Survey

Kalau ada survey minta saran dan masukan diawali dengan maklumat: “data anda terjamin kerahasiaannya”, saya tidak bisa begitu saja percaya. Apalagi survey dibuat instansi pemerintah. Ada pula kolom isian nama dan nomor induk pegawai.

Khusus yang pertama kita semua maklum. Kalau saran dan masukan bisa saja dianggap pembangkangan bagi petinggi yang tidak pernah disanggah. Buruk wajah, cermin dibelah, begitu kata pepatah. Pernah suatu ketika petinggi sebuah kantor murka. Ia tidak sudi melihat nilai rendah atas perilaku dirinya dari bawahan. Waktu itu belum mulai survey elektronik. Penilaian dilakukan dengan kertas dalam amplop tertutup. Mudah saja petinggi itu membuka amplop, mencari identitas bawahannya dan memanggil dengan titah: beri saya nilai baik! Sebagai bawahan yang hidupnya sedikit banyak ditentukan atasan, ia hanya bisa tertunduk setuju.

Pernah juga selepas masa ospek pendidikan. Panitia menyerahkan kertas folio kepada peserta. Perintahnya isi dengan kesan dan pesan. Tidak lupa mengisi identitas. Saya dengan jujurnya menulis pesan. Bahwa kegiatan ini tidak ada guna dan tidak sesuai sendi kemanusiaan. Ternyata ditangan ketua ospek. Yang merupakan seorang PNS senior tulisan itu dianggap makar. Saya dimarahi, disuruh push up dan dites hapalan pancasila. Belakangan tes hapalan pancasila sering saya lihat menjadi alat bagi aparat untuk menindak pelanggar lalu lintas atau protokol kesehatan. Dan apa relevansinya saya pun tidak tahu menahu.

Mengenai nama dan nomor induk pegawai. Keduanya adalah identitas kunci. Bagi pihak yang punya akses dengan memasukan nomor induk saja bisa didapati data detil alamat, keluarga, riwayat mutasi dan lain-lain. Apakah data tersebut bisa dijamin aman dari tangan petinggi yang ingin ‘menandai’ para kritikus. Bisa-bisa data itu dijadikan semacam alat politik kolonial. Menjauhkan para pengkritik ke pinggiran kekuasaan. Pinggiran negara. Ke tempat terdepan, terpencil dan tertinggal. Agar ia insyaf akan salahnya. Merenungi khilafnya. Dan menjadi penurut yang beriman.

Begitulah Hindia Belanda mengasingkan intelektual nasionalis di zamannya. Begitu juga orde baru terhadap unsur-unsur kiri agar mereka hilang bungkam. Dan juga sekarang melalui UU ITE agar warganet berfikir jutaan kali sebelum mengunggah tulisannya.

Tampaknya petinggi-petinggi yang lahir dari rahim orde baru belum tampak betul nyaman dengan alam saling kritik ini. Bermacam-macam edaran dan ketentuan dibuat. Intinya agar para bawahan. Aparat rendahan yang kerjanya mengatakan “siap” sesaat setelah mendengar perintah menjadi patuh tanpa koma. Tidak membuat gaduh. Dan membiasakan menyelesaikan permasalahan internal secara ‘kekeluargaan’. Walaupun maknanya bisa jadi berlarut-larut dan tanpa putusan sama sekali.

Saya percaya kalau salah satu suksesnya jalan demokrasi adalah adanya ruang bagi perdebatan. Tanpa itu maka birokrasi tidak ubahnya tata kerajaan zaman feodal. Dan sebagaimana sejarah menasihati. Sistem itu rapuh dan kelak lapuk berkeping-keping.

Rawasari. September, 2020.

, , , , ,

Leave a comment

Kesulitan

Penawar paling berharga agar tetap ajeg menjalankan kehidupan sebenarnya melihat dunia ini apa adanya. Berdasarkan pengamatan-pengamatan materiil. Dan kalau boleh jujur. Dari amatan langsung maupun pustaka. Isi kehidupan di dunia ini pasti berisi kemuraman. Ada perang dunia I yang hanya jeda berapa tahun disusul perang dunia II. Negara-negara jajahan merdeka disusul perang dingin antar dua blok besar, barat dan timur. Di tingkat mikro ada kelaparan, pembunuhan, kerusuhan rasial, penyerobotan tanah, bencana alam dan yang lebih sederhana namun puitik: putus cinta.

Ada baiknya kita paham betul bagaimana kehidupan bekerja sehingga tidak termakan oleh optimisme yang tidak perlu. Apa itu optimisme yang tidak perlu? Itu adalah cita-cita, pikiran positif, yang menjauhkan diri dari dunia nyata dan melambungkan angan-angan melampaui kapasitas pribadi. Di tengah kekacauan penanganan penyebaran COVID, ancaman resesi, dan pemutusan hubungan kerja besar-besaran optimisme model ini sangat laku keras. Disebarkan di media-media dengan bumbu motivasi bisnis dan janji-janji surgawi.

Kitab suci seperti Al-Quran pun sudah mengamanatkan kepada orang beriman bahwa pernyataan iman pasti memiliki konsekuensi ujian di muka bumi. Dan, ujian itu tidak hanya berlaku bagi kalangan Islam saja menurut saya. Siapapun dengan agama maupun tanpa agama akan tersandung batu ujian. Sebuah keniscayaan semenjak nafas masih mengisi paru-paru.

Sehingga yang paling penting adalah bagaimana mental itu dibentuk menghadapi ujan. Menghadapi kesulitan-kesulitan. Pram di dalam bukunya ‘Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’ berusaha mematikan cita-cita dan harapan apalagi janji dari mulut orang. Dengan cara pikir itu ia bertahan dari penjara ke pembuangan hingga bebas dengan pikiran yang masih waras.

Sufisme melalui bab qoda dan qadar banyak mejelaskan maksud dari ketetapan Ilahi yang merupakan suratan rahman-Nya. Sehingga apapun bentuk ketetapan itu. Baik atau buruk. Seorang beriman dianjur untuk berkata Puji Tuhan, Alhamdulillah. Atau bagi mereka yang tidak dekat dengan agama dan cenderung mencari kebajikan dalam nila-nilai sekuler bisa menelaah karya-karya Stoik. Aliran filsafat ini sangat menekankan pada olah pikir dengan poin utama: memilah mana-mana yang dapat diintervensi oleh diri, dan mana-mana yang tidak dapat diintervensi oleh diri. Manusia menurut aliran ini hanya fokus memikirkan apa-apa yang pertama dan tidak perlu memikirkan yang kedua. Mencintai takdir dan mengingat mati juga menjadi laku kunci dalam pemikiran ini.

