Posts Tagged budaya

Dangkal

Dia datang tepat pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah melakukan registrasi elektronik di mesin absensi, ia melangkah santai menuju kantin, memesan segelas kopi dan gorengan hangat di piring kecil. Orang-orang belum berdatangan ke kantor. Hanya ada dia dan cleaning service  yang bersungut membersihkan debu di atas lemari arsip. Ia tidak peduli dengan para pesuruh itu. Sambil menyeruput secangkir kopi Toraja ia menyalakan personal computer dan mendengarkan gamelan Bali yang mengalun mistis. Ia memejamkan mata sejenak. Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Saat membuka mata, wajahnya berseri. Ia buka ransel hadiah pelatihan komputer di Bandung tempo lalu, sebuah buku merah setebal 600 halaman dengan potret Tan Malaka berjudul “Materialisme, Dialektika dan Logika” siap untuk dibaca.

Dia sangat suka membaca, membaca apapun.  Majalah Menara Pengawal yang dibagikan Jemaat Saksi Yehowah yang diterimanya dipinggir jalan saat senja di ibu kota ditelannya habis. Jurnal kebudayaan yang diunduh dari laman sebuah situs universitas ternama luar negeri  ia lumat perlahan-lahan. Buku filsafar dari era Plato hingga Amartya Sen ia telaah dengan teliti. Bahkan tanda merek yang terdapat pada baju yang berisi informasi negara pembuat, bahan dan cara perawatan tidak luput dari matanya. Ia suka membaca apapun. Kali ini di kantor ia kembali melanjutkan membaca “Madilog” yang sempat tertunda karena padatnya pekerjaan.

Sambil mengarahkan telunjuk ke arah kalimat pada buku, ia membaca lirih, “Buat Hegel absolute idea ialah, yang membikin benda Realitat. Die Absolute Ide Macht die Gesichte….”

Ia menghentikan bacaannya. Dahinya berkernyit. Kedua jarinya memegang pelipis dengan tekanan yang kuat, ”Istilah apa itu?”

Tidak mau kalah sebelum bejuang, ia melanjutkan bacaan, “Absolute idea yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya melainkan absolute idea “deren nachdrucklichen ausdruck. Die pilosohie ist”, yang tergambar nyata pada….

“Hei, Lif! Ngapain kok serius banget. Pagi bener dah datang ke kantor kaya anak kuliahan.” tegur teman satu kantornya menghentikan bacaannya.

“Emang gue biasa datang cepet kok,”  jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia pegang.

Ah sombong lu, diajak ngomong nengok aja kaga!” balas kawannya kesal.

Alif menoleh kemudian memberi senyum sinis. Sebenarnya dia tidak seketus itu. Kali pertama bertemu dengan kawannya, ia menunjukan sikap persahabatan yang tulus. Percakapan bisa terjalin berjam-jam, kapan pun dan dimana pun. Tapi ini tahun ke tiga mereka bekerja di sana. Waktu yang cukup lama bagi seorang pegawai di tempat yang sama. Dia mulai muak dengan semua perbincangan. Menurutnya, tidak hanya kawannya itu tapi semua orang di kantor itu adalah pecinta kedangkalan. Mereka lebih suka membicarakan besaran gaji, kenaikan gaji, tunjangan tambahan, uang pensiun, biaya perjalanan dinas, uang lembur, cicilan mobil, uang muka rumah, botol arak, wanita penghibur, pernikahan, istri, atau tentang anaknya yang kebetulan baru bisa berjalan walau tertatih. Dia muak dengan semua itu. Muak. Ia rindu perbincangan filosofis. Ia rindu dengan percakapan tentang hidup, kematian, jiwa, keadilan, cinta, hukum, politik, ekonomi dan pengalaman ruhiyah semasa kuliah. Ia rindu bercakap berjam-jam sambil merenungkan berbagai hal di dunia. Ia rindu berbicang imajinatif dengan Aristoteles hingga Sigmund Freud tentang segalanya. Ia rindu itu semua. Momen itulah yang membuatnya selalu tampak ceria dan antusias. Tapi kantor ini dan orang-orangnya hanya menyuguhkan kedangkalan dan kebanalan,. Sejak itulah hidupnya murung dan ia jarang terlibat dalam percakapan.

Waktu menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Ruangan sempit bersekat itu sudah dipenuhi pegawai yang berpakaian necis. Karena pekerjaan belum terlalu banyak, mereka berkumpul di dekat mejanya dan terlibat dalam gelak tawa yang memekakan telinga. Dalam keriangan itu, Alif tetap dalam posisinya semula, tertunduk membaca buku.

Dia kembali membaca di dalam hati, “Madilog  bukanlah barang yang baru dan bukanlah….”

“Lif, ngapain sih lu. Sini gabung kita. Sombong dah!

Tanpa menoleh, ia meneruskan membaca, “…bukanlah barang yang baru dan bukanlah buah pikiran saya. Madilog adalah pusaka yang saya terima dari…”

Lu denger kaga? Cieee.. yang berasa paling pinter sekantor. Serius amat bacanya.. hahaha..”

Mendengar itu mukanya merah. Ia kehilangan fokus. Baginya deretan tulisan pada buku hanyalah penampakan tanpa arti. Pandangannya berputar dari kata ke kalimat, dari kalimat ke paragraf. Ia lupa dengan apa yang sudah dibacanya. Seketika juga otaknya berdenyut keras. Namun ia tetap dalam posisinya semula, tertunduk seolah-olah membaca.

Lif! Sini lu mah kok kaya kurang pergaulan gitu!”  salah satu kawannya menghampiri meja Alif. Mengangkat buku “Madilog” yang agung itu. Melihatnya terheran-heran kemudian melemparkannya ke meja sebelah namun terjatuh dan mendarat beberapa cm dari tempat sampah.

“Bangsat!” maki Alif.

Emosinya memuncak. Ia tahu amarahnya bisa menyulut konflik berkepanjangan. Tapi ia tidak rela waktu senggang yang biasa ia gunakan untuk membaca itu kini harus terampas. Pulang kerja pukul enam sore ia harus berjibaku dengan macetnya jalan ibu kota. Perjalan berpeluh keringat dengan motor bebek tahun dua ribuan itu mengantarnya sampai ke Tangerang Selatan pukul delapan malam. Setelah itu ia harus membersihkan tai anjing tetangga yang kerap mejeng  di teras rumah. Belum lagi membersihkan sisa bocor akibat hujan badai seminggu berturut-turut. Setelah itu minatnya untuk membaca pasti ambruk. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan menanti alarem handphone Oppo edisi selfie berdering di samping telinganya. Esoknya ia harus kerja lagi. Dan melakukan hal yang sama berulang. Maka sebuah waktu senggang untuk membaca buku adalah momen berharga baginya.

“Apa lu bilang?”

“Bangsat. Anjing. Babi. Ambil buku itu, njing!”

Tanpa banyak pikir kawannya melayangkan tinju ke arah hidung Alif. Namun, ia tidak mengelak. Tiga tahun ia habiskan untuk belajar Tae Kwon Do. Satu tahun Merpati Putih. Tiga bulan Kungfu Wing Chun. Ia melangkah dengan anggun, menyambut pukulan itu dengan tangan terbuka, mencengkeramnya dan menariknya ke arah telinga kiri sambil menyerang dengan sikut ke arah hidung lawan. Darah bercucuran di karpet. Semua orang terpengarah. Tapi ada senyum puas pada wajah Alif.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

Leave a comment

Pemuda Hijrah: Antara Gaul-Sekuler dan Cupu-Islamis

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”, Pidi Baiq.

Kalimat ini ditulis di bawah jembatan penyebrangan khas kolonial sekitar alun-alun Kota Bandung. Ditulis seniman asli kota ini yang dikenal melalui novel romansanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Sayangnya kita tidak akan membahas Pidi Baiq dan novel populernya itu. Tulisan ini akan membahas “itu melibatkan perasaan” kalimat dimuka yang akan membawa lamunan indah tentang kota kembang.

Bandung berhasil memikat setiap orang yang pernah bertandang walau sesaat. Setiap akhir pekan, mungkin, ribuan mobil bernomor polisi “B” memenuhi ruas tol Pasteur dan Buah Batu. Mereka membawa uang yang akan menambah pundi-pundi para pengusaha kota kreatif ini. Kuliner yang enak, café disekitar dago yang romantis, harga barang yang murah dan taman tematik yang menawan adalah produk wisata kota ini yang selalu dirindukan oleh pendatang. Terutama bagi mereka yang dapat membeli apapun dengan uang.

Perantau yang bekerja di luar Bandung juga merindukan hal serupa. Bandung yang berkabut di tengah lampu temaram Jalan Braga, kerlap-kerlip neon pemukiman yang indah dari perbukitan dago dan pemusik jalanan yang lihai bermain harmonika bersamaan dengan gitar di perempatan jalan adalah lembar-lembar grafis di alam bawah sadar yang selalu mengingatkan perantau tentang orang tua mereka, persahabatan atau kisah cinta yang pernah kandas.

Tapi apakah Bandung hanyalah tentang makanan, belanja dan pemandangan belaka? Mula-mulanya itulah yang saya rindukan. Namun, setelah mengenal sebuah gerakan islam di masjid Al-latif paradigma ini berubah.

Gerakan Pemuda Hijrah dimotori oleh event organizer bernama SHIFT yang menjadikan Masjid Al-Latif sebagai markas besarnya. Seperti namanya, hampir setiap hari kegiatan ini diikuti oleh pemuda edisi 90an. Mereka menemukan jalan hijrah melalui para dai di atas mimbar yang kerap menggunakan bahasa populer dalam menyampaikan risalah Islam. Misalnya kajian yang diberikan oleh Ustadz Evie Effendi. Dai nyentrik dengan busana gaul  ini selalu menyelipkan puisi, bahasa sunda gaul, dan lagu populer sembari menyelipkan tauhid dan syariat Islam kepada para jamaah. Walaupun isi ceramahnya tidak dalam, tapi tampilan dan gaya bahasanya berhasil memikat psikologi para pemuda yang baru menempuh jalan hijrah. Sehingga pemandangan anak muda dengan kaos oblong yang menangis dalam ceramahnya adalah hal lumrah sekaligus mengagumkan.

Metode dakwah semacam ini mengingatkan saya cara dakwah Marxian ala Martin Suryajaya (2014) dalam essainya berjudul “Marxisme dan Propaganda ” yang saya bahasakan ulang sesuai iman Islam:

Sebaliknya, mulailah dengan cara ortodoks: (1) abaikan semua kosakata Islami, (2) masuk ke dalam kosakata sang subjek, (3) ikuti penalaran si subjek dan rekonstruksi metodenya, (4) ekplisitkan atau beri penekanan pada “Iman Islam” yang sebetulnya sudah inheren dalam penjelasan sang subjek tanpa sekalipun menggunakan kosakata Islam, atau tunjukan kekeliruan dari metode pemikiran yang ia gunakan dengan penjelasan yang selaras bagi sekema dan kosakata berpikirnya, (4) tunjukan bahwa Islam itu punya konsekuensi  pada gagasan tertentu tentang kenyataan seperti yang dikupas Al-Quran dan Al-Hadist.

Bagaimana langkah-langkah ini bekerja dalam metodologi dakwah pemuda hijrah? Selain gaya bahasa para dai yang populer dan menghindari kedalaman materi. Para marketing pemuda hijrah pandai menyebarkan gagasan melalui jejaring sosial seperti instagram, twitter dan line. Tajuk-tajuk setiap pertemuan juga mengambil kalimat populer yang muda diingat. Seperti Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Dusta Pembawa Sengsara, Ladies Day: The Real Miss Universe, Defend Your Faith, Light and Dark Side, Math of God  dan lain sebagainya. Selain itu, hijrahnya pemain band, pentolan klub motor dan mantan narapidana berhasil memikat orang-orang senasib sehingga menghilangkan rasa sungkan calon jamaah untuk ikut mendengarkan ceramah di Masjid Al-latif.

Hal paling menarik dari kegiatan ini adalah keberhasilan panitia acara untuk mengajak ratusan jamaah muda di malam minggu, hingga masjid di pusat kota ini penuh sesak. Kalau hal ini terjadi di malam senin tentu hal biasa. Malam minggu! Alih-alih kongkow sambil ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi dan rokok atau pacaran bergandengan tangan di Paris van Java, mereka malah merelakan waktu untuk berdesakan sambil duduk bersila mendengar wejangan para ustadz. Sebuah bentuk militansi yang mengagumkan ditengah nikmat hedonisme yang selalu menggoda.

Pertanyaan kemudian yang layak diajukan adalah mengapa anak muda kota Bandung tertarik dengan kegiatan ini?

Saya sebagai warga kota Bandung yang lahir di tahun 90-an berusaha menjawab dengan pengamatan sederhana selama bersekolah di Jalan Citarum. Bandung pada masa itu (hingga kini?) adalah surga bagi para pemusik. Band-band lokal banyak yang mendapatkan ketenaran di tingkat nasional karena berhasil meramu lagu unik dan sederhana yang mudah diingat kawula muda. Gaya hidup anak muda juga terfasilitasi oleh investor swasta maupun koperasi angkatan darat. Arena billiard, bowling, kolam renang, bioskop, café, restaurant, taman tematik atau minimarket 24 jam menjadi destinasi kongkow sekaligus monumen gaya hidup urban yang sayang untuk ditinggalkan. Pemuda yang berkubang dalam gaya hidup seperti ini saya sebut ‘pemuda dalam kondisi pertama’.

Di lain sisi, ‘pemuda dalam kondisi kedua’ adalah mereka yang kebetulan terlahir dalam keluarga relijius. Umumnya mereka akan sibuk dengan urusan akhirat di masjid-masjid, berkumpul secara eksklusif bersama komunitas islami dan memiliki wawasan dunia seputar keislaman semata hingga –beberapa-  lupa untuk menerangi kejahiliahan menuju cahaya seperti yang diamanatkan Muhammad SAW. Bagi pemuda dalam kondisi pertama, mereka dilabeli sok relijius atau nggak gaul.

Saya yakin bahwa -bagi pemuda dalam kondisi pertama- hasrat yang terus disalurkan dengan kesenangan pasti akan menemukan titik jenuh. Mereka akan merasakan kekosongan kemudian depresi. Pada saat itu pertanyaan eksistensial akan mengemuka. Siapa Aku? Kenapa aku diciptakan? Mengapa Aku ada? Saat pemuda di dalam kondisi kedua mengambil jarak dari permasalahan mereka, pemuda dalam kondisi pertama akan sangat mudah terjerumus kepada tindakan amoral seperti penggunaaan narkotika, seks bebas bahkan dalam kondisi ekstrim dapat mengakhiri hidupnya dengan menenggak segelas baygon cair di kamar kost.

Gerakan pemuda hijrah seolah hadir untuk menghubungkan kedua kondisi pemuda ini. Seperti Nabi yang selalu menggunakan bahasa kaumnya untuk berdakwah. Pemuda hijrah juga menggunakan bahasa populer untuk berdakwah. Sehingga distingsi antara pemuda gaul-sekuler dengan cupu-islamis dapat dirombak dan dikonstruksi menjadi ukhuwah tauhid yang egaliter.

Tampaknya kalau gerakan ini tetap istiqomah dan secara teratur menghasilkan pemuda yang militan dalam Islam, ‘Bandung Juara’ tidak lagi berwujud tata kelola kota yang semata-mata estetis dan ramah anak tapi juga melimpahnya berkah dari Sang Pencipta di jantung Priangan.

Semoga.

Ferry Fadillah. Bandung, 16 April 2016.

