Archive for June, 2015

Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

Advertisements

, , , ,

Leave a comment

Resensi : Tasawuf Modern

tasawufJudul                           : Tasawuf Modern

Penulis                         : Prof. DR. HAMKA

Penerbit                       : Republika Penerbit

Cetakan                       : Pertama

Jumlah Halaman          : 377 halaman

Tahun Terbit                : Maret 2015

Bahagia adalah pokok bahasan yang tidak pernah selesai diperbincangkan. Filsuf, sastrawan hingga para nabi datang silih berganti di setiap zaman mengajarkan kebahagiaan menurut wahyu atau pengalaman kehidupan. Bagi mereka yang mencari bahagia melalui pengalaman kerap kali menemui jalan yang terjal nan curam. Ujung jalan terjal itu ialah dua kemungkinan: cahaya atau kegelapan.

Ada yang menyatakan bahagia apabila tekun menempuh laku spiritual tertentu, menyiksa badan hingga hancur lebur, dikiranya dengan itu dapat mencapai kebahagiaan hakiki, yakni berjumpa dengan Sang Pencipta Alam. Ada pula yang menyatakan bahwa bahagia dapat diraih dengan memuaskan semua keinginan nafsu, nurani dan jiwa dibuat buta karenanya, hingga tidak ada perbedaan lagi antara manusia dengan hewan.  Terakhir, beberapa pemikir berkesimpulan bahwa salah satu jalan ekstrim dimuka tidaklah dapat ditempuh. Kebahagiaan itu berada di jalan tengah, antara jiwa yang penuh cahaya dan badan yang sehat bugar. Begitulah Buya Hamka menjelaskan perihal kebahagiaan di dalam bukunya berjudul ‘Tasawuf Modern’.

Walaupun buku ini berjudul ‘Tasawuf Modern’, namun isi buku ini tidaklah menjelaskan berbagai macam tarikat yang ada di dalam tasawuf atau sejarah panjang tasawuf dari era klasik yang kerap menimbulkan perdebatan di kalangan ahli fiqih. Maksud tasawuf dalam buku ini yaitu keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji. Jadi, tasawuf digunakan sebagai instrumen bedah jiwa manusia, mencari penyakit yang ada di dalamnya sekaligus mengobatinya, melihat perangai baik yang ada kemudian meningkatkannya dengan tujuan mendekatkan diri ( jiwa dan raga) kepada Ilahi Rabi.

Jika diibaratkan, cocoklah buku ini disebut sebagai peta jiwa. Secara detil Buya Hamka menjelaskan apa itu syaja’ah, ‘iffah, hikmah dan ‘adalah? Bagaimana jika empat unsur dalam jiwa itu kurang atau lebih? Penyakit hati apa saja yang timbuk akibat kurang atau lebih itu? Bagaimana pula mengobatinya? Apa hakikat kekayaan? Bagaimana menyikapi kekayaan? Apa sederhana itu?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, buku ini tidak akan menyajikan uraian panjang lebar penuh dalil seperti teks-teks agama kekinian. Buya Hamka yang memiliki jiwa sastra menulis dengan memadukan dalil Al-Quran, Al-Hadist, syair arab kelasik, kisah spiritual sufistik, pepatah petitih dan pantun berima melayu sehingga buku ini enak untuk dibaca. Coba kita simak salah satu uraiannya,

“Maka alam ini adalah laksana kebun bunga itu. Bunga-bunga yang ada di dalamnya ialah perjalanan kehidupan manusia. Kita cium setiap hari untuk menjadi keuntungan diri, yang busuk kita jauhi, durinya kita awasi, baunya dicium juga. Dari sebab memetik bunga dan menghindarkan durinya itu, kita merasakan lezat cita tenteram.

Pulanglah kapal dari mekah,

Penuh muatan orang haji

Awas-awas adik melangkah,

Memetik bunga dalam duri.”

Bagi mereka yang terjebak dalam gelap dunia dan gamang mencari kebahagiaan hakiki, buku ini merupakan suluh yang tepat untuk menuntun kepada cahaya kebahagiaan.

Selamat membaca!

Ferry Fadillah.

Bintaro, 14 Juni 2015.

