Posts Tagged cerpen

Pindah

Pada saat masyarakat Kali Jodo meringis dan menjerit melihat rumah-rumah mereka dibuldoser oleh aparat, aku hanya bisa terpekur dari balik layar kaca. Pagi itu sebelum berangkat sekolah, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kekejaman yang terjadi pada sebuah sudut ibu kota. Di antara gedung mewah dan jalanan yang lebar ternyata ada orang-orang yang terusir paksa. Alasannya klise padahal mereka kalah karena miskin dan jauh dari kekuasaan.

Aku segera menghabiskan sarapan pagi yang sempat tertunda. Menunya hanya nasi satu centong dan tahu dengan bumbu kecap. Maklum, sudah satu bulan Ayah belum juga membawa uang. Untuk keperluan dapur, Ibu harus menyiasati dengan menjual beli perhiasan emas kesayangannya. Setelah nasi habis, aku pamit kepada Ayah dan Ibu. Seperti kebiasan anak-anak pada umumnya Aku mencium tangan keduanya lalu mengucapkan salam.

Sekolahku hanya berjarak  1 km dari rumah. Tepat di sebelah sawah besar yang sudah mengering. Kata orang itu akan diubah menjadi perumahan elit. Entahlah. Saat sekolah dasar dulu aku sering bermain layang-layang di pematangnya, mencari belut untuk dijual atau sekedar memakan bekal makan siang sembari menikmati angin yang berhembus dihamparan padi.

“Anak-anak sekarang waktunya kalian menceritakan pengalaman kalian di depan kelas. Sambil melatih keberanian bicara di depan umum. Bisa cerita apa saja. Tapi kali ini Ibu minta kalian menceritakan masa kecil kalian bersama Ayah dan Ibu. Ya kira-kira  lima menit lah. Mungkin bisa dimulai dari Tery. Ayo, Tery, jangan malu maju ke depan.”

Aku terperangah. Namaku dipanggil duluan. Apa yang harus aku ceritakan. Masa kecil? Mmm.. aku sama sekali tidak mempunyai bayangan. Tapi aku beranikan melangkah ke depan kelas. Melihat para siswa memandangku tajam jantungku berdebar keras.

“Selama Siang, teman-teman. Kali ini Aku akan menceritakan pengalaman masa kecilku. Jadi dulu Aku, Ayah dan Ibu …”

Perkataanku terputus sampai di sana. Pikiranku berusaha untuk mencari arsip bernilai di masa kecil. Lokasi rumah, kamar tidur, perabotan, wisata alam dan … ah, sial, kenapa harus aku yang pertama maju. Aku tidak bisa mengingat apapun.

“Tery, kenapa kamu diam. Ayo lanjutkan. Teman-teman kamu sudah menunggu.”

“Iya, sebentar, Bu. Aku minta waktu sebentar.”

Wajahku memerah. Pandanganku kabur. Tanganku berkeringat. Aku mencoba memejamkan mata sekejap. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku fokus kepada nafasku. Tenang, tenang, tenang…

Pikiran membawaku ke sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Ada kolam ikan, pohon jambu setinggi pinggang dan rumput gajah yang lama tidak terurus. Di dalam rumah ada kolam ikan besar dengan air terjun buatan yang kering. Di gudang sebelah timur aku melihat diriku sendiri. Aku sedang bermain dengan mobil-mobilan. Mobil itu aku tarik dengan tali rapia sambil berlari. Tiba-tiba dari arah gudang keluar asap. Api muncul kemudian. Diriku berusaha keluar dari gudang itu. Aku berusaha menolong. Sialnya pintu terkunci. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Asap itu semakin pekat dan aku pingsan dibuatnya.

Saat terbangun, aku berada pada sebuah kamar dengan dinding terbuat dari triplek. Di sana hanya ada kasur tanpa kaki-kaki. Beberapa langkah dari kasur itu ada kelelawar besar yang menutupi perut dengan sayap hitamnya. Ia tertidur. Namun, taring dan besarnya makhluk itu membuatku ngeri. Aku coba mengumpulkan kesadaran. Saat beranjak dari tidur makhluk itu terbangun. Matanya merah dan ia lekas terbang ke arahku. Aku terkejut dan melompat ke belakang. Ternyata tembok itu rapuh. Aku terjerumus, menabrak penyangga atap, langit-langit, lantai, kemudian lubang gelap yang menarikku dengan sangat kejam.

Saat muncul cahaya, aku sudah berada di sebuah rumah sederhana dengan dua kamar. Di ruang tamu tidak ada perabot apapun. Pada sebuah pojok tembok aku melihat tulisan tiga buah nama: Tery, Dery, Lary. Aku mengenal mereka semua. Itu adalah adik-adiku. Tapi kemana mereka semua. Mengapa rumah ini begitu sepi. Dari arah dapur aku mendengar suara orang bertengkar. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.

Lonte, siapa lagi yang kamu bawa. Jahanam!”

