Posts Tagged sosial

Sudahkah Mengerti?

Pembangunan mega gedung, buruh-buruh berduyun menyusun pondasi, kerlap-kerlip lampu ibu kota, lalu lalang kendaraan bermotor, begitulah pemandangan yang saya saksikan dari jendela kamar nomor 610, Park Hotel, Cawang, Jakarta.

Jakarta. Sebuah kota sentral yang dinisbatkan sebagai tolak ukur kemajuan indonesia. Ruwetnya Jakarta adalah ruwetnya Indonesia, majunya Indonesia adalah majunya Jakarta. Padahal kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar.

Kemajuan ekonomi hanya mengukur hal-hal yang terindra. Melihat infrastruktur sebagai kemajuan, tingkat konsumsi sebagai kekayaan, keterserapan tenaga kerja sebagai prestasi. Namun lupa arti sebuah keadilan. Terdistribusinya kemakmuran bagi segenap bangsa Indonesia.

Dibalik gedung-gedung megah itu tercecer masyarakat yang kedinginan. Mereka tidak mendapatkan tempat yang layak untuk hidup. Merana, sengsara. Mereka hanya menerka, “Siapa gerangan ratu adil yang akan datang?”

Doa-doa belum juga terjawab. Sebuah imaji bahwa Tuhan akan turun tangan mengatasi ketimpangan sosial ini hanya menuju khayali belaka. Sang Tuhan terlalu suci untuk mengotori tanganNya, Ia dengan gagah duduk di singgasana, menyaksikan gelagat kita dengan saksama. Ia bukan acuh, jahat, atau kejam. Namun demokrasi yang belakangan ini kita elukan sebagai dewa telah mengubah cara pandang kahyangan : manusia harus bebas dan independen, mereka harus menentukan nasibnya sendiri.

Kahyangan memberi independensi, pemimpin cenderung melupakan, lantas kaum marginal harus mengadu kepada siapa?

Putus asa –sebagai reaksi dari kekecewaan- mulai menjakiti masyarakat. Agamawan hanya bisa memberi solusi teks suci tanpa solusi nyata ekonomi. Politisi hanya bisa tebar janji  tanpa secuil pun realisasi. Jadi jangan salahkan masyarakat jika akhir-akhir ini mulai bertindak anarki, karena mereka hanya ingin dimengerti.

Dan sudahkah, saya, anda dan kita mengerti?

Ferry Fadillah
Jakarta, 13 November 2012

, , , , , , , ,

Leave a comment

Ketersinggungan

Perbuatan seseorang terhadap kita, semenjak itu tidak menyinggung prinsip-prinsip transenden yang kita anut dan pegang teguh dengan pedang dan amunisi, adalah hal lumrah yang patut untuk dimaafkan. Perasaan kesal sebagai reaksi dari aksi fisik maupun mental yang kita terima, jika direnungi, hanyalah terjadi di ‘dunia lain’, dunia tidak terbatas di luar realita yang kendalinya berasal dari akal kita.

Sebutan hati, tidak selalu merujuk sebagai organ biologis yang memiliki fungsi penetralisir racun dalam tubuh, namun sebagai kondisi kebatinan, sesuatu yang tidak dapat dilihat namun keberadaannya nyata karena dapat dirasakan dan dimanifestasikan  dalam artifak-artifak kebudayaan yang memiliki referensi struktural terhadap suasana kebatinan/hati tertentu.

Ketersinggungan bermula dari hati yang terluka (saya rasa kita semua sepakat dengan hal ini), akan tetapi para pemikir mengemukakan bahwa hati adalah sesuatu yang irasional, transenden serta tidak memiliki kebenaran absolut, selalu berubah-ubah tergantung suasana sehingga kedudukan akal ialah superior dibanding hati dan dapat dengan otoriter mengendalikannya.

Fakta-fakta di atas adalah hal gamblang yang kurang dipahami masyarakat umum. Masyarakat dimana ekspresi dari batin/hati dengan mudah diluapkan atau diekspresikan dalam berbagai macam aksi dan artefak tanpa mempedulikan peran akal yang memiliki fungsi penyaring : baik/buruk, estetis/anarkis. Sehingga anarki sosial, demonstrasi kontra produktif, terorisme dan tawuran antar pelajar/kampung sering terjadi namun tidak pernah bisa kita cegah dan hilangkan.

Bukan berarti hati harus kita transformaskan menuju titik nol, kematian, ketidak beradaan (nothingness), tetapi menempatkan hati secara struktur di bawah akal sehingga segala ekspresi sosial sebagai akibat dari proses mekanis-psikologis dalam hati (ketersinggungan, kegalauan dsb) dapat berwujud lebih produktif dan konstruktif.

Akhirnya, ketersinggungan adalah sesuatu yang akan selalu terjadi dalam kehidupan sosial di dunia. Mereka yang anti-ketersinggungan hendaknya hengkang dari bumi dan mencari surga yang katanya penuh kesempurnaan dan keagungan. Menempatkan akal atas hati adalah satu-satunya solusi untuk segala macam problem sosial yang berhulu dari ketersinggungan.

Kedepan, apabila setiap individu memiliki kecenderungan berpikir kritis dan logis, saya yakin negeri ini akan lebih stabil dan harmonis.

Ferry Fadillah
14 Oktober 2012

 

, , , , , ,

Leave a comment

Yang Seharusnya dengan Yang Ada

Pertama, saya tidak pernah menyatakan dengan resmi bahwa tulisan  ini merupakan manifestasi kegalauan anak muda.

Kedua, saya begitu menaruh hormat kepada setiap munusia yang membaca tulisan ini dengan tanpa prasangka terlebih dahulu, terbuka, dan tulus ikhlas menerima perbedaan perspektif.

***

Butuh keberanian besar unutk menjungkirbalikan suatu nilai bukan ? Apalagi ketika nilai itu sudah mengakar kuat dalam sistem sosial tertentu dan anggota dari sistem itu sudah tertidur pulas untuk mengkritisi benar atau tidak nya nilai yang mereka anut selama ini.

Namun bagi sebagian orang, yang tercerahkan, yang berani mempertanyakan nilai-nilai yang sudah tertancap itu, maka akan ada selalu pertentangan antara apa yang ada  dengan apa yang seharusnya ada.

Beberapa orang dengan kekuatan ekonomi, politik, strata sosial, keningratan dan sebagainya sukses memperjuangan nilai-nilai yang seharusnya ada dalam sistem sosial. Namun di sisi lain, mereka dengan semangat perubahan tinggi, namun dengan segala keterbatasan ekonomi, politik, strata sosial, keningratan, fisik dan sebagainya hanya bisa bergumam dalam hati dan berdoa kepada yang Kuasa akan stabilitas sistem sosial yang ideal di masa depan.

Ada pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir keras ?

Apa ia  perubahan itu harus dimulai dengan segala keber-ada-an kita. Kalau memang kita mampu, ber-ada-, bisa, maka dimana letak perjuangannya?

Perjuangan untuk membalikan nilai-nilai yang seharusnya ada dalam suatu sistem sosial lah yang menjadi kesolehan jalan hidup bagi mereka yang menjalaninya. Dengan keterbatasan ia berjuang dengan cara masing-masing, tidak mengharap doa, uang atau berkah dari agamawan.

Dan pada titik maksimal, ketika perjuangannya selesai dibawah garis kehendak Tuhan, maka kehidupannya akan menjadi inspirasi bagi kehidupan sesama.

Terpujilah mereka para pejuang.

Terkutuklah mereka yang lama tertidur.

Ferry Fadillah
Bali, 29 Mei 2012

, ,

Leave a comment

Diam itu Bukan Emas

oleh Ferry Fadillah

"emas, semakin lama semakin berharga"

Diam adalah emas. Sebuah ungkapan klasik yang sering didengungkan orang untuk menggambarkan pentingnya diam ketika berbicara hanya akan menumbuhkan benih kemurkaan. Dan ‘diam adalah emas’ telah menjadi daya tarik tersendiri, sehingga orang memilih diam dalam setiap kondisi dan berbicara ketika memiliki hak untuk itu.

Ketika kita melakukan kesalahan kepada seseorang–keluarga, saudara, kekasih, sahabat dan teman–tentu akan ada beragam ekspresi dari kesalahan yang kita lakukan. Marah, kesal, jengkel, hinaan, kritikan pedas, dan bentakan dapat dipastikan akan terlontar dari mulut mereka kepada kita untuk mengirimkan sinyal bahwa apa yang kita perbuat adalah salah. Tidak selamanya ekspresi kekesalan berbentuk seperti itu, ada kalanya mereka kesal, diam dan berubah sikap sampai periode tertentu, seolah memberikan pesan : cari sendiri kesalahanmu, dan jangan ganggu aku.

Diam pada kasus seperti ini adalah kasus yang luar biasa. Karena mereka, yang berbuat kesalahan, akan sulit sekali menerka  kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Mungkin minta maaf telah terlontar dari mulut pesalah, tapi sikap diam dari mereka yang kita harapkan bersua untuk memberi tahu letak kesalahan kita–terdiam membisu, berubah sikap tidak menentu– hanya membuat tanda tanya besar dalam kepala si salah.

Yang salah tetaplah salah dan apakah kesalahan harus dibalas dengan kebingungan. Apakah mulut yang terpasang di kepala kita telah kehilangan ototnya untuk bergerak? Kesalahan yang berbalas diam hanya akan menimbun kesalahan tersebut menjadi besi rongsok yang tiada guna.

Keterbukaan antara 2 manusia dalam mengkoreksi kelakuan dalam hidup adalah sebuah kewajiban. Komunikasi harus  terjalin apapun permasalahannya, tulus menyatakan rasa bersalah dan jujur memberi letak kesalahan akan menempati posisi tertinggi dari sebuah sosialisasi manusia.

Keterbukaan dalam mengkoreksi masalah, dan ketulusan dalam meminta maaf atas kesalahan akan menjadikan kesalahan sebagai benda berharga yang berguna bagi kehidupan sosial berikutnya. Layaknya emas yang semakin mahal seiring berjalannya waktu.

Sikap diam, dan kebekuan dalam mengkoreksi kesalahan orang lain, hanya akan menjadikan kesalahan menjadi beban yang terus terpikul dalam kehidupan sosial. Seperti besi rongsok yang karat dimakan waktu. Tiada guna hanya mencemari.

Pada akhirnya saya berkesimpulan : Diam itu bukan emas, jika diam hanya membiarkan.

Ferry Fadillah, Denpasar, 25 Mei 2010

Haturan maaf bagi mereka yang tersakiti hatinya

sumber gambar : www.detikfinance.com

, ,

2 Comments