, , , , , , ,

6 Comments

Cerita Calon Arang

Judul               : Cerita Calon Arang

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara (2015)

Tebal               : 94 halaman

Dongeng adalah tradisi lisan yang kerap diselimuti kabut mitos dan takhayul. Pendengar atau pembaca dongeng digiring untuk merasakan ‘kesan’ dari suatu cerita, bukan rentetan fakta yang sahih dan presisi. Walaupun dongeng tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, karena ia lebih dekat kepada imaji daripada fakta, narasi-kultural-historis ini telah hadir selama berabad-abad dalam ingatan kolektif bangsa kita; membentuk kesadaran bersama, mewarnai kebudayaan nusantara dan membantu konstruksi imajiner atas sebuah bangsa besar bernama Indonesia.

Calon Arang adalah salah satu dongeng itu. Cerita ini tersebar dari lisan ke lisan; dari satu generasi ke generasi lain. Catatan tertulis Calon Arang ialah berupa kakawin yang ditulis dalam aksara Bali namun menggunakan bahasa Kawi (jawa kuno). Sayangnya, naskah berharga ini tersimpan di Koninklijk Instituut Voortaal-Land-en Volkenkunde van Ned. Indies, Leiden. Usaha filolog kebangsaan Indonesia untuk menerjemahkan naskah ini sudah dirintis oleh Poerbatjarakan (1926) namun masih menggunakan bahasa Belanda dengan kode naskah LOr 5279 (5387), LOr 4562, dan LOr 4561. Terakhir kali, cerita ini terus diproduksi ulang dan ditafsir sesuai keinginan penulis. Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, kali pertama menulis ulang cerita Calon Arang pada tahun 1954 dengan judul Dongeng Calon Arang. Beberapa penulis wanita juga turut menyemarakan penulisan ulang cerita ini. Di antaranya, Cok Sawitri, seniman dan sastrawan asal Bali yang menulis Janda dari Jirah (2007) dan Toety Heraty yang memasukan ideologi fenimisme kedalam tulisannya Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000).

Calon Arang

Calon Arang

Calon Arang

Syahdan, disuatu negeri bernama Kerajaan Daha (Kediri) berkuasalah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Maha Raja Airlangga namanya. Di dalam kekuasannya kebutuhan sandang pangan rakyat terpenuhi. Perdagangan dengan bangsa asing dibuka seluas-luasnya demi kemakmuran tanah Jawa. Para pendeta dihormati dan mendapat kedudukan yang layak sebagai kelas Brahma yang disucikan.

Beberapa kilometer dari ibu kota, ada sebuah dusun kecil yang bernama Girah. Di dusun ini tinggal seorang pendeta yang mahsyur karena kesaktiannya bernama Calon Arang. Tanpa ditemani seorang suami, pendeta ini hidup bersama putri sulungnya, Ratna Manggali. Ratna masih muda dan cantik jelita. Setiap orang pasti terpesona olah kecantikannya.

Calon Arang adalah seorang penyembah Dewi Durga. Ia dikenal dengan kesaktiannya meneluh orang. Siapa saja yang berpapasan dengannya dan menyakiti hatinya, pasti keesokan harinya ditemukan mati mengenaskan tanpa sebab yang jelas. Bersama dengan murid-muridnya, Calon Arang selalu mempersembahkan korban manusia dan mandi darah manusia di pekuburan tua.

Ratna Manggali sudah memasuki usia perkawinan. Namun, karena kekejaman ibunya, tidak ada seorang pemuda desa pun yang berani mendekati Ratna. Kondisi yang memprihatinkan ini sering kali menjadi gunjingan penduduk desa dimana-mana.

Kesal karena tidak ada seorang pemuda pun yang mau menikahi Ratna Manggali. Calon Arang berencana melakukan pembunuhan besar-besaran. Setelah mempersembahkan korban dihadapan Dewi Durga, ia diberi kemampuan untuk menyebarkan penyakit ke seluruh wilayah Kerajaan Daha kecuali ibu kota kerajaan. Akhirnya, banyak rakyat yang tidak bersalah menjadi korban. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Sawah dan ladang sudah tidak ada lagi yang mengurusi. Kerajaan Daha berada di ujung kehancuran.

Melihat kondisi yang meresahkan ini, Raja Airlangga memerintahkan Ken Kanuruhan untuk meminta bantuan kepada Mpu Baradah di Lemah Tulis. Sang Mpu yang juga terkenal sakti dan baik ini menyetujui permohonan raja. Namun, Mpu Baradah juga sadar bahwa kesaktiannya masih kalah dari Calon Arang. Maka untuk menaklukan janda penyihir itu diperlukan sebuah siasat. Diutuslah muridnya, Mpu Bahula, untuk menikah dengan Ratna Manggali. Harapannya, Mpu Bahula dapat memeriksa dari dekat rahasia kesaktian Calon Arang.

Singkat cerita. Mpu Bahula berhasil mencuri kitab yang digunakan Calon Arang untuk menambah kesaktiannya. Bekerjasama dengan Ratna Manggali, kitab itu segera diserahkannya kepada Mpu Baradah untuk dipelajari.

Setelah mengetahui kelemahan Calon Arang, Mpu Baradah menyembuhkan semua orang yang terkena teluh. Terakhir, ia beradu kesaktian dengan Calon Arang dan berhasil mengalahkan penyihir itu di depan murid-muridnya.

Bahasa Pram dalam Cerita

Pram terkenal sebagai seorang sastrawan realis-sosial yang selalu menggunakan bahasa sastrawi dalam karya-karyanya. Misalnya apa yang Pram tulis dalam tetralogi Bumi Manusia, atau cerita zaman kerajaan seperti Arus Balik dan Mangir. Dalam cerita kali ini, Pram menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan menggunakan alur yang muda ditebak. Hitam dan putih. Sebagian pembaca mungkin akan kecewa bahkan sebagian lagi ada yang mecela karya ini.

Akan tetapi, menurut penulis, cerita yang ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami ini adalah wajar. Mengingat di dalam pengantarnya tahun 1954, Pram menulis, “Buku ini disusun sebagai buku kanak-kanak, agar bisa membangkitkan cerita lama pada mereka. Di samping itu mungkin pula jadi bahan-bahan infomasi bagi murid-murid Sekolah Menengah.” Dan bagi kanak-kanak memang yang dibutuhkan adalah bahasa sederhana dan alur yang mudah dimengerti.

Permasalahannya kemudian adalah apakah bagian-bagian yang penuh dengan kekerasan dalam cerita ini cocok bagi kanak-kanak? Misalnya dalam bagian Calon Arang Mulai Mengganas tertulis sebagai berikut :

Tiap-tiap waktu murid-murid harus berkeramas. Yang dipergunakan mengeramasi rambut adalah darah. Darah itu adalah darah manusia juga. Karena itu rambut murid-murid Calon Arang lengket-lengket dan tebal. Kalau mereka sedang berpesta tak ubahnya dengan sekawanan bintang buas. Takut orang melihatnya. Kalau ketahuan orang mengintip, orang itu diseret ke tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan keramas.

Darah. Bunuh. Pesta. Imajinasi seperti apa yang akan lahir di benak kanak-kanak. Walau begitu, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan Pram atas tulisannya. Tulisan ini tidak banyak berubah dari naskah aslinya dalam bahasa Kawi. Ini adalah salah satu cara Pram menghormati kebudayaan para nenek moyang bangsa ini. Peran serta pendidik atau orang tua dalam memaknai dan memberikan tafsiran etik pada beberapa bagian cerita ini sangat diperlukan. Hasilnya adalah kanak-kanak Indonesia yang bisa membedakan baik-buruk disamping tidak lupa dengan nilai luhur yang diwarisi oleh nenek moyangnya.

Kesimpulan

Cerita Calon Arang adalah pertempuran abadi antara darma dengan adharma. Kekuatan darma (kebaikan) diwakili oleh tokoh Mpu Baradah. Kekuatan adharma (kejahatan) diwakili oleh tokoh Calon Arang. Pada dasarnya kedua tokoh adalah orang baik dengan ilmu yang baik, namun pengendalian emosi yang buruklah menyebabkan Calon Arang terjebak dalam lembah dosa.