“Bajingan, ngomong apa kamu itu. Mulut ga bisa dijaga!”

Sumpah serapah itu terus berulang. Memantul dari satu tembok ke lain tembok. Bergema. Bertambah keras. Kini suara-suara itu merasuk ke dalam diriku. Aku sudah menutup telinga. Suara itu terus saja hadir. Aku menutup mata. Suara itu bertambah ganas. Aku dibuatnya mual.

Saat memejamkan mata, aku sudah berada di lain tempat. Sebuah rumah kost dengan  empat kamar yang berjejer. Di kamar nomor 14 tepat di depannya ada tumpukan piring kotor dengan noda kuah batagor yang sudah mengering. Aku coba memanggil para penghuni kost. Yang keluar adalah seorang anak kecil dengan botol berisi ikan cupang di tangan kanan. Wajahnya pucat. Bibirnya terkatup rapat. Ia mirip sekali dengan diriku. Tapi berbeda dari pertemuan pertama. Ia tampak sakit tidak terurus.  Ia duduk bersila. Ikan cupang dihapannya ia perhatikan dengan saksama. Aku juga memperhatikan ikan itu. Warna birunya, bekas cacing yang mati di dasar botol, gelembung udara, dan pipi yang menghitam ketika melihat cermin.

Tiba-tiba anak kecil dan ikan cupang itu menatap tajam ke arah diriku. Sekelilingku  berubah. Menjadi rumah yang terbakar. Menjadi kamar dengan kelalawar. Menjadi dapur. Menjadi kamar mandi. Menjadi ruang tamu. Menjadi panas. Menjadi basah. Menjadi hingar bingar oleh suara-suara. Aku tidak bisa mendengar suara siapa saja ini. Seperti pertengkaran suami istri dan jerit tangis bocah ingusan. Jeritan itu bertambah keras.. keras.. keras…

“Tery! Kenapa kamu malah tidur! Mana ceritamu.”

Aku terbangun. Ternyata aku masih berada di depan kelas. Aku sadar. Sepertinya tidak mungkin aku menceritakan masa kecilku yang kerap berpindah itu. Aku harus berani mengalah dengan keadaan.

“Maaf, Bu. Kali ini aku ga bisa cerita.”

Ferry Fadillah. Bandung, 31 Maret 2017.

 

 

 

 

Advertisements

, ,

2 Comments

Pegawai Gila

Pada sebuah kantor pemerintah tinggal seorang pegawai muda berpangkat pengatur muda golongan II/a. Tingginya seratus tujuh puluh satu senti. Beratnya enam puluh lima kilogram. Rambutnya ikal tertata rapih ke arah samping dengan bantuan pomade seharga dua ratus ribu dibeli online. Gaji bulanannya sebesar lima juta rupiah belum termasuk uang makan dan tunjangan kinerja cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sesekali beramal bagi sesama.

Orang-orang di kantor memanggil pegawai ini dengan nama Dery. Tanpa nama keluarga, marga atau embel-embel apapun. Kedua orang tuanya memberi nama itu sebelum meninggal akibat gusuran pemerintah daerah dua puluh lima tahun silam. Ia tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya. Pengurus panti asuhan lah yang menyerahkan sertifikat lahir bernama dirinya dan menceritakan kisah pilu kedua orang tuanya.

Dery adalah pegawai tata usaha yang selalu datang tepat waktu. Ia akan berangkat sebelum pukul tujuh tiga puluh pagi hari. Menyapa kawan-kawan yang ia temui dengan senyum lebar penuh keceriaan. Setelah itu ia akan pergi ke kantin sejenak. Memesan nasi campur dengan sayur kacang panjang dan ikan cabai hijau ditemani segelas teh hangat cap orang tua. Tidak sampai tujuh menit makanan itu habis dan Dery bergegas ke meja kerja.

Tempat Dery bekerja cukup luas. Antara satu komputer dengan komputer lain dibatasi oleh partisi yang terbuat dari kaca setinggi pinggang. Komputer Dery berukuran besar bermerek HP. Sebelum memulai pekerjaan ia selalu menyalakan denting piano Frederic Chopin berjudul Nocturne No 2 Flat Major Op. 9 No.2 sambil menyeruput torabika yang sebelumnya ia seduh sendiri dengan air dispenser.

Pekerjaannya biasa saja. Tugasnya adalah melanjutkan disposisi Kepala Seksi. Bila disposisi berbunyi arsip, maka ia akan mengarsipnya. Bila disposisi berbunyi “buatkan nota dinas” maka ia akan segera membuat konsep dan menanti pekerjaannya dicoret-coret. Selain itu ia juga dibebani pekerjaan adminsitrasi surat masuk dan keluar, pengarsipan serta pengurusan dokumen pribadi pegawai. Semua pekerjaan ia kerjakan dengan tuntas tanpa pernah berkeluh kesah.