Sebagai manusia yang berpikir, merdeka dan bebas ada baiknya kita tidak fokus hanya kepada satu pemikiran saja. Jika jeli dan mampu, kita dapat mensintesiskan antara sufisme dengan stoikisme. Yang satu membantu yang lainnya hingga benar-benar wacana tersebut tidak menjadi gincu intelektual yang menarik untuk didiskusikan namun benar-benar menjadi amal perbuatan yang banyak membantu dalam menghadapi kesulitan. Sufisme sebagai bekal penghaytan ke-Tuhan-an sedangkan stoikisme sebagai senjata keduniaan. Terakhir, saran saya, sudahi saja mengkonsumsi wacana optmistik. Hidup itu penuh kesulitan. Kalau selama ini hidupmu nyaman-nyaman saja coba difikir ulang potensi bencana apa yang bisa menerjang. Siapkan mental, uang, tabungan dan asuransi. Jangan sampai mati digilas kesulitan.

Ferry Fadillah. September, 2020

Leave a comment

Omongan

Omongan bisa menjadi sumber persahabatan sekaligus kebencian. Para pencinta setuju satu hal lagi, omongan bisa menjadi awal kisah kasih. Atau bagi para penjual, omongan yang baik berujung pada penjualan yang baik pula. Lain lagi bagi pegawai pemerintah, banyaknya bahan omongan berarti banyak pula rapat, sosialisasi, internalisasi yang sedapat mungkin diselenggarakan di hotel luar kota dengan fasilitas kamar dan penganan ringan setiap jam jeda.

Tapi, sedapat mungkin kita tidak membahas omongan yang bukan-bukan, yang tidak wajar di poin tersebut. Omongan yang wajar tidak memancing keributan atau merogoh kas negara. Omongan itu bisa tentang perjalanan sejak kanak-kanak, sekolah, bekerja dan beranak bini. Bisa juga tentang perasaan-perasaan selama menjalani babak hidup itu. Baiknya, omongan sejenis dibalas pula oleh pendengar. Cerita dibalas cerita. Kisah dibalas kisah. Sampai terbuka semua yang tersimpan dalam jiwa dan memori di masa silam. Jika kisah itu menarik hati maka akan terjalinlah keseruan. Dan hanya keseruan kunci persahabatan.

Tentu dalam hal omongan kita tidak bisa memaksakan diri untuk paham atau suka kepada  si empunya omongan. Itu hanya menjadikan detik per detik seperti jahanam yang terasa sangat lama dan panas. Perbincangan belum usai tapi si lawan bicara tidak habis-habis berbuih mulutnya. Maka demi waktu yang tidak akan kembali memang kita harus berani benar hilangkan budaya timur yang santun itu. Lekas saja kita tolak. Bilang ada keperluan mendadak. Dan semoga tidak lagi berjumpa dengannya.

Lain hal jika omongan itu menarik. Maka ada baiknya si empunya omongan dijaga erat-erat pertaliannya. Karena sulit mencari yang satu omongan. Semakin bertambah usia, orang sibuk dengan urusan tetek bengek pekerjaan dan rumah tangga. Maka adanya orang dengan frekuensi yang sama adalah kemewahan tersendiri. Begitulah hukum hidup. Semakin usia bertambah semakin sedikit pula yang ada di sekeliling kita. Hingga hanya raqib atid saja yang tanya jawab di dasar kubur.

Ferry Fadillah. September, 2020.

Leave a comment

Pandemi

Gerimis hujan merembesi atap-atap rumah. Gemericiknya sahut menyahut bertumbuk-tumbuk. Langit yang biasanya menyisakan gurat cahaya orange menjadi kelabu oleh awan dan kabut. Udara tidak cemar. Segarnya angin dari utara memasuki jendela dan pintu. Air yang jatuh ketanah menyeruakan wangi khas. Jika tercium semua yang punya akal akan dibawa dalam perjalanan ke masa lalu. Melihat-lihat kenangan-kenangan buruk dan indah yang berkelindan saat wangi yang sama menyeruak di tempat berbeda. Begitulah langit memberi kita kunci ke masa lalu. Waktu boleh terus berganti tapi ingatan akan abadi.

Di Jakarta sore itu orang berteduh di atapnya masing-masing. Pandemi belum lagi reda. Pekerjaan banyak berhenti sementara atau putus sama sekali. Maka rumah menjadi pusat kegiatan. Beruntung bagi empunya rumah yang luas. Memiliki kamar-kamar bagi setiap anggotanya. Dan halaman luas untuk menyalurkan hobi bercocok tanam. Banyak rumah itu kecil saja. Hanya cukup untuk duduk-duduk barang dua orang. Maka satu-satunya hiburan adalah berkumpul duduk di jalan. Tapi ini musim pandemi. Satpol PP kini memasuki lorong-lorong sempit. Membubarkan setiap kumpulan. Maka hilang sudah satu-satunya hiburan bagi mereka itu.

Lorong-lorong sempit yang tadinya ramai di pagi dan sore hari oleh para pedagang dan anak kecil kini sepi senyap sudah. Hanya terdengar suara cakap tetangga yang bersebelahan karena tembok dengan bata murah yang menjadi tirai. Sisanya hanya desau angin yang memasuki celah jendela. Atau suara musik entah dari celah mana yang  malu-malu mencari panggung.

Tapi sunyi senyap itu sebenarnya terobati dengan adanya teknologi. Walau raga berpisah-pisah di rumah dengan jarak yang berbeda. Setiap pekerjaan administratif dan penjualan bisa dilaksanakan jarak jauh. Percakapan tatap muka juga bisa dilakukan kapan saja. Bahkan menganggu waktu-waktu istirahat sekalipun. Informasi juga sudah tidak lagi dapat dibendung. Setiap detik mengalir begitu saja berita dari segala penjuru. Dari hal-hal sampah hingga yang gawat. Sampai-sampai dibuat bingung masyarakat memilahnya. Terkadang yang sampah dijadikan keputusan dalam menentukan sikap dan yang saintifik dikeset-keset saja dianggap konspirasi.

Di media birokrat menyemarakan istilah new normal. Orang-orang manggut-manggut saja mengiyakan. Kehidupan sempat berjalan sedia kala. Gojek-gojek menarik penumpang. Mal-mal kembali buka. Warung kopi dipadati pengunjung. Berbulan-bulan lamanya hingga hari ini Gubernur DKI Jakarta khawatir dengan lonjakan penderita COVID dan angka kematian. Jika tidak ada kebijakan PSBB kembali maka rumah sakit akan kewalahan bahkan kolaps. Tapi dalam benak birokrat dan rakyat mental kapitalis yang terpenting bukanlah kesehatan dan kematian tapi IHSG. Indeks harga saham gabungan. Atau investor yang lari terbirit-birit. Atau tingkat konsumsi yang bakal memukul PDB. Dan istilah-istilah ekonomi lain yang dibela secara fanatik bukan kesehatan dan keselamatan komunitas.

Memang orang di masa-masa ini banyak tertolong dengan teknologi. Semangat konektivitas daring dimana-mana. Pandemi yang hampir setahun sudah membiasakan orang-orang berbincang jarak jauh. Hanya saja kita manusia tidak bisa dibentuk dalam waktu satu tahun. Gen-gen kita yang diwarisi nenek moyang dari nenek moyang sudah terbiasa dengan interkasi langsung. Mata bertemu mata, bicara disambut diskusi, jabatan tangan hangat atau rangkulan dan peluk mesra. Sekuat apa jiwa-jiwa manusia mengubur nalurinya itu? Atau jangan-jangan banyak orang tidak kuat dan stres bukan kepalang. Hanya saja psikolog belum melakukan kajian yang mendalam dan meyodorkan hasilnya dalam bentuk angka-angka. Ya, angka yang hanya dipercayai para birokrat dan rakyat bermental kapitalis.

Ferry Fadillah. Jakarta, 15 September 2020

Leave a comment

Daun

Pagi itu aku berbicara dengan daun hijau yang tertanam dangkal dalam pot terakota di atas meja jati. Aku tidak paham betul percakapan dengannya. Aku berusaha memahami perkataannya dari gurat serat yang berubah membentuk ekspresi tertentu. Percakapan itu lebih tepat disebut pidato. Sang daun bicara berbuih, aku hanya mengangguk setuju.

Ia banyak memprotes kepada manusia-manusia dan situasi dunia. Daun muak dengan kedangkalan pada pemikiran manusia yang menyebabkan kaumnya harus menerima diri menjadi korban komodifikasi. Dipajang telanjang di instagram dan dijual dengan harga lebih mahal ketimbang baju. Daun juga mual dengan percakapan yang ia dengar dari manusia sekitarnya. Tentang kawin mawin, bisnis portofolio, kebohongan politik juga hal remeh temeh lain seputar akuisisi rumah dan pemupukan kekayaan. Padahal moyangnya dulu pernah berkisah kalau manusia-manusia lebih sering bicara hal-hal luhur. Tentang Tuhan, eksistensialisme, kemanusiaan, revolusi, ideologi apa yang cocok untuk negara kepulauan atau sistem ekonomi apa yang dapat meratakan kepemilikan tanah hingga keadilan terjadi di muka bumi.

Kini daun harus terima nasib. Terdiam dalam ruang ber-AC pada sebuah cafe. Kadang dijadikan alas gawai bagi sekelompok remaja yang berjoget menghadap kamera. “Lebih baik aku menguning dan mati menjadi humus daripada menanggung tingkah laku manusia yang semakin banal”, tutupnya.

Ferry Fadillah. Bandung, Agustus 2020

Leave a comment

Work from Home dan lainnya

Oil-Painting-4-Karen-Working-in-the-Boat

Karen working in the boat, oil on cancas, karya Rob Pointon, diakses melalui http://www.robpointon.co.uk

Saya tidak habis pikir kalau pandemi sejenis corona bisa menghentikan segala kegiatan sosial-ekonomi. Termasuk saya yang bekerja di sektor publik. Sejak diumumkan kali pertama oleh Presiden adanya klaster penyebaran corona di Indonesia. Kebijakan bekerja di rumah (Work from Home/ WFH) dimulai. Jumlah pekerja di kantor dibatasi. Utamanya hanya untuk jenis pekerjaan yang mutlak berhadapan dengan orang secara langsung. Misal dalam kegiatan pengawasan di Bandara, Pelabuhan atau menyusun kontrak pengadaan dengan perusahaan.

Di kantor, dari pukul 7.30 sampai dengan 17.00, mungkin hanya 60% jam  yang saya pergunakan untuk mencurahkan diri dalam kerja produktif. Sisanya dipakai untuk makan, berbincang, berkoordinasi atau melihat gawai demi info terkini di feed instagram. Ketika kebijakan WFH dimulai, maka ada lebih banyak waktu luang dibanding waktu produktif.

Sisi positifnya adalah kita tidak perlu pura-pura sibuk di depan kubikal saat pekerjaan kita usai demi terlihat produktif. Kondisi yang hemat saya banyak terjadi di sektor publik. Mungkin karena rekrutmen tidak sesuai analisis beban kerja, pendidikan pekerja yang tidak sesuai bidang pekerjaan sehingga hanya melakukan bussiness as usual atau memang tidak ada pekerjaan di sana namun ilmu manajemen mengharuskan adanya struktur itu. Agar lebih modern. Sesuai dengan semangat zaman.

Masalah-masalah seperti itu mulai terkuak ketika kebijakan WFH sudah berjalan hampir 3 bulan. Kalau boleh jujur, atasan langsung seharusnya bisa mengidentifikasikan: Pertama, posisi mana yang sebenarnya benar-benar harus ada dan hanya sekedarnya harus ada; Kedua, pekerjaan mana yang sebenarnya bisa diselesaikan jarak jauh melalui teknologi teleconference sehingga tidak lagi menghabiskan uang anggaran untuk perjalan dinas. Ketiga, siapa saja yang benar-benar bekerja dan siapa yang yang hanya sekedar ada seolah-olah bekerja.

Kalau Pejabat Pengelola Kepegawaian semua Kementerian dan Lembaga dapat memetakan masalah ini dan ‘membereskan’ pekerja yang tidak produktif atau tidak sesuai dengan jenis pekerjaannya maka akan ada lebih banyak anggaran negara yang dihemat. Pekerjaan akan menjadi menyenangkan.  Orang bekerja sesuai ilmunya masing-masing dan waktu yang dialokasikan untuk bekerja begitu padat sehingga pekerja tidak memiliki waktu untuk mempercayai teori bumi datar yang disebar di laman facebook.

Adanya implementasi Activity Based Working (ABW) juga menjadi menarik. Ketika proses bisnis klerikal bisa dipangkas dengan office automation dan arsip telah digitalisasi dan disimpan dalam cloud maka pekerja di sektor publik hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bekerja. Di dalam konsep ABW ruangan pekerja dibagi mejadi beberapa klaster sesuai jenis pekerjaanya. Misalnya klaster itu dibagi menjadi ruang yang digunakan untuk pekerjaan kognitif kompleks, pekerjaan adminsitrasi sederhana, pekerjaan insidental, dan pertemuan formal maupun informal. Jadi jangan samakan ABW dengan open space. Istilah kedua hanyalah satu bagian dari konsep ABW. Harapannya pekerja dapat memilih klaster mana yang cocok digunakan untuk jenis pekerjaannya hari itu.

Tentu harus ada aturan umum yang harus membudaya agar pekerjaan di lokasi seperti itu tidak berubah menjadi kegaduhan. Bisa jadi orang-orang berebut klaster fokus karena masing-masing mengklaim memiliki pekerjaan yang memerlukan pekerjaan dengan konsentrasi tinggi. Atau kegaduhan yang timbul saat orang lebih banyak berbicara ngalor ngidul di klaster terbuka yang seharusnya digunakan untuk membahas konsep dan gagasan. Maka, memastikan hanya orang-orang yang bekerja saja ada pada ruangan itu menjadi wajib sebelum ABW di implementasikan. Kalau tidak bisa dibayangkan apa jadinya ketika kerumunan PNS penganggur berkumpul dalam satu lokasi.

Di tengah semangat perubahan ini, sebagian orang percaya bahwa tidak semua pekerjaan di sektor publik dapat dilakukan secara otomatis menggunakan teknologi informasi. Seperti yang saya jelaskan di awal tulisan. Saya percaya untuk saat ini pemikiran seperti itu benar adanya. Namun, saat para ahli telah menciptakan teknologi untuk mengatasinya maka kita harus bersiap-siap mematahkan argumen itu. Misal pengawasan di bandara udara atas lalu lintas barang yang masuk ke dalam wilayah pabean. Secara manual petugas akan memisahkan penumpang berdasarkan tingkat risiko. Ada yang diarahkan ke jalur hijau dan jalur merah. Di jalur merah petugas akan memeriksa dengan detil barang bawaan penumpang. Memeriksa barang kali ada barang bawaan yang melebihi ketentuan atau melanggar undang-undang. Sekarang bagaimana kalau teknologi X-Ray dipercanggih sehingga citraan yang timbul benar seperti citra mata. Bisa melihat detil sampai ke dalam bingkisan yang ditutup rapat berlapis-lapis. Atau pemerikaan dilakukan oleh robot yang tidak terpengaruh keputusan subjektif ketika berhadapan dengan penumpang. Maka pekerja di bidang pengawasan saat itu bisa turut melaksanakan WFH sambil memeriksa gawai memastikan sistem pengawasan di bandara bekerja sesuai algoritma undang-undang.

Apapun konsep itu, WFH, WFO, ABW dan lain sebagainya harus benar-benar diimplementasikan saat prakondisi sarana dan prasarana mendukung untuk itu. Sehingga konsep-konsep berbahasa asing itu tidak hanya menjadi keren untuk diunggah di instagram kementerian namun benar-benar memiliki dampak nyata bagi pekerja sektor publik  maupun dari segi efesiensi anggaran. Tentu rakyat tidak mau uang pajak yang dititipkannya dengan paksa kepada pemerintah dipergunakan hanya untuk gimmick belaka. Dan, yang sebenarnya harus ditakuti oleh pekerja sektor publik bukanlah mereka akan kehilangan pekerjaan saat otomatisasi terjadi, tapi pekerjaan mereka benar-benar kehilangan relevansinya.

Ferry Fadillah. Jakarta, Juni 2020.

, , , ,

Leave a comment

Buku dan Perang

the-face-of-war

The Face of War, 1941, karya Salvador Dali. Diunduh dari http://www.dalipaintings.com

Sejak kecil saya menyukai tulisan. Awalnya tentu bukan buku babon Das Kapital. Ibu selalu membelikan serial Donal Bebek. Kisah-kisah paman Gober yang kapitalis dan bebek-bebek jenaka lainnya selalu mengundang tawa. Kemudian ada majalah mingguan Bobo dengan komik serial Deni Manusia Ikan atau sejoli Bona-Rongrong. Novel horor Goosebumps kaya R.L. Stine juga saya nikmati. Novel ini terbilang unik. Ia memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih jalan takdir. Misal, menghadapi para zombie di belantara hutan atau berenang di sungai penuh buaya. Genre horor lain yang masih saya kenang adalah cerita hantu di sekolah Jepang karya Aikihito Meijima. Buku ini bercerita tentang Hanako, Taro, Yamiko, cermin ungu, nenek ungu atau arwah-arwah penunggu laboratorium biologi yang menyerupai jerangkong. Begitulah saya kecil. Hidup dalam bacaan-bacaan jenaka dan menakutkan. Untungnya, kebiasaan membaca terbawa hingga dewasa. Tentu pembaca yang budiman harus memahami bacaan yang pantas untuk usianya. Saya tidak lagi membaca kisah-kisah jenaka seperti Donal Bebek. Kini saya lebih intens tenggelam dalam buku ekonomi-politik yang lebih memikat, buku sufisme yang tidak pernah habis dibahas dan puisi-puisi para legenda yang mewarnai perubahan arus sastra Indonesia.

