Posts Tagged filsafat

Aku itu Siapa

Aku itu siapa? Pertanyaan yang selalu muncul dibenaku. Sejak sekolah menengah aku memang selalu memikirkan yang tak terpikirkan. Terkadang-kadang aku mengutarakannya kepada kawan-kawan. Tapi mereka malah mencibirku seolah itu adalah pertanyaan bodoh. Maka sejak itu aku berhenti bertanya.

Setelah lulus kuliah aku menjaga jarak dengan teman-teman sekolah menengah dulu, aku tidak sudi dianggap bodoh atau gila hanya dengan bertanya seperti itu. Dan, pertanyaan itu kini muncul kembali. Aku itu siapa? Dalam tidurku, dalam berdiriku bahkan dalam shalatku. Sampai-sampai aku pusing dibuatnya. Maka untuk mengobati itu aku mencari banyak buku bacaan. Temanya filsafat. Aku berkelana dari Athena dimana Socrates memprovokasi kaum muda untuk menyembah satu Tuhan hingga Eropa tempat dimana Friedrich Nietzsche menulis lantang Tuhan sudah mati dan mengajarkan filsafat nihilisme. Dari semua buku-buku, aku belum juga menemukan jawaban.

Aku juga mencoba menulis. Mula-mula catatan kecil refleksi kejadian selama di kampus. Aku selalu berusaha berfikir mendalam: tentang pelajaran, tentang dosen, tentang mahasiswa, tentang apapun yang terlintas dalam pikiran. Dan aku merasa catatan kecil tidak lagi cukup. Aku mencoba menulis di blog pribadi. Aku mulai gandrung dengan esai sosial-politik, syair realis-sosial dan perenungan filosofis. Aku tahu hanya segelintir orang yang membaca. Itu tidak masalah. Menulis bagiku adalah urusan kepuasan batin.

Karena kegiatan membaca dan menulis itu aku mulai tertarik dunia pidato. Aku kagum dengan Soekarno yang pidatonya penuh majas dan dapat membius jutaan rakyat dari segala lapisan. Aku terpesona denga gesture Hitler ketika berpidato dihadapan rakyat Jerman. Aku berdecak kagum dengan sorot tajam mata Lenin ketika berpidato di hadapan sidang Internationale. Aku mengagumi mereka semua.

Aku pernah berusaha menyusun naskah pidatoku sendiri. Aku berlatih di hadapan cermin dengan gaya tokoh yang aku kagumi. Aku membayangkan diriku adalah seorang ketua partai yang berpidato dihadapan rakyat dengan bendera merah menyala dikibarkan di setiap sudut lapangan nasional. Sialnya, ketika teringat dengan tugas kampus, lamunan itu harus buyar dan berganti kecemasan.

Oh, iya aku belum bercerita dimana aku kuliah. Aku kuliah jurusan statistika di Universitas Adminisrasi Negara. Sebuah perguruan tinggi yang menjanjikan mahasiswanya kedudukan birokrat setelah lulus kelak. Umumnya lulusan perguruan ini di tempatkan di Kementerian Sosial menjadi seorang analis atau hanya seorang jongos yang disuruh-suruh oleh bosnya.

Universitas ini sepi dari gejolak protes dan demonstrasi. Tidak ada aksi turun ke jalan. Tidak ada diskusi dengan tokoh pergerakan. Kegiatan di sini didominasi acara sampah seperti pentas seni ala sekolah menengah. Ditambah kegiatan agama yang memaksa mahasiswa bersyukur atas carut marut yang terjadi di negeri ini. Aku menghindar dari semua kegiatan itu. Aku berikhtiar menjaga pikiran agar tetap logis dan kritis.

Aku sadar semua kegiatan itu muncul di benak panitia karena adanya sebuah kepastian. Karena kelak mereka menjadi kelas menengah yang berlabel aparat sipil negara. Kalau kepastian sudah di depan mata, untuk apalagi mereka memprotes pemerintah, menolak kemunafikan pejabat negara atau sekadar menyindir pihak universitas yang selalu mengancam DO bagi mahasiswa yang kritis.

Menjadi apapun kelak, aku tidak pernah ambil pusing. Pastinya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang birokrat. Dalam pikiranku birokrat itu malas, boros dan payah. Ah, cukup sudah aku melihat kinerja perangkat daerah dan kepolisian.

Ketika itu aku kehilangan kartu ATM. Aku bingung bukan kepalang. Itu satu-satunya cadangan keuangan yang aku punya. Temanku menyarankan untuk melapor ke kepolisian dan meminta surat keterangan hilang. Aku melakukan apa yang ia sarankan. Dan nahasnya, ketika surat itu terbit polisi itu terbatuk perlahan dan berkata, “Ehm, biaya administrasinya dek?” Aku kaget dan hanya bisa tersenyum lalu lekas memberi pecahan lima puluh ribu dan berlalu tanpa pamit.

Tidak hanya itu. Sebelumnya aku harus mengakui bahwa bagiku konten pornografi adalah hal lumrah. Hampir setiap hari aku biasa mengakses aktivitas seksual lintas bangsa dan melihatnya langsung tanpa malu dan takut.. Aku kira kalian tidak perlu susah payah menceramahiku tentang ini itu. Hei, kalian yang sok suci. Aku lahir dari keluarga muslim yang taat. Aku tahu konsekuensi teologis atas setiap perbuatan. Tapi aku tidak pernah tahu bagaimana melawan gejolak hormon ketika muda. Apakah kalian tahu? Ah, daripada melawan, aku hanya bisa menuruti keinginan nafsuku.

Kembali ke dalam cerita. Suatu saat aku menjadi korban sextortion -bagi yang kali pertama mendengar istilah ini silahkan telusuri sendiri artinya di dunia maya. Ujung cerita adalah komplotan bajingan di Bucalan, Filipina memintaku untuk mengirim USD 1.000 lewat Western Union. Aku mengiba. Dan ketika pagi menjelang, para pemeras itu menawarkan hanya USD 200. Ah jumlah yang besar bagiku pada saat itu. Aku cemas, sedih dan bingung. Aku coba hubungi Interpol tapi mereka memintaku menghubungi polres terdekat. Polres tidak mengangkat. Aku coba telepon Polda dan ternyata suara di ujung telepon itu menggurui, “Sebenarnya ini kesalahan adik karena bertingkah amoral. Bisa dibayangkan ga berapa uang negara yang harus keluar untuk menyelesaikan kasus antar negara kaya gini. Kalau adik businessman oke lah!” Aku terpekur lama, kecewa, sekaligus sedih.

“Ah selama ini aku membayar pajak ternyata hanya untuk mendapat perlakuan seperti ini,” batinku kesal.

Aku bingung kemana lagi aku harus meminta tolong. Kepolisian Filipina pun enggan mengangkat teleponku. Sumpah aku muak dengan perangkat negara itu, aku tidak percaya lagi dengan jargon pengayoman itu. Kini aku adalah seorang anarkis!

Aku seringkali sedih dan kesal. Aku sedih melihat seorang bapak tua yang berjualan pisang seorang diri di pinggiran jalan. Aku kesal mendengar kawan yang selalu membandingkan gaji antar kantor. Iya, aku kesal dengan mereka semua. Muka mereka muda tapi jiwa mereka tua. Uang dan uang dalam pikiran mereka. Hanya segilintir orang bijak dari mereka yang rela menghabiskan waktu membaca buku dan berdiskusi perihal kehidupan. Sisanya hanyalah omong kosong sampah tentang percintaan, game, gadget dan tempat nongkrong.

Mungkin karena kekeras kepalaanku atau mungkin karena ideologiku, aku selalu merasa kesepian di kampus. Aku belum pula memiliki seorang kekasih. Karena keindahan seorang wanita bagiku ketika ia bisa berbicara mengenai filsafat satu hari satu malam denganku. Dan aku belum menemukannya.

Mereka yang berjilbab sibuk dengan lantunan ayat suci, mengutip perkataan ulama dan bersungut-sungut ketika melihat perbedaan. Aku tidak suka itu. Mereka yang cantik sibuk dengan omongan rendah tentang dunia seputar kecantikan dan bersolek di depan cermin. Aku benci mereka. Itulah mengapa aku selalu sendirian.

Sebenarnya aku mendapat momen mencari jodoh ketika bertanggung jawab menjadi mentor bagi adik kelas. Aku benci dengan judul ceramah yang harus diberikan: nasionalisme, anti radikalisme, jiwa korps dan hal berbau negara lain. Aku tidak bisa menjadikan adik-adiku didoktrin ala negara kemudian berpikir kaku dan seragam. Aku ingin mereka menjadi pemikir bebas dan sesekali berontak demi kebenaran. Beberapa minggu mencoba menceramahi mereka arti kebenaran, aku didepak oleh ketua dari struktur panitia. Sial. Aku kehilangan momen mencari jodoh.

Di antara semua kesedihan, kemuakan dan kesepian ini aku belum juga menemukan diriku seutuhnya. Aku belum bisa menjawab pertanyaan. Aku itu siapa? Aku hanya membaca, menulis dan terkadang berbicara di warung kopi dengan segelintir orang waras. Ya, aku merasa sangat sendiri di antara semua kegiatan itu. Pasti. Dan bukankah kita lahir dan mati dalam kesendirian juga? Aku kira ketersendirian bukan lagi hal yang esensial.

Kini untuk menjawab pertanyaan itu aku hanya memiliki sedikit informasi. Namaku Alif. Begitulah ibuku memanggilku di rumah, juga kawan sekitar komplek dan apa yang tertera di akta lahir. Hanya itu.

 Catatan: kisah dan tokoh dalam cerita ini fiksi jadi jangan terlalu diambil hati

Ferry Fadillah. Bandung, 16 Januari 2016.

, , , , ,

3 Comments

Hikayat Tiga Tahanan

Alam priyangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Pepohonan hijau nan rindang menutupi bukit-bukit di sepanjang patahan vulkanik. Air jernih mengular dari hulu gunung Sunda menuju sungai-sungai di hilirnya. Memberi kehidupan bagi tumbuhan, serangga, ikan dan burung; semua demi kelangsungan siklus kehidupan. Sekumpulan kera hutan bercengkrama di bawah pohon mahoni besar, berusaha keras membuka ubi yang baru saja dicuri dari petani sekitar. Anak-anak mereka –berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa- berlari ke sana ke mari; tanpa khawatir seolah dunia adalah milik mereka. Benih-benih pohon mulai tumbuh dengan menghisap unsur hara dari tanah, perlahan namun pasti akarnya mulai melebar ke segala arah sumber air, batang mudanya menengadah ke langit memohon sinar matahari; perlambang kasih dari Sang Hyang Tunggal.

Di bawah Gunung Sunda terdapat sebuah gua purbakala. Gua ini terbentuk akibat desakan larva gunung api yang mendesak keluar dari punggung gunung ribuan tahun lalu. Mulut guanya tidak terlalu lebar, kira-kira lima orang bershaf rapat di depannya sudah dapat menutup mulut gua. Tinggi gua di dekat mulutnya pun rendah. Orang harus menundukan punggung menyerupai gerakan rukuk sebelum memasuki gua. Tidak ada penerangan di dalamnya. Beberapa kelelawar hilir mudik mencari makanan di malam hari dan berisitirahat di siang hari. Menariknya, udara di dalam gua tidak lembab. Udara yang memasuki celah-celah gua ditambah rimbunnya pohon disekitarnya menciptakan iklim sejuk di dalam gua.

***

Syahdan, hiduplah tiga orang tahanan di dalam gua itu yang dijaga tentara Kerajaan Dayeuhluhur. Danaraja, Danurwinda , dan Darmakusuma. Mereka adalah keluarga kerajaan di pedalaman Priyangan. Leluhur mereka merupakan tahanan politik zaman kelaliman Raja Dayeuhluhur, Sri Maharaja Sakwasangka. Konon dahulu sang raja adalah penganut agama leluhur yang taat, namun harta dan tahta telah lama merenggut ketaatan itu. Tanpa lagi mempedulikan ajaran luhur Kitab Pangabeda, ia menghisap habis tenaga dan kekayaan petani dan pekerja di wilayah itu.

Kekejamannya bertambah parah ketika Portugis menguasai Kerajaan Malaka dan membuka hubungan dagang dengan Kerajaan Dayeuhluhur. Para pekerja dipaksa pindah ke Sunda Kelapa membangun benteng Portugis dan kuil pemujaan dewa mereka; bangunan itu semua terbentuk dari batu bata, beberapa ornamennya dilengkapi patung manusia bersayap dan patung seorang pria berambut panjang dan berjenggot sebagai pusat. Para petani dipaksa menjual hasil bumi priyangan dengan harga murah kepada pedagang-pedagang Portugis. Di pedalaman, resi-resi mereka menyebarkan agama baru sampai-sampai kalangan muda melupakan ajaran Sang Hyang Tunggal dan mulai bertingkah seperti orang-orang Portugis.

Pada bulan ke empat perhitungan Candrakala, tiga orang bangsawan berpengaruh di Kerajaan Dayeuhluhur, setelah melihat kerusakan ekonomi dan sosial di Priyangan, bersepakat untuk menggulingkan kuasa sang raja. Rencana makar disusun; rakyat yang marah dipropaganda di setiap balai desa dan dipersenjatai dengan pedang serta panah. Wanita dan anak-anak diperintahkan bersiap mengungsi bilamana pemberontakan ini gagal.

Suatu malam, ketika Raja Sakwasangka sedang bermain-main dengan para selirnya di keputrian, terdengar suara lengkingan terompet dari arah pegunungan, diikuti pekik perang tentara rakyat. Itulah awal mula revolusi fisik di bumi priyangan. Tentara kerajaan merasa kewalahan membedakan rakyat yang memberontak dengan yang tidak. Ribuan tubuh tumbang bersimbah darah. Mata-mata geram dengan kujang terhunus berusaha membabibuta membunuh setiap musuh yang dihadapi.

Setelah pertempuran berlangsung selama dua belas jam, jumlah kekuatan tentara rakyat mulai berkurang. Beberapa bahkan melarikan diri ke gunung selatan. Wajar, tentara itu masih perlu dipupuk keahlian perang dan moralitas seorang pendekar sejati. Tentara kerajaan merasa di atas angin, hanya dalam beberapa jam semua tentara rakyat yang tersisa tumpas tanpa bekas, termasuk ketiga bangsawan yang menjadi provokator revolusi itu. Seketika bumi yang subur dan asri itu dipenuhi lautan mayat.

Penderitaan tentara rakyat tidak sampai di situ. Raja Sakwasangka memerintahkan untuk membunuh keluarga para pemberontak termasuk setiap bayi yang baru lahir. Mereka semua dipaksa keluar dari rumah mereka pagi-pagi buta dengan tangan dan kaki terikat. Di alun-alun kota mereka di kumpulkan. Ribuan jumlahnya. Dengan pedang tumpul, ratusan tentara kerajaan membuat formasi lingkaran, menutupi para keluarga pemberontak. Letusan meriam ke udara terdengar nyaring, pembataian terbesar sepanjang sejarah terjadi malam itu.

