Archive for category KISAH

Buku dan Perang

the-face-of-war

The Face of War, 1941, karya Salvador Dali. Diunduh dari http://www.dalipaintings.com

Sejak kecil saya menyukai tulisan. Awalnya tentu bukan buku babon Das Kapital. Ibu selalu membelikan serial Donal Bebek. Kisah-kisah paman Gober yang kapitalis dan bebek-bebek jenaka lainnya selalu mengundang tawa. Kemudian ada majalah mingguan Bobo dengan komik serial Deni Manusia Ikan atau sejoli Bona-Rongrong. Novel horor Goosebumps kaya R.L. Stine juga saya nikmati. Novel ini terbilang unik. Ia memberi kesempatan kepada pembaca untuk memilih jalan takdir. Misal, menghadapi para zombie di belantara hutan atau berenang di sungai penuh buaya. Genre horor lain yang masih saya kenang adalah cerita hantu di sekolah Jepang karya Aikihito Meijima. Buku ini bercerita tentang Hanako, Taro, Yamiko, cermin ungu, nenek ungu atau arwah-arwah penunggu laboratorium biologi yang menyerupai jerangkong. Begitulah saya kecil. Hidup dalam bacaan-bacaan jenaka dan menakutkan. Untungnya, kebiasaan membaca terbawa hingga dewasa. Tentu pembaca yang budiman harus memahami bacaan yang pantas untuk usianya. Saya tidak lagi membaca kisah-kisah jenaka seperti Donal Bebek. Kini saya lebih intens tenggelam dalam buku ekonomi-politik yang lebih memikat, buku sufisme yang tidak pernah habis dibahas dan puisi-puisi para legenda yang mewarnai perubahan arus sastra Indonesia.

Berkat kepandaian Ibu dalam mendidik anak, saya tidak hanya dibekali dengan buku-buku. Ketika SMP ia mengenalkan saya dengan Tae Kwon Do. Awalnya saya tidak tertarik. Namun saat adik mengikuti kelas yang sama saya tidak mau kalah. Akhirnya ia berhenti di sabuk hijau, begitu juga dengan kawan-kawan seangkatan yang berhenti di tiap warna sabuk. Syukurnya saya lanjut terus. Hingga menyandang sabuk hitam menjelang kelas 2 SMA.

Setelah bekerja pun saya tidak lepas dari beladiri. Di Bali saya belajar teknik pernafasan dan pemecahan Merpati Putih. Untuk memperdalam kuncian dan bantingan saya mendalami Hapkido. Semuanya saya lakoni karena satu pemahaman evolusioner. Di kerajaan hewan (Kingdom Animalia) -termasuk kita sapiens– yang kuat akan menistakan yang lemah. Begitulah hukum itu berbunyi dan diajarkan melalui kurikulum sekolah. Sehingga kita dapat memaklumi saat menonton tanyangan Animal Planet ketika singa membantai antelops, buaya yang mencegat-bantai kawanan Zebra yang menyebrang sungai atau ular yang tak berkutik diburu Elang. Namun saat melihat sejarah genus kita, dalam tayangan atau buku-buku, ketika Eropa yang tercerahkan membantai bangsa Aztec dan Maya atau Amerika yang liberal memperdagangkan pria-wanita Afrika sebagai budak dengan ukuran moneter. Hati mana yang tidak bergidik dan memprotes tentang keadilan.

Tidak perlu jauh-jauh memikirkan pertikaian antar bangsa. Di sekolah, berapa banyak anak yang secara fisik lemah dirundung oleh sekolompok anak yang merasa kuat. Awalnya mungkin dengan ejekan namun lama kelamaan akan berujung adu fisik yang tidak seimbang (catatan: setiap perkelahian biasanya diawali dengan adu bacot). Selesai bertikai, yang kuat akan mengancam yang lemah jika mengadukan kepada guru. Kemudian, kelompok kuat ini juga akan memberangus pihak yang berkawan dengan korbannya. Pada kondisi inilah korban akan menderita secara fisik dan psikologis. Kita paham bahwa kawanan remaja liar yang melakukan aksi itu salah. Tapi apakah kita akan terus membiarkan hal itu terjadi dengan diskusi, pendidikan agama, pendekatan psikologis yang muluk-muluk padahal ada tabiat evolusioner genus kita yang tertanam dalam gen selama ribuan tahun. Gen perang, perang dan perang.

Wajar apabila kita, sebagai satu-satunya genus yang diperadabkan oleh agama dan pendidikan sekuler memilih pendekatan manusiawi dalam menghadapi masalah. Berbicara dari hati ke hati, musyawarah sampai mufakat atau menyelenggarakan pemiliham umum yang adil, jujur dan rahasia sekaligus boros. Namun ingat, tidak ada diskusi bagi begal yang menyambar korban di jalanan Jakarta. Pun tidak ada demokrasi dari kelompok perampok ketika menggasak indomaret. Tidak semua orang memegang nilai luhur. Pun Kerajaan Belanda era kolonial yang menipu tokoh-tokoh pribumi saat berunding damai. Ketika memahami kepastian hidup ini sudah semestinya kita mempersenjatai diri. Dengan otak untuk kebijaksanaan dan upah layak juga otot untuk menghancur leburkan pihak yang memaksa keinginan dengan kekerasan.

Ferry Fadillah
Jakarta, Mei 2020

, , ,

Leave a comment

19 Januari…

Saya tidak pernah menyangka jika perjalanan Denpasar-Ubud dengan motor dinas bersamanya akan berujung kepada hal yang sangat serius: pernikahan. Selama perjalanan ia selalu bercerita tentang segala hal dengan nada positif. Bukan khas pekerja ibu kota yang muak dengan para atasan pembual dan jalanan yang ruwet. Berkali-kali ia mengunjungi Bali untuk menjalankan tugas kantor sembari menghubungi saya kalau-kalau ada waktu untuk menikmati jalanan berdua. Dan saya selalu siap untuk itu. Bali dan perbincangan yang hangat dengan wanita pecinta buku adalah candu.

Begitulah hari-hari itu berlalu hingga saya pindah dan menjalankan kehidupan rumah tangga di ibu kota. Kini sudah satu tahun lamanya. Waktu bergulir begitu cepat. Tapi perasaan yang sama saat saya dan dia berjalan di Bali masih saja terus hidup dan bertambah kuat. Pemicunya sepele saja. Sunset di tanah rawasari atau gerimis mendung di rawamangun.

***

Di hari ulang tahun pernikahan ini kebanyakan orang memberi hadiah besar kepada istrinya. Saya bukan tipikal orang romantis. Mengajak menikah saja seperti mengajak orang pergi ke pusat belanja. Datar dan spontan.

Ada sebuah hal yang patut direnungkan. Apakah hadiah yang berwujud selalu menjadi representasi dari perasaan-perasaan terdalam? Dalam hal ini saya setuju dengan Iksan Skuter, cinta itu kupu kupu yang memeluk bunga/ saling mengisi mengasihi saling melindungi/ cinta itu tak pernah banyak mulut dan kata/ tak terlihat dan slalu berkata kata dengan rasa.

Untunglah istri saya sederhana saja. Ia tidak meminta kemewahan. Pagi ini ia meminta segenggam puisi sebagai penanda waktu penting ini.