Berkat kepandaian Ibu dalam mendidik anak, saya tidak hanya dibekali dengan buku-buku. Ketika SMP ia mengenalkan saya dengan Tae Kwon Do. Awalnya saya tidak tertarik. Namun saat adik mengikuti kelas yang sama saya tidak mau kalah. Akhirnya ia berhenti di sabuk hijau, begitu juga dengan kawan-kawan seangkatan yang berhenti di tiap warna sabuk. Syukurnya saya lanjut terus. Hingga menyandang sabuk hitam menjelang kelas 2 SMA.

Setelah bekerja pun saya tidak lepas dari beladiri. Di Bali saya belajar teknik pernafasan dan pemecahan Merpati Putih. Untuk memperdalam kuncian dan bantingan saya mendalami Hapkido. Semuanya saya lakoni karena satu pemahaman evolusioner. Di kerajaan hewan (Kingdom Animalia) -termasuk kita sapiens– yang kuat akan menistakan yang lemah. Begitulah hukum itu berbunyi dan diajarkan melalui kurikulum sekolah. Sehingga kita dapat memaklumi saat menonton tanyangan Animal Planet ketika singa membantai antelops, buaya yang mencegat-bantai kawanan Zebra yang menyebrang sungai atau ular yang tak berkutik diburu Elang. Namun saat melihat sejarah genus kita, dalam tayangan atau buku-buku, ketika Eropa yang tercerahkan membantai bangsa Aztec dan Maya atau Amerika yang liberal memperdagangkan pria-wanita Afrika sebagai budak dengan ukuran moneter. Hati mana yang tidak bergidik dan memprotes tentang keadilan.

Tidak perlu jauh-jauh memikirkan pertikaian antar bangsa. Di sekolah, berapa banyak anak yang secara fisik lemah dirundung oleh sekolompok anak yang merasa kuat. Awalnya mungkin dengan ejekan namun lama kelamaan akan berujung adu fisik yang tidak seimbang (catatan: setiap perkelahian biasanya diawali dengan adu bacot). Selesai bertikai, yang kuat akan mengancam yang lemah jika mengadukan kepada guru. Kemudian, kelompok kuat ini juga akan memberangus pihak yang berkawan dengan korbannya. Pada kondisi inilah korban akan menderita secara fisik dan psikologis. Kita paham bahwa kawanan remaja liar yang melakukan aksi itu salah. Tapi apakah kita akan terus membiarkan hal itu terjadi dengan diskusi, pendidikan agama, pendekatan psikologis yang muluk-muluk padahal ada tabiat evolusioner genus kita yang tertanam dalam gen selama ribuan tahun. Gen perang, perang dan perang.

Wajar apabila kita, sebagai satu-satunya genus yang diperadabkan oleh agama dan pendidikan sekuler memilih pendekatan manusiawi dalam menghadapi masalah. Berbicara dari hati ke hati, musyawarah sampai mufakat atau menyelenggarakan pemiliham umum yang adil, jujur dan rahasia sekaligus boros. Namun ingat, tidak ada diskusi bagi begal yang menyambar korban di jalanan Jakarta. Pun tidak ada demokrasi dari kelompok perampok ketika menggasak indomaret. Tidak semua orang memegang nilai luhur. Pun Kerajaan Belanda era kolonial yang menipu tokoh-tokoh pribumi saat berunding damai. Ketika memahami kepastian hidup ini sudah semestinya kita mempersenjatai diri. Dengan otak untuk kebijaksanaan dan upah layak juga otot untuk menghancur leburkan pihak yang memaksa keinginan dengan kekerasan.

Ferry Fadillah
Jakarta, Mei 2020

, , ,

Leave a comment

Lebaran

untuk kawan jomlo yang
menghabiskan lebaran
dalam kesendirian

Tidak ada tegur sapa hari ini
Hanya ada manusia dalam layar
tersenyum sambil berbicara tersendat-sendat
Ah! Sudah 70an tahun merdeka internet cepat hanyalah idea
Kau mengangguk, tersenyum, mengangguk kembali dan menyudahi pertemuan itu
Tidak perlu tahu detil, bicara mereka satu: minal aidzin, mohon maaf

Tidak ada opor, ketupat dan tawa riang
Kau bisa saja pulang
Peduli tai dengan karantina dan virus
Tapi hatimu berkata lain
Kau berpikir tentang ibu yang tak sudi kau tulari
Atau kawan-kawan perantau yang berkorban untuk tinggal
Apa itu instruksi?
Kau hanya percaya pada solidaritas dan bisik nurani

Kala kalut ini usai dan mentari berseri di Timur
Wujudkan lamunan-lamunan di indekos
Menyalami ibu bapak
Merangkul kawan lama
Menghirup asin udara laut
Tapi kalut pasti datang lagi
Maka lekas sadar
Momen kini layak disyukuri

Ferry Fadillah
Jakarta, Mei 2020

 

, ,

Leave a comment

Dungu

Aku adalah kebahagiaan yang hidup tenang dalam kedunguan. Semua yang kukerjakan hanyalah urusan administrasi ritmik yang tidak memerlukan analisis hebat. Ada atau tidak ada diriku orang lain berjejer dengan mudah menggantikan. Bahkan oleh algoritma komputer. Itu pun bila kantor inisiatif untuk mengadakannya.

Di sini orang-orang berlomba memamerkan hasil usaha mereka: foto rapat, foto monitoring, foto sosialisasi, foto upacara dan foto senam. Foto-foto itu dihambur di sosial media dengan narasi indah seolah masyarakat peduli dengan apa yang mereka lakukan. Namun entah sumbat apa dalam telinga mereka, sedungu apapun tampilan sosial media yang katanya official itu orang-orang akan tetap tidak tertarik. Rakyat perlu kerja nyata. Perut kenyang. Iklim usaha yang kompetitif.

Tapi apa urusannya ekonomi politik dibenak mereka? Hari-hari hanyalah kerja ritmik. Kerja, pulang, kelonan, ngemong anak, terima gaji, tidur, repeat. Cita-cita hanya sebatas cuti ke luar negeri atau membeli rumah untuk pensiun. Sudah. Tidak kurang tidak lebih. Kerja patuh, aman dan nyaman.

Jakarta, 14 Februari 2020

,

Leave a comment

19 Januari…

Saya tidak pernah menyangka jika perjalanan Denpasar-Ubud dengan motor dinas bersamanya akan berujung kepada hal yang sangat serius: pernikahan. Selama perjalanan ia selalu bercerita tentang segala hal dengan nada positif. Bukan khas pekerja ibu kota yang muak dengan para atasan pembual dan jalanan yang ruwet. Berkali-kali ia mengunjungi Bali untuk menjalankan tugas kantor sembari menghubungi saya kalau-kalau ada waktu untuk menikmati jalanan berdua. Dan saya selalu siap untuk itu. Bali dan perbincangan yang hangat dengan wanita pecinta buku adalah candu.

Begitulah hari-hari itu berlalu hingga saya pindah dan menjalankan kehidupan rumah tangga di ibu kota. Kini sudah satu tahun lamanya. Waktu bergulir begitu cepat. Tapi perasaan yang sama saat saya dan dia berjalan di Bali masih saja terus hidup dan bertambah kuat. Pemicunya sepele saja. Sunset di tanah rawasari atau gerimis mendung di rawamangun.

***

Di hari ulang tahun pernikahan ini kebanyakan orang memberi hadiah besar kepada istrinya. Saya bukan tipikal orang romantis. Mengajak menikah saja seperti mengajak orang pergi ke pusat belanja. Datar dan spontan.

Ada sebuah hal yang patut direnungkan. Apakah hadiah yang berwujud selalu menjadi representasi dari perasaan-perasaan terdalam? Dalam hal ini saya setuju dengan Iksan Skuter, cinta itu kupu kupu yang memeluk bunga/ saling mengisi mengasihi saling melindungi/ cinta itu tak pernah banyak mulut dan kata/ tak terlihat dan slalu berkata kata dengan rasa.

Untunglah istri saya sederhana saja. Ia tidak meminta kemewahan. Pagi ini ia meminta segenggam puisi sebagai penanda waktu penting ini.

***

Puisi itu tercekat. Enggan keluar dari rongga mulut dan jari jemari.

Ia tertidur jauh di dalam. Bukankah puisi hiburan bagi kesedihan?

Kalu kesedihan itu sirna lalu apa guna puisi.

Bukankah pertemuan satu tahun yang lalu kini adalah cerita kebahagiaan semata?

Tidak ada setiap jengkal perbincangan yang tidak bermakna.

Walau tampak acuh, telinga selalu menyimak setiap detil yang terhambur keluar dari jiwa. Dari kisah-kisah itu makna terangkai.

Dan, dari segala jenis makhluk, hanya manusia yang tidak mampu hidup tanpa kebermaknaan.

Penyatuan ini bukanlah jasad semata yang terbingkai dalam rumah mungil di bilangan Jakarta Pusat.

Ini adalah kerajaan yang akan terus langgeng hingga ke surga.

Tidak ada kata akhir bagi ketulusan.

Mungkin pahit bisa saja mampir ke rumah.

Mengoyak segala kemapanan.

Apakah pahit itu abadi jika bertemu gula?

Apakah rela kita diombang-ambing oleh kepahitan -bahkan kebahagiaan.

Jejak-jejak selanjutnya akan selalu ditemui kerumitan.

Namun, bersama dirinya itu hanyalah petualangan semata.

Aku akan menjadi juru tulis dan ia akan selalu menceritakan kisahnya.

Ferry Fadillah. Januari, 2020

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Leave a comment

Multikultural

Kementerian Keuangan adalah organisasi pemerintah besar yang memilki 11 unit eselon I. Beberapa unit memiliki satuan kerja vertikal yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti pada Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 memberi isyarat adanya pola mutasi dalam jangka waktu tertentu. Sebagaimana termaktub dalam pasal 190, “(2) setiap PNS dapat dimutasi tugas dan/atau lokasi dalam 1 (satu) Instansi Pusat, antar-Instansi Pusat…; (3) Mutasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun”. Maka perpindahan pegawai dari satu satuan kerja pada sebuah kota/provinsi ke kota/provinsi lain adalah wajar belaka.

Pola mutasi inilah yang menyebabkan komposisi ras, suku dan agama pada sebuah kantor menjadi heterogen. Walaupun bekerja di daerah dengan mayoritas Islam, misalnya, sebuah satker DJBC juga memiliki pegawai yang beragama Hindu dan Kristen. Dalam setiap agenda keagamaan mereka diberi ruang dan waktu mengekspresikan penghayatan  ketuhanan masing-masing. Ini dapat dibuktikan dalam struktur pengurus pembinaan mental di DJBC yang terdiri dari komponen Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha. Keragaman agama dalam mencapai tujuan bersama organisasi ini benar-benar saya rasakan ruhnya saat bekerja di Kantor Wilayah DJBC Bali, NTB dan NTT tidak sebatas sebagai pegawai kantoran tetapi juga anggota masyarakat yang turut merasakan denyut aktivitas Pulau Dewata.

***

Akhir 2009, saya mendarat di Bali bersama Nenek dan Ibu. Itu adalah kedatangan pertama saya ke Bali. Sebelumnya saya hanya mengenal Bali dari cerita para pelancong. Mereka bilang Bali adalah kebebasan, wanita, alkohol, berhala, laut dan kemewahan. Saya mengaminkan semua itu dan menjadikanya kepercayaan.

Sejak kecil, saya biasa bergaul dengan teman yang memiliki kesamaan agama dan etnis. Agama dan kebiasaan yang terbentuk itu secara tidak sadar telah menjadi acuan kebenaran dalam memandang segala sesuatu. Maka timbul kegelisahan di dalam batin saat mengamati setiap sudut kehidupan di Bali. Semuanya hampir berbeda dengan agama dan kebiasaan asal saya. Mengapa ada banyak patung? Mengapa ada banyak sajen di jalanan? Mengapa ada dupa di pojok ruangan? Kenapa bar terbuka dan terlihat di jalan? Mengapa indekos tidak memisahkan penghuni pria dan wanita? Dan mengapa-mengapa lain yang menuntut jawaban pasti.