, , , ,

Leave a comment

Kontemplasi Pagi

Hampa. Kata yang pantas menggambarkan suatu perasaan. Yakni ketika makna dan arti alpa untuk hadir. Keramaian. Senda gurau. Pesta pora. Menawarkan pemenuhan kepuasan ragawi. Bahkan menurut beberapa orang merupakan surga itu sendiri. Libido dicurahkan. Hasrat dihormati. Badan dianakemaskan. Itulah fenomena yang telah menjadi tujuan; bahkan ilahi rabi bagi anak masa kini.

Dahulu, ditengah carut marut moral negeri arab, Sang Nabi menyepi ke gua nan jauh dari hiruk pikuk percakapan. Prosesi ini bukanlah titik antisosial. Hanya sebuah proses sementara untuk mendengar Dia –yang hadir lebih dekat dari urat leher itu. Sebuah kontemplasi. Mengukur diri dan menimbang-nimbang ini dan itu. Menyelaraskan kehendaknya agar sesuai dengan kehendakNya. Pada saat itulah Sang Ilahi berfirman : bacalah, bacalah, bacalah!

Membaca lekat dengan kontemplasi. Perenungan. Jalan flosofi. Dibawanya akal mendahului badan. Menjelajah jauh melewati bima sakti. Mendekat lekat kedalam unsur atom. Membedah misteri agar menjadi pengetahuan. Mengolah pengetahuan agar menjadi science .Membawa diri dari gelap menuju terang. Mengubah masyarakat dari taklid menjadi rasional.

Pada saat itulah hampa akan hilang. Akal asyik diberi makan ilmu. Jiwa asyik diberi minum hikmah. Kalau ada misteri, dipecahkannya hingga terang benderang. Kalau ada masalah, dihadapinya hingga bijaksana. Diri tenang pembawaan damai.

Kalau orang umum pasti banyak menduga-duga. Ah gila lah mereka dengan paham ini. Aduh, serius nian hidup Kau. Aih, bicaramu melangit tinggi, Bung. Tapi jiwa yang terang tidak pernah terusik. Ia selalu tersenyum, karena tahu akan menang. Apa menang itu? Coba awam tanya pasal mati, seringkala mereka menjawab :

“Mati? Ah, hanya sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Jiwa kita akan bebas. Untuk apa lagi risau”

Sebuah jawaban tegas nan tenang, dari pikiran yang dipenuhi ilmu dan jiwa yang diterangi hikmah.

Ferry Fadilah. Bintaro, Juni 2014.

, , , ,

Leave a comment

Membaca Islam Melalui Kacamata Indonesia

Akhir-akhir ini media sosial dipenuhi dengan isu berbau agama, terutama yang menyangkut dengan Islam. Bermula dari perhelatan akbar lima tahunan, pemilihan umum 2014. Saat itu, masyarakat hanya diberi dua pilihan calon presiden dan wakil presiden. Masing-masing pihak didukung oleh kekuatan partai politik; ormas daerah serta organisasi keagamaan. Kampanye-kampanye di dunia online dan media massa tidak terkendali terlihat dari cara bertutur berbagai pihak. Beberapa orang memandang perseteruan politik ini mengerucut menjadi dua kubu yaitu pro-Islam melawan kontra-Islam.

Demokrasi dengan logika vox populi vox dei atau suara rakyat suara Tuhan telah menyatakan satu dari dua calon yang diusung sebagai pemenang. Gegap gempita rakyat yang mendukung kedua pasangan di masa-masa kampanye membahana ke seluruh negeri. Pesta musik dan pesta kuliner diselenggarakan di  Monumen Nasional  Jakarta setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Istana Negara. Bahkan diperkirakan ada ribuan warga yang memadati acara tersebut hingga larut malam.

Sayang, kegembiraan masyarakat kini seperti sebuah paradoks: pemimpin yang dulu dieluk-elukan, kini banyak mengundang tanda tanya besar. Selain kondisi perekonomian yang tidak menentu, langkah sepihak Kementerian Komunikasi dan Informasi menutup 21 website Islam merupakan langkah mundur menuju era orde baru; ketika kebebasan pers dibungkam dan kritik dicurigai sebagai langkah subversif.

 Masalah lain adalah mengenai isu Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) -gerakan islam radikal sadistis- yang dikhawatirkan menyebar di tanah air dan memicu serangan-serangan teror baru pasca tragedi Bom Bali I dan II. Patut disayangkan, dalam memberitakan permasalahan ISIS media masa terkesan berlebihan sehingga  memunculkan citra Islam yang kurang baik bagi orang Islam sendiri maupun orang non-Islam.