***

Puisi itu tercekat. Enggan keluar dari rongga mulut dan jari jemari.

Ia tertidur jauh di dalam. Bukankah puisi hiburan bagi kesedihan?

Kalu kesedihan itu sirna lalu apa guna puisi.

Bukankah pertemuan satu tahun yang lalu kini adalah cerita kebahagiaan semata?

Tidak ada setiap jengkal perbincangan yang tidak bermakna.

Walau tampak acuh, telinga selalu menyimak setiap detil yang terhambur keluar dari jiwa. Dari kisah-kisah itu makna terangkai.

Dan, dari segala jenis makhluk, hanya manusia yang tidak mampu hidup tanpa kebermaknaan.

Penyatuan ini bukanlah jasad semata yang terbingkai dalam rumah mungil di bilangan Jakarta Pusat.

Ini adalah kerajaan yang akan terus langgeng hingga ke surga.

Tidak ada kata akhir bagi ketulusan.

Mungkin pahit bisa saja mampir ke rumah.

Mengoyak segala kemapanan.

Apakah pahit itu abadi jika bertemu gula?

Apakah rela kita diombang-ambing oleh kepahitan -bahkan kebahagiaan.

Jejak-jejak selanjutnya akan selalu ditemui kerumitan.

Namun, bersama dirinya itu hanyalah petualangan semata.

Aku akan menjadi juru tulis dan ia akan selalu menceritakan kisahnya.

Ferry Fadillah. Januari, 2020

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Leave a comment

Kredit

“Asu, apanya yang syariah! Masa pinjem duit lima ratus juta selama lima belas tahun total keuntungan bank sampai tujuh ratus jutaan. Sudah dibuat kurus nahan lapar setiap bulan, bank yang hanya diam ongkang-ongkang kaki dapat penghasilan dari bunga pinjaman. Tai! Itu duit kan bukan untuk membeli alat produksi, tidak ada hasil penjualan yang bisa dibagi. Saya itu makan gaji, rate-nya hanya naik 5% per tahun sedangkan suku bunga terus melebihi angka 12%. Rumah itu kebutuhan pokok. Kebutuhan dasar. Seharusnya tidak masuk logika pasar!”

Pagi buta begini Derry sudah memaki. Pemicunya selebaran pinjaman tanpa agunan yang dibagikan salesman bank syariah. Ia memang sedang butuh uang. Sebentar lagi ia akan menikah. Memikirkan biaya pernikahan saja sudah membuatnya mual, apalagi memikirkan kebutuhan papan yang harganya terus melejit dari tahun ke tahun.

“Tenang, Mas Derry. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ditengah usaha kita, segala kebutuhan pokok itu tidak terpenuhi ya apa boleh dibilang, kita hanya pasrah saja. Itu sudah ketentuan langit.”

Mendengar ceramah kawannya itu Derry geram. Tapi ia masih memiliki akal sehat untuk tidak langsung memaki. Di negeri ini ia tahu, sedikit saja kritik terhadap ungkapan relijius bisa panjang akibatnya. Mungkin akan ada organisasi masyarakat yang menggerudug rumah Derry atau bahkan demonstrasi tanpa henti menuntut Derry dibui.

“Begini, Mas Parman. Saya paham apa itu takdir dan segala macamnya. Permasalahannya Mas harus bedakan mana kemiskinan struktural dan mana kemiskinan kultural. Kalau usaha keras hingga keringat darah kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok maka ada struktur timpang yang menindih kita. Sayangnya kita tidak sadar dan dengan mudah mengembalikan setiap analisis ekonomi-politik kepada yang di atas, kehendak-Nya.”

“Iya, Mas. Saya paham keresahan Mas Derry tapi sebagai pegawai rendahan di kantor pemerintah apa yang bisa kita perbuat. Harapan kita hanyalah hal-hal praktis bagi keberlangsungan kesejahteraan pribadi: mendapat gaji bulanan tepat waktu, penempatan di kampung halaman, olahraga disela-sela ngantor, syukur-syukur dapat uang perjalanan dinas untuk tambal hutang sana-sini. Sisanya biar kita banyak jamaah di masjid, membaca Al-Quran atu ikut kegiatan islami lain. Kalau di dunia ini kita kurang jangan sampai di akhirat juga kita kurang”

Anjing betul orang ini!” umpat Derry dalam hati. Ia tidak menggubris argument Mas Parman, ia hanya tersenyum, menyalaminya, kemudian dengan sopan mempersilahkan Mas Parman keluar dari ruangan.

Derry duduk di depan meja kerjanya yang penuh sesak oleh kertas kerja. Di lacinya ada banyak konsep surat yang habis dicoret oleh atasannya. Namun, diantara kesemrawutan itu Derry ternyata memiliki rak buku kecil yang menggantung di tembok. Buku koleksinya tebal-tebal. Sebagian besar tentang ekonomi-politik dan filsafat moral. Tokoh filsafat modern kesukaannya adalah Karl Marx. Ia tidak terlalu paham Das Capital tebal yang selalu ia sombongkan kepada teman-temanya.  Ia hanya menyukai ide-ide sosialisme Marx ditambah hasil imajinasinya sendiri.

Di sela-sela buku Das Capital ia menulis hasil pemikirannya sebagai berikut:

Di negeri ini kita semua mafhum bahwa kapitalisme telah menjadi semangat zaman. Harapannya  orang-orang akan berhenti bertikai untuk kemudian berkompetisi secara sehat menggunakan produk-produk mereka. Adanya kawasan industri sekala besar, perekonomian dijital, peningkatan kemacetan di desa-desa yang tiba-tiba menjadi kawasan wisata adalah semacam anugerah bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin harum pamor pemerintah di mata masyarakat internasional.

Padahal di negeri ini ketimpangan terjadi dimana-mana. Ada perusahaan yang memiliki jutaan hektar tanah untuk kemudian dikembangkan menjadi perumahan dengan harga milyaran. Komplotan perusahaan pembiayaan dan perusahaan properti  ini telah menjerat karyawan-karyawan muda dalam skema kredit perumahan. Dalam jangka panjang, orang kaya akan semakin kaya sedangkan orang menengah dan miskin akan semakin sulit.

Kondisi-kondisi ini tidak hanya terjadi kepada mereka yang terjerat hutang pembelian rumah, akan tetapi juga terjadi kepada mereka yang mengontrak di gang-gang kecil dengan sirkulasi udara buruk dan ruang terbuka hijau yang minim. Tanpa kesadaran ekonomi-politik yang tinggi dan menyebar di kalangan  massa, harapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah impian di siang bolong.

Belum selesai Derry menulis, Mas Parman kembali ke ruangan dengan membawa empat orang dari divisi kepatuhan internal. Derry termenung tanda tak paham. Gerombolan itu membawa Derry ke ruang pemeriksaan pegawai. Buku-buku yang dicurigai kiri disita sebagai barang bukti.

Setelah tragedi itu kantor tempat Derry bekerja melakukan screening ideologi besar-besaran. Semua pegawai dipaksa mengisi kuesioner dengan pertanyaan bodoh berbelit-belit. Mereka yang dicurigai akan dipaksa mengikuti kegiatan keagamaan dibawah pengawasan langsung divisi kepatuhan internal.

