Posts Tagged masjid

Akhir Hidup

 

I know you’re tired but come, this is the way

Jalaluddin Rumi

 

Masjid itu terletak di ujung Kantor Wilayah. Di sebelah utaranya berdiri Pura megah dengan ukiran artsitik. Di sebelah selatan berderet tanaman singkong yang ditata dengan apik. Masjid sederhana itu memiliki dua lantai. Lantai pertama dilengkapi karpet hijau mewah, rak buku dengan koleksi seadanya, mimbar polos tanpa sentuhan ukiran, dan beberapa mushaf ustmani yang sudah mulai menguning.

Pagi itu, kala mentari baru dua puluh menit terbit dari timur, Raden Taufik Wiralaga, yang kemudian disebut Taufik, bertafakur dalam kesendirian. Pandangannya kosong menghadap tempat sujud, posisi duduknya bersila, ada bekas-bekas air wudhu menetes ke kerah bajunya. Sesekali mulutnya mengucap sesuatu yang tidak jelas. Lebih menyerupai ceracau seorang mabuk.

“Ampun… Aduh.. Ampun.. Aduh.. Jangan..”

Air mata menganak sungai mebasahi pipinya. Suaranya semakin parau dan pandangannya semakin dalam. Komat-kamit semain tidak keruan. Badannya bergetar hebat, matanya kosong. Tiba-tiba, ia bisa mengusai dirinya sendiri dan berdzikir pelan, “Allah, Allah, Allah…”

Dzikirnya pelan seiring dengan kondisinya yang semakin tenang. Nafasnya mulai teratur. Taufik mulai menguasai dirinya, wajahnya kembali cerah dan aura lembut melingkupi tubuhnya.

“Allah..Allah..Allah”, ucapnya sambil menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan. Ia tidak mau menyelesaikan kalimat tahlil itu dalam dzikir karena takut malaikat maut mencabut nyawanya saat kalimat Laa terucap. Yang berarti penolakan atas keimananya.

Dzikirnya semakin hebat dan dalam. Ia merasakan dirinya semakin ringan. Sebuah berkas cahaya putih mendekatinya, masuk kedalam qalb nya. Ia merasakan dirinya mengembang memenuhi ruangan masjid. Membesar, membesar, membesar sampai ia kehilangan kesadaran dan memasuki dimensi lain.

Dalam dimensi itu, ia melihat latar belakang pohon pinus yang berderet di perbukitan. Di antara hutan itu sebuah danau biru dipenuhi ikan yang terlihat jelas dari pinggiran. Pasirnya hitam, airnya tidak beriak. Tidak ada angin, tidak ada kabut, tidak ada matahari dan langit dipenuhi gemintang. Sesuatu terjadi mendadak. Air danau tiba-tiba mengalami pasang. Pusarannya menghisap tubuh Taufik. Dalam, dalam, terus ke dalam dasarnya.

Tapi… Ia tidak menemukan dasar itu. Dalam pusaran itu Taufik diberi penglihatan ilahiah tentang masa hidupnya. Ia melihat wajah ibunya yang tersenyum saat ia masih bayi. Wajah bapaknya yang lelah selepas bekerja. Ia merasa rindu dengan mereka. Ia berusaha menggapai mereka, tapi mereka hanyalah bayang-bayang di antara air danau. Kemudian, ia melihat dirinya sewaktu kecil. Ia berlari ke sana ke mari dengan riang, tanpa beban, penuh semangat dan rasa ingin tahu. Bapak dan Ibunya selalu mengecup keningnya sebelum berangkat sekolah. Ia merasakan pengalaman itu begitu dekat, sangat dekat.

Lama-lama bayangan itu pudar. Ia kemudian melihat sosok remajanya sedang berduaan dengan seorang wanita di pojok kafe sebuah kota. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing. Tapi, ia juga melihat kelakuan buruknya ketika berbohong kepada orang tuanya, pulang malam tanpa kabar, dan selalu meminta uang demi membelikan hadiah bagi sang kekasih. Ia juga melihat ibunya berdoa sambil menangis dalam tahajudnya. Ia merasa bersalah, “Bu, maafkan, Taufik, Bu..”, bisiknya lirih.

Tiba-tiba semua berubah hitam. Ada titik putih kecil dikejauhan yang mendekat. Taufik mendekati titik itu. Pemandangan mendadak berubah. Ia melihat dirinya sedang duduk dengan seragam berpangkat di depan komputer. Ia sadar bahwa ia sedang melihat dirinya lagi. Ia melihat perubahan tanda pangkatnya. Semakin lama semakin semarak. Di antara berubahan itu berseliweran pemandangan aneh. Wanita-wanita penghibur, botol wisky, kartu remi, asap rokok, perbicangan dengan tertawaan, anak buahnya yang pernah ia sakiti, istrinya yang menangis, anaknya yang kepergok merokok, orang tuanya dengan kain kafan, nisan, kemudian titik itu menghilang, gambaran itu pudar, semua kembali hitam.

Taufik terjebak dalam gelap itu. Ia tidak paham ia berada dimana dan akan menuju kemana. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya. Ia tidak ingat lagi apa yang terakhir ia lakukan. Akhirnya ia berzikir, “Allah, Allah, Allah..” Gelap itu menghilang, Taufik merasakan cahaya putih membawanya terbang entah kemana.

Adzan Dzuhur berkumandang, masjid gempar, seorang pegawai ditemukan meninggal dalam persujudannya.

Oktober, 2016. Ferry Fadillah

Advertisements

, , ,

Leave a comment

Menuju Progresfitas Masjid Perkantoran

Adzan berkumandang. Masyarakat menghentikan aktivitasnya. Berduyun-duyun  masuk ke Masjid. Mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah dalam gerakan mulia bernama Shalat. Setelah itu, dalam diam, mereka mengingat Allah. Berdoa dalam harap.

Sayangnya, setelah ritual itu selesai, masjid kembali sepi. Pola pikir masyarakat terlalu terpaku bahwa masjid hanyalah tempat sholat belaka. Padahal, jika mengkaji secara sosio-historis, masjid selalu dipenuhi dengan pertemuan ragam pemikiran, ideologi, kepentingan dan pergerakan.

Maksimalisasi Peran Masjid Perkantoran

Umumnya, kantor-kantor pemerintah dan swasta memiliki masjid. Ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius yang selalu menempatkan masjid sebagai bagian penting dalam tata ruang perkantoran. Permasalahannya adalah, apakah masjid sudah menjadi pusat kegiatan dakwah di wilayah perkantoran?

Ada kecenderungan, relijiusitas hanya ditempatkan di dalam masjid, di luar itu relijiusitas selalu kalah dengan materialisme. Sehingga tidak jarang kita melihat pelaku karyawan yang kontradikitif dalam kehidupannya. Di masjid ia begitu sholeh, di luar kantor ia begitu liberal. Yasraf Amir Piliang, seorang sosiolog dan pengkaji cultural studies, melabeli orang seperti ini sebagai pengidap skizofrenia. Term ini merujuk kepada kepribadian yang ganda tidak hanya disebabkan faktor gen akan tetapi lemahnya prinsip yang ia pegang, sehingga ia selalu mengakomodir segala prinsip/isme-isme dalam kehidupannya. Isme-isme itu muncul dalam prilakunya tanpa ada filter dari prinsip utama.

Untuk menghilangkan ini semua, sebenarnya Masjid memiliki peran vital dalam melakukan pendidikan Islam yang kuat. Sehingga prinsip Islam dapat terpatri kuat dalam diri karyawan. Ujungnya, dihasilkan karyawan-karyawan yang Islami tanpa terjangkit gejala Skizofrenia.

Maksimalisasi Peran Takmir Profresif

Progresif memang cenderung digunakan dalam istilah politik. Progresif  memiliki definisi : ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang. Sehingga Takmir Progresif adalah kader-kader Islam dalam organisasi masjid yang senantiasa gerah dengan kemandekan/konservatisme dan berusaha untuk mengubah kondisi ini menuju keadaan ideal.

Oleh karena itu, takmir masjid harus diupayakan memiliki pengetahuan yang dalam tentang agama juga mengetahui perkembangan dunia yang sudah tidak moderen lagi (filsuf kontemporer mengkategorikan zaman sekarang sebagai post-moderenisme). Takmir masjid harus bisa menangkap isme-isme yang berkembang di daerahnya (kantor dsb) kemudian mengkajinya dari sudut Islam sehingga dihasilkanlah pehamanan jamaah yang lebih islami.

Daripada kita menuding sesat para liberalis, sekularis, feminis, orientalis dan sebagainya. Lebih baik kita mengkaji bahasa mereka, kemudian mewarnainya dengan semangat Islam.

Harapannya, Masjid dengan Ideologi Islam dapat menyatukan Umat Islam yang terkotak-kotak oleh segala Isme. Dan, hal ini perlu didukung oleh pergerakan Takmir Masjid yang progresif.

Ferry Fadillah
Badung, 3 September 2013

, , , , , , ,

Leave a comment