Archive for May, 2012

Berbagi

Kikir. Sulit rasanya mengeluarkan sedikit saja untuk kesejahteraan umat manusia. Bahkan dalam lingkup yang terkecil : keluarga sendiri. Namun kenapa ada yang aneh rasanya. Semakin ditumpuk semakin merasa kekurangan. ‘Ada apa ini ? ‘, Tanya seorang bangsawan ke lepas laut. Namun hanya angin dan buliran air laut yang membalas menerpa wajah.

Seorang agamawan dengan bijak dan celoteh sederhananya menejelaskan pentingnya berbagi kepada masyarakat sekitar. Ketika itu sang bangsawan khidmat mendengarkan. Pertama ia acuh tak acuh tetapi kemudian ia bergumam dalam hati,”Ada benarnya juga kata agamawan itu”

Setelah merefleksikan segala tindak tanduk kehidupannya selama ini, dalam gelap malam dan dinginnya air hujan. Ia mendapat pencerahan. Sebuah hal yang akan membawa ia kepada kebahagiaan sejati yang tidak akan pernah terkikis habis oleh waktu maupun semangat zaman yang selalu berubah.

BERBAGI. Sebuah oase di tengah padang pasir hiruk pikuk keegoisan manusia.

Karena Hukum dasarnya adalah semakin banyak kita berbagi semakin sering kita bahagia

Ferry Fadillah
Bali, 30 Mei 2012
Advertisements

, , ,

Leave a comment

Yang Seharusnya dengan Yang Ada

Pertama, saya tidak pernah menyatakan dengan resmi bahwa tulisan  ini merupakan manifestasi kegalauan anak muda.

Kedua, saya begitu menaruh hormat kepada setiap munusia yang membaca tulisan ini dengan tanpa prasangka terlebih dahulu, terbuka, dan tulus ikhlas menerima perbedaan perspektif.

***

Butuh keberanian besar unutk menjungkirbalikan suatu nilai bukan ? Apalagi ketika nilai itu sudah mengakar kuat dalam sistem sosial tertentu dan anggota dari sistem itu sudah tertidur pulas untuk mengkritisi benar atau tidak nya nilai yang mereka anut selama ini.

Namun bagi sebagian orang, yang tercerahkan, yang berani mempertanyakan nilai-nilai yang sudah tertancap itu, maka akan ada selalu pertentangan antara apa yang ada  dengan apa yang seharusnya ada.

Beberapa orang dengan kekuatan ekonomi, politik, strata sosial, keningratan dan sebagainya sukses memperjuangan nilai-nilai yang seharusnya ada dalam sistem sosial. Namun di sisi lain, mereka dengan semangat perubahan tinggi, namun dengan segala keterbatasan ekonomi, politik, strata sosial, keningratan, fisik dan sebagainya hanya bisa bergumam dalam hati dan berdoa kepada yang Kuasa akan stabilitas sistem sosial yang ideal di masa depan.

Ada pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir keras ?

Apa ia  perubahan itu harus dimulai dengan segala keber-ada-an kita. Kalau memang kita mampu, ber-ada-, bisa, maka dimana letak perjuangannya?

Perjuangan untuk membalikan nilai-nilai yang seharusnya ada dalam suatu sistem sosial lah yang menjadi kesolehan jalan hidup bagi mereka yang menjalaninya. Dengan keterbatasan ia berjuang dengan cara masing-masing, tidak mengharap doa, uang atau berkah dari agamawan.

Dan pada titik maksimal, ketika perjuangannya selesai dibawah garis kehendak Tuhan, maka kehidupannya akan menjadi inspirasi bagi kehidupan sesama.

Terpujilah mereka para pejuang.

Terkutuklah mereka yang lama tertidur.

Ferry Fadillah
Bali, 29 Mei 2012

, ,

Leave a comment

Sudah Benar Agama Kita ?

“Jembatan menuju…”

Masih perlukah kita beragama ? ber-Tuhan ?

Agama-, agama, agama.

Inikah biang keladi permusuhan bani adam di muka bumi. Kalau iya, mengapa masih saja orang memegang teguh agama, bahkan dengan gigi geraham mereka ?

Tuhan.

Pernah kita tahu rupanya ? pernah kah kita berfikir bahwa Tuhan yang kita sembah benar-benar Tuhan Semesta Alam, the real God/Gods ?

Seorang kawan berpendapat, “Dasar sesat! Untuk apa kau tanya semua itu, kerjakan saja perintah Agamamu dengan sebaik-baiknya. Agama itu untuk dikerjakan, bukan diperdebatkan!”

Ya setuju, namun langkah awal kita sebagai makhluk ber-akal adalah mengkritisi (dalam arti positif) agama terlebih dahulu, ketika semuanya bisa kita cerna dengan paripurna, dapat kita terima dengan ketebalan tekad, baru kita laksanakan segala ajaran yang ada di dalamnya dengan sadar dan tanpa paksaan dari hal apapun.

Jangan sampai keyakinan kita, malah menuntun kita ke jalan yang salah.

Karena hidup hanya sekali.

, , , , ,

Leave a comment

Keusangan

“Taman Oejoeng Karangasem oleh Ferry Fadillah”

Selalu saja kita lupa atau bahkan merasa jijik dengan keusangan, anti kemajuan, kemandegan. Untuk memikirkannya pun kiranya kita tidak sudi. Cih, untuk apa, apa gunanya ? Mungkin hardik hati kita. Namun yang mandeg itu, yang anti maju itu, yang usang itu punya sisi lain jika kita bijak melihatnya, jika kita mau mengambil pelajaran. Bukankah dunia ini diciptakan sebagai karya seni yang tidak tertandingi. Adapun tuan dan nyonya yang harus ‘merasakan’ cita rasa seni itu dari berbagai perspektif. Pun dalam keusangan yang tak terperikan.

Ferry Fadillah

Leave a comment

Setelah Gelap Terbitlah Terang

“Tidak hanya seorang emansipator wanita yang boleh berbicara klausa ini, dalam kasus yang lebih luas ini meliputi segala hal. Bunyinya mungkin bisa berubah, namun hukumnya akan selalu tetap. Roda bergulir, sesuatu tidak ada yang pasti  maupun abadi.  Duka menjadi Suka. Murka menjadi Tawa. Jika cahaya itu pasti akan datang, lalu apa lagi yang kita khawatirkan ?”

Ferry Fadillah, 20 Mei 2012


, , ,

2 Comments

Canaksa Turut Berduka

Tanpa merasa lebih shaleh, lebih bijaksana dan lebih tahu, saya turut berduka atas musibah yang terjadi di daerah priangan. Semoga para korban ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan. Keluarga korban dapat ikhlas dan sabar melihat yang mereka sayangi harus meninggalkan dunia ini dengan cepat. Dan semoga kita semua, penghuni yang masih ada di dunia ini, dapat belajar banyak dari tragedi ini, tragedi yang pada hakikatnya perjalanan saudara kita (korban) ke dunia abadi tanpa penderitaan.

Amin

, , , , , ,

Leave a comment

Kami Mohon Pendidikan

Saat duduk di meja komputer dengan tumpukan kertas di sebelah kanan dan kiri, Saya melayangkan lamunan ke awal-awal masa pendidikan. Ketika buku, diskusi dan semua yang berbau ilmu pengetahuan begitu dekat dengan urat nadi. Cita-cita, harapan, impian begitu kuat menarik otot untuk terus berusaha dan belajar.

Kini realita berbicara lain, ketika cita-cita harus duduk manis di bawah kuasa raison d’etre  yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun dapat digambarkan oleh kondisi tragis manusia Indonesia pada umumnya : terbentur masalah ekonomi. Cita-cita harus dinegoisasi ulang dengan pertimbangan finansial. Jika saya menjadi ini untungkah ? Jika saya menjadi itu rugikah ? Pada saat itu profesi yang memberikan keuntungan lebih menjadi cita-cita itu. Cita-cita yang dipaksakan, yang ada setelah diri kita dicemari pikiran jahat ekonomi-modern.

***

Tiba-tiba suara keras terdengar dari tumpukan dokumen yang tejatuh keras ke lantai. Saya terbangun, saya sadar, ada banyak tugas di depan saya. Cita-cita ? Ada yang lebih besar dari pada itu semua, loyalitas terhadap Negara ? Karena Negara telah memberi kita wadah untuk hidup, memberi kita secerca harapan untuk meneruskan perjuangan, memberi kita modal untuk mensejahterakan diri sendiri dan keluarga bahkan lingkungan sekitar. Lantas, tegakah kita terlarut dalam lamunan masa lalu, dan menyiksa Negara kita sendiri dengan menelantarkan tugas-tugas yang seharusnya kita pikul dengan riang gembira. Saya tidak sampai hati melakukan itu.

