Sekedar Renungan (1)

Menyanyi. Menari. Tersenyum hadapi dunia, begitulah saran-saran motivator. Anggap saja mereka tidak punya latar belakang bisnis. Bersih, tanpa maksud buruk. Maka, kita telan bulat-bulat saja nasihat mereka.

Saya coba terapkan. Sejak pundi-pundi uang memenuhi Anjungan Tunai Mandiri. Menyanyi. Menari. Tersenyum hadapi dunia. Aneh, rasa-rasanya ada yang hilang.

“Suatu kata bermakna apabila dihadapkan dengan kata oposisinya”, kurang lebih itu yang saya ingat mengenai oposisi biner di dalam buku-buku Cultural Studies. Siang bermakna dengan adanya malam. Pria bermakna dengan adanya wanita. Baik terhadap buruk. Atas terhadap bawah. Jika Suka (cita) ada tanpa Duka, apakah Suka (cita) masih bermakna?

Mungkin, kita enggan melihat dunia ini bulat-bulat. Menghindar menuju dunia ‘imaji’ yang diinginkan. Dunia damai, tanpa perang, tanpa lapar.

Tapi apakah pernah ada dunia seperti itu. Sejak adam turun (dipaksa turun?) dari surga menuju Bumi, dan anak-anak mereka melakukan pembunuhan prasejarah , sejak itulah kita harus merasakan perihnya ‘neraka’ kecil ini : bumi.

Ferry Fadillah, Januari 2015

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: