Posts Tagged kebebasan

Alam dan Kebebasan

"Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali"

“Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali”

Camera 360

“Seorang Ibu membawa ikan di atas kepalanya, Amed, Karangasem, Bali”

"Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali"

“Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali”

Ketika kita bekerja,

jiwa kita sepenuhnya bukan milik kita

jiwa kita terkurung oleh aturan dan norma yang mengekang.

Ketika kita liburan,

jiwa kita bebas

jiwa kita bisa melihat kembali mimpi-mimpi yang hampir menghilang ditelan rutinitas

 

Lalu, kemanakah liburan kita?

Perkotaan hanya menyisakan debu dan polusi yang menyiksa

Bapak-bapak tukang bangunan yang bermandi peluh

membangun café dan resort demi sang tuan kapitalis

Ibu-ibu gila uang mangkir di tempat porstitusi

menjajakan tetangga mudanya yang masih gadis

Anak-anak pemukiman kumuh berebut lahan bermain

melawan para teknokrat yan selalu berpikir ekonomis

 

Di sisi lain, Desa berjalan perlahan

Petani yang sederhana berjalan memakul pacul menuju sawah

Ibu-ibu membawa sajen di atas kepala  menuju Pura

Anak-anak bertelanjang ria bermain air di pinggi sungai

Dan saya yang kebetulan lewat berdecak kagum melihat kesederhanaan itu

 

Penduduk desa berusaha menyesuaikan diri dengan alam

Penduduk kota berusaha mengubah alam sekehendak mereka

 

Aku muslim, namun aku tahu nilai sakral sebuah Pura

Lalu mengapa pemerintah mau mengubah beberapa Pura sebagai kawasan pariwisata?

Aku bukan orang Bali, namun aku tahu moral dan etika universal

Lalu mengapa pemerintah mau mereklamasi perairan Benoa?

Ketika pekerjaan, Koran dan manusia di selatan Bali hanya membuat keruwetan

Aku berjalan jauh ke Timur Bali, menuju gunung Batur

Di Karangasem, aku menuju bukit-bukit gersang

Membelah jalan menuju Amed

Pantainya hitam

Bebatuan vulkanik dingin bertebaran

Itu tetap indah, kawan

Lautnya jernih

Aku masuk dan melihat-lihat

Memasukan air laut ke pori-pori, memadatkan cahaya matahari ke tulang-tulang

Lalu..

Aku menari bersama ikan-ikan

Satu jam..

Dua jam..

Tiga jam..

Aku bebas, aku bebas

Aku bebas kawan

Ferry Fadillah
Amed, Karangasem, 10 November 2013
 
 

, , , , , , ,

Leave a comment

Doktrin, Motivasi Palsu : Serang Demi Kesadaran!

Hari Minggu, 21 Oktober 2012, kota Denpasar tampak lenggang. Perhatian masyarakat tertuju kepada pusat-pusat olahraga. Misalnya, lapangan Puputan Renon, lapangan Puputan Caturmuka, dan lapangan Pegok. Namun pada hari itu perhatian masyarakat Denpasar tidak hanya tertuju pada keolahragaan, ada sebuah ‘kerumunan’ yang membuat orang terheran-heran sekaligus penasaran karena kerapihan pakaiannya. Saya kurang tahu pasti apa itu, hati saya mengatakan, “Itu pasti gerombolan anggota MLM.”

Cara mereka berbicara, berpakaian, berjalan, berkumpul sekilas hampir seragam. Pikiran saya melayang ke negeri di Asia Timur sana, Korea Utara, yang dengan hegemoni kekuasaan Komunis dapat mencetak manusia-manusia berideologi sama, berkelakuan sama, beraktivtas sama dan bercita-cita sama! Tentu mereka bukan anggota partai komunis dengan ciri-ciri  dimaksud, namun sekali lagi  saya tegaskan, mereka adalah anggota MLM.

Uraian saya pada paragrap pertama sebenarnya dusta. Saya tahu siapa mereka sebelumnya dan faktanya saya adalah bagian dari mereka. Namun, seperti kebiasaan ‘para pembangkang’, saya berusaha menjaga jarak dengan setiap komunitas yang saya ikuti. Bukan bermaksud mencari permusuhan atau persiapan untuk keluar jika terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, tetapi saya berusaha untuk menjadi orang objektif, yang dengan sadar melihat sesuatu tanpa pengaruh perasaan, doktrin dan motivasi palsu dari pihak lain.

Terkadang orang menilai saya sebagai seorang Yahudi yang menyebalkan (padahal saya seorang muslim, secara administrasi maupun kebatinan). Banyak bertanya ini itu, membuat kekisruhan dari sebuah kemapanan ide. Sesungguhnya, jiwa dan hati saya damai, tidak terbesit sedikitpun untuk memberontak apalagi membuat kekisruhan dari sebuah sistem. Akan tetapi, ketika kebebasan berpikir dikekang, demokrasi dibelenggu, pertanyaan dibalas dengan retorika dan kekritisan dilempar dengan cemoohan, saya dengan semangat revolusi akan menentang semua pihak itu, dengan ‘garang’, bahkan dengan ‘kekerasan’ intelektual akan menyerang tanpa rasa takut.

Dengan senang hati saya dapat menerima niatan baik para motivator bisnis untuk memantik api semangat dalam jiwa para anggotanya. Di lain sisi, dengan jengkel hati saya tidak dapat menerima setiap lontaran pertanyaan kritis yang dipermainkan dan diputar-putar menjadi tidak berharga.

Demi jiwa demokrasi dan manusia yang sadar, saya berharap, setiap generasi muda mulai kritis dengan apa yang mereka ikuti. Jangan sampai urusan perut dan angan-angan kosong menghalangi diri kita untuk menjadi manusia sadar dan bebas. Sadar dalam memilih tujuan hidup tanpa intervensi pihak di luar diri kita, bebas untuk berpikir dan mengemukakan pendapat untuk mencapai iklim sosial yang intelektual.

Ingat, hidup tidak semata-mata untuk uang, jauh dari itu, bagaimana hidup ini menjadi bermakna bagi diri sendiri maupun orang lain.

Denpasar, Rumah Sederhana, Sore Hari, Ferry Fadillah

, , , , , , , , , , , , ,

Leave a comment

Menggugat Nilai-Nilai Sendiri

Pertama saya sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai hidup saya yang berubah. Penyesalan mulanya ada, tetapi ketika menimbang kembali saya baru tergugah bahwa nilai-nilai hidup adalah sesuatu yang dinamis, terus berubah seiring interaksi sosial dan pengetahuan yang diserap.

Bukan berarti saya orang yang tidak prinsipal, tidak memiliki sikap, tidak memiliki pendirian dan berubah-ubah sekehendak hati, nihilisme nilai. Namun saya paham bahwa kebenaran yang saya anggap benar (yang kemudian disebut nilai-nilai) adalah benar menurut saya saja atau benar menurut beberapa gelintir orang dari milyaran manusia di dunia ini, bisa jadi salah bisa jadi benar, apalagi sebagai orang beragama saya yakin bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah kebenaran dari Tuhan itu dapat kita ketahui dengan tepat padahal Tuhan bersemayam entah dimana, berbeda-beda bentuk sesuai persepsi kebudayaan masing-masing? Beberapa dari agama-agama di dunia memiliki klaim kebenaran masing-masing melalui kitab yang mereka pegang teguh, disebarkan dari mulut ke mulut atau budaya tulisan, dari para Nabi, Resi atau orang suci . Para umat agama didoktrin sedemikian rupa, dengan prosesi selama berabad-abad atau bertahun-tahun sehingga mereka –pada umumnya- kehilangan daya kritis terhadap apa yang mereka terima. Ini prinsip, beragama tidak bisa dibandingkan dengan rasio! Menurut beberapa orang yang mengaku agamawan.

Sayang beribu sayang, kebenaran-kebenaran ini jika tidak dikritisi akan menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tertutup, nilai-nilai yang egositik, tertutup bagi pintu diskusi untuk mencapai konklusi yang lebih mendekati kebenaran. Dengan mudah kita label-melabeli, membawa nama Tuhan, tetapi budi pekerti tidak lebih jauh dari binatang buas.

***

Negara kita memiliki iklim demokrasi yang cukup baik. Dalam sebuah bingkai demokrasi kebebasan berpikir adalah hal yang harus dijamin oleh negara, selama tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain atau dalam kata sederhana kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan yang bertanggung jawab berarti nilai-nilai yang kita pegang seyogyanya dibandingkan dengan prinsip oposisi untuk mencapai kebenaran sejati. Yang diharapkan dari praktik ini adalah kita, umat manusia, menjadi makhluk yang tidak terikat otoritas apapun dari luar dirinya, takhayul, adat yang mengekang, otoritas pemerintah, ketakutan akan kesialan dan lain sebagainya. Manusia menjadi pemikir-pemikir yang secara sadar memilih jalan yang mereka tempuh, bukan manusia-manusia yang dikuasai jalan-jalan yang sudah ditentukan manusia lain tanpa mengetahui kenapa harus memilih jalan tersebut.

