Hamil

Di setiap pertemuan aku selalu saja menyembunyikan perasaan. Alasannya agar kita tidak terlalu larut dalam situasi yang memang tidak menguntungkan. Nasib kerap mengharu birukan perasaan. Kalau hati turut terbawa maka kita jatuh di lorong gelap dua kali. Tapi tetap saja. Sekuat apapun perasaan itu dipendam. Bau tanah yang diterpa hujan atau semilir angin sore yang menampar wajah selalu pasti membangkitkan perasaan-perasaan itu. Tanpa permisi. Tanpa izin. Dan kampretnya membawa melankolia yang menusuk-nusuk.

Di bulan Januari awal nanti kamu akan melahirkan. Sebelum ke sana ada perjalanan panjang. Kita bertemu dokter kandungan untuk konsultasi kelahiran. Sudah satu tahun belum juga diberi momongan. Aku selalu saja menampik dirimu yang selalu bergantung kepada optimisme. Itu tidak perlu. Prinsipku hidup akan selalu menjatuhkan kita seturut gravitasinya. Sekuat apapun. Soleh atau tidak. Semua makluk akan mendapat momen sial secara acak. Dan bisa saja itu menimpa kita. Tapi kamu tetap berpegang dengan optimisme. Dan doa. Dan harapan orang-orang sekitar.

Akhirnya kita dikarunia anak. Dan belum lagi dia tumbuh 3 bulan. Saat ayah kita meninggal. Dia pula harus meregang nyawa. Dan saat itu aku tetap bersikukuh dengan pesimisme. Bahwa hidup akan selalu membawa kita jatuh dan jatuh. Setelah itu kita dikaruniai anak kembali. Dan tepat saat kebahagian itu tumbuh ada sebuah indikasi medis yang harus dihadapi: Sindrom Antifosfolipid. Dokter hematologi menyarankan suntik Lovenox dosis 0,6 mL setiap 2 kali setiap hari. Jika obat itu tidak dikonsumsi maka bayi tidak akan mendapat nutrisi dan oksigen. Akibatnya jelas mati. Maka kamu berani menanggung sakitnya jarum suntik di perut hingga nanti 9 bulan kelahiran.

Ilmu kedokteran sudah ada ribuan tahun. Hal-hal semacam ini dapat ditanggulangi dengan teknologi dan dokter yang ahli. Tapi saat kamu berkata, “Kata mamah kalau lahir anak pertama terus kita meninggal maka itu akan lebih ringan dibanding lahir anak ke-2”. Aku terhenyak. Kenapa harus berbincang tentang kematian. Suami mana yang sudi melihat istrinya berkalang tanah saat melihat bayi yang belum dikenalnya lahir. Hal-hal seperti itu tentu tidak perlu dipikirkan apalagi terjadi. Dan saat itu kamu bermimpi, “Aku bermimpi berjalan jauh dan membagikan apa yang aku miliki ke setiap yang terdekat.” Aku pikir apa lagi itu. Kenapa hal-hal tidak perlu yang melelehkan hati harus muncul dalam mimpi.

Stoikisme memang mengajarkan kita melakukan imajinasi negatif kepada pasangan. Bayangkan pasangan akan segera meninggalkan kita dari dunia sehingga setiap hari kita akan mencurahkan hati yang penuh. Tapi tetap saja. Bagaimana bisa kita membayangkan hal mengerikan seperti itu kepada yang kita kasihi.

Mungkin catatan ini tidaklah perlu diketahui khalayak umum. Tapi pesimisme sudah lama menjadi keyakinanku. Sudah lama pula aku tidak berdoa secara spesifik. Tuhan yang menciptakan dan Tuhan pula yang berbuat sesukanya. Maka mungkin dari sidang pembaca ada yang memilki amal begitu luhur dan kesucian hati yang jembar kiranya dapat mendoakan agar Dia mendengarkan dan memberikan yang terbaik bagi istriku. Amin.

Ferry Fadillah. Jakarta, November 2021.

Leave a comment

Masa Lalu

Apa yang berbekas dari kejayaan masa lalu? Apakah gelar kepangeranan, lahan luas alun-alun, atau puri-puri yang menyajikan paket wisata? Masa lalu hanyalah cerita-cerita tentang yang besar. Sebuah titik dimana orang-orang mengangap masa itu dimulai dari mereka dan masa depan milik mereka. Padahal dari titik itu dan setelahnya adalah kisah perang saudara, invasi negara digdaya, revolusi berdarah dan segala bentuk penyerahan kekuasaan. Di titik kini sebenarnya kita berdiri di atas tumpukan kisah-kisah itu. Sebagian yang heroik terekam dalam catatan sejarah. Sebagian yang simbolis dikenang dalam upacara tahunan. Sebagian yang minor tenggelam dan terlupa dalam riuh denyut pembangunan.

Begitu juga yang terjadi dalam kehidupan personal. Saat ini eksistensi kita adalah timbunan pengalaman masa lalu. Beberapa menyenangkan dan lebih banyak menyakitkan. Bertubi-tubi harapan bersinar saat ada kesempatan. Namun, berkali-kali pula kenyataan membentur kepala kita agar tetap awas dan sadar.

Ada yang menginginkan pertemuan tanpa akhir. Padahal pertemuan antara orang-orang hanya akan menghasilkan dua simpulan: beberapa menjadi kenangan dan beberapa berakhir menjadi kumpulan kontak di cellphone. Entah itu maut, bosan dan seteru semuanya akan sama efektif menghasilkan perpisahan  di antara orang-orang. Ia yang mengangap pertemuan adalah sebuah awal tanpa akhir harus siap menenggak kecewa. Sejatinya pertemuan adalah perpisahan.

Bagaimana dengan cita-cita, ambisi dan harapan? Kenapa selalu melihat minoritas yang sukses sebagai kompas hidup? Berapa banyak orang yang harus bekerja setiap hari namun tetap saja masuk kategori miskin kota? Berapa banyak orang berdoa di medan tempur dan bedil tetap saja membikin bolong mereka punya dahi? Cita-cita, ambisi, dan harapan hanya pantas diucapkan oleh para pesohor karismatik di media sosial. Orang yang berpegang pada kenyataan semata hanya akan melihat sekilas dan mendengar sambil lalu.

Lantas adakah itu dalam hidup, bahagia atau sedih yang abadi? Keabadian? Sejak daging dan tulang yang ada dalam diri kita bisa berkerut dan membusuk. Saat manusia berpikir, berhasrat, bermimpi dan merasakan bosan maka keabadian tidak akan akan pernah ada. Karena abadi itu tidak ada. Konsekuensinya: saat diyakini itu menjadi mimpi, saat terucap itulah gombal dan saat dipikirkan itu menjadi bahan yang sempurna untuk sebait puisi.

Maka di antara fragmen-fragmen masa lalu adalah bijak melihat kenyataan hanya di momen kini. Bahwa masa sulit dan senang lah yang menguatkanmu sampai detik ini. Adalah kemubadziran belaka berusaha mengenang pahit dan indah kehidupan. Saat senang memori pahit akan membuyarkan semangatmu. Saat muram memori indah akan membuatmu gila. Menangis sekaligus tertawa. Untung saja kita diberkati tidak saja kemampuan mengingat hal ihwal tetapi juga kemampuan melupakannya. Maka seperti kisah minor peradaban. Kisah-kisah hidup pun akan pudar, tertimbun, layu. Dengan itu manusia tidak selalu mengais-ngais ingatan dan menjadi hantu pada sebuah ruang hampa. Kita dapat beranjak dari lubang itu dan menghadapi kenyataan yang absolut dalam keseharian.

Ferry Fadillah. September, 2021

Leave a comment

Kontras

Dari atap Hotel The Hermitage, Menteng, aku melihat hamparan gedung pencakar langit. Gedung-gedung itu berdiri di Jalan Rasuna Said, Gatot Soebroto dan Sudirman. Paling menonjol adalah menara milik korporasi finansial. Di sekelilingnya ada Hotel St. Regis, BP Jamsostek, Gama Tower  Bakri Tower dan gedung lain yang visualnya makin pudar dimakan senja. Pemandangannya sangat mengesankan. Itu kenapa orang berani membayar lebih untuk secangkir latte dan emat potong pisang goreng dari atap sini.

