Posts Tagged birokrasi

Renungan Zombie

Menjadi birokrat bagi sebagian orang adalah hal yang menyenangkan. Setiap tanggal satu mendapat gaji yang dilindungi peraturan pemerintah. Tanggal limanya mendapat tunjangan kinerja yang dilandasi keputusan menteri. Dan setiap hari mendapat uang makan yang diakumulasi setiap bulan. Belum lagi uang transport dan harian dari setiap perjalanan dinas yang sudah barang tentu dilaksanakan di hotel ternama.

Mungkin sebagian birokrat tidak setuju dengan gambaran umum serampangan di atas. Tidak usah sewot, toh itu hanya sebuah contoh kehidupan enak birokrat pada unit-unit tertentu. Dan ya satu lagi yaitu jaminan hari tua dan kepastian kerja yang stabil. Maka tidak salah jika setiap tahun lulusan unversitas berbondong-bondong untuk menjadi seorang birokrat.

Permasalahan muncul ketika para pemikir bebas diterima sebagai birokrat. Hari-harinya akan dikungkung oleh standar prosedur operasional, kode etik, peraturan disiplin, asas kesatuan komando dan   hierarki yang membuat gerak menjadi kaku. Belum lagi produk budaya berupa lagu dan apel pagi yang membosankan dengan isi ceramah yang itu-itu saja. Seorang pemikir bebas tentu akan kepayahan menerima itu semua.

Masalahnya, sejago-jagonya pemikir bebas ia juga perlu makan. Dan makanan  di era kapitalistik seperti sekarang hanya bisa dibeli dengan uang. Lama-kelamaan para pemikir bebas itu akan berpikir realistis. Ya menerima saja keadaan diri dan gaji setiap bulan tanpa berpikir dan bertindak neko-neko.

Maka selesailah para pemikir bebas itu menjadi orang kebanyakan. Yang hidup dalam gerak mekanik siklik tanpa mau memakai nalar dalam setiap tindakan. Ke-Aku-an nya sudah melebur menjadi visi dan misi organisasi. Tidak ada lagi manusia di sana. Yang ada adalah zombie-zombie lapar pengejar harta dan kedudukan yang banal.

Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016

,

Leave a comment

Refleksi Budaya Birokrat

Aku memberi kesaksian,

bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

dan penghayatan kenyataan dikekang

diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

karena nalar dicurigai dan diawasi.

 (W.S. Rendra dalam Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon. Jakarta, November 1973)

             Apakah yang melatarbelakangi sang “Burung Merak”, W.S. Rendra menulis puisi di atas pada tahun 1973? Apakah pada saat  itu peradaban pejabat dan pegawai, kemudian saya generalisasi sebagai birokrat, di negeri ini sedang dalam titik kritis : menuju kematian filsafat ? Apakah pada saat ini peradaban para birokrat sudah lebih baik atau malah menuju titik kehancuran?

 Refleksi Budaya Birokrat

            Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu berputar di dalam otak saya. Apalagi, secara nyata-nyata, saya adalah bagian dari birokrasi itu sendiri.

            Sebagai birokrat, saya tidak asing mendengar eselonisasi, strukturisasi, hierarki, petunjuk pelaksanaan dan istilah formal lainnya. Dari semua istilah itu dapat dibayangkan bahwa kebudayaan/peradaban birokrat bersifat kaku, instruksi top-bottom, loyalitas dinomor satukan dan struktur adalah segala-galanya.

            Seorang Pejabat Eselon II, misalnya, memiliki beberapa bawahan Eselon III, Eselon IV dan Pelaksana. Apabila institusi birokrasi itu menganut sistem semi militer, apa yang dikatakan Pejabat Eselon II harus dilaksanakan oleh Pejabat dan Pelaksana di bawahnya. Tanpa kritik bahkan cela. Maka tidak jarang kita melihat tingkah laku para Pejabat yang menyebalkan orang awam dan merepotkan anak buahnya. Akhirnya, mereka hanya bisa curhat sesama pelaksana atau pejabat selevel tanpa berani mengritik pejabat dengan level di atasnya.

            Membaca kembali puisi W.S. Rendra di atas, kita tahu bahwa birokrat diprioritaskan sebagai orang-orang yang patuh. Misalnya, diadakan Pelatihan Kesamaptaan. Di sana birokrat ditempa dan didoktrin arti pentingnya korsa dan loyalitas. Bagaimana mematuhi perintah dengan cepat dan tepat, bagaimana menunjukan sifat hormat di depan atasan dan bagaimana merasakan penderitaan secara kolektif adalah makanan keseharian Diklat Kesamaptaan. Hasilnya? Birokrat-birokrat yang patuh, tunduk dan enggan untuk berinovasi. Karena, bisa jadi, inovasi, kesangsian, pertanyaan-pertanyaan menandakan pembangkangan.

            Jawaban untuk pembangkangan, seperti yang saya ketahui, adalah ancaman mutasi ke daerah antah berantah, dipindahkan ke bagian lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya dan sanksi sosial berupa bullying. Sehingga tidak heran, para pelaksana di tingkat struktur paling rendah hanya bisa sabar dan berdoa ketika mengalami kesewenang-wenangan.

Memulai Titik Perubahan

            Semua kebobrokan itu bermula ketika birokrat berhenti menghidupkan filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia yang terdiri dari kata philia (persahabatan, cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Sehingga, secara harafiah filsafat bermakna orang yang mencintai kebijaksanaan.

            Filsafat menekankan kepada cara berpikir kritis, menimbang-nimbang segala sesuatu; benar atau salah, melihat segala permasalahan dari perspektif yang lebih luas, meninggalkan taklid (tunduk buta) terhadap sebuah doktrin, ideologi bahkan agama. Jadi apa yang diharapkan dari hidupnya filsafat dalam kebudayaan birokrasi adalah munculnya birokrat-birokrat yang berjuang di jalan kebenaran, bukan birokrat-birokrat yang membela atasannya, seperti anjing membela tuannya.

            Konsekuensinya, institusi birokrasi harus berani menerima apabila ada salah satu anggotanya melaporkan kebobrokan institusinya kepada media masa ataupun Institusi Pengawasan (KPK, Inspektorat Jenderal dll). Institusi birokrasi harus berlapang dada terhadap itu semua dan berhenti saling melempar tanggung jawab. Berkontemplasi atas segala kesalahan dan mulai melakukan revolusi birokrasi secara radikal.

              Dimulai dari diri kita sendiri yang menghidupkan kembali filsafat di institusi masing-masing, saya kira birokrat-birokrat yang berfilsafat akan mengembalikan coreng muka negeri ini yang sudah kacau di mata media, nasional maupun internasional. Semoga.

Ferry Fadillah. Badung, 24 September 2013.

, , , , , , , ,

Leave a comment