Posts Tagged STAN

Ketetapan-Nya

Delapan tahun silam, ketika saya masih mengenakan seragam putih abu, semangat untuk memasuki bangku kuliah begitu menggebu. Tentu, karena sudah menjadi tren, kedokteran dan insinyur menjadi prioritas utama. Kalau di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung seolah menjadi hadiah terindah bagi orang tua kita. Saya pun begitu. Maka, segera saja memantapkan hati untuk masuk ke Teknik Sipil ITB.

Mendadak suasana sekolah menjadi relijius. Ada siswa yang setiap pagi bertafakur di masjid selepas shalat duha, ada pengajian bersama dan ceramah keagamaan yang kerap mengundang tangis histeris para siswi. Saya pun bagian dari suasana itu. Bagaimana lagi. Dalam setiap kebutuhan tentu kita akan lebih dekat kepada Tuhan.

Sayangnya gaung tidak bersambut. Mahalnya biaya ujian saringan masuk mandiri, migrain yang diakibatkan les tambahan siang malam, doa-doa dan tekad kuat di dalam hati ternyata tidak menyebabkan saya bisa mempersembahkan ITB sebagai hadiah bagi orang tua.

Saya sempat kecewa tapi tidak larut dalam penderitaan. Toh di saat kegagalan itu, saya diterima pada sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Dayeuhkolot. Bagi saya, biaya di sana mahal. Tapi melihat prospek jurusan teknik, sepertinya biaya kuliah bisa diganti dikala kerja kelak.

Tidak disangka-sangka, ada kejadian luar biasa yang membuat kondisi keuangan keluarga morat-marit. Biaya lima juta satu semester menjadi beban yang memilukan. Syukurnya, di bulan kedua masa kuliah, saya diterima di Sekolah Tinggi Akutansi Negara. Hanya Diploma I. Saya meremehkan dan orang tua pun menjadi bimbang. Tapi ini jalan yang harus dipilih agar dapur tetap mengepul.

***

Dalam setiap kegagalan. Setiap kondisi yang tidak sesuai ekspektasi. Kita pasti kecewa. Merasa Tuhan tidak adil dan memaksa-Nya dalam doa agar mengabulkan kondisi yang kita inginkan. Manusia yang begitu kecil kadang terlalu sombong dan dungu untuk memaksakan apa yang mereka kira pantas bagi dirinya. Kalau semua orang bisa meraih harapan sesuai amalnya mengapa kita selalu menganggil-Nya Maha Besar?

Ibnu Athaíllah As-Sakandari pernah memberi nasihat singkat: Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. Alangkah bodoh saya yang memaksa untuk masuk ITB padahal tidak dibarengi kemampuan otak. Alangkah bodoh saya jika memaska membayar lima juta satu semester jika harus menghabiskan tabungan keluarga. Alangkah bodoh saya jika menolak Diploma I padahal itu adalah yang dikehendaki-Nya.

Begitu juga gelombang kekecewaan yang melanda ketika saya tidak diterima Diploma III Akuntansi Khusus di ujian yang pertama dan kedua. Bisa jadi ada banyak manfaat bagi orang sekitar jika saya tetap bekerja dibanding kuliah dengan potongan gaji yang membuat hidup menjadi ‘cukup’.

Kini saya yakin, akan selalu ada rahasia dibalik setiap kekecewaan. Lebih baik hidup mengalir dan menerima qadarnya dengan tunduk. Berbahagia dengan setiap episode yang diberikanNya kepada kita. Daripada berkeluhkesah dan mengotori hati  dengan sesal.

Ferry Fadillah. Kelan, 10 Juni 2017


 

, ,

Leave a comment

Aku Pria yang Berseragam itu

Aku seorang Bea Cukai. Pria berseragam dengan pangkat di pundak dan ikat pinggang berkilau di pinggang. Bagi yang belum tahu seperti apa Bea Cukai, mungkin kalian pernah melihat sosok ini di televisi. Dalam liputan penangkapan narkoba di pelabuhan udara, kami berdiri di kedua sisi tersangka lengkap dengan rompi bertuliskan customs keemasan, penutup kepala, senjata laras panjang, dan sorot mata tajam yang berwibawa. Tidak heran, kalau kebanyakan mengidentikan Bea Cukai dengan kisah keprajuritan ala tentara nasional.

Dalam tulisan ini aku tidak akan menjelaskan panjang lebar tugas pokok fungsi Bea Cukai yang –mungkin bagi sebagian orang- membosankan. Aku hanya menulis bebas; membagi ceceran pikiran yang terserak sepanjang perjalanan kemarin.

Siang itu matahari bersinar terik di atas langit Bintaro. Aku sedang duduk bersama beberapa kawan menghadap ke tiang bendera. Sesaat kemudian sejumlah anak gundul berlarian dalam barisan yang teratur. Mereka semua mengenakan baju dan celana panjang gelap. Di punggung mereka melekat ransel tebal dengan kresek berisi sepatu yang tergantung di belakangnya. Keringat menetes di sekujur wajah mereka, sorot mata mereka tajam, sikap mereka sempurna.

Semakin lama lapangan dipenuhi oleh gerombolan anak berkepala gundul itu. Waktu menunjukan pukul satu lebih empat puluh lima menit. Beberapa panitia pendidikan kepemimpinan memberi arahan kepada mereka. Aku sayup-sayup mendengar arahan itu. Bahkan aku hampir tidak peduli, aku sibuk dengan pisang pemberian kawanku dan air mineral yang segarnya bukan main.

Tiba-tiba dari kejauhan seorang panitia menghampiriku. “Fer, lu ikut jalan sana sama anak kelas B sesuai keputusan rapat.”

 “Rapat? Kapan gue ikut rapat?”

 “Lah, rapat kemaren malem. Makanya kalau ada rapat lu ikut!”

 “Males gue rapat. Ya udah gue siap-siap dulu!”

Aku sering malas ikut rapat kepanitiaan. Sebenarnya aku malas dengan semua jenis rapat: rapat paguyuban, rapat kelas, rapat RT/RW bahkan rapat keluarga pun aku selalu mecari seribu alasan untuk menghindarinya. Pembangkanganku bukan tanpa alasan. Mulanya aku selalu aktif dalam rapat dan terlibat diskusi sengit dengan beberapa pengurus. Tapi itu hanya sesekali terjadi. Sisanya rapat adalah nereka. Aku harus menunggu berjam-jam agar anggota kelompok penting datang. Aku harus mendengarkan percekcokan dua anggota yang tidak segera ditengahi oleh ketua. Aku harus mendengar materi atau arahan yang tidak jelas premis dan daya argumennya. Aku benci rapat.

