Posts Tagged agama

Hanya Tertawa Sedikit

Manusia terlempar di dunia ini bukan tanpa kehendak dirinya sendiri. Sebuah dunia yang dipenuhi penderitaan pada setiap satuan waktu dan ukuran ruang.

Setiap hari ada seorang ayah yang membanting tulang demi pendidikan putra-putrinya, beradu mulut dengan istri karena gaji yang didapat kurang, menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri selingkuh dan meninggalkan dirinya saat kondisi ekonomi sedang sulit, bertahan dengan linangan air mata saat anak-anaknya memilih durhaka daripada berbakti, hidup dalam kesendirian di hari tua saat anak-anak menikmati hari libur mereka bersama kawan-kawan dan istri tercinta.

Ada juga seorang ibu yang harus berhutang ke sana ke mari demi tetap mengepulnya urusan dapur dan biaya pendidikan anak yang dari hari ke hari semakin tinggi, menahan batin ketika melihat suami malas di rumah tidak mencari nafkah, atau bebas membawa wanita lain masuk ke rumah dengan tenang dan enteng, belum lagi anak-anak mereka yang berkata ah! Saat dimintai tolong, dan seperti orang tua lain, bisa-bisa ketika di usia renta anak-anaknya melupakan dirinya dengan tertawa gembira bersama kawan-kawan belanja di luar negeri.

Ada juga petani yang tanahnya dihimpit perusahaan multinasional produsen air mineral dalam kemasan, mata air yang selama ini dapat diakses dengan gratis ternyata kering karena sumur bor yang terlalu dalam dari perusahaan, biaya input menjadi tinggi, petani menjual lahan tidak produktif mereka dengan harga murah untuk dijadikan real eastate oleh pengembang. Ia sendiri harus pindah ke ibu kota untuk menjadi buruh kasar dengan gaji musiman.

Ada juga buruh yang harus berdiri di depan mesin pabrik selama berjam-jam dengan gaji cukup memenuhi kebutuhan pokok, ketika berserikat untuk memperjuangkan hak-hak, perusahaan mengancam pemutusan hubungan kerja dan orang-orang dungu menuduh mereka sebagai komunis. Saat demo kenaikan UMR orang-orang nyinyir dan agamawan berkata: sabarlah, kiranya Tuhan bersama kalian.

Ada juga seorang pegawai negeri sipil rendahan pada sebuah kantor pemerintah. Dengan gaji seadanya ia harus membiayai kedua orang tua, adik dan bibi-bibinya yang kerap berhutang. Diatur pengeluaran dengan saksama karena pendapatan tidak bisa diotak-atik lagi kecuali mereka ingin berurusan dengan KPK. Hutang ke bank terjerat bunga yang meningkat dari tahun ke tahun. Hutang kepada kawan rusak silaturahmi karena enggan untuk bertemu. Belum lagi mutasi dari satu daerah ke daerah lain. Tenggelam dalam kapal patroli. Digebuk masa karena perintah atasan. Ditusuk fundamentalis karena dibilang thagut. Mati dalam dinas, hanya ada penghargaan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dan orang-orang yang berkabung sesaat untuk kemudian melupakannya karena sudah kembali dalam rutinitas masing-masing.

Ada juga orang-orang yang hidup di pusaran konflik. Setiap hari mereka mendengar desingan peluru dan runtuhan rumah akibat rudal dari pesawat musuh. Mayat-mayat dengan anggota badan tidak utuh adalah pemandangan jamak yang mengiris hati. Kekurangan sandang, pangan dan papan. Pindah dari satu negara ke negara lain. Menumpang perahu mengarungi lautan namun tumpas di pusaran air. Dianggap teroris, dirusak kehormatannya, menyaksikan anaknya ditiduri tentara dan orang tuanya dipenggal di alun-alun kota. Dari Afrika Tengah, Palestina, Siria, Banglades, Papua, Aceh, Amerika dari masa lampau hingga hari ini dan di masa depan sampai kedatangan sang mesiah.

Namun, orang-orang memilih untuk melupakan itu semua. Maka dicarilah pengalih dengan dalih agar mental tidak berubah gila. Acara musik, film, alkohol, rokok, ganja, seks bebas, novel, jalan-jalan, foto, instagram, olahraga dan hal-hal lain menjadi ladang bisnis industri moderen.

Jika boleh berandai-andai. Seandainya pengetahuan tentang penderitaan yang berlangsung saat bumi bagian barat disinari cahaya dan bumi bagian timur diliputi kegelapan, dari masa lalu, hari ini, hingga masa yang akan datang, tersingkap secara sadar maupun tidak sadar atas kuasa ilahi maka tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang sanggup tertawa lepas walau hanya sesaat.

Kamu banyak tertawa dan jarang menangis,

Dan kamu lengah darinya.

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Allah.

(Tiga ayat terakhir Q.S. An-Najm)

Ferry Fadillah. September, 2017.

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Bunuh Diri

httpwww_esquire_co_ukBaru-baru ini, beredar di jejaring Whatsapp, dua orang wanita muda terjun bebas dari apartemen mewah di Kota Bandung. Perekam video waswas sambil terus melantunkan kalimat ilahiah. Diduga, keduanya memiliki masalah kejiwaan.

Beberapa bulan sebelumnya, pukul sembilan malam, di depan toilet Terminal Kampung Melayu, Ahmad Sukri meledakan bom panci rakitan yang dibawanya di dalam ransel. Satu polisi tewas di tempat. Dua polisi meninggal di rumah sakit. Sukri adalah salah satu jejaring ISIS di tanah air.

Tahun lalu, selepas ceramah Ustadz Evi Efendi di Masjid Al-Latif, seorang pemuda memberikan persaksian. Pernah dirinya dirundung setumpuk masalah. Diputus kekasih, dipecat atasan, dijauhi keluarga. Baygon dengan campuran porselin muncul sebagai solusi. Untung mati belum teraih. Tuhan masih memberinya kesempatan.

Menurut Emile Durkheim (1858-1917), bunuh diri tidak dipengaruhi oleh individu, tetapi fakta sosial yang meliputi moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Fakta sosial bisa diteliti secara empiris-objektif sedangkan pilihan individu terlalu subjektif.

Konsekuensi dari pemikiran ini, Durkheim menampik faktor bunuh diri para peneliti sezamannya. Seperti bunuh diri akibat pengaruh alkohol, ras dan keturunan, faktor alam dan imitasi. Di dalam bukunya Suicide, ia membantah semua faktor itu dengan semangat positivisme dan fungsionalisme.

Di dalam bukunya itu, Durheim menjelaskan bahwa bunuh diri disebabkan oleh ketidakseimbangan integrasi dan regulasi di dalam faktor sosial. Integrasi yang terlalu rendah menyebabkan bunuh diri egoistik. Sebaliknya, integrasi yang tinggi menyebabkan bunuh diri altruistik. Begitu juga dengan regulasi. Tingginya regulasi menyebabkan bunuh diri fatalistik, sedangkan rendahnya regulasi menyebabkan bunuh diri anomik.

Dalam kasus seorang pemuda yang meminum baygon, setelah dirundung masalah ia lebih memilih menarik diri dari pergaulan. Baginya ia bukan lagi bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan lagi bagian dirinya. Pada saat itulah perasaan kecewa, depresi dan kesedihan muncul. Maka kasusnya disebut bunuh diri egoistik.

Sebaliknya, saat pertalian individu dengan sebuah kelompok terlalu tinggi, maka seseorang dapat meniadakan diri demi kelompoknya. Harapannya adalah sebuah alam ‘sana’ yang lebih indah dan menawarkan kebahagian sepanjang masa. Hal seperti ini terjadi dalam kasus bunuh diri atas nama agama seperti yang dilakukan gerombolan ISIS atau harakiri dalam kebudayaan Jepang.

Dalam faktor sosial berupa regulasi juga hal tersebut dapat terjadi. Saat terjadi depresi ekonomi, kebutuhan hidup begitu sulit atau seorang buruh migran yang diperlakukan dengan biadab. Maka bunuh diri fatalistik dapat menjadi pilihan. Sebaliknya yang akhir-akhir ini pada seorang musisi. Ketenaran diraih, kekayaan digapai, kebebasan gaya hidup menjadi kebiasaan.  Tapi kemudian ia kehilangan makna hidup. Maka bunuh diri anomiklah yang terjadi.

Emile Durkheim dalam teorinya ini benar-benar membuat penyangga yang kaku antara pilihan individu dan faktor sosial. Hal ini lumrah melihat kepercayaan filsafatnya yang positivistik dan fungsionalistik.

Santi Marliana, Mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Filsafat, dalam skripsinya berjudul Bunuh Diri Sebagai Pilihan Sadar Individu: Analisa Kritis Filosofis Terhadap Konsep Bunuh Diri Emile Durkheim membantah teori Durkheim. Ia menggunakan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan sosiologi Max Weber untuk membantah Durkheim. Menurutnya, manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih karena manusia memiliki kesadaran atas konsekuensi pilihannya. Seseorang yang bunuh diri tentu secara sadar mengerti akibat dari pilihannya. Keputusannya tidak semata-mata merupakan konstruksi faktor sosial.

Sebenarnya, antara pilihan individu dan faktor sosial memiliki tali temali yang saling mempengaruhi. Semua memang berasal dari faktor sosial yang membentuk alam berpikir masyarakat. Suprastruktur menentukan infraksturktur dalam bahasa Marxian. Namun, masalahnya sekarang bukanlah apa mempengaruhi apa. Tapi sebuah solusi konkrit untuk menekan angka bunuh diri di negeri ini.

Agama, yang akhir-akhir ini hadir sebagai mata air yang diperebutkan, bisa menjadi solusi ampuh. Agama menghadirkan dimensi lahir-batin dengan kekayaan pemikiran dan ritual yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Masalahnya timbul, ketika agama hanya dipahami dengan pendekatan normatif-politis. Alih-alih, memunculkan ketenangan dan kedamaian, pada titik ekstrim pendekatan ini akan memunculkan pengantin-pengantin bom bunuh diri yang siap mengancurkan para kafir dan thagut.

Ada dimensi esoteris dari agama yang kerap terlupakan. Ada penyucian jiwa dan pengembangan intuisi dengan seni dan ritual yang dianggap sesat. Sebagian pemuda hijrah yang gandrung agama hari ini sibuk dengan hukum dan menghukumi. Begini benar, begitu salah. Ini salaf, itu murtad. Padahal harusnya mereka memahami agama beserta dimensi spiritualnya. Harapannya mereka menjadi oase di tengah kehidupan yang akhir-akhir ini depresif bukan malah menjadi penyulut bara dalam sekam yang sudah muram.

Semangat mencari pemahaman universal atas agama juga bisa menyumbang permasalahan serupa. Mereka cenderung berfikir bahwa sistem yang sesuai dengan tafsiran kelompoknya akan menuntaskan setiap permasalahan, tanpa kecuali. Tafsir-tafsir itu harus sesuai dengan garis politik pendiri partainya. Disebarlah brosur di masjid, direkrutlah pemuda universitas. Pekik perubahan disuarakan dijalanan. Semua kebijakan pemerintah jadi serba salah. Niat luhur untuk mengubah yang diluar tapi mungkin lupa untuk melihat yang di dalam.

Kini, saatnya, dalam beberapa hal, agama ditarik ke arah individu. Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda dalam mengarungi samudra agama yang begitu luas. Begitu juga dengan permasalahan dan kesukaran yang dihadapi manusia berbeda dengan manusia lainnya.

Seorang ibu rumah tangga yang dihimpit hutang oleh para rentenir belum butuh kajian pergerakan Islam. Seorang pemuda yang kesepian belum butuh kajian fiqih empat mahzab. Seorang pekerja yang ditindas atasannya belum butuh ceramah pernikahan. Biarlah agama berbicara bagi permasalahan mereka masing-masing. Keluar dari universalitas menuju keragaman partikular yang pluralistik. Tantangan agama kini bukanlah mewujudkan negara adidaya lintas bangsa seperti ribuan tahun silam, tapi menjadi penyejuk bagi jiwa-jiwa yang resah.

Semalam, diriku seorang yang pandai dan aku berhasrat mengubah dunia. Hari ini, aku seorang yang bijaksana dan aku mau mengubah diriku sendiri, -Jalaludin Ar-Rumi-

 Ferry Fadillah. Kuta, 27 Juli 2017.

***

sumber gambar: http://www.esquire.co.uk

, , , , ,

2 Comments

Akhir Hidup

 

I know you’re tired but come, this is the way

Jalaluddin Rumi

 

Masjid itu terletak di ujung Kantor Wilayah. Di sebelah utaranya berdiri Pura megah dengan ukiran artsitik. Di sebelah selatan berderet tanaman singkong yang ditata dengan apik. Masjid sederhana itu memiliki dua lantai. Lantai pertama dilengkapi karpet hijau mewah, rak buku dengan koleksi seadanya, mimbar polos tanpa sentuhan ukiran, dan beberapa mushaf ustmani yang sudah mulai menguning.

Pagi itu, kala mentari baru dua puluh menit terbit dari timur, Raden Taufik Wiralaga, yang kemudian disebut Taufik, bertafakur dalam kesendirian. Pandangannya kosong menghadap tempat sujud, posisi duduknya bersila, ada bekas-bekas air wudhu menetes ke kerah bajunya. Sesekali mulutnya mengucap sesuatu yang tidak jelas. Lebih menyerupai ceracau seorang mabuk.

“Ampun… Aduh.. Ampun.. Aduh.. Jangan..”

Air mata menganak sungai mebasahi pipinya. Suaranya semakin parau dan pandangannya semakin dalam. Komat-kamit semain tidak keruan. Badannya bergetar hebat, matanya kosong. Tiba-tiba, ia bisa mengusai dirinya sendiri dan berdzikir pelan, “Allah, Allah, Allah…”

Dzikirnya pelan seiring dengan kondisinya yang semakin tenang. Nafasnya mulai teratur. Taufik mulai menguasai dirinya, wajahnya kembali cerah dan aura lembut melingkupi tubuhnya.

