Posts Tagged novel

1984

Suatu malam di hari yang ganjil aku berjalan di antara deretan toko tua. Di bangun sebagai pengingat kepongahan bangsa di utara dunia. Namun, dari kepongahan itu, tersisa seni art deco yang menjadi ikon kota itu. Itulah Jalan Braga. Walaupun tidak setenar awal abad ke 19 lokasi ini masih menjadi favorit para pelancong asing.

Sejak Konfrensi Asia Afrika yang tinggal seremonial itu dilaksanakan untuk ke sekian kalinya Braga mempercantik diri. Trotoar usang pesing diubah bersih dan tertata. Bangku kayu dengan pegangan besi di bawah lampu gaya eropa menghiasi beberapa sudut jalan. Di antara bangku-bangku itu ada bola batu besar yang pernah tertancap bendera mini negara peserta KAA. Toko-toko disekitar pun ikut berbenah. Lumut yang menempel di pojokan tembok dibersihkan, cat putih kemudian menutupi dinding itu agar paripurna.

Jalan yang dilalui kendaraan bermotor tidak beralaskan aspal. Batuan dengan bentuk segi empat beranekaragam saling menyusun mencerminkan kesan eropa yang sekedarnya. Di beberapa bagian batu itu rusak tidak kuasa menahan beban kendaraan yang hilir mudik setiap hari.

Lelah berjalan. Aku berhenti sejenak di sebuah toko makanan. Sambil melihat interiornya yang boleh juga aku melihat menu makanan pada display yang ternyata berisi kuliner lokal sunda. Tanpa panjang pikir aku masuk dan mencari tempat duduk yang pas.

Tepat di meja nomor 3 dengan pemandangan jalan padat dan minimarket berwarna merah aku duduk. Setelah melihat-lihat menu yang banyak itu terpilihlah kopi bandrek sebagai teman duduk. Aku ambil buku yang sedari tadi terselip di ransel kecil. 1984 karangan George Orwell. Aku baru membacanya pada bagian ke tiga saat Watson dipergoki sedang bermesraan dengan wanita anggota partai oleh Polisi Pikiran.

Pesanan datang. Aku mengucapkan terimakasih dan dibalasnya dengan senyum tanpa kata-kata. Kopi itu mengeluarkan bebauan jahe yang khas. Warnanya hitam kecoklatan dengan gula putih yang belum sepenuhnya larut. Menunggu sekitar tiga menit aku menyeruput kopi itu sambil memejamkan mata. Pedasnya rasa bandrek dan tajamnya pahit kopi langsung merangsang sarafku untuk lebih terjaga. Setelah gelas itu diletakan pada tatakan, aku kembali membaca novel itu.

1984 adalah sebuah novel politis yang ditulis pada tahun 1949. Novel ini pada masanya merupakan sebuah wahyu prediksi akan kejadian politis di tahun 84’. Diceritakan bahwa dunia pada masa itu terbagi menjadi tiga kekuatan besar. Oceania dengan paham sosing-nya, Eurasia dengan paham neo-bolsevisme dan eastasia dengan pemujaan mati. Setiap negara bertempur memperubutkan kota-kota penyangga yang kaya dengan sumberdaya alam dan manusia. Setiap penguasa baru akan memakai sumber daya itu untuk pertempuran, sabotase dan spionase.

Menariknya adalah peperangan antara ketiga negara didesain tidak untuk dimenangkan. Perang adalah penyaluran surplus produksi domestik dan medium propaganda agar rakyat tidak memiliki kesempatan untuk mengkhayalkan kehidupan ideal. Rakyat dipengaruhi secara psikologis bahwa negara sedang dalam keadaan darurat. Setiap gerakan perlawanan dicap kontra revolusioner. Gerak-gerik warga dicurigai melalui alat bernama telescreen yang dapat mendengar suara dan memantau gerakan.

Winston Smith adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah tokoh partai yang memiliki kerja busuk untuk membohongi persepsi publik. Walaupun dia adalah tokoh partai namun hidupnya tidak bisa bebas. Setiap gerak geriknya selalu di awasi. Oleh telescreen, polisi pikiran, tetangganya atau bahkan pacarnya. Masyarakat tempatnya hidup dibuat saling mencurigai satu sama lain. Bahkan ada seorang orang tua yang ditangkap polisi pikiran karena dilaporkan anaknya sedang mengingau politik: turunkan Bung Besar, turunkan Bung Besar!

