Archive for October, 2010

Susahnya untuk Tidak Pura-Pura

Manusia memang makhluk yang sangat kompleks, selain dianugerahi rupa yang beragam bagi kelangsungan hidupnya, mereka juga dianugerahi perasaan yang beragam bagi pewarna kehidupannya. Perasaan-perasaan tersebut terkadang menjelma menjadi sikap tubuh dan sikap bicara yang bermacam-macam. Nada tinggi dan muka merah berarti ia marah atau nada rendah dan muka ramah yang menandakan  ia senang.

Akan tetapi ada saja manusia yang dapat menyembunyikan perasaan-perasaannya dalam kebohongan sikap tubuh dan nada bicaranya. Ketika marah ia tersenyum. Ketika tidak suka ia bersikap ramah. Perasaan-perasaan ini dengan sukses disembunyikan dan tentu memiliki dua sisi akibat yang berbeda. Positif dan Negatif.

Ketika perasaan negatif memuncak dan keluar menjadi sikap tubuh dan sikap bicara yang positif maka ia menjadi hal positif bagi orang yang menjadi lawan bicaranya, tetapi menjadi hal negatif dalam diri orang yang menerima perasaan negatif tersebut.  Betapa tidak, ia harus berpura-pura dalam ketidak inginannya untuk berpura-pura. Kenapa tidak manusia mengatakan ‘Aku tidak suka itu!’ atau ‘aku benci itu!’  langsung kepada lawan bicaranya untuk perasaan-perasaan negatif yang ia terima daripada harus memendam perasaan negatif yang kelak akan menimbullkan jerawat diseluruh permukaan kulitnya (?).

Mungkinkah budaya ramah tamah yang sudah mengakar kuat dalam jiwa bangsa kita menjadi salah satu alasannya. Penulis sendiri tidak tahu jawabannya.

Ferry Fadillah. 30 Oktober 2010. Di Pulau Dewata.

1 Comment

Sang Anak Pengembara

Damainya bumi parahyangan dan sejuknya alam parahyangan telah terukir kuat dan jelas dalam benak seorang anak yang pada tahun 1992 terlahir disana dari rahim seorang urang awak. Berjuta-juta kenangan yang telah menjadi lembar emas sejarah selalu terngiang-ngiang walaupun raga sudah tidak menginjakan kaki di tanahnya. Daerah yang menjadi tulang punggung para perantau etnis sumatra dan jawa tersebut kini mengecil ditelan kabut putih selat bali dan mengabur ditenggak batuan kokoh Gunung Batur.

Kini tanah yang dijuluki Pulau Dewata dengan keindahan pantai-pantainya menjadi tempat pengembaraan seorang anak trah parahyangan. Bukan karena keinginannnya dan bukan pula karena keinginan orang lain tetapi keinginan keadaan yang terkadang memaksa orang untuk menjalankannya dan ikhlas dihadapannya.

Ragu. Bimbang. Nafsu. Kerap terlintas dalam bayang-bayang pikiran seorang anak, yang pada akhirnya menciptakan ketidaksiapan. Tapi, seperti sebelumnya, keadaan terkadang memaksa manusia untuk selalu siap dengan beragam resiko yang kelak akan menjadi buahnya.

Harap-harap cemas yang selalu menemani dalam doa ketika bersimpuh dihadapan Sang Kuasa menjadi obat bagi anak pengembara tersebut. Ditambah ‘bekal ghaib’ dari sang wanita perkasa yang telah mengandung anak dengan peluh dan derita telah menjadi vitamin bagi jiwa-jiwa yang pencemas. Apalagi ‘bekal ghaib’ itu jika bukan doa ibu namanya.

Dan pada akhirnya. Hanya dua hasil yang akan dipanen anak pengembara- bukan hanya dia tetapi semua anak pengembara dari berjuta-juta pulau di saptabuana. Berhasil dengan senyum lebar yang selalu tersungging di mukanya yang cerah atau gagal dengan muka muram yang menopeng dalam jiwa yang lara.

 

Ferry Fadillah. 30 Oktober 2010.Di kamar kost yang penuh dengan barang titipan.

, ,

Leave a comment

Shalat Jumat

Hari Jumat, merupakan hari suci dalam setiap minggu bagi kami, umat islam. Di saat itu, sedari pagi, kaum adam harus bersiap bebenah diri. Mandi dengan niat akan mendirikan shalat jumat, memotong kuku dengan niat akan mendirikan shalat jumat, dan mempersiapkan pakaian terbaik dengan niat akan mendirikan shalat jumat.

 

Shalat yang dimulai pada pukul 12.30 WIB (kurang lebih) itu dimulai dengan adzan dilanjutkan dengan ceramah dari orang yang dianggap lebih mumpuni dalam bidang agama. Peraturannya, ketika sang pengkhotbah berdiri di atas mimbar maka wajib hukumnya bagi setiap jamaah menutup mulutnya rapat-rapat, alias diam. Sungguh kemuliaan terdapat dalam peraturan ini, bukankah kehidupan ini harus dipenuhi dengan keseimbangan, apalagi dalam hubungan manusia dengan manusia, salah satunya adalah ketika ada yang berbicara ada pula yang mendengarkan. Hal ini jarang dipermasalahkan oleh masyarakat kita, sehingga adu mulut, dan merasa lebih pintar sering kali terlihat di kotak-kotak televisi melalui wajah-wajah politikus maupun civitas akademika.

 

Khotbah pada hari jumat biasanya mengandung seruan kepada jamaah untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hampir setiap jumat khotbah berisi anjuran melakukan kebaikan-kebaikan, kebaikan kepada Tuhan, kebaikan kepada Alam, dan kebaikan kepada sesama. Bagi mereka yang merasa diri lebih pintar dan lebih suci tentu kadang berpikir bahwa materi yang dibawakan setiap jumat adalah sama, itu-itu saja, sehingga timbul sikap apatis dalam memaknai khotbah jumat itu sendiri.

