Archive for July, 2012

Kekecewaan atas Kelompok Intoleran

Perbedaan menurut beberapa orang adalah sebuah anugerah. Saat dimana kita dituntut untuk mengenal satu sama lain, tidak memaksakan kehendak dan memahami dunia dengan perspektif yang lebih luas. Namun ada kalanya perbedaan menjadi buah dari malapetaka, terutama jika sudah berada ditangan orang-orang yang tidak tercerahkan, intoleran, egois dan berpikir terlalu sempit.

Ialah perbedaan puasa yang menjadi kegusaran itu. Semua orang memiliki klaimnya masing-masing. Merasa paling benar, merasa bahwa opininya adalah kebenaran itu sendiri. Padahal sejatinya, opini dengan dalih ayat, hadist atau ilmu astronomi apapun bukanlah kebenaran itu sendiri. Itu semua hanya petunjuk menuju kebenaran, dan ketika kebenaran itu muncul kita harus rela untuk meninggalkan segala ayat, hadist atau ilmu astronomi yang kita/kelompok kita agung-agungkan.

Dan bukankah sulit untuk melihat kebenaran itu bukan ? ya memang sulit, dan ketika kita paham benar bahwa kebenaran adalah hal yang sulit untuk diangkat kepermukaan maka kita akan paham sebuah kaidah dasar : aku belum tentu lebih benar daripada engkau, dan engkau belum tentu lebih benar daripada aku. Semua mencari kebenaran, dan dalam perjalananan itu apa gunanya saling menghakimi bahkan mencederai perasaan satu sama lain.

Dalam kata-katanya yang indah para pemuka agama selalu saja  menggemborkan masalah toleransi di balik setiap perbedaan. Namun dalam ranah yang lebih rendah, masyarakat kebanyakan, perbedaan merupakan sebuah cela yang tidak dapat dibiarkan. Entah latar belakang pencerahan yang rendah atau apapun, tekadang kita lihat sekelompok orang yang mencela sekelompok orang karena perbedaan keyakinan dalam satu agama atau beda agama.

Entah bagaimana menyuntikan hormon toleransi ke dalam benak setiap orang agar dunia ini lebih damai lagi menghadapi masa depan yang tidak pasti. Cukup sudah bentuk kekecewaan minoritas terhadap mayoritas yang selalu mengedepankan ego ketimbang toleransi. Sampai kapanpun bentuk-bentuk cela terhadap keyakinan tertentu akan selalu menuai reaksi, keras maupun moderat, dan pada titik penyesalan tertentu mereka yang merasa lebih benar harus berani berkontemplasi dan memohon maaf atas semua kekeliruan selama ini.

Ferry Fadillah
Badung, 21 Juli 2012

, , , , ,

2 Comments

Muak Akan Cinta

Dimana letak urgensi memiliki seorang kekasih?

Lelah dan muak sudah saya dicekoki kisah cinta dan cucu cicitnya

Semua hanya permukaan tidak menyentuh titik esensi

Cinta itu universal, bebas, tidak terbatas

Kepada Tuhan ada cinta

Kepada Ibu ada cinta

Kepada Ayah ada cinta

Kepada Adik ada cinta

Kepada istri ada cinta

Kepada saudara ada cinta

Kepada sahabat ada cinta

Kepada manusia semesta ada cinta

Ferry Fadillah, 12 Juli 2012

5 Comments

Pikiran

Terus berputar dari satu titik ke titik lain

Berat! Bahkan hingga mataku terang benderang di gelapnya malam

Lantas bagaimana? Apa matikan saja dengan tidur?

Tidak! Semakin dipaksa semakin cepat ia berputar

Ah! Tumpahkan saja dalam kertas buram!

Ferry Fadillah, 2 Juli 2012

 
 

Leave a comment

Cerita, Teman Baik dan Janji

Kamu tahu manusia? Ya, makhluk yang begitu kompleks, selalu menyimpan misteri dan berubah-ubah seiring perjalan waktu. Kamu tahu marabahaya yang mereka akibatkan? Ya, mulut mereka lebih berbahaya, beracun dan berbisa dari apapun jua di dunia ini. Dalam hitungan hari kisah buruk atau aib kita mungkin saja tersebar ke seantero jagat. Mereka berjanji, ‘Iya, saya tidak akan menceritakan kepada siapapun.’ Namun mereka pun memaksa orang untuk membuat janji yang sama, ‘saya akan ceritakan kepadamu tapi tolong kamu berjanji untuk tidak menceritakan kepada siapapun’

Tampak konyol bukan ?

Sampai kapan janji-janji ini akan berakhir. Setiap orang punya teman baik, setiap teman baik punya teman baik.

Bahaya berikutnya adalah manusia selalu saja menyaring informasi yang ia lihat atau dengar. Disesuaikan dengan keinginan, persepsi dan relasi. Parahnya, cerita mereka selalu jauh dari kebenaran. Opini dari opini, opini dari sumber sekunder, alias hyper-opinion! Dan hyper-opinion jelas melenceng jauh dari kebenaran.

Maka dari itu, saya sadar bagaimana harus bertindak kemudian. Becerita untuk sekedar berbagi itu perlu, karena bisa meringankan beban sekaligus menjalin persaudaraan. Akan tetapi jangan lupa setelahnya tekankan, ‘Tolong jangan ceritakan kepada siapapun, saudara, teman baik, kekasih, bahkan malaikat yang mendampingimu. Hanya Aku dan Kamu yang tahu. Cukup’

Ferry Fadillah, 14 Juli 2012

*sumber gambar :lidya-novita.blogspot.com

, , , , , ,

Leave a comment