Bung Besar adalah pemimpin tertinggi negara Oceania. Setiap masyarakat diwasinya. Slogan partai yang dibentuknya adalah: perang ialah damai, kebebasan ialah perbudakan, kebodohan ialah kekuatan. Setiap warga negara harus mengabdikan waktu dan tenaga untuk Bung Besar. Buku-buku yang tidak sehaluan diberangus. Bahkan data statistika tentang produksi nasional dipoles agar tampak sukses padahal kebutuhan dasar seperti alat cukur sulit untuk didapat.

Lebih mengerikannya lagi adalah sekolompok gerakan anti seks yang memprogandakan kehidupan seks yang sepenuhnya demi penghambaan kepada partai. Seks sebagai rekreasi adalah terlarang. Seks harus diahadapi sebagai sesuatu yang luhur yakni menghasilkan anak demi  keberlangsungan negara. Menikmati seks adalah sebuah pelanggaran. Visinya adalah setiap warga negara memproduksi anak melalui serangkaian inseminasi buatan sehingga keluarga lebur dalam rumah besar bernama negara. Pikiran yang menggelikan sekaligus mengerikan.

Beberapa meter dari Jalan Braga, disamping gedung Asia Afrika ada sebuah taman dengan air mancur yang menyala setiap malam. Kursi-kursi dengan bangku kayu dipenuhi oleh banyak orang setiap malam. Beberapa diantara mereka membawa makanan dan bercengkrama bersama handai taulan. Setiap sabtu malam ada sekelompok pemuda menamai dirinya komunitas perpustakaan jalanan. Buku dilapak diatas koran dan dipajang agar dilirik orang yang mengunjungi taman. Beberapa pengunjung bahkan terlihat berdiskusi tentang berbagai topik. Suatu ketika, segerombolan tentara datang. Dengan murka  mereka membubarkan sekolompok pemuda itu. Sebagian buku di rampas. Suasana berubah tegang.

Klarifikasi muncul setelah media sosial membahas sikap fasis itu. Tentara membela diri. Untuk apa membaca malam-malam dan buku-buku yang disebar dikhawatirkan menyebarkan paham yang dilarang, bela mereka. Tentara mulai masuk kehidupan sipil.

Pelarangan buku, diskusi yang dicurigai, perbedaan yang dianggap pembangkangan adalah warna yang terjadi di tahun 2016 ini. Usia negeri ini belum genap satu abad, namun tidak ada arah menuju keterbukaan pikiran. Rakyat diombang-ambing oleh opini prematur pejabat di televisi. Pilkada dipenuhi fanatisme sempit sektoral. Beberapa kepala daerah menjadi hamba pengembang. Penggusuran menjadi keseharian. Setiap wacana emansipasi dibius dengan doktrin sabar pangkal pahala. Namun, saya yakin dari karut marut ini akan muncul beberapa satria yang siap mencerahkan masyarakat. Dan mereka sadar, hal paling awal yang harus dimiliki masyarakat dan menjadi ampuh dalam melawan kebodohan hanyalah satu kata: baca!

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , , ,

Leave a comment

Aleph

“Aleph”

Aleph adalah huruf pertama dalam sistem bahasa Hebrew. Dalam Bahasa Arab sepadan dengan huruf alif. Aleph tidak hanya mengandung sesuatu yang materi yakni entitas terkecil dari sistem bahasa namun mengandung hal-hal transenden yang sulit diraba oleh manusia.

Aleph dibangun oleh tiga bentuk, yakni yod (10), yod (10) dan yov(6). Sehingga Aleph mengandung angka 26, sebuah angka sakral dalam kepercayaan Yahudi yang mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa : YHVE

Dalam bentuknya yang artistik, aleph menggambarkan dua dimensi. Pertama, dimensi ke-Tuhanan yang bersifat astral. Kedua, dimensi kemanusiaan yang bersifat materi. Keduanya dihubungkan oleh sebuah garis yang bermakna bahwa Tuhan dan manusia akan selalu berhubungan.

Paulo Coelho dalam novelnya ‘Aleph’ mendefinisikan aleph sebagai sebuah titik di dunia ini yang akan membawa jiwa kita kembali ke masa lalu, ke dalam kehidupan sebelum kini, melihat citra-citra yang berkelibatan dengan cepat untuk memahami keberadaan kita saat ini.

Aleph tidak lepas dari kepercayaan inkarnasi, de javu dan karma yang masih dipercaya beberapa kaum tradisionalis di dunia ini. Terlepas dari itu semua, saya akan merangkai hal-hal positif yang dapat diambil dari novel ini. Semua tentang kehidupan, perjalanan, tujuan dan akhir dari semua itu.