“Allah..Allah..Allah”, ucapnya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mau menyelesaikan kalimat tahlil itu dalam dzikir karena takut malaikat maut mencabut nyawanya saat kalimat Laa terucap. Yang berarti penolakan atas keimananya.

Dzikirnya semakin hebat dan dalam. Ia merasakan dirinya semakin ringan. Sebuah berkas cahaya putih mendekatinya, masuk kedalam qalb nya. Ia merasakan dirinya mengembang memenuhi ruangan masjid. Membesar, membesar, membesar sampai ia kehilangan kesadaran dan memasuki dimensi lain.

Dalam dimensi itu, ia melihat latar belakang pohon pinus yang berderet di perbukitan. Di antara hutan itu sebuah danau biru dipenuhi ikan yang terlihat jelas dari pinggiran. Pasirnya hitam, airnya tidak beriak. Tidak ada angin, tidak ada kabut, tidak ada matahari dan langit dipenuhi gemintang. Sesuatu terjadi mendadak. Air danau tiba-tiba mengalami pasang. Pusarannya menghisap tubuh Taufik. Dalam, dalam, terus ke dalam dasarnya.

Tapi… Ia tidak menemukan dasar itu. Dalam pusaran itu Taufik diberi penglihatan ilahiah tentang masa hidupnya. Ia melihat wajah ibunya yang tersenyum saat ia masih bayi. Wajah bapaknya yang lelah selepas bekerja. Ia merasa rindu dengan mereka. Ia berusaha menggapai mereka, tapi mereka hanyalah bayang-bayang di antara air danau. Kemudian, ia melihat dirinya sewaktu kecil. Ia berlari ke sana ke mari dengan riang, tanpa beban, penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bapak dan Ibunya selalu mengecup keningnya sebelum berangkat sekolah. Ia merasakan pengalaman itu begitu dekat, sangat dekat.

Lama-lama bayangan itu pudar. Ia kemudian melihat sosok remajanya sedang berduaan dengan seorang wanita di pojok kafe sebuah kota. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing. Tapi, ia juga melihat kelakuan buruknya ketika berbohong kepada orang tuanya, pulang malam tanpa kabar, dan selalu meminta uang demi membelikan hadiah bagi sang kekasih. Ia juga melihat ibunya berdoa sambil menangis dalam tahajudnya. Ia merasa bersalah, “Bu, maafkan, Taufik, Bu..”, bisiknya lirih.

Tiba-tiba semua berubah hitam. Ada titik putih kecil dikejauhan yang mendekat. Taufik mendekati titik itu. Pemandangan mendadak berubah. Ia melihat dirinya sedang duduk dengan seragam berpangkat di depan komputer. Ia sadar bahwa ia sedang melihat dirinya lagi. Ia melihat perubahan tanda pangkatnya. Semakin lama semakin semarak. Di antara berubahan itu berseliweran pemandangan aneh. Wanita-wanita penghibur, botol wisky, kartu remi, asap rokok, perbicangan dengan tertawaan, anak buahnya yang pernah ia sakiti, istrinya yang menangis, anaknya yang kepergok merokok, orang tuanya dengan kain kafan, nisan, kemudian titik itu menghilang, gambaran itu pudar, semua kembali hitam.

Taufik terjebak dalam gelap itu. Ia tidak paham ia berada dimana dan akan menuju kemana. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Ia tidak ingat lagi apa yang terakhir ia lakukan. Akhirnya ia berzikir, “Allah, Allah, Allah..” Gelap itu menghilang, Taufik merasakan cahaya putih membawanya terbang entah kemana.

Adzan Dzuhur berkumandang, masjid gempar, seorang pegawai ditemukan meninggal dalam persujudannya.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

, , , , , , , ,

Leave a comment

Hidup Sebelum Kelahiran

The Death of Socrates. Oil On Cavas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New Yorl. Wikiedia,com

The Death of Socrates. Oil On Canvas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New York. wikipedia.com

Filsafat bukan kegiatan orang tanpa kerjaan. Filsafat adalah semangat terus-menerus untuk mencari kebenaran. Menyibak yang tampak agar terbuka segala hakikat.

Belakangan ini, saya menyibukan diri untuk mengkaji buku-buku filsafat. Dimulai dari filsafat ilmu, saya mulai tertarik dengan alur pemikiran Platonik. Seorang yang lahir dalam keluarga bangsawan di Athena pada 427 SM. Beliau sangat dipengaruhi oleh gurunya, Sokrates, yang dikenal dengan awal mula filsafat idealisme.

Dalam buku Plato yang sudah saya baca yakni Republik dan Phaedo narasi di dalamnya didominasi dialog Sokrates bersama murid-muridnya. Dialog memang metode yang digunakan Sokrates untuk bertanya kepada kaum muda di Athena tentang Idea atau kebenaran mutlak yang sudah ada di dalam jiwa manusia, sebelah mereka lahir ke dunia.

Dalam bukunya Phaedo yang kemudian diterjemahkan menjadi Matinya Sokrates oleh A. Asnawi dari Penerbit Narasi, dinukil dialog yang menunjukan kepercayaan Socrates bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia :

Kalau begitu, kita pasti telah memperoleh pengetahuan tentang bandingan ideal pada suatu waktu sebelum ini?

Ya.

Artinya, sebelum kita lahir, kukira?

Benar.

Dan jika kita memperoleh pengetahuan ini sebelum kita lahir, dan lahir dengan memilikinya, maka kita juga tahu sebelum kita lahir dan begitu kita lahir bukan hanya sesuatu yang sama atau yang lebih besar atau lebih kecil, tapi semua ide lainnya…

Itu benar.

…Kalau begitu, Simmias, jiwa-jiwa kita pasti sudah eksis sebelum mereka dalam bentuk manusia-tanpa tubuh, dan pasti telah memiliki inteligensi.

Tidak hanya percaya bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran di dunia, dari dialog di atas Sokrates juga percaya manusia dalam wujud ruh-ruh itu manusia memiliki intelegensia, mampu berpikir dan mengetahui hal-hal. Pengetahuan di alam sana itulah yang berusaha untuk diingat kembali oleh Sokrates melalui pertanyaan-pertanyaan dalam dialog dengan para pemuda. Kemudian teori ini dikenal dengan Theori of Recollection (mengingat kembali).

Teori ini memiliki kesamaan dengan teologi Islam. Di dalam ajaran Islam dipercaya ada alam ruh sebelum kelahiran manusia di dunia. Seperti yang tertulis dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 173 :

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) manusia keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, “Bukankah Saya Tuhamu?”, mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan, kami sungguh bersaksi”…

Dari dialog di atas antara Tuhan dengan manusia tergambar jelas bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia. Bahkan jawaban manusia seperti itu bukankah ini menandakan bahwa manusia di alam sana memiliki intelegensi. Lantas adakah pengetahuan lain yang dimiliki manusia di alam sana yang kemudian terlupakan ketika manusia terlahir ke dunia?

