Archive for August, 2015

Kerja, Hidup, Mati

Dengan mengabaikan setiap masalah. Manusia Indonesia pasti bisa tersenyum melihat sekelilingnya. Pusat perbelanjaan mewah berderet dengan baliho iklan yang megah. Apartemen mewah disekelilingnya berlomba menawarkan harga kepada pasang mata yang melewatinya. 200 juta, 300 juta, 500 juta, bonus smart phone, sudah full furnished pula. Seolah uang sembilan digit itu adalah daun kelor yang dengan mudah dipetik di pekarangan rumah. Mobil mewah, mobil menengah dan mobil umum bercampur di jalanan. Berderet memanjang menciptakan kepadatan. Isinya paling-paling satu atau dua orang. Menyisakan ruang kosong yang sia-sia. Tidak hanya itu. Polusi keluar dari knalpot. Menambah muram wajah atmosfer bumi yang sudah menua.

Mungkin senyum manusia Indonesia adalah sebuah ironi. Senyum pasrah karena tahu ada masalah namun bingung untuk melakukan apa. Ironi ini pun hadir di dunia maya.

Berkah teknologi sangat terasa sampai ke pelosok dukuh di pulau Jawa. Teknologi menjadikan yang jauh menjadi dekat. Memperpendek jarak. Mempermudah pengawasan. Sekaligus memperdalam kecemburuan sosial.

Dunia maya itu dunia tanpa sekat dan hierarki. Pejabat hingga pejahat; ustadz hingga pezinah; atau ilmuwan hingga pembual sah-sah saja beropini dan menyebarkan sesuatu yang mereka miliki. Tulisan, gambar, atau video.

Kini populer mengabadikan momen kehidupan di dunia mikroblog semisal twitter, facebook dan path. Makanan mewah yang akan disantap, difoto, di-upload. Hotel mewah yang baru dikunjungi, difoto, check in, diberi komentar, di-publish. Pacar cantik yang baru bertemu kemarin, di update-nya status hubungan di facebook, ditunggu-tunggunya komentar pujian, dibalasnya dengan emoticon ini itu. Begitu seterusnya entah sampai kapan.

Padahal di lain sisi, di dunia maya yang sama, namun di dunia nyata yang berbeda, kehidupan bisa sangat miris. Makanan mewah itu mungkin hanya bisa dinikmati beberapa kalangan dengan menabung upah bekerja selama satu tahun. Hotel mewah itu bisa jadi hanya impian anak kecil penghuni rumah kardus di bantaran sungai ciliwung. Pacar cantik itu juga sudah pasti barang langka bagi jomblowan jomblowati NKRI yang mulai kehilangan kemampuan komunikasi verbal karena terdegradasi komunikasi singkat ala social media. Bukankah ini semua mengundang iri dengki saudara kita di jagat maya dan nyata? Moga-moga saja santet dan teluh tidak bisa masuk melalui jalur komunikasi digital. Amin.

Hidup, Kerja, Mati

Hidup, kerja, mati. Siklus kehidupan yang harus dilalui semua manusia. Tapi apakah hanya untuk itu manusia hidup. Hanya kerja kemudian mati. Nothing special.

Ketimpangan sosial yang terjadi di dunia maya dan nyata telah menularkan virus pragmatis bagi semua kalangan. Kekayaan adalah panglima, caranya ditempuh dengan segala cara.

Sialnya media masa negeri ini bukan berusaha mengikis pemikiran itu malah memupuk liar dengan tontonan yang kurang mendidik. Kemewahan, kesenangan, kekonyolan dipertontonkan dari pagi hingga malam. Dari acara talkshow remeh temeh, gosip urusan ranjang hingga ceramah agama penuh banyolan disiarkan kepada 200-an juta pasang mata di nusantara. Dengan rendahnya tingkat literasi maka tontonan itu akan sangat cepat membentuk pola pikir kolektif. Sialnya pola pikir itu berwujud pragmatisme.

Bagi seorang pragmatis hidup itu yang untuk kerja, kerja ya untuk kaya, beli mobil nyicil, rumah nyicil, nikah ngutang, dan selesai –mati.

