Archive for September, 2017

Hanya Tertawa Sedikit

Manusia terlempar di dunia ini bukan tanpa kehendak dirinya sendiri. Sebuah dunia yang dipenuhi penderitaan pada setiap satuan waktu dan ukuran ruang.

Setiap hari ada seorang ayah yang membanting tulang demi pendidikan putra-putrinya, beradu mulut dengan istri karena gaji yang didapat kurang, menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri selingkuh dan meninggalkan dirinya saat kondisi ekonomi sedang sulit, bertahan dengan linangan air mata saat anak-anaknya memilih durhaka daripada berbakti, hidup dalam kesendirian di hari tua saat anak-anak menikmati hari libur mereka bersama kawan-kawan dan istri tercinta.

Ada juga seorang ibu yang harus berhutang ke sana ke mari demi tetap mengepulnya urusan dapur dan biaya pendidikan anak yang dari hari ke hari semakin tinggi, menahan batin ketika melihat suami malas di rumah tidak mencari nafkah, atau bebas membawa wanita lain masuk ke rumah dengan tenang dan enteng, belum lagi anak-anak mereka yang berkata ah! Saat dimintai tolong, dan seperti orang tua lain, bisa-bisa ketika di usia renta anak-anaknya melupakan dirinya dengan tertawa gembira bersama kawan-kawan belanja di luar negeri.

Ada juga petani yang tanahnya dihimpit perusahaan multinasional produsen air mineral dalam kemasan, mata air yang selama ini dapat diakses dengan gratis ternyata kering karena sumur bor yang terlalu dalam dari perusahaan, biaya input menjadi tinggi, petani menjual lahan tidak produktif mereka dengan harga murah untuk dijadikan real eastate oleh pengembang. Ia sendiri harus pindah ke ibu kota untuk menjadi buruh kasar dengan gaji musiman.

Ada juga buruh yang harus berdiri di depan mesin pabrik selama berjam-jam dengan gaji cukup memenuhi kebutuhan pokok, ketika berserikat untuk memperjuangkan hak-hak, perusahaan mengancam pemutusan hubungan kerja dan orang-orang dungu menuduh mereka sebagai komunis. Saat demo kenaikan UMR orang-orang nyinyir dan agamawan berkata: sabarlah, kiranya Tuhan bersama kalian.

Ada juga seorang pegawai negeri sipil rendahan pada sebuah kantor pemerintah. Dengan gaji seadanya ia harus membiayai kedua orang tua, adik dan bibi-bibinya yang kerap berhutang. Diatur pengeluaran dengan saksama karena pendapatan tidak bisa diotak-atik lagi kecuali mereka ingin berurusan dengan KPK. Hutang ke bank terjerat bunga yang meningkat dari tahun ke tahun. Hutang kepada kawan rusak silaturahmi karena enggan untuk bertemu. Belum lagi mutasi dari satu daerah ke daerah lain. Tenggelam dalam kapal patroli. Digebuk masa karena perintah atasan. Ditusuk fundamentalis karena dibilang thagut. Mati dalam dinas, hanya ada penghargaan kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi dan orang-orang yang berkabung sesaat untuk kemudian melupakannya karena sudah kembali dalam rutinitas masing-masing.

Ada juga orang-orang yang hidup di pusaran konflik. Setiap hari mereka mendengar desingan peluru dan runtuhan rumah akibat rudal dari pesawat musuh. Mayat-mayat dengan anggota badan tidak utuh adalah pemandangan jamak yang mengiris hati. Kekurangan sandang, pangan dan papan. Pindah dari satu negara ke negara lain. Menumpang perahu mengarungi lautan namun tumpas di pusaran air. Dianggap teroris, dirusak kehormatannya, menyaksikan anaknya ditiduri tentara dan orang tuanya dipenggal di alun-alun kota. Dari Afrika Tengah, Palestina, Siria, Banglades, Papua, Aceh, Amerika dari masa lampau hingga hari ini dan di masa depan sampai kedatangan sang mesiah.

Namun, orang-orang memilih untuk melupakan itu semua. Maka dicarilah pengalih dengan dalih agar mental tidak berubah gila. Acara musik, film, alkohol, rokok, ganja, seks bebas, novel, jalan-jalan, foto, instagram, olahraga dan hal-hal lain menjadi ladang bisnis industri moderen.

Jika boleh berandai-andai. Seandainya pengetahuan tentang penderitaan yang berlangsung saat bumi bagian barat disinari cahaya dan bumi bagian timur diliputi kegelapan, dari masa lalu, hari ini, hingga masa yang akan datang, tersingkap secara sadar maupun tidak sadar atas kuasa ilahi maka tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang sanggup tertawa lepas walau hanya sesaat.

Kamu banyak tertawa dan jarang menangis,

Dan kamu lengah darinya.

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Allah.

(Tiga ayat terakhir Q.S. An-Najm)

Ferry Fadillah. September, 2017.

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Sabtu, minggu adalah waktu senggang yang selalu datang. Tapi ketika hari itu hadir kami hanya bisa duduk termangu. Apa yang harus kami lakukan? Mondar-mandir sekitar masjid, kantor dan pantai adalah kegiatan yang jamak. Maka, saat ayam berkokok di senin subuh hadirlah penyesalan. Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Berpergian adalah ritual mingguan. Orang-orang pergi berjejalan di pusat belanja, taman kota atau pusat atraksi. Mereka membawa keluarga, kerabat atau pacar. Semakin mereka pergi jauh, semakin mereka berkonsumsi, semakin cepat uang berputar dari mereka kepada produsen barang dan jasa. Perekonomian tumbuh. Begitu harapan pemerintah.

Macetnya jalan, tumpah ruah pedagang musiman, polusi udara, sampah plastik adalah sampingan dari ritual mingguan itu. Tapi itu semua bukan masalah besar. Tujuan mereka adalah datang menuju pusat-pusat itu. Berfoto ria dengan gawai terkini. Mengunggah potret bahagia atau yang seolah-olah bahagia di media sosial dan begitulah mereka bereksistensi. Aku berfoto maka aku ada!

Pemerintah juga tidak ambil pusing. Rasio meningkatnya volume kendaraan bermotor dibanding ruas jalan bukanlah data yang menarik. Pusat-pusat wisata baru dibuka, pantai-pantai diberi jalan yang mulus, warung-warung diberi tempat, promosi disebarkan besar-besaran. Wisatawan berjejalan datang. Dengan bus, mobil, motor. Memenuhi ruas jalan, memadati lalu lintas, polisi bertambah waktu lembur, dan pemerintah menambah pundi-pundi pajak. Dari restoran, dari hotel dari perdagangan, dari jasa perjalanan.

Mungkin bagi mereka. Tidak apalah tanah pertanian susut. Toh hasil tani bisa dibeli dari pulau lain. Tidak apalah kota menjadi padat, toh semakin banyak pengunjung, semakin makmur para warga.

Nosstress, band indie asal Bali yang giat menentang reklamasi teluk Benoa, pernah menulis sebuah lirik bagus untuk mengkritisi kota tempat mereka tinggal:

Lirik Lagu Ini Judulnya Belakangan

Bali aku tinggal sebentar ya,

aku mau ke Jogjakarta

aku mau nyanyi seperti biasanya

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari jalanmu yang mulai macet

mulai nggak nyaman, mulai…

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari pantaimu yang katanya indah

yang disekelilingnya berdiri hotel megah, wah

Bali aku pergi sebentar ya,

pergi dari alammu yang katanya asri

asri sebelah sana, eh sebelah sini enggak

Esok ku kembali semoga

esok ku kembali semoga pemimpin menambah prestasi

bukannya menambah BALIHO

Esok ku kembali semoga

esok ku kembali semoga

beton tak tumbuh lebih subur daripada pepohonan

uuuiiuuuuu,,,,uiuu,,,,

Apakah hanya Bali yang perlu dikritisi, bagaimana dengan Bandung, Jabodetabek, Priyangan Utara, Priyangan Selatan, Tengerang Selatan, Surabaya dan kota-kota lain yang semakin bergeliat untuk tumbuh. Mencampakan pertanian dipunggung mereka dan memandang perdagangan dan jasa sebagai sebuah jalan menuju kemakmuran. Apakah mereka kira bisa melawan modal besar yang masuk perlahan-lahan ke dalam kota mereka. Menaikan harga lahan, mengubah pola hubungan sosial dan mencampakan putra daerah sebagai petugas-petugas jaga perusahaan besar di tanah mereka sendiri.

Kenapa kami tidak pergi jauh waktu itu?

Sebenarnya kami tidak menyesal. Kami hanya enggan untuk tumbuh. Kalau ternyata pertumbuhan itu menghancurkan kami dari dalam. Yang kami butuhkan adalah kesejahteraan. Cukup sandang, pangan, papan. Cukup ruang dan waktu. Cukup tenaga untuk berkerja sama, bahu membahu saling membantu, berkesenian dan mengunjungi kerabat.

Bungkus saja modal besarmu, gedung-gedungmu, hotel-hotelmu, bawa itu pergi jauh-jauh. Kami butuh bumi yang dulu, yang suci lagi telanjang, bukan manusia dengan pakaian, yang haus akan kuasa.

Ferry Fadillah. Kuta, 23 September 2017

 

Leave a comment