Ini masih pertanyaan besar. Kalau ternyata manusia sudah mengetahui rahasia alam sebelum kelahiran kemudian karena proses kelahiran pengetahuan itu lenyap dan harus diingat kembali cukup dengan logika (a priori) maka, mungkin, kita akan menemukan manusia-manusia ajaib yang terkucil dalam masyarakat dan buta akan buku referensi namun dapat menceritakan dengan detil fenomena di dasar lautan dan galaksi raya hingga ke dasar hakikatnya. Saya belum mengetahui hal ini.

Yang pasti hingga kini, ilmu pengetahuan didapat tidak saja hanya dengan berpikir dan mengingat-ingat pengetahuan di alam sana. Namun juga dengan pengamatan indra (posteriori) dan melakukan penyeldikan mendalam atas setiap benda yang tampak.

Namun, sebagai kesimpulan, bukan berarti saya tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa didapat dengan mengingat pengetahuan di alam sana. Tuhan ialah sumber pengetahuan, awal dari segala sesuatu yang megajarkan Muhammad ilmu syariat dan hakikat, yang memberi penerangan para wali tentang kehidupan. Tidaklah musykil bagi manusia, pada maqam atau derajat tertentu untuk mengetahun rahasia alam semesta, pengetahuan alam sana, logos jika memang dikehendaki oleh Nya.

Wallahu a’lam.

Ferry Fadillah. Bandung, 22 September 2015.

, , , , , ,

6 Comments

Pertanyaan

Akankah kita tahu:

rahasia terdalam palung lautan, dan

misteri terluas alam semesta.

Pernahkah kita berpikir :

Diri yang dicampakan begitu saja,

setelah meninggalkan firdaus

bersama sang iblis yang membangkang.

 

Agamawan hanya beretorika:

membela dzat yang bahkan belum pernah mereka jumpa

dengan cerita ngeri neraka dan macam siksaan.

Manusia dibuat bertekuk lutut.

 

Kalau akal memang ciptaan-Nya

Kenapa harus ada hukuman bagi pertanyaan?

 

Kalau hanya Maha Baik bagi nama-Nya

Kenapa permohonan Sang Iblis dikabulkannya?

 

Kalau hanya Ar-Rahman bagi nama-Nya

Kenapa harus neraka tercipta?

 

Kalau hanya Al-Qudus bagi nama-Nya

Kenapa sifat jahat terbenam dalam jiwa manusia?

 

Kalau harus ada si kafir yang masuk neraka

Kenapa kita harus tercipta?

 

“Aku mengetahui apa-apa yang tidak engkau ketahui”, firman-Nya.

Hanya sujud sembah mencium tanah yang bisa kita lakukan

sedekat mungkin dengan unsur penciptaan: tanah

tempat awal sekaligus akhir

 Sambil cemas mengharap ampunan-Nya.

Ferry Fadillah, Priangan, September 2015.

, ,

Leave a comment

Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

, , , ,

Leave a comment

Kontemplasi Pagi

Hampa. Kata yang pantas menggambarkan suatu perasaan. Yakni ketika makna dan arti alpa untuk hadir. Keramaian. Senda gurau. Pesta pora. Menawarkan pemenuhan kepuasan ragawi. Bahkan menurut beberapa orang merupakan surga itu sendiri. Libido dicurahkan. Hasrat dihormati. Badan dianakemaskan. Itulah fenomena yang telah menjadi tujuan; bahkan ilahi rabi bagi anak masa kini.

Dahulu, ditengah carut marut moral negeri arab, Sang Nabi menyepi ke gua nan jauh dari hiruk pikuk percakapan. Prosesi ini bukanlah titik antisosial. Hanya sebuah proses sementara untuk mendengar Dia –yang hadir lebih dekat dari urat leher itu. Sebuah kontemplasi. Mengukur diri dan menimbang-nimbang ini dan itu. Menyelaraskan kehendaknya agar sesuai dengan kehendakNya. Pada saat itulah Sang Ilahi berfirman : bacalah, bacalah, bacalah!

Membaca lekat dengan kontemplasi. Perenungan. Jalan flosofi. Dibawanya akal mendahului badan. Menjelajah jauh melewati bima sakti. Mendekat lekat kedalam unsur atom. Membedah misteri agar menjadi pengetahuan. Mengolah pengetahuan agar menjadi science .Membawa diri dari gelap menuju terang. Mengubah masyarakat dari taklid menjadi rasional.

Pada saat itulah hampa akan hilang. Akal asyik diberi makan ilmu. Jiwa asyik diberi minum hikmah. Kalau ada misteri, dipecahkannya hingga terang benderang. Kalau ada masalah, dihadapinya hingga bijaksana. Diri tenang pembawaan damai.

Kalau orang umum pasti banyak menduga-duga. Ah gila lah mereka dengan paham ini. Aduh, serius nian hidup Kau. Aih, bicaramu melangit tinggi, Bung. Tapi jiwa yang terang tidak pernah terusik. Ia selalu tersenyum, karena tahu akan menang. Apa menang itu? Coba awam tanya pasal mati, seringkala mereka menjawab :

“Mati? Ah, hanya sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Jiwa kita akan bebas. Untuk apa lagi risau”

Sebuah jawaban tegas nan tenang, dari pikiran yang dipenuhi ilmu dan jiwa yang diterangi hikmah.

Ferry Fadilah. Bintaro, Juni 2014.

, , , ,

Leave a comment

Membaca Islam Melalui Kacamata Indonesia

Akhir-akhir ini media sosial dipenuhi dengan isu berbau agama, terutama yang menyangkut dengan Islam. Bermula dari perhelatan akbar lima tahunan, pemilihan umum 2014. Saat itu, masyarakat hanya diberi dua pilihan calon presiden dan wakil presiden. Masing-masing pihak didukung oleh kekuatan partai politik; ormas daerah serta organisasi keagamaan. Kampanye-kampanye di dunia online dan media massa tidak terkendali terlihat dari cara bertutur berbagai pihak. Beberapa orang memandang perseteruan politik ini mengerucut menjadi dua kubu yaitu pro-Islam melawan kontra-Islam.

Demokrasi dengan logika vox populi vox dei atau suara rakyat suara Tuhan telah menyatakan satu dari dua calon yang diusung sebagai pemenang. Gegap gempita rakyat yang mendukung kedua pasangan di masa-masa kampanye membahana ke seluruh negeri. Pesta musik dan pesta kuliner diselenggarakan di  Monumen Nasional  Jakarta setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Istana Negara. Bahkan diperkirakan ada ribuan warga yang memadati acara tersebut hingga larut malam.

Sayang, kegembiraan masyarakat kini seperti sebuah paradoks: pemimpin yang dulu dieluk-elukan, kini banyak mengundang tanda tanya besar. Selain kondisi perekonomian yang tidak menentu, langkah sepihak Kementerian Komunikasi dan Informasi menutup 21 website Islam merupakan langkah mundur menuju era orde baru; ketika kebebasan pers dibungkam dan kritik dicurigai sebagai langkah subversif.

 Masalah lain adalah mengenai isu Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) -gerakan islam radikal sadistis- yang dikhawatirkan menyebar di tanah air dan memicu serangan-serangan teror baru pasca tragedi Bom Bali I dan II. Patut disayangkan, dalam memberitakan permasalahan ISIS media masa terkesan berlebihan sehingga  memunculkan citra Islam yang kurang baik bagi orang Islam sendiri maupun orang non-Islam.

Tidak hanya di Indonesia, kecurigaan terhadap Islam terjadi di banyak negara. Paska penyerangan kantor majalah satire Charli Hebdo di Perancis oleh dua orang bersenjata, negeri itu dan merambat ke negeri-negeri Eropa lain mengalami gejala islamophobia. Di Indonesia, islamophobia bukanlah hal baru, isu-isu terorisme seringkali disangkutpautkan dengan agenda milisi islam radikal dan berujung kepada pembenturan ide antara Islam dengan Pancasila. Tragedi Bom Bali I dan II, pengeboman Hotel J.W. Mariot, tindakan anarki Forum Pembela Islam (FPI), Rohianiawan Islam (Rohis) SMA yang dicurigai dan fenomena ISIS dilebih-lebihkan. Dampaknya? Generasi muda muslim jauh dari agamanya, enggan untuk memperdalam agamanya karena takut dituduh radikal, enggan membahas masalah Jihad karena takut dituduh ekstrimis dan sungkan mengikuti sunah Rasul yang berkaitan dengan fashion karena kesan yang dimunculkan akan disamakan dengan teroris. Dari semua pemaparan dimuka, hanya satu kata yang cocok menggambarkan Islam kini, teralienasi.

Membaca Sejarah Islam Nusantara

Teralienasinya Islam di negeri yang mayoritas muslim ini tentu menimbulkan keheranan bagi semua pihak. Bagaimana bisa? Padahal Islam adalah agama yang datang ke Indonesia tanpa kekerasan dan invasi langsung dari Kekhalifahan di timur tengah sana. Bahkan ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menginjakan kaki di negeri ini dan berusaha memonopoli perdagangan internasional di pelabuhan-pelabuhan utama hingga masa awal pergerakan nasional di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Islam hadir sebagai ideologi penjunjung kesetaraan, kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan.

Teralienasinya Islam selain disebabkan oleh pengaruh media yang terlalu vokal menghubungkan terorisme dengan Islam juga tidak terlepas dari pendidikan Agama Islam yang terlepas dari konteks sejarah Islam Nusantara. Silahkan tanya pahlawan-pahlawan besar penyebar agama Islam di timur tengah sana, berikut para ulama dan cendikiawannya, pasti para ustadz dan mubaligh dengan lancar dan detail menjelaskan ini dan itu. Padahal sejarah dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia tidak bisa dianggap perjuangan lokal semata, tetapi juga berdimensi internasional.

Ketika Sultan Ali Alaoedin Mansoer Sjah (1838-1870) memimpin Kesultanan Aceh, kerajaan yang menjadikan Islam sebagai hukum positif dalam bernegara di semenanjung Sumatra ini telah mengadakan hubungan diplomatik dengan Republik Perancis, Amerika Serikat, Inggris dan Kesultanan Ottoman Turki (Suryanegara  2009 : 259). Hubungan-hubungan tersebut diadakan guna menggalang bantuan militer untuk menghadapi pasukan Belanda yang telah menduduki Banda pada Maret dan April 1873. Sayang bantuan-bantuan tersebut tidak pernah sampai, dikarenakan:  Pertama, Perang Perancis-Jerman (1870-1871) antara Kaisar Napoleon III versus Kaisar Willem I mengakibatkan Republik Perancis sedang menuju keruntuhan; Kedua, Amerika Serikat baru saja selesai dari Perang Saudara (1861-1865) pada masa Presiden Abraham Lincoln, dengan demikian kondisi dalam negerinya masih parah. Ketiga,  Kesultanan Turki sedang dalam perang dengan Rusia  dalam Perang Turki-Rusia kurun waktu 1875-1878 (Suryanegara 2009 : 262-263). Karena aktivitas perang di negara-negara tersebut, bantuan militer kepada Kesultanan Aceh terhenti dan Aceh sebagai satu-satunya kekuatan Islam di Sumatera yang tersisa harus menghadapi Kerajaan Belanda seorang diri  mulai dari tahun 1873 hingga 1914.

Perang besar ini menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi dan agama yang dijunjung. Semangat pasukan Aceh dalam menghadapi pasukan belanda adalah semangat jihad, perang sabil, perang di jalan Allah, bukan nasionalisme sempit. Dengan dibantu para ulama, perang Aceh adalah perang terlama di negeri ini yakni kurang lebih 70 tahun. Jika perang Aceh berakhir 1914 dan Indonesia merdeka tahun 1945 berarti negeri di ujung Sumatera ini hanya dijajah selama 31 tahun, bukan 350 tahun seperti yang kita percayai selama ini.

Sejarah Islam di tanah Jawa tidak kalah menarik. Perang Jawa (1827-1830) merupakan perang lima tahun yang memiliki dampak luar biasa. Perang ini telah menelan korban 10.000 orang Eropa dan kurang lebih 200.000 orang Jawa terbunuh dan menelan biaya sebesar f19.000.000 (Djamhari, 2014). Perang ini bukan bermula dari hal sepele : pemasangan patok-patok pembangunan jalan di tanah miliki Pangeran Dipenogoro; seperti yang dipelajari ketika penulis sekolah menengah dulu. Tujuan utama pangerang Dipenogoro dalam memimpin Perang Jawa adalah memajukan agama Islam, lebih khusus lagi mengangkat keseluruhan agama Islam di seluruh Jawa –yaitu tatanan moral secara umum , tidak hanya Pratik Islam formal (Carey 2014 :67).

Yang menarik adalah pakaian perang Pangeran Dipenogoro. Pakaian yang tidak lazim digunakan dalam perang-perang jawa sebelumnya yaitu jubah dan sorban islami, menandakan perlawanan sang pangeran terhadap hegemoni budaya Barat di Keraton Yogyakarta. Dari penamaan jabatan-jabatan militer pun, pangeran Dipengoro tidak menggunakan istilah-istilah Belanda. Pangkat militer tertinggi disebut Alibasah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan komandan divisi model Janissari. Pangkat selanjutnya adalah Dulah, yaitu komandan pasukan yang membawahi 400 orang prajurit, setara dengan detasemen. Pangkat perwira terendah, She¸adalah perwira yang membawahi pasukan setara dengan kompi. Istilah-istilah tersebut diadopsi dari istilah-istilah militer Kesultanan Turki Ottoman. (Djamhari 2014 : 38)

Zaman awal kebangkitan bangsa pun menghadirkan tokoh-tokoh Islam dengan pergerakannya yang layak diperhitungkan. Bahkan penulis percaya bahwa penggagas kebangkitan bangsa adalah Sarikat Islam bukan Budi Oetomo. Hal ini digambarkan oleh Suryanegara (2009 : 376) sebagai berikut :

…tidak mungkin kebangkitan kesadaran nasional dipelopori oleh para prijaji yang sedang menjabat sebagai regent atau boepati dengan organisasinya Boedi Oetomo, seperti yang telah penulis tuturkan sebelumnya karena ciri dari organisasi gerakan kebangkitan kesadaran nasional, bersifat kerakyatan dan antipenjajah. Sedangkan kelompok prijaji, terutama yang menjabat boepati atau pangreh pradja yang bersikap loyal kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah. Terbaca dari keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta pada 6-9 April 1928, “Menolak pelaksanaan tjita-tjita persatoean Indonesia”, walaupun sudah berusia 20 tahun, Boedi Oetomo tetap bersikap ekslusif.

Sarikat Islam dibawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan organisasi pribumi yang tidak bisa dianggap remeh. National Congres Centraal Sjarikat Islam yang pertama (17-24 Juni 1916) diadakan di Gedung Merdeka, Bandung, dengan berani memelopori tuntutan Indonesia Merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri atau Zelf Bestuur. Selain itu kongres pertama ini juga menuntut kepada pemerintah Belanda agar rakyat diizinkan membangun Indie Werbaar (Pertahanan India atau Pertahanan Indonesia), guna memperkuat pertahanan apabila Perang Dunia I (1914-1919), meletus ke Nusantara Indonesia, yaitu dengan cara menyertakan pemuda Indonesia dalam milisi militer Pertahanan Indonesia. Walaupun tuntutan-tuntutan itu tidak sepenuhnya dikabulkan oleh Kerajaan Belanda, namun kita bisa menilai bawah umat Islam pada saat itu dengan organisasi Islam bernama Sarikat Islam memiliki posisi tawar yang kuat, mengingat jumlah anggota yang banyak dan diantara mereka memegang kendali ekonomi di daerahnya masing-masing.

Dari petikan-petikan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kebudayaan islam (bahasa tulis mapun lisan serta simbol-simbol) pada waktu itu tidak diangap asing oleh rakyat di kepulauan Nusantara, bahkan telah menginspirasi beberapa kerajaan untuk mendirikan Daulah Islam dengan hukum positif  Islam sebagai pedoman kehidupan bernegara. Kedua, para Ulama memiliki andil yang besar dalam menanamkan ajaran agama Islam dan cinta tanah air bagi rakyat nusantara, ini dapat dibuktikan bahwa pertempuran-pertempuran pada masa penjajahan bermotif jihad membela agama Allah. Ketiga, pakaian dan penyebutan jabatan militer yang mengikuti Kesultanan  Turki menandakan bahwa Pangeran Dipenogoro ingin merdeka dari hegemoni Belanda hingga ketingkat terkecil yakni bahasa – coba bandingkan dengan era globalisasi saat ini. Keempat, ada distorsi sejarah mengenai penggagas kebangkitan bangsa yang berdampak kepada psikologis umat Islam yang membaca sejarah kebangkitan bangsanya sendiri. Seolah-olah Islam tidak memiliki peranan yang  besar, padahal sebaliknya, sejak zaman kesultanan hingga kemerdekaan, Islam adalah satu-satunya agama yang mempererat suku bangsa se-nusantara dalam melawan penjajah. Kelima, melihat  fakta bahwa Kerajaan Aceh hanya dijajah selama 31 tahun, mematahkan bahwa Indonesia secara keseluruhan dijajah selama 350 tahun, memberikan rasa bangga bagi umat Islam hari ini, bahwa karena semangat Islamlah Aceh menjadi benteng terakhir melawan penjajah Belanda di tanah melayu.

Setelah menyimak serpihan kecil sejarah Islam di Indonesia ini, masihkah kita menganggap Islam sebagai agama asing bahkan meng-alienasi agama ini dari pemeluknya sendiri?

Pendidikan Agama Berbasis Sejarah Islam Nusantara

Pendidikan memiliki peran vital dalam mencetak karakter bangsa. Melalui pendidikan, interaksi antara guru, literatur dan murid akan menghasilkan pemahaman yang baik akan jati diri dan bagaimana menghadapi dunia yang semakin tidak menentu. Karakter pengacau dan anarkis seharusnya tidak ada bagi insan pendidikan karena tujuan akhir pendidikan adalah menajamkan pikiran dan menghaluskan budi.

Pendidikan agama Islam adalah salah satu unsur pendidikan di Indonesia. Namun, pendidikan agama dari sekolah dasar hingga menengah selalu menjadikan fiqih (hukum) sebagai pokok bahasan utama. Peserta didik diajarkan hukum-hukum dengan segala perbedaannya. Hal ini memang baik. Namun, bagi peserta didik yang belum terbiasa dengan perbedaan dan belum memiliki mental yang dewasa, perbedaan ini akan menjadi awal mula percikan konflik antar umat se-agama dan dikhawatirkan memuncak menjadi konflik antar umat beda agama.

Satu hal yang dilupakan, aspek sejarah nusantara dalam pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam sering kali menjelaskan tokoh-tokoh timur tengah secara detil dan heroik. Padahal negeri kita tidak kekurangan tokoh-tokoh Islam yang tidak kalah heroiknya. Mengapa harus sejarah Islam Nusantara? Seperti yang kita ketahui, Islam menyebar secara masif di Indonesia secara damai. Wali Sanga (sembilan penyebar Islam di tanah Jawa) memiliki pendekatan moderat dalam menyebarkan cahaya Islam di tengah-tengah hegemoni Hindu-Budha. Beberapa wali menggunakan pendekatan budaya seperti penggunaan cerita wayang yang memodifikasi kisah Mahabrata dengan ajaran Islam dan pendekatan ekonomi Islam yang menonjolkan prinsip keadilan dan kejujuran.

Islam model inilah yang sangat berbeda dengan model Islam timur tengah. Islam model ini dapat  merangkul ideologi nasionalisme dan sosialisme sekaligus, karena sejak dulu memang memiliki tujuan yang sama yakni menuju Indonesia merdeka. Selain itu, sejarah Islam Nusantara harus disajikan seobjektif mungkin, agar semua menjadi jelas, bahwa Islam sejak zaman kesultanan hingga pergerakan kemerdekaan selalu mendapat tempat di hati masyarakat  bukan malah jauh dan dijauhkan dari masyarakat seperti sekarang ini. Bahkan pendiri bangsa kita, yang dapat merangkul semua –isme di negeri ini, Soekarno, semasa dalam tahanan Belanda pernah tercerahkan oleh Islam, seperti yang beliau tuturkan  sebagai berikut (Adams 2011 : 136) :

Kemudian aku membaca Al-Quran. Dan hanya setelah menyerap pemikiran-pemikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mencari-cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan-ucapan Nabi. Dan aku sangat puas.

Dari perkataan beliau –dimana cahaya Islam telah merasuk kedalam pikirannya- kita tahu bahwa perjuangan beliau di negeri ini tidak hanya berdasarkan nasionalisme sempit belaka, tidak juga sosialisme model Karl Marx namun menjadikan Islam sebagai ideologi universal dan menjadikannya rumah bersama bagi semua golongan di Indonesia dan beliau berhasil mereproduksinya menjadi butir-butir Pancasila yang luhur itu.

Harapan dari pendidikan agama Islam berbasis sejarah Islam Nusantara –dari zaman kesultanan hingga kebangkitan bangsa- adalah, kelak, pemuda-pemudi negeri ini akan paham bahwa Islam adalah jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia. Memahami bahwa Islam adalah cikal bakal kebangsaan dan kemerdekaan sehingga tidak adalagi yang mempertentangkan antara Islamisme dan Nasionalisme, bahkan kecintaan terhadap Islam akan berbanding lurus dengan kecintaan terhadap tanah air. Sadar bahwa Sosialisme bukanlah ide yang pertama kali diusung oleh Karl Marx, melainkan ide orisinil Islam dengan sistem ekonomi berkeadilan dan sistem sosial yang egaliter. Insyaf  bahwa kebudayaan Islam adalah sebuah keluhuran yang membuka peluang bagi perubahan, bukan konservatisme yang berlawanan dengan semangat zaman.

Kesimpulan

Islam kini mendapatkan tantangan, baik dari kebijakan pemerintah hingga media massa yang makin memperburuk citra Islam di Indonesia. Akibatnya, Islam sering dikaitkan dengan isu terorisme. Gejala islamophobia terjadi, simbol-simbol dan kegiatan islam dicurigai, pemuda-pemudi Islam di negeri mayoritas muslim ini semakin jauh dari agamanya.

Pendidikan agama Islam dengan pendekatan sejarah Islam nusantara dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan kembali Islam dengan generasi muda masa kini. Dengan pendekatan  ini, diharapkan Islam dipandang sebagai jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia asli, dan tercipta pemahaman bahwa ada irisan toleransi antara ide nasionalisme dan islamisme yang pada akhirnya semangat Islamisme akan memperkuat semangat kebangsaan dan cita tanah air dalam dunia yang semakin tanpa batas ini.

Ferry Fadillah, Mei 2015

Referensi

Adams, Cindy. 1965. Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams. The Bobbs Merrill Company Inc. New York. Terjemahan Syamsu Hadi. 2011. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cetakan Kedua. Yayasan Bung Karno dan PT Media Pressindo. Jakarta.

Suryanegara, A. Mansur. 2012. Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cetakan Kelima. PT Grafindo Media Pratama. Bandung.

Djamhari, S. As’ad. 2014. Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stelsel Benteng 1827-1830. Cetakan Kedua. Komunitas Bambu. 2014.

Carey, Peter. 2014. Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro, 1785-1855. Cetakan Pertama. Kompas. 2014.

, , , ,

Leave a comment

Soal Kematian

Ramai-ramai orang bicara tentang kematian. Biangnya media massa. Hukuman mati yang menjadi putusan akhir kurir narkoba mancanegara itu telah beranak pinak menjadi perbincangan yang seru, antara pro dan kontra.

Bicara kematian. Saya jadi teringat almarhum kakek, dari jalur Ayah yang tinggal di Ciamis. Waktu itu karena mengalami masalah dengan suhu, beliau memilih tinggal di Surabaya dengan cuaca yang lebih hangat. Tak disangka, di kota pahlawan itu beliau menderita pecah pembuluh darah otak. Segera, maut memeluknya. Ia terdiam kaku, diranjang kecil, di sekitaran Wonocolo.

Orang-orang menangis, termasuk saya. Padahal keberanian dan ketegaran sudah dipersiapkan. Kematian adalah kepastian, batinku. Namun tetap saja, entah reaksi hormon apa dalam tubuh, air mata menganak sungai tidak terbendung.

Kematian menandakan perpisahan. Kematian menandakan tapal batas, antara yang di sini dengan yang liyan. Kematian juga sebagai gerbang menuju keabadian, karena jasad akan menua sedangkan ruh tidak.

Orang Islam percaya, kematian hanyalah masa transisi menuju alam berikutnya. Kelak sesuai amal, manusia akan menuju tempat tinggal terakhir : surga atau neraka. Mungkin, bayang-bayang neraka lah yang kerap menjadi momok dalam menghadapi kematian. Atau, mungkin, alasan-alasan pragmatis, sang mayat adalah tulang punggung keluarga, jika ia pergi bagaimana menghidupi sekian banyak anak, sewa rumah dan bunga hutang yang melilit-lilit. Maka isak tangis itu, lebih menandakan kekhawatiran material dibanding spiritual.

Lantas, perbincangan hangat akan hukuman mati, apakah perbincangan antara pemikiran material atau spiritual? Saya kira pokok perdebatannya bukan di sini, tapi, apakah manusia berhak untuk menentukan ajal seseorang?

Mereka yang kontra berdalih bahwa kematian hanya dapat ditentukan oleh Allah. Sedangkan yang pro berdalih bahwa hukuman mati akan menciptakan efek jera bagi pengedar baru yang akan masuk di tanah air.

Saya pibadi bersebrangan dengan pendapat pertama. Hukuman mati bukanlah barang baru di peradaban ini. Raja-raja Eropa dan Timur Tengah masa lampau menjadikan hukuman mati sebagai tontonan massal untuk memberikan pelajaran; bahwa kejahatan ini atau itu jika dilakukan akan berkonsekuensi kematian.

Narkoba, korupsi, dan tindak kejahatan lain sebenarnya berhulu dari satu hal : lupa akan kematian. Pelaku pikir hidup ini akan lebih panjang lagi sehingga sebelum akhir Allah akan memaafkan segala dosa. Tapi seperti kematian itu sendiri, ia begitu mesteri, kita tidak pernah tahu kapan akan menghadapinya.

Hukuman mati berarti mengingatkan kita -yang baik, yang jahat, maupun yang abu-abu- bahwa kematian itu pasti. Kematian tidak akan menuntut kita untuk menjadi kaya raya. Semua sama di hadapannya. Seorang koruptor uang negara milyaran rupiah dengan vonis 5 tahun, atau seorang kakek miskin pencuri 50 gram merica dengan vonis 2 bulan 25 hari.

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015

, , ,

Leave a comment

Menjawab “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN”

Agama adalah candu. Begitu keyakinan kaum materialis-komunistis ketika melihat kenyataan bahwa agama telah menjadi alat pembenaran bagi penguasa negara theokrasi memeras habis kapital rakyatnya. Namun, pendapat itu tidak selamanya benar. Bagi sebagian orang, agama adalah obat. Oase di tengah padang pasir keserakahan manusia yang menjadikan benda sebagai landasan berpikir. Cahaya bagi kegelapan peradaban yang menjadikan pikiran manusia yang terbatas sebagai acuan kebenaran.