Pekerjaan kantor usai pukul lima sore. Ia juga selalu tepat waktu meninggalkan ruangan. Tidak peduli hujan dan badai, ia segera pergi ke indekost. Melepas sepatu dan tiduran bertelanjang dada. Sambil bermalas-malasan ia akan mengambil gawainya. Membuka aplikasi instagram,  memberi like kepada foto pemandangan, kemudian mencari-cari baju murah yang dijual dengan diskon atau penawaran khusus. Ia juga akan membuka whatsApp dengan jari-jemarinya. Ia akan membuka grup kontak satu per satu. Membaca setiap berita, sampah maupun penting. Pekerjaan itu memakan waktu dua jam sampai akhirnya ia teringat waktu shalat magrib.

Dery selalu bingung ketika memutuskan lokasi makan malam. Ia biasanya akan pindah dari satu tempat ke tempat lain setiap malam. Ia tidak pernah mengajak siapapun bersamanya. Makanan kesukaannya adalah masakan khas Bali yang asam dan pedas atau sop kambing dengan jeroan dan torpedo yang gagah perkasa. Sambil makan ia tidak pernah melepaskan pandangan dari gawai. Bergantian ia membuka aplikasi pertemanan. Facebook, twitter, WhasApp, Tumblr, kembali lagi ke Facebook, twitter, WhatssApp begitu seterusnya hingga potongan kambing terakhir habis.

Malam hari Dery akan tidur pukul sebelas malam dengan posisi gawai di sebelah kuping kanannya. Alarem diatur untuk berbunyi pukul enam pagi. Ia tidak pernah tidur mengenakan sehelai benang pun. Alasannya sederhana. Ia tidak mau membebani biaya laundry dengan baju yang kotor akibat keringat tidur. Tipikal pegawai yang sangat hemat sekaligus pelit.

Keteraturan Dery terus berlanjut. Ia bahkan menolak setiap ajakan kawan diluar agenda rutinnya. Ia hidup sendirian dan sepertinya menikmati kesendiriannya. Ia terbiasa makan sendiri, berdiskusi sendiri terkait pekerjaan dan membaca buku di café terdekat bertemankan caramel maciato. Lama kelamaan kebiasaannya itu membentuk dirinya menjadi keras kepala dan tidak mudah percaya kepada orang lain.

Buku-buku yang dibaca Dery bertemakan motivasi praktis yang ditulis oleh para motivator kondang. Ia selau bersemangat membaca buku-buku itu. Matanya menyala-nyala menyuarakan perubahan. Gagasan-gagasan segar memebuhi pikirannya. Saat pergi ke tempat kerja, ia harus memendam setiap gagasan-gagasan itu. Karena pekerjaannya menuntut kepatuhan mutlak dari atasan.

Entah mengapa Dery menjadi pecandu buku. Mungkin kesendirian mengantarnya untuk mencumbui buku. Hal murah yang dapat dilakukan dimanapun. Ia tidak lagi bersentuhan dengan buku motivasi. Kini ia menganggap buku-buku itu sebagai karya picisan yang mudah dicerna. Kamar sewanya dipenuhi buku-buku klasik karangan Plato, Aristoteles, Phytagoras dengan coretan tinta merah di marjin kanannya. Beberapa kertas warna-warni dengan catatan-catatan penting menyembul dari beberapa halaman. Ada juga buku-buku zaman romantik seperti Thus Spoke Zarahustra karya Frederic Nietzche yang ia tempatkan di rak khusus dengan taburan bunga segar yang selalu ia ganti setiap pagi. Buku sejarah dunia, kebudayaan dan mistisme juga tidak luput dari koleksi pribadi Dery.

Semua bacaannya itu membebani Dery dengan jutaan ide baru. Pikirannya selalu berputar dimanapun ia berada. Ia selalu memikirkan hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain. Mengapa aku hidup? Apakah aku berjiwa? Apakah jiwa itu? Dimana Tuhan? Apakah Tuhan ada? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui dirinya saat bekerja dan tidur. Kini ia tidak lagi bisa tertidur pulas. Sebelum tidur ia akan sibuk dengan sebuah bacaan kemudian menulis pada sebuah jurnal refleksi atas bacaan itu. Biasanya ide-ide dalam bacaan itu akan menghantuinya dalam tidur. Kadang menjadi sebuah mimpi menyeramkan yang menyiksa dirinya. Pernah suatu ketika ia bermimpi menjadi Tuhan. Bentukya seperti tiang putih yang bergerak cepat secara vertikal ke angkasa. Menembus awan, bintang, planet antar galaksi sebelum akhirnya ia terbangun dengan keringat dingin dan perasaan takut akan kutukan.

Karena kebiasaan barunya, Dery mengidap insomnia. Setiap ke kantor ia selalu merasa lemas. Walaupun bergelas-gelas kopi ia minum tetap saja rasa kantuk akan selalu menderanya. Wajahnya kini menjadi pucat. Darah seolah-olah berhenti mengalir ke otaknya. Jari jemarinya kaku dan ia mudah gelisah.

