Posts Tagged bea cukai

Aku Pria yang Berseragam itu

Aku seorang Bea Cukai. Pria berseragam dengan pangkat di pundak dan ikat pinggang berkilau di pinggang. Bagi yang belum tahu seperti apa Bea Cukai, mungkin kalian pernah melihat sosok ini di televisi. Dalam liputan penangkapan narkoba di pelabuhan udara, kami berdiri di kedua sisi tersangka lengkap dengan rompi bertuliskan customs keemasan, penutup kepala, senjata laras panjang, dan sorot mata tajam yang berwibawa. Tidak heran, kalau kebanyakan mengidentikan Bea Cukai dengan kisah keprajuritan ala tentara nasional.

Dalam tulisan ini aku tidak akan menjelaskan panjang lebar tugas pokok fungsi Bea Cukai yang –mungkin bagi sebagian orang- membosankan. Aku hanya menulis bebas; membagi ceceran pikiran yang terserak sepanjang perjalanan kemarin.

Siang itu matahari bersinar terik di atas langit Bintaro. Aku sedang duduk bersama beberapa kawan menghadap ke tiang bendera. Sesaat kemudian sejumlah anak gundul berlarian dalam barisan yang teratur. Mereka semua mengenakan baju dan celana panjang gelap. Di punggung mereka melekat ransel tebal dengan kresek berisi sepatu yang tergantung di belakangnya. Keringat menetes di sekujur wajah mereka, sorot mata mereka tajam, sikap mereka sempurna.

Semakin lama lapangan dipenuhi oleh gerombolan anak berkepala gundul itu. Waktu menunjukan pukul satu lebih empat puluh lima menit. Beberapa panitia pendidikan kepemimpinan memberi arahan kepada mereka. Aku sayup-sayup mendengar arahan itu. Bahkan aku hampir tidak peduli, aku sibuk dengan pisang pemberian kawanku dan air mineral yang segarnya bukan main.

Tiba-tiba dari kejauhan seorang panitia menghampiriku. “Fer, lu ikut jalan sana sama anak kelas B sesuai keputusan rapat.”

 “Rapat? Kapan gue ikut rapat?”

 “Lah, rapat kemaren malem. Makanya kalau ada rapat lu ikut!”

 “Males gue rapat. Ya udah gue siap-siap dulu!”

Aku sering malas ikut rapat kepanitiaan. Sebenarnya aku malas dengan semua jenis rapat: rapat paguyuban, rapat kelas, rapat RT/RW bahkan rapat keluarga pun aku selalu mecari seribu alasan untuk menghindarinya. Pembangkanganku bukan tanpa alasan. Mulanya aku selalu aktif dalam rapat dan terlibat diskusi sengit dengan beberapa pengurus. Tapi itu hanya sesekali terjadi. Sisanya rapat adalah nereka. Aku harus menunggu berjam-jam agar anggota kelompok penting datang. Aku harus mendengarkan percekcokan dua anggota yang tidak segera ditengahi oleh ketua. Aku harus mendengar materi atau arahan yang tidak jelas premis dan daya argumennya. Aku benci rapat.

Kembali ke cerita. akhirnya aku mulai berjalan kaki dari Jalan Raya Ceger menuju ke Markas Arhanud di Pondok Betung, Bintaro. Jalan sengaja dibuat berputar oleh panitia. Jarak pendek yang tadinya hanya 3 km berlipat-lipat menjadi 12 km. Aku mengutuk mereka di dalam hati. Tapi ya panitia itu kan mahasiswa –juga temanku- yang mungkin memiliki filsafat: kalau harus dipersulit kenapa juga harus dipermudah.

Dalam terik matahari dan polusi Tangerang Selatan yang memprihatinkan aku dengan kelas B berjalan menelusuri pinggiran jalan. Tidak ada pemandangan bagus di sepanjang jalan. Hanya deretan toko-toko warga dan sampah yang berserakan di tanah kosong.

Aku sebenarnya tidak tega mengantar mereka. Aku membayangkan diriku sebagai seorang anggota SS Nazi menggiring Yahudi Jerman ke kamp pembantaian di Munich. Aku tahu mereka akan diapakan nanti. Aku sudah pernah merasakan itu semua dalam Diklat Kesamaptaan. Tapi aku tidak kuasa memberi tahu mereka. Ya, amanat ketua untuk merahasiakan itu adalah pedoman yang harus aku pegang teguh.