***

Apa yang kulaukan di sini, berusaha menjalankan tradisi spiritual yang berakar pada masa lampau yang sangat jauh dari tantangan masa kini? (halaman 14)

Ada semacam titik jenuh. Ritual yang seyogyanya ditujukan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan malah membuat penulis jauh dari Tuhan itu sendiri. Kemudian, penulis berpikir bahwa watu akan menuntun  kepada Tuhan. Namun, Sang Guru menjelaskan bawa waktu hanya akan membuat manusia lelah dan tua.

“Itu karena sama seperti semua orang lain di planet ini, kau percaya bahwa waktu akan mengajarimu cara mendekat pada Tuhan. Namun waktu tidak mengajari apa-apa; waktu hanya membuat kita merasa lelah dan bertambah tua”(halaman 19)

Maka, penulis mengadakan perjalanan. Menyusuri Rusia dengan kereta melalui jalur trans Siberia. Bertemu banyak orang, titik bernama aleph, hal-hal magis, yang membuatnya sadar bahwa kehidupan adalah ibarat kereta api. Ia bergerak dari satu titik awal menuju titik akhir. Yang bisa dilakukan adalah menikmati kekinian di meja makan bersama penumpang lain, daripada mengeluhkan guncangan yang pasti akan terjadi. Guncangan di sini didefinisikan sebagai masalah dalam kehidupan.

“…Bukan apa yang kaulakukan di masa lalu yang akan memengaruhi masa sekarang. Apa yang kau lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa depan”(halaman 21)

Dalam hidup, banyak orang perpikir untuk mengubah nasib dengan cara mengubah masa lalu. Membayangkan mesin waktu atau aleph yang akan membawa kita ke kehidupan sebelum ini. Akan tetapi semua itu adalah sia-sia. Seperti yang dijelaskan kalimat di atas, apa yang kita lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa kini.

Akhir kalam, dari novel ‘Aleph’ saya berlajar untuk menghargai masa kini.

Sebuah momen yang sedang dan pasti terjadi.

Selamat Membaca. Selamat menikmati kekinian.

Ferry Fadillah

Bandung, 9 Mei 2013

, , , , ,

Leave a comment

Oceh Saya Tentang Novel Cinta

Pada suatu malam, saya bersama dua orang rekan kerja berbincang mengenai novel populer di zaman SMA. Dengan mata berbinar, rekan saya menceritakan novel-novel yang menarik minat mereka berikut pengarang dan respon pembacanya pada saat itu. Mendengarkan itu semua, saya heran, kenapa saya tidak dapati hal yang sama di zaman yang sama? Kemana saya? Hasil kontemplasi lebih lanjut dan melihat kembali koleksi buku ketika SMA, saya tertawa sendiri, ternyata koleksi buku saya didominasi filsafat, sosial politik, dan budaya. Untuk ukuran anak remaja, itu semua merupakan tema keaksaraan yang sangat dihindari dan ditakuti!

Diam-diam saya tertarik oleh novel yang dibincangkan malam itu, sebuah novel remaja karya Esti Kinasih, Dia, Tanpa Aku. Saya mencoba menghilangkan semua praduga mengenai dunia novel remaja yang penuh kelebayan. Lembar demi lembar saya nikmati dan ternyata saya menikmati novel itu! Walaupun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi karena tidak sejalan dengan rasio, namun saya coba memaafkannya dengan berbicara dalam hati : ini fiksi bung!

***

Berjalan-jalan ke toko buku sudah seperti ekstasi yang tidak dapat dilewati. Saya melihat toko buku sebagai sebuah surga keberaksaraan, sayang perlu modal untuk menikmati itu semua. Terkadang, tanpa modal, saya hanya berjalan-jalan dan melihat buku yang sekiranya menarik.

Awal bulan oktober saya berkunjung ke sebuah toko buku di Denpasar. Ada tumpukan buku yang menarik hati saya. Kovernya sangat berwarna, ada empat orang dengan jenis kelamin yang berbeda berada di atas perahu kertas berwana merah. Saya ambil dan membaca judulnya : Perahu Kertas karya Dee. Sungguh, ketertarikan untuk membaca novel semacam ini merupakan sebuah keajaiban dalam hidup saya, namun karena ada rasa ingin tahu akhirnya saya mengambil buku ini dan langsung menuju kasir.

Tiga malam saya membaca novel populer tersebut. Responnya sama, saya menikmati setiap adegan yang digambarkan melalui kata-kata, perasaan saya bisa penulis campur adukan, putar balikan, sedih senangkan, hebat! Namun, ada beberapa hal yang kurang sreg, entah apa, mungkin saja saya yang anti kisah romantis, mungkin juga karena pradugaan awal saya yang mengkategorikan novel remaja populer sebagai novel lebay.

***

Mihali Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psychology for Third Millenium, mengembangkan pemikiran yang menarik, tentang bagaimana perkembangan informasi mempengaruhi perkembangan diri. Csikszentmihalyi menggunakan istilah meme (baca: mem) untuk menjelaskan unit informasi budaya, yang berkaitan dengan istilah gen sebagai unit informasi genetik pada makhluk hidup. Istilah meme digunakan untuk membentuk manusia. Meme diciptakan secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk satu tujuan tertentu. Akan tetapi sekali meme menjadi eksistensi, ia mulai bereaksi dan mentransformasikan kesadaran penciptanya dan manusia lainnya yang berhubungan dengannya (Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Diliipat : Tamsya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan)

Hubungannya apa dengan novel percintaan? Seperti meme, novel percintaan memproduksi meme cinta, sehingga ia mulai menggiring pikiran setiap orang untuk men-‘cinta’-kan segala hal, misalnya film layar lebar tentang cinta, serial televisi tentang cinta, komik tentang cinta, reality show tentang cinta, hubungan sosial tentang cinta, karya ilmiah tentang cinta, puisi tentang cinta, lagu tentang cinta dan seterusnya. Jadi, meskipun pada awalnya meme dibentuk oleh manusia , ia mulai berbalik dan membentuk pikiran itu sendiri.

Faktanya memang seperti itu bukan? Remaja di indonesia dimanapun dan kapanpun (sepengetahuan saya) selalu menjadikan cinta sebagai topik yang tidak ada habisnya untuk diperbicangkan. Variasinya berbeda tetapi meme asalnya sama : cinta!

Penyebaran meme cinta memang tidak bisa disalahkan melalui produksi novel semata. Novel hanyalah salah satu ‘rekan’ penyebaran, selebihnya ada media audio, visual, maupun audi-visual yang memiliki daya sebar masif dan cepat sehingga mengurangi daya kritis masyarakat untuk memilah mana yang berguna dan mana yang tidak.

Akibat fatal dari meme cinta yang mulai menghegemoni pikiran anak muda di tanah air adalah makin sulitnya ditemukan anak muda yang berkesadaran tinggi untuk melayani sesama, bangsa dan negara. Sulit menemukan relawan-relawan yang bersedia berbakti di bidang pendidikan mengajar di tempat terpencil, sulit menemukan relawan yang bersedia berbakti di bidang kesehatan membuka praktik di daaerah sulit akses. Walaupun ada, mereka semua tidak sebanding dengan jumlah pemuda indonesia yang jumlahnya jutaan itu!

Dalam tulisan ini, bukan berarti saya adalah orang yang anti cinta. Tetapi saya khawatir jika cinta sudah menguasai alam pikir kita semua, apa iya masih ada ruang untuk memikirkan sesuatu yang lebih mulia, yang transenden. Maka dari itu tepat jika saya kategorikan cinta menjadi dua, cinta yang bermuara kepada imanensi (yang dibahas dalam tulisan ini), dan cinta yang bermuara kepada transdensi.

Novel-novel cinta sejauh yang saya tahu hanya menggiring para remaja menuju wujud cinta yang bermuara kepada imanensi. Misalnya, pacaran, ungkapan cinta, puisi cinta dan sebagainya. Maka dari itu jangan heran jika anak-anak remaja selalu galau dan galau dalam perjalanan hidup mereka. Padahal usia produktif seperti itu bisa dibentuk menjadi lebih baik dengan stimulus kebudayaan, kearifan lokal, agama dan moralitas.

Akhir kata, sebelum ide dalam tulisan ini melebar saking banyaknya hal yang menjadi buah pikiran saya selama ini. Dengan hormat saya mengajak pembaca untuk mulai kritis menikmati komoditi budaya (novel dsb) yang disebarkan melalui citra kepopuleran. Semoga dengan kekritisan itu, meme cinta tidak akan menguasai pikiran kita, sebaliknya kita lah yang secara dominan menguasa meme cinta.

Semoga pikiran kita terserahkan. Amieen.

Ferry Fadillah
Denpasar, 20 Oktober 2012

, , , , , , , , , ,

Leave a comment