Namun ada satu permintaan saya kepada Negara. Saya, mungkin bisa dikatakan buruh Negara, pegawai sekecil-kecilnya di sebuah institusi, berada pada urutan terbawah dalam struktur organisasi namun perasaan menggebu akan pendidikan yang berlanjut terus menghantui pikiran saya. Saya tidak ingin menjadi buruh selamanya, saya ingin nanti berdiri tegak sejahtera dengan beberapa anak buah di bawah saya. Saya ingin hidup tenang dengan keberlimpahan. Secara matematis, itu mustahil ! Tapi tidak masalah, kembali ke permintaan awal, saya meminta pendidikan yang layak bagi kami sehingga kami dapat beranjak dari gelapnya pola pikir ke terangnya pola pikir.

Pendidikan yang bukan semata dicari untuk kepentingan kepangkatan atau jabatan tertentu, tetapi pendidikan yang kita dalami berdasarkan passion kita sendiri, yang menghaluskan budi pekerti kita agar menjadi aparat yang lebih professional dan bertanggung jawab.

Saya cinta pengetahuan wahai ibu pertiwi, maka bantu kami anak-anak mu ini untuk mencapai semua itu. Sebuah pendidikan humanis, bukan pendidikan yang dipaksakan kepada kami agar kami menjadi pekerja selamanya. Pendidikan yang membuka wawasan kami akan kompleksnya masalah kehidupan. Pendidikan yang nantinya menciptakan ribuan buruh Negara ‘baru’ yang lebih bersemangat, professional sesuai tugas mereka masing-masing.

Dari pendidikan ini lah budaya kerja kita berubah.

Dari budaya kerja itulah, kemajuan Negara kita raih.

Mungkin ibu pertiwi bertanya, Jika semua buruh menjadi atasan lalu siapa yang akan bekerja di lini terdepan ? Tidak masalah ibu, menjadi buruh atau pekerja di lini terdepan tidaklah menjadi masalah, yang terpenting saat ini otak kita terisi oleh asupan gizi pendidikan. Minimal kita menjadi manusia yang ditinggikan derajatnya oleh pendidikan, Yang dapat berjalan dan bekerja anggun dengan semangat ilmu pengetahuan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Mei 2012

, , ,

4 Comments

Bacot Saya Mengenai Budaya

Saya gigih soal itu karena, pertama, saya orang batak. Kedua, masih banyak anak muda batak, juga dari etnis lain, yang malu mengakui asal etnisnya. Saya ingin mengembalikan mereka kepada budayanya. Karena jika setiap etnis di Indonesia ini kuat budayanya, Indonesia pun akan menjadi Negara yang kuat dan terpandang di dunia internasional, Viky Paulus Sianipar, Musisi dan Komposer (dalam Kompas edisi 8 Mei 2012)

***

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, ketika jiwa ini begitu menggebu-gebu menggali nilai-nilai budaya yang saya punya : Budaya Sunda. Banyak artikel, wacana, buku atau petuah sunda yang saya lahap, saya cerna dan saya coba terapkan dalam kehidupan. Sayangnya orang mempunyai perspektif negatif dengan kegemaran saya itu, saya dikatakan kolot, tua dan ketinggalan zaman. Dalam batin saya mengelak, bahwa saya berjalan di jalan yang benar, sebuah proses menuju keontentikan identitas.

Opini negatif sialnya datang dari manusia angkatan baru (muda), yang disematkan kebanggaan agent of change, yang katanya dapat merubah kehidupan berbangsa kita yang kian hari kian hilang kehormatan di dunia internasional, tetapi nyatanya malah jauh dari nilai budayanya sendiri. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan mereka semua, dan saya menaruh rasa hormat yang tingi kepada manusia baru (muda) yang rela mengerahkan segala daya dan upaya untuk menggali dan merevitalisasi nilai-nilai budaya luhur melalui cara-cara mereka sendiri : musik,kegiatan sosial, fesyen dan sebagainya.

Mungkin kita bertanya ? Untuk apa sih saya cerewet masalah budaya ini toh yang penting kita menjadi manusia cerdas dan sejahtera ? Ok saya setuju pendapat itu, namun terus terang ada yang ganjil. Saya ingin manusia muda itu menjadi cerdas dan sejahtera dengan cara mereka sendiri, otentik, berbalut budaya leluhur mereka, bangga dengan etnis mereka namun tidak terjebak dalam etnosentrisme sempit-mengagungkan etnis dan budaya sendiri serta memandang rendah etnis dan budaya lain.