Dalam setiap pertempuran, antara darma dengan adharma, kemenangan tidak ditentukan oleh sikap perilaku. Kemenangan ditentukan oleh penguasaan keahlian dan ilmu. Calon Arang dengan perangainya yang buruk bisa mengalahkan musuh-musuhnya di awal cerita karena dia memiliki ilmu rahasia yang secara disiplin dipraktikan. Begitu juga dengan kekalahan Calon Arang, juga disebabkan oleh ilmu rahasianya sendiri yang berhasil dicuri oleh Mpu Baradah. Dalam hal ini, Pram berusaha membuat pembaca insyaf bahwa penguasaan ilmu adalah mutlak diperlukan baik untuk mempertahankan diri maupun untuk menjaga martabat di hadapan musuh.

Bukankah kekalahan kita dihadapan penjajahan fisik Belanda-Jepang dan penjajahan ekonomi-budaya Amerika disebabkan kita terlalu lamban dan menganggap remeh peran ilmu pengetahuan?

Ferry Fadillah. Bandung, 11 November 2015.

,

Leave a comment

Bumi Pasundan dan Kerusakan Alam

Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum

M.A.W. Brouwer1

Begitulah seorang Brouwer melukiskan indahnya Bumi Pasundan melalui rangkaian kata-katanya. Rakyat pasundan sering mengingat kutipan di atas. Bahkan di Kota Bandung, kutipan ini ditulis besar di bawah jembatan penyebrangan yang menyerupai benteng era kolonial di daerah alun-alun kota. Ya, Pasundan. Gugusan gunung saling jalin-menjalin membentuk formasi indah di segala penjuru mata angin. Air bersih melimpah ruah dari sungai, danau dan bawah tanah. Tanah subur tersebar luas di sepanjang patahan vulkanik. Ragam tanaman tumbuh menghijau dan hampir semuanya bisa diolah menjadi penganan. Belum lagi rakyatnya yang kaya akan budaya, ramah dan religius. Nyunda, Nyantri Nyakola.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah Tuhan masih tersenyum melihat Bumi Pasundan kini?

Perjalanan Jakarta-Bandung dan sebaliknya adalah rutinitas yang harus saya lewati minimal dua kali dalam sebulan. Jalan cepat yang biasa ditempuh masyarakat adalah jalur kereta api Argo Parahyangan atau jalan bebas hambatann Purbaleunyi. Kalau tanpa hambatan, waktu tempuh hanya 3 jam saja.

Di sepanjang perjalanan, ketika sudah memasuki daerah priangan2 kita akan menyaksikan rangkaian pegunungan, pertanian rakyat dan sungai besar. Apakah gambaran keindahan bumi pasundan yang digambarkan Brouwer tampak? Ya, namun dengan kerusakan parah di berbagai sisi.

Jalan tol yang mepercepat jarak tempuh Bandung-Jakarta itu sendiri telah merusak lahan hijau di perbukitan priyangan. Belum lagi perkebunan warga yang seolah tidak diatur oleh negara. Kebun-kebun itu berdiri di atas lereng bukit yang rawan longsor, bahkan di puncak-puncak bukit yang tentu mengorbankan banyak pohon penyerap air yang kelak dapat menahan longsor. Di pegunungan karst Cipatat tidak kalah perih hati melihat. Eksavator bederet menguning menggali punggung gunung kapur menyisakan bopeng-bopeng dan merusak vegetasi alam. Bekas-bekas galian itu akan gersang dan digenangi oleh air hujan. Tidak jarang juga terlihat perumahan elit baru di atas perbukitan yang tadinya dipenuhi pohon-pohon besar.

Kalau ingin lebih detil melihat kerusakan Bumi Pasundan. Cobalah berjalan kaki ke Taman Hutan Raya Ir H Djuanda. Perjalanan bisa dimulai dari Gua Belanda di Bandung sampai Curug Omas di Kab. Bandung Barat. Jarak tempuh sekitar 6 km. Di sepanjang jalan menuju lokasi tiket saja sudah ditemukan banyak sampah plasik yang tergeletak hampir di sepanjang jalan. Seperti sengaja di lempar dari kendaraan. Di dalam hutan sendiri sampah tidak kalah banyaknya, sampah berserakan di sekitar akar pohon dan pondok kayu di beberapa sudut hutan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah sampah plastik dan busa rumah tangga yang tertumpuk di bawah aliran Curug Omas. Sampah-sampah itu tidak semua terbawa ke hilir. Sebagian besar tersangkut di akar pohon, berputar di pusaran air pertemuan aliran sungai cikapundung bahkan mengendap di dasar sungai.

Menyedihkan. Bumi Pasundan yang dikenal dengan awalan Ci -yang artinya air- dalam setiap nama tempatnya seharusnya memiliki masyarakat yang menunjukan penghargaan yang tinggi terhadap setiap sumber air, namun yang terjadi sebaliknya. Rakyat Pasundan mulai dari level Pemerintah hingga Pedagang kecil harus memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungan mereka. Karena kerusakan atau pencemaran di tanah dan udara pasti akan berujung kepada kualitas air di sungai. Padahal air sungai memiliki peran vital bagi kehidupan pertanian, industri rumah tangga dan spiritualitas dalam arti umum.

Dunia memang sedang berubah. Ekonomi yang ditunggangi kapitalisme buta terhadap moralitas dan spiritualitas. Satuan terbesar dan terkecil dalam hidup ini harus dikapitalisasi. Tidak terkecuali alam Pasundan yang indah. Tanahnya yang subur harus sudi dijadikan ladang yang di pupuk dengan pupuk kimia. Gunungnya yang kaya kapur harus rela digerogoti demi pundi-pundi penambang kapur. Sungainya yang indah harus ridha dicemari oleh industri berat dan rumah tangga.

Kalau ini terus berlanjut jangan harap Tuhan akan terus tersenyum. Mungkin Dia sedang murka dan malu melihat tingkah kita.

Ferry Fadillah. Bandung, 26 Agustus 2015

 

  1. Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau dikenal dengan M.A.W Brouwer (14 Mei 1923 – 19 Agustus 1991) lahir di Delft dan meninggal di negeri Belanda adalah seorang fenomenolog, psikolog, budayawan yang sangat dikenal karena kolom-kolomnya yang tajam, sarkastik dan humoris di berbagai media masa di Indonesia terutama pada era tahun 70an sampai 80an (sumber : www.wikipedia.com)
  2. Priangan saat ini merupakan salah satu wilayah Propinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, yang luasnya mencapai sekitar seperenam pulau Jawa (kurang lebih 21.524 km persegi). Bagian utara Priangan berbatasan dengan Karawang, Purwakarta, Subang dan Indramayu; sebelah selatan dengan Majalengka, Kuningan; dengan Jawa Tengah di sebelah timur dibatasi oleh sungai Citanduy; di barat berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi, sedangkan di selatan berhadapan dengan Samudera Indonesia (sumber : www.wikipedia.com)

, , , , , ,

1 Comment

Run (baca : lari)

Saya bukan seorang kritikus apalagi mahaguru. Namun, perkembangan budaya akhir-akhir ini, khususnya di kalangan muda-mudi, memancing saya untuk membahasnya.

Color Run. Light Run. Night Run. Seolah-olah menggambarkan jenis kegiatan yang berbeda-beda, padahal semua berada dalam satu rumpun yang sama yakni run (lari;Indonesia). Yang membedakan antara satu dan yang lain bukanlah atas kehendak run itu sendiri tapi manusia sebagai creator yang memang tidak memiliki rasa puas sejak Adam di kahyangan sana.

Manusia ditempatkan dalam Kingdom Animalia bukan tanpa alasan. Tipis. Manusia tanpa pikir, maka binatanglah ia. Begitu juga sebaliknya, binatang dengan pikir, maka manusialah ia. Dan yang mempertautkan antara manusia dengan binatang adalah libido atau hasrat (desire). Manusia dan Binatang memiliki hal yang sama.