Pada tahun ke tiga puluh masa kerjanya di kantor itu. Dery merasakan kebosanan yang luar biasa. Ia diam di meja kantornya menghadap komputer yang melantunkan denting piano Chopin. Ia malas mengambil surat disposisi Kepala Seksinya. Ia merasa Kepala Seksinya tidak lebih pintar dari dirinya. Semua orang adalah salah dan dia adalah kebenaran itu sendiri.

Tiba-tiba ia berteriak ke semua orang yang berada di ruangan, “Hai, manusia-manusia membosankan yang mengerjakan hal membosankan tidakah kalian memiliki hidup alternatif selain yang kalian jalankan hari ini!”

Semua orang terbengong-bengong dibuatnya. Dery menjadi pusat perhatian saat itu juga.

“Kenapa kalian semua tidak menjawab? Aku bertanya kepada kalian? Apakah kalian pernah berpikir barang sejenak untuk meninggalkan kantor yang penuh kemunafikan ini. Apakah kalian rela diperintah oleh atasan dengan kemampuan di bawah kalian. Berkata ‘siap!’ untuk setiap perintah seperti anjing menyalak yang diberi daging oleh Tuannya!”

Perkataan itu membuat wajah beberapa pegawai merah. Sebelum mereka memikirkan pernyataannya, Dery melanjutkan…

“Hari ini aku katakan kepada atasanku dan atasan kalian. Anjing kalian semua, aku tidak mau lagi diperintah kalian dan bergabung dalam sistem kantor yang pengecut ini. Aku adalah diriku yang merdeka tidak bisa diperintah oleh siapapun. Aku adalah awal dari segala sesuatu kebenaran dari segala kebenaran. Kalian semua adalah anjing-anjing yang tidak berguna!”

Pidatonya ia tutup dengan tendangan keras ke arah komputer. Ia juga memukul lemari arsip yang terbuat dari kaca hingga luluh lantah memenuhi ruangan. Segera seorang pegawai memanggil petugas keamanan. Dery diapit oleh dua orang bertubuh tegap berkulit hitam. Ia tidak bisa berkutik. Kakinya terseret-seret menuju pintu keluar. Setiap orang di setiap unit melihat ke arah jendela, ke arah Dery yang mereka anggap sudah gila.

Dery tidak berkata apa-apa saat diusir paksa ke luar kantor.Ia merasa jijik melihat kantor dihadapannya. Ia tahu persaingan dan kemunafikan yang menjadi wabah di dalamnya. Ia muak dengan semua itu. Ia merasa jijik dan mual luar biasa.

Kini, Dery sudah tidak memiliki penghasilan apapun. Ia memutuskan untuk mengembara entah kemana. Ia tidak mau mengikatkan diri kepada sebuah kewajiban. Ia mencintainya dirinya sendiri dan kesendiriannya.

 Ferry Fadillah. Kuta, Desember 2016.

, , ,

5 Comments

Tugas Mengarang

Pada sebuah sekolah dasar negeri seorang guru wanita memasuki kelas yang berisi tiga puluh murid. Sekolah itu berdiri di atas tanah sengketa antara pemerintah daerah dengan keluarga menak yang mengklaimnya sebagai warisan turun temurun. Karena dalam status sengketa, seringkali murid-murid membolos karena ada segerombolan pria kekar yang menyegel paksa gerbang sekolah dengan kawat berduri dan papan kayu ala kadarnya.

Hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Guru wanita tadi duduk di meja dengan taplak bermotif kembang di pojok kanan ruang kelas. Saat lonceng berbunyi salah seorang murid berdiri dan berteriak lantang memberi komando,” Berdiri! Beeeriiiiii saaaaalam!” Kelas pecah oleh teriakan murid bocah yang cempreng menyambut Bu Guru, “Asssssalamualaykum warahmatullahi wabaraaaaaakaaaaaatuuuuuuh.” Ucapan itu terasa begitu lama dengan nada panjang tidak perlu di beberapa bagian. Begitulah bocah-bocah.

Tanpa memeriksa kehadiran, Bu Guru maju ke arah papan tulis hitam dengan debu kapur yang membuat TBC. Mistar besar di tangan kanan, Dia berdehem pendek dan memulai pelajaran. “Anak-anak, kesehatan ibu sedang tidak baik. Sekarang ibu kasih kalian tugas mengarang. Tolong siapkan secarik kertas kemudian tuliskan pengalaman bahagia kalian bersama keluarga. Selesaikan sekarang yah, nanti kalian maju satu per satu ke depan membacakan karya kalian.”

Murid-murid dengan sigap mengambil kertas dari tengah buku catatan. Kertas garis bermerek mirage itu dibagi dua dengan penggaris besi dan dibagi untuk dua orang. Ada murid yang langsung menulis dengan antusias. Ada juga yang menerawang ke langit-langit mencari inspirasi yang entah dimana. Beberapa melihat pekerjaan teman sebelahnya yang kemudian ditutup dengan telapak tangan sebagai bentuk resistensi. Ada juga yang izin ke kamar kecil, lama sekali entah apa yang dilakukannya di sana.

Tidak terasa satu jam sudah pekerjaan mengarang itu berlalu. Bu Guru kembali berdehem halus dan memberi instruksi, “Nah, sudah ya anak-anak. Sekarang tolong ketua kelas kumpulkan. Ibu mau periksa dulu. Nanti ibu panggil siapa yang membacakannya ke depan.”

Bu Guru memeriksa tulisan cakar ayam dengan noda tipp-ex pada beberapa kalimat itu. Dengan saksama ia meneliti kesalahan tulis, penggunaan kata yang kurang tepat dan tentu identitas murid. Setelah hampir setengah jam yang diakhiri dengan mata yang berkaca-kaca dan mulut yang mengatup lebar –tanda mengantuk- Bu Guru melihat tajam ke arah murid.

“Nah, yang pertama maju adalah Ainun. Ayo Ainun bacakan karya kamu ke depan!”

Ainun duduk di pojok belakang di bawah potret Pangeran Dipenogoro yang tirus karena sakit malaria. Ia belum pernah berbicara di depan kelas. Ia adalah anak yang pemalu. Setelah jam pelajaran usai ia tidak pernah bermain bola atau kelereng dengan teman sejawatnya atau anak-anak komplek. Dalam pikirannya hanya ada sekolah untuk belajar dan rumah untuk belajar. Belajar dan hanya belajar.

Saat berada di depan kelas Ainun berdiri kaku. Matanya berkunang-kunang. Denyut jantungnya bertambah kencang. Keringat mengalir membanjiri dahi dan telapak tangan. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian bercerita:

“Teman-teman. Aku akan bercerita hal yang paling membahagiakan bersama keluargaku. Liburan semester lalu, aku bersama ibu, ayah dan kakak jalan-jalan ke Eropa…”

Mendengar kata Eropa seluruh kelas menjadi riuh. Suara tepuk tangan bercampur dengan gemuruh cieeee cieeee cieeeee… Ainun semakin gugup.

“Anu… Anu… iya Eropa.. di sana aku berjalan-jalan ke Menara Eifel, makan di restoran abad pertengahan dan menemani ibu membeli baju dan tas banyaakkk sekali. Ayah tidak berbelanja, ia lebih banyak tersenyum saat menemani kami. Oh, iya terkadang ia juga melirik isi dompetnya dan roman wajahnya berubah pucat.”

Mendengar kepolosan itu, seisi ruangan kelas kembali gaduh. Tawa bahak beberapa siswa bertukar dengan teriakan histeris tanda riang. Bu Guru berusaha menenangkan dengan memberi isyarat tangan.

Mendengar  tawa temanya saat sedang berbicara, Ainun kehilangan kepercayaan diri. Keringat di tubuhnya semakin mengucur deras. Ia menjadi pucat dan pusing. Darah keluar dari hidungya. “Ainun! Kok kamu mimisan! Ketua kelas cepet bawa Ainun ke UKS.. cepat!”

Kegaduhan itu berhenti menjadi kengerian. Ketua kelas membopong Ainun bersama beberapa orang ke UKS. Setiap murid menunduk tanda bersalah. Bu Guru cepat-cepat mengambil alih kelas.

“Anak-anak yang saleh. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita. Jangan kita menertawakan kesalahan orang lain. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita tertawakan. Tidak pernah ada manusia yang luput dari kesalahan. Paham anak-anak?”

“Pahammm.. Bu…” serempak mereka membalas dengan penuh penyesalan.

“Nah sekarang kita doakan Ainun lekas sembuh ya..” Bu Guru mengambil kertas hasil karangan para murid. Di ambilnya secara acak dari bagian tengah. Sebuah kertas kusam dengan garis berwarna biru yang tidak teratur mencuat. Bu Guru membacakan identias kertas itu. “Zulkifli, nah ini dia Ayo Zulkifli kamu maju ke depan bacakan untuk teman-temanmu yah..”

Zulkifli.. Oh Zulkifli.. anak ini terkenal sangat badung. Hampir setiap hari ia datang terlambat. Bajunya kusam, kerahnya kusut dan penampilannya urakan. Rambutnya dipotong tipis bagian pinggirnya sedangkan bagian tengahnya dibiarkan panjang disisir ke kiri menutupi matanya.

Dengan percaya diri penuh ia berdiri dan dengan riang menuju depan kelas. Begini ceritanya:

“Selamat Siang, kawan-kawan,” senyumnya mengembang matanya berbinar.

“Aku tidak mengerti apa itu keluarga yang bahagia. Aku tinggal dibantaran Sungai Cidurian. Hanya beberapa meter dari Borma Antapani. Ibuku adalah seorang buruh cuci yang dikenal oleh tetangga-tetangga. Hampir setiap hari ia menyuci dengan tangannya. Jika sekolah usai aku membantu mengantarkan cucian kepada para pelanggan. Sesekali pelanggan itu memberi aku uang tips. Aku sangat senang. Oh iya, Bapaku adalah seorang kontraktor yang tidak jelas bekerja dimana. Ia pergi bekerja pukul dua siang dan biasanya kembali keesokan lusanya tanpa membawa apa-apa. Iya, aku pernah memintanya untuk membelikan robot gundam tapi ia malah memakiku dengan kata-kata kasar. Kedua kalinya aku meminta dibawakan buah dan asbak dengan abu rokok melayang mengenai pelipisku. Ketiga kalinya aku menjadi takut untuk meminta sesuatu kepada Ayah. Musim layangan tiba. Aku memberanikan diri meminta ayah untuk dibelikan layangan dan gulungan benang gelasan. Ia diam beberapa detik kemudian menarik pergelangan tanganku; menyeretku ke kamar mandi dan menyiramku dengan air dingin sambil membentak penuh amarah. Sejak itu aku berhenti meminta kepada ayah.”

Bu Guru, Ainun dan semua murid tercekat mendengar kisah pilu yang diucapkan dengan nada tanpa kesedihan itu. Zulkifli melanjutkan:

“Suatu hari, ketika hujan deras, Sungai Cidurian meluap membawa sampah dari hulu,  aku sedang di kamar menyelesaikan tugas matematika. Ayahku datang tanpa mengetuk pintu ke ruang tamu. Bersamaan dengan suara petir, ibuku tiba-tiba membentak ayah. Aku masih ingat kalimatnya, “Anjing kamu! Suami babi! Udah miskin masih aja selingkuh! Kamu ga mikir apa, hah? Bukannya cari nafkah yang bener malah merek! “ Gelas-gelas kopi dengan motif  kembang sepatu berterbangan. Pecahannya terpencar ke bawah karpet, sofa dan keset. Aku hanya melihat diam-diam dari balik tembok yang rusak karena gempa. Ibu menangis. Mukanya merah. Sedangkan ayah hanya diam. Setelah makian kesekian kalinya, saat hujan mulai reda, ayah bangkit dari diamnya kemudian mengambil kunci motor yang tergantung di samping kulkas. Ibu membentaknya, bertanya hendak kemana. Ayah hanya diam dan berjalan lesu ke arah motor bebek satu-satuya itu. Ibu terus membentak sambil bertanya hendak kemana. Ayah hanya diam, tidak membalas dengan bentakan ataupun melirik. Ayah menyalakan mesin motor  dengan tenang dan ia pergi entah kemana. Itulah saat terakhir aku melihat ayah”.

Mendengar itu Bu Guru menjadi sangat bersalah. Selama ini ia paling getol memaki Zulkifli. Anak ga punya masa depan lah. Anak bodoh lah. Segala macam caci maki itu ia anggap sebagai dosa besar dalam hidupnya. Zulkifli melanjutkan ceritanya:

“Kemaren malam, saat sedang bermain sepeda di sekitar Braga aku melihat kerumuman orang. Dari balik kerumunan itu aku melihat sosok pria berambut gimbal yang bersimbah darah. Pakaiannya kotor penuh noda tanah. Ia hanya membawa karung berisi gelas-gelas plastik yang disusun sedemikian rupa. Aku melihat sosok itu dari dekat. Lekat sangat lekat. Aku melihat hidungnya yang mirip dengan hidungku. Aku kemudian teringat asbak yang menimpa pelipisku dan bentakan yang menyakitkan hatiku. Ya itu adalah ayahku.. itu adalah ayahku yang pergi entah kemana itu..”

Zulkifli berhenti berkisah. Wajahnya berubah sendu. Ia melihat ke arah jendela. Langit mendung dengan awan kelabu menutupi gunung-gunung hijau Kota Bandung. Ia tidak mempedulikan seiisi kelas. Ia tidak peduli dengan keberadaan Bu Guru, Ainun dan setiap murid. Ia diam seribu bahasa. Otaknya seperti berhenti berpikir. Jiwanya melayang-layang mengingat kisah indahnya bersama Ayah. Saat sang ayah masih seorang pegawai Bank, saat ia tinggal di komplek mewah sekitar Dago.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

pernah dimuat di birokreasi.com

,

Leave a comment

Ibu

People are asleep and when they die, they awaken

Hadith of the Prophet Muhammad

Know that you are imagination, and all that you perceive

And about which yous say “that’s not me”, is imagination.

So the whole existence is imagination within imagination

Ibn Arabi

 

 “Ah! Aku paling nggak suka kalau kamu terus suruh aku salat,” bentakku sambil memuntahkan kepalan ke lemari baju.

Dialah Aminah, ibu kandungku, yang selalu cerewet menyuruhku untuk salat, puasa dan segala ritus pra-ilmiah lainnya. Biasanya aku hanya berkata “ya” setiap ia mulai berceramah, sialnya kini aku sedang mendapat banyak masalah. Bentakan ini adalah puncak kekesalan itu.