Beruntung bagi Danaraja, Danurwinda, dan Darmakusuma, yang kala itu berusia 3 tahun. Mereka luput dari bencana itu. Semua karena bujuk rayu Ibu Permaisuri. Dengan lemah lembut ia menyatakan keberatannya kepada Raja Sakwasangka. Alasannya, walaupun ayah mereka melakukan makar, mereka tidak terlibat dalam dosa itu dan ketiganya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sang Raja. Luluh karena bujukan ibunya, raja pun memerintahkan ke tiga anak itu untuk tidak dieksekusi dan dibawa ke Keraton.

Bukan Sakwasangka namanya kalau tidak penuh dengan prasangka buruk. Ketika ibunya mengunjungi wakil kerajaan di Samudra Pasai, ia perintahkan punggawa kerajaan untuk mengikat mereka bertiga di gua angker di bawah kaki Gunung Sunda. Leher mereka diikat seperti anjing, kaki dan tangan mereka dibelenggu dengan rantai besar yang saling berhubungan. Setiap pagi dan malam petugas kerajaan bergantian mengantarkan makanan dan minuman. Itulah awal bagi Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma kecil menjalani hukuman kurung; dalam kegelapan dan keterkucilan.

***

Dua puluh tahun sejak hukuman kurung, Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma mulai melupakan dunia luar. Mereka lupa warna air dan pepohonan, bentuk gunung di sekeliling Priyangan, suara gamelan, geguritan di pendopo ibu kota serta gerak lincah kera liar yang kadang masuk ke kampung mereka. Warna sudah luluh dalam gelap, rasa sudah lebur dalam pahit, bunyi sudah campur dalam hening. Kini dunia mereka adalah kesunyian dan kegelapan.

Wajah mereka bertiga menghadap ke tembok gua yang datar. Ketika malam menjelang, suhu di dalam gua sangat dingin, maka penjaga menaruh tumpukan api unggun di balik tembok tahanan. Mereka bergantian menjaga agar api itu selalu menyala. Cahayanya menerangi seluruh isi gua, namun para tahanan tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Mereka hanya bisa melihat pantulan bayangan dari para petugas dan benda-benda yang hilir mudik di balik tembok. Seperti arena menonton pertunjukan wayang kulit di balai desa.

“Ah, Darmakusuma, lama-lama aku merasa bosan. Berdiam puluhan di sini, yang bahkan aku pun tidak tahu pasti tahun keberapa sekarang, di ruang sempit dengan belenggu menahan kita,” celoteh Danurwinda memulai percakapan.

“Ya begitulah nasib kita. Kata penjaga, ini merupakan karma buruk leluhur kita yang harus ditebus hingga muncul belas kasih Sang Maharaja,” balas Darmakusuma berusaha menenangkan.

“Tenang bagaimana maksudmu, Darmakusuma, apa kita harus berdiam di sini hingga akhir hayat kita? Persetan dengan welas asih Sang Maharaja. Mengharapkannya hanyalah memupuk harapan palsu,”bentak Danareja.

“Tenang saja saudara-saudaraku, kita memang ditahan, namun kita masih punya pikiran di bawah sini. Dengan pikiran itu kita dapat mendiskusikan apa saja, saling menarik kesimpulan atas setiap fenomena. Bukankah diskusi kita ketika melihat bayang-bayang di dinding gua dan suara-suara di belakang kita telah berhasil membunuh rasa jenuh dalam diri kita?”

“Ah, betul juga kau Darmakusuma, kau memang orang yang bijak, kalau begitu ayo kita mulai lagi diskusi kita kali ini!”

Tiba-tiba segerombolan orang memasuki gua. Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga diiringi gelak tawa dan aroma tuak di udara. Di antara gelak tawa itu terdengar sayup-sayup jerit tangis wanita yang sangat memilukan hati. Jerit tangis itu berhenti ketika suara berat membentak dan memaki mereka. Dari tempat mereka bertiga, hanya bayangan yang tampak, berduyun-duyun, beragam bentuk, melewati api unggun di balik tembok satu persatu.

“Nah,” Darmakusuma memulai, “kita mulai diskusi kita. Menurut kalian ada berapa orang yang lewat di belakang tembok kita?”

“Sepuluh!”

“Bukan, dua puluh. Aku bisa jelas melihat bayangan mereka”

“Hai, Danurwinda, tidakkah kau dengar gelak tawa mereka. Pendengaran ku tajam, penglihatanku jeli, aku bisa tahu jumlah mereka. Semuanya adalah dua puluh orang!”

“Sombong sekali kau Danaraja, bagaimana kau bisa begitu saja mempercayai pendengaran dan penglihatanmu, padahal kita sejak kecil sudah berada di sini. Makan sama banyak, melihat sama warna. Sejak kapan kau merasa lebih daripada kita. Aku tetap dalam keyakinanku, jumlah mereka adalah sepuluh”

“Sudah, sudah, mengapa kalian jadi bersitegang begini. Aku hanya ingin kalian berdiskusi dengan kepala dingin. Bukan merasa paling benar. Aku sendiri belum berani memutuskan berapa jumlah mereka, mungkin setelah mereka kembali dari bawah, aku akan kembali menghitung bayang-bayang mereka dan mengujinya dengan kesimpulan kalian”

“Sial kau Darmakusuma, aku kira sikap bijaksanamu perlambang kecerdasanmu, ternyata tidak. Kau tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak berani berargumen”

“Tutup mulutmu, Danareja, setidaknya ia tidak pernah menyakiti hatiku!”

Perdebatan panjang dimulai. Mereka tidak berhenti saling membantah, yang satu merasa lebih benar daripada yang lain sedangkan Darmakusuma tetap dalam sikapnya yang berhati-hati. Untung saja lengan dan kaki mereka terbelenggu. Kalau tidak, tentu pembunuhan pertama di dalam gua itu akan terjadi.

“Asu buntung, anjing sial, bisa kalian semua diam!,” bentak penjaga dari ujung gua.

Seketika mereka pun terdiam. Dan perdebatan itu untuk sementara terhenti.

“Ini salah kalian, penjaga sampai marah terhadap kita. Bagaimana kalau mereka marah dan menumpahkan kekesalannya terhadap kita. Bisa habis nyawa kita hari ini”

“Diam kau, Danurwinda, mereka tidak akan berminat melukai kita. Apalah harga kita dihadapan mereka. Lagipula mereka tidak lebih dari seekor anjing yang tindakannya ditentukan oleh titah raja keparat itu!”

“Ya, tapi jangan hanya karena bentakan seorang petugas, kita menghentikan diskusi kita, satu-satunya kesenangan kita di tempat ini”

“Apalagi yang ingin kau diskusikan, Darmakusuma?”

“Begini. Setiap malam, ketika serigala gunung melolong dan kelelawar mulai beterbangan di atas kita, aku melihat penampakan aneh di dinding gua. Sebuah mahluk aneh kerap melewati kita. Jalannya mundur ke belakang, ia memiliki paruh, namun memiliki leher yan sangat tipis untuk ukuran kepalanya. Bunyinya berdecit seperti tikus yang setiap hari bermain di bawah kaki kita. Apakah itu kira-kira, Saudaraku?”

“Sebentar, aku harus berpikir sejenak. Mungkin saja itu adalah burung unta yang bernyanyi dan mencari makan di dasar gua”

“Ringan sekali mulutmu, Danurwinda, mana pernah kau melihat burung unta. Apalagi yang ini berjalan mundur. Burung apa yang berjalan mundur?!”

“Aku benar, Danaraja, paruh itu jelas paruh burung. Masalah ia berjalan mundur itu bukan urusanku, urusanku hanyalah menilai berdasarkan apa yang terlihat. Sedangkan suara berdecit itu jelas-jelas suara unta. Dan burung yang bersuara seperti onta tidak lain dan tidak bukan disebut burung unta”

“Kau terlalu gegabah dalam menyimpulkan, Danurwinda”

“Kau menyela tanpa memberikan solusi, sekarang apa yang bisa kau jelaskan!”