Kalau ada orang kritis bertanya ini itu tentang agama, tujuan kehidupan, siapa itu Tuhan, apa itu kerja, apa itu hidup, bagaimana itu ekonomi berjalan, tentu mereka akan acuh dan meneruskan pekerjaan praktis mereka. Pertanyaan itu hanya membunuh waktu yang bisa mereka pergunakan untuk bekerja dan memanen uang.

Padahal, sebelum memiliki keingininan akan makanan dan mainan, dahaga pertama manusia adalah menjawab segala pertanyaan hidup. Ketika kecil, manusia selalu bertanya akan setiap hal yang ia lihat dan rasa. Apa itu hidup. Apa itu sakit. Apa itu Tuhan. Apa itu mati. Kenapa harus hidup. Kenapa harus kerja. Kenapa harus mati. Kenapa budaya berbeda dll. Semua itu pertanyaan kanak-kanak yang berhenti manusia renungi ketika orang tua membentak karena lelah sepulang kerja. Atau dimarahi guru karena dianggap melawan. Dipelototi ustadz karena dikira kualat. Atau mulai terpengaruh pikiran pragmatis bahwa hidup itu ya yang penting cari uang.

Padahal pertanyaan itu akan membuat hidup manusia lebih bermakna. Manusia tidak lagi sekadar variable dari siklus produksi yang dapat dieleminir oleh pemilik perusahaan. Dipindah ke sana kemari tanpa ada daya upaya. Pertanyaan itu juga yang akan menuntun manusia kepada hal-hal pokok dan mengabaikan hal-hal remeh. Bekal yang penting di saat banyak manusia sibuk bertikai untuk hal-hal remeh dan lalim akan hal-hal pokok. Pertanyaan itu juga yang akan menciptakan rasa puas dalam pekerjaan karena didasari semangat dan kesadaran. Perasaan yang sangat penting ketika manusia modern merasa hampa melakukan rutinitas keseharian. Penuh harap akan hari jumat dan penuh cemas ketika perjumpa senin.

Seandainya boleh melamun melambung tinggi. Kiranya ada sebuah dunia. Dimana setiap manusia mendapat upah setara untuk setiap jenis pekerjaan. Pilihan pekerjaan didasari oleh keinginan dan kemampuan. Bukan paksaan atau faktor ekonomi. Produksi tidak kurang atau lebih karena didasari nilai guna bukan nilai tukar. Semua orang bahagia dan memiliki banyak waktu luang. Siang dipakai bekerja, malam dipakai apesiasi sastra.

Ah, imaji tinggalah imaji, selama nafsu masih di kandung badan pragmatisme adalah sebuah keniscayaan.

Ferry Fadillah

Cekungan Bandung, 27 Agustus 2015.

sumber gambar : http://www2.warwick.ac.uk
Advertisements

, , , ,

Leave a comment

Bumi Pasundan dan Kerusakan Alam

Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum

M.A.W. Brouwer1

Begitulah seorang Brouwer melukiskan indahnya Bumi Pasundan melalui rangkaian kata-katanya. Rakyat pasundan sering mengingat kutipan di atas. Bahkan di Kota Bandung, kutipan ini ditulis besar di bawah jembatan penyebrangan yang menyerupai benteng era kolonial di daerah alun-alun kota. Ya, Pasundan. Gugusan gunung saling jalin-menjalin membentuk formasi indah di segala penjuru mata angin. Air bersih melimpah ruah dari sungai, danau dan bawah tanah. Tanah subur tersebar luas di sepanjang patahan vulkanik. Ragam tanaman tumbuh menghijau dan hampir semuanya bisa diolah menjadi penganan. Belum lagi rakyatnya yang kaya akan budaya, ramah dan religius. Nyunda, Nyantri Nyakola.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah Tuhan masih tersenyum melihat Bumi Pasundan kini?

Perjalanan Jakarta-Bandung dan sebaliknya adalah rutinitas yang harus saya lewati minimal dua kali dalam sebulan. Jalan cepat yang biasa ditempuh masyarakat adalah jalur kereta api Argo Parahyangan atau jalan bebas hambatann Purbaleunyi. Kalau tanpa hambatan, waktu tempuh hanya 3 jam saja.

Di sepanjang perjalanan, ketika sudah memasuki daerah priangan2 kita akan menyaksikan rangkaian pegunungan, pertanian rakyat dan sungai besar. Apakah gambaran keindahan bumi pasundan yang digambarkan Brouwer tampak? Ya, namun dengan kerusakan parah di berbagai sisi.

Jalan tol yang mepercepat jarak tempuh Bandung-Jakarta itu sendiri telah merusak lahan hijau di perbukitan priyangan. Belum lagi perkebunan warga yang seolah tidak diatur oleh negara. Kebun-kebun itu berdiri di atas lereng bukit yang rawan longsor, bahkan di puncak-puncak bukit yang tentu mengorbankan banyak pohon penyerap air yang kelak dapat menahan longsor. Di pegunungan karst Cipatat tidak kalah perih hati melihat. Eksavator bederet menguning menggali punggung gunung kapur menyisakan bopeng-bopeng dan merusak vegetasi alam. Bekas-bekas galian itu akan gersang dan digenangi oleh air hujan. Tidak jarang juga terlihat perumahan elit baru di atas perbukitan yang tadinya dipenuhi pohon-pohon besar.

Kalau ingin lebih detil melihat kerusakan Bumi Pasundan. Cobalah berjalan kaki ke Taman Hutan Raya Ir H Djuanda. Perjalanan bisa dimulai dari Gua Belanda di Bandung sampai Curug Omas di Kab. Bandung Barat. Jarak tempuh sekitar 6 km. Di sepanjang jalan menuju lokasi tiket saja sudah ditemukan banyak sampah plasik yang tergeletak hampir di sepanjang jalan. Seperti sengaja di lempar dari kendaraan. Di dalam hutan sendiri sampah tidak kalah banyaknya, sampah berserakan di sekitar akar pohon dan pondok kayu di beberapa sudut hutan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah sampah plastik dan busa rumah tangga yang tertumpuk di bawah aliran Curug Omas. Sampah-sampah itu tidak semua terbawa ke hilir. Sebagian besar tersangkut di akar pohon, berputar di pusaran air pertemuan aliran sungai cikapundung bahkan mengendap di dasar sungai.

Menyedihkan. Bumi Pasundan yang dikenal dengan awalan Ci -yang artinya air- dalam setiap nama tempatnya seharusnya memiliki masyarakat yang menunjukan penghargaan yang tinggi terhadap setiap sumber air, namun yang terjadi sebaliknya. Rakyat Pasundan mulai dari level Pemerintah hingga Pedagang kecil harus memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungan mereka. Karena kerusakan atau pencemaran di tanah dan udara pasti akan berujung kepada kualitas air di sungai. Padahal air sungai memiliki peran vital bagi kehidupan pertanian, industri rumah tangga dan spiritualitas dalam arti umum.

Dunia memang sedang berubah. Ekonomi yang ditunggangi kapitalisme buta terhadap moralitas dan spiritualitas. Satuan terbesar dan terkecil dalam hidup ini harus dikapitalisasi. Tidak terkecuali alam Pasundan yang indah. Tanahnya yang subur harus sudi dijadikan ladang yang di pupuk dengan pupuk kimia. Gunungnya yang kaya kapur harus rela digerogoti demi pundi-pundi penambang kapur. Sungainya yang indah harus ridha dicemari oleh industri berat dan rumah tangga.

Kalau ini terus berlanjut jangan harap Tuhan akan terus tersenyum. Mungkin Dia sedang murka dan malu melihat tingkah kita.

Ferry Fadillah. Bandung, 26 Agustus 2015

 

  1. Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau dikenal dengan M.A.W Brouwer (14 Mei 1923 – 19 Agustus 1991) lahir di Delft dan meninggal di negeri Belanda adalah seorang fenomenolog, psikolog, budayawan yang sangat dikenal karena kolom-kolomnya yang tajam, sarkastik dan humoris di berbagai media masa di Indonesia terutama pada era tahun 70an sampai 80an (sumber : www.wikipedia.com)
  2. Priangan saat ini merupakan salah satu wilayah Propinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, yang luasnya mencapai sekitar seperenam pulau Jawa (kurang lebih 21.524 km persegi). Bagian utara Priangan berbatasan dengan Karawang, Purwakarta, Subang dan Indramayu; sebelah selatan dengan Majalengka, Kuningan; dengan Jawa Tengah di sebelah timur dibatasi oleh sungai Citanduy; di barat berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi, sedangkan di selatan berhadapan dengan Samudera Indonesia (sumber : www.wikipedia.com)

, , , , , ,

1 Comment