Saya menggebu-gebu karena di Bali para wisatawan asing begitu terkesima melihat budaya materi kita : seni tari, lagu-lagu, ritual-ritual. Karena mereka melihat luhurnya budaya kita, cerminan dari kedekatan para leluhur kita dengan Tuhan, alam dan kehidupan sosial. Berbeda dengan kebudayaan materi post-modernisme yang dipenuhi banalisme, kerendahan, bentukan kekuasaan korporat budaya dan jauh dari nilai-nilai transenden.

Ah, sebenarnya masih banyak yang harus saya sampaikan sampai-sampai saya bingung apa inti dari tulisan ini. Untuk mengakhirinya, saya dengan rasa hormat dan tanpa memandang diri paling peduli, mengajak kepada pembaca untuk kembali menggali nilai-nilai budaya kita, mencari tahu siapa kita, siapa leluhur kita, bagaimana seharusnya kita hidup dengan identitas kita itu.Namun janganlah bingung masalah etnis, suku, karena saya memandang etnis atau suku sebagai value bukan sebagai gen. Bapa saya seorang sunda, Ibu saya seorang padang, namun saya lahir di tanah sunda, hidup di lingkungan sunda, cinta budaya sunda dan berinteraksi dengan orang sunda, maka saya berikrar saya telah ber-value sunda dan pada saat itulah saya menjadi seorang sunda.

Ingat, suku itu adalah nilai bukan gen. Maka cintailah etnisitas mu.

Ferry Fadillah
Bali, 8 Maret 2012

“Sekelompok orang menggunakan pakaian adat sunda di Braga Festival tahun lalu, Bandung, Jawa barat”

, , , ,

5 Comments

Kebebasan dan Pertimbangannya

“Bebas!”

Era Informasi, keterbukaan, semua bebas beropini, semauanya, konstruktif maupun destruktif. Orang gegap gempita manyambut era ini, namun saya cemas, begitu banyak informasi yang masuk ke otak saya, mempengaruhi saya, mereka melebihi kapasitas otak saya, saya takut menjadi mesin-yang berjalan atas kuasa di luar dirinya.

Menjamur karya-karya populer yang menjual ide-ide kebebasan. Kebebasan dalam menentukan takdir, pekerjaan, gaya hidup, pasangan hidup atau pandangan hidup. Semuanya saya rekam dengan baik dalam otak saya. Satu ide dengan ide lain ada yang berkolerasi, banyak pula yang kontradiksi, bahkan kontraproduktif.

Saya ingin menjadi, apa ia saya akan menjadi. Apa ia manusia punya keinginan ? jika ia, apa benar itu keinginan murni dari diri kita, atau utopia sesaat karena informasi yang baru saja kita dengar. Passion ? saya dengar kata asing itu, dan saya setuju jika kita bekerja/hidup dengan passion maka kita akan merasakan kebebasan itu. Bekerja/hidup tanpa paksaan sepadan dengan kebebasan bukan ?

Suatu ketika saya mengkaji ulang ide-ide mengenai kebebasan ini. Apa saya harus menjadi manusia bebas ? Berkarir sesuai keinginan ? Menyepak segala batas-batas yang ada dalam budaya kita ?

Dalam hati saya menjawab, ya, saya ingin menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya. Menjadi diri saya sejadi-jadinya. Bekerja sesuai minat saya sepuas-puasnya. Menyepak segala prasangka orang tentang saya. Namun saya sadar, saya manusia, saya hamba, saya mikro, saya inferior dibanding semesta yang begitu luas ini.

“Apa yang baik menurutmu, belum tentu baik bagimu, bisa jadi apa yang kamu anggap buruk, itu baik bagimu”

Kalimat itu terus terngiang dalam telinga saya. Itu kata-kata Tuhan ! Setelah itu saya tertunduk, bahwa saya banyak kekurangan, saya makhluk !

Sejak itu saya hormati perasaan mereka yang mencintai saya. Mereka yang bangga dengan keadaan saya seperti ini. Tabu-tabu yang mengatur kehidupan orang-orang agar selaras dengan alam dan harmoni dengan pesan Tuhan. Firman-firman yang sepertinya mengekang, namun bermakna kasih sayang bagi para hamba.

Sebagai penutup, saya mengutip surat Kartini kepada Nona E.H. Zeehandelar pada tanggal 23 Agustus 1900 (dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Door Duisternis tot Licht, halaman 78, Penerbit Narasi)

“Saya akan memperjuangkan kebebasan saya. Saya mau stella, saya mau mendengarkan kamu ? bagaimana mungkin saya akan mendapat kalau saya tidak mencari ? Tanpa perjuangan tidak ada kemenangan. Saya akan berjuang stella. Saya ingin merebut kebebasan saya. Saya tidak gentar menghadapi keberatan dan kesulitan, saya merasa cukup kuat mengatasinya, tetapi ada sesuatu yang saya anggap sangat berat Stella. Saya telah berulang kali mengatakan kepadamu, bahwa saya amat sangat mencintai Ayah. Saya tidak tahu, apakah saya akan berani melanjutkan kemauan saya jika dengan perbuatan itu saya akan mematahkan hatinya yang berdetak penuh cinta kepada kami. Saya mencintai ayah saya yang telah tua dan beruban. Tua dan beruban karena memeras pikiran untuk kami, untuk saya. Dan kalau seorang dari kami berdua harus celaka juga, biarlah saya yang celaka. Juga disini tersembunyi sifat memikirkan diri sendiri, sebab saya tidak akan dapat berbahagia apabila untuk mendapat kebebasan, kemerdekaan dan bertegak sendiri itu akan membuat ayah celaka.”

 

Ferry Fadillah
Bali, 6 Mei 2012

, , , ,

Leave a comment

3 Dimensi Kehidupan dari Alam

Negara Indonesia, sudah ‘terberi’ sebagai kepulauan yang terbentang dari barat ke timur dengan sejuta keindahan di tiap-tiap tanahnya. Hutan yang menghijau di Kalimantan, gunung yang bertumpuk-tumpuk di Jawa Barat, pantai yang indah di Bali, stepa dan sabana yang damai di Nusa Tenggara Timur. Akan tetapi sebagian dari kita merasa biasa saja hidup di kubangan emas ini, bahkan ada yang acuh tak ambil sikap peduli.

Alam yang terberi saya lontarkan di awal tadi. Karena keindahannya sudah ada dari sananya/given/made by something, sehingga fungsi kita hanyalah merekontruksi alam menjadi pemenuh tiga dimensi kehidupan. Pertama, dimensi spiritual, dengan terawatnya alam, maka siapa saja yang melihat akan berpikir agungnya Sang Pencipta, karena alam made by something. Kedua, dimensi ‘isi perut’, kasarnya apa sih yang tidak ada di alam semesta ini yang tidak bisa dimakan, maka dari itu buatlah persawahan, ladang-ladang dsb, namun harus pula diperhatikan keramahan lingkungannya. Ketiga, dimensi pariwisata, garapan kita di alam hendaknya dibentuk dengan estetika atau cita rasa seni yang tinggi agar bernilai pariwisata. Misalnya, sawah tentu hal biasa bagi orang di Pulau Jawa karena kita hidup disekitar sawah (pedesaan), namun bagi wisatawan dari eropa dan arab, sawah merupakan hal unik, langka di negaranya, maka dari itu kembangkanlah persawahan yang bernilai seni dan bernilai ekonomi agar ke-3 dimensi yang saya paparkan tadi terpenuhi.

Pendek kata, selamat malam, semoga kita selalu terinspirasi oleh Alam.

Salam

“Pemandangan Terasering di Jatiluwih, Bali”

Gambar diatas adalah terasering di Jatiluwih, Bali. Bagi sebagian orang, sawah adalah hal biasa, namun bagi wisatawan asing dari Negara Eropa yang beriklim beku dan Negara Arab yang beriklim panas ekstrim pemandangan ini merupakan oase dari segala kedataran pemandangan di negara mereka. Buktinya, mereka tampak bahagia berfoto disana, bercengkrama bersama kerabat di cafe-cafe yang mengambil set terasering ini. Sayang beribu sayang, jalan menuju lokasi masih sempit dan berlubang, apa ini tanda manusia yang acuh hidup di kubangan emas ?

Ferry Fadillah
Badung, 5 Mei 2012

, ,

Leave a comment

Bumi Tuhan di Maumere

Maumere, Nusa Tenggara Timur, daerah asing bagi saya, yang tidak pernah terpikir sebelumnya untuk dikunjungi. Namun Tuhan selalu punya rencana indah. Rabu, 2 Mei 2012 saya diberikan tugas memonitoring Kantor Bea dan Cukai di Maumere. Awalnya saya bingung, cemas, karena pesawat yang akan ditumpangi sejenis ATR, namun setelah googling dan melihat potensi wisata di kepulauan sunda kecil ini, hati saya perlahan tenang. ‘Setelah tugas selesai akan saya telusuri pesisir utara pulau ini’, bisik saya dalam hati.

Perjalanan memakan waktu 2 jam dari Banda Udara Ngurah Rai ke Bandara Udara Frans Seda. Cuaca cerah dengan dengan kecepatan angin rendah dan awan yang tipis, sehingga saya bisa jelas melihat deretan kepulauan sunda kecil yang indah dari angkasa.

Di pesawat sekumpulan bule tua begitu gaduh dan ndesoni, mungkin takjub, mengambil foto pemandangan di kiri dan kanan pesawat.

Lupakan pendaratan, lupakan pekerjaan, lupakan sepinya kota Maumere.

Kamis sore setelah selesai bekerja, saya diajak kepala kantor setempat menyusuri jalan di pesisir utara Kota Maumere. Dan silahkan anda saksikan sendiri keindahan di Bumi Tuhan ini. Terimakasih

“Penulis dengan pegawai KPPBC Tipe B Maumere”

, , , ,

14 Comments

Imajinasi menghadirkan Tuhan

"Imajinasi Tuhan dalam Materi"

Pertama, maafkan saya atas beribu libido yang tidak bisa saya kendalikan sehingga, tanpa mengurangi keagungan eksistensi Tuhan di dunia ini, saya dengan lancang melanggar tabu, norma dan kode sosial dalam kesendirian.

Pertanyaan saya sederhana : mengapa hasrat / libido sulit dikendalikan walaupun sel otak telah dipenuhi jutaan konsep, dogma dan ide mengenai dampak teologis dan sosial dari suatu perbuatan (terpuji/tercela)?

Setan/Iblis ? Terlalu jauh menurut saya untuk mengkambinghitamkan bangsa mereka. Bukankah pergolakan anatara akal dan hasrat terjadi di dalam diri kita sebagai subjek dan terlepas dari peran subjek (fisik/ghaib) lain dari luar diri kita ? Karena haikatnya : Diri kita (akal) adalah kuasa diri kita (subjek)

Herannya, dalam berbagai kasus kontemporer khususnya yang berkaitan dengan hasrat, dalam peperangan antara akal dan hasrat, hasrat sering mengalahkan akal. Wacana khilaf, kerasukan, mabuk dan seterusnya menjadi benteng terakhir untuk merasionalisasi kalahnya akal oleh hasrat ini.

Melihat lemahnya akal melawan hasrat, dalam seiap pertempuran tentu dibutuhkan senjata bagi akal untuk mengubah posisinya selama ini. Persoalannya adalah senjata apakah yang dapat membantu akal ? bentuknya, materikah atau non-materikah ?

Akal dalam persepsi umum tergolong unsur non-materi, abstrak, tidak terjabarkan. Maka yang non-materi seharusnya dipasangkan/dipadupadankan dengan yang non-materi. Lalu apa senjata non-materi itu ? Dalam sebuah konsep agama, kita mengenal kata IMAN, sebuah tanda yang terdiri dari 3 unsur yang saling dan harus sinergi : ucap, hati dan laku.

Saya berucap ‘saya percaya Tuhan’, Saya meyakini ‘Tuhan itu ada’ dan saya berlaku seolah-olah Tuhan itu mengawasi. Lalu korelasinya dengan pengendalian hasrat ? Perhatikan frasa ke-3 : saya berlaku seolah-olah Tuhan itu mengawasi. Ia hadir, walaupun dalam imajinasi kita, mengawasi, melihat tiap mm kehidupan kita sehingga kita malu melakukan perbuatan yang melanggar norma, agama atau tabu, dalam kata lain perbuatan yang memposisikan akal kita inferior dibanding hasrat.

Ia- kita hadirkan dalam imajinasi kita padahal Ia adalah exist/ada secara nyata namun Ia non-materi, tidak dapat terdefisinikan dalam dunia transenden, maka imajinasi kitalah satu-satunya alat untuk  ‘menghadirkan Tuhan’ dalam segala pergolakan hasrat dengan akal.

Imajinasi menghadirkan Tuhan kiranya senjata yang diperlukan itu.

Kab. Badung, 1 Mei 2012

sumber gambar : http://justinachilli.com/2011/01/04/oh-god/

, , ,

Leave a comment