Archive for June, 2017

​Islam Tuhan, Islam Manusia

IMG20170626065504

Banyak muslim dari Mahzab Sunni yang merasa ragu ketika akan membaca buku ini. Alasannya, penulis dan penerbit diindikasi terafiliasi dengan Mahzab Syiah*). Dalam sebuah sesi wawancara oleh wartawan Madina Online bersama Haidar Bagir di bilangan Depok. Warsa Tarsono menanyakan, “Anda sendiri syiah atau sunni?” yang dijawab berikut: “Saya bukan Syiah dan bukan Sunni. Saya ini orang yang percaya bahwa orang non-Muslim yang baik dan tidak kafir, tidak menyangkal kebenaran saja bisa masuk surga. Bukan Syiah dan Sunni lagi. Saya pernah menulis bahwa non-Muslim tidak identik dengan kafir.” Jawaban ini mengukuhkan manifestasi ke-Islam-an Haidar Bagir pada bagian pembuka, yaitu: keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi.

Buku ini adalah upaya menjawaban fenomena merebaknya gerakan Islam konservatif**) yang menemukan panggung terbuka setelah kejatuhan Orde Baru, keterbukaan informasi dan demonstrasi besar-besaran melawan penista agama di Ibu Kota beberapa waktu silam. Tidak hanya itu, ada juga gerakan Islam trans-nasional yang berupaya mengubah dasar negara berdasarkan keyakinan bahwa tata negara islam (berdasarkan pemahamannya) adalah solusi segala permasalahan umat. Gerakan-gerakan tersebut dalam titik ekstrim memiliki dampak negatif bagi keutuhan bangsa Indonesia yang dibangun atas keragaman agama dan kepercayaan.
Padahal agama, setelah manusia merasakan manfaat besar dari kemajuan teknologi dan pengetahuan, adalah mata air yang sedang menjadi tujuan mayoritas manusia modern. Hal ini senada dengan pendapat William James dalam Varieties of Religious Experience (1904), “….meski “sains” boleh jadi akan melakukan apa saja yang melawan kecenderungan ini, manusia akan terus bersembahyang sampai akhir masa.. Dorongan naluriah untuk bersembahyang adalah konsekuensi niscaya dari fakta bahwa -meski bagian paling dalam dari diri- empirisnya adalah Diri yang bersifat sosial – ia hanya akan bisa menemukan Kawan yang menentramkannya (yakni, “Kawan-agung-Nya”) dalam dunia ideal.”

Tentu kita tidak mau, disaat musim hijrah yang sedang populer kini, para pemuda kita terjebak dalam gerakan ekstrim. Seperti gerakan amar makruf nahi munkar penuh kekerasan, presekusi yg melecehkan hukum dan wibawa negara, agenda makar terhadap pemerintah bahkan ISIS yg belakangan menghancurkan Kota Marawi, Filipina.

Haidar Bagir dalam buku ini berusaha untuk mengajak pembaca muslim kembali mengawinkan Agama dengan Filsafat (yg sempat mesra selama beberapa abad) untuk mendapatkan pemahaman Islam yg lebih spiritualistik-mistis dan holistik. Menurutnya, fokus kepada syariat (bukan meremehkan syariat) semata-mata tanpa dibarengi perubahan akhlak yang baik hanya akan menumbuh suburkan kelompok yang merasa benar sendiri di negeri ini. Misalnya kelompok takfiri yang dengan mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain bahkan terhadap sesama saudara muslimnya.

Kita perlu belajar dari sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Walaupun Sunan Takdir Alisyahbana menyatakan bahwa lapisan budaya Islam telah membawa rasionalisme keagamaan dan ilmu pengetahuan faktanya Islam mayoritas bangsa Indonesia tidak semodernis itu. Lapis Islam pun sesungguhnya masih banyak dikuasai spiritualisme, bahkan panteisme (monistik) yang menekankan kebersatuan manusia dengan alam selebihnya dan Tuhan. Itulah mengapa dakwah walisongo begitu mudah diterima oleh para masyarakat Hindu yang pada masa itu kental oleh mistisme dan wacana esoteris.

Islam Tuhan, Islam Manusia juga berarti bahwa Islam semenjak berada dalam ranah manusia tidak akan pernah lepas dari prakonsepsi budaya, kepercayaan, pendidikan dll sehingga selalu memiliki tafsir yang beragam. Tidak ada satupun ulama atau golongan, sepanjang mereka menggunakan cara ilmiah dalam menafsir, boleh menganggap tafsir yang berbeda darinya sesat atau bahkan kafir.

Haidar juga mempromosikan Islam cinta sebagai basis gerak. Kenyataannya memang begitu. Bukan saja Tuhannya Islam adalah Tuhan kasih sayang yang menyatakan “Kasih sayang-Ku meliputi apa saja” dan “Kasih sayang-Ku menundukan murka-Ku”, tetapi juga sebagi al-rahman al rahim: Yang menyayangi seluruh makhluknya tanpa terkecuali dengan semua bekal yang memungkinkannya hidup berbahagia, dan memberikan kasih sayang khusus berupa petunjuk kepada manusia yang mau menapaki jalan-Nya.