“Itu jelas belalai seekor gajah yang ditekuk menyerupai paruh burung. Suara berdecit itu adalah bunyi gesekan kulit sang gajah dengan dinding gua di kiri kanannya yang terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar.”

“Kalau memang gajah itu besar. Mengapa bumi di bawah kita tidak bergetar ketika mahluk itu lewat. Bahkan bumi bergeming ketika bayangan itu melewati kita.”

“Kau benar juga, Danareja,” bela Darmakusuma, “namun sekali lagi maafkan keraguanku, Saudaraku. Aku masih belum bisa menyimpulkan apakah gerangan bayangan itu seekor burung unta atau seekor gajah atau bahkan mahluk lain yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Pembelaan Darmakusuma tidak memantik percakapan lain. Hari sudah malam dan ereka sudah lelah berdiskusi sepanjang hari. Tidak hanya kali ini; Setiap hari mereka berdebat tentang benda-benda yang terpantul menjadi bayang-bayang di dinding gua. Perdebatan itu tidak pernah berujung. Masing-masing pihak memiliki argumennya sendiri yang tampak meyakinkan. Terkadang caci maki keluar dari mulut mereka apabila sudah terdesak. Namun, jauh di dalam hati mereka muncul kesadaran, bahwa kebenaran itu jauh dari apa yang mereka lihat dan dengar, hal inilah lebih dalam dipikirkan oleh Darmakusuma. Tapi karena lamanya mereka di tahan, suara hati itu lenyap, mereka merasa pendapat merekalah yang benar bahkan bayang-bayang dan pantulan suara di gua adalah kebenaran itu sendiri.

***

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Musim hujan berubah menjadi musim kering. Kerajaan Dayeuhluhur yang subur mengalami masa-masa sulit tahun ini. Koalisi politik tidak dapat dibangun dengan kokoh. Kekecewaan bangsawan terjadi dimana-mana. Tidak heran jika terjadi pemberontakan di kota-kota pesisir.

Portugis yang menjadi sekutu kerajaan mengalami kekalahan di Malaka. Adipati Unus dari Kerajaan Demak berhasil menggalang pasukan gabungan Aceh-Pasai-Gowa untuk menghantam kekuatan Portugis di Malaka. Pelabuhan dunia itu dikuasai koalisi gabungan. Di priyangan, Portugis tidak lebih dari pesakitan yang meminta perlindungan kepada Raja dengan musuh dimana-mana.

***

Pada suatu malam, bulan purnama menampakan keanggunannya. Serigala gunung takzim melihat sang dewi, melolong lirih sebagai tanda syukur. Ikan-ikan sungai Cikapundung mencari batu-batuan, mulai mengeluarkan telur mereka yang kelak dibuahi para penjantan. Kera-kera hutan merasakan energi yang luar biasa dari bulan, mereka mulai mencari pasangan dan menggodanya dengan teriakan-teriakan. Inilah malam dimana semua makhluk melampiaskan hasrat mereka, tanpa mereka sadari, demi kelangsungan hidup bangsa mereka.

Jauh di dasar gua, di bawah gunung Sunda, dimana mitos bertemu dengan kekacauan politik, seorang penjaga keluar dari pos jaga dan tergopoh-gopoh menuruni tangga gua yang curam. Menuju tempat ketiga tahanan dibelenggu.

“Sampurasun. Sampurasun. Hei, salah satu dari kalian, dengar!” teriak penjaga kepada para tahanan.

Sayang, mereka sudah tertidur pulas. Namun tidak bagi Darmakusuma, ia memang selalu tidur larut, memikirkan apa yang tidak kedua saudaranya pikirkan.

“Rampes. Ya, ada apa? Siapa kau?”

“Aku penjagamu yang biasa menjaga agar api unggun di belakang kalian tetap menyala, dan memastikan belenggu di tangan dan kaki kalian tetap terkunci”

“Ya, apa keperluanmu sehingga selarut ini datang dan mengganggu istirahat kami”

“Begini. Aku mendapat laporan dari para bangsawan yang memberontak, bahwa Raja telah tiada, tubuhnya ditusuk keris oleh abdi setianya yang membelot. Tahta kerajaan jatuh ke tangan putra mahkota yang bijak dan menaruh hormat kepada ajaran Kitab Pangabeda. Semua penduduk merasa senang dengan bertahtanya sang raja muda ini. Panen berlimpah dan berdagangan dengan kerajaan lain mulai dibuka. Beberapa tahanan di kota dibebaskan. Sayangnya, kalian adalah tahanan politik. Dewan kerajaan tidak setuju jika kalian dibebaskan begitu saja, khawatir pemberontakan tanpa akhir akan terjadi lagi di Dayeuhluhur”

“Syukur kepada Hyang Tunggal atas terpilihnya raja bijaksana lagi paham akan ajaran linuhung. Tapi aku belum mengerti mengapa dewan kerajaan bersikap keras terhadap kami. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun semenjak kami kecil.”

“Aku tidak paham karena aku hanya menyampaikan berita. Janganlah berkecil hati. Besok, seluruh penjaga gua ini akan dipanggil ke alun-alun kerajaan untuk merayakan hari ulang tahun ibu permaisuri. Perjalan dari sini ke ibu kota kerajaan memakan waktu 3 hari dan kembali 3 hari. Aku bisa membantu kalian keluar menghirup udara bebas selama itu. Tapi ingat, aku tidak bisa membantu kalian bertiga sekaligus. Satu per satu dari kalian akan keluar pada pagi hari dan kembali ke bawah setelah hari ke dua. Jika kalian ingkar dan memilih untuk kabur, maka anjing-anjing lapar penjaga gua akan memakan kalian bulat-bulat!”

“Ah, sungguh! Terimakasih penjaga. Sudah lama aku memimpikan melihat dunia luar. Melihat yang belum pernah terlihat dan menghirup yang belum pernah terhirup”

“Tidak usah kau berterima kasih. Aku juga berharap kelak Raja akan membebaskan kalian dan menghapus catatan dusta tentang kalian. Cepat kembali tidur! Besok pagi kau bersiap. Kabarkan kepada semua saudaramu yang masih terlelap”

“Terimakasih penjaga, terimakasih sekali lagi”

Pikiran Darmakusuma melayang-layang sebelum tidur. Membayangkan segala kemungkinan yang muncul di luar sana. Sebuah dunia yang berbeda dari dunianya sekarang, dunia yang memiliki warna dan rasa, yang diliputi kebenaran tanpa kepalsuan. Ketika lamunannya mulai mencapai titik yang tak terbayangkan, sarafnya mulai tenang, jiwanya pergi menuju genggamaNya, ia tertidur pulas.

***

Matahari keluar dari singgasananya. Menyinari bumi persada dengan sinar hangatnya. Para petani mulai beraktivitas. Lembu-lembu kekar dikerahkan untuk membajak sawah. Para istri sibuk mengumpulkan kaya bakar untuk menyediakan makanan bagi keluarga mereka. Setelah sarapan, penjaga gua mengambil kunci belenggu. Dengan langkah berat ia mulai memasuki mulut gua, menundukan punggungnya dan berhati-hati menuruni anak tangga yang licin akibat hujan deras tadi malam. Pembebasan Darmakusuma pun dimulai.

“Terima kasih petugas, aku sangat terharu kau rela melakukan ini demi kami.”

“Ah, bukankah ajaran leluhur kita mengajarkan memperlakukan manusia layaknya manusia. Dan kau adalah manusia, tidak peduli apa dosa yang telah kau perbuat.”

“Iya terimakasih, semoga Sang Hyang Tunggal memberkati engkau.”

