Archive for October, 2015

Dunia Digital

Telepon telah mengalami perkembangan yang pesat. Setelah kali pertama ditemukan Alexander Graham Bell, teknologi komunikasi ini terus mengalami regenerasi hingga titik tak terhingga. Seiring dengan berkembangnya teknologi komputer, regenerasi ini terjadi tidak lagi dalam hitungan tahun, bahkan setiap bulan teknologi komunikasi yang baru muncul.

Jiwa smartphone adalah software. Semesta bagi mereka adalah cyberspace yang terdiri dari bit bit digital. Kombinasi angka satu dan null yang berhasil mengatasi sekat ruang dan waktu. Kini, interaksi antar manusia bisa terjadi tanpa melibatkan tubuh biologis. Mengurung diri dalam kamar, dengan kelihaian akal dan kelincahan jari, manusia satu dengan yang lainnya bisa berinteraksi, berdiskusi, berbisnis, berpolitik, bermain hingga bercabul ria dengan pasangan manapun di negeri manapun.

Euforia konektifitas ini telah melumpuhkan kesadaran. Manusia telah lupa bahwa dunia digital hanyalah citra yang dibangun oleh imajinasi dan terlepas dari realita. Manusia dalam dunia digital bisa menjadi siapa saja dan apa saja, terlepas dari kenyataan dirinya di dunia nyata. Seorang penyamun dengan kata-kata relijius bisa menjadi seorang ustadz. Seorang ustadz yang aku facebook-nya diretas dan menyebarkan konten porno, sekejap dicap munafik oleh penduduk digital. Seorang penipu dengan pencitraan di media masa maka menjelmalah ia seorang satrio piningit yang digadang akan membebaskan bangsa dari keterpurukan.

Semua itu adalah wajar, mengingat hasrat paling primitif manusia ialah ingin selalu terlihat indah lebih dari kenyatannya. Maka hasrat itu mendapat surga di dalam dunia digital. Seperti ikan yang bertemu dengan air. Manusia dengan mudah mencabut identitasnya di dunia nyata demi ketenaran di dunia maya. Dengan bantuan kamera 360, misalnya, seorang pemuda bisa memodifikasi citra dirinya menjadi lebih rupawan sesuai dengan konstruksi budaya saat ini. Dimana rupawan dikaitkan dengan kulit bersih dan tubuh atletis. Citra modifikasi itu adalah identitas baru yang akan disebarkan di dunia maya. Dengan tujuan mendapatkan like sebanyak-banyaknya dari sesama manusia di dunia itu.

Fenomena ini terjadi tidak hanya dikalangan muda-mudi yang kemudian dicap alay oleh komunitas sosial. Kini manusia-manusia digital lintas usia dan budaya telah enggan memahami dirinya sebagaimana adanya. Dalam benak mereka, ‘apa yang seharusnya’ yang bahkan musykil untuk terwujud dalam realita harus terwujud dengan kebohongan, kemunafikan dan manipulasi di dunia digital. Harapannya adalah mendapatkan pujian atau sekedar terbebas dari realita yang enggan mereka hadapi.

Sikap manusia di dunia digital yang terakumulasi menjadi sikap global seperti di atas menunjukan kini ras mansuia telah memasuki the dark age yang ditandai dengan kebingungan dalam menilai kepribadian. Politisi dengan sumber daya ekonominya bisa memoles diri sesuai dengan yang diinginkan. Dengan uang, media takluk. Dengan media, rakyat tunduk. Maka jangan lah terheran-heran, di era demokrasi langsung ini yang berbarengan dengan era kemahsyuran dunia digital, rakyat selalu geram dan gemas ketika melihat pemimpin yang mereka agungkan ketika kampanye dulu bekerja tidak sesuai dengan harapan.

Begitulah dunia sekarang. Manusia akan disibukan dalam memilah jarum dalam jerami, karena citra yang sudah tercerabut dari realita dan cara baru berpikir manusia: Aku online, maka aku ada!

Ferry Fadillah

Bandung, 23 Oktober 2015

, ,

Leave a comment

Arok Dedes

74352d4afae28b1d482aa85d5e4bf22bJudul               : Arok Dedes

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tahun Terbit     :  2015

Halaman          : 565

Sejak kecil, kisah Ken Arok yang kita kenal selalu berkaitan dengan kutukan keris Empu Gandring. Keris pesanan Ken Arok itu ditempa dengan tenaga adikuasa. Murka melihat keris pesanannya tidak kunjung usai, Ken Arok menghunuskan keris sakti itu kepada Empu Gandring. Sebelum ajal tiba, Sang Empu mengutuki Ken Arok beserta tujuh turunannya akan tumpas oleh keris itu. Begitulah sejarah di buku-buku sekolah beredar, dengan sumber Kitab Pararaton yang ditulis abad ke-15, anak sekolahan dicekoki kisah mistis yang bercampur takhayul dan metafora yang bercampur dengan fakta.

Pramoedya Ananta Toer hadir seperti nabi di tengah-tengah ke-jahil-an itu. Melalui roman sejarahnya berjudul Arok Dedes, Pram –begitu beliau disapa- berhasil memilah antara fakta dan metafora; membongkar mistisme dan takhayul; menyuguhi pembaca Indonesia dengan narasi logis-historis tentang teka-teki politik di masa silam.

