Dipenogoro

Musuh sengaja mengatur siasat

Untuk menangkap Dipenogoro secara khianat.

Demikianlah berita di tengah rakyat Magelang

Ketika ia di dalam masjid asyik sembahyang.

(Dipenogoro oleh Sitor Situmorang)

***

Pria berperawakan sedang berjubah putih dengan surban besar di atas kepala itu bukan ekstrimist garis keras yang ditakuti dunia kini. Dia putra raja, memilih bersama rakyat, melakukan revolusi, namun, miris, sejarah kelak menulisnya semata melawan karena patok di tanah leluhur belaka.

Rade Mas Antarwirya, begitulah pangeran kecil dipanggil, putra sulung Hamengkubuwono III, Raja Jawa di Yogyakarta1. Seperti Gautama, dia memilih meninggalkan gemerlap dunia istana. Menyendiri dari gua ke gua, belajar agama dari kiai ke kiai. Kebahagian baginya ialah berkumpul dengan santri miskin  dan mendengar penderitaan rakyat.

Dia tanggalkan pakaian Jawa. Menggantinya dengan pakaian Rasul serba putih. Baginya masyarakat jawa adalah masyarakat jahiliyah pra-islam. Seperti tugas rasul saat itu : menyempurnakan akhlak dan menata masyarakat Jawa menjadi Islami adalah tujuan utama.

Alkisah, Belanda semakin kurang ajar. Keraton sudah kehilangan wibawa. Pejabat Jawa lupa akan jati diri. Hedonisme dan pesta pora menjadi Tuhan baru. Tidak tanggung-tanggung, rakyat dibebani pajak-pajak yang tidak masuk akal. Bagi pejabat Jawa di keraton, menyenangkan hati kafir belanda adalah lebih penting dari nyawa rakyatnya sendiri.

Amarah memasuki jiwa Dipenogoro. Dia kumpulkan rakyat yang akan berjuang bersamanya. Para pejabat keraton yang memihak rakyat, dan petarung-petarung tangguh seantero  Jawa. Bagi Dipenogoro, haram baginya meniru-niru kafir belanda. Dia tiru model organisasi Jannisari dari Turki Ustamani sana. Pangkat militer tertinggi digelari Alibasah, membawahi pasukan infanteri dan kavaleri.

Rakyat dari desa ke desa semakin banyak mendukung perjuangan Dipenogoro. Bagi mereka ini bukan perjuangan menuntut keadilan, sandang, pangan belaka, namun perang sabil di jalan yang suci.

Kejam. Belanda tidak mau ambil pusing. Mereka bakar setiap desa yang mendukung Sang Pangeran. Ternak dan beras dijarah, penduduk tidak bedosa dibunuh. Namun, rakyat tidak pernah kehilangan nyali.

Sebagian besar wilayah kerajaan berhasil diduduki. Sayang, beberapa pasukan membelot. Lelah dengan perang bertahun-tahun, tergiur akan harta dan tahta. Namun, Dipenogoro tidak gentar. Pabrik-pabrik mesiu dibangun, perang gerilya terus dilancarkan. Benteng-benteng Belanda kewalahan menghadapi perlawanan mujahid. Mereka takjub : pasukan Dipenogoro bisa bertahan dengan logistik seadanya.

Perang terus menelan korban. Belanda semakin beringas, pasukan mujahid Dipenogoro tidak mau menyerah. Baginya, ini perang suci, nyawa hanya titipan Tuhan. Jika perang ini berhasil, sistem kerajaan Jawa akan dihapuskannya. Diganti dengan Kekhalifahan di Tanah Jawa. Dengan harap berkah dan makmur meliputi negeri  yang subur permai.

Bagi rakyat, perang menimbulkan penderitaan lahir batin. Bagi belanda, perang ini memakan biaya yang tidak sedikit. Genjatan senjata dimulai. Gegap gempita seantero negeri Jawa. Rakyat bisa kembali istirahat dengan tenang.

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Penyerahan Pangeran Diponegoro (di kotak kiri) kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock (di kotak kanan) tanggal 28 Maret 1830 yang mengakhiri Perang Diponegoro (1825-1830).

Bukan Belanda jika tidak licik. Dipenogoro diajak berunding, namun pasukan pribadinya dilucuti. Dipenogoro ditahan semena-mena. Babad berkisah 2:

Bab ing aprang kabeh sun kang luput yekti (mengenai perang, semua itu saya yang bersalah)

Kabeh apan darma (semua itu darma)

Anglakoni prentah mami (melaksanakan perintah saya)

Prang iki satanah jawa (perang di seluruh tanah Jawa)

Itulah keluhuran budinya, tidak ingin rakyat Jawa di bantai Belanda, maka semua kesalahan perang disematkan kepadanya

Kini, Dipenogoro dikenal sebagai pahlawan nasional. Pelajar se-Indonesia hapal betul tanggal lahir dan kapan terjadinya perang itu. Sayang, Negeri Islam yang dulu dicita-citakannya kini dicibir, oleh bangsanya sendiri.

Ferry Fadillah, 25 Januari 2014

Catatan :

  1. id.wikipedia.org
  2. Saleh As’ad Djamhari, Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stesel Benteng 1827-1830, Komunitas Bambu, Depok, 2014, hal. 180

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: