Archive for December, 2018

Kredit

“Asu, apanya yang syariah! Masa pinjem duit lima ratus juta selama lima belas tahun total keuntungan bank sampai tujuh ratus jutaan. Sudah dibuat kurus nahan lapar setiap bulan, bank yang hanya diam ongkang-ongkang kaki dapat penghasilan dari bunga pinjaman. Tai! Itu duit kan bukan untuk membeli alat produksi, tidak ada hasil penjualan yang bisa dibagi. Saya itu makan gaji, rate-nya hanya naik 5% per tahun sedangkan suku bunga terus melebihi angka 12%. Rumah itu kebutuhan pokok. Kebutuhan dasar. Seharusnya tidak masuk logika pasar!”

Pagi buta begini Derry sudah memaki. Pemicunya selebaran pinjaman tanpa agunan yang dibagikan salesman bank syariah. Ia memang sedang butuh uang. Sebentar lagi ia akan menikah. Memikirkan biaya pernikahan saja sudah membuatnya mual, apalagi memikirkan kebutuhan papan yang harganya terus melejit dari tahun ke tahun.

“Tenang, Mas Derry. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau ditengah usaha kita, segala kebutuhan pokok itu tidak terpenuhi ya apa boleh dibilang, kita hanya pasrah saja. Itu sudah ketentuan langit.”

Mendengar ceramah kawannya itu Derry geram. Tapi ia masih memiliki akal sehat untuk tidak langsung memaki. Di negeri ini ia tahu, sedikit saja kritik terhadap ungkapan relijius bisa panjang akibatnya. Mungkin akan ada organisasi masyarakat yang menggerudug rumah Derry atau bahkan demonstrasi tanpa henti menuntut Derry dibui.

“Begini, Mas Parman. Saya paham apa itu takdir dan segala macamnya. Permasalahannya Mas harus bedakan mana kemiskinan struktural dan mana kemiskinan kultural. Kalau usaha keras hingga keringat darah kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok maka ada struktur timpang yang menindih kita. Sayangnya kita tidak sadar dan dengan mudah mengembalikan setiap analisis ekonomi-politik kepada yang di atas, kehendak-Nya.”

“Iya, Mas. Saya paham keresahan Mas Derry tapi sebagai pegawai rendahan di kantor pemerintah apa yang bisa kita perbuat. Harapan kita hanyalah hal-hal praktis bagi keberlangsungan kesejahteraan pribadi: mendapat gaji bulanan tepat waktu, penempatan di kampung halaman, olahraga disela-sela ngantor, syukur-syukur dapat uang perjalanan dinas untuk tambal hutang sana-sini. Sisanya biar kita banyak jamaah di masjid, membaca Al-Quran atu ikut kegiatan islami lain. Kalau di dunia ini kita kurang jangan sampai di akhirat juga kita kurang”

Anjing betul orang ini!” umpat Derry dalam hati. Ia tidak menggubris argument Mas Parman, ia hanya tersenyum, menyalaminya, kemudian dengan sopan mempersilahkan Mas Parman keluar dari ruangan.

Derry duduk di depan meja kerjanya yang penuh sesak oleh kertas kerja. Di lacinya ada banyak konsep surat yang habis dicoret oleh atasannya. Namun, diantara kesemrawutan itu Derry ternyata memiliki rak buku kecil yang menggantung di tembok. Buku koleksinya tebal-tebal. Sebagian besar tentang ekonomi-politik dan filsafat moral. Tokoh filsafat modern kesukaannya adalah Karl Marx. Ia tidak terlalu paham Das Capital tebal yang selalu ia sombongkan kepada teman-temanya.  Ia hanya menyukai ide-ide sosialisme Marx ditambah hasil imajinasinya sendiri.

Di sela-sela buku Das Capital ia menulis hasil pemikirannya sebagai berikut:

Di negeri ini kita semua mafhum bahwa kapitalisme telah menjadi semangat zaman. Harapannya  orang-orang akan berhenti bertikai untuk kemudian berkompetisi secara sehat menggunakan produk-produk mereka. Adanya kawasan industri sekala besar, perekonomian dijital, peningkatan kemacetan di desa-desa yang tiba-tiba menjadi kawasan wisata adalah semacam anugerah bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin harum pamor pemerintah di mata masyarakat internasional.

Padahal di negeri ini ketimpangan terjadi dimana-mana. Ada perusahaan yang memiliki jutaan hektar tanah untuk kemudian dikembangkan menjadi perumahan dengan harga milyaran. Komplotan perusahaan pembiayaan dan perusahaan properti  ini telah menjerat karyawan-karyawan muda dalam skema kredit perumahan. Dalam jangka panjang, orang kaya akan semakin kaya sedangkan orang menengah dan miskin akan semakin sulit.

Kondisi-kondisi ini tidak hanya terjadi kepada mereka yang terjerat hutang pembelian rumah, akan tetapi juga terjadi kepada mereka yang mengontrak di gang-gang kecil dengan sirkulasi udara buruk dan ruang terbuka hijau yang minim. Tanpa kesadaran ekonomi-politik yang tinggi dan menyebar di kalangan  massa, harapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah impian di siang bolong.

Belum selesai Derry menulis, Mas Parman kembali ke ruangan dengan membawa empat orang dari divisi kepatuhan internal. Derry termenung tanda tak paham. Gerombolan itu membawa Derry ke ruang pemeriksaan pegawai. Buku-buku yang dicurigai kiri disita sebagai barang bukti.

Setelah tragedi itu kantor tempat Derry bekerja melakukan screening ideologi besar-besaran. Semua pegawai dipaksa mengisi kuesioner dengan pertanyaan bodoh berbelit-belit. Mereka yang dicurigai akan dipaksa mengikuti kegiatan keagamaan dibawah pengawasan langsung divisi kepatuhan internal.

Derry sendiri sudah meninggalkan kantor itu. Ia mengucapkan selama tinggal kepada bilik kerjanya, kawan-kawannya, atasannya dan demokrasi yang semakin hancur ditangan orang-orang mabuk.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Desember 2018.

Advertisements

, , , ,

Leave a comment