 

Segala sesuatu di dunia ini tidaklah ada yang abadi. Begitu juga dengan keimanan kita, kadang pasang kadang surut, tergantung kesungguhan hati kita dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Kesibukan kita di dunia yang dipenuhi keinginan hewani untuk  memenuhi kantong dengan harta, selangkangan dengan wanita, dan kehormatan dengan tahta secara otomatis membuat manusia lupa akan Tuhannya, lupa akan esensi penciptaan manusia, bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Atas dasar inilah, seyogyanya mereka yang apatis terhadap khotbah jumat memaknainya sebagai sarana memperkukuh keimanan, sarana menaikan kembali air keimanan yang tadinya surut, serta sarana untuk menyadarkan diri akan tujuan awal penciptaan manusia.

 

Percayalah bawa dibalik semua tuntutan ibadah yang diberikan Tuhan kepada kita melalui kanjeng Nabi Muhammad pasti memiliki makna yang dalam bagi kebaikan kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Karena Tuhan itu seperti orang tua kita, sedangkan kita seperti anak bocah ingusan yang selalu sok tau tentang kehidupan. Ketika disuruh begini membantah, ketika disuruh begitu merengek, padahal yang menyuruh adalah lebih tinggi ilmunya daripada yang disuruh. Tapi begitulah manusia, kerap kali mendewakan pengetahuannya sendiri.

Ferry Fadillah. 22 Oktober 2010. Kota Bandung.

, ,

Leave a comment

Cemburu, Kisah, dan Pencerahan

Pernahkah anda mendengar kata cemburu ? Pernahkah anda menemukan maknanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ? Untuk pertanyaan pertama saya yakin bahwa anda sudah pernah mendengar kata cemburu, bahkan sering, entah itu di sekolah, dapur, kantor, supermarket, pasar, jalanan, televisi, radio, surat kabar atau rumah. Untuk pertanyaan kedua saya rasa anda tidak perlu mengubrisnya, mengapa ? karena cemburu adalah sebuah perasaan yang timbul karena sebab-sebab tertentu dan musabab-musababnya pun bisa beragam. Sehingga jika cemburu diartikan secara otoriter oleh sebuah definisi, makna cemburu tersebut akan mengotak dan mengecil serta menghilangkan sisi-sisi ‘kebatinan’ nya.

Saya pernah cemburu, dan mungkin juga anda, khususnya mereka yang sedang berkobar hati asmara di dalam dadanya. Berawal dari rasa cinta yang mengakar kuat dalam hati seseorang ke dalam hati kekasihnya. Berawal dari rasa sayang yang melimpah dari hati seseorang ke dalam hati kekasihnya. Berawal dari keinginan untuk melindungi sang kekasih dari segala macam gangguan di manapun juga. Dan keinginan untuk memiliki sang kekasih agar menjadi tempat bersemayam cintanya merupakan serantaian faktor kecil dari sebab-sebab cemburu. Sebagai gambaran mari simak kisah di bawah ini.

***

Pada suatu hari yang damai di Kota Tasikmlaya, hiduplah seorang gadis cantik nan soleh. Rambutnya hitam lurus, matanya bulat bersinar, dan kulitnya begitu putih sehingga tidak dapat dibedakan dengan beningnya air di situ ciburuy. Ia kuliah di sebuah universitas swasta terkenal di kotanya, hampir semua orang mengenal dirinya, bukan saja karena cantik tapi karena mudahnya ia bergaul dan bersinarnya nama dia di gelanggang silat se- tasikmalaya.

Mahasiswa disekitar kampus tidak pernah melihat ia berduaan dengan lelaki, kalau pun ia bermain, ia akan pergi dengan jumlah lelaki dan wanita yang seimbang untuk menjaga syak wasangka penduduk tasikmalaya. Tentu saja hal ini memberikan sinyal yang bagus bagi para lelaki yang membutuhkan kasih sayang seorang wanita, sebodoh apapun orang jika melihat hal ini akan langsung menebak bahwa ia itu jomblo alias singgle. Padahal faktanya wanita cantik itu sudah memiliki seorang kekasih yang begitu mencintainya, walaupun sering putus-nyambung, tapi cinta sang lelaki tidak pernah luntur bak cinta seorang ibu kepada anaknya. Sayangnya kekasihnya tidak se-kota dengannya, ia sedang merantau ke pulau batam, seperti lagu darso : unggal malam mingguan, mojok via sms-an, kurang lebih begitulah hubungan wanita jelita tersebut dengan kekasihnya.

Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari. Pada hari jumat kliwon, diadakan pertandingan silat putri untuk memperebutkan piala bergilir Galuhwangi Cup. Semua orang begitu antusias untuk menyaksikan dan berpartisipasi di di dalamnya. Termasuk sang wanita jelita tersebut. Sudah jauh-jauh sebelumnya ia mempersiapkan diri untuk mengahadapi pertandingan ini. Sepulang kuliah ia berlatih, setelah berlatih ia berlatih lagi dan setelah istirahat ia berlatih lagi. Alhasil, hanya dalam beberapa detik saja ia dapat melumpuhkan lawannya. Pada hari itu ia telah mengalahkan empat belas peserta, dan untuk menjadi seorang juara ia perlu mengalahkan sepuluh oraang lagi. Pertandingan pun dilanjutkan besok untuk memberi peluang istirahat kepada para pesilat.

Anehnya, Sang putri cantik trah tasikmalaya ini tidak istirahat, ia masih saja bertanding bersama beberapa temannya di gelanggang tanding tersebut. Lama ia berlatih sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran sorang pesilat lain yang duduk di bangku penonton memperhatikan kelihainnya bersilat sedari tadi. Saat latihan akan usai, lelaki itu masih saja berdiri di bangku penonton, teguh, tidak bergoyang laksana pohon beringin di hutan sancang. “Ah, ia hanya ingin mencontek metode latihan perguruan kita!“, gumamnya dalam hati. Ia pun menyudahi latihan tersebut, dengan memberi salam hormat kepada kawan seperguruan lain.

Setelah berganti pakaian. Ia bergegas pulang menuju sepeda motornya. Tiba-tiba saja ia terhentak kaget, seorang pria yang tidak asing lagi pernah ia lihat sudah berdiri di sepeda motornya. “Oh! Ia kan lelaki yang tadi menunggu di bangku penonton, ada apa berdiri di sepeda motorku?” tanyanya dalam hati.

“Hei, kamu yang di sana. Boleh kenalan gak?”, tanya lelaki itu tanpa basa-basi.