“Alif…,” panggilnya lirih dengan air mata menetes, “Salat itu kewajiban, kalau kamu nggak salat apa bedanya kamu sama orang kafir. Allah perintahkan itu semua lewat Al-Quran. Kitab ini surat cinta dari Allah bagi manusia. Ibu nggak mau kamu nanti dapat adzab karena menyepelekan salat. Salat ya, Nak. Salat..”

Aku muntab dibuatnya. Aku tahu ia ibuku. Guru sekolah dasarku mengajariku untuk hormat dan berbakti padanya. Tapi hari ini.. Ah.. persetan!

“Udah ibu nggak usah ngurusin hidup Alif. Mau Alif salat, pindah agama, atau nggak percaya sama Al-Quran itu urusan Alif! Ini hidup Alif! Alif bebas untuk milih, Bu!” bentakku kasar sambil menunjuk tepat ke hidung ibuku.

Tanpa berbicara ibuku meninggalkan kamar. Jilbabnya basah oleh air mata. Setelah kepergiannya aku merasakan sesal menyeruak di dalam hati. Buru-buru aku menampiknya, “Kau benar Alif, kau benar.”

***

 Aku berjalan di sebuah hutan pinus. Sekitarku hampir semuanya berwarna merah. Di langit tidak ada satu pun bintang menggantung. Bahkan di waktu yang tidak jelas pukul berapa ini, tidak ada suara binatang apapun. Entah itu jangkrik atau nyamuk liar yang mencari darah.

Dari kejauhan aku melihat sebuah gubuk tua tidak terawat. Sebuah bangunan gaya kolonial dengan cat putih dan sulur yang menjalar menutupi tiang dan atap merahnya.

Ketika akan melangkahkan kaki ke gubuk itu, aku melihat sosok ibu. Samar. Tersembunyi dalam gelap dan pekat hutan yang berwarna darah. Ia berjalan cepat menuju gubuk yang sama.

“Ibu! Ibu mau kemana! Tunggu Alif, Ibu!”

Panggilanku tidak menghentikan langkah kakinya, bahkan ia semakin cepat meninggalkanku jauh dibelakang.

“Ibu tunggu Alif, Ibu. Tunggu…” jeritku semakin parau di tengah segala kebingungan.

Akhirnya aku sampai di gubuk itu. Nafasku terengah-engah. Aku mendapati sosok ibu duduk di sebuah meja usang dengan gelas dan piring di depannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jilbabnya yang kusam dan kepalanya yang tertunduk membuatku bertanya-tanya, “benarkah ini ibuku?”

“Duduk.” serunya datar.

Aku mematuhi perintahnya. Kugeser kursi reyot itu. Sambil mengambil posisi duduk aku pandang lekat sosok ibu di hadapanku. Aku mulai ragu, apakah dia ibuku? Tapi kemudian aku mulai memberanikan diri untuk bertanya.

“Kita ada dimana, Bu? Kenapa ibu begitu pucat, kenapa ibu tidak kembali saat Alif panggil?”

Sosok ibuku terdiam lama. Aku mengulang pertanyaan yang sama namun ia tetap bergeming. Tidak ada angin, tidak ada suara nafas, tidak ada percakapan. Penantian ini adalah siksaan terberat dalam hidupku.

Tiba-tiba saja sosok ibu membuka percakapan.

“Ibu? Hahahaha.. Aku bukan ibumu. Aku bukan ibumu. Tidakah kau mengenal ibumu? Bukankah kau yang dilahirkannya, disapihnya, diberinya pengetahuan, didoakannya, tapi kau tidak mengenal ibumu. Hahahaha..”

Setelah tawa itu lepas ia terdiam. Kembali kepada sikap angker semula. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah kiri. Sontak mataku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah kamar besar dengan pintu lebar. Di tengahnya ada kasur dengan kelambu nyamuk yang sudah berdebu. Sebuah lilin yang sudah tinggal seperempat adalah satu-satunya alat bantu penerangan. Dalam samar aku melihat sosok tubuh yang terbujur kaku.

“Siapa dia?”

“Kau lihat sendiri”, senyumnya terlihat ganjil.

Aku beranjak dari kursiku. Berjalan perlahan ke arah kasur itu. Di pintu kamar aku berusaha membersihkan sarang laba-laba yang menutupi jalan masuk. Saat berada di dalam kamar aku terkejut. Tiba-tiba dinding-dinding kamar berubah menjadi padang rumput yang luas.

Astagfirullah. Kemana rumah tadi. Aku ini dimana?”

Saat aku berbalik, aku tidak lagi melihat sosok wanita misterius tadi. Sepanjang mata hanyalah padang stepa tanpa ujung. Pada momen itu hanya ada aku dan sosok terbujur kaku di dalam kasur di tengah ruang waktu yang bahkan tidak aku pahami.

Di antara kengerian dan kebingungan itu aku lanjutkan perjalanan menuju kasur. Walaupun terlihat dekat namun langkah-langkahku terasa berat seperti tertahan oleh tangan-tangan imajiner.