Derry sendiri sudah meninggalkan kantor itu. Ia mengucapkan selama tinggal kepada bilik kerjanya, kawan-kawannya, atasannya dan demokrasi yang semakin hancur ditangan orang-orang mabuk.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Desember 2018.

, , , ,

Leave a comment

Jakarta (lagi)

Jakarta adalah lorong pengap yang jalin menjalin menjadi satu. Ia juga adalah beton-beton raksasa sisa kejayaan masa lalu. Jakarta adalah hitam air yang tercipta dari ketamakan korporasi. Hitam air itu mengalir dari gang-gang kumuh menuju pelabuhan. Di sini, orang-orang kerap bersitegang. Ketegangan yang timbul antar ojek online dengan ojek pangkalan; antar pengemudi taksi dengan busway; antar ibu dengan ayah tentang biaya sekolah yang kian membengkak.

Aku tidak sedang mencaci maki Jakarta. Bagiku kota ini adalah kawan lama. Tahun 90-an antara Tanah Abang dan Bekasi. Aku pergi bersama Ayah dengan kereta berkawan tukang gorengan dan para gelandang. Sesak, penuh, riweuh. Mau tak mau, kita berbagi tempat dengan masinis.

Bagiku, lain dulu, lain sekarang. Jakarta adalah masa depan. Ia bukan saja celah sempit pada mulut gang. Ia adalah cinta tulus para bapak ojek di jalanan gersang, jugas kasih para Ibu diantara keramaian pasar. Jakarta tidak layak dicela. Ia adalah awalan dan harapan; saksi berseminya cinta di Timur dan mekarnya kasih di Barat.

Jakarta adalah kita.

Ferry Fadillah. Jakarta, 5 Agustus 2018.

Leave a comment

Tanya

Di kaki langit segerombolan orang berjalan menembus awan. Ada yang duduk sambil membaca majalah perjalanan. Ada yang melihat ke jendela sambil membayangkan hidupnya yang sial. Ada orang tua yang membentak anaknya. Juga, anak yang membentak ayahnya.

Yang lebih durhaka adalah, ada seorang pemuda yang kencing sambil berdiri di atas langit, padahal mungkin di bawahnya seorang janda selepas shalat sedang menengadah ke langit dengan kedua tangan dibuka berbisik memohon petunjuk-Nya. Semua pasti tahu amuk seperti apa yang diberikan seorang janda ketika mengetahui apa yang terjadi di atas sana. Tetapi biarlah. Kita tidak akan membicarakan janda itu.

Di tengah hiruk pikuk itu. Sepasang anak muda berusia akhir 20-an saling memandang.  Tawaran produk bebas bea pramugara dengan troleynya atau ledak tangis seorang bocah yang minta dibelikan miniatur pesawat terbang tidak mereka gubris.

“Kapan kamu akan menikahiku?”

Anjing, makinya dalam hati. Ia kaget bukan kepalang. Baru saja mereka berbincang hangat tentang singa pemalas di Bali Safari and Marine Park. Kemudian berdebat tentang jumlah turis homo yang menyamar sebagai hetero di Pantai Uluwatu. Atau marjin laba pedagang ikan di Pasar Kelan dibanding Cafè Menega. Tetiba pertanyaan itu muncul. Ia tidak habis pikir.

“Kok kamu diam. Kamu sayang kan sama aku?”

Mendapat serangan kedua ia mulai menghembus nafas dalam. Ingin rasanya ia meminta parasut, membuka pintu darurat dan terjun bebas ke pegunungan di bawahnya. Biar ia hilang. Di makan harimau mungkin. Pun kalau mereka punah, masih ada ular berbisa yang tidak kalah mematikan.

*

Tahun lalu, di bulan Rajab, Ical bertemu Dewi di sebuah kelas pranikah yang diisi oleh seorang dai kondang cum selebgram. Pada pertemuan ke-5 yang sangat membosankan mereka tanpa saling mengetahui memutuskan keluar masjid dan membeli cilok di parkiran.

“Loh, mba. Kelas belum usai kok malah jajan cilok,” tanya Ical memecah kebekuan.

“Bosan, mas. Isinya standar”

Sejak pertemuan di gerobak cilok itulah mereka lebih intens bertemu. Tidak peduli jargon-jargon agamis yang menyindir pasangan pacaran. Bagi mereka hidup hanya sekali. Sangatlah merugi kalau hidup tanpa ia yang dicintai.

*

“Cal, kok kamu diem terus sih!”

Ical tahu Dewi menuntut kepastian. Namun, apakah harus secepat ini. Sebentar lagi pesawat mendarat. Tanda kenakan sabuk pengaman sudah dinyalakan. Beberapa menit lagi Bandung di depan mata. Ia tidak mau membawa beban langit di muka bumi.

Roda mulai dikeluarkan. Saat roda itu menyentuh landasan pacu dan penumpang goyang ke sana ke mari akibat gravitasi, Ical menyentuh pundak Dewi.

“Baik kalau begitu. Kita putus…”

Ferry Fadillah. November, 2017.

 

2 Comments

Mutasi

“Alhamdulillah, selamat ya Mas.”

“Selamat, Mas. Semoga betah di tempat yang baru.”

Pesan melalui layanan Whatsapp dengan nada serupa datang bertubi-tubi. Tambahannya adalah tanda emosi (emoticon) diantara kalimat sehingga pesan lebih atraktif dan ekspresif. Namun, pesan itu tidak tertuju kepada saya pribadi. Pesan-pesan itu adalah kehebohan hasil kopi-tempel di grup kantor. Persis seperti ucapan selamat ulang tahun.

Malam sebelum lebaran sebuah keputusan mutasi terbit. Hal serupa sudah pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat kenyamanan terhadap Bali sudah mengakar kuat dan segala kegiatan sudah menjadi rutinitas. Keputusan mutasi di malam sabtu itu terulang lagi. Dan, lagi-lagi, mengusik ketenangan, meluluhkan setiap rencana.

Tapi, apa yang bisa diperbuat seorang pegawai negeri rendahan yang suaranya redam dipusaran para elit. Tidak ada yang bisa diperbuat kecuali berkata “asu” yang disusul kalimat-kalimat istigfar.

Mutasi bagi pegawai negeri pusat di daerah adalah niscaya. Dalam jangka empat sampai lima tahun seorang pegawai bisa berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain, dari satu kota ke kota lain. Memang ada fenomena lain. Seperti yang berputar hanya antar kota satu provinsi atau satu kota antar kantor. Tapi itu adalah anomali. Hanya orang-orang beruntung atau mungkin para penjemput keberuntungan yang bisa meraih itu. Beberapa kawan pernah menyarankan. Dekati bapak ini, dekati bapak itu, tapi hati berkata lain. Bagaimana bisa saya melakukan itu bila setiap hari mengucap, “Hanya kepada-Mu lah memohon dan hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan!”

Maka, cara elegan untuk menghadapi keputusan mutasi dari pusat kekuasaan itu adalah nrimo. Dipindah atau tidak dipindah. Diputar atau tidak diputar. Toh hidup akan selalu menawarkan ketidaknyamanan. Kenyamanan hanyalah utopia di dunia dan realita di surga.

