dan jerit tangis bocah ingusan. Jeritan itu bertambah keras.. keras.. keras…

“Tery! Kenapa kamu malah tidur! Mana ceritamu.”

Aku terbangun. Ternyata aku masih berada di depan kelas. Aku sadar. Sepertinya tidak mungkin aku menceritakan masa kecilku yang kerap berpindah itu. Aku harus berani mengalah dengan keadaan.

“Maaf, Bu. Kali ini aku ga bisa cerita.”

Ferry Fadillah. Bandung, 31 Maret 2017.

 

 

 

 

, ,

2 Comments

Stasiun

Dalam sebuah perjalanan, aku mendapat kabar: Patriot akan segera menikah. Seharusnya aku hadir di sana. Menjadi saksi sebuah tonggak sejarah. Awal dari tumbuhnya peradaban. Namun, jarak, waktu, dan kesempatan berkata lain. Aku harus memendam dalam-dalam keinginanku itu.

Dari prosesi yang aku amati dari jauh itu. Aku melihat wajah-wajah ceria dalam citra fotografi. Ada senyuman, ada kebahagiaan dan ada keceriaan. Tapi, dari sorot mata setiap orang muncul pertanyaan, “Mengapa hari ini datang begitu cepat?”

Belum tenggelam dalam ingatan. Gerombolan anak SMA yang lebih banyak bermain dibanding belajar. Setiap malam dihabiskan dengan bermain Pro Evolution Soccer, Tekken 3, Guitar Hero dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut malam. Siapa sangka, kesia-siaan itu merajut sebuah tali persaudaraan yang tidak lekang oleh waktu dan tidak bisa dianggap sia-sia.

Sebenarnya, episode-episode dalam hidup ini seperti jejeran stasiun kereta yang terbentang sejauh 225 km dari Semarang ke Bandung. Pada mulanya kita akan bertemu orang baru di stasiun awal. Senyum dan sapa mencairkan suasana. Terjalinlah obrolan sepanjang perjalanan. Timbulah keakraban. Kemudian petugas kereta memberitahukan. Bahwa sebentar lagi akan memasuki stasiun Pekalongan. Mungkin itu tujuan orang itu. Segera saja kita berpamitan. Membalas senyum dan melihat kursi di sebelah menjadi kosong.

Selang beberapa menit akan ada orang lain yang mengisi kursi itu. Pertama kita kikuk. Seperti biasa, senyum  dan salam akan mencairkan suasana. Obrolan kembali terjalin. Keakraban terjadi dan pengumuman berbunyi. Kereta mendekati stasiun Cirebon. Orang tadi berkemas dan menyalami tangan kita. Dan kursi itu kembali kosong.

Read the rest of this entry »

1 Comment

Kantor

pada detik di meja kantor

orang pada menanti:

“Kapan ini akan henti?

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

Ferry Fadillah. Maret, 2017.

,

Leave a comment

Kamu Dimana

Aku termenung pada sebuah ayunan berkarat di pinggiran taman pantai. Waktu itu waktu menunjukan pukul lima sore. Langit mendung bukan main. Angin menerpa pohon kelapa hingga nyaris runtuh. Aku menengadah ke langit. Sesekali memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

Dimanakah Dia? Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Hanya ada segerombolan turis udik yang mengabadikan pemandangan sore itu dengan gawai buatan cina. Di hadapanku hanya ada kapal nelayan yang memaksa mesin kapal agar segera menepi. Aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.

Beberapa bulan lalu, saat sedang dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta, aku melihat pemandangan alam yang luar biasa. Gunung-gunung dengan pohon hijau berikut sawah-sawah penduduk. Sungai mengalir begitu jernihnya memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Aku memejamkan mata, menghirup udara yang bercampur bau rokok kemudian membuka mata dan melihat lekat ke jendela. Kemana Dia, kenapa aku tidak juga menemukannya?

Hujan gerimis di bilangan Jakarta. Aku sendiri ditemani kopi hangat. Aromanya menenangkan jiwa. Kemudian aku memesan lagi satu gelas kopi dengan caramel dan kue belanda. Aku siapkan bunga mawar putih di sebelah hidangan itu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Aku sudah menanti lebih dari lima jam. Namun, Dia tidak datang ke tempat itu. Memberi tahu kealpaannya saja tidak. Aku sangat kecewa.

Pada suatu titik, aku sudah bosan mencari dan menunggu. Aku berhenti berusaha.

Dalam sebuah perjalanan malam di taman kota. Aku membeli burger ukuran besar dengan saus tomat dan minuman dingin. Aku duduk pada sebuah bangku gaya kolonial dibawah lampu temaram. Malam itu sangat cerah. Aku melihat gugusan bintang yang bersinar terang. Lamat-lamat aku menikmati burger itu. Saat sibuk dengan kunyahan ke enam ada seorang pria tua melintas.

Umurnya sekitar enam puluhan. Wajahnya tampak kusam dengan rambut putih di kepala dan dagunya. Saat itu ia mengenakan kemeja biru dengan membawa tumpukan koran di dalam ransel selempangan. Mungkin penjual Koran, batinku. Tapi kenapa malam-malam begini.

Aku tegur bapak itu. Kebetulan ada kentang yang belum kumakan. Selagi hangat kutawari bapak itu. Semula ia menolak. Setelah aku berkeras, ia menerima dengan gurat senyum yang mengembang dari wajahnya. Ia menepuk pundakku tiga kali dan mengucapkan rasa terimakasih berulang-ulang.

Kentang itu mulai habis. Sang Bapak mulai bercerita pengalamannya. Semuanya adalah perjalanan pedih dan penuh luka. Aku tidak menyangka ada cerita seperti itu. Maklum, aku adalah seorang pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Gajiku cukup untuk menghidupi anak, istri dan  investasi saham di perusahaan syariah. Tidak pernah terpikir olehku untuk hidup susah. Semua sudah tersedia dengan mudah.

Hari makin malam, bapak itu terus bercerita. Tentang istri yang meninggalkannya karena kemiskinan. Tentang teman kantornya yang menipunya ratusan juta rupiah. Tentang rumahnya yang disita pengadilan negeri. Tentang penyakitnya yang sebentar lagi merengut satu-satunya harta: jiwanya.

Aku merasa iba namun tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berkata iya dan menganggukan kepala. Sesekali aku harus membetulkan letak kacamata. Air yang menggenang pada mata membuat posisinya selalu tidak mengenakan. Dalam hati aku bersyukur, sangat bersyukur, bahwa hidupku jauh lebih beruntung. Aku tidak mau melupakan momen ini. Aku harus banyak berbagi dan berbicara dengan orang yang kurang beruntung.

Bapak itu pun akhirnya pergi meninggalkanku. Saat itu sudah pukul sebelas malam. Jalanan sudah sepi. Dan hanya ada Aku di taman. Aku memejamkan mata. Menghirup udara dalam-dalam dan lekas melihat lekat ke udara, “Engkau! Ah, disana rupanya selama ini..”

Ferry Fadillah. Kuta, Maret 2017.

,

Leave a comment