“Sa-sa-ya.. Boleh. Nama saya Putri. Putri Dyah Citraresmi”

“Owh nama yang indah. Nama saya Farid Hidayat, asli Malabar. Hehe. Bisa minta nomor kamu gak”

“Buat apa ?”

“Ya buat nambah temen aja, boleh kan”

“Ehhhhmm… ok deh. Ini nomorku 085624788922”

“Owh terima kasih yah, kamu mau kemana nih ?, dengan menggosok-gosokan jari telunjuk ke hidungnya ia bertanya.

“Mau ke rumah, capek habis latihan. Klo begitu aku pamit dulu yah”, dengan muka tanpa ada syak wasangka sedikit pun putri naik ke motor bebeknya dan melaju motornya menuju rumahnya.

“yessss!!!! Aku dapat nomor cewek itu, gerbang emas telah terbuka, tinggal pendekatan nih. Biasana mah hararese euy menta nomor telepon teh”, dengan wajah sumringah si lelaki  kembali ke parkiran mobil dan mengendarainya menuju arah selatan.

***

Ketika hampir sampai di rumahnya, putri di telepon sang kekasih. Seperti biasa, sang kekasih menelopon untuk mendengarkan suara putri yang katanya dapat menyembuhkan jiwa dengan belitan rasa kangen.

“Hei, put kemana aja gak ada kabar”

“Tadi latihan, ay. Cape banget abis tanding langsung latihan”

“Owh gitu, istirahat atuh”

“Iya ini udah deket rumah kok. Eh, ay. Tadi ada cowo ngajak kenalan aku, aku kasih aja nomor aku”

“loh kok gitu !”, sang lelaki tercengang mendengarnya. Lalu putri pun menceritakan sedetail mungkin pertemuannya dengan seorang benih penyakit bernama Farid itu. Entah mengapa perasaan sang lelaki mendadak berubah aneh. Serasa ada batu kali menimpa hatinya, serasa ada juntaian api menjilati pipinya, merah padam dibuanya, entah karena amarah entah karena apa. Siapapun yang melihatnya akan menyangka ia sedang bertikai dengan kekasihnya.

“Kok diem, ay. Dia cuman mau kenalan doang kok. Jangan marah yah. Yah yah yah”

“Bukan gitu, orang kaya gitu sih jelas ngincer kamu, tapi kamu enteng aja ngasih nomor hp kamu, aku gak marah dan gak akan marah.Toh kamu udah gede bisa membedakan mana yang bener dan mana yang kebelinger”, dengan nada rendah ia membalas pertanyaan putri, “ya sudah kamu tidur sana gih”

“Ya udah deh, aku juga cape, ay. Tau gitu aku gak ngasih nomor hape ak”

“Udah gak usah di bahas, aku cemburu doang kok. Wajarlah aku kan sayang kamu, kalo gak sayang mana ada cemburu. Night ya..”

“Night ay..”

Perbincangan di telepon sudah berakhir. Putri ternyata sudah sampai di depan rumahnya. Ia memasukan motormya ke dalam rumahnya, mandi, sholat dan bergegas tidur di kasurnya yang amat empuk.

Di lain sisi, kekasih putri sedang gusar. Ia selalu memikirkan lelaki bernama farid itu, tampak angkara murka menyesaki dadanya, seperti ada keinginan untuk terbang langsung ke tasikmalaya dan menggantung hidup-hidup hama bernama farid. Tapi setelah kegusaran itu melanda sampai-sampai ia memotong  jam tidurnya, ia pun tersadar akan semua keodohannya itu. Ia pun akhirnya berserah diri kepada Sang Kuasa terhadap apapun yang nanti terjadi antara ia dengan kekasihnya, Putri Dyah Citraresmi.

***

Dari kisah diatas, dapat dilihat bahwa gara-gara si putri didekati lelaki bernama farid maka kekasih putri cemburu. Tentu ini hanya awal api cemburu dari untaian api cemburu lainnya. Jika si farid sering menghubungi si putri tentu kekasih putri akan cemburu lagi. Jika ternyata si putri mempertahankan dan membela farid dengan dalih berteman maka kekasih si putri akan cemburu lagi. Begitulah tanpa kesudahan. Sialnya lagi, jika sepasang kekasih tersebut terpisah jarak yang jauh, maka siapa tahu apa yang terjadi dan bagaimana nanti jadinya. Yang ada cemburu, syak wasangka, dan amarah.

Pernah saya membaca kalimat pencerahan untuk permasalahan ini. yang kurang lebih isinya begini.

Jika anda cemburu dikarenakan kekasih anda dekat dengan lelaki lain, maka biarkanlah. Itu merupakan cobaan baginya, sampai mana letak kesetiaannya. Jika ia tidak tergoda, maka ia adalah calon pendamping mu yang akan membahagiakan mu selamanya. Jika ia tergoda, maka ia tidak lebih dari kulit musang busuk yang harus di buang jauh-jauh. Berfikir postiflah, jika ia tergoda oleh lelaki tersebut dan anda  stress dibuatnya maka andalah yang bodoh, mengapa ? mana ada seorang lelaki yang memilih istri yang ternyata nantinya akan meninggalkan dirimu dan anak-anakmu dengan ketersakitan : tergoda oleh suami orang lain.

Ini hanya pendapat seorang pencerah, bagaimana dengan pendapat anda ?

Ferry Fadillah. 16 Oktober 2010. Di Kota Patriot.

,

Leave a comment

Abah Sim Kuring

Setelah ritual wisuda selesai dilaksanakan, dengan akhir yang bahagia, di Kota Malang, kami melanjutkan perjalanan ke arah utara, menuju Kota Surabaya. Sebuah kota yang sudah lama tidak kami kunjungi, terakhir adalah ketika saya masih duduk di bangku SMA, kalau tidak salah, waktu itu sempat melihat bekas-bekas muram kecerobohan manusia di Lapindo dan keliling kota untuk mencari oleh-oleh khas Kota Surabaya. Tapi perjalanan kali ini bukan sekedar Lapindo maupun oleh-oleh, tapi mengunjungi seorang kakek yang sedang menghabiskan masa hidupnya di Kota Surabaya.

