Posts Tagged buku

Aku itu Siapa

Aku itu siapa? Pertanyaan yang selalu muncul dibenaku. Sejak sekolah menengah aku memang selalu memikirkan yang tak terpikirkan. Terkadang-kadang aku mengutarakannya kepada kawan-kawan. Tapi mereka malah mencibirku seolah itu adalah pertanyaan bodoh. Maka sejak itu aku berhenti bertanya.

Setelah lulus kuliah aku menjaga jarak dengan teman-teman sekolah menengah dulu, aku tidak sudi dianggap bodoh atau gila hanya dengan bertanya seperti itu. Dan, pertanyaan itu kini muncul kembali. Aku itu siapa? Dalam tidurku, dalam berdiriku bahkan dalam shalatku. Sampai-sampai aku pusing dibuatnya. Maka untuk mengobati itu aku mencari banyak buku bacaan. Temanya filsafat. Aku berkelana dari Athena dimana Socrates memprovokasi kaum muda untuk menyembah satu Tuhan hingga Eropa tempat dimana Friedrich Nietzsche menulis lantang Tuhan sudah mati dan mengajarkan filsafat nihilisme. Dari semua buku-buku, aku belum juga menemukan jawaban.

Aku juga mencoba menulis. Mula-mula catatan kecil refleksi kejadian selama di kampus. Aku selalu berusaha berfikir mendalam: tentang pelajaran, tentang dosen, tentang mahasiswa, tentang apapun yang terlintas dalam pikiran. Dan aku merasa catatan kecil tidak lagi cukup. Aku mencoba menulis di blog pribadi. Aku mulai gandrung dengan esai sosial-politik, syair realis-sosial dan perenungan filosofis. Aku tahu hanya segelintir orang yang membaca. Itu tidak masalah. Menulis bagiku adalah urusan kepuasan batin.

Karena kegiatan membaca dan menulis itu aku mulai tertarik dunia pidato. Aku kagum dengan Soekarno yang pidatonya penuh majas dan dapat membius jutaan rakyat dari segala lapisan. Aku terpesona denga gesture Hitler ketika berpidato dihadapan rakyat Jerman. Aku berdecak kagum dengan sorot tajam mata Lenin ketika berpidato di hadapan sidang Internationale. Aku mengagumi mereka semua.

Aku pernah berusaha menyusun naskah pidatoku sendiri. Aku berlatih di hadapan cermin dengan gaya tokoh yang aku kagumi. Aku membayangkan diriku adalah seorang ketua partai yang berpidato dihadapan rakyat dengan bendera merah menyala dikibarkan di setiap sudut lapangan nasional. Sialnya, ketika teringat dengan tugas kampus, lamunan itu harus buyar dan berganti kecemasan.

Oh, iya aku belum bercerita dimana aku kuliah. Aku kuliah jurusan statistika di Universitas Adminisrasi Negara. Sebuah perguruan tinggi yang menjanjikan mahasiswanya kedudukan birokrat setelah lulus kelak. Umumnya lulusan perguruan ini di tempatkan di Kementerian Sosial menjadi seorang analis atau hanya seorang jongos yang disuruh-suruh oleh bosnya.

Universitas ini sepi dari gejolak protes dan demonstrasi. Tidak ada aksi turun ke jalan. Tidak ada diskusi dengan tokoh pergerakan. Kegiatan di sini didominasi acara sampah seperti pentas seni ala sekolah menengah. Ditambah kegiatan agama yang memaksa mahasiswa bersyukur atas carut marut yang terjadi di negeri ini. Aku menghindar dari semua kegiatan itu. Aku berikhtiar menjaga pikiran agar tetap logis dan kritis.

Aku sadar semua kegiatan itu muncul di benak panitia karena adanya sebuah kepastian. Karena kelak mereka menjadi kelas menengah yang berlabel aparat sipil negara. Kalau kepastian sudah di depan mata, untuk apalagi mereka memprotes pemerintah, menolak kemunafikan pejabat negara atau sekadar menyindir pihak universitas yang selalu mengancam DO bagi mahasiswa yang kritis.

Menjadi apapun kelak, aku tidak pernah ambil pusing. Pastinya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang birokrat. Dalam pikiranku birokrat itu malas, boros dan payah. Ah, cukup sudah aku melihat kinerja perangkat daerah dan kepolisian.

Ketika itu aku kehilangan kartu ATM. Aku bingung bukan kepalang. Itu satu-satunya cadangan keuangan yang aku punya. Temanku menyarankan untuk melapor ke kepolisian dan meminta surat keterangan hilang. Aku melakukan apa yang ia sarankan. Dan nahasnya, ketika surat itu terbit polisi itu terbatuk perlahan dan berkata, “Ehm, biaya administrasinya dek?” Aku kaget dan hanya bisa tersenyum lalu lekas memberi pecahan lima puluh ribu dan berlalu tanpa pamit.

