Posts Tagged ubud bali

Terasering di Ceking

Sawah ? Untuk apa saya upload foto sawah di blog ini. Pemandangan biasa di Pulau Jawa dan  pulau-pulau lain di nusantara bukan ? Namun saat itu entah mengapa saya terisnpirasi salah seorang senior yang mendeskripsikan sawah sebagai ‘keindahan yang tidak bisa dipresentasikan melalui kata-kata’. Sejak itu saya tersihir, dan mencoba mengunjungi terasering di Ceking, Tegalalang, Gianyar.

Di sebuah cafe sederhana, dengan pondok-pondok bambu ber-design bali saya terdiam. Terkadang menyeruput kopi dan memamah biak pisang goreng. Pandangan saya tujukan ke hamparan hijau pesawahan, petani yang bekerja keras dan para turis asing yang riang gembira melihat keajaiban yang sulit ditemukan di negaranya.

Hal ini biasa, tetapi kalau kita mau memendam rasa angkuh kita, dan melihat sesuatu dari sudut pandang lain, kebahagiaan akan menghampiri dan menghiasi perjalanan wisata kita sampai tiba esensi dari setiap kepariwisataan : kesan.

Selamat Mencari Kesan di Bali 🙂

“bukan promosi loh :)”

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Sacred Monkey Forest

Mungkin bukan tugas saya untuk menceritakan ulang sebuah lokasi wisata religius di jantung para seniman dan seniwati ini (Ubud, Bali), karena saya bukan seorang jurnalis apalagi penulis legendaris. Saya tidak mau merepresentasikan sesuatu keluar dari jalur realita, terlalu berlebihan atau kekurangan. Sehingga biarlah Hutan Kera Sakral di Desa Pekraman Padangtegal, Ubud, Gianyar ini tetap sebagai hutan sebagaimana adanya, dan biarlah para pengunjung menikmatinya secara niskala maupun sekala sehingga diperoleh pengetahuan menyeluruh mengenai lokasi wisata ini.

Alasan saya sederhana ketika mengunjungi tempat ini. Saya mencari kedamaian. Hiruk pikuk Bali selatan telah menutup mata hati saya untuk berpikir mengenai keseimbangan hidup. Pencarian abadi akan kebahagiaan. Jenuh, berangkatlah saya ke utara bali. Mencari pencerahan dari kekeruhan jiwa akibat hiruk pikuk manusia.

Sebuah hutan sakral. Dimana konsep luhur ‘Tri Hita Kirana’ diterapkan dengan benar dan sungguh telah menyihir setiap pengunjung untuk menghargai Tuhan, alam dan makluk hidup. We’re never walk alone. Ada kehidupan di sekitar kita, tampak maupun tidak tampak yang perlu diseimbangkan dan itulah salah satu fungsi hutan sakral ini.

Saya lupa bahwa ada makhluk kecil yang telah kita gusur kekuasaannya dengan rumah megah dan hutan beton. Padahal apa hak kita untuk memarginalkan mereka. Karena pun seperti kita, mereka butuh tempat untuk hidup. Bersosialisasi, mencari makan, bermain dan berpolitik.

Macaca fascicuiaris, Kera Ekor Panjang, warga binatang yang mendominasi tempat ini. Terkadang mereka liar, tetapi terkadang mereka begitu menggemaskan. Dari wajahnya kita bisa melihat asa, harapan sebuah keinginan untuk damai.

Karena itu, tidak ada salahnya jika konsepsi ‘Tri Hita Kirana’. Penghormatan terhadap alam, pelestarian terhadap lingkungan, kita terapkan dimana saja. Agar damai dan sejahtera mengurung kita dalam pencerahan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment