Posts Tagged dipenogoro

Membaca Islam Melalui Kacamata Indonesia

Akhir-akhir ini media sosial dipenuhi dengan isu berbau agama, terutama yang menyangkut dengan Islam. Bermula dari perhelatan akbar lima tahunan, pemilihan umum 2014. Saat itu, masyarakat hanya diberi dua pilihan calon presiden dan wakil presiden. Masing-masing pihak didukung oleh kekuatan partai politik; ormas daerah serta organisasi keagamaan. Kampanye-kampanye di dunia online dan media massa tidak terkendali terlihat dari cara bertutur berbagai pihak. Beberapa orang memandang perseteruan politik ini mengerucut menjadi dua kubu yaitu pro-Islam melawan kontra-Islam.

Demokrasi dengan logika vox populi vox dei atau suara rakyat suara Tuhan telah menyatakan satu dari dua calon yang diusung sebagai pemenang. Gegap gempita rakyat yang mendukung kedua pasangan di masa-masa kampanye membahana ke seluruh negeri. Pesta musik dan pesta kuliner diselenggarakan di  Monumen Nasional  Jakarta setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Istana Negara. Bahkan diperkirakan ada ribuan warga yang memadati acara tersebut hingga larut malam.

Sayang, kegembiraan masyarakat kini seperti sebuah paradoks: pemimpin yang dulu dieluk-elukan, kini banyak mengundang tanda tanya besar. Selain kondisi perekonomian yang tidak menentu, langkah sepihak Kementerian Komunikasi dan Informasi menutup 21 website Islam merupakan langkah mundur menuju era orde baru; ketika kebebasan pers dibungkam dan kritik dicurigai sebagai langkah subversif.

 Masalah lain adalah mengenai isu Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) -gerakan islam radikal sadistis- yang dikhawatirkan menyebar di tanah air dan memicu serangan-serangan teror baru pasca tragedi Bom Bali I dan II. Patut disayangkan, dalam memberitakan permasalahan ISIS media masa terkesan berlebihan sehingga  memunculkan citra Islam yang kurang baik bagi orang Islam sendiri maupun orang non-Islam.

Tidak hanya di Indonesia, kecurigaan terhadap Islam terjadi di banyak negara. Paska penyerangan kantor majalah satire Charli Hebdo di Perancis oleh dua orang bersenjata, negeri itu dan merambat ke negeri-negeri Eropa lain mengalami gejala islamophobia. Di Indonesia, islamophobia bukanlah hal baru, isu-isu terorisme seringkali disangkutpautkan dengan agenda milisi islam radikal dan berujung kepada pembenturan ide antara Islam dengan Pancasila. Tragedi Bom Bali I dan II, pengeboman Hotel J.W. Mariot, tindakan anarki Forum Pembela Islam (FPI), Rohianiawan Islam (Rohis) SMA yang dicurigai dan fenomena ISIS dilebih-lebihkan. Dampaknya? Generasi muda muslim jauh dari agamanya, enggan untuk memperdalam agamanya karena takut dituduh radikal, enggan membahas masalah Jihad karena takut dituduh ekstrimis dan sungkan mengikuti sunah Rasul yang berkaitan dengan fashion karena kesan yang dimunculkan akan disamakan dengan teroris. Dari semua pemaparan dimuka, hanya satu kata yang cocok menggambarkan Islam kini, teralienasi.

Membaca Sejarah Islam Nusantara

Teralienasinya Islam di negeri yang mayoritas muslim ini tentu menimbulkan keheranan bagi semua pihak. Bagaimana bisa? Padahal Islam adalah agama yang datang ke Indonesia tanpa kekerasan dan invasi langsung dari Kekhalifahan di timur tengah sana. Bahkan ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menginjakan kaki di negeri ini dan berusaha memonopoli perdagangan internasional di pelabuhan-pelabuhan utama hingga masa awal pergerakan nasional di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Islam hadir sebagai ideologi penjunjung kesetaraan, kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan.

Teralienasinya Islam selain disebabkan oleh pengaruh media yang terlalu vokal menghubungkan terorisme dengan Islam juga tidak terlepas dari pendidikan Agama Islam yang terlepas dari konteks sejarah Islam Nusantara. Silahkan tanya pahlawan-pahlawan besar penyebar agama Islam di timur tengah sana, berikut para ulama dan cendikiawannya, pasti para ustadz dan mubaligh dengan lancar dan detail menjelaskan ini dan itu. Padahal sejarah dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia tidak bisa dianggap perjuangan lokal semata, tetapi juga berdimensi internasional.

Ketika Sultan Ali Alaoedin Mansoer Sjah (1838-1870) memimpin Kesultanan Aceh, kerajaan yang menjadikan Islam sebagai hukum positif dalam bernegara di semenanjung Sumatra ini telah mengadakan hubungan diplomatik dengan Republik Perancis, Amerika Serikat, Inggris dan Kesultanan Ottoman Turki (Suryanegara  2009 : 259). Hubungan-hubungan tersebut diadakan guna menggalang bantuan militer untuk menghadapi pasukan Belanda yang telah menduduki Banda pada Maret dan April 1873. Sayang bantuan-bantuan tersebut tidak pernah sampai, dikarenakan:  Pertama, Perang Perancis-Jerman (1870-1871) antara Kaisar Napoleon III versus Kaisar Willem I mengakibatkan Republik Perancis sedang menuju keruntuhan; Kedua, Amerika Serikat baru saja selesai dari Perang Saudara (1861-1865) pada masa Presiden Abraham Lincoln, dengan demikian kondisi dalam negerinya masih parah. Ketiga,  Kesultanan Turki sedang dalam perang dengan Rusia  dalam Perang Turki-Rusia kurun waktu 1875-1878 (Suryanegara 2009 : 262-263). Karena aktivitas perang di negara-negara tersebut, bantuan militer kepada Kesultanan Aceh terhenti dan Aceh sebagai satu-satunya kekuatan Islam di Sumatera yang tersisa harus menghadapi Kerajaan Belanda seorang diri  mulai dari tahun 1873 hingga 1914.

Perang besar ini menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi dan agama yang dijunjung. Semangat pasukan Aceh dalam menghadapi pasukan belanda adalah semangat jihad, perang sabil, perang di jalan Allah, bukan nasionalisme sempit. Dengan dibantu para ulama, perang Aceh adalah perang terlama di negeri ini yakni kurang lebih 70 tahun. Jika perang Aceh berakhir 1914 dan Indonesia merdeka tahun 1945 berarti negeri di ujung Sumatera ini hanya dijajah selama 31 tahun, bukan 350 tahun seperti yang kita percayai selama ini.

Sejarah Islam di tanah Jawa tidak kalah menarik. Perang Jawa (1827-1830) merupakan perang lima tahun yang memiliki dampak luar biasa. Perang ini telah menelan korban 10.000 orang Eropa dan kurang lebih 200.000 orang Jawa terbunuh dan menelan biaya sebesar f19.000.000 (Djamhari, 2014). Perang ini bukan bermula dari hal sepele : pemasangan patok-patok pembangunan jalan di tanah miliki Pangeran Dipenogoro; seperti yang dipelajari ketika penulis sekolah menengah dulu. Tujuan utama pangerang Dipenogoro dalam memimpin Perang Jawa adalah memajukan agama Islam, lebih khusus lagi mengangkat keseluruhan agama Islam di seluruh Jawa –yaitu tatanan moral secara umum , tidak hanya Pratik Islam formal (Carey 2014 :67).

Yang menarik adalah pakaian perang Pangeran Dipenogoro. Pakaian yang tidak lazim digunakan dalam perang-perang jawa sebelumnya yaitu jubah dan sorban islami, menandakan perlawanan sang pangeran terhadap hegemoni budaya Barat di Keraton Yogyakarta. Dari penamaan jabatan-jabatan militer pun, pangeran Dipengoro tidak menggunakan istilah-istilah Belanda. Pangkat militer tertinggi disebut Alibasah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan komandan divisi model Janissari. Pangkat selanjutnya adalah Dulah, yaitu komandan pasukan yang membawahi 400 orang prajurit, setara dengan detasemen. Pangkat perwira terendah, She¸adalah perwira yang membawahi pasukan setara dengan kompi. Istilah-istilah tersebut diadopsi dari istilah-istilah militer Kesultanan Turki Ottoman. (Djamhari 2014 : 38)

Zaman awal kebangkitan bangsa pun menghadirkan tokoh-tokoh Islam dengan pergerakannya yang layak diperhitungkan. Bahkan penulis percaya bahwa penggagas kebangkitan bangsa adalah Sarikat Islam bukan Budi Oetomo. Hal ini digambarkan oleh Suryanegara (2009 : 376) sebagai berikut :

…tidak mungkin kebangkitan kesadaran nasional dipelopori oleh para prijaji yang sedang menjabat sebagai regent atau boepati dengan organisasinya Boedi Oetomo, seperti yang telah penulis tuturkan sebelumnya karena ciri dari organisasi gerakan kebangkitan kesadaran nasional, bersifat kerakyatan dan antipenjajah. Sedangkan kelompok prijaji, terutama yang menjabat boepati atau pangreh pradja yang bersikap loyal kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah. Terbaca dari keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta pada 6-9 April 1928, “Menolak pelaksanaan tjita-tjita persatoean Indonesia”, walaupun sudah berusia 20 tahun, Boedi Oetomo tetap bersikap ekslusif.

Sarikat Islam dibawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan organisasi pribumi yang tidak bisa dianggap remeh. National Congres Centraal Sjarikat Islam yang pertama (17-24 Juni 1916) diadakan di Gedung Merdeka, Bandung, dengan berani memelopori tuntutan Indonesia Merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri atau Zelf Bestuur. Selain itu kongres pertama ini juga menuntut kepada pemerintah Belanda agar rakyat diizinkan membangun Indie Werbaar (Pertahanan India atau Pertahanan Indonesia), guna memperkuat pertahanan apabila Perang Dunia I (1914-1919), meletus ke Nusantara Indonesia, yaitu dengan cara menyertakan pemuda Indonesia dalam milisi militer Pertahanan Indonesia. Walaupun tuntutan-tuntutan itu tidak sepenuhnya dikabulkan oleh Kerajaan Belanda, namun kita bisa menilai bawah umat Islam pada saat itu dengan organisasi Islam bernama Sarikat Islam memiliki posisi tawar yang kuat, mengingat jumlah anggota yang banyak dan diantara mereka memegang kendali ekonomi di daerahnya masing-masing.

Dari petikan-petikan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kebudayaan islam (bahasa tulis mapun lisan serta simbol-simbol) pada waktu itu tidak diangap asing oleh rakyat di kepulauan Nusantara, bahkan telah menginspirasi beberapa kerajaan untuk mendirikan Daulah Islam dengan hukum positif  Islam sebagai pedoman kehidupan bernegara. Kedua, para Ulama memiliki andil yang besar dalam menanamkan ajaran agama Islam dan cinta tanah air bagi rakyat nusantara, ini dapat dibuktikan bahwa pertempuran-pertempuran pada masa penjajahan bermotif jihad membela agama Allah. Ketiga, pakaian dan penyebutan jabatan militer yang mengikuti Kesultanan  Turki menandakan bahwa Pangeran Dipenogoro ingin merdeka dari hegemoni Belanda hingga ketingkat terkecil yakni bahasa – coba bandingkan dengan era globalisasi saat ini. Keempat, ada distorsi sejarah mengenai penggagas kebangkitan bangsa yang berdampak kepada psikologis umat Islam yang membaca sejarah kebangkitan bangsanya sendiri. Seolah-olah Islam tidak memiliki peranan yang  besar, padahal sebaliknya, sejak zaman kesultanan hingga kemerdekaan, Islam adalah satu-satunya agama yang mempererat suku bangsa se-nusantara dalam melawan penjajah. Kelima, melihat  fakta bahwa Kerajaan Aceh hanya dijajah selama 31 tahun, mematahkan bahwa Indonesia secara keseluruhan dijajah selama 350 tahun, memberikan rasa bangga bagi umat Islam hari ini, bahwa karena semangat Islamlah Aceh menjadi benteng terakhir melawan penjajah Belanda di tanah melayu.

Setelah menyimak serpihan kecil sejarah Islam di Indonesia ini, masihkah kita menganggap Islam sebagai agama asing bahkan meng-alienasi agama ini dari pemeluknya sendiri?

Pendidikan Agama Berbasis Sejarah Islam Nusantara

Pendidikan memiliki peran vital dalam mencetak karakter bangsa. Melalui pendidikan, interaksi antara guru, literatur dan murid akan menghasilkan pemahaman yang baik akan jati diri dan bagaimana menghadapi dunia yang semakin tidak menentu. Karakter pengacau dan anarkis seharusnya tidak ada bagi insan pendidikan karena tujuan akhir pendidikan adalah menajamkan pikiran dan menghaluskan budi.

Pendidikan agama Islam adalah salah satu unsur pendidikan di Indonesia. Namun, pendidikan agama dari sekolah dasar hingga menengah selalu menjadikan fiqih (hukum) sebagai pokok bahasan utama. Peserta didik diajarkan hukum-hukum dengan segala perbedaannya. Hal ini memang baik. Namun, bagi peserta didik yang belum terbiasa dengan perbedaan dan belum memiliki mental yang dewasa, perbedaan ini akan menjadi awal mula percikan konflik antar umat se-agama dan dikhawatirkan memuncak menjadi konflik antar umat beda agama.

Satu hal yang dilupakan, aspek sejarah nusantara dalam pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam sering kali menjelaskan tokoh-tokoh timur tengah secara detil dan heroik. Padahal negeri kita tidak kekurangan tokoh-tokoh Islam yang tidak kalah heroiknya. Mengapa harus sejarah Islam Nusantara? Seperti yang kita ketahui, Islam menyebar secara masif di Indonesia secara damai. Wali Sanga (sembilan penyebar Islam di tanah Jawa) memiliki pendekatan moderat dalam menyebarkan cahaya Islam di tengah-tengah hegemoni Hindu-Budha. Beberapa wali menggunakan pendekatan budaya seperti penggunaan cerita wayang yang memodifikasi kisah Mahabrata dengan ajaran Islam dan pendekatan ekonomi Islam yang menonjolkan prinsip keadilan dan kejujuran.

Islam model inilah yang sangat berbeda dengan model Islam timur tengah. Islam model ini dapat  merangkul ideologi nasionalisme dan sosialisme sekaligus, karena sejak dulu memang memiliki tujuan yang sama yakni menuju Indonesia merdeka. Selain itu, sejarah Islam Nusantara harus disajikan seobjektif mungkin, agar semua menjadi jelas, bahwa Islam sejak zaman kesultanan hingga pergerakan kemerdekaan selalu mendapat tempat di hati masyarakat  bukan malah jauh dan dijauhkan dari masyarakat seperti sekarang ini. Bahkan pendiri bangsa kita, yang dapat merangkul semua –isme di negeri ini, Soekarno, semasa dalam tahanan Belanda pernah tercerahkan oleh Islam, seperti yang beliau tuturkan  sebagai berikut (Adams 2011 : 136) :

Kemudian aku membaca Al-Quran. Dan hanya setelah menyerap pemikiran-pemikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mencari-cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan-ucapan Nabi. Dan aku sangat puas.

Dari perkataan beliau –dimana cahaya Islam telah merasuk kedalam pikirannya- kita tahu bahwa perjuangan beliau di negeri ini tidak hanya berdasarkan nasionalisme sempit belaka, tidak juga sosialisme model Karl Marx namun menjadikan Islam sebagai ideologi universal dan menjadikannya rumah bersama bagi semua golongan di Indonesia dan beliau berhasil mereproduksinya menjadi butir-butir Pancasila yang luhur itu.