Tidak hanya di Indonesia, kecurigaan terhadap Islam terjadi di banyak negara. Paska penyerangan kantor majalah satire Charli Hebdo di Perancis oleh dua orang bersenjata, negeri itu dan merambat ke negeri-negeri Eropa lain mengalami gejala islamophobia. Di Indonesia, islamophobia bukanlah hal baru, isu-isu terorisme seringkali disangkutpautkan dengan agenda milisi islam radikal dan berujung kepada pembenturan ide antara Islam dengan Pancasila. Tragedi Bom Bali I dan II, pengeboman Hotel J.W. Mariot, tindakan anarki Forum Pembela Islam (FPI), Rohianiawan Islam (Rohis) SMA yang dicurigai dan fenomena ISIS dilebih-lebihkan. Dampaknya? Generasi muda muslim jauh dari agamanya, enggan untuk memperdalam agamanya karena takut dituduh radikal, enggan membahas masalah Jihad karena takut dituduh ekstrimis dan sungkan mengikuti sunah Rasul yang berkaitan dengan fashion karena kesan yang dimunculkan akan disamakan dengan teroris. Dari semua pemaparan dimuka, hanya satu kata yang cocok menggambarkan Islam kini, teralienasi.

Membaca Sejarah Islam Nusantara

Teralienasinya Islam di negeri yang mayoritas muslim ini tentu menimbulkan keheranan bagi semua pihak. Bagaimana bisa? Padahal Islam adalah agama yang datang ke Indonesia tanpa kekerasan dan invasi langsung dari Kekhalifahan di timur tengah sana. Bahkan ketika Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menginjakan kaki di negeri ini dan berusaha memonopoli perdagangan internasional di pelabuhan-pelabuhan utama hingga masa awal pergerakan nasional di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Islam hadir sebagai ideologi penjunjung kesetaraan, kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan.

Teralienasinya Islam selain disebabkan oleh pengaruh media yang terlalu vokal menghubungkan terorisme dengan Islam juga tidak terlepas dari pendidikan Agama Islam yang terlepas dari konteks sejarah Islam Nusantara. Silahkan tanya pahlawan-pahlawan besar penyebar agama Islam di timur tengah sana, berikut para ulama dan cendikiawannya, pasti para ustadz dan mubaligh dengan lancar dan detail menjelaskan ini dan itu. Padahal sejarah dan tokoh-tokoh Islam di Indonesia tidak bisa dianggap perjuangan lokal semata, tetapi juga berdimensi internasional.

Ketika Sultan Ali Alaoedin Mansoer Sjah (1838-1870) memimpin Kesultanan Aceh, kerajaan yang menjadikan Islam sebagai hukum positif dalam bernegara di semenanjung Sumatra ini telah mengadakan hubungan diplomatik dengan Republik Perancis, Amerika Serikat, Inggris dan Kesultanan Ottoman Turki (Suryanegara  2009 : 259). Hubungan-hubungan tersebut diadakan guna menggalang bantuan militer untuk menghadapi pasukan Belanda yang telah menduduki Banda pada Maret dan April 1873. Sayang bantuan-bantuan tersebut tidak pernah sampai, dikarenakan:  Pertama, Perang Perancis-Jerman (1870-1871) antara Kaisar Napoleon III versus Kaisar Willem I mengakibatkan Republik Perancis sedang menuju keruntuhan; Kedua, Amerika Serikat baru saja selesai dari Perang Saudara (1861-1865) pada masa Presiden Abraham Lincoln, dengan demikian kondisi dalam negerinya masih parah. Ketiga,  Kesultanan Turki sedang dalam perang dengan Rusia  dalam Perang Turki-Rusia kurun waktu 1875-1878 (Suryanegara 2009 : 262-263). Karena aktivitas perang di negara-negara tersebut, bantuan militer kepada Kesultanan Aceh terhenti dan Aceh sebagai satu-satunya kekuatan Islam di Sumatera yang tersisa harus menghadapi Kerajaan Belanda seorang diri  mulai dari tahun 1873 hingga 1914.

Perang besar ini menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi dan agama yang dijunjung. Semangat pasukan Aceh dalam menghadapi pasukan belanda adalah semangat jihad, perang sabil, perang di jalan Allah, bukan nasionalisme sempit. Dengan dibantu para ulama, perang Aceh adalah perang terlama di negeri ini yakni kurang lebih 70 tahun. Jika perang Aceh berakhir 1914 dan Indonesia merdeka tahun 1945 berarti negeri di ujung Sumatera ini hanya dijajah selama 31 tahun, bukan 350 tahun seperti yang kita percayai selama ini.

Sejarah Islam di tanah Jawa tidak kalah menarik. Perang Jawa (1827-1830) merupakan perang lima tahun yang memiliki dampak luar biasa. Perang ini telah menelan korban 10.000 orang Eropa dan kurang lebih 200.000 orang Jawa terbunuh dan menelan biaya sebesar f19.000.000 (Djamhari, 2014). Perang ini bukan bermula dari hal sepele : pemasangan patok-patok pembangunan jalan di tanah miliki Pangeran Dipenogoro; seperti yang dipelajari ketika penulis sekolah menengah dulu. Tujuan utama pangerang Dipenogoro dalam memimpin Perang Jawa adalah memajukan agama Islam, lebih khusus lagi mengangkat keseluruhan agama Islam di seluruh Jawa –yaitu tatanan moral secara umum , tidak hanya Pratik Islam formal (Carey 2014 :67).

Yang menarik adalah pakaian perang Pangeran Dipenogoro. Pakaian yang tidak lazim digunakan dalam perang-perang jawa sebelumnya yaitu jubah dan sorban islami, menandakan perlawanan sang pangeran terhadap hegemoni budaya Barat di Keraton Yogyakarta. Dari penamaan jabatan-jabatan militer pun, pangeran Dipengoro tidak menggunakan istilah-istilah Belanda. Pangkat militer tertinggi disebut Alibasah. Panglima yang membawahi pasukan (infanteri dan kavaleri), setara dengan komandan divisi model Janissari. Pangkat selanjutnya adalah Dulah, yaitu komandan pasukan yang membawahi 400 orang prajurit, setara dengan detasemen. Pangkat perwira terendah, She¸adalah perwira yang membawahi pasukan setara dengan kompi. Istilah-istilah tersebut diadopsi dari istilah-istilah militer Kesultanan Turki Ottoman. (Djamhari 2014 : 38)

Zaman awal kebangkitan bangsa pun menghadirkan tokoh-tokoh Islam dengan pergerakannya yang layak diperhitungkan. Bahkan penulis percaya bahwa penggagas kebangkitan bangsa adalah Sarikat Islam bukan Budi Oetomo. Hal ini digambarkan oleh Suryanegara (2009 : 376) sebagai berikut :

…tidak mungkin kebangkitan kesadaran nasional dipelopori oleh para prijaji yang sedang menjabat sebagai regent atau boepati dengan organisasinya Boedi Oetomo, seperti yang telah penulis tuturkan sebelumnya karena ciri dari organisasi gerakan kebangkitan kesadaran nasional, bersifat kerakyatan dan antipenjajah. Sedangkan kelompok prijaji, terutama yang menjabat boepati atau pangreh pradja yang bersikap loyal kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah. Terbaca dari keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta pada 6-9 April 1928, “Menolak pelaksanaan tjita-tjita persatoean Indonesia”, walaupun sudah berusia 20 tahun, Boedi Oetomo tetap bersikap ekslusif.

Sarikat Islam dibawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan organisasi pribumi yang tidak bisa dianggap remeh. National Congres Centraal Sjarikat Islam yang pertama (17-24 Juni 1916) diadakan di Gedung Merdeka, Bandung, dengan berani memelopori tuntutan Indonesia Merdeka dengan istilah Pemerintahan Sendiri atau Zelf Bestuur. Selain itu kongres pertama ini juga menuntut kepada pemerintah Belanda agar rakyat diizinkan membangun Indie Werbaar (Pertahanan India atau Pertahanan Indonesia), guna memperkuat pertahanan apabila Perang Dunia I (1914-1919), meletus ke Nusantara Indonesia, yaitu dengan cara menyertakan pemuda Indonesia dalam milisi militer Pertahanan Indonesia. Walaupun tuntutan-tuntutan itu tidak sepenuhnya dikabulkan oleh Kerajaan Belanda, namun kita bisa menilai bawah umat Islam pada saat itu dengan organisasi Islam bernama Sarikat Islam memiliki posisi tawar yang kuat, mengingat jumlah anggota yang banyak dan diantara mereka memegang kendali ekonomi di daerahnya masing-masing.

Dari petikan-petikan sejarah di atas, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kebudayaan islam (bahasa tulis mapun lisan serta simbol-simbol) pada waktu itu tidak diangap asing oleh rakyat di kepulauan Nusantara, bahkan telah menginspirasi beberapa kerajaan untuk mendirikan Daulah Islam dengan hukum positif  Islam sebagai pedoman kehidupan bernegara. Kedua, para Ulama memiliki andil yang besar dalam menanamkan ajaran agama Islam dan cinta tanah air bagi rakyat nusantara, ini dapat dibuktikan bahwa pertempuran-pertempuran pada masa penjajahan bermotif jihad membela agama Allah. Ketiga, pakaian dan penyebutan jabatan militer yang mengikuti Kesultanan  Turki menandakan bahwa Pangeran Dipenogoro ingin merdeka dari hegemoni Belanda hingga ketingkat terkecil yakni bahasa – coba bandingkan dengan era globalisasi saat ini. Keempat, ada distorsi sejarah mengenai penggagas kebangkitan bangsa yang berdampak kepada psikologis umat Islam yang membaca sejarah kebangkitan bangsanya sendiri. Seolah-olah Islam tidak memiliki peranan yang  besar, padahal sebaliknya, sejak zaman kesultanan hingga kemerdekaan, Islam adalah satu-satunya agama yang mempererat suku bangsa se-nusantara dalam melawan penjajah. Kelima, melihat  fakta bahwa Kerajaan Aceh hanya dijajah selama 31 tahun, mematahkan bahwa Indonesia secara keseluruhan dijajah selama 350 tahun, memberikan rasa bangga bagi umat Islam hari ini, bahwa karena semangat Islamlah Aceh menjadi benteng terakhir melawan penjajah Belanda di tanah melayu.

Setelah menyimak serpihan kecil sejarah Islam di Indonesia ini, masihkah kita menganggap Islam sebagai agama asing bahkan meng-alienasi agama ini dari pemeluknya sendiri?

Pendidikan Agama Berbasis Sejarah Islam Nusantara

Pendidikan memiliki peran vital dalam mencetak karakter bangsa. Melalui pendidikan, interaksi antara guru, literatur dan murid akan menghasilkan pemahaman yang baik akan jati diri dan bagaimana menghadapi dunia yang semakin tidak menentu. Karakter pengacau dan anarkis seharusnya tidak ada bagi insan pendidikan karena tujuan akhir pendidikan adalah menajamkan pikiran dan menghaluskan budi.

Pendidikan agama Islam adalah salah satu unsur pendidikan di Indonesia. Namun, pendidikan agama dari sekolah dasar hingga menengah selalu menjadikan fiqih (hukum) sebagai pokok bahasan utama. Peserta didik diajarkan hukum-hukum dengan segala perbedaannya. Hal ini memang baik. Namun, bagi peserta didik yang belum terbiasa dengan perbedaan dan belum memiliki mental yang dewasa, perbedaan ini akan menjadi awal mula percikan konflik antar umat se-agama dan dikhawatirkan memuncak menjadi konflik antar umat beda agama.

Satu hal yang dilupakan, aspek sejarah nusantara dalam pendidikan agama Islam. Pendidikan Agama Islam sering kali menjelaskan tokoh-tokoh timur tengah secara detil dan heroik. Padahal negeri kita tidak kekurangan tokoh-tokoh Islam yang tidak kalah heroiknya. Mengapa harus sejarah Islam Nusantara? Seperti yang kita ketahui, Islam menyebar secara masif di Indonesia secara damai. Wali Sanga (sembilan penyebar Islam di tanah Jawa) memiliki pendekatan moderat dalam menyebarkan cahaya Islam di tengah-tengah hegemoni Hindu-Budha. Beberapa wali menggunakan pendekatan budaya seperti penggunaan cerita wayang yang memodifikasi kisah Mahabrata dengan ajaran Islam dan pendekatan ekonomi Islam yang menonjolkan prinsip keadilan dan kejujuran.