Saat berada di rantau, yang dipikirkan adalah harga tiket yang mahal. Harga sewa kamar yang tinggi. Atau rasa sepi yang selalu menikam dalam sunyi. Begitu berada di kota asal masalah juga akan datang. Mengatur waktu menjemput anak. Membagi waktu dengan istri. Atau menampik tawaran mantan yang kerap ingin kembali. Karena inilah hidup.

Namun, saya paham, tidak semua orang memiliki pikiran seperti ini. Mungkin ada yang menyikapinya dengan keras. Setiap keputusan mutasi yang dianggapnya semena-mena akan ditampiknya dimeja pengadilan. Tidak peduli biaya yang dikeluarkan. Mengalahkan pusat kekuasaan di meja hijau tentu merupakan kenikmatan yang hakiki.

Orang seperti itu tidak boleh dipaksakan untuk nrimo begitu saja. Itu sudah menjadi tabiatnya. Mungkin itu adalah cara Tuhan menegur penguasa. Agar lebih arif dalam menelurkan kebijakan mutasi.

Kenapa harus lebih arif? Karena keputusan mutasi bukanlah perihal mengganti kolom kantor lama dan kolom kantor baru atau memasukan nama pegawai beserta nomor induk dan gelar-gelarnya itu. Kata-kata dalam keputusan tidak bernyawa, tidak memiliki keluarga, tidak berperasaan. Mereka hanyalah deretan tinta yang patuh digilas mesin cetak dan dilipat dalam amplop. Manusia bukan kata-kata. Ia punya nyawa, punya keluarga, punya perasaan yang harus dihormati. Urusan pindah memindah manusia harus memperhatikan itu semua.

Bagaimanapun kearifan itu berusaha dicapai tentu akan ada selalu cela dalam tangan manusia. Tidak ada manusia sempurna. Dalam setiap keputusan tentu selalu saja ada penolakan. Bagaimana mungkin memenuhi keinginan pegawai negeri yang tersebar dipelosok nusantara. Pembuat kebijakan hanya bisa meminimalisir kekecewaan. Jangan sampai ada banyak pegawai yang berkata “asu” namun lupa menutupnya dengan istigfar.

Terakhir, pesan saya bagi para pegawai negeri rendah di seluruh Indonesia yang melihat mutasi sebagai momok menakutkan. Bersabarlah, kiranya Tuhan bersama kita.

Ferry Fadillah. Kuta, 20 Juli 2017

, , , , ,

2 Comments

Ayo Makan, Ma

Bocah itu membuka setengah kaca mobil. Air hujan membasahi wajahnya. Dinginnya menentramkan jiwa. Hutan pinus di pinggir jalan menebar aroma daun basah. Tanah yang diguyur air. Serangga-serangga yang bernyanyi di dahan mahoni.

“Boy, tutup kaca! Nanti basah baju kamu!”, perintah Ibu dari bangku depan. Sebelahnya Ayah sedang mengemudi. Pukul satu siang hari, kabut mulai turun dari gunung Sunda, menutup jalan menebar aura mistik.

Dua jam berlalu. Perjalanan yang sungguh menyenangkan. Di sepanjang jalan terhampar kebun teh. Warnanya hijau tua dengan galur jalan bagi para petani. Penjaja makanan ringan dengan rumah kayu berderet. Penjual tape, indomie, sate kelinci dan sate biawak. Di sebuah kampung, di puncak bukit, sebuah rumah sederhana berdiri, itulah tujuan kami.

Setibanya di sana, Ibu membuka perbekalan. Ada nasi merah yang masih hangat. Ikan terasi jambal roti. Tahu Yun Yi digoreng setengah matang. Sambal terasi mentah dengan air jeruk nipis. Ayam kampung goreng dengan serundeng penggugah selera. Kami bertiga berkumpul di teras rumah. Berdoa dimulai. Ibu menyuapiku. Sesekali bersenda gurau dengan ayah. Aku tidak paham apa yang mereka perbincangkan. Perutku sangat lapar. Hanya makanan dan alam yang membuatku diam.

***

Hujan deras mengguyur Kintamani. “Aduh, gimana sih sayang, kok kamu ngajak ke sini. Udah tau ujan!”, wanita sebelahku geram sepanjang perjalanan . Dia memang selalu begitu. Setiap keputusanku tidak pernah ia aminkan. Seperti para pendemo di depan istana Negara.

Aku jarang menjawab tuntas celotehannya. Sesekali aku melihat dan tersenyum kecut. Kalau amarahnya bertambah, aku hanya menjawab “iya, iya..” atau “Sabar yah, sayang” dan berdoa semoga Tuhan memberikan damai di dalam hatinya. Tapi ia tidak pernah diam. Ia selalu berbicara tanpa peduli kapan dan dimana.

“Kamu tuh ya kalau aku lagi ngomong dengerin kenapa sih. Daritadi iya.. iyaa.. doang. Udah bosen yah sama aku. Kalau bosen cari cewe lain aja. Dulu aja perhatian sama aku. Giliran udah bertahun-tahun pacaran kok jadi dingin gini sih. Ah, nyebelin!”

Aku malas menanggapinya. Aku biarkan celotehnya masuk ke telinga dan hilang dihempas melodi hujan. Pikiranku fokus ke jalan. Telat sebentar saja maka kabut dari Gunung Agung akan menutup keseluruhan kota. Jika sudah begitu kita hanya bisa duduk dan berdoa.

IMG_20170613_104529_314Sebenarnya ada yang aku sesali dari kisah cinta kami. Sejak kali pertama bertemu dengannya aku jadi jarang bertemu ibu. Setiap malam minggu ia selalu saja mengajakku ke bioskop, nonton konser musik atau makan di restauran jepang terkenal. Aku turuti semua ajakannya.

Tapi ada yang mengganjal di dalam hati. Setiap ia berbicara di depan meja makan atau duduk di bioskop, aku selalu membayangkan ibuku yang menjadi dia. Ibuku yang selalu tersenyum walau gurat tua sudah mulai mengakar di wajahnya. Ibuku yang selalu menanyakan kabar anaknya tanpa basa-basi cinta dan kata sayang. Ibuku yang selalu peduli dan cerewet itu.

Aku punya sebuah obsesi. Berkelana bersama Ibu dan ayahku. Mengajaknya keliling pulau-pulau di zamrud khatulistiwa ini. Berlayar dari Bali menuju Pulau Komodo. Bertemu ragam budaya, melihat Danau Kelimutu dan merasakan ragam kuliner. Atau mungkin kita berjalan menuju sebuah bukit, membuka bekal nasi merah dan merasakan suasana damai seperti kecil dulu. Dengan hujan, angin lembah dan bau tanah saat diguyur hujan.

***

Tujuanku sedikit lagi sampai. Mobil aku parkirkan di pinggir hutan. “Sayang, aku di mobil aja yah. Males ah becek kalau ke sana”. Tanpa menoleh aku mengiyakannya. Kemudian aku ambil perbekalan di bagasi. Nasi merah, ayam bakar, tahu dibungkus dengan daun pisang. Masih hangat-hangatnya. Aku berjalan dengan payung hitam di tangan kanan dan perbekalan di tangan kiri. Hutan pinus itu kini dipenuhi semak. Sesekali Aku melewati jalan tanah yang menjadi lengket oleh lumpur. Di sebelah utara dekat dengan hulu sungai ada sebuah pohon beringin besar. Di bawahnya ada gundukan tanah dengan batu nisan berwarna hitam. Aku duduk disamping batu itu.

