Archive for August, 2010

Kolong Jembatan dan Pengendara Motor

"saat hujan turun pengemudi motor akan memarkir motornya di jala ini"

"saat hujan turun pengemudi motor akan memarkir motornya di jalan ini"

Pengendara motor kerap kali mengundang amarah para pengemudi mobil. Apalagi jika sudah srantal-sruntul teu puguh, kekebutan, maupun ujug-ujug eureun tengah jalan. Akibatnya bisa semakin parah jika kedua belah pihak mulai pasang kuda-kuda dan saling baku hantam.

Tapi kali ini pengendara motor tidak bisa disalahkan begitu saja. Yah, namanya terdesak, pasti semua orang akan melakukan apa saja, yang penting masih dalam jalur yang benar.

Setiap hujan turun di Kota Bandung, maka yang mendapat masalah adalah para pengendara motor. Mereka harus menambah laju motor mereka agar segera sampai tujuan jika tidak ingin bajunya basah dan lembab. Mereka yang masih jauh dari tempat tujuan biasanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali berteduh di pinggir jalan yang dilengkapi pohon pelindung, kios-kios rokok, maupun jembatan layang.

Tampaknya jembatan layang menjadi tempat berteduh favorit bagi para pengendara motor yang melintasi Jalan Pasopati Kota Bandung. Selain kolong jembatan itu bisa menahan hujan, kolong jembatan pun dilengkapi pedagang asongan yang siap melayani para peneduh. Tidak mau kehilangan kesempatan emas, ada juga muda-mudi yang memanfaatkan momen ini untuk bermersaan menikmati sejuknya udara Kota Bandung saat hujan.

Yang jadi permasalahan adalah motor mereka yang diparkir dipinggir jalan. Pada awalnya motor diparkir rapih berdekatan ke trotoar, tapi lama kelamaan pengendara motor yang berteduh semakin banyak dan motor yang mereka parkir makin menutupi satu ruas jalan. Beberapa dari mereka ada yang sadar akan kesalahan parkir tersebut lalu memindahkan motor mereka ke tempat yang tidak mengganggu arus lalu lintas. Sayangnya ada juga yang keukeuh dengan kesalahannya dan mengakibatkan terhambatnya arus lalu lintas.

"berteduh sambil santai duduk-duduk, ada juga pedagang yang berjualan"

Yah bagi mereka yang keukeuh biasanya akan dihadiahi bentakan oleh pengemudi mobil, klason kencang bertubi-tubi maupun tatapan tajam penuh amarah. Dan bisanya pengemudi motor akan cuek bebek bersantai dipinggir jalan. Biarpun sikap kurang baik ini tidak dilakukan oleh semua pengendara, berapapun jumlahnya, tetap saja pasti sangat mengganggu pengemudi lain.

Begitulah rupa-rupi kehidupan pengendata motor saat hujan. Tidak seperti pengendara mobil yang dilengkapi atap besi dan kursi empuk, pengendara motor layaknya penunggang kuda, harus tahan panas maupun hujan. Tapi bagaimanapun dan dengan alasan apapun ketertiban harus tetap dijaga, karena semua demi kehidupan jalanan yang harmonis.

FERRY FADILAH,  AGUSTUS 2010

Advertisements

,

Leave a comment

Hilangnya Bandung Kami

Keindahan alam merupakan sebuah media untuk meluapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena pada umumnya, ketika melihat sebuah ciptaan maka manusia akan bertanya-tanya tentang siapa penciptanya dan tentu akan mengagung-agungkan penciptanya. Setelah  itu kata-kata baik akan terlontar dari mulut manusia atau bahkan dituangkannya di buku harian dalam bentuk sajak-sajak yang indah.

Alam dengan segala keindahannya pun telah menjadi inspirasi bagi jutaan orang. Ia menjadi inspirasi bagi motif kain batik, menjadi inspirasi bagi upacara adat, inspirasi bagi cara bersosialisasi, inspirasi bagi dunia sastra atau inspirasi bagi ilmu bela diri. Dikarenakan kontribusinya bagi inspirasi manusia, maka adalah sebuah kewajiban bagi kita untuk menghormatinya.