Bukannnya mencari jawaban dari orang Bali atau membaca buku tentang Bali, saya membatasi pergaulan hanya dengan pegawai dan masyarakat dari asal daerah dan agama yang sama. Sehingga, diam-diam saya menumpuk kecurigaan. Ide tentang negara teokrasi dengan undang-undang berbasis moral ilahiah sempat menjadi pegangan saya. Singkat pikir, hanya Islam lah yang memegang teguh sila pertama dari Pancasila. Agama-agama non monotheistik, apalagi yang memanifestasikan tuhan dalam sosok antrophormistik tidak pantas disebut pengamal pancasila yang sejati. Saya harus memurnikan Bali dari penyimpangan itu.

Hidup sebagai minoritas di Bali dengan kecurigaan seperti itu membuat hati saya sempit. Dimana-mana saya selalu menyalahkan sistem dan masyarakat. Tidak hanya kepada mereka yang berbeda agama, kepada sesama pegawai yang seagama pun namun dengan praktik ibadah yang berbeda saya kerap ribut. Zaman kegelapan itu berlangsung selama satu tahun. Untungnya, identitas itu cair, semua manusia pembelajar selalu dalam proses  menjadi.

Tahun-tahun berikutnya, saya banyak membaca filsafat. Yang paling berkesan adalah saat mendengar kuliah yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto tentang  filsafat ilmu melalui DVD. Saya dijelaskan bahwa kepercayaan akan kemurnian adalah konyol. Agama itu murni dari level ilahiah namun saat ia turun ke bumi melalui para rasul dan disebar melewati ruang dan waktu akan selalu ada interpretasi terbuka yang disesuaikan dengan semangat zaman (zeitgeist). Oleh sebab itu, agama menjadi dinamis dengan tetap memperhatikan hal-hal yang prinsipil. Pikiran saya terbuka dan perkawanan dengan penganut  Hindu dimulai.

Saya menikmati perbincangan teologis dengan kawan Hindu di kantor. Ketika saya bertanya konsep ketuhanan seperti apakah yang dianut Hindu, mereka dapat menguraikan dengan rinci, sehingga saya menyimpulkan bahwa mereka pun tidak menyimpang dari sila pertama pancasila. Tidak berhenti sampai sana. Saya beberapa kali mengunjungi Pura kantor untuk melihat praktik keberagamaan mereka dan mengunjungi gereja katolik untuk memperhatikan kegiatan kepemudaan. Kunjungan itu membawa saya kepada kesadaran bahwa ada kenyataan lain tidak terbantahkan diluar praktik agama saya. Dan kenyataan itu bukan untuk ditiadakan tapi dipahami untuk mencari simpul-simpul kesamaan.

Dialog antar iman dan melihat langsung peribadatan pemeluk agama lain selama bertahun-tahun di Bali telah meningkatkan ambang toleransi . Saya tidak lagi risih dengan patung dewa-dewi yang bertebaran di setiap penjuru kota. Sajen (banten) dan dupa di sudut-sudut ruangan juga hal yang biasa. Setiap orang di setiap daerah memiliki cara menghayati pengalaman kebertuhanan mereka. Hal tersebut tidak terbatas antar agama, namun dalam spektrum satu agama. Praktik ini sangat terlihat dalam ajaran Hindu Bali yang mampu berdamai dengan mahdzab Syiwa, Wisnu dan Budha sekaligus.

Di kantor, tidak ada sekat antara dia yang Islam, dia yang Hindu atau dia yang Kristen. Semua pegawai bekerja saling tolong menolong sesuai tugas dan fungsinya.  Saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan,  kawan-kawan Islam dan Kristen dengan ikhlas membantu tugas pengawasan dan administrasi agar proses bisnis kantor tetap berjalan. Begitu juga ketika umat Islam dan Kristen merayakan hari raya, umat Hindu turut membantu tugas mereka di kantor. Keragaman dan kolaborasi yang dinamis inilah miniatur Indonesia dalam ikat semboyan bhineka tunggal ika.

Kebhinekaan ini sebenarnya lebih terasa diluar lingkungan kantor. Bali sebagi daerah eksotis yang terbuka sudah selama berabad-abad menerima perbedaan sebagai kenyataan. Perbedaan itu tidak saja berada dalam sekat-sekat, batas-batas yang tidak dapat dilampaui, namun mencapai titik akulturasi. Di beberapa daerah seperti Kuta dan Buleleng dapat ditemukan perkampungan muslim-bugis yang ternyata masyarakatnya dapat berbahasa Bali dengan fasih. Di Desa Adat Tuka yang mayoritas Katolik, penduduknya tetap menggunakan pakaian adat Bali saat kebaktian di katedral yang juga berarsitektur Bali. Di Ubud, gaya lukisan batuan yang khas terpengaruh aliran lukis moderen yang dibawa oleh Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Pelukis batuan dapat memadukan gaya klasik pewayangan dan gaya miniaturis modern sehingga menghasilkan lukisan hybrid yang khas dan berkesan magis. Pada kasus ini seni tidak berhenti di titik akulturasi tapi menembus hingga titik asimilasi.

Masih banyak contoh kolaborasi antar etnis, agama, atau aliran seni di lingkungan kantor maupun kehidupan masyarakat, tidak hanya di Bali akan tetapi di seluruh daerah penempatan para pegawai Kementerian Keuangan. Kolaborasi itu secara sporadis diberi label multikulturalisme di dalam pidato para pejabat. Namun, menurut Amartya Sen dalam bukunya “Kekerasan dan Identitas” dukungan lantang terhadap multikulturalisme akhir-akhir ini sesungguhnya tak sekedar pleodoi terhadap monokulturalisme majemuk. Sen menjelaskan, “Jika seorang gadis dari keluarga imigran konservatif hendak pergi kencan dengan cowoknya yang inggris, maka jelas ada inisiatif multikultural dalam hal ini. Sebaliknya, upaya orang tua sang gadis untuk mencegah dia berkencan sulit untuk bisa disebut sebagai sikap multikultural, sebab menjaga agar budaya masing-masing tetap terpisah. Multikulturalisme ditandai dengan bauran-bauran yang interaktif antar entitas yang berbeda. Dan dalam hal ini Kementerian Keuangan berhasil mewujudkannya sehingga dapat menjadi contoh satu padunya Indonesia dalam bingkai multikulturalisme.

Ferry Fadillah, 2019.
tulisan ini dimuat dalam buku “Perekat Indonesia” terbitan Kementerian Keuangan Tahun 2019

, , , , , , ,

1 Comment

Kredit

“Asu, apanya yang syariah! Masa pinjem duit lima ratus juta selama lima belas tahun total keuntungan bank sampai tujuh ratus jutaan. Sudah dibuat kurus nahan lapar setiap bulan, bank yang hanya diam ongkang-ongkang kaki dapat penghasilan dari bunga pinjaman. Tai! Itu duit kan bukan untuk membeli alat produksi, tidak ada hasil penjualan yang bisa dibagi. Saya itu makan gaji, rate-nya hanya naik 5% per tahun sedangkan suku bunga terus melebihi angka 12%. Rumah itu kebutuhan pokok. Kebutuhan dasar. Seharusnya tidak masuk logika pasar!”

Pagi buta begini Derry sudah memaki. Pemicunya selebaran pinjaman tanpa agunan yang dibagikan salesman bank syariah. Ia memang sedang butuh uang. Sebentar lagi ia akan menikah. Memikirkan biaya pernikahan saja sudah membuatnya mual, apalagi memikirkan kebutuhan papan yang harganya terus melejit dari tahun ke tahun.

“Tenang, Mas Derry. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ditengah usaha kita, segala kebutuhan pokok itu tidak terpenuhi ya apa boleh dibilang, kita hanya pasrah saja. Itu sudah ketentuan langit.”

Mendengar ceramah kawannya itu Derry geram. Tapi ia masih memiliki akal sehat untuk tidak langsung memaki. Di negeri ini ia tahu, sedikit saja kritik terhadap ungkapan relijius bisa panjang akibatnya. Mungkin akan ada organisasi masyarakat yang menggerudug rumah Derry atau bahkan demonstrasi tanpa henti menuntut Derry dibui.

“Begini, Mas Parman. Saya paham apa itu takdir dan segala macamnya. Permasalahannya Mas harus bedakan mana kemiskinan struktural dan mana kemiskinan kultural. Kalau usaha keras hingga keringat darah kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok maka ada struktur timpang yang menindih kita. Sayangnya kita tidak sadar dan dengan mudah mengembalikan setiap analisis ekonomi-politik kepada yang di atas, kehendak-Nya.”

“Iya, Mas. Saya paham keresahan Mas Derry tapi sebagai pegawai rendahan di kantor pemerintah apa yang bisa kita perbuat. Harapan kita hanyalah hal-hal praktis bagi keberlangsungan kesejahteraan pribadi: mendapat gaji bulanan tepat waktu, penempatan di kampung halaman, olahraga disela-sela ngantor, syukur-syukur dapat uang perjalanan dinas untuk tambal hutang sana-sini. Sisanya biar kita banyak jamaah di masjid, membaca Al-Quran atu ikut kegiatan islami lain. Kalau di dunia ini kita kurang jangan sampai di akhirat juga kita kurang”

Anjing betul orang ini!” umpat Derry dalam hati. Ia tidak menggubris argument Mas Parman, ia hanya tersenyum, menyalaminya, kemudian dengan sopan mempersilahkan Mas Parman keluar dari ruangan.

Derry duduk di depan meja kerjanya yang penuh sesak oleh kertas kerja. Di lacinya ada banyak konsep surat yang habis dicoret oleh atasannya. Namun, diantara kesemrawutan itu Derry ternyata memiliki rak buku kecil yang menggantung di tembok. Buku koleksinya tebal-tebal. Sebagian besar tentang ekonomi-politik dan filsafat moral. Tokoh filsafat modern kesukaannya adalah Karl Marx. Ia tidak terlalu paham Das Capital tebal yang selalu ia sombongkan kepada teman-temanya.  Ia hanya menyukai ide-ide sosialisme Marx ditambah hasil imajinasinya sendiri.

Di sela-sela buku Das Capital ia menulis hasil pemikirannya sebagai berikut:

Di negeri ini kita semua mafhum bahwa kapitalisme telah menjadi semangat zaman. Harapannya  orang-orang akan berhenti bertikai untuk kemudian berkompetisi secara sehat menggunakan produk-produk mereka. Adanya kawasan industri sekala besar, perekonomian dijital, peningkatan kemacetan di desa-desa yang tiba-tiba menjadi kawasan wisata adalah semacam anugerah bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin harum pamor pemerintah di mata masyarakat internasional.

Padahal di negeri ini ketimpangan terjadi dimana-mana. Ada perusahaan yang memiliki jutaan hektar tanah untuk kemudian dikembangkan menjadi perumahan dengan harga milyaran. Komplotan perusahaan pembiayaan dan perusahaan properti  ini telah menjerat karyawan-karyawan muda dalam skema kredit perumahan. Dalam jangka panjang, orang kaya akan semakin kaya sedangkan orang menengah dan miskin akan semakin sulit.

Kondisi-kondisi ini tidak hanya terjadi kepada mereka yang terjerat hutang pembelian rumah, akan tetapi juga terjadi kepada mereka yang mengontrak di gang-gang kecil dengan sirkulasi udara buruk dan ruang terbuka hijau yang minim. Tanpa kesadaran ekonomi-politik yang tinggi dan menyebar di kalangan  massa, harapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah impian di siang bolong.

Belum selesai Derry menulis, Mas Parman kembali ke ruangan dengan membawa empat orang dari divisi kepatuhan internal. Derry termenung tanda tak paham. Gerombolan itu membawa Derry ke ruang pemeriksaan pegawai. Buku-buku yang dicurigai kiri disita sebagai barang bukti.

Setelah tragedi itu kantor tempat Derry bekerja melakukan screening ideologi besar-besaran. Semua pegawai dipaksa mengisi kuesioner dengan pertanyaan bodoh berbelit-belit. Mereka yang dicurigai akan dipaksa mengikuti kegiatan keagamaan dibawah pengawasan langsung divisi kepatuhan internal.

Derry sendiri sudah meninggalkan kantor itu. Ia mengucapkan selama tinggal kepada bilik kerjanya, kawan-kawannya, atasannya dan demokrasi yang semakin hancur ditangan orang-orang mabuk.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Desember 2018.

, , , ,

Leave a comment