Kemerdekaan sudah kita genggam, lantas mengapa masih saja kita abai untuk memanfaatkannya. Duduk  santai dalam lamunan masa kolonialisme-keterkekangan, perbudakan, penghambaan.

Ferry Fadilah
25 Oktober 2012

, , , , , , ,

Leave a comment

Kebebasan dan Pertimbangannya

“Bebas!”

Era Informasi, keterbukaan, semua bebas beropini, semauanya, konstruktif maupun destruktif. Orang gegap gempita manyambut era ini, namun saya cemas, begitu banyak informasi yang masuk ke otak saya, mempengaruhi saya, mereka melebihi kapasitas otak saya, saya takut menjadi mesin-yang berjalan atas kuasa di luar dirinya.

Menjamur karya-karya populer yang menjual ide-ide kebebasan. Kebebasan dalam menentukan takdir, pekerjaan, gaya hidup, pasangan hidup atau pandangan hidup. Semuanya saya rekam dengan baik dalam otak saya. Satu ide dengan ide lain ada yang berkolerasi, banyak pula yang kontradiksi, bahkan kontraproduktif.

Saya ingin menjadi, apa ia saya akan menjadi. Apa ia manusia punya keinginan ? jika ia, apa benar itu keinginan murni dari diri kita, atau utopia sesaat karena informasi yang baru saja kita dengar. Passion ? saya dengar kata asing itu, dan saya setuju jika kita bekerja/hidup dengan passion maka kita akan merasakan kebebasan itu. Bekerja/hidup tanpa paksaan sepadan dengan kebebasan bukan ?

Suatu ketika saya mengkaji ulang ide-ide mengenai kebebasan ini. Apa saya harus menjadi manusia bebas ? Berkarir sesuai keinginan ? Menyepak segala batas-batas yang ada dalam budaya kita ?

Dalam hati saya menjawab, ya, saya ingin menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya. Menjadi diri saya sejadi-jadinya. Bekerja sesuai minat saya sepuas-puasnya. Menyepak segala prasangka orang tentang saya. Namun saya sadar, saya manusia, saya hamba, saya mikro, saya inferior dibanding semesta yang begitu luas ini.

“Apa yang baik menurutmu, belum tentu baik bagimu, bisa jadi apa yang kamu anggap buruk, itu baik bagimu”

Kalimat itu terus terngiang dalam telinga saya. Itu kata-kata Tuhan ! Setelah itu saya tertunduk, bahwa saya banyak kekurangan, saya makhluk !

Sejak itu saya hormati perasaan mereka yang mencintai saya. Mereka yang bangga dengan keadaan saya seperti ini. Tabu-tabu yang mengatur kehidupan orang-orang agar selaras dengan alam dan harmoni dengan pesan Tuhan. Firman-firman yang sepertinya mengekang, namun bermakna kasih sayang bagi para hamba.

Sebagai penutup, saya mengutip surat Kartini kepada Nona E.H. Zeehandelar pada tanggal 23 Agustus 1900 (dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Door Duisternis tot Licht, halaman 78, Penerbit Narasi)

“Saya akan memperjuangkan kebebasan saya. Saya mau stella, saya mau mendengarkan kamu ? bagaimana mungkin saya akan mendapat kalau saya tidak mencari ? Tanpa perjuangan tidak ada kemenangan. Saya akan berjuang stella. Saya ingin merebut kebebasan saya. Saya tidak gentar menghadapi keberatan dan kesulitan, saya merasa cukup kuat mengatasinya, tetapi ada sesuatu yang saya anggap sangat berat Stella. Saya telah berulang kali mengatakan kepadamu, bahwa saya amat sangat mencintai Ayah. Saya tidak tahu, apakah saya akan berani melanjutkan kemauan saya jika dengan perbuatan itu saya akan mematahkan hatinya yang berdetak penuh cinta kepada kami. Saya mencintai ayah saya yang telah tua dan beruban. Tua dan beruban karena memeras pikiran untuk kami, untuk saya. Dan kalau seorang dari kami berdua harus celaka juga, biarlah saya yang celaka. Juga disini tersembunyi sifat memikirkan diri sendiri, sebab saya tidak akan dapat berbahagia apabila untuk mendapat kebebasan, kemerdekaan dan bertegak sendiri itu akan membuat ayah celaka.”