Diklat kesamaptaan yang pernah aku jalani selama tiga puluh hari dipenuhi dengan kengerian dan kenangan yang tak terlupakan. Aku selalu rindu kegiatan lari siang bertelanjang dada sebelum mengambil jatah makan. Aku masih ingat ceramah pelatih yang mbulet dan tidak jelas ujungnya. Aku masih terngiang desingan peluru dan huru-hara siswa dalam acara pendadakan pada suatu malam. Aku juga masih ingat latihan bertahan hidup di alam terbuka selama tiga harlam: ayam mentah yang harus kita olah langsung, lubang yang harus digali sebelum buang air besar, tenda ringkih dari jas hujan dan wudhu zaman perang di genangan air.

Awalnya aku mengutuk kegiatan itu. Aku benci kegiatan militer. Aku benci kebersamaan dan keseragaman. Aku pecinta kebebasan. Bagiku manusia lahir dan mati semata bagi kebebasannya masing-masing. Anehnya, sesuatu terjadi ketika aku meninggalkan markas itu. Aku berjalan perlahan secara militer, tanganku membentuk sikap hormat dan wajah menengok ke kanan memandang para pelatih yang berbaris sesuai pangkat. Lagu mars Paskhas dikumandangkan. Aku mendengar beberapa kawan terisak dan mata pelatih yang berkaca-kaca. Aku pun menangis. Dan, ah, tangis itu, ternyata diam-diam aku pun setuju dengan doktrin mereka.

Terlepas dari aku yang keras kepala menerima semua ajaran pelatih. Aku berterima kasih kepada mereka atas setiap ilmu yang mereka berikan di markas. Aku merasakan diriku lebih sigap dan tegap berkat latihan fisik rutin dan aku juga menjadi sadar akan satu hal…

Bagi beberapa orang pria berseragam itu tegas, kaku, berwibawa, patuh, setia dan loyal. Seorang berseragam dituntut mematuhi atasan mereka dan mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan keluarga. Tidak ada kamus sepi dan rindu dalam hidup mereka karena kepatuhan adalah segala-galanya.

Anggapan ini keliru. Banyak di antara mereka yang dimutasi jauh dari keluarga mereka. Kenangan dan ruang foto di rumah dinas menjadi pengobat kesepian mereka. Aku bisa merasakan itu karena aku juga seorang pria berseragam. Aku juga selalu menampakan diri tegas dan berwibawa di depan banyak orang. Menitikan air mata adalah haram bagi seorang lelaki.

Namun seringkali dalam lamunan di rumah dinas aku teringat dengan kota kelahiran. Aku rindu Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat berwibawa dari jendela rumah; pepohonan tua zaman kolonial di Taman Cilaki; ayam bakar dengan nasi merah dan sambal terasi; kawan-kawan nongkrong yang selalu tertawa dengan cerita-cerita sederhana; bau peuyeum dan patung superhero di sepanjang Cihampelas. Dan tentu saja… ibuku.

Aku selalu merindukan ibuku selama menjalankan tugas. Setiap kesulitan yang timbul dalam pekerjaan selalu membuatku sedih. Andai ibuku ada di sini bersamaku. Aku selalu saja membayangkan hal itu. Mungkin kalian mendakwa aku sebagai pria cengeng tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku selalu memerlukan ibuku.

Kebiasaanku ketika malam tiba adalah mencatat jurnal di buku harian dan foto ibuku selalu menjadi pembatas buku itu. Raut wajahnya masih muda. Di sebelahnya ada ayahku dengan kumisnya yang gagah. Foto itu diambil ketika mereka masih kuliah di IKIP. Aku selalu saja tersenyum ketika melihat wajah mereka yang bahagia.

Oh iya aku jadi lupa. Aku belum menjelaskan kepada kalian kenapa aku suka menulis. Mengatakan aku sayang kepadamu kepada kekasih lebih mudah dibanding mengatakan hal serupa kepada ibunda. Setujukah kalian? Aku tidak tahu mengapa dan aku tidak ingin hal ini berlanjut hingga perpisahan datang dan aku tidak sempat mengatakan itu. Ya, jurnal harian itu selalu saja aku tulis dan menyelipkan perasaan-perasaan terdalamku kepada ibunda. Mungkin saja, suatu saat nanti, buku itu tercecer entah di mana dan ibuku akan membacanya. Aku selalu mengharapkan kejadian itu.

Sial, mengapa aku jadi tenggelam dalam lamunan melankoli. Bukankah aku sedang bercerita tentang perjalanan ke Markas Arhanud ?

Sudahlah, sepertinya aku sudah kehilangan minat menulis pengalaman itu. Aku tidak sanggup menjelaskan kepada kalian tentang adik-adiku yang dibentak dan dihukum diselingi teriakan-teriakan dari siang sampai pagi. Aku yakin mereka diharapkan oleh orang tua mereka untuk diperlakukan layaknya manusia… ya manusia.