Tidak hanya itu. Sebelumnya aku harus mengakui bahwa bagiku konten pornografi adalah hal lumrah. Hampir setiap hari aku biasa mengakses aktivitas seksual lintas bangsa dan melihatnya langsung tanpa malu dan takut.. Aku kira kalian tidak perlu susah payah menceramahiku tentang ini itu. Hei, kalian yang sok suci. Aku lahir dari keluarga muslim yang taat. Aku tahu konsekuensi teologis atas setiap perbuatan. Tapi aku tidak pernah tahu bagaimana melawan gejolak hormon ketika muda. Apakah kalian tahu? Ah, daripada melawan, aku hanya bisa menuruti keinginan nafsuku.

Kembali ke dalam cerita. Suatu saat aku menjadi korban sextortion -bagi yang kali pertama mendengar istilah ini silahkan telusuri sendiri artinya di dunia maya. Ujung cerita adalah komplotan bajingan di Bucalan, Filipina memintaku untuk mengirim USD 1.000 lewat Western Union. Aku mengiba. Dan ketika pagi menjelang, para pemeras itu menawarkan hanya USD 200. Ah jumlah yang besar bagiku pada saat itu. Aku cemas, sedih dan bingung. Aku coba hubungi Interpol tapi mereka memintaku menghubungi polres terdekat. Polres tidak mengangkat. Aku coba telepon Polda dan ternyata suara di ujung telepon itu menggurui, “Sebenarnya ini kesalahan adik karena bertingkah amoral. Bisa dibayangkan ga berapa uang negara yang harus keluar untuk menyelesaikan kasus antar negara kaya gini. Kalau adik businessman oke lah!” Aku terpekur lama, kecewa, sekaligus sedih.

“Ah selama ini aku membayar pajak ternyata hanya untuk mendapat perlakuan seperti ini,” batinku kesal.

Aku bingung kemana lagi aku harus meminta tolong. Kepolisian Filipina pun enggan mengangkat teleponku. Sumpah aku muak dengan perangkat negara itu, aku tidak percaya lagi dengan jargon pengayoman itu. Kini aku adalah seorang anarkis!

Aku seringkali sedih dan kesal. Aku sedih melihat seorang bapak tua yang berjualan pisang seorang diri di pinggiran jalan. Aku kesal mendengar kawan yang selalu membandingkan gaji antar kantor. Iya, aku kesal dengan mereka semua. Muka mereka muda tapi jiwa mereka tua. Uang dan uang dalam pikiran mereka. Hanya segilintir orang bijak dari mereka yang rela menghabiskan waktu membaca buku dan berdiskusi perihal kehidupan. Sisanya hanyalah omong kosong sampah tentang percintaan, game, gadget dan tempat nongkrong.

Mungkin karena kekeras kepalaanku atau mungkin karena ideologiku, aku selalu merasa kesepian di kampus. Aku belum pula memiliki seorang kekasih. Karena keindahan seorang wanita bagiku ketika ia bisa berbicara mengenai filsafat satu hari satu malam denganku. Dan aku belum menemukannya.

Mereka yang berjilbab sibuk dengan lantunan ayat suci, mengutip perkataan ulama dan bersungut-sungut ketika melihat perbedaan. Aku tidak suka itu. Mereka yang cantik sibuk dengan omongan rendah tentang dunia seputar kecantikan dan bersolek di depan cermin. Aku benci mereka. Itulah mengapa aku selalu sendirian.

Sebenarnya aku mendapat momen mencari jodoh ketika bertanggung jawab menjadi mentor bagi adik kelas. Aku benci dengan judul ceramah yang harus diberikan: nasionalisme, anti radikalisme, jiwa korps dan hal berbau negara lain. Aku tidak bisa menjadikan adik-adiku didoktrin ala negara kemudian berpikir kaku dan seragam. Aku ingin mereka menjadi pemikir bebas dan sesekali berontak demi kebenaran. Beberapa minggu mencoba menceramahi mereka arti kebenaran, aku didepak oleh ketua dari struktur panitia. Sial. Aku kehilangan momen mencari jodoh.

Di antara semua kesedihan, kemuakan dan kesepian ini aku belum juga menemukan diriku seutuhnya. Aku belum bisa menjawab pertanyaan. Aku itu siapa? Aku hanya membaca, menulis dan terkadang berbicara di warung kopi dengan segelintir orang waras. Ya, aku merasa sangat sendiri di antara semua kegiatan itu. Pasti. Dan bukankah kita lahir dan mati dalam kesendirian juga? Aku kira ketersendirian bukan lagi hal yang esensial.

Kini untuk menjawab pertanyaan itu aku hanya memiliki sedikit informasi. Namaku Alif. Begitulah ibuku memanggilku di rumah, juga kawan sekitar komplek dan apa yang tertera di akta lahir. Hanya itu.

 Catatan: kisah dan tokoh dalam cerita ini fiksi jadi jangan terlalu diambil hati

Ferry Fadillah. Bandung, 16 Januari 2016.

Advertisements

, , , , ,

3 Comments

Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

, , , ,

Leave a comment

Bung Karno :Penyambung Lidah Rakyat

2549396Judul Buku      : Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat

Pengarang      : Cindy Adams

Penerjemah    : Syamsu Hadi

Penerbit           : Yayasan Bung Karno dan Media Pressindo

Tahun Terbit    : 2007

Tebal Buku      : 415 halaman

Bung Karno adalah nama besar yang menjadi ingatan kolektif Bangsa Indonesia. Namanya diperbincangkan banyak kalangan; mulai dari sisi mistisme hingga pidatonya yang meledak-ledak. Banyak orang mengunjungi tempat kramat di selatan Pulau Jawa yang disebut-sebut sebagai petilasan Bung Besar ini, juga, banyak politisi meniru gaya berpakaian dan teknik berpidato beliau untuk meraup untung suara menjelang pemilihan umum.

Otobiografi ini tidak ditulis sendiri oleh Bung Karno, namun dibantu oleh wartawati kebangsaan Amerika Serikat, Cindy Adams. Mulanya Bung Besar keberatan, “Otobiografiku hanya mungkin jika ada keseimbangan (subjektifitas dan objektifitas –pen) antara keduanya.Sekian banyak yang baik-baik supaya dapat mengurangi egoku dan sekian banyak yang jelek-jelek agar orang mau membeli buku itu…Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, apakah Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? (Adams : 16)”, namun karena dibujuk duta besar Amerika saat itu, dan kesadaran bahwa beliau sudah tua akhirnya beliau bersedia menuturkan kisahnya dalam sebuah otobiografi.

Buku yang ditulis dengan gaya berbicara Bung Karno itu merupakan perjalanan panjang beliau dari mulai dilahirkan saat fajar menyingsing, perjuangannya dengan kemiskinan di masa kolonialisme Belanda, ‘pertapaannya’ dari penjara ke penjara, pidatonya yang meledak-ledak di hadapan masa, proklamasi, agresi militer belanda hingga firasat akhirnya akan kematian.

Namun, buku ini lebih seperti konfirmasi atas pertanyaan-pertanyaan besar rakyat Indonesia : Apakah Bung Karno Seorang Komunis? Apakah Bung Karno seorang kolaborator Jepang? Apakah Bung Karno Seorang penggila wanita? Untuk apa membangun gedung-gedung mewah ketika rakyat merasa lapar? Mengapa berkonfrontasi dengan Malaysia? Mengapa keluar dari  Perserikatan Bangsa  Bangsa? Mengapa menerima bantuan dari Kremlin? Mengapa Bung menjadi Presiden seumur hidup? Yang bagi kebanyakan orang menimbulkan rasa benci yang tidak lagi proprosional.

Ambilah salah satu contoh konfirmasi Bung Karno dari pertanyaan, Untuk apa membangun gedung-gedung mewah ketika rakyat merasa lapar?

Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukan untuk keagunganku, tapi agar seluruh bangsaku dihargai oleh seluruh dunia. Seluruh negeriku membeku ketika mendengar Asian Games 1962 akan diselenggarakan di ibu kotanya. Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar yang tak ada duanya di dunia… Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebangaan –ini juga penting (Adams : 354)

Dengan membaca otobiografi ini seolah kita mendengar Bung Karno bertutur sendiri kepada kita. Seperti seorang bapak bijak yang memberi tahu alasan-alasan kebijakannya kepada sang anak, karena mungkin sang anak belum mengerti dan memang tujuan beliau menulis otobiografi ini adalah “agar dapat menambah pengertian yang lebih baik tentang Sukarno dan dengan itu menambah pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia tercinta (Adams : 19)”

Bagaimana dengan pertanyaan besar : Apa sebenarnya haluan ideologi Sukarno? Tidak ada sebuah ideologi yang pantas disematkan kepada beliau. Ia seorang demokrat, seorang sosialis, seorang humanis, seorang nasionalis, seorang internasionalis dan seorang yang menjunjung tinggi Islam sebagai agama yang haq, namun menghargai semua agama-agama yang ada. Beliau sendiri menjelasan dirinya sendiri sebagai seorang pecinta dan individualis :

Sukarno adalah seorang individualis. Manusia yang angkuh dengan ego yang membakar-bakar, yang mengaku bahwa ia mencintai dirinya sendiri, tidak mungkin menjadi pengikut pihak lain (Adams : 354)

Cara yang mudah mengambarkan sosok Sukarno ialah dengan menyebutnya seorang maha pencinta. Dia mencintai negerinya, dia mencintai rakyatnya, dia mencintai perempuan, dia mencintai seni, dan di atas segala-galanya, dia mencintai dirinya sendiri. (Adams: 1)

Politik, ekonomi, cinta, perseteruan rumah tangga dan kegemaran Sang Proklamator akan ditemukan di dalam buku ini. Buku yang menjadikan sosok Bung Karno layaknya rakyat kebanyakan dengan kegemaran makan sate di pinggir jalan dan berbicara dengan bahasa daerah kepada petani miskin di wilayah priyangan. Bahkan perseteruan dengan istri-istrinya-pun beliau tulis di dalam buku ini. Pada saat kita selesai membaca mungkin kita akan tertegun sejenak dan berpikir : tidak ada pemimpin republik yang pantas mengantikan posisi Bung Karno, Sang Penyambung Lidah Rakyat.

Selamat Membaca!

Ferry Fadillah. Bintaro, 21 Maret 2015.

, , , , , , ,

Leave a comment