Archive for category PUISI

Lebaran

untuk kawan jomlo yang
menghabiskan lebaran
dalam kesendirian

Tidak ada tegur sapa hari ini
Hanya ada manusia dalam layar
tersenyum sambil berbicara tersendat-sendat
Ah! Sudah 70an tahun merdeka internet cepat hanyalah idea
Kau mengangguk, tersenyum, mengangguk kembali dan menyudahi pertemuan itu
Tidak perlu tahu detil, bicara mereka satu: minal aidzin, mohon maaf

Tidak ada opor, ketupat dan tawa riang
Kau bisa saja pulang
Peduli tai dengan karantina dan virus
Tapi hatimu berkata lain
Kau berpikir tentang ibu yang tak sudi kau tulari
Atau kawan-kawan perantau yang berkorban untuk tinggal
Apa itu instruksi?
Kau hanya percaya pada solidaritas dan bisik nurani

Kala kalut ini usai dan mentari berseri di Timur
Wujudkan lamunan-lamunan di indekos
Menyalami ibu bapak
Merangkul kawan lama
Menghirup asin udara laut
Tapi kalut pasti datang lagi
Maka lekas sadar
Momen kini layak disyukuri

Ferry Fadillah
Jakarta, Mei 2020

 

, ,

Leave a comment

19 Januari…

Saya tidak pernah menyangka jika perjalanan Denpasar-Ubud dengan motor dinas bersamanya akan berujung kepada hal yang sangat serius: pernikahan. Selama perjalanan ia selalu bercerita tentang segala hal dengan nada positif. Bukan khas pekerja ibu kota yang muak dengan para atasan pembual dan jalanan yang ruwet. Berkali-kali ia mengunjungi Bali untuk menjalankan tugas kantor sembari menghubungi saya kalau-kalau ada waktu untuk menikmati jalanan berdua. Dan saya selalu siap untuk itu. Bali dan perbincangan yang hangat dengan wanita pecinta buku adalah candu.

Begitulah hari-hari itu berlalu hingga saya pindah dan menjalankan kehidupan rumah tangga di ibu kota. Kini sudah satu tahun lamanya. Waktu bergulir begitu cepat. Tapi perasaan yang sama saat saya dan dia berjalan di Bali masih saja terus hidup dan bertambah kuat. Pemicunya sepele saja. Sunset di tanah rawasari atau gerimis mendung di rawamangun.

***

Di hari ulang tahun pernikahan ini kebanyakan orang memberi hadiah besar kepada istrinya. Saya bukan tipikal orang romantis. Mengajak menikah saja seperti mengajak orang pergi ke pusat belanja. Datar dan spontan.

Ada sebuah hal yang patut direnungkan. Apakah hadiah yang berwujud selalu menjadi representasi dari perasaan-perasaan terdalam? Dalam hal ini saya setuju dengan Iksan Skuter, cinta itu kupu kupu yang memeluk bunga/ saling mengisi mengasihi saling melindungi/ cinta itu tak pernah banyak mulut dan kata/ tak terlihat dan slalu berkata kata dengan rasa.

Untunglah istri saya sederhana saja. Ia tidak meminta kemewahan. Pagi ini ia meminta segenggam puisi sebagai penanda waktu penting ini.

***

Puisi itu tercekat. Enggan keluar dari rongga mulut dan jari jemari.

Ia tertidur jauh di dalam. Bukankah puisi hiburan bagi kesedihan?

Kalu kesedihan itu sirna lalu apa guna puisi.

Bukankah pertemuan satu tahun yang lalu kini adalah cerita kebahagiaan semata?

Tidak ada setiap jengkal perbincangan yang tidak bermakna.

Walau tampak acuh, telinga selalu menyimak setiap detil yang terhambur keluar dari jiwa. Dari kisah-kisah itu makna terangkai.

Dan, dari segala jenis makhluk, hanya manusia yang tidak mampu hidup tanpa kebermaknaan.

Penyatuan ini bukanlah jasad semata yang terbingkai dalam rumah mungil di bilangan Jakarta Pusat.

Ini adalah kerajaan yang akan terus langgeng hingga ke surga.

Tidak ada kata akhir bagi ketulusan.

Mungkin pahit bisa saja mampir ke rumah.

Mengoyak segala kemapanan.

Apakah pahit itu abadi jika bertemu gula?

Apakah rela kita diombang-ambing oleh kepahitan -bahkan kebahagiaan.

Jejak-jejak selanjutnya akan selalu ditemui kerumitan.

Namun, bersama dirinya itu hanyalah petualangan semata.

Aku akan menjadi juru tulis dan ia akan selalu menceritakan kisahnya.

Ferry Fadillah. Januari, 2020

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Leave a comment

Jakarta

Jakarta adalah timbunan emosi

beton yang saling menghimpit

dan bising knalpot yang saling memaki

Darinya kapital menjalar

menjelma gedung dan bedeng-bedeng

buahnya ialah kesemerawutan dan kemiskinan

tapi bagaimana lagi..

di sana kita lahir, di sana juga kita mampus

walau ditabrak bus kopaja

atau menjadi korban huru hara

Ferry Fadillah. Jakarta, Juli 2018

1 Comment

Sempurna

–Untuk yang berpikir bahwa hidup itu sempurna

Ada dua warta
Pak Karna mati siang tadi
tubuhnya kaku di emper toko;
Bu Ani digesper suaminya
mukanya lecet penuh luka.