Darmakusuma melakukan olahraga ringan. Punggungnya terasa kaku. Lehernya pun berat, begitu juga dengan kaki dan lengannya. Setelah perederan darah lancar mengaliri seluruh anggota tubuhnya, ia mulai berjalan perlahan menaiki tangga gua. Di ujung ia melihat cahaya yang sangat terang benderang. Rasa penasaran meluap-luap dalam jiwa Darmakusuma. Cepat-cepat ia berjalan menuju mulut gua. Ketika ia sudah sampai di mulut gua, ia terkejut.

“Ah, apa ini! Cahaya apa ini! Sial aku tidak bisa melihat apapun!”

Darmakusumu merasakan matanya terbakar. Ia tidak terbiasa dengan sinar matahari. Berkali-kali ia menggosok matanya dan mencoba membuka untuk melihat sekitar. Namun rasa perih itu terus ada. Bahkan bertambah-tambah ketika melihat ke langit.

Ketika hari beranjak petang, ketika ayam-ayam hutan kembali ke lubang persembunyiannya, Darmakusuma mulai bisa melihat sekitarnya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat adalah pantulan dirinya di sungai. Ia melihat wujud yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bentuk mata, hidung dan telinga. Rambut, janggut dan bentuk dada. Ia menyaksikan dirinya sendiri, yang bahkan dahulu ia tidak percaya bahwa dirinya benar-benar ada. Setelah itu, ia melihat hutan dihadapannya. Indah, sungguh indah, pepohonan itu hijau dan teduh. Di dahannya ratusan burung bernyanyi dan berterbangan ke dahan pohon berikutnya. Ia juga melihat gunung yang bertumpuk di utara gua. Halimun senja menutupi puncak gunung, menciptakan suasana mistis dan syahdu. Tak dirasa, air matanya menganak sungai melihat keajaiban itu.

“Terimakasih Sang Hyang Tunggal, kini aku paham apa itu kebenaran, apa itu kepalsuan. Sungguh indah alam yang terbentang dihadapanku. Warna dan suara yang belum pernah aku dengar kini berwujud dan terpatri di dalam jiwaku. Matahari menyinari sekelilingku, menyibak kebenaran yang selama ini terbenam dalam kegelapan. Setelah ini aku arus memberitahu Danaraja dan Danurwinda, bahwa penglihatan kita selama ini adalah palsu dan diskusi kita selama ini adalah omong kosong.”

Langit mulai gelap dan matahari kembali keperaduannya. Darmakusuma mengambil obor dan menyusuri jalan setapak menuju mulut gua. Penjaga mengikutinya dari belakang. Setelah berada di tembok tahanan penjaga kembali mengunci tangan dan kaki Darmakusuma dengan belenggu. Sesaat sebelum meninggalkannya, penjaga mematikan obor dan kembali ke atas tanpa bersuara.

“Celaka, kenapa kini mataku tidak bisa melihat dalam gelap. Ah kemana penjaga tadi mengapa ia mematikan obor dan api unggun di belakang tembok!”

Lagi-lagi matanya merasa perih. Kali ini kegelapan dimana ia bermulalah yang menyebabkan kepedihan itu. Matanya tidak dapat lagi melihat dalam gelap, bahkan oleh cahaya sedikit dari obor penjaga yang lalu lalang di belakang tembok, matanya masih juga tidak melihat. Ia mulai menyesali keputusannya melihat dunia luar.

“Kalau gua gelap ini adalah keabadian dalam hiduku, mengapa aku harus melihat dunia luar yang terang benderang, yang hanya dapat aku nikmati sementara dan bahkan kini menghilangkan penglihatanku, sumber kesenanganku, sumber diskusiku bersama saudara-saudaraku,” bisik Darmakusuma di dalam hati.

“Hai Darmakusuma, apa yang kau pikirkan, mengapa kau tampak seperti orang bingung, bukankah kau tadi mampir ke dunia luar, seharusnya kau merasakan kebahagiaan?”

“Aku pada mulanya sangat bahagia ketika melihat dunia luar. Aku bisa melihat warna langit ketika senja datang dan nyanyian burung hutan bersahut-sahut menyambut malam. Namun ketika aku tahu bahwa dunia luar itu sementara dan kepastian adalah mendekam dalam gua ini bersama kalian, penglihatanku mulai tidak terbiasa dengan kegelapan, bahkan aku tidak bisa melihat lagi wajah kalian dari dekat. Ah, sungguh meruginya diriku ini, Saudaraku.”

“Asu buntung, kenapa kemarin kau terima begitu saja bujuk rayu penjaga untuk melihat dunia luar, Darmakusuma. Sekarang kau rasakan akibatnya. Kebijaksanaanmu telah menyeretmu kedalam lembah kecelakaan!”

“Kau sungguh-sungguh kehilangan penglihatanmu, Darmakusuma?”

“Ya, aku tidak berdusta, aku tidak lagi bisa melihat kalian. Aku kira kita akan mendapatkan kebahagiaan setelah melihat dunia luar. Ternyata kebutaan yang aku dapat. Kalau ini yang akan terjadi tentu aku akan menolak tawaran penjaga tadi malam.”

“Tenang Darmakusuma, mungkin penglihatanmu akan pulih kembali seiiring berjalannya waktu. Kita berdoa saja kepada Sang Hyang Tunggal.”

“Terima kasih, saudaraku”

“Kalau begitu, besok jika penjaga itu datang, kita tolak saja semua kebaikannya, kalau perlu kita maki dan ludahi wajahnya. Bilang saja kepadanya bahwa kegelapan adalah rumah kita, dan cahaya adalah musuh bagi kehidupan kita.”

“ya, ya, aku setuju denganmu, Danaraja”

Percakapan itu berakhir ketika malam menjelang. Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma terdiam dalam pikirannya masing-masing. Mereka tidak habis pikir mengapa dunia luar yang penuh warna dan cahaya bisa begitu menyakitkan. Padahal mereka bosan melihat bayang-bayang dan berdiskusi dalam kepalsuan. Kini harapan untuk melihat dan hidup di dunia luar telah mereka kubur dalam-dalam. Hati mereka telah terkunci. Kebenaran bagi mereka adalah kegelapan. Langit bagi mereka adalah dinding gua. Surga bagi mereka adalah makanan dari penjaga. Hidup mereka tidak lebih kisah binatang ternak, bahkan lebih hina dari mereka.

Diadaptasi dari Alegori Gua Plato

Ferry Fadilah. 25 September 2015, Bandung.

, ,

Leave a comment

Hidup Sebelum Kelahiran

The Death of Socrates. Oil On Cavas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New Yorl. Wikiedia,com

The Death of Socrates. Oil On Canvas. Painted by Jacques Louis David. Metropolitan Museum of Art, New York. wikipedia.com

Filsafat bukan kegiatan orang tanpa kerjaan. Filsafat adalah semangat terus-menerus untuk mencari kebenaran. Menyibak yang tampak agar terbuka segala hakikat.

Belakangan ini, saya menyibukan diri untuk mengkaji buku-buku filsafat. Dimulai dari filsafat ilmu, saya mulai tertarik dengan alur pemikiran Platonik. Seorang yang lahir dalam keluarga bangsawan di Athena pada 427 SM. Beliau sangat dipengaruhi oleh gurunya, Sokrates, yang dikenal dengan awal mula filsafat idealisme.

Dalam buku Plato yang sudah saya baca yakni Republik dan Phaedo narasi di dalamnya didominasi dialog Sokrates bersama murid-muridnya. Dialog memang metode yang digunakan Sokrates untuk bertanya kepada kaum muda di Athena tentang Idea atau kebenaran mutlak yang sudah ada di dalam jiwa manusia, sebelah mereka lahir ke dunia.

Dalam bukunya Phaedo yang kemudian diterjemahkan menjadi Matinya Sokrates oleh A. Asnawi dari Penerbit Narasi, dinukil dialog yang menunjukan kepercayaan Socrates bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia :

Kalau begitu, kita pasti telah memperoleh pengetahuan tentang bandingan ideal pada suatu waktu sebelum ini?

