Archive for category PUISI

Kantor

pada detik di meja kantor

orang pada menanti:

“Kapan ini akan henti?

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

Ferry Fadillah. Maret, 2017.

,

Leave a comment

Waktu

​Adalah waktu yg membuatku takut

Diri sering menyangkal perubahan

Menutup mata dan berkata, “Semua seperti sedia kala..”

Namun, bumi terus bergeser, kawan datang dan pergi, dan rumah-rumah hilang entah kemana

Adalah waktu yg membuatku ngeri

Sering dalam doa aku berkata, “seandainya begini…”

Namun kenyataan begitu pahit seperti paria

Dan kita harus menelannya dengan senyum dan sabar

Begitu kata bijak bestari

Adalah waktu yg selalu membawa sendu

Rindu tidak mampu menebusnya

Rasa sesal hanya menguras air mata

Dan waktu begitu dingin

Ia tidak mau mendengar alasan-alasan

“Asu!”, umpatnya, ketika kita banyak mengeluh.

Ferry Fadillah, Februari 2017

Leave a comment

Waktu

Waktu tidak pernah mempan dibentak. Dia akan selalu berpacu dengan acuh. Membawamu bersamanya tanpa peduli perasaan.

Pada sebuah persimpangan jalan, waktu tidak pernah melihat ke kiri dan ke kanan. Dia tidak perlu risau dengan mati. Mati lah yang harus risau dengan waktu.

Bertahun-tahun sudah ras kita memampatkan waktu dalam bentuk konsep. Karena konsep maka Sang Waktu dapat dipahami dan dijadikan acuan. Tapi.. Bukankah ini hal yang absurd?

Waktu bekerja melampaui manusia. Tidak terikat presuposisi bentukan kultural. Dia adalah hantu yang menjelma di setiap abad. Di ambang pintu nafas ia akan menyaksikan ruh mu ditarik keluar. Di setiap revolusi akbar ia juga menontonnya dengan dingin.

Di dalam jiwa-jiwa yang lemah lamunan tentang masa kecil adalah hal yang surgawi. Kehidupan dewasa acapkali membelenggu dengan segala tuntutan yang menyesakan. “Wahai Sang Waktu bisakah kau kembalikan aku ke masa kecilku?”

Sang Waktu bergeming. Ia bukanlah Tuhan yang bisa mendengar. Sang Waktu itu tuli juga buta. Doa mu hanyalah serbuk gergaji tukang kayu yang tidak berharga.

Ingatlah manusia: Waktu akan terus berjalan dan belenggu dewasa itu akan semakin mengikat.

 Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , ,

Leave a comment

Braga Weg

Sepenggal syair dan secangkir kopi
tidak pernah berkhianat. Tapi kedai-kedai angkuh itu diam-diam berontak dari kesederhanaan. Menjaga jarak antara kopi dan gelas murah dua ribuan.

Jalan batu sepanjang terik tidak pernah mengeluh kepada Tuhan. Dalam diam ia menerima sepatu mewah, sendal jepit roda mobil atau kepala pejalan yang jatuh siang itu.

Gedung-gedung kolonial masih berbaris menantang langit. Mereka adalah bukti penindasan yang dikutuki langit dan bumi.

Tuan-tuan kulit putih sudah pulang ke negeri kincir. Tapi di pojok jalan itu seorang renta bermandi cahaya tampak lelah. Para pejalan memasang raut iba tanpa berbuat suatu apa.

Ferry Fadillah

1 Comment

Puisi (Narasi)

Dalam keramaian dan riuh rendah
sorak pengunjung, hanya sunyi yang
bersemayam dalam diri
Lalu lalang di tengah kesibukan perkotaan
hanyalah layar televisi yang acuh dengan
penontonnya. Tanpa diriku mereka
berjalan sedia kala.
Dingin. Beku. Apatis.
Kita lahir di dunia kepentingan dan
manusia yang berlomba mencapai
hasratnya tanpa perlu memikirkan
kedalaman apalagi sekedar tujuan.
Maka hadirlah kumpulan pemuda
yang hanya tahun selfi 
berpesta ria
tertawa riang
menuntut berang
tanpa mereka tahu
apa yang mereka
lakukan karena hanya hanyut
di tengah banjir informasi
digital yg mencampurkan
busuk berita dengan wahyu suci.
ah, apalagi yang bisa seorang penulis
lakukan untuk fenomena ini
hanya sebuah celoteh pendek dengan rupa yang tidak menenetu
ya, sebuah puisi yang menyerupai narasi
Ferry Fadillah
Desember, 2015

3 Comments

Pertanyaan

Akankah kita tahu:

rahasia terdalam palung lautan, dan

misteri terluas alam semesta.

Pernahkah kita berpikir :

Diri yang dicampakan begitu saja,

setelah meninggalkan firdaus

bersama sang iblis yang membangkang.

