Archive for December, 2012

Sang Waktu

Di bawah atap di dalam rumah,

Aku berdiam tanpa bertingkah.

Di atas karpet di ruang tamu,

Aku melihat sebuah buku.

Di atas meja di dalam kamar,

Aku membaca dengan  samar.

 

Pada hari itu. Pada ruang dan waktu yang sama.

Aku membaca dan terus membaca.

Bahkan hingga membabi buta.

 

Mungkin khalayak nilai itu tiada guna

tapi sungguh, aku hanya ingin waktu bermakna.

Karena ketika hidup telah tiada,

waktu akan tertawa,

dan kita hanya bisa terpana.

Ferry Fadillah. Denpasar, 15 Desember 2012

***

Berulang kali orang menasihatiku untuk tidak terlalu tegang dan selalu rileks. Namun, mungkin karena bawaan, aku sulit menghilangkan itu semua. Prinsip-prinsip ku yang terkadang bertentangan dengan logika kesenangan, aku pahami, telah mengorbankan banyak hati. Karena dalam kamus hidupku, dunia ini adalah perjuangan, dan perjuangan menuntut pengorbanan.

Waktu berlalu dan ilmu bertambah. Aku merekonstruksi ulang prinsip-prinsip ku yang terlalu kaku. Aku mafhum, bahwa senang-senang adalah kecenderungan manusia; bahwa senang-senang adalah awal bahagia; bahwa senang-senang adalah awal dari persahabatan.

Prinsip kaku lawan prinsip kesenangan menghasilkan prinsip hybrid yang unik. Aku harus selalu senang, senang yang bermakna, tidak melulu tentang yang fana, tapi bagaimana menghargai sesama manusia. Anthroposentrisme. Itu kini prinsipku.

Dan semua itu disokong oleh pembelajaran berkelanjutan, yakni : membaca.

Iqro, kata Tuhan.

, , , , ,

Leave a comment

Zinah

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra’ : 32)

Saya yakin semua agama dan budaya setuju jika praktik zinah adalah amoral, melawan kodrat sebagai manusia, asusila, bahkan perbuatan satanik yang dapat menjerumuskan kita ke neraka, dunia maupun akhirat. Namun saya yakin banyak masyarakat yang mulai lentur memandang praktik zinah, bahwa zinah adalah hal lumrah, bahkan komersialisasi praktik zinah melalu lembaga bernama lokalisasi tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Di antara kita bisa jadi terheran-heran, sayangnya membicarakan hal tersebut dengan nada bercanda, seolah fenomena ini merupakan pertunjukan lawak kolosal!

Di era post-modernisme, yang definisinya pun masih membingungkan, banyak manusia yang memiliki nihilisme nilai. Ini boleh, itu juga boleh. Zinah boleh, engga juga gak apa-apa, yang penting jangan ganggu privasi saya. Kasarnya. Bahayanya adalah semakin banyak generasi muda yang menganut nihilisme nilai ini, sehingga perzinahan seolah merupakan permasalahn individu bukan kolektif. Kalau sudah seperti ini, celakalah mereka yang tidak memiliki nalar kritis, meng-amini saja pandangan sesat ini , bahkan turut bagian dalam praktik zinah. Naudzubillah.

Saya sadar, bahwa saya bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Bahkan dengan lugu saya mengaku, saya pun pernah berbuat dosa, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tetapi untuk masalah yang satu ini –zinah- saya kira permasalahannya lebih kompleks. Ditilik tidak hanya dari sudut pandang Islam saja namun humanisme universal.

Manusia (human) yang diberi rasa dan akal tentu berbeda dengan hewan yang hanya memiliki hasrat. Terdengar klise memang. Namun pembeda yang jelas ini banyak dilupakan orang dengan jutaan pembenaran-pembenaran. Kita manusia lalu untuk apa bertindak tanduk seperti hewan. Hanya hewan yang melakukan hubungan seksual tanpa ritual transenden, bung! Apa iya kita mau disamakan dengan hewan?

Saya tidak mau menuduh mereka yang pro-zinah sebagai antek-antek setan, manusia iblistis atau hewan birahi berjalan. Masalah mereka pro atau kontra lalu menyematkan lema dosa setelahnya bukanlah hak saya sebagai penulis ngawur. Saya hanya ingin curhat bukan menggurui, melabeli apalagi memaki. Di akhir, satu permintaan saya, kepada segenap manusia tercinta dimanapun kalian berada : mari kita menjadi manusia sejati, sebenar-benarnya manusia.

 

Ferry Fadillah
9 Desember 2012

, , , , , , , , ,

Leave a comment

Menjaga Budaya ?

Malam minggu kemarin (1/11), Art Center Kota Denpasar tampak sangat berbeda. Paguyuban Mahasiswa Tanah Pasundan Bali (PAMANAHAN) menyelenggarakan Mini Karnival ke-2 yang bertajuk EUIS : Exicitement in Uniting Indonesia Sparks. Acara tersebut berisi rangkaian pertunjukan seni dari beberapa daerah, pameran fotografi dan pameran kuliner khas Sunda.

Pamanahan yang merupakan organisasi dibawah Badan Musyawarah Masyarakat Sunda (BAMMUS) berhasil mengkonsolidasikan sebuah acara seni budaya yang tidak saja secara ekslusif mempertontonkan keadiluhungan budaya Sunda, tetapi juga budaya-budaya dari daerah lain. Hal ini dapat terlihat dari format acara yang berisi pertunjukan seni dari Lisma Universitas Pasundan, Viking Bali, Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara, Ikatan Keluarga Makassar Indonesia dan Muda Mudi Karo Sirulo.

Menilik acara kesenian serupa di beberapa daerah. Saya percaya bahwa ada bahasa implisit yang berusaha disampaikan oleh penyelenggara. Secara klise kalimat itu selalu saja : demi menjaga budaya kita (budaya daerah/leluhur)

Menjaga Kebudayaan seolah menjadi jargon utama para pegiat budaya, dari lingkungan akademisi maupun umum. Semua yang memiliki hasrat budaya serupa pun biasanya mengekor dan –dalam contoh yang lebih ekstrim- berusaha untuk mengembalikan kedigdayaan budaya leluhur pada zaman moderen.

Apakah hal ini mungkin? Sitok Srengenge dalam esainya yang berjudul “Identitas” pernah berkata : “Karena setiap orang adalah pencipta sekaligus pelaku budaya, padahal setiap orang berbeda dan semua orang berubah; maka kebudayaan sungguh tak bisa dipahami sebagai sesuatu yang pasti, statis, baku apalagi baka”

Jadi konsekuensi logisnya adalah segala daya upaya menjaga budaya, apalagi mewujudkan budaya leluhur yang pure pada zaman moderen adalah kesia-siaan. Perubahan itu pasti dan kita tidak bisa melawannya. Seperti sebuah adagium Sunda : Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Yang artinya kurang lebih menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Oleh karena itu kata menjaga dan turunannya harus dirubah menjadi merevitalisasi, merekonstruksi bahkan mendekonstruksi agar budaya kembali ke alam aktualitas, tidak tercerabut dari alam aslinya –masa kini. Budaya menjadi lebih aplikatif, berguna bagi kesejahteraan pemiliknya. Budaya menjadi lebih filosofis, berguna bagi pencerahan penikmatnya. Budaya menjadi lebih dinamis, nilainya disesuaikan dengan kaidah-kaidah agama.

Akhir kata, daripada para tetua atau mereka yang melabeli diri penjaga budaya mengkritisi fenomena gangnam style dengan doktrin nasionalisme, sukuisme, atau provinsialisme. Hemat saya,  Biarlah gangnam style melesat dengan pangsa pasarnya sendiri, toh ia juga bagian dari kebudayaan, berasal dari manusia, Anthroposentrisme. Dengan mecekal secara langsung maupun tidak langsung sebuah kebudayaan apa bedanya kita dengan para anggora Lekra (Lembaga Kebudayaan di bawah naungan PKI) yang memasung kebebasan bereskpersi para seniman non-kiri.  Yang harus dan segera kita lakukan adalah memoles budaya daerah kita agar menarik di pasar nasional, regional sampai internasional, tentu tanpa menghilangkan sifat dasar dari budaya itu sendiri.

Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman. Begitulah!

Ferry Fadillah
Denpasar, 2 Desember 2012

, , , , , , , , , ,

1 Comment