***

Di kulitnya tergurat kerut-kerut melengkung, sejajar, dan melingkar yang menandakan usianya yang sudah lanjut. Dengan kaca mata besarnya, ia menonton televisi, tetapi ternyata mata kanannya sudah tidak dapat berfungsi alias buta. Mata kirinya pun tidak jauh beda, walu sedikit lebih baik, yaitu samar-samar. Sehingga tidaklah salah jika kegiatan seperti membaca dan menulis sudah lama ia tinggalkan. Bukan karena rasa malas yang melingkupi hati, tetapi karena keadaan mata yang memang begitu adanya.

Saya sering memangil dia Abah, walaupun abah dalam masyarakat sunda merupakan panggilan bagi ayah, tapi entah sejak kapan saya memanggil kakek dari keluarga ayah tersebut dengan panggilan itu. Dan tampaknya tidak ada protes secara fisik dan batin dari nya, sampai saat ini. Ia berasal dari Kota Ciamis, dengan slogannya Ciamis Manjing Dinamis, yang berada di wilayah priyangan selatan. Dikarenakan ada masalah kesehatan dengan paru-parunya, beliau mau tidak mau harus meninggalkan kota tercintanya yang berhawa sejuk ke daerah yang lebih panas hawanya di tengah kota Surabaya.

Selain mata, dan paru-paru, beliau juga mengalami sakit pada bagian kaki. Sehingga ia tidak bisa lagi jongkok, dan berjalan dengan benar seperti orang normal lainnya. Jalannya begitu perlahan, penuh kehati-hatian, kekiri dan kekanan. Walaupun begitu tidak ada seorang pun yang mengantarnya kesana kemari seperti anak kecil. Karena beliau tahu, bahwa ia masih bisa berjalan walaupun harus perlahan. Dan ia harus mandiri.

Setiap hari, ia menghabiskan waktu di depan televisi di ruang keluarga. Memilah-milah acara yang bergitu bermanfaat seperti berita, diskusi, sejarah dan sebagainya. Beranjak sejenak untuk makan bersama anggota keluarga lain, dan menununaikan ibadah shalat wajib. Setelahnya ia akan kembali menonton televisi sampai kantuk hinggap di kelopak matanya.

Sholat yang dilakukan abah begitu unik, ia duduk di kursi lipat berwarna merah, menghadap kiblat dan melakukan gerakan sholat seperti biasanya. Walaupun kondisinya seperti itu tapi ia sungguh khusyuk dalam shalatnya. Dengan peci hitam di kepalanya, ia mengangkat tangan seraya berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya, cucu-cucunya dan saudara-saudaranya. Suaranya lirih menggentarkan jiwa, dan buliran air terkadang menganak sungai di pipinya. Sungguh begitu indah ibadahnya, dibalik segala keterbatasn yang ia miliki.

Kesederhanaan, ketidak pura-puraan, dan keinginan untuk menghabiskan setiap detik kehidupan ini untuk hal-hal yang amat bergunalah yang ia lakukan setiap hari. Tapi ia terkadang mengeluh kesepian. Bagaimana tidak, anak-anaknya yang berjumlah empat orang itu  tersebar di kota bandung, jakarta, australia, dan surabaya. Semuanya tentu memiliki kesibukan masing-masing, dan hanya mengunjungi abah pada waktu-waktu tertentu saja. Benar kata orang, jika nanti waktu tua kita akan banyak sendiri.

***

Entah mengapa setelah mengunjungi abah, seolah ada wangsit ghaib yang merasuk dalam benaku. “Inikah hidup ?”, aku bertanya dalam diri ku sendiri. “Ketika kita muda kita senang-senang, melakukan apapun yang kita mau, makan-makan dan minum-minum tanpa mempedulikan efek panjang kesehatan di masa depan, dan berkelakuan bak seorang yang tidak akan pernah tua, bermewah-mewahan dalam berpakaian, dan sombong terhadap kecantikan maupun ketampanan, padahal semua itu akan sirna ketika kita menginjak usia tua,” tambah diriku.

Sering aku melihat di lingkungan ku, muda-mudi yang dengan bebas merokok di tepi jalan atau di cafe-cafe, menenggak minuman keras di tongkrongan, berdugem ria di club-club malam, dan berbalapan ria di jalan-jalan sepi.  Dalam wajah mereka tersungging wajah sombong, seakan dunia adalah miliknya sendiri. Entahlah siapa mereka itu, mungkin saja aku termasuk ke dalamnya tapi tentu anda bisa meliat dengan mata anda sendiri kondisi ini di zaman se-semerawut ini.

Melupakan masa tua adalah kata-kata yang tepat bagi kita. Sehingga tidak heran jika ada pernyataan, “Ayolah senang-senang, kita kan masih muda. Nanti udah tua kita fokus ibadah”. Yang menjadi permasalahan adalah, apakah kita pernah tahu sampai mana akhir hidup kita ? ketika merokok di usia 20 tahun kah ? ketika dugem di club malam kah ? ketika balapan motor kah ? dan sekali lagi, bukankah Sang Nabi pernah bersabda bahwa masa muda lah yang akan diminta pertanggung jawabannya di pengadilan akhirat oleh Tuhan yang maha Kuasa? sudah digunakan untuk apa saja, hal yang berguna kah atau hal tiada berguna kah ?

Semoga Tuhan selalu menunjukan kita jalan yang benar di masa muda kita dan mengutus kebahagiaan di masa tua kita. Amin.

 

Love you as my sisters and brothers.

Ferry Fadillah. 15 Oktober 2010. Di Kota Pahlawan yang baru saja dibasahi hujan deras tadi malam.