Ya.

Artinya, sebelum kita lahir, kukira?

Benar.

Dan jika kita memperoleh pengetahuan ini sebelum kita lahir, dan lahir dengan memilikinya, maka kita juga tahu sebelum kita lahir dan begitu kita lahir bukan hanya sesuatu yang sama atau yang lebih besar atau lebih kecil, tapi semua ide lainnya…

Itu benar.

…Kalau begitu, Simmias, jiwa-jiwa kita pasti sudah eksis sebelum mereka dalam bentuk manusia-tanpa tubuh, dan pasti telah memiliki inteligensi.

Tidak hanya percaya bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran di dunia, dari dialog di atas Sokrates juga percaya manusia dalam wujud ruh-ruh itu manusia memiliki intelegensia, mampu berpikir dan mengetahui hal-hal. Pengetahuan di alam sana itulah yang berusaha untuk diingat kembali oleh Sokrates melalui pertanyaan-pertanyaan dalam dialog dengan para pemuda. Kemudian teori ini dikenal dengan Theori of Recollection (mengingat kembali).

Teori ini memiliki kesamaan dengan teologi Islam. Di dalam ajaran Islam dipercaya ada alam ruh sebelum kelahiran manusia di dunia. Seperti yang tertulis dalam Surat Al-A’raf (7) ayat 173 :

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) manusia keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, “Bukankah Saya Tuhamu?”, mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan, kami sungguh bersaksi”…

Dari dialog di atas antara Tuhan dengan manusia tergambar jelas bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di dunia. Bahkan jawaban manusia seperti itu bukankah ini menandakan bahwa manusia di alam sana memiliki intelegensi. Lantas adakah pengetahuan lain yang dimiliki manusia di alam sana yang kemudian terlupakan ketika manusia terlahir ke dunia?

Ini masih pertanyaan besar. Kalau ternyata manusia sudah mengetahui rahasia alam sebelum kelahiran kemudian karena proses kelahiran pengetahuan itu lenyap dan harus diingat kembali cukup dengan logika (a priori) maka, mungkin, kita akan menemukan manusia-manusia ajaib yang terkucil dalam masyarakat dan buta akan buku referensi namun dapat menceritakan dengan detil fenomena di dasar lautan dan galaksi raya hingga ke dasar hakikatnya. Saya belum mengetahui hal ini.

Yang pasti hingga kini, ilmu pengetahuan didapat tidak saja hanya dengan berpikir dan mengingat-ingat pengetahuan di alam sana. Namun juga dengan pengamatan indra (posteriori) dan melakukan penyeldikan mendalam atas setiap benda yang tampak.

Namun, sebagai kesimpulan, bukan berarti saya tidak percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa didapat dengan mengingat pengetahuan di alam sana. Tuhan ialah sumber pengetahuan, awal dari segala sesuatu yang megajarkan Muhammad ilmu syariat dan hakikat, yang memberi penerangan para wali tentang kehidupan. Tidaklah musykil bagi manusia, pada maqam atau derajat tertentu untuk mengetahun rahasia alam semesta, pengetahuan alam sana, logos jika memang dikehendaki oleh Nya.

Wallahu a’lam.

Ferry Fadillah. Bandung, 22 September 2015.

, , , , , ,

6 Comments

Popularitas Menghapal dan Matinya Ke-kepo-an

part-time-lecturer-in-civil-engineeringMasih terngiang di dalam pikiran ini, mendebarkannya menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS) pada bulan Agusus lalu. Sebagai informasi, aku adalah mahasiswa akuntansi pada sebuah sekolah kedinasan di bilangan Tangerang Selatan. Mata kuliah yang menjadi santapan sehari-hari tidak jauh dari ilmu-ilmu berbau angka yang menuntut ketelitian dan ketepatan. Yang paling aku takuti –kebetulan semua subjek utama- ialah Intermediate Accounting, Cost Accounting, dan Financial Management.

Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti untuk menghadapi mata kuliah itu semua. Toh ilmu-ilmu itu dirumuskan oleh manusia dengan alur logika yang dapat dipelajari. Sayangnya, semangat untuk mempelajari itu, mengkaji lebih dalam dan menggali makna filsofis dalam setiap mata kuliah selalu terbentur oleh cara berpikir –baik dari sesama mahasiswa maupun dari pihak dosen.

Gambaran ringkasnya seperti ini.

Belajar mata kuliah melalui buku rujukan asli sepertinya sudah tidak diminati oleh rekan-rekan mahasiswa –wabil khusus di sekolahku, maaf, politekniku. Biasanya mahasiswa lebih tertarik dengan serpihan slide yang ditampilkan ketika kuliah lalu meminta koordinator kelas untuk mencetak dan menggandakannya. Pun, kertas-kertas itu hanya dibuka, diberi catatan pinggir dan komentar-komentar beberapa hari menjelang ujian dilaksanakan. Maka tidak salah kalau ada orang bertanya hal ihwal suatu konsep kepada dosen di kelas pada saat jam pelajaran, mayoritas mahasiswa hanya terdiam dan mengangguk setuju. Beberapa orang menggerutu atau bahkan di dalam hati sinis terhadap orang yang selalu bertanya itu.

Dosen sebenarnya ibarat ‘nabi’. Tugasnya memberikan mahasiswa pencerahan akan ilmu yang sedang dipelajari. Pencerahan bukan berarti sukses memindahkan isi buku ke kertas ujian, tapi dapat menggunakan ilmu di kelas bagi kehidupan. Kalau ilmu itu absrak maka dapat digunakan untuk memaknai segala fenomena di dunia ini. Kalau ilmu itu praktis maka dapat dibagikan bagi mereka yang memerlukan atau minimal menjauhkan mahasiswa dari dosa kemiskinan dan kedunguan.

Permasalahannya muncul ketika dosen pun tidak memiliki ketertarikan intelektual untuk mengkaji suatu disiplin ilmu sampai ke level filosofis. Sederhananya, rumus matematis disampaikan kepada mahasiswa, mahasiswa menggangguk setuju lalu menghapal mentah-mentah rumus-rumus itu, dan soal-soal ujian disajikan untuk diisi, bagi yang dapat menindahkan rumus-rumus tadi ke kertas ujian maka akan mendapat nilai bagus dan diberi predikat mahasiswa pintar. Ada yang janggal?

Saya jadi teringat dengan video di whatssup yang disebar oleh kawan saya. Seekor burung beo dengan lihai bisa menirukan sebagian ayat-ayat suci Al-Quran. Melihat fenomena itu kiranya kita bisa melakukan refleksi, kalau begitu (hanya menghafal dan menirukan) apa bedanya kita dengan binatang? Lantas apa beda manusia dengan binatang?

Manusia punya otak, binatang juga punya. Manusia bisa dilatih untuk patuh, anjing lebih-lebih bisa. Manusia bisa diajar hal rumit, simpanse juga bisa melakukan hal rumit. Perbedaannya adalah manusia bisa melakukan pendalaman filosofis atas segala sesuatu sedangkan binatang tidak.

Pendalaman filosofis dalam mengkaji suatu ilmu berarti memahami benar konsep, asumsi, masalah, kelebihan dan kekurangan dari suatu ilmu. Dari pendalaman itu munculah eagle eyes atau pandangan yang luas atas segala masalah. Mahasiswa kelak bisa membedakan mana yang esensial mana yang tidak esensial; mana asumsi yang bisa dirubah atau bahkan asumsi yang salah; mana ilmu yang perlu diperbaiki mana ilmu yang perlu dipisah atau dilebur.

Idealnya adalah, seorang mahasiswa itu kelak tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan tapi juga menjadi produsen ilmu pengetahuan. Sehingga, kelak, harapan kita bersama, teoritikus dan ilmuwan yang selalu jadi rujukan di buku-buku bukan lagi orang asing yang bahkan sulit bagi lidah kita untuk mengucapkannya. Namun, nama-nama daerah nusantara yang membuat kita bangga dan mampu berdiri sejajar dengan semua bangsa di dunia.

Ferry Fadillah. Antapani, 4 September 2015

sumber gambar: catchwork.co.uk

, , , , ,

Leave a comment

Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

, , , ,

Leave a comment

Refleksi Budaya Birokrat

Aku memberi kesaksian,

bahwa di dalam peradaban pejabat dan pegawai

Filsafat mati

dan penghayatan kenyataan dikekang

diganti dengan bimbingan dan pedoman resmi.

Kepatuhan diutamakan,

kesangsian dianggap durhaka.

Dan pertanyaan-pertanyaan

dianggap pembangkangan.

Pembodohan bangsa akan terjadi

karena nalar dicurigai dan diawasi.

 (W.S. Rendra dalam Kesaksian Tentang Mastodon-Mastodon. Jakarta, November 1973)

             Apakah yang melatarbelakangi sang “Burung Merak”, W.S. Rendra menulis puisi di atas pada tahun 1973? Apakah pada saat  itu peradaban pejabat dan pegawai, kemudian saya generalisasi sebagai birokrat, di negeri ini sedang dalam titik kritis : menuju kematian filsafat ? Apakah pada saat ini peradaban para birokrat sudah lebih baik atau malah menuju titik kehancuran?

 Refleksi Budaya Birokrat

            Pertanyaan-pertanyaan di atas selalu berputar di dalam otak saya. Apalagi, secara nyata-nyata, saya adalah bagian dari birokrasi itu sendiri.

            Sebagai birokrat, saya tidak asing mendengar eselonisasi, strukturisasi, hierarki, petunjuk pelaksanaan dan istilah formal lainnya. Dari semua istilah itu dapat dibayangkan bahwa kebudayaan/peradaban birokrat bersifat kaku, instruksi top-bottom, loyalitas dinomor satukan dan struktur adalah segala-galanya.

            Seorang Pejabat Eselon II, misalnya, memiliki beberapa bawahan Eselon III, Eselon IV dan Pelaksana. Apabila institusi birokrasi itu menganut sistem semi militer, apa yang dikatakan Pejabat Eselon II harus dilaksanakan oleh Pejabat dan Pelaksana di bawahnya. Tanpa kritik bahkan cela. Maka tidak jarang kita melihat tingkah laku para Pejabat yang menyebalkan orang awam dan merepotkan anak buahnya. Akhirnya, mereka hanya bisa curhat sesama pelaksana atau pejabat selevel tanpa berani mengritik pejabat dengan level di atasnya.

            Membaca kembali puisi W.S. Rendra di atas, kita tahu bahwa birokrat diprioritaskan sebagai orang-orang yang patuh. Misalnya, diadakan Pelatihan Kesamaptaan. Di sana birokrat ditempa dan didoktrin arti pentingnya korsa dan loyalitas. Bagaimana mematuhi perintah dengan cepat dan tepat, bagaimana menunjukan sifat hormat di depan atasan dan bagaimana merasakan penderitaan secara kolektif adalah makanan keseharian Diklat Kesamaptaan. Hasilnya? Birokrat-birokrat yang patuh, tunduk dan enggan untuk berinovasi. Karena, bisa jadi, inovasi, kesangsian, pertanyaan-pertanyaan menandakan pembangkangan.

            Jawaban untuk pembangkangan, seperti yang saya ketahui, adalah ancaman mutasi ke daerah antah berantah, dipindahkan ke bagian lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya dan sanksi sosial berupa bullying. Sehingga tidak heran, para pelaksana di tingkat struktur paling rendah hanya bisa sabar dan berdoa ketika mengalami kesewenang-wenangan.

Memulai Titik Perubahan

            Semua kebobrokan itu bermula ketika birokrat berhenti menghidupkan filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia yang terdiri dari kata philia (persahabatan, cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Sehingga, secara harafiah filsafat bermakna orang yang mencintai kebijaksanaan.

            Filsafat menekankan kepada cara berpikir kritis, menimbang-nimbang segala sesuatu; benar atau salah, melihat segala permasalahan dari perspektif yang lebih luas, meninggalkan taklid (tunduk buta) terhadap sebuah doktrin, ideologi bahkan agama. Jadi apa yang diharapkan dari hidupnya filsafat dalam kebudayaan birokrasi adalah munculnya birokrat-birokrat yang berjuang di jalan kebenaran, bukan birokrat-birokrat yang membela atasannya, seperti anjing membela tuannya.

            Konsekuensinya, institusi birokrasi harus berani menerima apabila ada salah satu anggotanya melaporkan kebobrokan institusinya kepada media masa ataupun Institusi Pengawasan (KPK, Inspektorat Jenderal dll). Institusi birokrasi harus berlapang dada terhadap itu semua dan berhenti saling melempar tanggung jawab. Berkontemplasi atas segala kesalahan dan mulai melakukan revolusi birokrasi secara radikal.

              Dimulai dari diri kita sendiri yang menghidupkan kembali filsafat di institusi masing-masing, saya kira birokrat-birokrat yang berfilsafat akan mengembalikan coreng muka negeri ini yang sudah kacau di mata media, nasional maupun internasional. Semoga.

Ferry Fadillah. Badung, 24 September 2013.

, , , , , , , ,

Leave a comment

Oceh Saya Tentang Novel Cinta

Pada suatu malam, saya bersama dua orang rekan kerja berbincang mengenai novel populer di zaman SMA. Dengan mata berbinar, rekan saya menceritakan novel-novel yang menarik minat mereka berikut pengarang dan respon pembacanya pada saat itu. Mendengarkan itu semua, saya heran, kenapa saya tidak dapati hal yang sama di zaman yang sama? Kemana saya? Hasil kontemplasi lebih lanjut dan melihat kembali koleksi buku ketika SMA, saya tertawa sendiri, ternyata koleksi buku saya didominasi filsafat, sosial politik, dan budaya. Untuk ukuran anak remaja, itu semua merupakan tema keaksaraan yang sangat dihindari dan ditakuti!

Diam-diam saya tertarik oleh novel yang dibincangkan malam itu, sebuah novel remaja karya Esti Kinasih, Dia, Tanpa Aku. Saya mencoba menghilangkan semua praduga mengenai dunia novel remaja yang penuh kelebayan. Lembar demi lembar saya nikmati dan ternyata saya menikmati novel itu! Walaupun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi karena tidak sejalan dengan rasio, namun saya coba memaafkannya dengan berbicara dalam hati : ini fiksi bung!

***

Berjalan-jalan ke toko buku sudah seperti ekstasi yang tidak dapat dilewati. Saya melihat toko buku sebagai sebuah surga keberaksaraan, sayang perlu modal untuk menikmati itu semua. Terkadang, tanpa modal, saya hanya berjalan-jalan dan melihat buku yang sekiranya menarik.

Awal bulan oktober saya berkunjung ke sebuah toko buku di Denpasar. Ada tumpukan buku yang menarik hati saya. Kovernya sangat berwarna, ada empat orang dengan jenis kelamin yang berbeda berada di atas perahu kertas berwana merah. Saya ambil dan membaca judulnya : Perahu Kertas karya Dee. Sungguh, ketertarikan untuk membaca novel semacam ini merupakan sebuah keajaiban dalam hidup saya, namun karena ada rasa ingin tahu akhirnya saya mengambil buku ini dan langsung menuju kasir.

Tiga malam saya membaca novel populer tersebut. Responnya sama, saya menikmati setiap adegan yang digambarkan melalui kata-kata, perasaan saya bisa penulis campur adukan, putar balikan, sedih senangkan, hebat! Namun, ada beberapa hal yang kurang sreg, entah apa, mungkin saja saya yang anti kisah romantis, mungkin juga karena pradugaan awal saya yang mengkategorikan novel remaja populer sebagai novel lebay.

***

Mihali Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psychology for Third Millenium, mengembangkan pemikiran yang menarik, tentang bagaimana perkembangan informasi mempengaruhi perkembangan diri. Csikszentmihalyi menggunakan istilah meme (baca: mem) untuk menjelaskan unit informasi budaya, yang berkaitan dengan istilah gen sebagai unit informasi genetik pada makhluk hidup. Istilah meme digunakan untuk membentuk manusia. Meme diciptakan secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk satu tujuan tertentu. Akan tetapi sekali meme menjadi eksistensi, ia mulai bereaksi dan mentransformasikan kesadaran penciptanya dan manusia lainnya yang berhubungan dengannya (Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Diliipat : Tamsya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan)

Hubungannya apa dengan novel percintaan? Seperti meme, novel percintaan memproduksi meme cinta, sehingga ia mulai menggiring pikiran setiap orang untuk men-‘cinta’-kan segala hal, misalnya film layar lebar tentang cinta, serial televisi tentang cinta, komik tentang cinta, reality show tentang cinta, hubungan sosial tentang cinta, karya ilmiah tentang cinta, puisi tentang cinta, lagu tentang cinta dan seterusnya. Jadi, meskipun pada awalnya meme dibentuk oleh manusia , ia mulai berbalik dan membentuk pikiran itu sendiri.

Faktanya memang seperti itu bukan? Remaja di indonesia dimanapun dan kapanpun (sepengetahuan saya) selalu menjadikan cinta sebagai topik yang tidak ada habisnya untuk diperbicangkan. Variasinya berbeda tetapi meme asalnya sama : cinta!

Penyebaran meme cinta memang tidak bisa disalahkan melalui produksi novel semata. Novel hanyalah salah satu ‘rekan’ penyebaran, selebihnya ada media audio, visual, maupun audi-visual yang memiliki daya sebar masif dan cepat sehingga mengurangi daya kritis masyarakat untuk memilah mana yang berguna dan mana yang tidak.

Akibat fatal dari meme cinta yang mulai menghegemoni pikiran anak muda di tanah air adalah makin sulitnya ditemukan anak muda yang berkesadaran tinggi untuk melayani sesama, bangsa dan negara. Sulit menemukan relawan-relawan yang bersedia berbakti di bidang pendidikan mengajar di tempat terpencil, sulit menemukan relawan yang bersedia berbakti di bidang kesehatan membuka praktik di daaerah sulit akses. Walaupun ada, mereka semua tidak sebanding dengan jumlah pemuda indonesia yang jumlahnya jutaan itu!

Dalam tulisan ini, bukan berarti saya adalah orang yang anti cinta. Tetapi saya khawatir jika cinta sudah menguasai alam pikir kita semua, apa iya masih ada ruang untuk memikirkan sesuatu yang lebih mulia, yang transenden. Maka dari itu tepat jika saya kategorikan cinta menjadi dua, cinta yang bermuara kepada imanensi (yang dibahas dalam tulisan ini), dan cinta yang bermuara kepada transdensi.

Novel-novel cinta sejauh yang saya tahu hanya menggiring para remaja menuju wujud cinta yang bermuara kepada imanensi. Misalnya, pacaran, ungkapan cinta, puisi cinta dan sebagainya. Maka dari itu jangan heran jika anak-anak remaja selalu galau dan galau dalam perjalanan hidup mereka. Padahal usia produktif seperti itu bisa dibentuk menjadi lebih baik dengan stimulus kebudayaan, kearifan lokal, agama dan moralitas.

Akhir kata, sebelum ide dalam tulisan ini melebar saking banyaknya hal yang menjadi buah pikiran saya selama ini. Dengan hormat saya mengajak pembaca untuk mulai kritis menikmati komoditi budaya (novel dsb) yang disebarkan melalui citra kepopuleran. Semoga dengan kekritisan itu, meme cinta tidak akan menguasai pikiran kita, sebaliknya kita lah yang secara dominan menguasa meme cinta.

Semoga pikiran kita terserahkan. Amieen.

Ferry Fadillah
Denpasar, 20 Oktober 2012

, , , , , , , , , ,

Leave a comment

Dua Sisi Perpisahan

Manusia dalam kehidupannya pasti akan menemukan berbagai macam permasalahan. Karena manusia memang hidup untuk menyelesaikan permasalahan, bukan kabur lalu berlepas tanggung jawab. Karena hal ini lah yang membedakan raga yang berjiwa dengan seonggok raga tak bernyawa.

Mungkin salah satunya adalah pepisahan. Terkadang orang menganggap perpisahan adalah sebuah barokah, rahmat, bahkan sebuah anugerah yang tiada tara. Jika ternyata ia berpisah dengan kesedihan, duka, lara, kedzaliman, dan kebodohan. Ia pasti akan merasa senang dalam perpisahan tersebut, mungkin berteriak kegeringan seperti seorang bocah 5 tahun yang dibelikan sepeda baru oleh ayahnya. Matanya akan berbinar penuh syukur atas terlepasnya belenggu-belenggu yang selama ini mengekang kehidupannya. Ucapan syukur akan terus terlontar dari mulutnya yang dahulu ia pakai untuk memaki-maki keadaan yang telah menistakannya dalam keterpurukan. Langkahnya akan terasa lebih ringan, dan hari-hari yang baru akan ia lalui dengan wajah ceria penuh tawa. Akan ia ceritakan kisahnya kepada sesama dan akan ia tuliskan dalam kertas putih dengan tinta emas perpisahannya itu.

Berlainan dengan hal diatas, terkadang orang menganggap bahwa perpisahan adalah sebuah bencana, kecelakaan, adzab, bahkan kutukan yang menjadi-jadi. Jika ternyata ia berpisah dengan kesenangan, keindahan, suka, keadilan, dan kecintaan. Ia pasti akan menangis teriris-iris dalam perpisahan tersebut, seperti seorang anak yang merengek tidak dipenuhi keinginannya oleh ayahnya. Matanya akan menjadi sayu, gurat-gurat rasa lelah akan tampak di wajahnya, badannya akan melemah karena berusaha keras untuk melawan kenyataan-kenyataan pahit yang menimpanya. Dalam mulutnya ia memuja Tuhan, berpasrah diri akan segalanya, tapi batinnya terus bergejolak seolah tidak percaya dengan keadaan yang ada. Langkahnya akan terasa sangat berat, hari-hari yang akan datang akan ia lalui dengan muka murung penuh kegelapan. Ia akan mematung seribu bahasa dalam keramaian, terdiam dan tertunduk, serta ia akan tuliskan dalam kertas putih dengan tinta air mata perpisahannya itu.

Perpisahan  akan menjadi sebuah yin atau yang, tergantung kepada siapa ia menimpanya. Ia bisa menjelma sebagai malaikat surga yang datang membawa air dari telaga kautsar kepada manusia yang dilanda kehausan di dunia. Ia bisa menjelma menjadi binatang buas yang kelaparan selama berbulan-bulan yang mencabik-cabik penduduk sebuah desa tanpa ampun. Apapun rupanya, apapun bentuknya, apapun wujudnya, apapun rasanya, dan apapun akibatnya  manusia hendaknya tahu bahwa perpisahan adalah nyata ketetapan Tuhan. Ketetapan yang sudah diberikan kepada manusia sebagai ujian darinya, apakah kita seorang beriman atau munafik, apakah kita sungguh-sungguh atau hanya seadanya untuk mendapatkan rahmat dari Sang Kuasa.

Ferry Fadillah
Pulau Dewata. 11-10-2010

, ,

2 Comments