 

Agamawan hanya beretorika:

membela dzat yang bahkan belum pernah mereka jumpa

dengan cerita ngeri neraka dan macam siksaan.

Manusia dibuat bertekuk lutut.

 

Kalau akal memang ciptaan-Nya

Kenapa harus ada hukuman bagi pertanyaan?

 

Kalau hanya Maha Baik bagi nama-Nya

Kenapa permohonan Sang Iblis dikabulkannya?

 

Kalau hanya Ar-Rahman bagi nama-Nya

Kenapa harus neraka tercipta?

 

Kalau hanya Al-Qudus bagi nama-Nya

Kenapa sifat jahat terbenam dalam jiwa manusia?

 

Kalau harus ada si kafir yang masuk neraka

Kenapa kita harus tercipta?

 

“Aku mengetahui apa-apa yang tidak engkau ketahui”, firman-Nya.

Hanya sujud sembah mencium tanah yang bisa kita lakukan

sedekat mungkin dengan unsur penciptaan: tanah

tempat awal sekaligus akhir

 Sambil cemas mengharap ampunan-Nya.

Ferry Fadillah, Priangan, September 2015.

, ,

Leave a comment

Keberpihakan

Tuan, Puan,…

Budi itu bukan buah karya Principle Accounting-nya Warren;

akhlak itu bukan hasil telaahan Borgelijk Wetboek-nya londo Belanda;

nurani itu bukan celupan pikiran membaca Kurva Permintaan dan Penawaran.

Semua itu bermula dari keberpihakan

Mahasiswa..

Perut kosong mu terlalu banyak diisi idealisme;

bayanganmu bak surga kelak di tempat kerja.

Kau tahu? Apa itu omong kosong surga?

 Birokrat Muda..

Kelak kebebasan berpikirmu dinjak-injak;

kau beropini, bosmu tersinggung;

kau menolak, bosmu ancam mutasi;

kau ceramah, mungkin pipi kirimu ditamparnya.

Ya, hanya dua kata yang pantas ketika itu :

‘siap’ dan ‘laksanakan’

Kelak kau bertanya :

“Dimana kebebasan itu, kawan?”

Semua terdiam, karena telah menjadi mesin tanpa asa.

Namun jangan gusar.

Suatu pagi kau akan terbiasa dengan itu;

perut kosongmu akan diisi gaji dan TKPKN.

Bagimu yang terpenting adalah kekayaan pribadi :

kau beli rumah mewah;

kau beli mobil terbaru;

kau peristri wanita cantik;

Cukup.

Wahai, Penghianat Rakyat..

Saat perutmu penuh dengan lemak;

wajahmu  lusuh memenuhi meja kerja

Saat itu juga ratusan rakyat menderita di bawah kolong jembatan;

bayi-bayi menangis di rumah triplek bantaran sungai

kuli-kuli menderita bekerja siang-malam

Sedang engkau?

Masuk 07.30 pulang 17.00

duduk malas, menanti tanggal muda

Budi

Akhlak

Nurani

Enyahlah itu semua!   k a u   s u d a h   t i d a k   b e r p i h a k

Bintaro, 25 Oktober 2014
Ferry Fadillah

, , ,

1 Comment

Jiwa

Jiwa

apa dan bagaimana jiwa itu?

ah, persetan dengan segala teori psikologi

seorang pelacur, ya seorang pelacur

nista, penuh dengan cela

hanya karena memberi minum seekor anjing

di tengah gurun, dalam haus dan lapar

sang pelacur masuk surga

seorang relijius, ya seorang relijius

dengan jubah kebanggaan dan retorika ketuhanan

hanya karena membunuh orang yang berbeda pandangan

sang relijius masuk neraka

Tuhan! Apa nama Engkau yang selalu diucap di awal perbuatan?

ketika orang akan makan atau membuka pintu..

Ya benar! Rahman.. Rahim..

dan jiwa ini, tempat segala suci dan nista

tempat segala gelap dan terang

hitam dan putih

hanya mengharap welas dari-Mu, Tuhan

Ferry Fadillah
Badung, 26 Agustus 2014
 

Leave a comment

Kawan Kita Bicara Alam

Kawan,
Kita bicara tentang gurat jingga di langit selatan,
yang tumpang tindih dengan putih awan.
Sesekali mentari menengok termalu-malu,
tenggelam perlahan menuju bagian yang lain.
 