, ,

Leave a comment

Pulau Dewata

Oleh Ferry Fadillah

kerinduanku kepada pulau dewata tidak lah lebih besar
daripada kerinduanku kepada tanah sunda..
tanah yang, semenjak aku masih berupa segenggam daging dalam rahim ibuku,
telah  menciptakan sejuta rasa..
tanah yang, semenjak aku menemukan kekasih yang begitu terkasih,
telah menciptakan seribu asa..
tanah yang, semenjak aku harus meninggakannya untuk pengaharapan baru,
telah mencipta seribu duka..

lain dengan dewata..
walau aku baru membuka mata tuk bersua..
tapi aku sadar
aku telah jatuh cinta
seolah inilah alam terindah di saptabuana..

kini, sepertinya kita akan lama tak jumpa
saling mengikat rasa, dan menapaki asa
tapi tidak lah mengapa, karena aku tidak pernah alpa
akan indahnya alam dewata

,

Leave a comment

Aku Ingin Menjadi, Tapi Malah Menjadi

Oleh FERRY FADILLAH

Aku terlahir dari keluarga yang biasa saja. Tapi begitu amat bersyukur karena dikaruniai seorang ayah yang amat ikhlas membanting tulang demi menghidupi keluarganya dan seorang ibu yang amat teguh dalam mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi insan yang berguna bagi agama dan bangsa. Hampir setiap hari kebutuhan kami dipenuhi secara pas-pasan, tidak lebih dan tidak kurang. Yang terkadang keadaan inilah yang membuat aku iri melihat orang bergelimang kemegahan berjalan angkuh di sudut-sudut Kota Bandung yang dingin dan indah itu.

Sepertinya semua anak laki-laki di bumi nusantara ini, terlebih mereka yang ditakdirkan untuk terlahir dari keluarga yang pas-pasan maupun serba kekurangan, pasti memiliki harapan untuk meringankan beban kedua orang tua. Ditanamkanlah cita-cita mereka semenjak kecil. Ingin menjadi dokter, ingin menjadi insinyur, ingin menjadi pramugara, ingin menjadi pilot, ingin menjadi pengusaha. Kelak harapan-harapan tersebut menjadi kisah emasnya di masa tua dan bagi sebagian orang harapan-harapan tersebut hanya akan menjadi isapan jempol belaka, karena keputusasaanya dalam menerima realita.

Mereka yang dikatakan sukses biasanya berjalan pongah di jalan-jalan kota, menebar harum parfum berharga jutaan dengan berjubahkan baju seharga kiloan emas. Sepatunya senantiasa berkilap dan diwajahnya tidak terlihat tanda-tanda kuyu maupun layu. Tapi mereka bekerja tidak sembarang bekerja, mereka bekerja sepenuh hati. Mencurahkan segala tenaga dan pikiran bagi pekerjaan mereka. Terkadang mereka terlantarkan buah hati dan istrinya untuk mengejar kesenangan dunia : harta. Tidak ada yang melarang memang, tapi hal ini terjadi begitu saja membuat anak dan istri yang ditinggalkan merasa kekurangan curahan kasih sayang dari seorang lelaki. Tidak jarang, kehidupan rumah tangga yang diikat tali suci  pernikahan harus mau menelan api ketidak akuran yang berujung pada perceraian. Dan anak-anaklah yang pada akhirnya menjadi korban.

Mereka yang dikatakan tidak sukses mudah sekali dideteksi oleh indera orang-orang awam. Tanpa melihat keanggunan pribadinya dan keikhlasan perjuangannya, mereka yang berbaju kusut, berwajah kusam, dan berbau ikan sepat selalu dianggap sebagai orang yang tidak sukses. Terlebih lagi jika curahan tenaga dan pikiran mereka  hanya mengasilkan harta yang pas untuk makan hari itu juga, tidak lebih dan tidak kurang. Sepertinya begitu menyulitkan memang, tapi tahukan bahwa dari kesulitan itu biasanya mereka tumbuh menjadi pribadi yang unggul. Mereka mempunya anak, dan mereka juga mempunyai waktu yang banyak bagi anaknya. Maka tidak salah jika anak-anak dari jiwa-jiwa yang selalu dilanda kesulitan akan lebih unggul dalam bidang akademik. Karena curahan kasih sayang orang tualah hal itu terjadi. Mau bukti ? lihat saja mereka yng sekarang dikenal sukses, banyak dari mereka yang dahulu berasal dari keluarga buruh tani, nelayan dan bahkan gelandangan.

***

Melihat keduanya, aku hanya mematung dan terdiam. Merenung sejenak, dan menerawang jauh ke masa depan yang tidak akan pernah aku ketahui. Tiba-tiba saja hembusan angin inspirasi datang menerpa otaku. Pengusaha! Ya, pengusaha. Aku putuskan menjadi pengusaha setelah melihat realita-realita kehidupan di atas. Aku mulai mencintai kehidupan menjadi pengusaha ini sejak SMA. Aku hampir sering terlibat dalam usaha kecil-kecilan ibuku dan mengamati hal penting se-saksama mungkin. Cara bicaranya, cara menarik hati consumer, cara menghitung keuntungan, dan cara menaikan harga.

Sebenarnya impian ini datang ketika aku mengetahui bahwa seorang pengusaha mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk memiliki penghasikan tetap tanpa bekerja sekalipun. Hal inilah yang aku idam-idamkan, bukankah dengan demikian aku bisa mencapai kemewahan dan tidak akan mengurangi sedikitpun curahan kasih sayang kepada istri dan anak tercinta kelak. Belum lagi junjungan ku, Nabi Muhammad adalah seorang pengusaha juga. Ia rajin, jujur, dan ramah. Hal ini lah yang membuatku begitu menggebu-gebu untuk menggeluti profesi ini.

Disaat SMA dulu, sangat besar keinginanku untuk menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung Fakultas Teknik Industri. Aku sangat haus akan ilmu itu, tentu saja karena ilmunya berhubungan dengan kewirausahaan. Sebuah gerbang baru menuju kebebasan finansial. Maka tidak heran, jika berjilid-jilid buku soal aku lahap, berlembar-lembar kata motivasi aku santap, hanya demi duduk di sebuah tempat kuliah bergengsi tersebut. Sampai tiba saat yang ditunggu datang. SNMPTN.

Soal  demi soal aku kerjakan. Keringat bercucuran memenuhi pelipis kanan dan kiri, membasahi kerah dan nyaris jatuh ke Lembar Jawab Komputer. Ruwet, pusing, ngejelimet, lalieur. Itulah serangkaian kata yang menggambarkan soal-soal SNMPTN. Dan kekhawatiran selama mengerjakan itu telah menjadi kekhawatiran ku pula ketika waktu pengumuman tiba. Tidak jauh firasat dari buktinya. Mau dikata apa lagi, tidak satu pun dari pilihan ku dalam SNMPTN yang goal. Semuanya amblas, blas, terbang ke awang-awang dan menutupi cahaya harapan yang sudah lama aku bangun.