Mula-mula ketika mood jelek, muda-mudi berpikir untuk mengkonsumsi coklat untuk menghilang penat. Kemudian, coklat tidak lagi memiliki efek. Ketika rasa gusar itu kembali datang, mungkin, ia akan mengkonsumsi ice cream mahal di mall terdekat. Sayang, ice cream itu lagi-lagi tidak memiliki efek. Maka, mereka akan terus mencari pemenuhan hasratnya. Makan di restoran mahal, belanja membabi buta, bercumbu dengan kekasih atau berganti-ganti pasangan sampai libido itu terpenuhi, padahal tidak mungkin terpenuhi.

***

Run, bisa dikategorikan sebagai meme yang menurut Mihaly Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psycology for the Third Millenium, menggunakan istilah ini untuk menjelaskan unit informasi kultural, yang merupakan padanan dari istilah gen (gene). Istilah meme berkaitan dengan kata Yunani mimesis, yang berarti meniru. Meme adalah semacam pesan kultural yang berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui contoh-contoh dan imitasi1

Run sebagai meme pun demikian. Melalui dunia nyata yang dilipat dalam bit-bit televise dan media online, Run mengalami salinan (replica), kembaran (doubles), duplikat, ikonisme atau keserupaan (similitude). Sehingga kita bisa saksikan, perkembangannya yang memikat padahal hanya berkutat di masalah olaharaga belaka : lari.

Manusia sebagai puncak rantai makanan memang dikaruniai libido. Saya tidak pernah menyarankan siapa pun untuk menghilangkan libido itu seperti petapa yang mencari moksa di pedalaman hutan Kambodja. Masalah timbul ketika konsep masyarakat tontonan (Society of Spectacle) diperkenalkan . Yakni, masyarakat yang hampir segala kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan, dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Pasif. Dikendalikan oleh media.

Libido. Meme. Society of Spectacle Semua muncul dalam ruang perbincangan budaya. Pertanyaanya bukanlah masalah mana yang baik-buruk, transenden-imanen, luhur-rendah, tapi sejauh mana peran kita sebagai muda-mudi. Penerus kehidupan di masa yang akan datang.

Terpengaruh oleh suatu meme kemudian dengan libido melakukan salinan atau kembaran dan meng-amin-kan diri sebagai masyarakat tontonan. Pasif. Tanpa perlawanan, tanpa daya cipta. Atau, menciptakan meme, membuat orang mempunyai libido untuk meneruskan pesan itu dan mengendalikan mereka sebagai masyarakat tontonan.

Ferry Fadillah

Note :

1. Yasraf A. Piliang, Semiotika dan Hiper Semiotika : Kode, Gaya dan Matinya Makna, Matahari, Bandung, 2012, hlm. 382

, , , , , ,

4 Comments

Menjaga Budaya ?

Malam minggu kemarin (1/11), Art Center Kota Denpasar tampak sangat berbeda. Paguyuban Mahasiswa Tanah Pasundan Bali (PAMANAHAN) menyelenggarakan Mini Karnival ke-2 yang bertajuk EUIS : Exicitement in Uniting Indonesia Sparks. Acara tersebut berisi rangkaian pertunjukan seni dari beberapa daerah, pameran fotografi dan pameran kuliner khas Sunda.

Pamanahan yang merupakan organisasi dibawah Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (BAMMUS) berhasil mengkonsolidasikan sebuah acara seni budaya yang tidak saja secara ekslusif mempertontonkan keadiluhungan budaya Sunda, tetapi juga budaya-budaya dari daerah lain. Hal ini dapat terlihat dari format acara yang berisi pertunjukan seni dari Lisma Universitas Pasundan, Viking Bali, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, Ikatan Keluarga Makassar Indonesia dan Muda Mudi Karo Sirulo.

Menilik acara kesenian serupa di beberapa daerah. Saya percaya bahwa ada bahasa implisit yang berusaha disampaikan oleh penyelenggara. Secara klise kalimat itu selalu saja : demi menjaga budaya kita (budaya daerah/leluhur)

Menjaga Kebudayaan seolah menjadi jargon utama para pegiat budaya, dari lingkungan akademisi maupun umum. Semua yang memiliki hasrat budaya serupa pun biasanya mengekor dan –dalam contoh yang lebih ekstrim- berusaha untuk mengembalikan kedigdayaan budaya leluhur pada zaman moderen.

Apakah hal ini mungkin? Sitok Srengenge dalam esainya yang berjudul “Identitas” pernah berkata : “Karena setiap orang adalah pencipta sekaligus pelaku budaya, padahal setiap orang berbeda dan semua orang berubah; maka kebudayaan sungguh tak bisa dipahami sebagai sesuatu yang pasti, statis, baku apalagi baka”

Jadi konsekuensi logisnya adalah segala daya upaya menjaga budaya, apalagi mewujudkan budaya leluhur yang pure pada zaman moderen adalah kesia-siaan. Perubahan itu pasti dan kita tidak bisa melawannya. Seperti sebuah adagium Sunda : Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Yang artinya kurang lebih menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Oleh karena itu kata menjaga dan turunannya harus dirubah menjadi merevitalisasi, merekonstruksi bahkan mendekonstruksi agar budaya kembali ke alam aktualitas, tidak tercerabut dari alam aslinya –masa kini. Budaya menjadi lebih aplikatif, berguna bagi kesejahteraan pemiliknya. Budaya menjadi lebih filosofis, berguna bagi pencerahan penikmatnya. Budaya menjadi lebih dinamis, nilainya disesuaikan dengan kaidah-kaidah agama.

Akhir kata, daripada para tetua atau mereka yang melabeli diri penjaga budaya mengkritisi fenomena gangnam style dengan doktrin nasionalisme, sukuisme, atau provinsialisme. Hemat saya,  Biarlah gangnam style melesat dengan pangsa pasarnya sendiri, toh ia juga bagian dari kebudayaan, berasal dari manusia, Anthroposentrisme. Dengan mecekal secara langsung maupun tidak langsung sebuah kebudayaan apa bedanya kita dengan para anggora Lekra (Lembaga Kebudayaan di bawah naungan PKI) yang memasung kebebasan bereskpersi para seniman non-kiri.  Yang harus dan segera kita lakukan adalah memoles budaya daerah kita agar menarik di pasar nasional, regional sampai internasional, tentu tanpa menghilangkan sifat dasar dari budaya itu sendiri.

Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Begitulah!

Ferry Fadillah
Denpasar, 2 Desember 2012

, , , , , , , , , ,

1 Comment

Secarik Syair pada Gerobak Bakso : Kepedulian Budaya Sunda Seorang Anonim

Sudah dua tahun lebih saya tinggal di Bali. Berinteraksi dan bersinggungan dengan budaya dan masyarakat sekitar. Dengan menghilangkan segala ego budaya asli saya -sunda- agar diperoleh kesan yang objektif dengan jujur saya katakan bahwa budaya Bali begitu beragam, berakar, berjiwa dan bernilai transenden.

Kekecewaan saya muncul ketika mendatangi kota kelahiran, Bandung. Kota yang dikoar-koarkan sebagai puseur budaya Pasundan ini telah berubah beberapa tahun terakhir. Menjadi sebuah kota metropolitan, julangan bangunan mega-struktur dimana-mana, persinggungan antar budayanya pun semakin beragam. Di tengah segala perubahan itu, saya perhatikan –berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan kaula muda kontemporer- budaya sunda mulai terseok-seok mencari akar budayanya dan terengah-engah bergaul dalam aktualitas.

Dari percakapan-percakapan sederhana di warung kopi, cafe atau taman kota, mayoritas pemuda Bandung tidak tertarik untuk memperbincangkan budaya Sunda. Jangankan untuk sekedar diskusi budaya, mereka yang mayoritas asli Sunda atau campuran Sunda yang lahir di Bandung pun sering menghindari menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar. Tampaknya ragam bahasa gue dan elo lebih memikat. Lebih-lebih media populer semacam televisi dan radio dengan giat menyiarkan ragam bahasa ini.

Dari hal kecil ini saja kita sudah bisa memproyeksikan, akan menjadi apa budaya Sunda di masa depan? Jika hal-hal kecil saja, berupa alam pikir dan pola ucap yang sudah tidak nyunda, bagaimana nanti kita bisa mencari pemimpin Jawa Barat (sekelas Gubernur, Walikota, Bupati dsb) yang nyunda. Kini pemimpin –khususnya di tatar sunda- lebih ditekankan pada aspek nyantri dan nyakola saja. Padahal, hemat saya, nyantri, nyakola, dan nyunda adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan, sebuah tritunggal kepemimpinan.

Pertanyaannya kemudian, setelah segala paparan saya di atas adalah, apakah masih ada orang yang peduli  dengan budaya Sunda? Apakah kepedulian sunda hanya terbatas pada orang yang berlabel budayawan sunda, aktivis ormas kasundaan atau orang desa di wilayah terpencil sana?

Jujur, saya tidak memiliki data-data statistik atau hasil penelitian kaya metode untuk menjawab semua pertanyaan ini. Akan tetapi ada sebuah syair yang membuat saya tergugah untuk menulis tulisan ini, memotivasi saya kembali untuk mengkomunikasikan Sunda kepada dunia, membangunkan saya dari keputusasaan akan hilangnya minat untuk ber-Sunda ria.

***

Sore itu, ketika kota Bandung diguyur hujan lebat, saya berteduh di sebuah kios rokok. Letaknya di Jalan Ciliwung. Pemilik kios berjualan bakso tepat di samping kios rokoknya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan gerobak bakso itu. Namun ada sebuah kertas yang menarik saya. Kertas itu ditempel di bagian bawah gerobak. Berisi syair yang ditulis dengan tulisan tangan. Berikut isi syair itu :

Hitam kelam, hiasan langit mencekam

Cakrawala di tengah kota Pasundan.

Teriak menghempas keheningan,

Samar terdengar deru perahu

Pikir memasuki setiap lorong jiwa

Kesenangan, segenggam cemas

Akan hilangnya tradisi tanah lahir,

Kekecewaan menusuk dalam hati

Seorang Budaya. Simbol keserakahan

Di balik topeng-topeng bertahta!

Sudikah engkau wahai anak adam

Melihat semua harapan dan

Kesenangan yang dirampas dari

Tangan-tangan kecil yang menadah?

Titik balik menjelma

Bangkit! Bangkit! Pasundanku..

Syair ini benar-benar membuat saya merenung dan berpikir, sudahkah saya memajukan tanah pasundan? Tidak ingin terkurung dalam pikiran saya sendiri, segera saya tanyakan penulis syair di atas kepada pemilik kios. Sayang, jawabannya tidak tahu. Setahu beliau, penulis adalah seorang wanita, bekerja di cafe sebelah.

Ingin rasanya berbincang dengan penulis syair di atas. Jika memang ia memiliki keprihatinan yang sama dengan saya, berarti saya memiliki alasan untuk tetap peduli terhadap budaya Sunda. Karena saya tidak berjalan sendiri. Banyak tangan-tangan kecil yang peduli dengan keberadaan budaya Sunda namun mereka bersembunyi, tidak muncul dalam pergumulan organisasi-organisasi kebudayaan, perjuangan mereka bersifat lokal, dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga lalu teman-teman terdekat.

Fenomena ini bukanlah hal yang harus disesalkan. Mungkin saja pada tahap berikutnya mereka akan bergerak bersama menuju perubahan. Berorganisasi dan bergotong-royong mengusik nurani orang Sunda yang mulai tidak nyunda.

Hal posotif yang dapat saya simpulkan adalah bawah –seperti syair lagu Imagine karya John Lenon- You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, I hope someday you’ll join us. Semoga kita semua memiliki kepedulian yang sama terhadap budaya Sunda . Dan mulai mengubah lingkungan sekitar– dengan dimulai dari diri sendiri. Rahayu!

 Ferry Fadillah
Bandung, 17 November 2012

, , , , , , , ,

2 Comments

Fenomena Percenayangan

“Salah satu adegan dalam fim Dreed. Hakim Dredd (kanan) dalam pelaksanaan tugasnya memberantas kejahatan di Amerika dibantu seorang Hakim baru sekaligus cenayang bernama Cassandra Anderson (kanan). Hal ini merupakan salah satu media komunikasi agar dunia percenayangan dapat diterima dalam masyarakat tontonan”

Cenayang adalah pawang yang dapat berhubungan dengan makhluk halus, dukun yang dapat meminta bantuan atau mengusir jin (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena)

Dalam arti yang lebih luas –setelah melihat fenomena sosial yang ada- cenayang dapat juga dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan khusus untuk melihat aura, mengetahui masa depan dan masa lalu, atau melihat peruntungan dan persialan.

Mereka tidak lagi diidentikan dengan dunia perdukunan yang pada umumnya dicirikan dengan penanda baju : hitam, tradisional, penuh atribut mistis. Kini mereka berbaur dengan masyarakat, hidup dengan fesyen populer seolah ingin menghilangkan sekat antara dunia percenayangan dengan masyarakat.

Ketika SMA dulu, di kota Bandung, saya menyaksikan sebuah pameran spiritual di daerah Dalem Kaum. Saya sangat terkejut. Ternyata para cenayang tidak sekonvensional yang saya kira. Mereka memiliki komunitas dengan struktur organisasi moderen. Mendapat izin dari pemerintah untuk buka praktik, bahkan memiliki jejaring solid antar negara!

Media promosi mereka pun semakin aktual. Sebut saja majalah Misteri yang selalu memberikan ruang untuk iklan percenayangan : jimat pengasihan, pelet sesama jenis, jual beli tuyul dan lain sebagainya. Beberapa malah menggunakan jejaring media sosial untuk lebih memudahkan promosi yang dapat menjangkau pasar anak muda. Dari usaha-usaha inilah jelas bahwa mereka –cenayang- berusaha untuk menghilangkan sekat dengan masyarakat, berbaur, manunggal dengan budaya populer.

Sebuah Kekhawatiran

Dari perspektif ekonomi, politik atau hukum tentu banyak orang merasa yang tertolong oleh bantuan mereka. Seperti keyakinan masyarakat kita bahwa : orang yang susah karirnya dengan jimat pengasihan dapat disayangi bos dan mendapat kedudukan tinggi di institusinya; orang yang akan kampanye pemilukada dengan rapelan mantra kuno dapat membuat orang terkagum-kagum atau tersihir; orang yang terlilit kasus korupsi dapat memerintahkan jin untuk menghilangkan berkas perkara di pengadilan dan lain sebagainya.

Terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan itu. Masalahnya adalah -apalagi bagi saya yang beragama Islam dan cenderung kepada pengagungan akal-, hal ini dapat merusak cara berpikir masyarakat. Masyarakat jadi tercemari takhayul-takhayul yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Misalnya, saat seseorang sakit bukannya dibawa ke dokter malah menghubungi orang pinter karena diduga terkena ilmu hitam, saat seseorang sulit ekonomi bukannya belajar bagaimana menjadi wirausahawan malah mendatangi dukun untuk mendapat jimat tertentu.

Okelah jika atas nama semangat demokrasi hal ini dikategorikan kepercayaan lain yang harus dihormati. Namun semakin populernya dunia percenayangan melalui persebaran media populer dapat dikhawatirkan merusak para anak muda nusantara yang pada umumnya dikategorikan masyarakat tontonan. Masyarakat yang menjadikan tontonan sebagai dasar pemikiran, bahkan kebenaran. Karena di TV, maka aku ada! Sebuah klausa yang menggambarkan bagaimana tontonan menjadi poros penggerak budaya populer, sumber pengetahuan bahkan logos kebenaran.

Menanamkan Budaya Rasional

Jika dicermati, budaya percenayangan bermula dari lingkungan keluarga. Masih ingat dalam ingatan saya ketika kecil dulu. Aa, jangan main maghrib-maghrib nanti diculik kalong wewe; Jangan duduk di pintu nanti jodohnya nenek-nenek; Jangan lewat disitu tanpa permisi nanti kesambet. Padahal semua jenis larangan itu bisa dirasionalisasikan, misalnya : Jangan main  waktu maghrib, adzan sudah berkumandang, itu seruan bagi kita untuk segera sholat, Allah tidak ingin hambanya menunda-nunda pelaksanaan sholat. Jelas, rasional, mententramkan.