Aku membuka kelambu itu sambil terbatuk-batuk. Debu masuk ke dalam hidung dan mataku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku gosok mataku perlahan. Saat mataku jernih kembali, aku bisa jelas melihat tubuh itu. Aku terkejut. Bingung. Hampa.

“Ibu..! Ibu kenapa.. Ibu jangan ninggalin Alif. Ibu maafin Alif.. Ibuuu!”

Itu ibuku. Itu ibuku yang terbujur kaku. Wajahnya pucat. Ia tidak bernapas. Ia mati pikirku.

Ia mati dan aku sendiri.

***

“Suster! Ambil cepat alat kejut jantung!”

“Baik, dokter!”

Tubuh itu tidak berdaya. Luka bakar tampak memenuhi sekujur tubuhnya. Wajahnya rusak. Bentuknya sudah tidak lagi dikenali.

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tubuh itu terangkat beberapa senti dari kasur. Tangannya bergerak tidak beraturan. Namun mesin di sebelah kepalanya belum menandakan adanya tanda kehidupan.

“Tambah lagi daya listriknya, Suster!”

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tiba-tiba saja aku merasa tertarik dari semburat cahaya warna-wani yang tidak beraturan. Aku melihat fragmen-fragmen samar ingatan yang berkelibatan seperti film: rumah tua, wanita misterius, hutan pinus merah, padang luas dan ibuku yang terbujur kaku. Kesadaran mulai masuk ke dalam tubuhku. Perlahan-lahan aku membuka mata.

“Siapa kalian? Aku dimana? Dimana ibuku?”

“Tenang, Dek. Kamu belum sehat. Tidak perlu bertanya dulu.”

“Tolong Dok jelaskan semuanya, dimana aku, dimana ibuku?”

Dokter itu terdiam.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

Aku terus bertanya. Memaksa. Merajuk sambil meraung-raung.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

“Ibumu? Bukankah ibumu mati. Hahahaaha..”

Aku terkejut kenapa dokter itu tertawa memberitakan kematian ibuku. Sialnya ia terus tertawa sambil memperlihatkan gigi serinya yang berjarak. Ia terus tertawa sambil memegang perut dan menahan derai air mata. Ia terus tertawa.

Di tengah kebingungan itu, aku mengalihkan pandangan kepada sosok suster di sebelahnya. Ia tidak ikut tertawa dan tampak misterius. Saat aku perhatikan ia malah memalingkan muka. Tapi aku seperti mengenal wajah itu. Wajah yang sudah tidak asing lagi.

“Suster! Kenapa dokter gila ini tertawa. Dimana ibuku? Dimana aku?”

Tiba-tiba kepalanya berbalik tanpa membalikan tubuh. Seperti burung hantu di dahan pohon yang melihat tikus di semak belukar.

“Sudah ku bilang ibumu terbujur kaku di ranjang itu! Hahahaha..”

Aku merinding dibuatnya. Siapa dia? Kenapa semua mentertawakanku. Ruangan itu pecah oleh suara tawa yang lebih menyerupai jerit hantu dikuburan. Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku coba duduk. Kucabut infus yang menempel di nadiku. Aku tabrak tubuh dokter itu. Tapi saat akan mencapai pintu, sebuah benda keras menghajar kepalaku. Aku kehilangan keseimbangan. Kemudian semuanya gelap belaka.

***

“Alifff.. Alifff.. bangun, Nak. Ibu sudah siapkan sarapan. Kamu kan sebentar lagi sekolah!”

Aku terbangun mendengar teriakan ibuku dan ketukan di pintu. Tiba-tiba air mata menganak sungai. Aku merasakan kebingungan yang luar biasa dan rindu kepada ibuku, “Ibu? Itu kah ibu?”

Ibu langsung membuka pintu. Saat mendapat anaknya dalam kebingungan ia mendekat. Wajahnya teduh dan menenangkan.

“Alif, kamu kenapa?”

Melihatnya mendekat tubuhku gemetar. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Aku langsung bersimpuh dan mencium kaki ibuku. Aku rangkul kaki ibuku sambil menundukan kepala. Tangisku pecah. Aku rindu ibuku. Aku ingin memeluknya dan tidak mau lagi mencelanya. Aku sayang ibuku.

Ibuku tidak berkata apa-apa. Ia melihatku lekat-lekat seperti seorang bocah yang terjatuh saat bermain layangan. Ia mengelus kepalaku perlahan. Aku merasakan kedamaian. Aku tenang. Aku hidup. Aku tercerahkan. Kemudian aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, semoga kenyataan ini bukan sebuah mimpi.”

“Say: Come. I will recite unto you that which your Lord has made a sacred duty for you; that you ascribe nothing as partner unto Him and that you do good to parents…” (Quran 6:151)


Ferry Fadillah, April 2016

tulisan ini pernah dikirim untuk lomba cerpen festival seni budaya Masjid Baitul Mal (2016), STAN, dan memperoleh peringkat ketiga

, , , , , , , ,

Leave a comment