Aku hanya berharap pada suatu hari kelak bukan teriakan dan hukuman yang mempersatukan orang-orang. Bukan senioritas tak terbantahkan yang menciptakan kebersamaan. Bukan!

Aku berharap orang-orang itu berkumpul di suatu senja yang syahdu di bawah pohon petai cina yang rindang. Mereka duduk di tikar-tikar hangat yang ditengahnya tersuguh penganan ringan dan teh manis yang harum. Mereka bercerita tentang segala hal: keluarga, kekasih, sahabat, tetangga atau buku-buku yang baru saja mereka baca. Salah seorang di antara mereka ada yang memainkan gitar diselingi suara emas lagu-lagu persahabatan. Keriuhan itu akan diselingi senyuman, wajah yang berbinar dan gelak tawa. Ah, dan kebersamaan sudah pasti tercipta karenanya.

 ***

“Kelas B lapor posisi! Kelas B lapor posisi!”, suara keras handy talkie seketika membuyarkan lamunankan.

 “Tidak jelas.. ulangi!”

 “Kelas B lapor posisi!”

 “Kelas B menuju ke arah STAN lagi”

 “Siap laporan diterima”

Handy Talkie sialan itu membuyarkan lamunanku. Aku baru sadar kalau ternyata kami hanya memutari STAN dan harus melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Sial, aku terlalu lama berada dalam pikiranku sendiri.

Langit Bintaro semakin mendung. Kendaraan bermotor bergegas pulang mencari perlindungan. Aku dan kelas B masih saja berjalan.. berjalanan.. dan terus berjalan..persis seperti kehidupan yang walaupun pahit atau manis memang harus dihadapi. Bahkan kita tidak akan pernah tahu ada rintangan dan kesenangan apa yang terbentang. Yang aku yakini hanyalah satu: semua masa depan adalah misteri ilahi yang akan indah pada waktunya.

Ferry Fadillah

Pondok Aren, 31 Januari 2016.

, , , , ,

1 Comment

Doa yang Terkabul

Hal paling membahagiakan bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) adalah lulus kemudian menjadi pegawai negeri di lingkungan Kementerian Keuangan. Itulah yang aku alami. Setelah lulus dari Prodip I Kepabeanan dan Cukai tahun 2010, aku langsung ditugaskan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Aku sebenarnya tidak bercita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil. Semua orang tahu, menjadi pegawai negeri berarti siap hidup dalam ritme yang membosankan; aturan ketat; apel setiap senin; pakaian yang seragam dan kepatuhan kepada atasan. Namun, melihat kondisi keuangan keluarga yang morat-marit, aku tidak memiliki pilihan, aku harus menghadapi itu semua.

Tahun pertama masa kedinasanku dilalui tanpa kendala yang berarti. Bahkan, aku sangat bersyukur mendapatkan ilmu dari proses bisnis di unit kerjaku dan peraturan-peraturan yang kubaca. Aku juga bersyukur karena dikaruniai seorang atasan yang sangat ramah dan paham akan keinginan anak buah. Tidak jarang aku diberi kesempatan untuk menjadi pembicara dihadapan pegawai-pegawai senior, menyampaikan ilmu administrasi pemerintahan yang aku pahami, dan tidak ada satu pun dari mereka yang meremehkan aku, aku sangat bersyukur.

Setelah dirasa cukup lama aku di unit tersebut, aku dipindah tugaskan ke unit yang baru. Banyak pegawai menginginkan untuk menjadi pegawai di unit baru ini. Ilmu Kepabeanan dan Cukai dapat sepenuhnya di aplikasikan, dan –yang terpenting- pekerjaan didominasi pekerjaan lapangan, bukan administrasi.

Satu hal yang kurang aku suka di unit ini adalah setiap pegawai harus tunduk patuh secara totalitas kepada kehendak atasan. Sialnya, atasanku adalah seorang pengidap insomnia. Beliau biasa pulang kantor pukul 03.00 dini hari, dan aku harus menemani beliau di kantor dengan kewajiban masuk pagi keesokan harinya. Belum lagi tugas protokoler tambahan di hari sabtu dan minggu. Aku benar-benar kehilangan kebahagiaan.

Aku mulai rindu lari sore di pinggiran pantai kuta; berkumpul dalam pengajian mingguan dan silaturahmi dengan warga sunda di Denpasar. Aku merasa kehilangan jiwa dan bertransfromasi menjadi sebuah mesin. Kaku dan Statis.

Medio tahun 2014, ujian saringan masuk STAN untuk Prodip III Khusus dibuka. Aku begitu antusias mendengar kabar ini. Aku berpikir, bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk bebas dari rutinitas kantor yang membosankan. Tanpa banyak tanya, aku langsung mendaftar dan mempersiapkan segala sesuatu. Namun, karena beban pekejaan dan waktu tidur yang kurang aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar. Alhasil, tahun itu aku belum diberi kesempatan untuk kuliah di Bintaro.

Tahun 2013, aku mengikuti ujian saringan masuk di lokasi yang sama. Lagi-lagi, aku merasa tidak siap menghadapi ujian pada saat itu. Entah mengapa rasa pesimistis itu selalu datang. Tanpa perlu banyak berangan-angan, aku sudah memastikan diri bahwa aku tidak akan lulus untuk seleksi masuk tahun ini, dan itu pun yang terjadi.

Aku berkontemplasi. Rutinitas pekerjaan ku yang mekanis siklis telah mengikis habis nalar berpikir. Aku juga sadar, beberapa tahun bekerja dengan penghasilan yang dapat aku peroleh sendiri, aku mulai hidup dalam hura-hura, hedonisme, dunia malam dan, ah, hal-hal imanen lain yang tidak berguna dan bermanfaat. Aku ambil kesimpulan bahwa ini disebabkan oleh dosa-dosaku, bukan semata kemampuan akademik.

Awal tahun 2014, aku terkejut, pelaksanaan ujian saringan masuk STAN dimajukan. Kamu tahu? Aku benar-benar tidak siap menghadapi kegagalan yang ke tiga kalinya. Waktu belajar sudah sangat sempit. Doa? Ah, mana Tuhan dengar makhluknya yang berdosa ini.

Dalam sebuah perenungan di masjid, tiba-tiba aku tercerahkan. Jika belajar sudah tidak ada waktu dan doa pendosa ini tidak didengar, maka solusinya satu, dengan logika sederhana : Tuhan pasti mengabulkan doa; doa harus dipanjatkan oleh manusia yang dijamin pengabulan doanya; doa harus dihaturkan di tempat yang mustajab (probabilitas pengabulan doa tinggi)

Akhirnya, aku mengumpulkan tabunganku sebagai pegawai paling rendah di Kementerian Keuangan. Aku hitung, dan berdoa agar uang itu cukup. Dan aku menelpon ibuku, “Mah, besok tolong urus passport ke Kantor Imigrasi. Minggu depan mamah berangkat umrah. Nanti uangnya aa transfer, mudah-mudahan cukup. Jangan lupa, tolong doakan aa sukses dunia akhirat dan lulus ujian saringan masuk STAN.”

Mendengar kabar itu, ibuku sangat terkejut. Nada haru terdengar dari ujung telepon. Maklum, beliau belum pernah sama sekali menginjakan kaki di tanah suci. Alasannya ekonomi. Untuk masalah kontrak rumah dan studi kedua adik saja sudah pusing tujuk keliling, bagamana memikirkan untuk umrah dan lain-lain.

Namun aku yakin, dengan cara ini aku telah berbakti walau tidak sempurna. Dengan cara ini, aku telah membuktikan kepada Tuhan, walaupun aku banyak dosa, ujung dari segala masalah adalah Dia semata.

Pelaksanaan ujian dimulai, pagi yang cerah di Kota Denpasar, namun aku merasa sesak dan tertekan. Aneh, aku sulit memahami hampir seluruh soal matematika. Sinonim, antonim dan ah, apalah itu, aku baru dengar semua kata-kata itu! Namun, aku tetap berdoa dan mengerjakan yang aku bisa. Ketika, waktu ujian selesai, aku keluar ruang ujian dengan penuh pengharapan.

Ada waktu sebulan dari waktu ujian menuju pengumuman kelulusan. Aku sudah pasrah dengan segala hasil yang ada. Bayang-bayang kegagalan selalu menghantuiku. Karena bila gagal, aku akan kembali hidup dalam rutinitas yang menjemukan dengan kepatuhan total kepada atasan yang memuakkan.

Saat pengumuman kelulusan tiba, aku terkejut, namaku tertera di pengumuman itu. Tidak terkira rasa syukur dan bahagia yang aku rasakan. Aku telepon ibuku, aku ucapkan terimakasih berkali-kali. Aku bersyukur pula kepada Tuhan, ternyata ia benar-benar mengabulkan segala doa.

Aku membayangkan bebas dari rutinitas kantor. Aku akan kembali menjadi mahasiswa; berdiskusi tentang isme-isme; mengkaji permasalahan secara intelektual dan tentu banyak waktu untuk berkontemplasi dihadapan Sang Khalik.

Sejak saat itu, aku tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Aku juga yakin bahwa ridho Ibu adalah ridho Tuhan. Dan teruntuk Ibu tercinta, semoga engkau selalu dalam keadaan sehat dan berbahagia. Amin.

Ferry Fadillah
Bintaro, 7 OKtober 2014

, , , , , , ,

4 Comments

Jodi, menyeimbangkan hidup membentuk tubuh ideal

"Jodi setahun yang lalu : tengah"

Kacamata yang selalu ia gunakan setiap perkuliahan tentu membuat setiap orang beranggapan bahwa ia seorang kutu buku. Ditambah lagi, cara berbicara, berpakaian dan bersikap yang intelek tentu membuat kesan bahwa ia adalah seorang mahasiswa yang berprestasi dalam perkuliahan. Faktanya, ia lebih dari itu.

Jodi Budy Prakosa adalah nama yang tertera pada akte kelahirannya. Teman-teman maupun dosen biasa menjulukinya ‘Jodi si Instruktur’. Waktu luangnya biasa ia gunakan untuk berlatih digymnasium. Ia tidak egois dan sibuk melatih dirinya sendiri, namun ia juga menjadi inspirator dan guru bagi teman-temannya yang ingin mendapatkan bentuk tubuh ideal.

Jodi adalah salah satu mahasiswa kedinasan di kota denpasar dengan bentuk tubuh yang paling mencolok. Bukan cacat maupun kelainan tentunya. Tetapi bentuk tubuh yang kokoh, kekar, kencang dan ideal. Sebuah hal yang jarang sekali terlihat di kalangan mahasiswa kost-kostan dengan uang makan pas-pasan.

Walapun perkuliahan mau tidak mau menjadikan seorang mahasiswa disibukan oleh setumpuk tugas, namun ia dapat menjadi Pemenang Pre Audisi L-men Of The Year 2010 di Bali. Sontak saja hal ini menjadi sebuah berita gembira bagi teman-teman seperkulihannya. Berkali-kali dosen, saudara, dan teman-temannya mengucapkan selamat atas prestasi tersebut. Tawaran untuk menjadi foto model dan bintang iklan pun sudah ia kantongi. Tentu hal tersebut merupakan nilai tambah tersendiri bagi prestasinya.

Semua Butuh Proses

Tidak semua yang ada di hadapan kita terjadi tanpa ada proses yang menjadikannya. Begitu pula dengan Jodi. Otot kencang, perut six pack, dan bahu yang tegap ia peroleh dari hasil berlatihnya selama 1 tahun.

Pertama kali berkuliah di Universitas Negeri Semarang, Jodi memiliki tubuh yang begitu kurus. Satusnya sebagai anak kost, mempertambah buruk berat tubuhnya, maklum menjadi anak kost tentu berbeda dengan anak rumahan yang selalu disediakan makanan.

Sindiran dari teman-teman dan keluarganya selalu diterima Jodi. Namun hal itu tidak menjadikannya minder, malah ia menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk memulai perubahan.

Di awal-awal semester ia selalu tekun menjalankan program fitness. Tidak lupa pula ia mengkonsumsi makanan bergizi dan suplemen sebagai tambahan. Majalah mengenai kesehatan ia baca dan praktikan. Alhasil belum setahun ia menjalankan rutinitas tersebut, ia dapat memenangkan Top Ten Body Contest yang diselenggarakan oleh Gardenia Sport Center Semarang pada tahun 2009.

"Jodi saat ini"

Hidup Seimbang

Kata kunci dari segala kesuksesan adalah seimbang. Jodi yang memiliki jadwal padat di kampus tentu harus dapat menjaga keseimbangan antara belajar, berolahraga dan beribadah. “Untuk mencapai keseimbangan inilah, maka siapapun harus dapatmemanage waktu”, begitulah menurut Jodi.

Ketika keseimbangan itu terjadi maka kesuksesan adalah sebuah hadiah bagi kita. Dan tentu di dunia yang dimiliki jodi sekarang, pasti mudah menemukan hal-hal negatif, maka ia berpesan kepada siapapun yang memasuki dunia binaraga agar selalu menghindar dari sex dan pergaulan bebas.

Ada sebuah moto yang selalu di pegang erat oleh Jodi, dan moto inilah yang senantiasa ia yakini dan praktikan dalam kehidupan.

“Kesehatan adalah anuerah Tuhan. Menjaga kesehatan adalah salah satu cara bersyukur atas nikmat kesehatan.”

ditulis oleh Ferry Fadillah

, , , , ,

Leave a comment