Untung saja aku sudah jauh-jauh hari mendaftarkan diri ke sekolah teknik swasta di kota bandung. Dengan fakultas yang sama, tapi kurang gregetnya. Aku pun mendapati mahasiswa yang senasib sepenanggungan disana, terlihat dalam wajah-wajah lelah mereka : pesimis akibat kekalahan di medan perang. Memang sarana dan prasarana yang ada begitu memukai. Tapi ada satu permasalah klasik : mahalnya biaya pendidikan.

Sialnya lagi pada saat yang bersamaan aku harus rela melihat ayah kandung ku sendiri ditimpa musibah. Bukan musibah yang merenggut nyawa tapi musibah yang tidak dapat aku ceritakan disini. Yang pasti hal tersebut telah mengguncang sendi-sendi perekonomian keluarga. Dalam kata lain, dari pas-pasan menjadi serba kekuarangan.

Perlahan demi perlahan impianku untuk menjadi pengusaha tertimbun pasir-pasir keadaan yang begitu memaksa. Realita yang begitu pahit untuk dikemukakan tetapi begitu harus dihadapi dengan gagah berani. Dengan serba kekurangan mana bisa seorang manusia berkuliah di tempat wah dengan biaya pendidikan yang mewah. Dengan serba kekurangan mana bisa seorang manusia membuat sebuah usaha yang dapat menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Semuanya pupus, urung niat ku menjadi pengusaha.

God always have his own way. Begitulah orang-orang bijak bilang, meskipun aku tidak terlalu paham betul apa maksudnya. Tapi dua minggu setelah kegetiran melanda hati ku ini, sebuah pengumuman berformat pdf telah membuatku terenyuh dan menyadari kasih sayang Tuhan. Ya, pada saat itu aku diterima di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Sekolah yang mewajibkan lulusannya bekerja di lingkungan kementrian keuangan ini telah menjamin biaya pendidikan semua mahasiswanya. Kabar ini pun terdengar ibuku, air matanya keluar dari wajahnya yang masih halus.

“Nak katanya kamu mau jadi pengusaha, sekarang kamu diterima di STAN, mana yang mau kamu pilih ?”, tuturnya dengan wajah penuh haru.

“STAN aja, mah. Biar bisa lebih hemat pengeluaran mamah”, jawabku dengan nada sedikit kurang ikhlas. Terpaksa keadaan.

Padahal sedari dulu aku tidak begitu menginginkan pekerjaan menjadi PNS. Karena aku tidak menemukan kebebasan, setiap hari terpatok oleh Peraturan, Keputusan, Undang-undang, SOP dan lain sebagainya. Memusingkan dan menuakan hidupku dalam ketidak bebasan. Belum lagi pendapat orang-orang mengenai profesi ini, korupsi lah, suka bolos lah, celamitan duit lah. Tapi ya ini lah nasib. Dan aku pun mau tidak mau harus memulainya, menjadi bibit-bibit PNS yang nantinya dipekerjakan sebagai buruh di kebun-kebun pemerintah (istilah buatan-pen). Toh setelah berkenalan dengan dunia yang tidak pernah saya impikan sebelumnya, kata-kata orang tersebut tidak terbukti. Karena tidak semua PNS di semua instansi seperti itu. Masih ada mereka yang jujur dan benar-benar berbakti kepada negara. Jika tidak, tentu negara ini sudah hilang dari enslikopedia sejak dulu.

***

Sejak itu saya paham bahwa Tuhan memang memiliki jalan tersendiri bagi setiap makhlukNya. Walaupun itu terasa pahit, tapi jika kita mau untuk mengurai makna yang berada dibaliknya, hidup ini akan terasa begitu indah. Dan saya percaya itu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan

boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 216)

, , ,

5 Comments

Aku tidak tahu apa ini!

Aku tahu hari ini aku tidak bersedih, setelah serantaian kata-kata indah yang menghujam qalbu ku. pedih. tapi tiada bulir air mata yang mengalir dipipiku. mematung bisu dan merengek dalam keheningan.
Aku coba kembali kepada Tuhan ku, yang telah menjanjikan kedamaian dan ketentraman. Hanya jika, aku kembali menemuinya. Diatas sajadah dan mushaf-mushaf suci berbahasa langit.
Berangsur-angsur harapan baru mulai datang. Memperbaharui kenangan pahit yang memilukan. Menjadi sebuah gudang hikmah akan makna perpisahan.
Namun kehidupan tidaklah semulus rencana manusia. Mereka yang merasa dirinya paling benar senang sekali menduga-duga. menerka-nerka. seolah mereka adalah Tuhan, seolah mereka adalah malaikat, seolah mereka adalah Nabi. Padahal tidak lebih dari seonggok daging kusam yang dipenuhi nafsu kegelapan. lidahnya tidak terjaga, menghujam begitu saja. berulang-ulang, masuk ke dalam relung hatiku yang paling dalam.
di saat semua ketenanganku telah terbangun. kegusaran mulai kembali datang.
mana kekasihku?
mana sahabatku?
mana ibuku?
mana ayahku?
sungguh seorang budak kini seolah telah ditendang halus oleh majikannya, yang ia telah setia padanya.
bagiku harapan adalah dirinya
tapi tidak ada yang pernah tahu apa jadinya

ferry fadillah. 11-okt-2010. di pulau dewata

,

2 Comments

Dua Sisi Perpisahan

Manusia dalam kehidupannya pasti akan menemukan berbagai macam permasalahan. Karena manusia memang hidup untuk menyelesaikan permasalahan, bukan kabur lalu berlepas tanggung jawab. Karena hal ini lah yang membedakan raga yang berjiwa dengan seonggok raga tak bernyawa.