Lembaga pendidikan harusnya menjadi motor penggerak bagi proses penanaman budaya rasional kepada kawula muda. Perpustakaan di lembaga pendidikan sebisa mungkin mengadakan acara bedah buku secara rutin, nanti di forum tersebut panita berusaha mengupas buku-buku percenayangan dan membandingkannya dengan kaidah agama, moral maupun hukum alam. Agar budaya rasional lebih merasuk lebih dalam lagi, kalau bisa peserta didik diwajibkan untuk membaca karya sastra yang isinya mengajak pembaca berpikir rasional, cerdas dan mencerahkan.

Guru –sebagai sumber ilmu yang hidup- harus dapat memberikan penjelasan-penjelasan ilmiah dari setiap fenomena fisik maupun budaya. Jika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab, lebih baik guru mundur selangkah untuk mengumpulkan data kemudian menjawabnya di lain kesempatan, daripada menjawab asal dengan mengkambing hitamkan dunia ghaib. Misalnya, dikaitkannya adzab Tuhan dengan bencana yang terjadi di suatu daerah atau kecelakaan buruh bangunan pada sebuah proyek karena adanya dedemit yang minta tumbal.

Akhirnya, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan negara harus bersinergi dalam menanamkan budaya rasional dengan segala otoritas yang dapat setiap komponen lakukan. Dengannya negeri ini akan terus maju menuju peradaban tinggi, peradaban yang lebih mementingkan perbaikan kualitas hidup daripada syak wasangkan terhadap dunia ghaib –yang jelas-jelas tidak dapat kita indera.

Ferry Fadillah
Bandung, 15 November 2012
 
sumber gambar : http://review.ghiboo.com/dreed-perjuangan-sang-hakim

, , , , ,

2 Comments

Oceh Saya Tentang Novel Cinta

Pada suatu malam, saya bersama dua orang rekan kerja berbincang mengenai novel populer di zaman SMA. Dengan mata berbinar, rekan saya menceritakan novel-novel yang menarik minat mereka berikut pengarang dan respon pembacanya pada saat itu. Mendengarkan itu semua, saya heran, kenapa saya tidak dapati hal yang sama di zaman yang sama? Kemana saya? Hasil kontemplasi lebih lanjut dan melihat kembali koleksi buku ketika SMA, saya tertawa sendiri, ternyata koleksi buku saya didominasi filsafat, sosial politik, dan budaya. Untuk ukuran anak remaja, itu semua merupakan tema keaksaraan yang sangat dihindari dan ditakuti!

Diam-diam saya tertarik oleh novel yang dibincangkan malam itu, sebuah novel remaja karya Esti Kinasih, Dia, Tanpa Aku. Saya mencoba menghilangkan semua praduga mengenai dunia novel remaja yang penuh kelebayan. Lembar demi lembar saya nikmati dan ternyata saya menikmati novel itu! Walaupun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi karena tidak sejalan dengan rasio, namun saya coba memaafkannya dengan berbicara dalam hati : ini fiksi bung!

***

Berjalan-jalan ke toko buku sudah seperti ekstasi yang tidak dapat dilewati. Saya melihat toko buku sebagai sebuah surga keberaksaraan, sayang perlu modal untuk menikmati itu semua. Terkadang, tanpa modal, saya hanya berjalan-jalan dan melihat buku yang sekiranya menarik.

Awal bulan oktober saya berkunjung ke sebuah toko buku di Denpasar. Ada tumpukan buku yang menarik hati saya. Kovernya sangat berwarna, ada empat orang dengan jenis kelamin yang berbeda berada di atas perahu kertas berwana merah. Saya ambil dan membaca judulnya : Perahu Kertas karya Dee. Sungguh, ketertarikan untuk membaca novel semacam ini merupakan sebuah keajaiban dalam hidup saya, namun karena ada rasa ingin tahu akhirnya saya mengambil buku ini dan langsung menuju kasir.

Tiga malam saya membaca novel populer tersebut. Responnya sama, saya menikmati setiap adegan yang digambarkan melalui kata-kata, perasaan saya bisa penulis campur adukan, putar balikan, sedih senangkan, hebat! Namun, ada beberapa hal yang kurang sreg, entah apa, mungkin saja saya yang anti kisah romantis, mungkin juga karena pradugaan awal saya yang mengkategorikan novel remaja populer sebagai novel lebay.

***

Mihali Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psychology for Third Millenium, mengembangkan pemikiran yang menarik, tentang bagaimana perkembangan informasi mempengaruhi perkembangan diri. Csikszentmihalyi menggunakan istilah meme (baca: mem) untuk menjelaskan unit informasi budaya, yang berkaitan dengan istilah gen sebagai unit informasi genetik pada makhluk hidup. Istilah meme digunakan untuk membentuk manusia. Meme diciptakan secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk satu tujuan tertentu. Akan tetapi sekali meme menjadi eksistensi, ia mulai bereaksi dan mentransformasikan kesadaran penciptanya dan manusia lainnya yang berhubungan dengannya (Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Diliipat : Tamsya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan)

Hubungannya apa dengan novel percintaan? Seperti meme, novel percintaan memproduksi meme cinta, sehingga ia mulai menggiring pikiran setiap orang untuk men-‘cinta’-kan segala hal, misalnya film layar lebar tentang cinta, serial televisi tentang cinta, komik tentang cinta, reality show tentang cinta, hubungan sosial tentang cinta, karya ilmiah tentang cinta, puisi tentang cinta, lagu tentang cinta dan seterusnya. Jadi, meskipun pada awalnya meme dibentuk oleh manusia , ia mulai berbalik dan membentuk pikiran itu sendiri.

Faktanya memang seperti itu bukan? Remaja di indonesia dimanapun dan kapanpun (sepengetahuan saya) selalu menjadikan cinta sebagai topik yang tidak ada habisnya untuk diperbicangkan. Variasinya berbeda tetapi meme asalnya sama : cinta!

Penyebaran meme cinta memang tidak bisa disalahkan melalui produksi novel semata. Novel hanyalah salah satu ‘rekan’ penyebaran, selebihnya ada media audio, visual, maupun audi-visual yang memiliki daya sebar masif dan cepat sehingga mengurangi daya kritis masyarakat untuk memilah mana yang berguna dan mana yang tidak.

Akibat fatal dari meme cinta yang mulai menghegemoni pikiran anak muda di tanah air adalah makin sulitnya ditemukan anak muda yang berkesadaran tinggi untuk melayani sesama, bangsa dan negara. Sulit menemukan relawan-relawan yang bersedia berbakti di bidang pendidikan mengajar di tempat terpencil, sulit menemukan relawan yang bersedia berbakti di bidang kesehatan membuka praktik di daaerah sulit akses. Walaupun ada, mereka semua tidak sebanding dengan jumlah pemuda indonesia yang jumlahnya jutaan itu!

Dalam tulisan ini, bukan berarti saya adalah orang yang anti cinta. Tetapi saya khawatir jika cinta sudah menguasai alam pikir kita semua, apa iya masih ada ruang untuk memikirkan sesuatu yang lebih mulia, yang transenden. Maka dari itu tepat jika saya kategorikan cinta menjadi dua, cinta yang bermuara kepada imanensi (yang dibahas dalam tulisan ini), dan cinta yang bermuara kepada transdensi.

Novel-novel cinta sejauh yang saya tahu hanya menggiring para remaja menuju wujud cinta yang bermuara kepada imanensi. Misalnya, pacaran, ungkapan cinta, puisi cinta dan sebagainya. Maka dari itu jangan heran jika anak-anak remaja selalu galau dan galau dalam perjalanan hidup mereka. Padahal usia produktif seperti itu bisa dibentuk menjadi lebih baik dengan stimulus kebudayaan, kearifan lokal, agama dan moralitas.