“Ma, makasih ya selama ini udah baik sama, Boy. Ini Boy bawa makanan. Ayo, Ma, kita makan bareng”

Ferry Fadillah. Kuta, 13 Juni 2016

, , , ,

Leave a comment

Ketetapan-Nya

Delapan tahun silam, ketika saya masih mengenakan seragam putih abu, semangat untuk memasuki bangku kuliah begitu menggebu. Tentu, karena sudah menjadi tren, kedokteran dan insinyur menjadi prioritas utama. Kalau di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung seolah menjadi hadiah terindah bagi orang tua kita. Saya pun begitu. Maka, segera saja memantapkan hati untuk masuk ke Teknik Sipil ITB.

Mendadak suasana sekolah menjadi relijius. Ada siswa yang setiap pagi bertafakur di masjid selepas shalat duha, ada pengajian bersama dan ceramah keagamaan yang kerap mengundang tangis histeris para siswi. Saya pun bagian dari suasana itu. Bagaimana lagi. Dalam setiap kebutuhan tentu kita akan lebih dekat kepada Tuhan.

Sayangnya gaung tidak bersambut. Mahalnya biaya ujian saringan masuk mandiri, migrain yang diakibatkan les tambahan siang malam, doa-doa dan tekad kuat di dalam hati ternyata tidak menyebabkan saya bisa mempersembahkan ITB sebagai hadiah bagi orang tua.

Saya sempat kecewa tapi tidak larut dalam penderitaan. Toh di saat kegagalan itu, saya diterima pada sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Dayeuhkolot. Bagi saya, biaya di sana mahal. Tapi melihat prospek jurusan teknik, sepertinya biaya kuliah bisa diganti dikala kerja kelak.

Tidak disangka-sangka, ada kejadian luar biasa yang membuat kondisi keuangan keluarga morat-marit. Biaya lima juta satu semester menjadi beban yang memilukan. Syukurnya, di bulan kedua masa kuliah, saya diterima di Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Hanya Diploma I. Saya meremehkan dan orang tua pun menjadi bimbang. Tapi ini jalan yang harus dipilih agar dapur tetap mengepul.

***

Dalam setiap kegagalan. Setiap kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Kita pasti kecewa. Merasa Tuhan tidak adil dan memaksa-Nya dalam doa agar mengabulkan kondisi yang kita inginkan. Manusia yang begitu kecil kadang terlalu sombong dan dungu untuk memaksakan apa yang mereka kira pantas bagi dirinya. Kalau semua orang bisa meraih harapan sesuai amalnya mengapa kita selalu menganggil-Nya Maha Besar?

Ibnu Athaíllah As-Sakandari pernah memberi nasihat singkat: Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. Alangkah bodoh saya yang memaksa untuk masuk ITB padahal tidak dibarengi kemampuan otak. Alangkah bodoh saya jika memaska membayar lima juta satu semester jika harus menghabiskan tabungan keluarga. Alangkah bodoh saya jika menolak Diploma I padahal itu adalah yang dikehendaki-Nya.

Begitu juga gelombang kekecewaan yang melanda ketika saya tidak diterima Diploma III Akuntansi Khusus di ujian yang pertama dan kedua. Bisa jadi ada banyak manfaat bagi orang sekitar jika saya tetap bekerja dibanding kuliah dengan potongan gaji yang membuat hidup menjadi ‘cukup’.

Kini saya yakin, akan selalu ada rahasia dibalik setiap kekecewaan. Lebih baik hidup mengalir dan menerima qadarnya dengan tunduk. Berbahagia dengan setiap episode yang diberikanNya kepada kita. Daripada berkeluhkesah dan mengotori hati  dengan sesal.

Ferry Fadillah. Kelan, 10 Juni 2017


 

, ,

1 Comment

Gelap dan Pengap

Aku berjuang menyalakan rokok di tengah angin yang berhembus kencang. Cahaya bulan begitu terang memenuhi langit dengan kemilau peraknya. Bintang dan planet asing bercahaya di balik awan kelabu yang berjalan cepat ke arah selatan.

Saat rokok sudah menyala, aku menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. Asapnya memenuhi paru-paru. Saat membuka mata, saat itu juga aku menghebuskan nafas perlahan. Menikmati ketenangan yang dipicu oleh 1,6 milgram nikotin dalam tembakau.

Di hadapanku adalah bulan yang sangat bulat dan besar. Di wajah dewi itu ada noda hitam yang menyerupai kelinci. Semua orang tidak setuju denganku. Mereka bilang itu kawah yang dibentuk tumbukan meteorid. Aku bersikeras. Itu kelinci! Dan menutup perdebatan dengan satu batang rokok sambil rela menyalakan api bagi mereka.

Bulan di atasku begitu magis. Aku sangat terpesona. Ia adalah saksi saat aku dilahirkan di dunia. Ia juga adalah saksi saat aku berciuman di bawah pohon tua di pinggir sekolah. Ia juga adalah saksi saat aku memakamkan Doni –kelinciku yang mati terkilir. Ia bahkan ada sebelum ayah dan ibuku membuatku. Bahkan, sebelum kemerdekaan negeri ini atau VOC mencampuri urusan perdagangan Banten. Ia tetap di sana dengan segala kejelitaannya.

Berlama-lama memandang bulan seperti membuka lembar sejarah yang berlarut-larut. Karena ia adalah saksi dari kehidupan, tentu ia hafal apa saja yang terjadi di dunia ini. Itu pun kalau ia memandang penting kehidupan manusia di dunia. Setiap orang hanya mengingat apa yang dianggapnya penting. Tapi bulan bukan orang, tentu ia bisa mengingat melebihi batas kemampuan manusia.

Angin utara tiba-tiba datang membawakan pesan. Isinya adalah riwayat hidupku. Ia memberiku ingatan fotografis. Saat aku wisuda dan memeluk kedua orang tuaku. Aku ingat baju dan sepatu yang aku pakai. Saat aku sekolah di SMA. Wajah-wajah ramah yang selalu menemaniku di saat sepi dan guru-guru yang menyebalkan namun sangat berjasa. Aku ingat pecahnya piring saat kedua orang tuaku cek cok. Adik yang kabur entah kemana dan ikan cupang yang mati karena rumahnya pecah terkena lemparan piring.

Ingatan-ingatan itu terus mengalir tidak terbendung. Perasaanku dibuat hanyut. Kadang tertawa. Kadang menangis. Kadang hampa. Sampai momen ketika aku baru dilahirkan dan dokter yang menanganiku tersenyum ramah, aku terbangun dan mendapati diriku tertidur di sebuah dinding yang begitu sempit. Aku melihat orang-orang menangis di atasku. Mereka memakai baju hitam sembari melantunkan bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku berteriak namun mereka seperti memakai penyumbat botol wine di telinga.

Aku bertanya-tanya. Kemana bulan cantiku itu?  Mengapa aku di sini? Mengapa waktu begitu cepat? Dan di saat aku mencari sisa-sisa rokok yang aku hisap tadi sambil menikmati bulan, seorang kakek melempar tanah ke wajahku. Segenggam demi segenggam hingga gelap bersama pengap menemaniku selamanya.

Ferry Fadillah. Mei, 2017.

2 Comments

Pindah

Pada saat masyarakat Kali Jodo meringis dan menjerit melihat rumah-rumah mereka dibuldoser oleh aparat, aku hanya bisa terpekur dari balik layar kaca. Pagi itu sebelum berangkat sekolah, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kekejaman yang terjadi pada sebuah sudut ibu kota. Di antara gedung mewah dan jalanan yang lebar ternyata ada orang-orang yang terusir paksa. Alasannya klise padahal mereka kalah karena miskin dan jauh dari kekuasaan.

Aku segera menghabiskan sarapan pagi yang sempat tertunda. Menunya hanya nasi satu centong dan tahu dengan bumbu kecap. Maklum, sudah satu bulan Ayah belum juga membawa uang. Untuk keperluan dapur, Ibu harus menyiasati dengan menjual beli perhiasan emas kesayangannya. Setelah nasi habis, aku pamit kepada Ayah dan Ibu. Seperti kebiasan anak-anak pada umumnya Aku mencium tangan keduanya lalu mengucapkan salam.

Sekolahku hanya berjarak  1 km dari rumah. Tepat di sebelah sawah besar yang sudah mengering. Kata orang itu akan diubah menjadi perumahan elit. Entahlah. Saat sekolah dasar dulu aku sering bermain layang-layang di pematangnya, mencari belut untuk dijual atau sekedar memakan bekal makan siang sembari menikmati angin yang berhembus dihamparan padi.

“Anak-anak sekarang waktunya kalian menceritakan pengalaman kalian di depan kelas. Sambil melatih keberanian bicara di depan umum. Bisa cerita apa saja. Tapi kali ini Ibu minta kalian menceritakan masa kecil kalian bersama Ayah dan Ibu. Ya kira-kira  lima menit lah. Mungkin bisa dimulai dari Tery. Ayo, Tery, jangan malu maju ke depan.”

Aku terperangah. Namaku dipanggil duluan. Apa yang harus aku ceritakan. Masa kecil? Mmm.. aku sama sekali tidak mempunyai bayangan. Tapi aku beranikan melangkah ke depan kelas. Melihat para siswa memandangku tajam jantungku berdebar keras.

“Selama Siang, teman-teman. Kali ini Aku akan menceritakan pengalaman masa kecilku. Jadi dulu Aku, Ayah dan Ibu …”

Perkataanku terputus sampai di sana. Pikiranku berusaha untuk mencari arsip bernilai di masa kecil. Lokasi rumah, kamar tidur, perabotan, wisata alam dan … ah, sial, kenapa harus aku yang pertama maju. Aku tidak bisa mengingat apapun.

“Tery, kenapa kamu diam. Ayo lanjutkan. Teman-teman kamu sudah menunggu.”

“Iya, sebentar, Bu. Aku minta waktu sebentar.”

Wajahku memerah. Pandanganku kabur. Tanganku berkeringat. Aku mencoba memejamkan mata sekejap. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku fokus kepada nafasku. Tenang, tenang, tenang…

Pikiran membawaku ke sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Ada kolam ikan, pohon jambu setinggi pinggang dan rumput gajah yang lama tidak terurus. Di dalam rumah ada kolam ikan besar dengan air terjun buatan yang kering. Di gudang sebelah timur aku melihat diriku sendiri. Aku sedang bermain dengan mobil-mobilan. Mobil itu aku tarik dengan tali rapia sambil berlari. Tiba-tiba dari arah gudang keluar asap. Api muncul kemudian. Diriku berusaha keluar dari gudang itu. Aku berusaha menolong. Sialnya pintu terkunci. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Asap itu semakin pekat dan aku pingsan dibuatnya.

Saat terbangun, aku berada pada sebuah kamar dengan dinding terbuat dari triplek. Di sana hanya ada kasur tanpa kaki-kaki. Beberapa langkah dari kasur itu ada kelelawar besar yang menutupi perut dengan sayap hitamnya. Ia tertidur. Namun, taring dan besarnya makhluk itu membuatku ngeri. Aku coba mengumpulkan kesadaran. Saat beranjak dari tidur makhluk itu terbangun. Matanya merah dan ia lekas terbang ke arahku. Aku terkejut dan melompat ke belakang. Ternyata tembok itu rapuh. Aku terjerumus, menabrak penyangga atap, langit-langit, lantai, kemudian lubang gelap yang menarikku dengan sangat kejam.

Saat muncul cahaya, aku sudah berada di sebuah rumah sederhana dengan dua kamar. Di ruang tamu tidak ada perabot apapun. Pada sebuah pojok tembok aku melihat tulisan tiga buah nama: Tery, Dery, Lary. Aku mengenal mereka semua. Itu adalah adik-adiku. Tapi kemana mereka semua. Mengapa rumah ini begitu sepi. Dari arah dapur aku mendengar suara orang bertengkar. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Lonte, siapa lagi yang kamu bawa. Jahanam!”

“Bajingan, ngomong apa kamu itu. Mulut ga bisa dijaga!”

Sumpah serapah itu terus berulang. Memantul dari satu tembok ke lain tembok. Bergema. Bertambah keras. Kini suara-suara itu merasuk ke dalam diriku. Aku sudah menutup telinga. Suara itu terus saja hadir. Aku menutup mata. Suara itu bertambah ganas. Aku dibuatnya mual.

Saat memejamkan mata, aku sudah berada di lain tempat. Sebuah rumah kost dengan  empat kamar yang berjejer. Di kamar nomor 14 tepat di depannya ada tumpukan piring kotor dengan noda kuah batagor yang sudah mengering. Aku coba memanggil para penghuni kost. Yang keluar adalah seorang anak kecil dengan botol berisi ikan cupang di tangan kanan. Wajahnya pucat. Bibirnya terkatup rapat. Ia mirip sekali dengan diriku. Tapi berbeda dari pertemuan pertama. Ia tampak sakit tidak terurus.  Ia duduk bersila. Ikan cupang dihapannya ia perhatikan dengan saksama. Aku juga memperhatikan ikan itu. Warna birunya, bekas cacing yang mati di dasar botol, gelembung udara, dan pipi yang menghitam ketika melihat cermin.

Tiba-tiba anak kecil dan ikan cupang itu menatap tajam ke arah diriku. Sekelilingku  berubah. Menjadi rumah yang terbakar. Menjadi kamar dengan kelalawar. Menjadi dapur. Menjadi kamar mandi. Menjadi ruang tamu. Menjadi panas. Menjadi basah. Menjadi hingar bingar oleh suara-suara. Aku tidak bisa mendengar suara siapa saja ini. Seperti pertengkaran suami istri dan jerit tangis bocah ingusan. Jeritan itu bertambah keras.. keras.. keras…

“Tery! Kenapa kamu malah tidur! Mana ceritamu.”

Aku terbangun. Ternyata aku masih berada di depan kelas. Aku sadar. Sepertinya tidak mungkin aku menceritakan masa kecilku yang kerap berpindah itu. Aku harus berani mengalah dengan keadaan.

“Maaf, Bu. Kali ini aku ga bisa cerita.”

Ferry Fadillah. Bandung, 31 Maret 2017.

 

 

 

 

, ,

2 Comments

Kamu Dimana

Aku termenung pada sebuah ayunan berkarat di pinggiran taman pantai. Waktu itu waktu menunjukan pukul lima sore. Langit mendung bukan main. Angin menerpa pohon kelapa hingga nyaris runtuh. Aku menengadah ke langit. Sesekali memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.

Dimanakah Dia? Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Hanya ada segerombolan turis udik yang mengabadikan pemandangan sore itu dengan gawai buatan cina. Di hadapanku hanya ada kapal nelayan yang memaksa mesin kapal agar segera menepi. Aku tidak melihat apa-apa lagi selain itu.

Beberapa bulan lalu, saat sedang dalam perjalanan kereta Bandung-Jakarta, aku melihat pemandangan alam yang luar biasa. Gunung-gunung dengan pohon hijau berikut sawah-sawah penduduk. Sungai mengalir begitu jernihnya memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar. Aku memejamkan mata, menghirup udara yang bercampur bau rokok kemudian membuka mata dan melihat lekat ke jendela. Kemana Dia, kenapa aku tidak juga menemukannya?

Hujan gerimis di bilangan Jakarta. Aku sendiri ditemani kopi hangat. Aromanya menenangkan jiwa. Kemudian aku memesan lagi satu gelas kopi dengan caramel dan kue belanda. Aku siapkan bunga mawar putih di sebelah hidangan itu. Waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Aku sudah menanti lebih dari lima jam. Namun, Dia tidak datang ke tempat itu. Memberi tahu kealpaannya saja tidak. Aku sangat kecewa.

Pada suatu titik, aku sudah bosan mencari dan menunggu. Aku berhenti berusaha.

Dalam sebuah perjalanan malam di taman kota. Aku membeli burger ukuran besar dengan saus tomat dan minuman dingin. Aku duduk pada sebuah bangku gaya kolonial dibawah lampu temaram. Malam itu sangat cerah. Aku melihat gugusan bintang yang bersinar terang. Lamat-lamat aku menikmati burger itu. Saat sibuk dengan kunyahan ke enam ada seorang pria tua melintas.

Umurnya sekitar enam puluhan. Wajahnya tampak kusam dengan rambut putih di kepala dan dagunya. Saat itu ia mengenakan kemeja biru dengan membawa tumpukan koran di dalam ransel selempangan. Mungkin penjual Koran, batinku. Tapi kenapa malam-malam begini.

Aku tegur bapak itu. Kebetulan ada kentang yang belum kumakan. Selagi hangat kutawari bapak itu. Semula ia menolak. Setelah aku berkeras, ia menerima dengan gurat senyum yang mengembang dari wajahnya. Ia menepuk pundakku tiga kali dan mengucapkan rasa terimakasih berulang-ulang.

Kentang itu mulai habis. Sang Bapak mulai bercerita pengalamannya. Semuanya adalah perjalanan pedih dan penuh luka. Aku tidak menyangka ada cerita seperti itu. Maklum, aku adalah seorang pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Gajiku cukup untuk menghidupi anak, istri dan  investasi saham di perusahaan syariah. Tidak pernah terpikir olehku untuk hidup susah. Semua sudah tersedia dengan mudah.

Hari makin malam, bapak itu terus bercerita. Tentang istri yang meninggalkannya karena kemiskinan. Tentang teman kantornya yang menipunya ratusan juta rupiah. Tentang rumahnya yang disita pengadilan negeri. Tentang penyakitnya yang sebentar lagi merengut satu-satunya harta: jiwanya.

Aku merasa iba namun tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa berkata iya dan menganggukan kepala. Sesekali aku harus membetulkan letak kacamata. Air yang menggenang pada mata membuat posisinya selalu tidak mengenakan. Dalam hati aku bersyukur, sangat bersyukur, bahwa hidupku jauh lebih beruntung. Aku tidak mau melupakan momen ini. Aku harus banyak berbagi dan berbicara dengan orang yang kurang beruntung.

Bapak itu pun akhirnya pergi meninggalkanku. Saat itu sudah pukul sebelas malam. Jalanan sudah sepi. Dan hanya ada Aku di taman. Aku memejamkan mata. Menghirup udara dalam-dalam dan lekas melihat lekat ke udara, “Engkau! Ah, disana rupanya selama ini..”

Ferry Fadillah. Kuta, Maret 2017.

,

2 Comments

Pegawai Gila

Pada sebuah kantor pemerintah tinggal seorang pegawai muda berpangkat pengatur muda golongan II/a. Tingginya seratus tujuh puluh satu senti. Beratnya enam puluh lima kilogram. Rambutnya ikal tertata rapih ke arah samping dengan bantuan pomade seharga dua ratus ribu dibeli online. Gaji bulanannya sebesar lima juta rupiah belum termasuk uang makan dan tunjangan kinerja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sesekali beramal bagi sesama.

Orang-orang di kantor memanggil pegawai ini dengan nama Dery. Tanpa nama keluarga, marga atau embel-embel apapun. Kedua orang tuanya memberi nama itu sebelum meninggal akibat gusuran pemerintah daerah dua puluh lima tahun silam. Ia tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Pengurus panti asuhan lah yang menyerahkan sertifikat lahir bernama dirinya dan menceritakan kisah pilu kedua orang tuanya.

Dery adalah pegawai tata usaha yang selalu datang tepat waktu. Ia akan berangkat sebelum pukul tujuh tiga puluh pagi hari. Menyapa kawan-kawan yang ia temui dengan senyum lebar penuh keceriaan. Setelah itu ia akan pergi ke kantin sejenak. Memesan nasi campur dengan sayur kacang panjang dan ikan cabai hijau ditemani segelas teh hangat cap orang tua. Tidak sampai tujuh menit makanan itu habis dan Dery bergegas ke meja kerja.

Tempat Dery bekerja cukup luas. Antara satu komputer dengan komputer lain dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca setinggi pinggang. Komputer Dery berukuran besar bermerek HP. Sebelum memulai pekerjaan ia selalu menyalakan denting piano Frederic Chopin berjudul Nocturne No 2 Flat Major Op. 9 No.2 sambil menyeruput torabika yang sebelumnya ia seduh sendiri dengan air dispenser.

Pekerjaannya biasa saja. Tugasnya adalah melanjutkan disposisi Kepala Seksi. Bila disposisi berbunyi arsip, maka ia akan mengarsipnya. Bila disposisi berbunyi “buatkan nota dinas” maka ia akan segera membuat konsep dan menanti pekerjaannya dicoret-coret. Selain itu ia juga dibebani pekerjaan adminsitrasi surat masuk dan keluar, pengarsipan serta pengurusan dokumen pribadi pegawai. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan tuntas tanpa pernah berkeluh kesah.

Pekerjaan kantor usai pukul lima sore. Ia juga selalu tepat waktu meninggalkan ruangan. Tidak peduli hujan dan badai, ia segera pergi ke indekost. Melepas sepatu dan tiduran bertelanjang dada. Sambil bermalas-malasan ia akan mengambil gawainya. Membuka aplikasi instagram,  memberi like kepada foto pemandangan, kemudian mencari-cari baju murah yang dijual dengan diskon atau penawaran khusus. Ia juga akan membuka whatsApp dengan jari-jemarinya. Ia akan membuka grup kontak satu per satu. Membaca setiap berita, sampah maupun penting. Pekerjaan itu memakan waktu dua jam sampai akhirnya ia teringat waktu shalat magrib.