Islam model inilah yang sangat berbeda dengan model Islam timur tengah. Islam model ini dapat  merangkul ideologi nasionalisme dan sosialisme sekaligus, karena sejak dulu memang memiliki tujuan yang sama yakni menuju Indonesia merdeka. Selain itu, sejarah Islam Nusantara harus disajikan seobjektif mungkin, agar semua menjadi jelas, bahwa Islam sejak zaman kesultanan hingga pergerakan kemerdekaan selalu mendapat tempat di hati masyarakat  bukan malah jauh dan dijauhkan dari masyarakat seperti sekarang ini. Bahkan pendiri bangsa kita, yang dapat merangkul semua –isme di negeri ini, Soekarno, semasa dalam tahanan Belanda pernah tercerahkan oleh Islam, seperti yang beliau tuturkan  sebagai berikut (Adams 2011 : 136) :

Kemudian aku membaca Al-Quran. Dan hanya setelah menyerap pemikiran-pemikiran Nabi Muhammad s.a.w. aku tidak lagi mencari-cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan-ucapan Nabi. Dan aku sangat puas.

Dari perkataan beliau –dimana cahaya Islam telah merasuk kedalam pikirannya- kita tahu bahwa perjuangan beliau di negeri ini tidak hanya berdasarkan nasionalisme sempit belaka, tidak juga sosialisme model Karl Marx namun menjadikan Islam sebagai ideologi universal dan menjadikannya rumah bersama bagi semua golongan di Indonesia dan beliau berhasil mereproduksinya menjadi butir-butir Pancasila yang luhur itu.

Harapan dari pendidikan agama Islam berbasis sejarah Islam Nusantara –dari zaman kesultanan hingga kebangkitan bangsa- adalah, kelak, pemuda-pemudi negeri ini akan paham bahwa Islam adalah jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia. Memahami bahwa Islam adalah cikal bakal kebangsaan dan kemerdekaan sehingga tidak adalagi yang mempertentangkan antara Islamisme dan Nasionalisme, bahkan kecintaan terhadap Islam akan berbanding lurus dengan kecintaan terhadap tanah air. Sadar bahwa Sosialisme bukanlah ide yang pertama kali diusung oleh Karl Marx, melainkan ide orisinil Islam dengan sistem ekonomi berkeadilan dan sistem sosial yang egaliter. Insyaf  bahwa kebudayaan Islam adalah sebuah keluhuran yang membuka peluang bagi perubahan, bukan konservatisme yang berlawanan dengan semangat zaman.

Kesimpulan

Islam kini mendapatkan tantangan, baik dari kebijakan pemerintah hingga media massa yang makin memperburuk citra Islam di Indonesia. Akibatnya, Islam sering dikaitkan dengan isu terorisme. Gejala islamophobia terjadi, simbol-simbol dan kegiatan islam dicurigai, pemuda-pemudi Islam di negeri mayoritas muslim ini semakin jauh dari agamanya.

Pendidikan agama Islam dengan pendekatan sejarah Islam nusantara dapat menjadi alternatif untuk mendekatkan kembali Islam dengan generasi muda masa kini. Dengan pendekatan  ini, diharapkan Islam dipandang sebagai jati diri bangsa, bukan ideologi asing yang tidak cocok dengan kultur Indonesia asli, dan tercipta pemahaman bahwa ada irisan toleransi antara ide nasionalisme dan islamisme yang pada akhirnya semangat Islamisme akan memperkuat semangat kebangsaan dan cita tanah air dalam dunia yang semakin tanpa batas ini.

Ferry Fadillah, Mei 2015

Referensi

Adams, Cindy. 1965. Sukarno an Autobiography as Told to Cindy Adams. The Bobbs Merrill Company Inc. New York. Terjemahan Syamsu Hadi. 2011. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cetakan Kedua. Yayasan Bung Karno dan PT Media Pressindo. Jakarta.

Suryanegara, A. Mansur. 2012. Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cetakan Kelima. PT Grafindo Media Pratama. Bandung.

Djamhari, S. As’ad. 2014. Strategi Menjinakan Dipenogoro : Stelsel Benteng 1827-1830. Cetakan Kedua. Komunitas Bambu. 2014.

Carey, Peter. 2014. Takdir : Riwayat Pangeran Dipenogoro, 1785-1855. Cetakan Pertama. Kompas. 2014.

, , , ,

Leave a comment