Archive for May, 2017

Gelap dan Pengap

Aku berjuang menyalakan rokok di tengah angin yang berhembus kencang. Cahaya bulan begitu terang memenuhi langit dengan kemilau peraknya. Bintang dan planet asing bercahaya di balik awan kelabu yang berjalan cepat ke arah selatan.

Saat rokok sudah menyala, aku menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Asapnya memenuhi paru-paru. Saat membuka mata, saat itu juga aku menghebuskan nafas perlahan. Menikmati ketenangan yang dipicu oleh 1,6 milgram nikotin dalam tembakau.

Di hadapanku adalah bulan yang sangat bulat dan besar. Di wajah dewi itu ada noda hitam yang menyerupai kelinci. Semua orang tidak setuju denganku. Mereka bilang itu kawah yang dibentuk tumbukan meteorid. Aku bersikeras. Itu kelinci! Dan menutup perdebatan dengan satu batang rokok sambil rela menyalakan api bagi mereka.

Bulan di atasku begitu magis. Aku sangat terpesona. Ia adalah saksi saat aku dilahirkan di dunia. Ia juga adalah saksi saat aku berciuman di bawah pohon tua di pinggir sekolah. Ia juga adalah saksi saat aku memakamkan Doni –kelinciku yang mati terkilir. Ia bahkan ada sebelum ayah dan ibuku membuatku. Bahkan, sebelum kemerdekaan negeri ini atau VOC mencampuri urusan perdagangan Banten. Ia tetap di sana dengan segala kejelitaannya.

Berlama-lama memandang bulan seperti membuka lembar sejarah yang berlarut-larut. Karena ia adalah saksi dari kehidupan, tentu ia hafal apa saja yang terjadi di dunia ini. Itu pun kalau ia memandang penting kehidupan manusia di dunia. Setiap orang hanya mengingat apa yang dianggapnya penting. Tapi bulan bukan orang, tentu ia bisa mengingat melebihi batas kemampuan manusia.

Angin utara tiba-tiba datang membawakan pesan. Isinya adalah riwayat hidupku. Ia memberiku ingatan fotografis. Saat aku wisuda dan memeluk kedua orang tuaku. Aku ingat baju dan sepatu yang aku pakai. Saat aku sekolah di SMA. Wajah-wajah ramah yang selalu menemaniku di saat sepi dan guru-guru yang menyebalkan namun sangat berjasa. Aku ingat pecahnya piring saat kedua orang tuaku cek cok. Adik yang kabur entah kemana dan ikan cupang yang mati karena rumahnya pecah terkena lemparan piring.

Ingatan-ingatan itu terus mengalir tidak terbendung. Perasaanku dibuat hanyut. Kadang tertawa. Kadang menangis. Kadang hampa. Sampai momen ketika aku baru dilahirkan dan dokter yang menanganiku tersenyum ramah, aku terbangun dan mendapati diriku tertidur di sebuah dinding yang begitu sempit. Aku melihat orang-orang menangis di atasku. Mereka memakai baju hitam sembari melantunkan bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku berteriak namun mereka seperti memakai penyumbat botol wine di telinga.

Aku bertanya-tanya. Kemana bulan cantiku itu?  Mengapa aku di sini? Mengapa waktu begitu cepat? Dan di saat aku mencari sisa-sisa rokok yang aku hisap tadi sambil menikmati bulan, seorang kakek melempar tanah ke wajahku. Segenggam demi segenggam hingga gelap bersama pengap menemaniku selamanya.

Ferry Fadillah. Mei, 2017.

2 Comments