Harapan dari pendidikan agama Islam berbasis sejarah Islam Nusantara –dari zaman kesultanan hingga kebangkitan bangsa- adalah, kelak, pemuda-pemudi negeri ini akan paham bahwa Islam adalah jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia. Memahami bahwa Islam adalah cikal bakal kebangsaan dan kemerdekaan sehingga tidak adalagi yang mempertentangkan antara Islamisme dan Nasionalisme, bahkan kecintaan terhadap Islam akan berbanding lurus dengan kecintaan terhadap tanah air. Sadar bahwa Sosialisme bukanlah ide yang pertama kali diusung oleh Karl Marx, melainkan ide orisinil Islam dengan sistem ekonomi berkeadilan dan sistem sosial yang egaliter. Insyaf  bahwa kebudayaan Islam adalah sebuah keluhuran yang membuka peluang bagi perubahan, bukan konservatisme yang berlawanan dengan semangat zaman.

Kesimpulan

Islam kini mendapatkan tantangan, baik dari kebijakan pemerintah hingga media massa yang makin memperburuk citra Islam di Indonesia. Akibatnya, Islam sering dikaitkan dengan isu terorisme. Gejala islamophobia terjadi, simbol-simbol dan kegiatan islam dicurigai, pemuda-pemudi Islam di negeri mayoritas muslim ini semakin jauh dari agamanya.

Pendidikan agama Islam dengan pendekatan sejarah Islam nusantara dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan kembali Islam dengan generasi muda masa kini. Dengan pendekatan  ini, diharapkan Islam dipandang sebagai jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia asli, dan tercipta pemahaman bahwa ada irisan toleransi antara ide nasionalisme dan islamisme yang pada akhirnya semangat Islamisme akan memperkuat semangat kebangsaan dan cita tanah air dalam dunia yang semakin tanpa batas ini.

Ferry Fadillah, Mei 2015

Referensi

Adams, Cindy. 1965. Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams. The Bobbs Merrill Company Inc. New York. Terjemahan Syamsu Hadi. 2011. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cetakan Kedua. Yayasan Bung Karno dan PT Media Pressindo. Jakarta.

Suryanegara, A. Mansur. 2012. Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cetakan Kelima. PT Grafindo Media Pratama. Bandung.

Djamhari, S. As’ad. 2014. Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stelsel Benteng 1827-1830. Cetakan Kedua. Komunitas Bambu. 2014.

Carey, Peter. 2014. Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro, 1785-1855. Cetakan Pertama. Kompas. 2014.

, , , ,

Leave a comment

Sejarah

Sejak sekolah dasar di Bandung, seorang guru sudah mengenalkanku dengan sejarah. Sebuah pengetahuan tentang tanggal bulan tahun berikut peristiwa-peristiwa yang ada di masa lampau. Pikiran kecilku dipenuhi hapalan-hapalan yang banyak sekali, mulai dari zaman Sriwijaya sampai Kemerdekaan. Alhasil, bukannya memancing minat, sejarah adalah salah satu pelajaran yang sangat aku hindari.

Saat kelas dua sekolah menengah, aku beruntung mendapat guru sejarah yang sangat memikat. Beliau –yang aku lupa namanya- begitu antusias menghubungkan sejarah yang ada di Nusantara. Beliau bercerita dengan mata berbinar dan intonasi yang jelas. Terkadang antara fakta dan mitos pun ia campur. Memang sejarah negeri ini di tangan para leluhur tidak pernah lepas dari mitos dan legenda. Seorang pahlawan besar kerap diceritakan dengan berlebihan berikut kesaktian-kesaktiannya, sedangkan seorang penjahat juga tidak luput dari gambaran berlebihan itu : buto, raksasa dalam epos Ramayana sering dijadikan personifikasi tokoh antagonis.

Sebenarnya, apa penting mempelajari  sejarah?

Kini, anak muda, termasuk saya, berpikir praktis. Kuliah lah di jurusan yang akan mengantarkanmu kepada kepastian kerja dan kekayaan! Fakultas Kedokteran, IPDN, STAN, ITB, Manajemen, Ekonomi dan semua yang nanti akan terpakai di dunia industri; atau kapitalisme sebagai istilah sarkasme atas ketamakan yang membabi buta. Tidak hanya dunia industri, dunia birokrasi pun menjadi incaran, dengan gaji dan tunjangan yang naik setiap tahun dan kehidupan masa tua yang pasti.

Seorang sejarawan professional bahkan tidak pernah dilirik (kecuali oleh satu kawanku yang terinspirasi film Indiana Jones dan memilih jurusan arkeologi di UGM). Mungkin benar, tidak pernah ada ceritanya seorang sejarawan menjadi kaya raya. Alhasil, sejarah hanya menjadi hobi orang yang mampu membeli buku dan orang-orang Indonesia tetap membiarkannya ditutupi kabut misteri tanpa penelitian serius dan mendalam.

Peter Carey, seorang sejarawan Inggris yang telah melakukan penelitian selama 30 tahun tentang Pangeran Dipenogoro, dalam kata pengantar bukunya berjudul Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro (1785-1855), menulis demikian :

Saya berharap mereka (generasi muda, pen) tergugah oleh perkiraan mutakhir yang menyebutkan bahwa 90 persen karya tulis ilmiah tentang Indonesia justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia, yang sebagian besar tentunya orang asing. Jika angka ini benar, maka Indonesia merupakan sala satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri pada dunia luar (Reid 2011)… Istilah “jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kini terdengar lebih benar dari sebelumnya. Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya dan akan kemana mereka akan pergi.

Kutukan itu bukan hanya kata kosong di awal pengantar buku, namun telah benar-benar terjadi. Pernah suatu hari aku berjalan-jalan ke museum di sekitar kota tua Jakarta, waktu itu aku berbincang banyak dengan  seorang kawan kelahiran Makassar tentang Pangerang Dipenogoro, dan pertanyaan yang mengagetkan itu muncul, “Siapa sih Pangeran Dipenogoro?”

Bukan hanya itu, lupa akan sejarah menyebabkan generasi muda menganggap remeh produk budaya negerinya sendiri. Jika pada awal abad ke-20, Soekarno muda dapat menjadikan kopiyah/peci yang biasa dipakai rakyat banyak dan dicibir priyayi jawa serta Belanda menjadi identitas kebanggaan nasional. Kini, muda-mudi (mungkin tidak semua) menanggalkan identitas nasionalnya dan berbangga dengan pakaian mahal mode barat, berbicara lancar dalam Bahasa Inggris, memiliki minat besar di dunia tarik suara dengan standar barat, menjadi produser film picisan dengan cerita-cerita jiplakan dari barat dan menamai anak-anak mereka dengan nama para penjajah kita dulu.

Adakah semua itu tidak tampak seperti kutukan?

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015.

, , , , ,

4 Comments

Dipenogoro

Musuh sengaja mengatur siasat

Untuk menangkap Dipenogoro secara khianat.

Demikianlah berita di tengah rakyat Magelang

Ketika ia di dalam masjid asyik sembahyang.

(Dipenogoro oleh Sitor Situmorang)

***

Pria berperawakan sedang berjubah putih dengan surban besar di atas kepala itu bukan ekstrimist garis keras yang ditakuti dunia kini. Dia putra raja, memilih bersama rakyat, melakukan revolusi, namun, miris, sejarah kelak menulisnya semata melawan karena patok di tanah leluhur belaka.

Rade Mas Antarwirya, begitulah pangeran kecil dipanggil, putra sulung Hamengkubuwono III, Raja Jawa di Yogyakarta1. Seperti Gautama, dia memilih meninggalkan gemerlap dunia istana. Menyendiri dari gua ke gua, belajar agama dari kiai ke kiai. Kebahagian baginya ialah berkumpul dengan santri miskin  dan mendengar penderitaan rakyat.

Dia tanggalkan pakaian Jawa. Menggantinya dengan pakaian Rasul serba putih. Baginya masyarakat jawa adalah masyarakat jahiliyah pra-islam. Seperti tugas rasul saat itu : menyempurnakan akhlak dan menata masyarakat Jawa menjadi Islami adalah tujuan utama.

Alkisah, Belanda semakin kurang ajar. Keraton sudah kehilangan wibawa. Pejabat Jawa lupa akan jati diri. Hedonisme dan pesta pora menjadi Tuhan baru. Tidak tanggung-tanggung, rakyat dibebani pajak-pajak yang tidak masuk akal. Bagi pejabat Jawa di keraton, menyenangkan hati kafir belanda adalah lebih penting dari nyawa rakyatnya sendiri.

Amarah memasuki jiwa Dipenogoro. Dia kumpulkan rakyat yang akan berjuang bersamanya. Para pejabat keraton yang memihak rakyat, dan petarung-petarung tangguh seantero  Jawa. Bagi Dipenogoro, haram baginya meniru-niru kafir belanda. Dia tiru model organisasi Jannisari dari Turki Ustamani sana. Pangkat militer tertinggi digelari Alibasah, membawahi pasukan infanteri dan kavaleri.

Rakyat dari desa ke desa semakin banyak mendukung perjuangan Dipenogoro. Bagi mereka ini bukan perjuangan menuntut keadilan, sandang, pangan belaka, namun perang sabil di jalan yang suci.

Kejam. Belanda tidak mau ambil pusing. Mereka bakar setiap desa yang mendukung Sang Pangeran. Ternak dan beras dijarah, penduduk tidak bedosa dibunuh. Namun, rakyat tidak pernah kehilangan nyali.

Sebagian besar wilayah kerajaan berhasil diduduki. Sayang, beberapa pasukan membelot. Lelah dengan perang bertahun-tahun, tergiur akan harta dan tahta. Namun, Dipenogoro tidak gentar. Pabrik-pabrik mesiu dibangun, perang gerilya terus dilancarkan. Benteng-benteng Belanda kewalahan menghadapi perlawanan mujahid. Mereka takjub : pasukan Dipenogoro bisa bertahan dengan logistik seadanya.

Perang terus menelan korban. Belanda semakin beringas, pasukan mujahid Dipenogoro tidak mau menyerah. Baginya, ini perang suci, nyawa hanya titipan Tuhan. Jika perang ini berhasil, sistem kerajaan Jawa akan dihapuskannya. Diganti dengan Kekhalifahan di Tanah Jawa. Dengan harap berkah dan makmur meliputi negeri  yang subur permai.

Bagi rakyat, perang menimbulkan penderitaan lahir batin. Bagi belanda, perang ini memakan biaya yang tidak sedikit. Genjatan senjata dimulai. Gegap gempita seantero negeri Jawa. Rakyat bisa kembali istirahat dengan tenang.

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Bukan Belanda jika tidak licik. Dipenogoro diajak berunding, namun pasukan pribadinya dilucuti. Dipenogoro ditahan semena-mena. Babad berkisah 2:

Bab ing aprang kabeh sun kang luput yekti (mengenai perang, semua itu saya yang bersalah)

Kabeh apan darma (semua itu darma)

Anglakoni prentah mami (melaksanakan perintah saya)

Prang iki satanah jawa (perang di seluruh tanah Jawa)

Itulah keluhuran budinya, tidak ingin rakyat Jawa di bantai Belanda, maka semua kesalahan perang disematkan kepadanya

Kini, Dipenogoro dikenal sebagai pahlawan nasional. Pelajar se-Indonesia hapal betul tanggal lahir dan kapan terjadinya perang itu. Sayang, Negeri Islam yang dulu dicita-citakannya kini dicibir, oleh bangsanya sendiri.

Ferry Fadillah, 25 Januari 2014

Catatan :

  1. id.wikipedia.org
  2. Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stesel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu, Depok, 2014, hal. 180

, , , ,

Leave a comment