Akhirul kalam, semoga buku yang apabila dibaca dengan kaca mata kritis ini dapat menjadi oase dari padang gurun huru-hara berlatar belakang agama yg kini merebak tidak hanya di Indonesia namun seluruh penjuru dunia ini. Amin.

Ferry Fadillah. Juni, 2017.

 

 

Catatan Kaki:

*) menyebut syiah sebagai Mahzan masih menyulut kontrovesi. Penyebutan dalam tulisan ini semata-mata menggunakan hasil Konverensi Aman di tahun 2009

**) fenomena konservatisme di bahas dalam majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017 dalam sesi liputan khusus bertajuk “Konservatisme dalam Banyak Segi”

, ,

2 Comments

Ayo Makan, Ma

Bocah itu membuka setengah kaca mobil. Air hujan membasahi wajahnya. Dinginnya menentramkan jiwa. Hutan pinus di pinggir jalan menebar aroma daun basah. Tanah yang diguyur air. Serangga-serangga yang bernyanyi di dahan mahoni.

“Boy, tutup kaca! Nanti basah baju kamu!”, perintah Ibu dari bangku depan. Sebelahnya Ayah sedang mengemudi. Pukul satu siang hari, kabut mulai turun dari gunung Sunda, menutup jalan menebar aura mistik.

Dua jam berlalu. Perjalanan yang sungguh menyenangkan. Di sepanjang jalan terhampar kebun teh. Warnanya hijau tua dengan galur jalan bagi para petani. Penjaja makanan ringan dengan rumah kayu berderet. Penjual tape, indomie, sate kelinci dan sate biawak. Di sebuah kampung, di puncak bukit, sebuah rumah sederhana berdiri, itulah tujuan kami.

Setibanya di sana, Ibu membuka perbekalan. Ada nasi merah yang masih hangat. Ikan terasi jambal roti. Tahu Yun Yi digoreng setengah matang. Sambal terasi mentah dengan air jeruk nipis. Ayam kampung goreng dengan serundeng penggugah selera. Kami bertiga berkumpul di teras rumah. Berdoa dimulai. Ibu menyuapiku. Sesekali bersenda gurau dengan ayah. Aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan. Perutku sangat lapar. Hanya makanan dan alam yang membuatku diam.

***

Hujan deras mengguyur Kintamani. “Aduh, gimana sih sayang, kok kamu ngajak ke sini. Udah tau ujan!”, wanita sebelahku geram sepanjang perjalanan . Dia memang selalu begitu. Setiap keputusanku tidak pernah ia aminkan. Seperti para pendemo di depan istana Negara.

Aku jarang menjawab tuntas celotehannya. Sesekali aku melihat dan tersenyum kecut. Kalau amarahnya bertambah, aku hanya menjawab “iya, iya..” atau “Sabar yah, sayang” dan berdoa semoga Tuhan memberikan damai di dalam hatinya. Tapi ia tidak pernah diam. Ia selalu berbicara tanpa peduli kapan dan dimana.

“Kamu tuh ya kalau aku lagi ngomong dengerin kenapa sih. Daritadi iya.. iyaa.. doang. Udah bosen yah sama aku. Kalau bosen cari cewe lain aja. Dulu aja perhatian sama aku. Giliran udah bertahun-tahun pacaran kok jadi dingin gini sih. Ah, nyebelin!”

Aku malas menanggapinya. Aku biarkan celotehnya masuk ke telinga dan hilang dihempas melodi hujan. Pikiranku fokus ke jalan. Telat sebentar saja maka kabut dari Gunung Agung akan menutup keseluruhan kota. Jika sudah begitu kita hanya bisa duduk dan berdoa.

IMG_20170613_104529_314Sebenarnya ada yang aku sesali dari kisah cinta kami. Sejak kali pertama bertemu dengannya aku jadi jarang bertemu ibu. Setiap malam minggu ia selalu saja mengajakku ke bioskop, nonton konser musik atau makan di restauran jepang terkenal. Aku turuti semua ajakannya.

Tapi ada yang mengganjal di dalam hati. Setiap ia berbicara di depan meja makan atau duduk di bioskop, aku selalu membayangkan ibuku yang menjadi dia. Ibuku yang selalu tersenyum walau gurat tua sudah mulai mengakar di wajahnya. Ibuku yang selalu menanyakan kabar anaknya tanpa basa-basi cinta dan kata sayang. Ibuku yang selalu peduli dan cerewet itu.

Aku punya sebuah obsesi. Berkelana bersama Ibu dan ayahku. Mengajaknya keliling pulau-pulau di zamrud khatulistiwa ini. Berlayar dari Bali menuju Pulau Komodo. Bertemu ragam budaya, melihat Danau Kelimutu dan merasakan ragam kuliner. Atau mungkin kita berjalan menuju sebuah bukit, membuka bekal nasi merah dan merasakan suasana damai seperti kecil dulu. Dengan hujan, angin lembah dan bau tanah saat diguyur hujan.

***

Tujuanku sedikit lagi sampai. Mobil aku parkirkan di pinggir hutan. “Sayang, aku di mobil aja yah. Males ah becek kalau ke sana”. Tanpa menoleh aku mengiyakannya. Kemudian aku ambil perbekalan di bagasi. Nasi merah, ayam bakar, tahu dibungkus dengan daun pisang. Masih hangat-hangatnya. Aku berjalan dengan payung hitam di tangan kanan dan perbekalan di tangan kiri. Hutan pinus itu kini dipenuhi semak. Sesekali Aku melewati jalan tanah yang menjadi lengket oleh lumpur. Di sebelah utara dekat dengan hulu sungai ada sebuah pohon beringin besar. Di bawahnya ada gundukan tanah dengan batu nisan berwarna hitam. Aku duduk disamping batu itu.

“Ma, makasih ya selama ini udah baik sama, Boy. Ini Boy bawa makanan. Ayo, Ma, kita makan bareng”

Ferry Fadillah. Kuta, 13 Juni 2016

, , , ,

Leave a comment

Ketetapan-Nya

Delapan tahun silam, ketika saya masih mengenakan seragam putih abu, semangat untuk memasuki bangku kuliah begitu menggebu. Tentu, karena sudah menjadi tren, kedokteran dan insinyur menjadi prioritas utama. Kalau di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung seolah menjadi hadiah terindah bagi orang tua kita. Saya pun begitu. Maka, segera saja memantapkan hati untuk masuk ke Teknik Sipil ITB.

Mendadak suasana sekolah menjadi relijius. Ada siswa yang setiap pagi bertafakur di masjid selepas shalat duha, ada pengajian bersama dan ceramah keagamaan yang kerap mengundang tangis histeris para siswi. Saya pun bagian dari suasana itu. Bagaimana lagi. Dalam setiap kebutuhan tentu kita akan lebih dekat kepada Tuhan.

Sayangnya gaung tidak bersambut. Mahalnya biaya ujian saringan masuk mandiri, migrain yang diakibatkan les tambahan siang malam, doa-doa dan tekad kuat di dalam hati ternyata tidak menyebabkan saya bisa mempersembahkan ITB sebagai hadiah bagi orang tua.

Saya sempat kecewa tapi tidak larut dalam penderitaan. Toh di saat kegagalan itu, saya diterima pada sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Dayeuhkolot. Bagi saya, biaya di sana mahal. Tapi melihat prospek jurusan teknik, sepertinya biaya kuliah bisa diganti dikala kerja kelak.

Tidak disangka-sangka, ada kejadian luar biasa yang membuat kondisi keuangan keluarga morat-marit. Biaya lima juta satu semester menjadi beban yang memilukan. Syukurnya, di bulan kedua masa kuliah, saya diterima di Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Hanya Diploma I. Saya meremehkan dan orang tua pun menjadi bimbang. Tapi ini jalan yang harus dipilih agar dapur tetap mengepul.

***

Dalam setiap kegagalan. Setiap kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Kita pasti kecewa. Merasa Tuhan tidak adil dan memaksa-Nya dalam doa agar mengabulkan kondisi yang kita inginkan. Manusia yang begitu kecil kadang terlalu sombong dan dungu untuk memaksakan apa yang mereka kira pantas bagi dirinya. Kalau semua orang bisa meraih harapan sesuai amalnya mengapa kita selalu menganggil-Nya Maha Besar?

Ibnu Athaíllah As-Sakandari pernah memberi nasihat singkat: Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. Alangkah bodoh saya yang memaksa untuk masuk ITB padahal tidak dibarengi kemampuan otak. Alangkah bodoh saya jika memaska membayar lima juta satu semester jika harus menghabiskan tabungan keluarga. Alangkah bodoh saya jika menolak Diploma I padahal itu adalah yang dikehendaki-Nya.

Begitu juga gelombang kekecewaan yang melanda ketika saya tidak diterima Diploma III Akuntansi Khusus di ujian yang pertama dan kedua. Bisa jadi ada banyak manfaat bagi orang sekitar jika saya tetap bekerja dibanding kuliah dengan potongan gaji yang membuat hidup menjadi ‘cukup’.

Kini saya yakin, akan selalu ada rahasia dibalik setiap kekecewaan. Lebih baik hidup mengalir dan menerima qadarnya dengan tunduk. Berbahagia dengan setiap episode yang diberikanNya kepada kita. Daripada berkeluhkesah dan mengotori hati  dengan sesal.

Ferry Fadillah. Kelan, 10 Juni 2017


 

, ,

Leave a comment