Kisah Arok-Dedes yang sarat mistis direduksi menjadi tragedi sosial-politik di Tanah Jawa ketika Kerajaan Tumapel –kerajaan otonom di bawah Kerajaan Kediri- dipimpin oleh seorang Akuwu, Tunggul Ametung, bertindak sewenang-wenang kepada rakyat. Akuwu yang berdarah Sudra beragama Wisynu itu berhasil memegang tampuk kekuasaan dengan pembunuhan dan perampokan. Perbudakan ,yang sudah dihapuskan Raja Erlangga beberapa abad silam, dihidupkannya dalam restu Raja Kertajaya di pusat kekuasaan Kediri. Pada saat itu, dengan mudah orang yang berhutang atau bermasalah dengan punggawa kerajaan dipariakannya. Maka, binasalah batas-batas triwangsa (brahmana, kesatria, sudra) yang sudah sudah mengakar kuat dalam masyarakat.

Atas tindak tanduknya yang melebihi batas dan melanggar kehendak para Dewa, Akuwu Tumapel telah menuai bibit permusuhan dengan berbagai macam kelas. Kelas Brahamana Syiwa, yang memiliki ambisi mengembalikan syakti Syiwa sebagai agama negara, menggalang dukungan dan melakukan pertemuan rahasia untuk menumbangkan kuasa Sang Akuwu. Para rakyat kecil, yang muak dengan pajak, perampokan, penculikan, dan perbudakan, bergabung dengan gerombolan perusuh di berbagai penjuru Tumapel untuk merampas rombongan upeti Tumapel kepada Kediri. Serta gerakan Gandring ,dengan perngaruhnya yang kuat di kalangan prajurit Tumapel, berusaha keras untuk mengganti Akuwu Tunggu Ametung yang Sudra itu dengan Kebo Ijo yang memiliki darah kesatria.

Singkat cerita, munculah Arok, yang tidak memiliki kejelasan silsilah, sebagai orang yang berasal dari Sudra, bertindak Satria dan berpikiran Brahma. Ia adalah wakil dari kepentingan rakyat yang tertindas dan brahmana yang tersingkirkan. Sejak belia, ia telah memimpin gerombolan untuk merampok upeti emas Tumapel kepada Kediri. Emas-emas itu disimpannya untuk membangun angkatan bersenjata yang terdiri dari pemuda-pemuda penentang kekuasaan Akuwu. Walau ia memiliki kekuatan laksana Kesatria, ia tidak bodoh. Kitab rontal berbahasa Sanskerta banyak yang ia hapal dan kuasai, ia pun fasih berbicara Sanskerta. Kepandaian itu telah banyak mengikat hati para brahmana dan paramesywari Dedes. Dimata rakyat, Arok adalah sang pembebas, sudah banyak rakyat kecil dibelanya dari kejahatan pasukan Tumapel. Dengan latar belakang itulah, semua kelas di bawah kekuasaan Tumapel serentak merestui Arok untuk menumpas Tunggul Ametung.

Kisah Arok menggambarkan pertarungan politik yang cerdik nan licik: “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu” (Arok Dedes, 2015). Maka tidaklah mengherakan jika sepanjang roman ini pembaca akan dapati sosok Arok yang bermuka dua. Ia berjanji untuk melindungi Akuwu Tumapel dari setiap perusuh sekaligus ia adalah aktor intelektual kerusuhan di penjuru Tumapel. Ia pamit hendak menumpas perusuh di jurusan selatan, namun semua prajurit Tumapel yang dibawa tumpas tanpa bekas, sedangkan pasukannya bertambah loyal dan kuat. Akhirnya, Arok berhasil mengungkap Gerakan Gandring yang berusaha menghancurkan kekuasaan Tunggul Ametung. Dengan skenario licik yang ia susun, Arok berhasil menjadikan tokoh gerakan gandring, Kebo Ijo, sebagai pembunuh Tunggul Ametung sekaligus menjadikannya terhukum atas perbuatan tersebut. Dengan siasat itu dan terbunuhnya Tunggul Ametung, maka berhasilah Arok menguasai Tumapel sekaligus mendapat legitimasi kekuasaan dari semua kelas –brahamana, kesatria,sudra- tanpa perang terbuka yang berkepanjangan. Sekali dayung, dua tiga pulai terlampaui.

Selain mengisahkan tragedi politik masa silam yang sarat dengan siasat, roman ini juga dapat melambungkan imajinasi pembaca menuju zaman Hindu-Budha di Nusantara. Pertentangan Syiwa-Wishnu-Budha dalam politik kerajaan. Detil pakaian yang dikenakan parmesywari, pasukan kerajaan, rakyat dan budak. Pura kerajaan dan arca yang disembah. Ungkapan agama masa lalu. Bencana alam yang terjadi pada saat itu. Yang menandakan bahwa Pram telah melakukan riset yang mendalam tentang agama Hindu-Budha dan sejarah Jawa sebelum menyelesaikan romannya.

Akhir kata, inilah karya besar pujangga eks-Lekra yang mahsyur itu. Di tangannya cerita mistis tanpa dasar mendapatkan pijakan rasional di dasar bumi.

Selamat Membaca!

Ferry Fadillah. Bintaro, 12 Oktober 2015.

, , , , , , , ,

2 Comments

Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

, , , , , , , ,

Leave a comment