Kembali ke cerita. akhirnya aku mulai berjalan kaki dari Jalan Raya Ceger menuju ke Markas Arhanud di Pondok Betung, Bintaro. Jalan sengaja dibuat berputar oleh panitia. Jarak pendek yang tadinya hanya 3 km berlipat-lipat menjadi 12 km. Aku mengutuk mereka di dalam hati. Tapi ya panitia itu kan mahasiswa –juga temanku- yang mungkin memiliki filsafat: kalau harus dipersulit kenapa juga harus dipermudah.

Dalam terik matahari dan polusi Tangerang Selatan yang memprihatinkan aku dengan kelas B berjalan menelusuri pinggiran jalan. Tidak ada pemandangan bagus di sepanjang jalan. Hanya deretan toko-toko warga dan sampah yang berserakan di tanah kosong.

Aku sebenarnya tidak tega mengantar mereka. Aku membayangkan diriku sebagai seorang anggota SS Nazi menggiring Yahudi Jerman ke kamp pembantaian di Munich. Aku tahu mereka akan diapakan nanti. Aku sudah pernah merasakan itu semua dalam Diklat Kesamaptaan. Tapi aku tidak kuasa memberi tahu mereka. Ya, amanat ketua untuk merahasiakan itu adalah pedoman yang harus aku pegang teguh.

Diklat kesamaptaan yang pernah aku jalani selama tiga puluh hari dipenuhi dengan kengerian dan kenangan yang tak terlupakan. Aku selalu rindu kegiatan lari siang bertelanjang dada sebelum mengambil jatah makan. Aku masih ingat ceramah pelatih yang mbulet dan tidak jelas ujungnya. Aku masih terngiang desingan peluru dan huru-hara siswa dalam acara pendadakan pada suatu malam. Aku juga masih ingat latihan bertahan hidup di alam terbuka selama tiga harlam: ayam mentah yang harus kita olah langsung, lubang yang harus digali sebelum buang air besar, tenda ringkih dari jas hujan dan wudhu zaman perang di genangan air.

Awalnya aku mengutuk kegiatan itu. Aku benci kegiatan militer. Aku benci kebersamaan dan keseragaman. Aku pecinta kebebasan. Bagiku manusia lahir dan mati semata bagi kebebasannya masing-masing. Anehnya, sesuatu terjadi ketika aku meninggalkan markas itu. Aku berjalan perlahan secara militer, tanganku membentuk sikap hormat dan wajah menengok ke kanan memandang para pelatih yang berbaris sesuai pangkat. Lagu mars Paskhas dikumandangkan. Aku mendengar beberapa kawan terisak dan mata pelatih yang berkaca-kaca. Aku pun menangis. Dan, ah, tangis itu, ternyata diam-diam aku pun setuju dengan doktrin mereka.

Terlepas dari aku yang keras kepala menerima semua ajaran pelatih. Aku berterima kasih kepada mereka atas setiap ilmu yang mereka berikan di markas. Aku merasakan diriku lebih sigap dan tegap berkat latihan fisik rutin dan aku juga menjadi sadar akan satu hal…

Bagi beberapa orang pria berseragam itu tegas, kaku, berwibawa, patuh, setia dan loyal. Seorang berseragam dituntut mematuhi atasan mereka dan mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan keluarga. Tidak ada kamus sepi dan rindu dalam hidup mereka karena kepatuhan adalah segala-galanya.

Anggapan ini keliru. Banyak di antara mereka yang dimutasi jauh dari keluarga mereka. Kenangan dan ruang foto di rumah dinas menjadi pengobat kesepian mereka. Aku bisa merasakan itu karena aku juga seorang pria berseragam. Aku juga selalu menampakan diri tegas dan berwibawa di depan banyak orang. Menitikan air mata adalah haram bagi seorang lelaki.

Namun seringkali dalam lamunan di rumah dinas aku teringat dengan kota kelahiran. Aku rindu Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat berwibawa dari jendela rumah; pepohonan tua zaman kolonial di Taman Cilaki; ayam bakar dengan nasi merah dan sambal terasi; kawan-kawan nongkrong yang selalu tertawa dengan cerita-cerita sederhana; bau peuyeum dan patung superhero di sepanjang Cihampelas. Dan tentu saja… ibuku.

Aku selalu merindukan ibuku selama menjalankan tugas. Setiap kesulitan yang timbul dalam pekerjaan selalu membuatku sedih. Andai ibuku ada di sini bersamaku. Aku selalu saja membayangkan hal itu. Mungkin kalian mendakwa aku sebagai pria cengeng tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku selalu memerlukan ibuku.

Kebiasaanku ketika malam tiba adalah mencatat jurnal di buku harian dan foto ibuku selalu menjadi pembatas buku itu. Raut wajahnya masih muda. Di sebelahnya ada ayahku dengan kumisnya yang gagah. Foto itu diambil ketika mereka masih kuliah di IKIP. Aku selalu saja tersenyum ketika melihat wajah mereka yang bahagia.

Oh iya aku jadi lupa. Aku belum menjelaskan kepada kalian kenapa aku suka menulis. Mengatakan aku sayang kepadamu kepada kekasih lebih mudah dibanding mengatakan hal serupa kepada ibunda. Setujukah kalian? Aku tidak tahu mengapa dan aku tidak ingin hal ini berlanjut hingga perpisahan datang dan aku tidak sempat mengatakan itu. Ya, jurnal harian itu selalu saja aku tulis dan menyelipkan perasaan-perasaan terdalamku kepada ibunda. Mungkin saja, suatu saat nanti, buku itu tercecer entah di mana dan ibuku akan membacanya. Aku selalu mengharapkan kejadian itu.

Sial, mengapa aku jadi tenggelam dalam lamunan melankoli. Bukankah aku sedang bercerita tentang perjalanan ke Markas Arhanud ?

Sudahlah, sepertinya aku sudah kehilangan minat menulis pengalaman itu. Aku tidak sanggup menjelaskan kepada kalian tentang adik-adiku yang dibentak dan dihukum diselingi teriakan-teriakan dari siang sampai pagi. Aku yakin mereka diharapkan oleh orang tua mereka untuk diperlakukan layaknya manusia… ya manusia.

Aku hanya berharap pada suatu hari kelak bukan teriakan dan hukuman yang mempersatukan orang-orang. Bukan senioritas tak terbantahkan yang menciptakan kebersamaan. Bukan!

Aku berharap orang-orang itu berkumpul di suatu senja yang syahdu di bawah pohon petai cina yang rindang. Mereka duduk di tikar-tikar hangat yang ditengahnya tersuguh penganan ringan dan teh manis yang harum. Mereka bercerita tentang segala hal: keluarga, kekasih, sahabat, tetangga atau buku-buku yang baru saja mereka baca. Salah seorang di antara mereka ada yang memainkan gitar diselingi suara emas lagu-lagu persahabatan. Keriuhan itu akan diselingi senyuman, wajah yang berbinar dan gelak tawa. Ah, dan kebersamaan sudah pasti tercipta karenanya.

 ***

“Kelas B lapor posisi! Kelas B lapor posisi!”, suara keras handy talkie seketika membuyarkan lamunankan.

 “Tidak jelas.. ulangi!”

 “Kelas B lapor posisi!”

 “Kelas B menuju ke arah STAN lagi”

 “Siap laporan diterima”

Handy Talkie sialan itu membuyarkan lamunanku. Aku baru sadar kalau ternyata kami hanya memutari STAN dan harus melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Sial, aku terlalu lama berada dalam pikiranku sendiri.

Langit Bintaro semakin mendung. Kendaraan bermotor bergegas pulang mencari perlindungan. Aku dan kelas B masih saja berjalan.. berjalanan.. dan terus berjalan..persis seperti kehidupan yang walaupun pahit atau manis memang harus dihadapi. Bahkan kita tidak akan pernah tahu ada rintangan dan kesenangan apa yang terbentang. Yang aku yakini hanyalah satu: semua masa depan adalah misteri ilahi yang akan indah pada waktunya.

Ferry Fadillah

Pondok Aren, 31 Januari 2016.

, , , , ,

1 Comment

Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

, , , , , , , ,

Leave a comment

Sejarah

Sejak sekolah dasar di Bandung, seorang guru sudah mengenalkanku dengan sejarah. Sebuah pengetahuan tentang tanggal bulan tahun berikut peristiwa-peristiwa yang ada di masa lampau. Pikiran kecilku dipenuhi hapalan-hapalan yang banyak sekali, mulai dari zaman Sriwijaya sampai Kemerdekaan. Alhasil, bukannya memancing minat, sejarah adalah salah satu pelajaran yang sangat aku hindari.

Saat kelas dua sekolah menengah, aku beruntung mendapat guru sejarah yang sangat memikat. Beliau –yang aku lupa namanya- begitu antusias menghubungkan sejarah yang ada di Nusantara. Beliau bercerita dengan mata berbinar dan intonasi yang jelas. Terkadang antara fakta dan mitos pun ia campur. Memang sejarah negeri ini di tangan para leluhur tidak pernah lepas dari mitos dan legenda. Seorang pahlawan besar kerap diceritakan dengan berlebihan berikut kesaktian-kesaktiannya, sedangkan seorang penjahat juga tidak luput dari gambaran berlebihan itu : buto, raksasa dalam epos Ramayana sering dijadikan personifikasi tokoh antagonis.

Sebenarnya, apa penting mempelajari  sejarah?

Kini, anak muda, termasuk saya, berpikir praktis. Kuliah lah di jurusan yang akan mengantarkanmu kepada kepastian kerja dan kekayaan! Fakultas Kedokteran, IPDN, STAN, ITB, Manajemen, Ekonomi dan semua yang nanti akan terpakai di dunia industri; atau kapitalisme sebagai istilah sarkasme atas ketamakan yang membabi buta. Tidak hanya dunia industri, dunia birokrasi pun menjadi incaran, dengan gaji dan tunjangan yang naik setiap tahun dan kehidupan masa tua yang pasti.

Seorang sejarawan professional bahkan tidak pernah dilirik (kecuali oleh satu kawanku yang terinspirasi film Indiana Jones dan memilih jurusan arkeologi di UGM). Mungkin benar, tidak pernah ada ceritanya seorang sejarawan menjadi kaya raya. Alhasil, sejarah hanya menjadi hobi orang yang mampu membeli buku dan orang-orang Indonesia tetap membiarkannya ditutupi kabut misteri tanpa penelitian serius dan mendalam.

Peter Carey, seorang sejarawan Inggris yang telah melakukan penelitian selama 30 tahun tentang Pangeran Dipenogoro, dalam kata pengantar bukunya berjudul Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro (1785-1855), menulis demikian :

Saya berharap mereka (generasi muda, pen) tergugah oleh perkiraan mutakhir yang menyebutkan bahwa 90 persen karya tulis ilmiah tentang Indonesia justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia, yang sebagian besar tentunya orang asing. Jika angka ini benar, maka Indonesia merupakan sala satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri pada dunia luar (Reid 2011)… Istilah “jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) kini terdengar lebih benar dari sebelumnya. Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya dan akan kemana mereka akan pergi.

Kutukan itu bukan hanya kata kosong di awal pengantar buku, namun telah benar-benar terjadi. Pernah suatu hari aku berjalan-jalan ke museum di sekitar kota tua Jakarta, waktu itu aku berbincang banyak dengan  seorang kawan kelahiran Makassar tentang Pangerang Dipenogoro, dan pertanyaan yang mengagetkan itu muncul, “Siapa sih Pangeran Dipenogoro?”

Bukan hanya itu, lupa akan sejarah menyebabkan generasi muda menganggap remeh produk budaya negerinya sendiri. Jika pada awal abad ke-20, Soekarno muda dapat menjadikan kopiyah/peci yang biasa dipakai rakyat banyak dan dicibir priyayi jawa serta Belanda menjadi identitas kebanggaan nasional. Kini, muda-mudi (mungkin tidak semua) menanggalkan identitas nasionalnya dan berbangga dengan pakaian mahal mode barat, berbicara lancar dalam Bahasa Inggris, memiliki minat besar di dunia tarik suara dengan standar barat, menjadi produser film picisan dengan cerita-cerita jiplakan dari barat dan menamai anak-anak mereka dengan nama para penjajah kita dulu.

Adakah semua itu tidak tampak seperti kutukan?

Ferry Fadillah. Bintaro, 17 Maret 2015.

, , , , ,

4 Comments

Matinya Intelektualitas

Aku memberi kesaksian,

Bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

Dan penghayatan kenyatataan dikekang

Diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

Kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

Dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

Karena nalar dicurigai dan diawasi.

Penggalan Syair W.S. Rendra berjudul Kesaksian Mastodon-Mastodon (1973)

***

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipuja-puja, disanjung-sanjung, dieluk-elukan, kata orang, sekolah ini sekolah favorit, sekolah papan atas, incaran para lulusan sekolah menengah atas. Tunggu dulu? Apa yang mereka cari dari sekolah ini?

Jelas. Tujuan material adalah tujuan mereka. Sebab, konsekuensi lulus dari dari STAN adalah diangkatnya menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Keuangan. Nasib mereka akan berubah. Tingkat pengangguran di Indonesia akan berkurang. Dan tentu bertambah juga kelas menengah  se-antero Indonesia. Masalahnya adalah, apakah lulusan STAN telah benar-benar insyaf akan dirinya sendiri dan kelak untuk siapa mereka bekerja (baca : berjuang)? Kita harus tilik kembali ke dalam kehidupan kampus dibilangan bintaro ini.

Matinya Intelektualitas

Sekolah para akuntan, pemungut pajak, penilai dan ekonom ini menawarkan subjek-subjek ilmu pengetahuan yang menarik. Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro, Akuntansi, Ilmu Hukum, Keuangan Publik, Hukum Keuangan Negara dan puluhan ilmu pengetahuan lain yang berbeda di setiap prodi.

Saya yakin, semua Mahasiswa, berlomba-lomba untuk memahami itu semua. Mereka akan belajar keras menjelang ujian, berusaha untuk menghapal semua slide yang diberikan oleh dosen di kelas. Sayang, saya sempat kecewa –mohon maaf- ketika melontarkan kritik atas cara penyampaian seorang dosen ekonomi dihadapan teman sekelas. “Sudah, cara dosen menyampaikan materi tidak perlu digubris, yang penting dia baik memberi nilai”, celoteh seorang teman.

Miris. Apakah ini cara berpikir semua mahasiswa STAN? Saya harap hanya satu dua orang berpikir seperti ini. Kalau sampai semua anak STAN berpikir seperti ini, maka benar-benar intelektualitas telah mati di kampus yang katanya favorit ini.

Mereka yang Lupa

Saya bukan seorang pakar pendidikan, apalagi professor sebuah perguruan tinggi. Saya hanyalah mahasiswa yang rindu akan hingar bingar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang seharusnya mencetak mahasiswa menjadi kritis, progresif dan revolusioiner.

Mahasiswa kelak selalu mempertanyakan status quo. Mengapa ini seperti ini? Mengapa tidak seharusnya seperti itu? Pertanyaan yang berulang atas segala sesuatu yang orang awam anggap sebagai kewajaran adalah perlu untuk menciptakan inovasi-inovasi, perubahan dunia menuju kemapanan di segala bidang.

Ketika ilmu pengetahuan hanya dihapal kemudian dijadikan capital memperoleh ijazah agar kelak bekerja tenang di lingkungan pemerintahan, maka sesungguhnya mahasiswa telah melacurkan intelektualitas mereka sendiri.

Pola pikir pragmatis seperti ini hanya akan melahirkan birokrat muda yang sibuk mengisi kantongnya dengan pundi-pundi gaji. Mereka malas berpikir, yang terpenting adalah mengikuti instruksi atasan dan bermuka  manis atas setiap perintah dengan harapan pengharggaan berupa : kedudukan.

Saat ini semua terjadi, mahasiswa yang telah menjadi birokrat muda itu telah lupa bahwa mereka adalah bagian dari rakyat. Rakyat yang kesusahan setiap hari karena harus ditindih oleh kebijakan pemerintah yang mengakibatkan kemiskinan struktural. Rakyat yang terus meratap dan berdoa kemudian dinina bobokan dengan janji pahala kesabaran dan imbalan surga yang kemudian lupa untuk menuntuk hak-hak mereka atas hidup dan penghidupan.

Menjadi Intelektual

Intelektualitas berarti kita insyaf bahwa semua ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku kuliah adalah untuk memperkuat daya kritis kita dan mensejahterakan mereka yang marjinal. Leon Trotsky pernah berkata, “The intellectual wants to rise above capitalist mental oppression, the academics are capitalist mental oppression”

Maka yang kita perlukan agar tetap berpihak kepada rakyat adalah mejadi seorang intelektual. Menjadikan ilmu pengetahuan yang kita dalami di kampus sebagai amunisi yang kelak membebaskan tetangga kita, orang satu daerah dengan kita, rakyat di tempat penempatan kelak, merdeka semerdek-merdekanya dengan membuka mata mereka akan hak-hak mereka dihadapan para penguasa.

Ketika filsafat hidup, dan penghayatan akan kenyataan dibebaskan, saya yakin mahasiswa STAN yang kelak menjadi birokrat muda, yang tersebar seantero Nusantara, yang jumlahnya beribu-ribu itu, dengan tegas dan gagah akan mengatakan tidak atas segala kelaliman siapapun juga.Ingat : Vox Populi Vox ‘Dei’!

Ferry Fadillah, dimuat dalam Warta Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Edisi 27, Januari 2015.

, , , ,

Leave a comment

Keberpihakan

Tuan, Puan,…

Budi itu bukan buah karya Principle Accounting-nya Warren;

akhlak itu bukan hasil telaahan Borgelijk Wetboek-nya londo Belanda;

nurani itu bukan celupan pikiran membaca Kurva Permintaan dan Penawaran.

Semua itu bermula dari keberpihakan

Mahasiswa..

Perut kosong mu terlalu banyak diisi idealisme;

bayanganmu bak surga kelak di tempat kerja.

Kau tahu? Apa itu omong kosong surga?

 Birokrat Muda..

Kelak kebebasan berpikirmu dinjak-injak;

kau beropini, bosmu tersinggung;

kau menolak, bosmu ancam mutasi;

kau ceramah, mungkin pipi kirimu ditamparnya.

Ya, hanya dua kata yang pantas ketika itu :

‘siap’ dan ‘laksanakan’

Kelak kau bertanya :

“Dimana kebebasan itu, kawan?”

Semua terdiam, karena telah menjadi mesin tanpa asa.

Namun jangan gusar.

Suatu pagi kau akan terbiasa dengan itu;

perut kosongmu akan diisi gaji dan TKPKN.

Bagimu yang terpenting adalah kekayaan pribadi :

kau beli rumah mewah;

kau beli mobil terbaru;

kau peristri wanita cantik;

Cukup.

Wahai, Penghianat Rakyat..

Saat perutmu penuh dengan lemak;

wajahmu  lusuh memenuhi meja kerja

Saat itu juga ratusan rakyat menderita di bawah kolong jembatan;

bayi-bayi menangis di rumah triplek bantaran sungai

kuli-kuli menderita bekerja siang-malam

Sedang engkau?

Masuk 07.30 pulang 17.00

duduk malas, menanti tanggal muda

Budi

Akhlak

Nurani

Enyahlah itu semua!   k a u   s u d a h   t i d a k   b e r p i h a k

Bintaro, 25 Oktober 2014
Ferry Fadillah

, , ,

1 Comment

Doa yang Terkabul

Hal paling membahagiakan bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) adalah lulus kemudian menjadi pegawai negeri di lingkungan Kementerian Keuangan. Itulah yang aku alami. Setelah lulus dari Prodip I Kepabeanan dan Cukai tahun 2010, aku langsung ditugaskan di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Aku sebenarnya tidak bercita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil. Semua orang tahu, menjadi pegawai negeri berarti siap hidup dalam ritme yang membosankan; aturan ketat; apel setiap senin; pakaian yang seragam dan kepatuhan kepada atasan. Namun, melihat kondisi keuangan keluarga yang morat-marit, aku tidak memiliki pilihan, aku harus menghadapi itu semua.

Tahun pertama masa kedinasanku dilalui tanpa kendala yang berarti. Bahkan, aku sangat bersyukur mendapatkan ilmu dari proses bisnis di unit kerjaku dan peraturan-peraturan yang kubaca. Aku juga bersyukur karena dikaruniai seorang atasan yang sangat ramah dan paham akan keinginan anak buah. Tidak jarang aku diberi kesempatan untuk menjadi pembicara dihadapan pegawai-pegawai senior, menyampaikan ilmu administrasi pemerintahan yang aku pahami, dan tidak ada satu pun dari mereka yang meremehkan aku, aku sangat bersyukur.

Setelah dirasa cukup lama aku di unit tersebut, aku dipindah tugaskan ke unit yang baru. Banyak pegawai menginginkan untuk menjadi pegawai di unit baru ini. Ilmu Kepabeanan dan Cukai dapat sepenuhnya di aplikasikan, dan –yang terpenting- pekerjaan didominasi pekerjaan lapangan, bukan administrasi.

Satu hal yang kurang aku suka di unit ini adalah setiap pegawai harus tunduk patuh secara totalitas kepada kehendak atasan. Sialnya, atasanku adalah seorang pengidap insomnia. Beliau biasa pulang kantor pukul 03.00 dini hari, dan aku harus menemani beliau di kantor dengan kewajiban masuk pagi keesokan harinya. Belum lagi tugas protokoler tambahan di hari sabtu dan minggu. Aku benar-benar kehilangan kebahagiaan.

Aku mulai rindu lari sore di pinggiran pantai kuta; berkumpul dalam pengajian mingguan dan silaturahmi dengan warga sunda di Denpasar. Aku merasa kehilangan jiwa dan bertransfromasi menjadi sebuah mesin. Kaku dan Statis.

Medio tahun 2014, ujian saringan masuk STAN untuk Prodip III Khusus dibuka. Aku begitu antusias mendengar kabar ini. Aku berpikir, bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk bebas dari rutinitas kantor yang membosankan. Tanpa banyak tanya, aku langsung mendaftar dan mempersiapkan segala sesuatu. Namun, karena beban pekejaan dan waktu tidur yang kurang aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar. Alhasil, tahun itu aku belum diberi kesempatan untuk kuliah di Bintaro.

Tahun 2013, aku mengikuti ujian saringan masuk di lokasi yang sama. Lagi-lagi, aku merasa tidak siap menghadapi ujian pada saat itu. Entah mengapa rasa pesimistis itu selalu datang. Tanpa perlu banyak berangan-angan, aku sudah memastikan diri bahwa aku tidak akan lulus untuk seleksi masuk tahun ini, dan itu pun yang terjadi.

Aku berkontemplasi. Rutinitas pekerjaan ku yang mekanis siklis telah mengikis habis nalar berpikir. Aku juga sadar, beberapa tahun bekerja dengan penghasilan yang dapat aku peroleh sendiri, aku mulai hidup dalam hura-hura, hedonisme, dunia malam dan, ah, hal-hal imanen lain yang tidak berguna dan bermanfaat. Aku ambil kesimpulan bahwa ini disebabkan oleh dosa-dosaku, bukan semata kemampuan akademik.

Awal tahun 2014, aku terkejut, pelaksanaan ujian saringan masuk STAN dimajukan. Kamu tahu? Aku benar-benar tidak siap menghadapi kegagalan yang ke tiga kalinya. Waktu belajar sudah sangat sempit. Doa? Ah, mana Tuhan dengar makhluknya yang berdosa ini.

Dalam sebuah perenungan di masjid, tiba-tiba aku tercerahkan. Jika belajar sudah tidak ada waktu dan doa pendosa ini tidak didengar, maka solusinya satu, dengan logika sederhana : Tuhan pasti mengabulkan doa; doa harus dipanjatkan oleh manusia yang dijamin pengabulan doanya; doa harus dihaturkan di tempat yang mustajab (probabilitas pengabulan doa tinggi)

Akhirnya, aku mengumpulkan tabunganku sebagai pegawai paling rendah di Kementerian Keuangan. Aku hitung, dan berdoa agar uang itu cukup. Dan aku menelpon ibuku, “Mah, besok tolong urus passport ke Kantor Imigrasi. Minggu depan mamah berangkat umrah. Nanti uangnya aa transfer, mudah-mudahan cukup. Jangan lupa, tolong doakan aa sukses dunia akhirat dan lulus ujian saringan masuk STAN.”

Mendengar kabar itu, ibuku sangat terkejut. Nada haru terdengar dari ujung telepon. Maklum, beliau belum pernah sama sekali menginjakan kaki di tanah suci. Alasannya ekonomi. Untuk masalah kontrak rumah dan studi kedua adik saja sudah pusing tujuk keliling, bagamana memikirkan untuk umrah dan lain-lain.

Namun aku yakin, dengan cara ini aku telah berbakti walau tidak sempurna. Dengan cara ini, aku telah membuktikan kepada Tuhan, walaupun aku banyak dosa, ujung dari segala masalah adalah Dia semata.

Pelaksanaan ujian dimulai, pagi yang cerah di Kota Denpasar, namun aku merasa sesak dan tertekan. Aneh, aku sulit memahami hampir seluruh soal matematika. Sinonim, antonim dan ah, apalah itu, aku baru dengar semua kata-kata itu! Namun, aku tetap berdoa dan mengerjakan yang aku bisa. Ketika, waktu ujian selesai, aku keluar ruang ujian dengan penuh pengharapan.

Ada waktu sebulan dari waktu ujian menuju pengumuman kelulusan. Aku sudah pasrah dengan segala hasil yang ada. Bayang-bayang kegagalan selalu menghantuiku. Karena bila gagal, aku akan kembali hidup dalam rutinitas yang menjemukan dengan kepatuhan total kepada atasan yang memuakkan.

Saat pengumuman kelulusan tiba, aku terkejut, namaku tertera di pengumuman itu. Tidak terkira rasa syukur dan bahagia yang aku rasakan. Aku telepon ibuku, aku ucapkan terimakasih berkali-kali. Aku bersyukur pula kepada Tuhan, ternyata ia benar-benar mengabulkan segala doa.

Aku membayangkan bebas dari rutinitas kantor. Aku akan kembali menjadi mahasiswa; berdiskusi tentang isme-isme; mengkaji permasalahan secara intelektual dan tentu banyak waktu untuk berkontemplasi dihadapan Sang Khalik.

Sejak saat itu, aku tidak pernah meremehkan kekuatan doa. Aku juga yakin bahwa ridho Ibu adalah ridho Tuhan. Dan teruntuk Ibu tercinta, semoga engkau selalu dalam keadaan sehat dan berbahagia. Amin.

Ferry Fadillah
Bintaro, 7 OKtober 2014

, , , , , , ,

4 Comments

Muslim Memilih Pemimpin

Hormat saya kepada Riyan Fajri yang telah menertawakan dua buah tulisan berjudul “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN” dan “Menjawab Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN” dengan tulisan berjudul “Menertawakan Surat Orang-Orang Pintar”. Alumnus yang suka menertawakan kesokpintaran ini juga menyebutkan bahwa tulisan pertama menggelikan dan tulisan kedua menyedihkan. Bukan hanya tulisannya menurut saya, namun julukan itu juga ditujukan kepada penulisnya. Namun itu bukan masalah, karena sebaik-baik manusia adalah yang membalas keburukan dengan kebaikan.

Ragam Pembacaan Semiotika

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Bayang-Bayang Tuhan : Agama dan Imajinasi” menyebutkan dua arah utama pendekatan semiotika yang telah dikembangkan dan digunakan dalam cultural studies. Pertama, semiotika struktural, dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, yang telah menekankan telaah tanda sebagai sebuah sistem, struktur, dan relasi yang disebut langue. Kedua, semiotika sosial, memusatkan perhatian pada telaah tentang tindakan penggunaan tanda secara konkret di dalam masyarakat, yang disebut parole. Yang pertama, menelaah bahasa sebagai sistem kode yang baku, yang kedua menelaah penerapan atau pengamalan kode-kode itu secara sosial, yaitu bagaimana kode-kode itu diinterpretasikan dan digunakan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Semiotika struktural lebih memusatkan perhatian pada telaah kode, konvensi, atau aturan-aturan main yang telah disepakati secara sosial-historis sebagai sebuah konvensi sosial yang telah mempunyai ketetapan dan tidak pernah berubah. Semiotika sosial lebih membantu dalam membantu dalam memahami pembacaan plural masyarakat teks disebabkan ia lebih memusatkan perhatian pada tindak penggunaan tanda sehari-hari secara sosial dalam konteks sosial-kultural yang ada.

Seharusnya untuk mendapatkan pemahaman teks yang utuh, model pembacaan semiotika struktural harus dipadukan dengan model pembacaan struktural sosial. Namun, dalam hal pembacaan teks suci yang mengandung kebenaran awal (Logosentrisme) penggunaan semiotika struktural harus lebih dikedepankan dibandingkan semiotika sosial. Karena, teks suci memiliki kebenaran yang berasal dari Tuhan, dan kebenaran baku itulah yang dicari dalam pendekatan semiotika struktural.

Sosial-Historis dalam Pembacaan Semiotika Sosial

Pembaca semiotika sosial selalu mengaitkan teks dengan keadaan sosial sebagai realita yang tidak dapat dibantah. Indonesia, pasca kemerdekaan, ketika dalam tahap menentukan ideologi nasional, para founding father kita mengalami pergulatan ideologi yang cukup kontroversial. Yang paling mencolok adalah antara ideologi islam dengan nasionalis-sekuler. Mayoritas dari mereka pada mulanya setuju bahwa spirit Islam harus dibawa ke dalam tataran negara, sehingga akan mewarnai praktik ke-Islam-an dalam tataran masyarakat. Namun, sebagian takut apabila Indonesia yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama akan berubah menjadi sebuah negara theokrasi dengan Islam sebagai pemegang kendali kekuasaan.

Sungguh, itu merupakan alasan yang menihilkan perjuangan para ulama dan santri dalam membebaskan tanah air ini dari kerajaan protestan belanda dengan tiga misi utama yakni gold, gospel dan glory. Sehingga, generasi indonesia kini yang lupa dan buta akan sejarah begitu bersemangat menjadikan demokrasi-sekuler sebagai realita sosial yang harus diterima semua lapisan masyarakat.

Parahnya lagi, hal-hal yang bertetangan dengan itu dengan serampangan dilabeli anti-pancasila, anti-pluralisme, penyokong Negara Islam Indonesia, pemberontak dan lain sebagainya. Akibatnya, lawan dari itu seuma atau label-label itu selalui identik dengan musuh yang harus dienyahkan.

Kembali ke dalam semiotika, pembacaan teks suci pun mengalami hal yang serupa. Alih-alih mencari makna asal sesuai kebenaran mutlak Tuhan, pembaca kini lebih memilih menyesuaikan teks suci itu dengan ideologi demokrasi-sekuler yang menempatkan teks suci dibawah konvensi buatan manusia.

Apakah ini tepat? Apakah dalam memaknai teks suci kita harus menjadikan realita sosial sebagai pijakan kebenaran, sehingga penafsiran teks suci harus menyesuaikan dengannya?

Kebenaran ada dalam Pembacaan Semiotika Struktural

Coba bayangkan sebuah daerah. Zinah telah menjadi komoditi lumrah yang diperjual belikan. Mayoritas masyarakat menjadikan zinah sebagai tumpuan ekonomi keluarga. Lantas, untuk melindungi masyarakat dan ekonomi daerah tersebut, para ulama mengeluarkan fatwa akan halalnya zinah asalkan dengan alasan ekonomi. Apakah hal ini waras?

Ketika Allah menurunkan QS An-Nisa ayat 144 dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin, haruskah kita harus menjadikan demokrasi-sekuler dan konvensi turunannya sebagai sebuah realita sosial di atas hukum-hukum Allah yang sudah sangat jelas ini :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir auliya’ dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

M. Quraish Shihab di dalam “Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran” menafsirkan ayat diatas sebagai berikut :

Setelah jelas sudah apa yang harus dihindari, termasuk menghindari orang-orang kafir dalam konteks menjadikan mereka sebagai auliya’, dan jelas pula keadaan orang-orang munafik dan keadaan orang-orang mukmin, kini melalui ayat ini Allah menyeru kepada semua yang mengaku beriman :”Wahai orang-orang yang mengaku beriman, baik pengakuan benar maupun bohong, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir auliya’ teman-teman akrab tempat menyimpan rahasia, serta pembela dan pelindung kamu dengan meninggalkan persahabatan dan pembelaan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu atau bukti yang jelas bahwa kamu benar-benar bukan orang-orang beriman? Sungguh, hal yang demikian tidak sejalan dengan keimanan kamu, tidak juga dengan nilai-nilai ajaran agama Islam yang kamu anut.

Ayat di atas menggunakan kata aturidunal/maukah kamu pada firman-Nya : Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah. Redaksi demikian yang dipilih, bukan kata apakah kamu menjadikan, untuk menekankan betapa hal tersebut sangat buruk. Baru pada tingkat mau saja mereka telah dikecam, apalagi jika benar-benar telah menjadikannya seperti itu.

Ayat ini merupakan kecaman keras yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman akrab, tempat menyimpan rahasia, bukannya larangan untuk bergaul secara harmonis dan wajar, atau bahkan memberi bantuan kemanusiaan buat mereka. Allah membolehkan kaum muslimin bersedekah untuk non-muslim dan menjanjikan ganjaran untuk yang bersedekah.

Saya melihat tafsir di atas adalah tafsiran jelas yang lebih condong kepada jalan tengah. Menjadikan pemimpin kafir sebagai wali amanah, wazhoif qiyadiyah atau wilayat madaniyah itu sama saja menjadikan mereka sebagai pembela dan pelindung orang mukmin.

Setelah saya paparkan logika saya yang mungkin tidak waras bagi sebagian orang, saya ingin mengajak mereka yang muslim untuk tetap berpegang teguh kepada keyakinan ini. Biarlah orang berpendapat berdasarkan ideologi yang mereka anut. Pada akhirnya, dunia akan diisi oleh tiga jenis manusia : mukmin, munafik dan kafir.

Dan bershaf lah bersama mereka yang mukmin!

Pulau Dewata, 15 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Menjawab “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN”

Agama adalah candu. Begitu keyakinan kaum materialis-komunistis ketika melihat kenyataan bahwa agama telah menjadi alat pembenaran bagi penguasa negara theokrasi memeras habis kapital rakyatnya. Namun, pendapat itu tidak selamanya benar. Bagi sebagian orang, agama adalah obat. Oase di tengah padang pasir keserakahan manusia yang menjadikan benda sebagai landasan berpikir. Cahaya bagi kegelapan peradaban yang menjadikan pikiran manusia yang terbatas sebagai acuan kebenaran.

Dalam perjalanannya, agama selalu berdampingan dengan politik. Agama dan Politik seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pemilihan Umum Presiden 2014 tanggal 9 Juli lalu pun diwarnai isu-isu seputar agama. Antara Islam dan non-Islam. Antara Islam dan sekularis. Ternyata, geliat politik di perhelatan besar lima tahunan ini bergulir ke sebuah kampus bagi para abdi Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Dalam pemilihan presiden mahasiswa tahun ini, warga STAN dihadapi oleh dua pilihan. Fandy, mahasiswa D-IV, semester 7, beragama Islam dan Gilang, mahasiswa D-IV, semester 9, beragama Katolik.

Merujuk tulisan Meidiawan Cesaria Syah berjudul “Surat Tebuka Kepada Mahasiswa STAN”, saya dapat membayangkan bahwa pertunjukan politik di sekolah kedinasan populer itu pun tidak sarat dari isu-isu agama. Di dalam tulisan beliau, isu yang menjadi pokok tulisan adalah sebuah pernyataan : bahwa sudah seharusnya muslim memilih kawan muslimnya, jangan yang non-muslim.

Apakah benar ini hanyalah sekedar isu dari sekelompok orang yang sudah tidak dapat berargumen untuk mencitrakan pemimpin pilihannya?

Sebelumnya, saya jabarkan dulu secara singkat tentang bagaimana seharusnya seorang muslim memandang agamanya dan mengkaitkannya dengan segala aspek kehidupan. Asy-Syahid Hasan Al-Bana pernah berkata mengenai agama ini, “Islam adalah negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat, ia adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan, ia adalah wawasan dan perundang-undangan, atau ilmu pengetahuan dan peradilan, ia adalah materi dan kekayaan, atau kerja dan penghasilan, ia adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah, sebagaimana ia adalah akidah yang bersih dan ibadah yang benar.” Hasan Al-Bana menggambarkan wajah islam yang universal dan totalitas. Tidak mendikotomi permasalahan apapun di dunia ini dengan Islam. Bahwa, Islam tidak hanya mengurusi hal-hal berbau ritual belaka. Namun, Islam pun mengurusi hal besar yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak : politik.

Keyakinan Islam seperti di atas, hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki derajat iman. Menjadikan Allah sebagai satu-satunya puncak kebenaran, acuan perkataan dan perbuatan. Bukankah Islam dalam bahasa arab bermakna penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Alah? Sehingga, adalah sebuah perkara yang jelas jika seorang muslim menjadikan kitabnya (Al-Quran) sebagai acuan kebenaran.

Pertanyaan bergulir menjadi, “Apakah kehendak Allah dalam menentukan pemimpin umat?”

Saya kutip dasar hukum yang nyata, yang berasal dari Tuhan yang saya dan anda yakini keberadaannya :

Hai, orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah untuk menghukummu? (An-Nisa :144)

Meidiawan Cesaria, saya bertanya kepada nurani anda sebagai seorang muslim, apakah ayat ini hanyalah sebagai isu belaka yang dapat diacuhkan atas nama negara demokrasi? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan dalam memilih pemimpin masuk kedalam kategori pemilih sosiologis, yang anda tempatkan dibawah posisi pemilih rasional dan pemilih psikologis? Apakah mereka yang menjadikan ayat ini sebagai acuan adalah orang-orang yang tidak rasional? Saya, tidak satu pendapat dengan anda.

Kalau memang demokrasi membebaskan kita untuk berpendapat dan berkeyakinan, maka inilah pendapat dan keyakinan seorang muslim yang benar, yang tidak dapat dikacaukan dengan pemahaman apapun juga. Bahwa ini adalah pemahaman paling rasional bagi mereka yang tergerak hatinya ketika dipanggil oleh Tuhan sebagai “orang-orang yang beriman”.

Atas nama keberagaman bukan berarti setiap pemeluk beragama harus mengilangkan truth claim agama yang mereka miliki. Karena truth claim itulah yang membedakan satu agama dengan agama lainnya. Bayangkan semua orang menganggap tidak perlu lagi memegang truth claim dalam agamanya, maka untuk apa lagi ada agama di dunia ini?

Akhir kata, saya mengajak semua mahasiswa STAN yang bergama Islam, yang menyatakan diri loyal kepada Allah dan berlepas diri selainnya agar menjadikan kitabullah sebagai satu-satunya acuan dalam memilih pemimpin. Jangan pernah goyah oleh pendapat-pendapat mereka yang menjadikan demokrasi sebagai illah-illah pengganti Allah. Sungguh, Allah akan memenangkan kita jika berada di jalan yang lurus. Ingatlah cita-cita founding father kita sebelum mendapat protes dari tokoh agama dari Indonesia timur : ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Bali, 13 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , , , ,

1 Comment

Kesalehan Tidak Berbanding Lurus dengan Kecerdasan

Kesimpulanku mulai keliru. Suatu saat aku pernah berkata, “ternyata kecerdasan itu tidak berbanding lurus dengan kesalehan”. Pernyataan ini terlontar setelah pengumuman kelulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Prodip Diploma III Khusus Tahun 2013.

Memang, kesimpulan ini terlalu subjektif dan terburu-buru. Namun aku mengambil logika seperti ini : dari 53 peserta yang lolos, aku coba ingat, siapa saja yang saleh dan siapa saja yang kurang saleh. Ternyata semua berkumpul dalam satu daftar. Jadi, saya pikir kesimpulan saya di awal tidak terlalu keliru.

Sejarah peradaban dunia pun berbicara hal yang sama. Zaman keemasan Islam dipenuhi tokoh bermental ilmu pengetahuan dan saleh sekaliber Ibnu Haitham, Ibnu Rush dan Ibnu Musa Al-Khawarizmi. Zaman keemasan eropa dipenuhi tokoh bermental relijius semisal Albert Eisntein, Ishaac Newton, Alexander Grahambel. Belum lagi ilmuwan-ilmuwan ateis, agnostik, gila seks dan psikopat di seantero dunia timur dan barat. Mereka semua mewarnai dunia ini dengan kecerdasan mereka, namun dengan ideologi yang berbeda.

Sehingga aku berpikir, apakah kecerdasan merupakan prioritas yang harus dikejar di dunia?

Banyak orang cerdas di negeri ini yang membuat sistem hukum sangat tajam ke bawah namun sangat tumpul ke atas. Banyak orang cerdas di negeri ini yang baru haji sekali saja sudah menganggap diri paling suci. Banyak orang cerdas di negeri ini yang sembunyi-sembunyi nyambi jadi tikus kantor di pemerintahan.

Banyak bangsa cerdas terdahulu yang dibenamkan oleh Allah ke tanah, disambar dengan petir, ditenggelamkan dengan air bah, dilipat di tengah laut merah bahkan diubah menjadi kera.

Lagi-lagi aku dipusingkan dengan fakta-fakta yang seolah-olah terpisah ini. Padahal satu padu dan menjalin sebuah hikmah. Apa itu?

Hikmah itu adalah Allah. Bagaimana kita menjadikan segala aktivitas kita di dunia berporoskan kepada Allah. Menjadikan tujuan pekerjaan kita hanya Allah. Sehingga kita selalu ingat Allah dalam keadaan miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, susah maupun senang.

Bukankah cita-cita kita (muslim) adalah kematian? Bukankah yang kita bawa setelah kematian hanya tiga hal. Adakah yang kita bawa selain yang tiga itu :  ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya ?

Selain ketiga hal itu hanyalah debu yang bertebaran. Hilang begitu saja ketika angin dan hujan datang.

Ferry Fadillah
Badung, 5 Desember 2013

, , , , ,

Leave a comment

Mahasiswa STAN Gagalkan Kecurangan Peserta USM

Hand Phone dan kaos dalam kusus yang ditemukan mahasiswa STAN

Ujian Saringan Masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang diselenggarakan hari ini(20/06/2010) di Kota Denpasar digemparkan dengan ditangkapnya 10 peserta ujian yang berusaha melakukan kecurangan selama kegiatan ujian berlangsung.

Ujian yang serentak diselenggarakan  dibeberapa kota di Indonesia ini, menggunakan tenaga mahasiswanya sebagai Tim Kerja Sekertariat yang bertugas membantu Kepala Sektor dalam mempersiapkan perlengkapan Pengawas Ujian. Selain itu juga, dua hari sebelum ujian dilaksanakan, mahasiswa telah diberikan tugas khusus untuk menangkap sindikat kecurangan USM yang tahun lalu banyak terbongkar di beberapa kota penyelenggara ujian.

Berkat ketepatan informasi intelegen yang diberikan Penyelenggara Diklat Keuangan Kota Denpasar, siang tadi , beberapa mahasiswa berhasil menangkap peserta ujian yang menggunakan peralatan canggih untuk berkomunikasi selama ujian. Peserta yang melakukan kecurangan ditangkap di dua lokasi ujian yang berbeda yaitu  SMAN 1 Denpasar (7 orang) dan SMA Dwi Jendre (3 orang) dengan rincian pelaku yakni  LMH, MA, FA, L, AAP, HKP, yang semuanya berasal dari Sulawesi Selatan sedangkan pelaku yang satu lagi berasal dari Papua Barat (noname) dan 3 pelaku di SMA Dwi Jendra yang sampai saat ini penulis belum dapat ketahui namanya.

salah seorang pelaku yang sedang membuka kaos khusus, mukanya polos dan tidak ada kegugupan selama mengerjakan ujian, namun setelah ujian lama berlangsung, pelaku baru mengerjakan segelintir soal

Ada kesamaan alat yang mereka gunakan dalam melancarkan aksinya, yaitu kaos dalam berwarna putih yang memiliki tempat khusus untuk menyimpan alat elektronik berupa : HP yang sudah dihilangkan keypad nya dan alat pendengar khusus di bahu sebelah kanan. Masing-masing HP memiliki nomor yang masih belum diketahui fungsinya. Seorang tersangka mengaku membayar sebesar lima puluh juta rupiah kepada seseorang untuk mendapatkan peralatan tersebut. Menurut penuturan beberapa pengawas, pelaku pada umumnya belum atau hanya sedikit mengerjakan soal setelah waktu ujian lama berlalu.

Sekarang para pelaku di giring ke tempat panitia ujian untuk dimintai keterangan terkait pelaku lain yang belum tertangkap. Dan menurut salah seorang penangkap, pelaku akan diserahkan kepada pihak kepolisian untuk proses penyidikan.

Laporan :FF/canaksaindonesia.wordpress.com

, ,

22 Comments