Archive for February, 2017

Apakah Seperti ini Manusia Hidup

Dalam perjalanan Denpasar-Kuta yang lengang, seorang sahabat tiba-tiba bertanya, “Sudah beli apa aja, fer?” Heran mendengar pertanyaan itu lantas saya bertanya, “Maksudnya?” Tanpa basa-basi, ia melanjutkan, “Itu loh rumah, tanah atau asset apa gitu.”

Pertanyaan di terik siang mentari itu membuat saya bertanya hal yang serupa kepada diri sendiri. Tiba-tiba kesadaran saya beralih ke kilas fotografi di masa lalu. Mencari-cari barang yang pernah saya beli dengan hasil keringat sendiri. Motor bekas, buku bekas, buku sastra dan … hampir tidak ada aset yang bisa dibilang berharga dari kacamata kapitalis. Mau bagaimana lagi. Adanya begitu.

Sebenarnya pertanyaan itu adalah refleksi dari budaya persaingan di setiap lapisan masyarakat. Ketika duduk di sekolah dasar saya sering mendengar orang tua murid yang memiliki ambisi serius. Anaknya harus menduduki peringkat teratas mulai dari kelas satu hingga enam. Selepas sekolah berdatanganlah guru privat dengan bayaran mahal. Malam datang sang anak juga harus dibebani dengan tugas sekolah dan persiapan ujian akhir.

Di sekolah menengah, semua kisah cinta dan persahabatan harus rehat sejenak saat ujian saringan masuk perguruan tinggi di depan mata. Jauh-jauh hari bimbingan belajar dengan beragam jargon sudah menyebar brosur. Programnya menarik. Ada yang menawarkan probabilitas tinggi diterima perguruan tinggi bergengsi dengan jaminan uang kembali. Tentu bukan program yang bisa dijangkau kelas menengah bawah.

Setelah diterima di perguruan tinggi, mahasiswa bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Persetan dengan ilmu humaniora. Kekayaan hanya menjadi milik orang-orang praktis. Menimba ilmu untuk menjadi sekrup industri. Atau bagi yang enggan bersaing ketat di sektor privat, menjadi seorang pegawai negeri sipil adalah opsi yang menarik. Hidup dengan penuh kepastian dan kemudahan mendapatkan pembiayaan dari bankir dengan jaminan SK CPNS.

Setelah bekerja sekian tahun mulai datang kebutuhan lain. Pekerja di kota besar berebut lahan yang semakin terbatas. Pengajuan kredit rumah semakin semarak dengan uang muka rendah. Orang-orang ini kehilangan sebagian pendapatan, bekerja lembur, menghemat pengeluaran pangan, bermain valas atau investasi spekulatif dengan harapan memperoleh rumah idaman.

Jalanan semakin macet di beberapa ruas kota, mobil pribadi menjadi pilihan cerdas untuk mengatasi letih menunggu transportasi publik dan meningkatkan pamor di tengah masyarakat. Maka berbondong-bondonglah belanja kebutuhan ini dipenuhi walau harus mengurangi pendapatan sekali lagi. Karena semua orang bersaing untuk dapat datang tepat waktu ke kantor.

Sekilas kehidupan seperti ini sungguh merepotkan. Tidak ada jalan bagi penempuh jalan mistik yang mencari damai di pemukiman sepi. Kini, semua tanah dikapitalkan, setiap kesempatan diuangkan bahkan jalan spiritualitas dikemas layaknya produk industri yang diproduksi massal.

Kita, manusia, dibebani dengan rutinitas kerja, persaingan akan ruang untuk hidup dan capaian-capaian yang kapitalistik-materialistis. Seolah-olah kerja, mengumpulkan uang, membeli asset adalah jalan hidup yang dilakoni. Sebuah anugerah Tuhan yang tidak boleh ditolak.

Syahdan di Mongolia sana, ketika Jengis Khan belum tumbuh dewasa, orang-orang mongol tidak pernah berfikir seruwet ini. Hamparan padang rumput luas adalah tanah yang bisa diduduki siapa saja. Rumah dengan mudah diciptakan dengan material sederhana. Kalau sumber makanan di suatu padang habis, rumah itu tinggal dibongkar dan disusun di lain tempat. Tidak ada yang permanen bagi mereka. Semua hanya siklus perpindahan yang tidak berkesudahan.

Mungkin, kita, para pekerja, birokrat atau siapa pun yang memiliki pemikiran ruwet di atas perlu untuk belajar menjadi seorang pengelana. Membuka mata dan hati atas segala kemungkinan yang ada. Kiranya nurani kita bisa menjadi peka sehingga terbangun dan bertanya: apakah seperti ini manusia hidup?

 

Ferry Fadillah. Kuta, 16 Februari 2017

Advertisements

Leave a comment

Identitas yang Cair

Saat terlempar ke dunia, kita dihadapkan oleh manusia-manusia yang saling berebut pengaruh. Mulanya adalah Ibu kita yang dengan sabar mengasuh dan memberi pengertian norma. Mana yang baik dan mana yang buruk. Agama juga mulai diperkenalkan. Setiap perbuatan buruk akan diingatkan dengan konsekuensi tragis hukuman neraka. Sebaliknya, setiap perbuatan baik akan diganjar dengan nikmat surga. Pengalaman agama ini mendapat penguatan saat duduk di sekolah dasar. Bagi pembaca yang sekolah di era 90-an tentu tidak asing dengan komik ‘Siksa Neraka’ karya Tatang S. Komik dengan ilustrasi realis ini menggambarkan tingkatan siksa di neraka sehingga mudah dipahami oleh para bocah. Mungkin denga cara ini, di sela-sela permainan adu biji pala dan antrian es lilin para bocah sekolah dasar bisa mengalami peningkatan relijiusitas.

Masyarakat dengan arahan orang tua juga mempengaruhi manusia-manusia awal ini. Setiap kunjungan kerabat ke rumah selalu di ingatkan untuk menjaga lisan dari perkataan kotor. Maklum, anak kecil adalah peniru yang baik. Masih ingat video viral tentang seorang bocah yang berbicara kasar dalam bahasa jawa sambil nikmat menghisap rokok dengan lihainya? Tentu semua orang tua tidak mau anaknya gagal didik seperti itu.

Masalahnya adalah apakah orangtua bisa terus menerus mengawasi ide dunia yang masuk ke dalam benak anaknya?

Ada saatnya, orang tua menganggap anaknya sudah dewasa dan mulai melonggarkan pengawasan. Misalnya ketika anak duduk di bangku sekolah menengah. Ciri fisik mereka sudah berubah. Tidak ada lagi bayi imut yang wangi. Kini orang tua menghadapi anaknya yang sudah ditumbuhi bulu kemaluan dan matang secara seksual.

Pada masa seperti ini, manusia mulai mendapat banyak pengaruh dari luar dirinya. Misal, pacar, teman sepergaulan, kegatan ekstra, agama, pergaulan bebas, film, musik, sampai kebijakan pemerintah terhadap ruang publik.

Interaksi anak terhadap hal-hal tersebut akan mengalami penguatan apabila mereka nyaman akan ide tersebut. Jika masjid adalah tempat yang nyaman untuk berdiskusi agama dan mendekatkan diri kepada entitas adikodrati maka mereka akan mengidentifikasi diri sebagai seorang islamis. Bila bar, café, atau diskotik adalah tempat yang nyaman untuk curhat dan berdansa ria, mungkin, mereka akan melabeli diri sebagai pejuang kebebasan atau apalah yang menurut mereka cocok.

Ketika memasuki dunia kerja, identitas tersebut tidak akan mengalami perubahan drastis. Namun, bukan berarti identitas tersebut mapan hingga akhir hayat.

Kerasnya hidup di zaman kapitalis sekarang ini, antara beratnya menjaga rasio pendapatan terhadap hutang dengan biaya membesarkan anak hingga mandiri, sedikit demi sedikit manusia akan mengubah identitasnya. Mungkin kita pernah betemu kawan lama yang dulunya pemabuk kini menjadi motivator relijius dengan ratusan jamaah setia. Atau sebaliknya, kawan lama yang dulu relijius kini menjadi mucikari sukses di sebuah kawasan lokalisasi yang dilindungi politisi-pengusaha setempat. Mungkin, semua itu mungkin.

Perlu diingat. Tidak ada identitas yang mapan. Semua selalu berada pada titik ‘proses menjadi’. Maka tidaklah bijak menjadikan identitas kini sebagai dasar justifikasi seseorang kelak memperoleh siksa neraka atau nikmat surga.

Di antara silang sengkarut pengaruh orang dan ide-ide terhadap diri, ditambah cobaan hidup yang datang bertubi-tubi yang bisa kita harapkan adalah akhir cerita yang baik. Karena seorang pelacur yang memberi seekor anjing air sesaat sebelum matinyalah ia meraih surga.

Ferry Fadillah. Kuta, 18 Februari 2017

Leave a comment