 

Ferry Fadillah
Bali, 6 Mei 2012

, , , ,

Leave a comment

Cita-Cita dan Kebebasan

Ilustrasi : pantai suluban, bali. (doc. pribadi)

Ia terduduk di atas karang, dihadapannya ada lautan yang bergitu luas, dengan ombak yang begitu besar, seolah-olah ingin menggaruk pinggiran daratan yang terdiri dari karang-karang yang keras. Langit begitu gelap, hujan turun rintik seolah menangisi bumi yang kian hari semakin rusak oleh perbuatan manusia.

“ah malang sekali hidup ku, memandang luasnya alam semesta tetapi tidak lebih dari katak dalam tempurung”, ia menghela nafas panjang, lalu menunduk dalam, menangis ia dalam batin tapi air matanya sudah surut tidak pernah bisa keluar lagi.

Cita-cita nya besar, dahulu. Tapi kemudian ia menggandaikannya karena iming-iming stabilitas ekonomi, padahal kini ia tidak lebih dari seekor sapi perah yang diperas para pemangku kepentingan. Ia dituakan oleh keadaannya sekarang, padahal ia masih muda, sangat muda bahkan untuk ukuran para pekerja zaman sekarang.

“aku ingin sekali bebas melanglang buana ke seberang lautan itu, menemui banyak orang, banyak budaya dan belajar banyak darinya, tapi kenapa harta, waktu, dan orang-orang sekitar ku seolah mengutuku atas perbuatan yang bukan dosa itu”.

“Hey ! Sudahlah, untuk apa kau  menggerutu seperti itu sendirian di sini ?”

 “Apa? Siapa kau ? mengapa kau tiba-tiba di sini, aku sedang ingin sendiri !”

 “Bodoh ! Aku ini kamu, aku ini kamu, aku dan kamu adalah sama, aku!

”Diam kau dengan segala teori-teori filsafat bodohmu itu, aku pusing dibuatmu!”

”kamu memang bodoh, sudah lama hatimu beku kawan !”

Tiba-tiba, ia merasa ada kehangatan yang berdesir di balik hatinya. Benar, sudah lama ia tidak merasakan hangatnya memaknai kehidupan ini dengan cinta, persahabatan dan petualangan. Bukan karena ia juga sebenarnya tapi karena rutinitas hariannya lah yang membuatnya seperti itu. Kaku dan membeku.

“kalau begitu siapa kau sebenarnya ?”

 “Aku adalah kamu, aku adalah cita-citamu yang terkubur dahulu sekali, tapi kini aku bangkit karena ada sinyal bahwa kau masih membutuhkan aku lagi kawan”

”ya memang aku sangat berharap cita-cita ku dahulu tercapai, itu dulu kawan, sekarang semua telah berubah”

”Apa yang berubah ? kau tetap engkau, tidak berubah, ayolah kau pikirkan baik-baik, hidup ini hanya sekali, apa kau mau hidup yang sekali ini kau habiskan dengan rutinitas yang biasa saja, apa bedanya kamu dengan mereka-mereka itu !”

Denyut jantungnya semakin kencang, ia ingin sekali keluar dari pekerjaannya tapi ia takut mereka yang ia kenal mengutuknya habis-habisan. Kepala nya pusing, ia berdiri lalu berjalan lunglai menuju ombak yang mengganas.

“ah, beri aku waktu cita-cita ku, aku butuh waktu untuk berpikir!”

Belum selesai ia mengambil keputusan, angin kencang bertiup menampar tubuhnya, ia tidak bergeming, tapi lautan yang diterpanya mengirimkan ombak besar yang menggulung-gulung. Ia tidak kuasa menahannya, tubunya terhembas  ke karang yang tajam, lalu terseret ke lautan dalam. Ia meronta kesakitan, semua yang ia lewati ia coba raih, tapi sia-sia, semua berlalu begitu cepat.”Ah apa dosa ku Tuhan, aku belum siap untuk sebuah kematian”

***

Langit kembali cerah, secerah harapan para pemuda yang ingin membahagiakan orang tuanya. Tiba-tiba saja pesisir pantai yang tadinya tenang dikejutkan oleh sebuah penemuan. Mayat lelaki yang terbujur kaku. Semua orang mengerubunginya seperti semut, ada yang bersedih ada pula yang acuh tak acuh. Tapi yang jelas, ada mimik damai dalam wajah sang mayat, senyum tersungging di wajahnya, ia seakan tertidur dalam pelukan Tuhan. Karena semua tahu, kini ia telah terbebas dari jerat dunia yang begitu menyiksa.

Badung, 27 Juni 2011

,

Leave a comment