Akhir kata, sebelum ide dalam tulisan ini melebar saking banyaknya hal yang menjadi buah pikiran saya selama ini. Dengan hormat saya mengajak pembaca untuk mulai kritis menikmati komoditi budaya (novel dsb) yang disebarkan melalui citra kepopuleran. Semoga dengan kekritisan itu, meme cinta tidak akan menguasai pikiran kita, sebaliknya kita lah yang secara dominan menguasa meme cinta.

Semoga pikiran kita terserahkan. Amieen.

Ferry Fadillah
Denpasar, 20 Oktober 2012

, , , , , , , , , ,

Leave a comment

Ketersinggungan

Perbuatan seseorang terhadap kita, semenjak itu tidak menyinggung prinsip-prinsip transenden yang kita anut dan pegang teguh dengan pedang dan amunisi, adalah hal lumrah yang patut untuk dimaafkan. Perasaan kesal sebagai reaksi dari aksi fisik maupun mental yang kita terima, jika direnungi, hanyalah terjadi di ‘dunia lain’, dunia tidak terbatas di luar realita yang kendalinya berasal dari akal kita.

Sebutan hati, tidak selalu merujuk sebagai organ biologis yang memiliki fungsi penetralisir racun dalam tubuh, namun sebagai kondisi kebatinan, sesuatu yang tidak dapat dilihat namun keberadaannya nyata karena dapat dirasakan dan dimanifestasikan  dalam artifak-artifak kebudayaan yang memiliki referensi struktural terhadap suasana kebatinan/hati tertentu.

Ketersinggungan bermula dari hati yang terluka (saya rasa kita semua sepakat dengan hal ini), akan tetapi para pemikir mengemukakan bahwa hati adalah sesuatu yang irasional, transenden serta tidak memiliki kebenaran absolut, selalu berubah-ubah tergantung suasana sehingga kedudukan akal ialah superior dibanding hati dan dapat dengan otoriter mengendalikannya.

Fakta-fakta di atas adalah hal gamblang yang kurang dipahami masyarakat umum. Masyarakat dimana ekspresi dari batin/hati dengan mudah diluapkan atau diekspresikan dalam berbagai macam aksi dan artefak tanpa mempedulikan peran akal yang memiliki fungsi penyaring : baik/buruk, estetis/anarkis. Sehingga anarki sosial, demonstrasi kontra produktif, terorisme dan tawuran antar pelajar/kampung sering terjadi namun tidak pernah bisa kita cegah dan hilangkan.

Bukan berarti hati harus kita transformaskan menuju titik nol, kematian, ketidak beradaan (nothingness), tetapi menempatkan hati secara struktur di bawah akal sehingga segala ekspresi sosial sebagai akibat dari proses mekanis-psikologis dalam hati (ketersinggungan, kegalauan dsb) dapat berwujud lebih produktif dan konstruktif.

Akhirnya, ketersinggungan adalah sesuatu yang akan selalu terjadi dalam kehidupan sosial di dunia. Mereka yang anti-ketersinggungan hendaknya hengkang dari bumi dan mencari surga yang katanya penuh kesempurnaan dan keagungan. Menempatkan akal atas hati adalah satu-satunya solusi untuk segala macam problem sosial yang berhulu dari ketersinggungan.

Kedepan, apabila setiap individu memiliki kecenderungan berpikir kritis dan logis, saya yakin negeri ini akan lebih stabil dan harmonis.

Ferry Fadillah
14 Oktober 2012

 

, , , , , ,

Leave a comment

Pura Goa Gajah

“Arca Bidadari di depan Goa Gajah. Terdapat tiga arca di utara dan selatan, sehingga seluruhnya berjumlah enam. Dari arca ini keluar air (simbol kesuburan) menuju pemandian sakral”

“Pintu Masuk Goa Gajah. Gua berbentuk ‘T’ ini terdapat Arca Ganesa di sebelah barat dan Lingga Siwa di sebelah Timur”

“Arca Ganesa di sebelah Timur Goa”

“Lingga di sebelah Timur Goa Gajah. LIngga ini merupakan peninggalan sekte Hindu Siwa Pasupata. Ke-3 lingga ini sebagai sarana pemujaan Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Tri Pusura”

Ferry Fadillah
Badung, 1 Juni 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Kami Mohon Pendidikan

Saat duduk di meja komputer dengan tumpukan kertas di sebelah kanan dan kiri, Saya melayangkan lamunan ke awal-awal masa pendidikan. Ketika buku, diskusi dan semua yang berbau ilmu pengetahuan begitu dekat dengan urat nadi. Cita-cita, harapan, impian begitu kuat menarik otot untuk terus berusaha dan belajar.

Kini realita berbicara lain, ketika cita-cita harus duduk manis di bawah kuasa raison d’etre  yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun dapat digambarkan oleh kondisi tragis manusia Indonesia pada umumnya : terbentur masalah ekonomi. Cita-cita harus dinegoisasi ulang dengan pertimbangan finansial. Jika saya menjadi ini untungkah ? Jika saya menjadi itu rugikah ? Pada saat itu profesi yang memberikan keuntungan lebih menjadi cita-cita itu. Cita-cita yang dipaksakan, yang ada setelah diri kita dicemari pikiran jahat ekonomi-modern.

***

Tiba-tiba suara keras terdengar dari tumpukan dokumen yang tejatuh keras ke lantai. Saya terbangun, saya sadar, ada banyak tugas di depan saya. Cita-cita ? Ada yang lebih besar dari pada itu semua, loyalitas terhadap Negara ? Karena Negara telah memberi kita wadah untuk hidup, memberi kita secerca harapan untuk meneruskan perjuangan, memberi kita modal untuk mensejahterakan diri sendiri dan keluarga bahkan lingkungan sekitar. Lantas, tegakah kita terlarut dalam lamunan masa lalu, dan menyiksa Negara kita sendiri dengan menelantarkan tugas-tugas yang seharusnya kita pikul dengan riang gembira. Saya tidak sampai hati melakukan itu.

Namun ada satu permintaan saya kepada Negara. Saya, mungkin bisa dikatakan buruh Negara, pegawai sekecil-kecilnya di sebuah institusi, berada pada urutan terbawah dalam struktur organisasi namun perasaan menggebu akan pendidikan yang berlanjut terus menghantui pikiran saya. Saya tidak ingin menjadi buruh selamanya, saya ingin nanti berdiri tegak sejahtera dengan beberapa anak buah di bawah saya. Saya ingin hidup tenang dengan keberlimpahan. Secara matematis, itu mustahil ! Tapi tidak masalah, kembali ke permintaan awal, saya meminta pendidikan yang layak bagi kami sehingga kami dapat beranjak dari gelapnya pola pikir ke terangnya pola pikir.

Pendidikan yang bukan semata dicari untuk kepentingan kepangkatan atau jabatan tertentu, tetapi pendidikan yang kita dalami berdasarkan passion kita sendiri, yang menghaluskan budi pekerti kita agar menjadi aparat yang lebih professional dan bertanggung jawab.

Saya cinta pengetahuan wahai ibu pertiwi, maka bantu kami anak-anak mu ini untuk mencapai semua itu. Sebuah pendidikan humanis, bukan pendidikan yang dipaksakan kepada kami agar kami menjadi pekerja selamanya. Pendidikan yang membuka wawasan kami akan kompleksnya masalah kehidupan. Pendidikan yang nantinya menciptakan ribuan buruh Negara ‘baru’ yang lebih bersemangat, professional sesuai tugas mereka masing-masing.

Dari pendidikan ini lah budaya kerja kita berubah.

Dari budaya kerja itulah, kemajuan Negara kita raih.

Mungkin ibu pertiwi bertanya, Jika semua buruh menjadi atasan lalu siapa yang akan bekerja di lini terdepan ? Tidak masalah ibu, menjadi buruh atau pekerja di lini terdepan tidaklah menjadi masalah, yang terpenting saat ini otak kita terisi oleh asupan gizi pendidikan. Minimal kita menjadi manusia yang ditinggikan derajatnya oleh pendidikan, Yang dapat berjalan dan bekerja anggun dengan semangat ilmu pengetahuan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Mei 2012

, , ,

4 Comments