Sebenarnya ada tiga, empat, lima…
Ujungnya luka
Muaranya alpa

Rabu, Mas Parman mampus,
mulut berbusa racun tikus
Selasa ia punya pinta:
Ku ingin lupa, Ka..

Masih kau pikir
hidup itu sempurna?

Luka bak basuhan
dari air gerbang utara
Bulirnya dirajut sutra
Jernihnya melebihi kaca

Diri dicelup dalam tempayan
diputar ke kiri dan ke kanan,
dibalik dan digosok,
dihardik bila berontak,
dicengkram bila melunjak

Diri butuh berserah
Ikuti pasrah
Tanpa keluh kesah
Pada saatnya nanti
Diri kan bercahaya

Bilamana cahaya ada?
Suka duka itu sama
Tak perlu lagi risau
Semua akan selesai..

“Wahai nafs yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”

Kuta, 23 November 2017. Ferry Fadillah

, , ,

Leave a comment

Kantor

pada detik di meja kantor

orang pada menanti:

“Kapan ini akan henti?

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

Ferry Fadillah. Maret, 2017.

,

Leave a comment

Waktu

​Adalah waktu yg membuatku takut

Diri sering menyangkal perubahan

Menutup mata dan berkata, “Semua seperti sedia kala..”

Namun, bumi terus bergeser, kawan datang dan pergi, dan rumah-rumah hilang entah kemana

Adalah waktu yg membuatku ngeri

Sering dalam doa aku berkata, “seandainya begini…”

Namun kenyataan begitu pahit seperti paria

Dan kita harus menelannya dengan senyum dan sabar

Begitu kata bijak bestari

Adalah waktu yg selalu membawa sendu

Rindu tidak mampu menebusnya

Rasa sesal hanya menguras air mata

Dan waktu begitu dingin

Ia tidak mau mendengar alasan-alasan

“Asu!”, umpatnya, ketika kita banyak mengeluh.

Ferry Fadillah, Februari 2017

Leave a comment

Waktu

Waktu tidak pernah mempan dibentak. Dia akan selalu berpacu dengan acuh. Membawamu bersamanya tanpa peduli perasaan.

Pada sebuah persimpangan jalan, waktu tidak pernah melihat ke kiri dan ke kanan. Dia tidak perlu risau dengan mati. Mati lah yang harus risau dengan waktu.

Bertahun-tahun sudah ras kita memampatkan waktu dalam bentuk konsep. Karena konsep maka Sang Waktu dapat dipahami dan dijadikan acuan. Tapi.. Bukankah ini hal yang absurd?

Waktu bekerja melampaui manusia. Tidak terikat presuposisi bentukan kultural. Dia adalah hantu yang menjelma di setiap abad. Di ambang pintu nafas ia akan menyaksikan ruh mu ditarik keluar. Di setiap revolusi akbar ia juga menontonnya dengan dingin.

Di dalam jiwa-jiwa yang lemah lamunan tentang masa kecil adalah hal yang surgawi. Kehidupan dewasa acapkali membelenggu dengan segala tuntutan yang menyesakan. “Wahai Sang Waktu bisakah kau kembalikan aku ke masa kecilku?”

Sang Waktu bergeming. Ia bukanlah Tuhan yang bisa mendengar. Sang Waktu itu tuli juga buta. Doa mu hanyalah serbuk gergaji tukang kayu yang tidak berharga.

Ingatlah manusia: Waktu akan terus berjalan dan belenggu dewasa itu akan semakin mengikat.

 Oktober, 2016. Ferry Fadillah.

, , ,

Leave a comment

Braga Weg

Sepenggal syair dan secangkir kopi
tidak pernah berkhianat. Tapi kedai-kedai angkuh itu diam-diam berontak dari kesederhanaan. Menjaga jarak antara kopi dan gelas murah dua ribuan.

Jalan batu sepanjang terik tidak pernah mengeluh kepada Tuhan. Dalam diam ia menerima sepatu mewah, sendal jepit roda mobil atau kepala pejalan yang jatuh siang itu.

Gedung-gedung kolonial masih berbaris menantang langit. Mereka adalah bukti penindasan yang dikutuki langit dan bumi.

Tuan-tuan kulit putih sudah pulang ke negeri kincir. Tapi di pojok jalan itu seorang renta bermandi cahaya tampak lelah. Para pejalan memasang raut iba tanpa berbuat suatu apa.