***

Sebuah kota yang terlahir dari pengeringan danau purba beberapa juta tahun yang lalu merupakan sebuah anugerah bagi manusia setelahnya. Jasad renik yang tertimbun di dasar danau kini telah membentuk susunan tanah yang amat subur. Bahkan ada yang berani menyatakan bahwa dengan melempar biji apa saja ditanah tersebut maka akan tumbuh subur tanpa perawatan apapun. Dan memang benar, dahulu ketika masa raja-raja memerintah di tanah sunda belum ada satupun rakyatnya yang mati kelaparan.

Ialah Kota Bandung yang kemudian dijuluki Paris van Java oleh pemerintah Hindia Belanda. Karena keindahannya seperti kota paris inilah, kota bandung menjadi tempat tinggal idaman bagi menak-menak belanda. Hal ini dapat dilihat dari deretan perumahan ala belanda di daerah bandung utara. Dari cara membangunnya sangat terlihat bahwa mereka ingin menjadikan wajah bandung seperti kota-kota eropa lainnya, yang bergaya art deco.

"persawahan di daerah buah batu"

Tidak hanya itu, kota bandung yang dikelilingi oleh gunung-gunung telah memberikan kesejukan bagi penduduknya. Belum lagi gunung-gunung tersebut menawarkan keindahan dan ketenangan bagi siapapun yang stress setelah bekerja dengan hiruk pikuk kehidupan di kota-kota besar. Ternyata ada benarnya juga ungkapan : Tuhan pasti tersenyum ketika menciptakan kota bandung.

Sekarang mari kita melihat Kota ini sekarang. Bahwa semua puja puji bagi kota bandung itu ada, jauh sebelum matahari tahun 2010 terbit, Jauh sebelum tol purbaleunyi dibangun oleh pemerintah dan Jauh sebelum jembatan layang pasupati berdiri di kota ini.

Persawahan yang sebenarnya adalah sisa-sisa sawah yang dilihat dari pagar batas salah satu perumahan elit di kota bandung

Kehebatan itu membekas di benak warga kota bandung sampai saat ini walaupun realita mengatakan lain. Kini bandung dipenuhi oleh banyak pendatang setiap sabtu dan minggu, menciptakan lautan mobil berplat B yang hilir mudik keluar masuk pertokoan untuk berbelanja, menciptakan kemacetan dan mencemari udara. Belum lagi para pendatang yang tertarik dengan kota ini lalu menetap dan beranak pinak lalu membangun pemukiman-pemukiman yang ribuan jumlahnya.

Pola ekonomi yang berubah pun telah mengacak-ngacak wajah bandung. Para petani yang dahulu menjaga sawah leluhurnya untuk menafkahi keluarga kini lebih memilih menjualnya dengan harga tinggi yang kemudian dari tanah tersebut berdiri kokoh mal-mal dan hotel-hotel. Sudah banyak sawah-sawah tersebut menghilang, yang akhirnya meninggalkan kenangan nyayian padi yang bergesekan diterpa angin.

Sawah-sawah itupun ada yang sengaja dikeringkan oleh pemiliknya karena alam yang sudah tidak lagi bersahabat. Menjualnya. lalu berdirilah komplek-komplek rumah mewah dengan  harga yang hanya dapat diperuntukan  khusus bagi golongan priyayi. Komplek tersebut umumnya dikelilingi pagar beton berpucuk kawat berduri, menciptakan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.

Tahun berganti tahun, manusia semakin banyak dan semakin ramai merusak sawah-sawah. Pun bukit-bukit hijau tidak terhindar dari tangan rakus manusia. Yang dahulu di puja puji bisa jadi nanti di hina-hina. Saya sendiri tidak bisa berbuat banyak, karena saya hanyalah seorang saya. Satu dari ribuan penduduk yang bermukim di Kota Bandung.

, ,

Leave a comment