Kawan,
Kita bicara tentang bukit hijau yang berbaris
dari barat ke timur
dan para petani yang menggarap di kaki-kakinya
dengan peluh dan mantra-mantra
 
Kawan,
Pernah kita bertanya siapa dibalik ini semua?
Maestro agung yang mencipta dengan tangan tak terlihat,
yang kuasanya melebihi Raja Diraja Galaksi Bima Sakti
Kawan, Engkaukah itu : Dia
 
Ferry Fadillah, Januari 2014
 

Leave a comment

Awal Tahun

Sebentar, sebentar..
Beberapa jam lagi tahun baru akan menjadi, kawan
hura-hura akan membahana
seolah besok adalah awal
dan mereka melupakan sebelum itu
 
Tunggu! Kenapa engkau menangis, kawan
dipojok kubur-kubur tua
adakah kematian di sana, apakah kematian di sana?
“Ya, kita semua akan di sana, dipeluk bumi dalam gelap”
“Lalu, mengapa masih saja kita meniup terompet
dan tertawa ketika tengah malam menjelang”
 
Terdiam
Kau terlau muda untuk memikirkan  itu, kawan
 
“Apakah bumi akan memilih siapa yang akan ia peluk?”
“Tua, Muda, Kaya, Miskin, Pejabat, Pelaksana
semua akan tidur dalam buaian bumi”
“Saat itu tidak ada tawa dan hura, kawan”
“kita akan berkumpul dengan tanah dan cacing”
 
Ferry Fadillah. Desember, 2013

,

Leave a comment

Pasopati

Ketika itu kau tiada, kemudian muncul dan menjadi
Ruh mu adalah harapan : warga kota yang ingin keteraturan
Tubuh mu adalah kebanggaan : ikon pariwisata bumi priyangan
Namun, ketika gelap datang, kau tidak bisa berbuat apa
 
Kau tahu penusukan tadi pagi?
Seorang Taruna Angkatan Udara Muda
Dipunggungnya ada harapan
Dikepalanya ada penghormatan,
tapi ia mati pagi tadi
 
Kau tahu perasaan ibunya?
Yang ingin melihat dia besar dan tegap,
melintas langit-langit katulistiwa
 
Nahas, harapan itu hilang
Tubuh itu lenyap
Jiwa itu kembali
di pasopati, pagi tadi

Ferry Fadillah. Bandung, 27 Desember 2013

, , , , ,

Leave a comment

Alam dan Kebebasan

"Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali"

“Pantai dengan bebatuan hitam, Amed, Desa Bunutan, Karangasem, Bali”

Camera 360

“Seorang Ibu membawa ikan di atas kepalanya, Amed, Karangasem, Bali”

"Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali"

“Gunung Agung dilihat dari Tulamben, Karangasem, Bali”

Ketika kita bekerja,

jiwa kita sepenuhnya bukan milik kita

jiwa kita terkurung oleh aturan dan norma yang mengekang.

Ketika kita liburan,

jiwa kita bebas

jiwa kita bisa melihat kembali mimpi-mimpi yang hampir menghilang ditelan rutinitas

 

Lalu, kemanakah liburan kita?

Perkotaan hanya menyisakan debu dan polusi yang menyiksa

Bapak-bapak tukang bangunan yang bermandi peluh

membangun café dan resort demi sang tuan kapitalis

Ibu-ibu gila uang mangkir di tempat porstitusi

menjajakan tetangga mudanya yang masih gadis

Anak-anak pemukiman kumuh berebut lahan bermain

melawan para teknokrat yan selalu berpikir ekonomis

 

Di sisi lain, Desa berjalan perlahan

Petani yang sederhana berjalan memakul pacul menuju sawah

Ibu-ibu membawa sajen di atas kepala  menuju Pura

Anak-anak bertelanjang ria bermain air di pinggi sungai

Dan saya yang kebetulan lewat berdecak kagum melihat kesederhanaan itu

 

Penduduk desa berusaha menyesuaikan diri dengan alam

Penduduk kota berusaha mengubah alam sekehendak mereka

 

Aku muslim, namun aku tahu nilai sakral sebuah Pura

Lalu mengapa pemerintah mau mengubah beberapa Pura sebagai kawasan pariwisata?

Aku bukan orang Bali, namun aku tahu moral dan etika universal

Lalu mengapa pemerintah mau mereklamasi perairan Benoa?

Ketika pekerjaan, Koran dan manusia di selatan Bali hanya membuat keruwetan

Aku berjalan jauh ke Timur Bali, menuju gunung Batur

Di Karangasem, aku menuju bukit-bukit gersang

Membelah jalan menuju Amed

Pantainya hitam

Bebatuan vulkanik dingin bertebaran

Itu tetap indah, kawan

Lautnya jernih

Aku masuk dan melihat-lihat

Memasukan air laut ke pori-pori, memadatkan cahaya matahari ke tulang-tulang

Lalu..

Aku menari bersama ikan-ikan

Satu jam..

Dua jam..

Tiga jam..

Aku bebas, aku bebas

Aku bebas kawan

Ferry Fadillah
Amed, Karangasem, 10 November 2013
 
 

, , , , , , ,

Leave a comment