Mungkin salah satunya adalah pepisahan. Terkadang orang menganggap perpisahan adalah sebuah barokah, rahmat, bahkan sebuah anugerah yang tiada tara. Jika ternyata ia berpisah dengan kesedihan, duka, lara, kedzaliman, dan kebodohan. Ia pasti akan merasa senang dalam perpisahan tersebut, mungkin berteriak kegeringan seperti seorang bocah 5 tahun yang dibelikan sepeda baru oleh ayahnya. Matanya akan berbinar penuh syukur atas terlepasnya belenggu-belenggu yang selama ini mengekang kehidupannya. Ucapan syukur akan terus terlontar dari mulutnya yang dahulu ia pakai untuk memaki-maki keadaan yang telah menistakannya dalam keterpurukan. Langkahnya akan terasa lebih ringan, dan hari-hari yang baru akan ia lalui dengan wajah ceria penuh tawa. Akan ia ceritakan kisahnya kepada sesama dan akan ia tuliskan dalam kertas putih dengan tinta emas perpisahannya itu.

Berlainan dengan hal diatas, terkadang orang menganggap bahwa perpisahan adalah sebuah bencana, kecelakaan, adzab, bahkan kutukan yang menjadi-jadi. Jika ternyata ia berpisah dengan kesenangan, keindahan, suka, keadilan, dan kecintaan. Ia pasti akan menangis teriris-iris dalam perpisahan tersebut, seperti seorang anak yang merengek tidak dipenuhi keinginannya oleh ayahnya. Matanya akan menjadi sayu, gurat-gurat rasa lelah akan tampak di wajahnya, badannya akan melemah karena berusaha keras untuk melawan kenyataan-kenyataan pahit yang menimpanya. Dalam mulutnya ia memuja Tuhan, berpasrah diri akan segalanya, tapi batinnya terus bergejolak seolah tidak percaya dengan keadaan yang ada. Langkahnya akan terasa sangat berat, hari-hari yang akan datang akan ia lalui dengan muka murung penuh kegelapan. Ia akan mematung seribu bahasa dalam keramaian, terdiam dan tertunduk, serta ia akan tuliskan dalam kertas putih dengan tinta air mata perpisahannya itu.

Perpisahan  akan menjadi sebuah yin atau yang, tergantung kepada siapa ia menimpanya. Ia bisa menjelma sebagai malaikat surga yang datang membawa air dari telaga kautsar kepada manusia yang dilanda kehausan di dunia. Ia bisa menjelma menjadi binatang buas yang kelaparan selama berbulan-bulan yang mencabik-cabik penduduk sebuah desa tanpa ampun. Apapun rupanya, apapun bentuknya, apapun wujudnya, apapun rasanya, dan apapun akibatnya  manusia hendaknya tahu bahwa perpisahan adalah nyata ketetapan Tuhan. Ketetapan yang sudah diberikan kepada manusia sebagai ujian darinya, apakah kita seorang beriman atau munafik, apakah kita sungguh-sungguh atau hanya seadanya untuk mendapatkan rahmat dari Sang Kuasa.

Ferry Fadillah
Pulau Dewata. 11-10-2010

, ,

2 Comments

10-10-10

Berjalan tak tentu arah. Melihat jalanan yang penuh dengan suka cita. Hilir mudik orang dengan kepentingannya masing-masing. Ditambah deru mesin beroda empat  membahana kelangit-langit menghilangkan suasana pagi yang tadinya sepi dan indah. Senyum sedikit tersungging di bibirnya, berseri-seri melihat keindahan pohon perindang  yang masih tersisa. Tiba-tiba ia berhenti di depan pohon angsana. Mengambil telepon genggam dari saku celananya. Lalu menghubungi sang kekasih tercinta. Rasa khawatir dan keinginan untuk sekedar mendengar lantunan suara mungil di ujung pulau sana telah membuatnya berulang-ulang meneleponnya, karena bukan sekali saja sang kekasih tidak mengangkatnya.

“Mungkin ia masih tertidur”, pikirnya sambil terus berjalan ke belokan Desa Sumerta Kelod. Belum beberapa lama ia berjalan, sms dari sang kekasih pun sampai di teleponnya. Tanpa ragu dan dengan sumringah ia langusng menghubungi sang kekasih, tidak peduli walau pulsanya sedang menipis saat itu.

Seperti biasa, ia menanyakan keadaan sang kekasih, berbasa-basi, yang intinya hanya ingin mendengar suara mungilnya. Mendengarkan dengan penuh hikmat kata-kata yang keluar dari mulut sang kekasih, karena sedari dulu ia sadar bahwa suara indah itu telah membangkitkan jiwanya. Tapi hari ini berbeda. Ia mendegarkan dengan penuh saksama, seolah sesuatu akan mengakhirinya.

Perbincangan pun dilanjutkan ketingkat yang lebih serius. Walaupun serius, ia tidak menampakan keseriusan itu. Walau hatinya gundah akan firasat-firasat buruk yang nanti akan segera terjadi, tapi ia terus berusaha tegar dan bersahaja di depan sang kekasihnya. Perbedaan sikap inilah yang telah membuat sang kekasih murka. Ia mengganggap bahwa dirinya tidak serius menghadapi masalah serius. Tak ayal, sang kekasih pun menutup teleponnya.

Berkali-kali ia menelepon kembali sang kekasih tapi tiada jawaban sedikitpun. “Mengapa teleponnya dimatikan, apa salah jika saya berusaha mencairkan suasana”,  berkata lah ia di dalam hatinya. Setelah berjalan bulak-balik dengan menggenggam telepon tanpa ada jawaban dari sang kekasih, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

***

Rumah sang pemuda sangatlah kecil, bisa dibilang sebesar kuburan para wali yang dibanguh tempat persembahyangan diatasnya. Sepi dan sunyi. Maklum hari minggu merupakan hari yang baik untuk bersantai ria di dalam rumah, sehingga orang-orangpun tidak mengeluarkan suaranya.

Ia membuka laptopnya. Melihat-lihat tulisan yang belum sempat ia publish. Dan memberi koreksi untuk tiap-tiap katanya. Tiba-tiba saja hand phone putihnya berdering.  Sang kekasih ternyata menghubunginya.

Percakapan antara dua insan terjadi. Mulanya ia tersenyum tapi diakhir percakapan ia lebih banyak memilih diam. Pikirannya berusaha mencapai jaring-jaring telepon. Merasakan deru nafas sang kekasih dan membayangkan kehadirannya. Matanya berkaca-kaca, entah mengapa hatinya seperti ditimpa beban yang amat berat.

“Setelah seorang anak kehilangan layangannya yang lepas di pantai tadi pagi. Ia duduk termenung dibawah pohon beringin tua. Memikirkan nasib nya dan layangan tersebut. Akankah jatuh ke tangan orang lain, akan kah terbawa angin lalu hancur dibasahi air, atau akan kah kembali lagi ketangannya. Entahlah, lepasnya layang-layang pun belum jelas keadaannya. Nyata atau maya”, tuturnya kepada sang kekasih. “Entahlah”, jawab sang kekasih, “Jika sudah saatnya kita akan perjumpa lagi.

“Sukses yah kamu kuliahnya”, dengan nada lirih ia memberi selamat. “Kamu juga sukses yah” timpal sang kekasih lirih. Hening. Keduanya mengucapkan salam perpisahan dan menutup telepon.

Sang pria membaringkan badannya ditempat tidur. Memejamkan matanya. Dan membiarkan air mata menghiasi pipinya. Tampak kepasrahan telah mendarah dalam dagingnya. Dengan penuh duka ia berbicara dengan dirinya sendiri, “Kini aku sendiri, tanpa ada seorang pun yang akan sudi mendengar cerita sulit dan indah ku. Hari-hari yang dahulu aku ceriakan karena selalu terbayang wanita cantik yang nanti akan aku pinang kini telah sirna. Harapan dan realita telah menjadi satu, mengikis semangat-semangat yang tadinya mencuat. Ya Tuhan, yang jiwaku berada digenggaman Mu, kini aku berjalan dari satu Qadar Mu ke Qadar Mu yang lain, maka jadikanlah aku orang yang senantiasa ihklas”

Ia mengusapkan tangan ke wajahnya. “ Keabadian. Apakah keabadian itu ? sungguh aku telah berharap keabadian tetapi aku mendapat kehampaan setelahnya. Sungguh keabadian hanya ada pada jiwa,  jiwa suci yang nantinya akan Engkau jemput wahai Tuhan.”

Ia membuka matanya lebar-lebar. Membuka pintu rumahnya, dan melihat bunga kamboja ungu yang tumbuh di pekarangan. Angin laut yang berhembus ia hirup dalam-dalam. Tampak wajahnya kembali berseri, namun siapapun akan tahu bahwa dibalik cerianya ada suasana batin yang begitu muram.

10-10-10. Ferry Fadillah

Leave a comment

Luka yang Kemudian Hilang

Persahabatan. Mungkin sebuah kata indah yang seindah dengan pelaksanaannya. Dimana jiwa terpaut menjadi satu untuk saling menjaga, berbagi, dan berbahagia. Melekatnya ‘persahabatan’ bisa dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Seorang Prabu nan gagah yang tinggal di istana berdinding emas dan berlantai marmer bisa saja bersahabat dengan seorang tukang kayu yang tinggal di gubuk tua berdinding awi dan berlantai tanah. Dua orang pemuda yang terpisahkan secara adat dan geografis bisa saja menjalin persahabatan, entah itu dengan cara saling berkirim surat maupun saling mengunjungi satu sama lain. Karena pada hakikatnya persahabatan ini adalah suci. Saya merasa nyaman dengan anda dan anda merasa nyaman dengan saya maka terjadilah persahabatan itu. Tanpa label harta maupun kepentingan.

Tetapi setiap perjalanan tidak akan pernah lurus. Pasti kita akan menemukan jalan berliku dan bahkan sesekali jalan buntu. Begitu pula persahabatan. Terkadang hal kecil yang kita anggap kecil dan dia anggap besar menjadi sebuah api pertikaian. Ketidak inginan untuk memahami lebih dalam menjadikan api itu berkobar-kobar laksana ombak di samudra pasifik. Keegoisan untuk merasa yang paling benar malah menjadikan api itu mencuat-cuat membakar dua jiwa yang dahulunya didinginkan air persahabatan. Pada saat semuanya sudah hangus terbakar, hanya ada perasaan menyesal dan keinginan untuk memperbaiki keadaan.

Sebua kata ‘maaf’ adalah penawarnya. Penawar bagi racun yang menggerogoti hati nan penuh amarah. Bukan saja itu. Persepsi kita dalam memandang hal kecil pun mau tidak mau harus diubah. Karena pada hakikatnya hal kecil yang kita anggap kecil belum tentu dianggap kecil oleh orang lain. Sehingga tidak heran dalam sebuah pertikaian, kita akan menunjuk salah orang lain dan mengatakan, “hanya gara-gara hal sepele, masak ia selalu memasang muka masam setiap kali bertemu saya”. Yang salah sebenarnya persepsi kita bukan hal sepele itu. Coba bayangkan jika anda menghina nama seorang sabahat anda dengan santainya, padahal nama itu dibuat oleh sepasang orang tua yang dengan susah payah melahirkannya, dan begitu hati-hati memilih sebuah nama agar kelak anaknya menjadi orang yang berguna. Tentu sahabat anda akan berkobar hatinya, dipenuhi angkara murka.

Bayangkan kulit anda tergores oleh sebilah pisau. Darah akan mengalir dari pembuluh darah anda, merah pekat dan segar. Lalu yang akan anda lakukan adalah mengobatinya, entah itu menggunakan ramuan tradisional atau moderen, yang pasti anda akan mengobatinya. Maka perlahan-lahan goresan itu akan menutup. Tetapi masih menyisakan bekas. Dan seiring dengan perjalanan waktu bekas itu pun akan hilang menjadi kulit seperti sedia kala.

Begitu kurang lebih analaoginya ketika kita menyakiti hati sahabat kita. Sahabat kita akan tergores perasaannya. Lalu dengan kata maaf dari kita luka tersebut akan terobati.  Tapi dapat dipastikan bahwa ia yang dahulu akan berbeda dengan ia yang sekarang karena masih ada bekas dari goresan tersebut. Bekas-bekas yang terkadang menanamkan rasa amarah disaat-saat tertentu dan menimbulkan kebencian-kebecian kecil. Dan dengan seiring berjalannya waktu, bekas itu akan menghilang dan sahabat kita akan menjadi seperti dahulu lagi. Saling mejaga, berbagi dan berbahagia. Insya Allah.

Denpasar, 05 Oktober 2010. Ferry Fadillah

Leave a comment