Ferry Fadillah

1 Comment

Puisi (Narasi)

Dalam keramaian dan riuh rendah
sorak pengunjung, hanya sunyi yang
bersemayam dalam diri
Lalu lalang di tengah kesibukan perkotaan
hanyalah layar televisi yang acuh dengan
penontonnya. Tanpa diriku mereka
berjalan sedia kala.
Dingin. Beku. Apatis.
Kita lahir di dunia kepentingan dan
manusia yang berlomba mencapai
hasratnya tanpa perlu memikirkan
kedalaman apalagi sekedar tujuan.
Maka hadirlah kumpulan pemuda
yang hanya tahun selfi 
berpesta ria
tertawa riang
menuntut berang
tanpa mereka tahu
apa yang mereka
lakukan karena hanya hanyut
di tengah banjir informasi
digital yg mencampurkan
busuk berita dengan wahyu suci.
ah, apalagi yang bisa seorang penulis
lakukan untuk fenomena ini
hanya sebuah celoteh pendek dengan rupa yang tidak menenetu
ya, sebuah puisi yang menyerupai narasi
Ferry Fadillah
Desember, 2015

3 Comments

Pertanyaan

Akankah kita tahu:

rahasia terdalam palung lautan, dan

misteri terluas alam semesta.

Pernahkah kita berpikir :

Diri yang dicampakan begitu saja,

setelah meninggalkan firdaus

bersama sang iblis yang membangkang.

 

Agamawan hanya beretorika:

membela dzat yang bahkan belum pernah mereka jumpa

dengan cerita ngeri neraka dan macam siksaan.

Manusia dibuat bertekuk lutut.

 

Kalau akal memang ciptaan-Nya

Kenapa harus ada hukuman bagi pertanyaan?

 

Kalau hanya Maha Baik bagi nama-Nya

Kenapa permohonan Sang Iblis dikabulkannya?

 

Kalau hanya Ar-Rahman bagi nama-Nya

Kenapa harus neraka tercipta?

 

Kalau hanya Al-Qudus bagi nama-Nya

Kenapa sifat jahat terbenam dalam jiwa manusia?

 

Kalau harus ada si kafir yang masuk neraka

Kenapa kita harus tercipta?

 

“Aku mengetahui apa-apa yang tidak engkau ketahui”, firman-Nya.

Hanya sujud sembah mencium tanah yang bisa kita lakukan

sedekat mungkin dengan unsur penciptaan: tanah

tempat awal sekaligus akhir

 Sambil cemas mengharap ampunan-Nya.

Ferry Fadillah, Priangan, September 2015.

, ,

Leave a comment

Keberpihakan

Tuan, Puan,…

Budi itu bukan buah karya Principle Accounting-nya Warren;

akhlak itu bukan hasil telaahan Borgelijk Wetboek-nya londo Belanda;

nurani itu bukan celupan pikiran membaca Kurva Permintaan dan Penawaran.

Semua itu bermula dari keberpihakan

Mahasiswa..

Perut kosong mu terlalu banyak diisi idealisme;

bayanganmu bak surga kelak di tempat kerja.

Kau tahu? Apa itu omong kosong surga?

 Birokrat Muda..

Kelak kebebasan berpikirmu dinjak-injak;

kau beropini, bosmu tersinggung;

kau menolak, bosmu ancam mutasi;

kau ceramah, mungkin pipi kirimu ditamparnya.

Ya, hanya dua kata yang pantas ketika itu :

‘siap’ dan ‘laksanakan’

Kelak kau bertanya :

“Dimana kebebasan itu, kawan?”

Semua terdiam, karena telah menjadi mesin tanpa asa.

Namun jangan gusar.

Suatu pagi kau akan terbiasa dengan itu;

perut kosongmu akan diisi gaji dan TKPKN.

Bagimu yang terpenting adalah kekayaan pribadi :

kau beli rumah mewah;

kau beli mobil terbaru;

kau peristri wanita cantik;

Cukup.

Wahai, Penghianat Rakyat..

Saat perutmu penuh dengan lemak;

wajahmu  lusuh memenuhi meja kerja

Saat itu juga ratusan rakyat menderita di bawah kolong jembatan;

bayi-bayi menangis di rumah triplek bantaran sungai

kuli-kuli menderita bekerja siang-malam

Sedang engkau?

Masuk 07.30 pulang 17.00

duduk malas, menanti tanggal muda

Budi

Akhlak

Nurani

Enyahlah itu semua!   k a u   s u d a h   t i d a k   b e r p i h a k

Bintaro, 25 Oktober 2014
Ferry Fadillah

, , ,

1 Comment

Jiwa

Jiwa

apa dan bagaimana jiwa itu?

ah, persetan dengan segala teori psikologi

seorang pelacur, ya seorang pelacur

nista, penuh dengan cela

hanya karena memberi minum seekor anjing

di tengah gurun, dalam haus dan lapar

sang pelacur masuk surga

seorang relijius, ya seorang relijius

dengan jubah kebanggaan dan retorika ketuhanan

hanya karena membunuh orang yang berbeda pandangan

sang relijius masuk neraka

Tuhan! Apa nama Engkau yang selalu diucap di awal perbuatan?

ketika orang akan makan atau membuka pintu..

Ya benar! Rahman.. Rahim..

dan jiwa ini, tempat segala suci dan nista

tempat segala gelap dan terang

hitam dan putih

hanya mengharap welas dari-Mu, Tuhan

Ferry Fadillah
Badung, 26 Agustus 2014
 

Leave a comment