Dery selalu bingung ketika memutuskan lokasi makan malam. Ia biasanya akan pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap malam. Ia tidak pernah mengajak siapapun bersamanya. Makanan kesukaannya adalah masakan khas Bali yang asam dan pedas atau sop kambing dengan jeroan dan torpedo yang gagah perkasa. Sambil makan ia tidak pernah melepaskan pandangan dari gawai. Bergantian ia membuka aplikasi pertemanan. Facebook, twitter, WhasApp, Tumblr, kembali lagi ke Facebook, twitter, WhatssApp begitu seterusnya hingga potongan kambing terakhir habis.

Malam hari Dery akan tidur pukul sebelas malam dengan posisi gawai di sebelah kuping kanannya. Alarem diatur untuk berbunyi pukul enam pagi. Ia tidak pernah tidur mengenakan sehelai benang pun. Alasannya sederhana. Ia tidak mau membebani biaya laundry dengan baju yang kotor akibat keringat tidur. Tipikal pegawai yang sangat hemat sekaligus pelit.

Keteraturan Dery terus berlanjut. Ia bahkan menolak setiap ajakan kawan diluar agenda rutinnya. Ia hidup sendirian dan sepertinya menikmati kesendiriannya. Ia terbiasa makan sendiri, berdiskusi sendiri terkait pekerjaan dan membaca buku di café terdekat bertemankan caramel maciato. Lama kelamaan kebiasaannya itu membentuk dirinya menjadi keras kepala dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

Buku-buku yang dibaca Dery bertemakan motivasi praktis yang ditulis oleh para motivator kondang. Ia selau bersemangat membaca buku-buku itu. Matanya menyala-nyala menyuarakan perubahan. Gagasan-gagasan segar memebuhi pikirannya. Saat pergi ke tempat kerja, ia harus memendam setiap gagasan-gagasan itu. Karena pekerjaannya menuntut kepatuhan mutlak dari atasan.

Entah mengapa Dery menjadi pecandu buku. Mungkin kesendirian mengantarnya untuk mencumbui buku. Hal murah yang dapat dilakukan dimanapun. Ia tidak lagi bersentuhan dengan buku motivasi. Kini ia menganggap buku-buku itu sebagai karya picisan yang mudah dicerna. Kamar sewanya dipenuhi buku-buku klasik karangan Plato, Aristoteles, Phytagoras dengan coretan tinta merah di marjin kanannya. Beberapa kertas warna-warni dengan catatan-catatan penting menyembul dari beberapa halaman. Ada juga buku-buku zaman romantik seperti Thus Spoke Zarahustra karya Frederic Nietzche yang ia tempatkan di rak khusus dengan taburan bunga segar yang selalu ia ganti setiap pagi. Buku sejarah dunia, kebudayaan dan mistisme juga tidak luput dari koleksi pribadi Dery.

Semua bacaannya itu membebani Dery dengan jutaan ide baru. Pikirannya selalu berputar dimanapun ia berada. Ia selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain. Mengapa aku hidup? Apakah aku berjiwa? Apakah jiwa itu? Dimana Tuhan? Apakah Tuhan ada? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dirinya saat bekerja dan tidur. Kini ia tidak lagi bisa tertidur pulas. Sebelum tidur ia akan sibuk dengan sebuah bacaan kemudian menulis pada sebuah jurnal refleksi atas bacaan itu. Biasanya ide-ide dalam bacaan itu akan menghantuinya dalam tidur. Kadang menjadi sebuah mimpi menyeramkan yang menyiksa dirinya. Pernah suatu ketika ia bermimpi menjadi Tuhan. Bentukya seperti tiang putih yang bergerak cepat secara vertikal ke angkasa. Menembus awan, bintang, planet antar galaksi sebelum akhirnya ia terbangun dengan keringat dingin dan perasaan takut akan kutukan.

Karena kebiasaan barunya, Dery mengidap insomnia. Setiap ke kantor ia selalu merasa lemas. Walaupun bergelas-gelas kopi ia minum tetap saja rasa kantuk akan selalu menderanya. Wajahnya kini menjadi pucat. Darah seolah-olah berhenti mengalir ke otaknya. Jari jemarinya kaku dan ia mudah gelisah.

Pada tahun ke tiga puluh masa kerjanya di kantor itu. Dery merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia diam di meja kantornya menghadap komputer yang melantunkan denting piano Chopin. Ia malas mengambil surat disposisi Kepala Seksinya. Ia merasa Kepala Seksinya tidak lebih pintar dari dirinya. Semua orang adalah salah dan dia adalah kebenaran itu sendiri.

Tiba-tiba ia berteriak ke semua orang yang berada di ruangan, “Hai, manusia-manusia membosankan yang mengerjakan hal membosankan tidakah kalian memiliki hidup alternatif selain yang kalian jalankan hari ini!”

Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Dery menjadi pusat perhatian saat itu juga.

“Kenapa kalian semua tidak menjawab? Aku bertanya kepada kalian? Apakah kalian pernah berpikir barang sejenak untuk meninggalkan kantor yang penuh kemunafikan ini. Apakah kalian rela diperintah oleh atasan dengan kemampuan di bawah kalian. Berkata ‘siap!’ untuk setiap perintah seperti anjing menyalak yang diberi daging oleh Tuannya!”

Perkataan itu membuat wajah beberapa pegawai merah. Sebelum mereka memikirkan pernyataannya, Dery melanjutkan…

“Hari ini aku katakan kepada atasanku dan atasan kalian. Anjing kalian semua, aku tidak mau lagi diperintah kalian dan bergabung dalam sistem kantor yang pengecut ini. Aku adalah diriku yang merdeka tidak bisa diperintah oleh siapapun. Aku adalah awal dari segala sesuatu kebenaran dari segala kebenaran. Kalian semua adalah anjing-anjing yang tidak berguna!”

Pidatonya ia tutup dengan tendangan keras ke arah komputer. Ia juga memukul lemari arsip yang terbuat dari kaca hingga luluh lantah memenuhi ruangan. Segera seorang pegawai memanggil petugas keamanan. Dery diapit oleh dua orang bertubuh tegap berkulit hitam. Ia tidak bisa berkutik. Kakinya terseret-seret menuju pintu keluar. Setiap orang di setiap unit melihat ke arah jendela, ke arah Dery yang mereka anggap sudah gila.

Dery tidak berkata apa-apa saat diusir paksa ke luar kantor.Ia merasa jijik melihat kantor dihadapannya. Ia tahu persaingan dan kemunafikan yang menjadi wabah di dalamnya. Ia muak dengan semua itu. Ia merasa jijik dan mual luar biasa.

Kini, Dery sudah tidak memiliki penghasilan apapun. Ia memutuskan untuk mengembara entah kemana. Ia tidak mau mengikatkan diri kepada sebuah kewajiban. Ia mencintainya dirinya sendiri dan kesendiriannya.

 Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016.

, , ,

5 Comments