Dalam perjalanannya, agama selalu berdampingan dengan politik. Agama dan Politik seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pemilihan Umum Presiden 2014 tanggal 9 Juli lalu pun diwarnai isu-isu seputar agama. Antara Islam dan non-Islam. Antara Islam dan sekularis. Ternyata, geliat politik di perhelatan besar lima tahunan ini bergulir ke sebuah kampus bagi para abdi Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Dalam pemilihan presiden mahasiswa tahun ini, warga STAN dihadapi oleh dua pilihan. Fandy, mahasiswa D-IV, semester 7, beragama Islam dan Gilang, mahasiswa D-IV, semester 9, beragama Katolik.

Merujuk tulisan Meidiawan Cesaria Syah berjudul “Surat Tebuka Kepada Mahasiswa STAN”, saya dapat membayangkan bahwa pertunjukan politik di sekolah kedinasan populer itu pun tidak sarat dari isu-isu agama. Di dalam tulisan beliau, isu yang menjadi pokok tulisan adalah sebuah pernyataan : bahwa sudah seharusnya muslim memilih kawan muslimnya, jangan yang non-muslim.

Apakah benar ini hanyalah sekedar isu dari sekelompok orang yang sudah tidak dapat berargumen untuk mencitrakan pemimpin pilihannya?

Sebelumnya, saya jabarkan dulu secara singkat tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memandang agamanya dan mengkaitkannya dengan segala aspek kehidupan. Asy-Syahid Hasan Al-Bana pernah berkata mengenai agama ini, “Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, atau ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, atau kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.” Hasan Al-Bana menggambarkan wajah islam yang universal dan totalitas. Tidak mendikotomi permasalahan apapun di dunia ini dengan Islam. Bahwa, Islam tidak hanya mengurusi hal-hal berbau ritual belaka. Namun, Islam pun mengurusi hal besar yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak : politik.

Keyakinan Islam seperti di atas, hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki derajat iman. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya puncak kebenaran, acuan perkataan dan perbuatan. Bukankah Islam dalam bahasa arab bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Alah? Sehingga, adalah sebuah perkara yang jelas jika seorang muslim menjadikan kitabnya (Al-Quran) sebagai acuan kebenaran.

Pertanyaan bergulir menjadi, “Apakah kehendak Allah dalam menentukan pemimpin umat?”

Saya kutip dasar hukum yang nyata, yang berasal dari Tuhan yang saya dan anda yakini keberadaannya :

Hai, orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah untuk menghukummu? (An-Nisa :144)

Meidiawan Cesaria, saya bertanya kepada nurani anda sebagai seorang muslim, apakah ayat ini hanyalah sebagai isu belaka yang dapat diacuhkan atas nama negara demokrasi? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan dalam memilih pemimpin masuk kedalam kategori pemilih sosiologis, yang anda tempatkan dibawah posisi pemilih rasional dan pemilih psikologis? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan adalah orang-orang yang tidak rasional? Saya, tidak satu pendapat dengan anda.

Kalau memang demokrasi membebaskan kita untuk berpendapat dan berkeyakinan, maka inilah pendapat dan keyakinan seorang muslim yang benar, yang tidak dapat dikacaukan dengan pemahaman apapun juga. Bahwa ini adalah pemahaman paling rasional bagi mereka yang tergerak hatinya ketika dipanggil oleh Tuhan sebagai “orang-orang yang beriman”.

Atas nama keberagaman bukan berarti setiap pemeluk beragama harus mengilangkan truth claim agama yang mereka miliki. Karena truth claim itulah yang membedakan satu agama dengan agama lainnya. Bayangkan semua orang menganggap tidak perlu lagi memegang truth claim dalam agamanya, maka untuk apa lagi ada agama di dunia ini?

Akhir kata, saya mengajak semua mahasiswa STAN yang bergama Islam, yang menyatakan diri loyal kepada Allah dan berlepas diri selainnya agar menjadikan kitabullah sebagai satu-satunya acuan dalam memilih pemimpin. Jangan pernah goyah oleh pendapat-pendapat mereka yang menjadikan demokrasi sebagai illah-illah pengganti Allah. Sungguh, Allah akan memenangkan kita jika berada di jalan yang lurus. Ingatlah cita-cita founding father kita sebelum mendapat protes dari tokoh agama dari Indonesia timur : ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Bali, 13 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , , , ,

1 Comment

Zinah

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra’ : 32)

Saya yakin semua agama dan budaya setuju jika praktik zinah adalah amoral, melawan kodrat sebagai manusia, asusila, bahkan perbuatan satanik yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, dunia maupun akhirat. Namun saya yakin banyak masyarakat yang mulai lentur memandang praktik zinah, bahwa zinah adalah hal lumrah, bahkan komersialisasi praktik zinah melalu lembaga bernama lokalisasi tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Di antara kita bisa jadi terheran-heran, sayangnya membicarakan hal tersebut dengan nada bercanda, seolah fenomena ini merupakan pertunjukan lawak kolosal!

Di era post-modernisme, yang definisinya pun masih membingungkan, banyak manusia yang memiliki nihilisme nilai. Ini boleh, itu juga boleh. Zinah boleh, engga juga gak apa-apa, yang penting jangan ganggu privasi saya. Kasarnya. Bahayanya adalah semakin banyak generasi muda yang menganut nihilisme nilai ini, sehingga perzinahan seolah merupakan permasalahn individu bukan kolektif. Kalau sudah seperti ini, celakalah mereka yang tidak memiliki nalar kritis, meng-amini saja pandangan sesat ini , bahkan turut bagian dalam praktik zinah. Naudzubillah.

Saya sadar, bahwa saya bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Bahkan dengan lugu saya mengaku, saya pun pernah berbuat dosa, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tetapi untuk masalah yang satu ini –zinah- saya kira permasalahannya lebih kompleks. Ditilik tidak hanya dari sudut pandang Islam saja namun humanisme universal.

Manusia (human) yang diberi rasa dan akal tentu berbeda dengan hewan yang hanya memiliki hasrat. Terdengar klise memang. Namun pembeda yang jelas ini banyak dilupakan orang dengan jutaan pembenaran-pembenaran. Kita manusia lalu untuk apa bertindak tanduk seperti hewan. Hanya hewan yang melakukan hubungan seksual tanpa ritual transenden, bung! Apa iya kita mau disamakan dengan hewan?

Saya tidak mau menuduh mereka yang pro-zinah sebagai antek-antek setan, manusia iblistis atau hewan birahi berjalan. Masalah mereka pro atau kontra lalu menyematkan lema dosa setelahnya bukanlah hak saya sebagai penulis ngawur. Saya hanya ingin curhat bukan menggurui, melabeli apalagi memaki. Di akhir, satu permintaan saya, kepada segenap manusia tercinta dimanapun kalian berada : mari kita menjadi manusia sejati, sebenar-benarnya manusia.

 

Ferry Fadillah
9 Desember 2012

, , , , , , , , ,

Leave a comment