Posts Tagged wisata

Nusa Penida

Bali, Aku pergi sebentar yah

Pergi dari jalanmu yang mulai macet

Mulai gak nyaman, mulai.. aaaa

Bali, Aku pergi sebentar yah..

Pergi dari pantaimu yang katanya indah.

Yang disekelilingnya, dibangun hotel megah.. wah!

Ini Judulnya Belakangan, Nosstress

***

Perhelatan tahunan International Monetary Fund dan World Bank Group pada tanggal 8 s.d. 16 Oktober 2018 di BTDC, Bali adalah kunjungan saya yang ke sekian kalinya ke Bali. Sejak kuliah di bilangan Denpasar sejak tahun 2009, beberapa kali saya meninggalkan Bali untuk sekedar liburan ke kota kelahiran, melaksanakan tugas negara, dan tugas belajar kurun 2014-2016. Jika dihitung secara kasar, lama tinggal saya di Bali sekitar 6 tahun. Waktu yang cukup lama untuk melihat perubahan Bali dari segala seginya.

Namun, pada tulisan ini, saya tidak memposisikan diri menjadi pengamat sosial karena saya hanya menuangkan kesan yang saya tangkap atas kunjungan ke Nusa Penida, Klungung beberapa hari lalu serta membandingkannya dengan Bali kurun waktu 2009-2013. Layaknya kesan, ia bisa benar dan juga bisa salah, oleh karena itu saya mohon maaf apabila terdapat kekeliruan.

Nusa Penida adalah pulau besar di tenggara Pulau Bali. Secara administratif wilayah ini menjadi bagian Kapubaten Klungkung. Curah hujan di Nusa Penida sangat rendah. Kontur daratan didominasi perbukitan dengan garis pantai yang hampir seluruhnya tebing. Jalur satu-satunya untuk lalu lintas kapal adalah di Desa Toya Pakeh, utara Penida, yang menghubungkan pelabuhan Padang Bay, Sanur dengan dua pulau tujuan wisata lain yakni Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Geliat ekonomi di Nusa Penida terasa lambat. Jalan yang menghubungkan satu desa dengan desa lain hanya cukup dilalui dua mobil. Bahkan sebagian besar jalan menuju destinasi wisata seperti Pantai Angel Billabong dan Pantai Klingking dalam kondisi berlubang dan berpasir. Sektor usaha pariwisata lokal yang menonjol adalah homestay lokal yang dikelola secara informal oleh pihak keluarga. Restauran dan minimarket adalah pemandangan langka. Sebagian besar wilayah Nusa Penida adalah perkebunan kelapa, peternakan babi dan sapi, serta semak belukar dengan ranting-ranting kering yang rawan terbakar.

Tapi semua keterbatasan fasilitas publik dan akses tersebut terbayar ketika saya menyaksikan indahnya pemandangan di Pantai Angel Billabong dan Pantai Klingking.. Tebing-tebing tinggi di sebrang laut itu menghubungkan daratan Nusa Penida dengan laut yang sangat biru. Gelombang air laut, udara segar, pepohonan yang menghijau, langit yang cerah dan bebatuan kapur artistik pasti membuat takjub siapapun yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

Nusa Penida mirip degan pantai-pantai di Nusa Dua sebelum ekspansi pariwisata besar-besaran.. Dahulu akses menuju Pantai Dream Beach, Pantai Gunung Payung, Pantai Pandawa dll. sulit untuk ditempuh. Kesulitan itu akan terbayar setelah wisatawan menyaksikan birunya laut dan ombak tinggi yang cocok digunakan untuk olahraga berselancar. Ketelanjangan (naked) dalam arti sesungguhnya pun adalah pemandangan jamak di pantai-pantai Nusa Dua. Namun, semua itu berakhir setelah rombongan bus-bus sekolah menengah atas dari wilayah lain Indonesia mengunjungi pantai-pantai tersebut dan berebut mengambil foto. Mungkin bule-bule itu risih dan memutuskan untuk tetap mengenakan bikini walau berjemur di pantai.

Pariwisata memang menjadi primadona. Pemerintah terus meningkatkan target kunjungan wisatawan asing ke Pulau Bali. Sayangnya, Bali seolah belum siap dalam menanggulangi permasalahan sampah yang menumpuk. Sampah plastik tersebar dipinggir jalan, sungai, danau, dan pantai. Tindak kejahatan juga menjadi jamak di Bali. Tahun 2009 di Denpasar, saya masih sering melihat orang meninggalkan motor di pinggir jalan dengan kunci kontak menempel. Kini, pencurian motor terjadi dimana-mana, kostan juga tidak lepas dari target pencurian bahkan saat penghuninya masih berada di dalam.

Nusa Penida adalah Bali di masa lalu. Hampir semua orang meninggalkan motor dengan kunci kontak yang menempel. Sampah plastik mulai terlihat berserakan tapi belum sampai mencemari pantai. Mungkin ini adalah berkah dari lambatnya pertumbuhan ekonomi. Karena tidak semua wisatawan ingin menikmati peradaban kapitalis berupa resort mewah dan restaurant premium dengan pemandangan pantai. Ada sebagian orang yang rindu dengan keaslian. Alam itu indah pada dirinya sendiri. Manusia berusaha memaksakan ide budayanya dengan menghancurkan tebing dan menebang pepohonan. Dalam logika kapitalisme liberal, setiap potensi pariwisata harus dimiliki korporasi dengan dalih peningkatan kesejahteraan rakyat. Padahal tanpa mereka rakyat tetap hidup sejahtera dalam kesederhanaan.

Saya berharap Nusa Penida tidak mengalami ekspansi industri pariwisata berlebihan seperti yang terjadi di pulau induknya. Biarlah alam mengajarkan kepada para manusia tentang keindahan asali yang kali pertama Tuhan ciptakan bagi semua makhluk.

Ferry Fadillah. Nusa Penida, 19 Oktober 2018

Advertisements

, ,

1 Comment

Ubud

pada detik di meja kantor

orang pada menanti

“Kapan ini akan berhenti?”

yang sama selalu berulang

kau datang

lalu pulang

demi uang

(“Kantor. Maret, 2017)

 Hampir bisa dipastikan tidak ada seorang pegawai pun yang rela menghabiskan masa hidupnya di kantor. Itulah mengapa para karyawan bersorak ketika jumat datang dan bersedih saat senin menjelang. Itu semua manusiawi. Susunan fisiologis manusia memang diciptakan untuk bergerak dan melihat alam bebas, bukan duduk anteng dengan tumpukan dokumen di depan meja.

Bagi pegawai di wilayah Bali, saat-saat jenuh bekerja di kantor bisa diobati dengan berwisata bersama kerabat. Lari di tepian pantai Kuta, bersepeda di pantai Sanur atau mandi air hangat di bawah kaki Gunung Batur. Namun, seiring dengan meningkatnya arus wisatawan dalam dan luar negeri, dibeberapa titik pulau ini kepadatan dan keruwetan menjadi pemandangan jamak layaknya kota besar lain di Pulau Jawa.

Tapi jangan berkecil hati. Masih ada daerah yang bebas dari segala keruwetan itu. Salah satunya adalah Ubud. Berada di Kabupaten Gianyar, Ubud dapat ditempuh selama dua jam menggunakan sepeda motor dari Kecamatan Kuta. Waktu itu hari kamis, panas begitu terik menciptakan bayang-bayang di aspal jalan. Aku berkendaraan dengan motor sekitar pukul sepuluh pagi dengan membawa ransel berisi buku Sejarah Estetika dan baju ganti seadanya. Sepanjang jalan aku melihat rumah-rumah tradisional yang diubah menjadi showroom kesenian. Mereka menjual patung, relief, lukisan, ukiran kayu, meja, kerajinan tangan, kerajinan perak, buah-buahan, wayang, meja kayu dan produk kesenian lainnya. Read the rest of this entry »

, , , ,

Leave a comment

Bali Cliff

Tahun lalu saya pernah mengulas sebuah potensi wisata yang masih sepi pengunjung di selatan Kabupaten Badung, Bali, yaitu Pantai Bali Cliff. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi lokasi wisata ini pada tanggal 9 September 2012, pukul 17.00 WITA. Adapun kondisi pada saat itu yakni suhu diperkirakan 23-31 derajat celcius, langit cerah berawan, air laut surut menampakan hijaunya karang.

Semoga ulasan ini bisa menjadi informasi bagi anda yang mempunyai rencana berwisata ke Pulau Dewata. Terima kasih.

Ferry Fadillah, 10 September 2012

Foto oleh Yudha AP

, , , , , ,

Leave a comment

Air Terjun Gigit

"Jalan menuju The Twin Waterfall, Air Terjun Gigit, Bedugul, Bali"

Tadi, ketika matahari masih jauh dalam perjalanan menuju peraduannya, aku berjalan menuruni anak tangga yang dikelilingi pemandangan indah di kedua sisi-sisinya. Pohon, semak dan perdu lah yang menjadi pemandangan indah itu. Ketiganya berkolaborasi mencipta pemadangan yang begitu menenangkan hati. Dari kejauhan terdengar gemuruh air yang terhempas jatuh, semakin aku menuruni anak tangga  semakin dekat gemuruh itu terdengar.

"The Twin Waterfall, Air Terjun Gitgit"

Pada akhirnya, aku menemukan sebuah hal menakjubkan. Sebuah air terjun besar  tingggi, dengan airnya yang bening bersih, mencipta sebuah pengalaman keindahan yang memenuhi dimensi fisik dan spiritual sekaligus. Buihnya berhamburan, menampar halus sekelilingnya dan diriku, dan menjadikannya segar dan bersemangat. Dari tempatnya jatuh, sebuah kolam dengan dasar batu, menyala-nyala bak terbakar api biru dari dalamnya. Begitu indah nyala biru itu, menerangi apa yang sekelilingnya tidak terterangi.

Setelah cuku puas, aku pun kembali naik untuk melihat air terjun yang kedua. Sebuah air terjun yang sama tidak kalah indahnya. Kali ini aku mengangkat celana jeans ku hingga paha dan memasuki kolam hasil terjunan air tersebut. Ternyata, segar ! dingginnya merasuk hingga ke sumsum tulang belakang. Walau aura mistis terlukis dari dinding-dinding tebing yang dihiasi tanaman gantung, namun hal itu menjadikan air terjun tersebut, sekali lagi, terlengkapi secara fisik dan spiritual. Aku pun berlama-lama menikmati air di kakiku itu, sesekali mebasuhnya ke lengan dan muka. Memandangi dasarnya yang bening, dan melakukan basuh membasuh yang sama berulang-ulang seolah hendak memindahkan jiwa air terjun itu ke dalam diriku. Ternyata aku baru sadar, bahwa air terjun yang satu ini berbeda, ia kembar, bersama-sama selama berabad-abad mencipta keindahan ini, tanpa ada pertentangan dan perselisihan.

Tidak terasa, raga pun haus akan asupan energi, tubuhku lemas, dan mentari sudah mulai malu berlama-lama di angkasa. Aku menghirup dalam-dalam sekelilingku, memejamkan mata, seolah menyimpan semua memori yang telah aku lihat sedalam-dalamnya ke dalam relung jiwaku. Aku lambaikan tanganku kepada tempat menakjubkan itu, sebagai tanda terima kasih kepadanya. Tangga naik kembali aku susuri, terus keatas, sampai kepada gerbang antara keindahan dan rusaknya perbuatan manusia.

Bali, 27 Maret 2011
Ferry Fadillah

, ,

Leave a comment

Menikmati Tenangnya Suasana Pantai di Nusa Dua

oleh Ferry Fadillah

"Jalan sekitar pantai, pepohonan di kiri dan kanan jalan memberikan kesejukan yang alami"

Pulau Bali selalu menyuguhkan keindahan pantai yang sangat memukau. Pantai-pantai, yang pada umumnya indah itu, tentu memiliki suasana dan ciri khas yang berbeda. Suasana Pertokoan dan keramaian bisa anda nikmati di Pantai Kuta, suasana religius dan perbelanjaan bisa anda nikmati di tanah lot, serta suasana pantai yang  tenang ditambah rimbunnya pohon yang memberikan kesan sejuk, bisa anda nikmati di Nusa Dua.

Nusa Dua terletak di selatan Provinsi Bali. Tidaklah sulit menemukan daerah ini, karena petunjuk arah di beberapa sudut jalan bisa membantu anda mencapai nusa dua  tanpa perlu bersusah payah membuka peta. Jaraknya sekitar satu jam kurang dari pusat kota Denpasar. Tidak ada kendaraan umum yang melewati daerah ini, sehingga mau tidak mau anda harus membawa kendaraan pribadi atau menyewa mobil untuk mencapainya.

Nusa Dua merupakan kawasan elit yang dikelilingi hotel mewah bertaraf internasional, seperti Grand Hyatt Bali, Nusa Dua Beach Hotel, dan Novotel Nusa Dua. Sehingga hanya orang-orang yang rela merogoh kocek lebih dalam saja yang mampu menikmati keindahan pantai dengan fasilitas hotel yang serba wah.  Tapi bagi anda yang berkocek pas-pasan, tidak perlu khawatir, hanya dengan membayar retribusi parkir sebesar seribu rupiah, anda bisa menikmati pantai yang dibuka untuk umum, suasananya pun tidak kalah menarik dengan suasana pantai yang dinikmati dari hotel.

Jika anda memasuki Nusa Dua, anda akan merasakan suasana yang berbeda dengan pantai lainnya. Bayaknya pepohonan, menyebabkan daerah nusa dua berhawa sejuk dan tidak gersang. Kemewahan pun tercermin dari suasananya yang tenang, dan taman-taman yang indah. Bagi anda yang ingin berjemur, anda bisa menyewa alas tubuh yang disewakan di warung-warung sepanjang  pantai. Tidak hanya itu, warung-warung itu pun menjual beragam makanan ringan, kelapa muda, dan cinderamata.

"water blow, dimanfaatkan pengunjung untuk menikmati guyuran air laut"

Ada tempat menarik di sekitar pantai, yaitu water blow. Water blow sendiri merupakan semburan air laut yang mencapai daratan akibat menabrak tebing-tebing di sekitar pantai. Tinggi gelombangnya variatif, tergantung besarnya ombak yang menampar tebing. Semburan ini, yang menyerupai air mancur, dimanfaatkan beberapa orang untuk mandi dan bercengkrama dengan teman-temannya. Ada pula Gazeebo yang digunakan beberapa orang untuk istirahat sambil menikmati tenangnya air laut.

Sebetah apapun anda di nusa dua, tetap saja anda harus terpisahkan oleh datangnya malam. Tapi tenang saja, suasana pantai yang anda nikmati akan terus berbekas dalam otak anda, dan menjadi sebuah pengalaman berharga dalam hidup. Belum lagi, indahnya pantai di nusa dua, semoga membuat kita tersadar akan Keagungan Tuhan yang dengan segala kelebihannya telah menciptakan penampakan alam yang begitu indah.

"ombak yang menampar tebing"

"suasana laut dari gazebo"

"pantai yang relatif sepi, dimanfaatkan untuk berjemur"

, ,

6 Comments