Lokasi Menteng sendiri merupakan wilayah elit. Bangunan didominasi rumah eks kelas menengah Belanda. Ada pula loji-loji mentereng yang kini menjadi kantor pemerintah. Setiap bangunan memiliki tamannya. Vegetasi begitu beragam dan banyak. Orang tidak akan sadar jika mereka sedang ada di Jakarta. Menteng adalah ekstensi Batavia Lama yang mulai padat dan berpenyakitan. Maka kota baru ini jelas harus, sehat dan estetik. Nampaknya visi kolonial itu masih terpelihara hingga sekarang.

Kalau kita coba melaju kendaraan sekitar depapan menit ke selatan. Ke Paseban, Johar atau Kramat. Atap yang sama dapat diakses melalui rumah penduduk. Tentu tidak ada caffe latte atau bir serta lantunan musik. Di sana ada meja plastik, jemuran plaus celana dalam, kopi saset dengan pemandangan? Tentu saja tembok tetangga yang catnya agak pudar, kabel PLN yang beradu kasih dengan kabel indihome dan atap warga beragam warna.

Saat melihat kontradiksi kepemilikan lahan ini aku sering dibuat heran. Bagaimana sebagian kecil orang menguasai lahan yang begitu luas saedangkan sebagian besar orang berebut ruang di lahan yang sempit. Bagaimana jika skemanya kita ubah begini: negara mengambil alih semua kepemilikan lahan di Jakarta. Lahan tersebut di redistribusi kepada rakyat sesuai jumlah anggota keluarganya. Lahan-lahan yang tidak ditempati lebih dari satu tahun dikembalikan kepada negara. Sehingga, tidak ada lagi lahan kosong luas dipagar tinggi dengan satpam garang di gerbang. Atau berderet rumah dan ruko disewa/ dijual dengan nama marketer berjejalan. Semua dialokasikan sesuai kebutuhan.

Tapi apa ada yang mau dengan ide ini. Di era saat akumulasi modal semudah geseran jari orang pasti menentang. Jangan-jangan dengan mudah dilabeli komunis. Dan seperti gedung eks Comitee Central PKI di Salemba: terlupa, muram dan sunyi.

Ferry Fadillah. September, 2021

Leave a comment

Pandemi

Aku menghadapi pandemi tidak berkesudahan. 2 tahun berlalu dan orang masih mampus saja karena virus. Pemerintah tampak gelagapan. Rakyat marah. Bagaimana bisa berdiam dirumah jika lambung terus kosong. Hari-hari adalah berita penuh pendapat konyol para pejabat. Orang berpikir mereka brengsek. Cuman hanya kata-kata itu saja yang dapat meletup di depan TV. Selebihnya kita semua harus hati-hati. Undang-Undang ITE siap memamah biak siapa saja.

Pekerja kantoran berkutat dan satu pertemuan virtual ke pertemuan virtual lain. Tentang program kerja dan evaluasi-evaluasi. Dengan kamar, koneksi internet dan pendingin ruangan. Hidup yang begitu menyenangkan. Sesekali video dimatikan untuk sarapan, ngopi atau ngemong anak yang sedang rewel. Adapun gaji tidak menjadi masalah. Ia akan tetap mengucur. Karena kerja virtual sama juga kerja fisik. Ia menuntut pengorbanan waktu luang yang manusia miliki.

Maka bagi pekerja kantoran, rumah adalah ruang kerja, ruang keluarga sekaligus penjara. Setiap hari mereka terjebak dalam rutinitas yang sama. Antara urusan klerikal dan rumah tangga. Petualang antar kota, antar provinsi yang biasanya menggunakan uang kantor harus rem dulu. Hiburan semata-mata layar komputer atau gawai. Dari satu citra feed instagram ke instastory, berita detik, podcast atau mendengar tukang sayur lewat diselingi tahu bulat dan gemerisik penggorengannya.

Dalam rutinitas yang tampak bak tahanan itu orang menerka-nerka kapan kehidupan akan kembali normal. Hari-hari indah sebelum pandemi. Mobilitas yang asyik. PDB yang tinggi. Kepadatan di pusat kota dan buruh-buruh yang lalu lalang antara pinggiran ke pusat industri. Tapi tampaknya 2 tahun sikap menerka-nerka itu sirna sudah. Orang-orang sudah terbiasa menjadi tahanan fisik di rumahnya masing-masing. Untungnya kapitalisme menyuguhkan berbagai macam hiburan yang dapat diakses dengan murah. Hari akan berlalu dengan cepat. Pikiran tidak akan sempat berpikir tentang makna hidup atau hal-hal mengenai makna. Kita sudah terbiasa mengurus tetek bengek tanpa perlu makna itu sendiri.

Ferry Fadillah. Jakarta. Juli, 2021.

Leave a comment

Tentang Istri

Istriku Bali dalam sebuah ujud

Kali pertama temu di tepian laut

Hatinya sesejuk angin dari selatan

Kesabarannya amat maha dalam

inilah samudera lepas tanpa pagar batas!

Hari-hari sulit selalu dilewati

kami kapal yang diombang-ambing angin dan ombak

Di ujungnya adalah pulau tujuan tanpa akhir

kita berdua duduk dengan teh dan kopi

Mengobrol ringan bersama Tuhan yang tersenyum simpul

Ferry Fadillah. Rawasari, Juli 2021.

Leave a comment

Tentang Ibu

Ibuku tidak bergelimang harta.

Ia tidak mewarisi emas, tanah atau bangunan.

Perjuangannya dalam hidup dan menghidupi di saat-saat sulit lah harta yang berharga.

Darinya kita belajar arti harapan dan keteguhan.

Saat titik-titik terendah hidup datang, ia selalu hadir dan berseru lantang pantang menyerah.

Ia akan terus hidup dalam kebaikannya. Dalam jariah dan darah anak cucunya.

Ferry Fadillah. Tanpa Tahun.

Leave a comment

TOA

Di sini TOA masjid rajin ucap inalilahi.
Pagi, siang dan malam hari.
Sudah tidak terbilang berapa yang pergi.
Kerabat hanya bisa menangisi
yang lain mencoba menahan diri.
Asu memang. Kapan covid pergi.

Ferry Fadillah. Rawasari, Juni 2021.

Leave a comment

Harap

Di atap Rawasari bulan kuning berpendar haru
di bawahnya orang tua dan anak-anak berharap pada utopia
ada hampar damai di padang luas
sayang, tiap pandang mesti terbentur
tembok
tiang
untai kabel
tidak ada hampar lapang itu
semua bergegas mengubur harap
dan kembali tidur berselimut cemas

Ferry Fadillah. Jakarta, Juni 2021

Leave a comment

Bandara

Bandara adalah sebuah perbatasan

dimana orang hilir mudik dengan pikiran masing-masing

ada yang menatap hidup baru di sebuah kota asing

ada yang menyudahi kenangan demi pulih pahit tragedi

disanalah perubahan bermula akhir

Dan bagi yang sekedar mampir

bandara ibarat tugu

pengingat antara pisah dan temu

Ferry Fadilah. Halim, 2021

Leave a comment

Lebaran

Tahun ini lebaran harus saya lewatkan di Jakarta. Bukan hal baru. Tahun lalu pun yang serupa terjadi. Wabah masih merajalela. Pemerintah masih bingung. Dan, rakyat harus menanggung kecewa. Berlebaran di Jakarta masa pandemi berarti melewatkannya dalam ruang berperabot bernama rumah. Dengan istri atau satu-dua kawan dan tetangga yang berani bertandang. Tidak ada keriaan anak-anak yang meminta THR. Atau kesibukan berpose sambil mengagungkan baju terbaru. Lebaran kini adalah hari-hari biasa yang berwarna merah di kertas kalender. Ia seperti sabtu dan minggu tanpa ramadhan. Dan takbir hanya bunyi lirih dalam qalbu perorangan.

Tapi ya begitulah. Apakah ke-akbar-an-Nya hanya termanifestasi dalam hingar bingar perayaan? Apakah Dia alpha dalam sunyi dan kesendirian? Apakah Dia Tuhan bagi yang semarak dan hantu bagi yang pemurung? Bukankah Ia mencakup segalanya. Berada diluar kategorisasi manusia. Dalam situasi apapun, ke-Akbar-an-Nya akan selalu beresonansi.

Maka sunyi sepi lebaran kali ini adalah sebentuk kasih. Mungkin terlalu lama kita berpesta dalam ritual. Lupa bahwa kewajiban insan adalah merenungi setiap kejadian. Setiap nafas. Sehingga hidup mengorbit seturut kehendaknya.

Rawasari. Mei, 2021.

Leave a comment

Sunyi

Dalam selimut moral ia bergelut,

“Tuhan, jika kau melarangnya, mengapa kau bangun cinta yang megah di sukmaku”

Ia usir bayang perasaan dalam benaknya

Semakin berupaya bayang semakin kokoh

melekat tanpa ampun

Ia coba usir lagi dengan sisa tenaga

Semakin terusir bayang semakin membara

Bayang memerah

Seperti arang yang ditiup rongga mulut.

Wajahnya terbakar perasaan

ia menyerah

perasaannya bungkam

sunyi penuh bisu.

Rawasari. April, 2021.

Leave a comment

Survey

Kalau ada survey minta saran dan masukan diawali dengan maklumat: “data anda terjamin kerahasiaannya”, saya tidak bisa begitu saja percaya. Apalagi survey dibuat instansi pemerintah. Ada pula kolom isian nama dan nomor induk pegawai.

Khusus yang pertama kita semua maklum. Kalau saran dan masukan bisa saja dianggap pembangkangan bagi petinggi yang tidak pernah disanggah. Buruk wajah, cermin dibelah, begitu kata pepatah. Pernah suatu ketika petinggi sebuah kantor murka. Ia tidak sudi melihat nilai rendah atas perilaku dirinya dari bawahan. Waktu itu belum mulai survey elektronik. Penilaian dilakukan dengan kertas dalam amplop tertutup. Mudah saja petinggi itu membuka amplop, mencari identitas bawahannya dan memanggil dengan titah: beri saya nilai baik! Sebagai bawahan yang hidupnya sedikit banyak ditentukan atasan, ia hanya bisa tertunduk setuju.

Pernah juga selepas masa ospek pendidikan. Panitia menyerahkan kertas folio kepada peserta. Perintahnya isi dengan kesan dan pesan. Tidak lupa mengisi identitas. Saya dengan jujurnya menulis pesan. Bahwa kegiatan ini tidak ada guna dan tidak sesuai sendi kemanusiaan. Ternyata ditangan ketua ospek. Yang merupakan seorang PNS senior tulisan itu dianggap makar. Saya dimarahi, disuruh push up dan dites hapalan pancasila. Belakangan tes hapalan pancasila sering saya lihat menjadi alat bagi aparat untuk menindak pelanggar lalu lintas atau protokol kesehatan. Dan apa relevansinya saya pun tidak tahu menahu.

Mengenai nama dan nomor induk pegawai. Keduanya adalah identitas kunci. Bagi pihak yang punya akses dengan memasukan nomor induk saja bisa didapati data detil alamat, keluarga, riwayat mutasi dan lain-lain. Apakah data tersebut bisa dijamin aman dari tangan petinggi yang ingin ‘menandai’ para kritikus. Bisa-bisa data itu dijadikan semacam alat politik kolonial. Menjauhkan para pengkritik ke pinggiran kekuasaan. Pinggiran negara. Ke tempat terdepan, terpencil dan tertinggal. Agar ia insyaf akan salahnya. Merenungi khilafnya. Dan menjadi penurut yang beriman.

Begitulah Hindia Belanda mengasingkan intelektual nasionalis di zamannya. Begitu juga orde baru terhadap unsur-unsur kiri agar mereka hilang bungkam. Dan juga sekarang melalui UU ITE agar warganet berfikir jutaan kali sebelum mengunggah tulisannya.

Tampaknya petinggi-petinggi yang lahir dari rahim orde baru belum tampak betul nyaman dengan alam saling kritik ini. Bermacam-macam edaran dan ketentuan dibuat. Intinya agar para bawahan. Aparat rendahan yang kerjanya mengatakan “siap” sesaat setelah mendengar perintah menjadi patuh tanpa koma. Tidak membuat gaduh. Dan membiasakan menyelesaikan permasalahan internal secara ‘kekeluargaan’. Walaupun maknanya bisa jadi berlarut-larut dan tanpa putusan sama sekali.

Saya percaya kalau salah satu suksesnya jalan demokrasi adalah adanya ruang bagi perdebatan. Tanpa itu maka birokrasi tidak ubahnya tata kerajaan zaman feodal. Dan sebagaimana sejarah menasihati. Sistem itu rapuh dan kelak lapuk berkeping-keping.

Rawasari. September, 2020.

, , , , ,

Leave a comment