Posts Tagged pendidikan

Kami Mohon Pendidikan

Saat duduk di meja komputer dengan tumpukan kertas di sebelah kanan dan kiri, Saya melayangkan lamunan ke awal-awal masa pendidikan. Ketika buku, diskusi dan semua yang berbau ilmu pengetahuan begitu dekat dengan urat nadi. Cita-cita, harapan, impian begitu kuat menarik otot untuk terus berusaha dan belajar.

Kini realita berbicara lain, ketika cita-cita harus duduk manis di bawah kuasa raison d’etre  yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun dapat digambarkan oleh kondisi tragis manusia Indonesia pada umumnya : terbentur masalah ekonomi. Cita-cita harus dinegoisasi ulang dengan pertimbangan finansial. Jika saya menjadi ini untungkah ? Jika saya menjadi itu rugikah ? Pada saat itu profesi yang memberikan keuntungan lebih menjadi cita-cita itu. Cita-cita yang dipaksakan, yang ada setelah diri kita dicemari pikiran jahat ekonomi-modern.

***

Tiba-tiba suara keras terdengar dari tumpukan dokumen yang tejatuh keras ke lantai. Saya terbangun, saya sadar, ada banyak tugas di depan saya. Cita-cita ? Ada yang lebih besar dari pada itu semua, loyalitas terhadap Negara ? Karena Negara telah memberi kita wadah untuk hidup, memberi kita secerca harapan untuk meneruskan perjuangan, memberi kita modal untuk mensejahterakan diri sendiri dan keluarga bahkan lingkungan sekitar. Lantas, tegakah kita terlarut dalam lamunan masa lalu, dan menyiksa Negara kita sendiri dengan menelantarkan tugas-tugas yang seharusnya kita pikul dengan riang gembira. Saya tidak sampai hati melakukan itu.

Namun ada satu permintaan saya kepada Negara. Saya, mungkin bisa dikatakan buruh Negara, pegawai sekecil-kecilnya di sebuah institusi, berada pada urutan terbawah dalam struktur organisasi namun perasaan menggebu akan pendidikan yang berlanjut terus menghantui pikiran saya. Saya tidak ingin menjadi buruh selamanya, saya ingin nanti berdiri tegak sejahtera dengan beberapa anak buah di bawah saya. Saya ingin hidup tenang dengan keberlimpahan. Secara matematis, itu mustahil ! Tapi tidak masalah, kembali ke permintaan awal, saya meminta pendidikan yang layak bagi kami sehingga kami dapat beranjak dari gelapnya pola pikir ke terangnya pola pikir.

Pendidikan yang bukan semata dicari untuk kepentingan kepangkatan atau jabatan tertentu, tetapi pendidikan yang kita dalami berdasarkan passion kita sendiri, yang menghaluskan budi pekerti kita agar menjadi aparat yang lebih professional dan bertanggung jawab.

Saya cinta pengetahuan wahai ibu pertiwi, maka bantu kami anak-anak mu ini untuk mencapai semua itu. Sebuah pendidikan humanis, bukan pendidikan yang dipaksakan kepada kami agar kami menjadi pekerja selamanya. Pendidikan yang membuka wawasan kami akan kompleksnya masalah kehidupan. Pendidikan yang nantinya menciptakan ribuan buruh Negara ‘baru’ yang lebih bersemangat, professional sesuai tugas mereka masing-masing.

Dari pendidikan ini lah budaya kerja kita berubah.

Dari budaya kerja itulah, kemajuan Negara kita raih.

Mungkin ibu pertiwi bertanya, Jika semua buruh menjadi atasan lalu siapa yang akan bekerja di lini terdepan ? Tidak masalah ibu, menjadi buruh atau pekerja di lini terdepan tidaklah menjadi masalah, yang terpenting saat ini otak kita terisi oleh asupan gizi pendidikan. Minimal kita menjadi manusia yang ditinggikan derajatnya oleh pendidikan, Yang dapat berjalan dan bekerja anggun dengan semangat ilmu pengetahuan.

Ferry Fadillah
Bali, 9 Mei 2012
Advertisements

, , ,

4 Comments

Perguruan Tinggi Kedinasan, Apa Kata Mahasiswanya?

oleh FERRY FADILLAH

Pelajar SMA, pada umumnya, memiliki banyak impian yang ingin mereka capai di masa depan. Dokter, insinyur, guru, psikolog, diplomat, tentara, polisi, PNS, pengusaha dan bahkan yang hanya menyebutkan ‘membahagiakan orang tua’ yang tidak jelas bagaimana caranya tapi jelas tujuannya. Semua impian itu biasanya menjadi motivasi kuat bagi siswa SMA dalam menghadapi Ujian Nasional maupun SNMPTN. Diskusi bersama, tambahan jam pelajaran, mengikuti bimbingan belajar, ditambah membaca buku di waktu luang telah menjadi zat adiktif bagi siswa SMA yang  menggebu-gebu untuk menembus Perguruan Tinggi Favoritnya, yang tentu dengan harapan akhir : tercapainya impian mereka melalui PTN Favorit.

Bagi mereka yang menginginkan cepat mendapat pekerjaan, terllilit sulitnya hidup untuk sekedar makan dan yang paling keren, mengabdi kepada negara tentu akan memilih Perguruan Tinggi Kedinasan sebagai penghilang dahaga mereka selama ini. Murahnya biaya pendaftaran dan dibebaskannya biaya pendidikan telah menciptakan gelombang manusia muda penuh harap dari tahun ke tahun untuk mencoba peruntunganya mengikuti tes saringan masuk Perguruan Tinggi Kedinasan. Diantara mereka ada yang belajar keras membuka buku tes tahun sebelumnya dan bahkan melewati jalan setan, bermain dengan kelicikan dan kepicikan.

Saya sendiri sampai saat ini terdaftar secara sah sebagai salah satu mahasiswa Prodip I Sekolah Tinggi Akutansi Negara di Kota Denpasar. Sebuah balai diklat yang dihuni oleh 27 mahasiswa yang mayoritas dari pulau jawa ini, merupakan pendatang baru di Kota Denpasar yang selalu terkagum-kagum dengan keindahan Pulau Dewata, sehingga tidak heran jika waktu senggang di gunakan untuk melancong bersama kawan ke setiap sudut pulau ini. Perbincangan seputar Pulau Dewata pun menjadi topik hangat di awal-awal tahun pelajaran.

Menjadi mahasiswa kedinasan yang berada di bawah naungan Kementrian Keuangan tentu memberikan angin segar bagi orang tua masing-masing karena tidak perlu repot merogoh kocek untuk biaya pendidikan. Berbeda dari angin segar itu, mahasiswa dalam kesehariannya seringkali mendapatkan angin ribut yang begitu mencekam dan menyita fikiran, diantaranya :

  1. Kekasih. Sebelum meninggalkan kampung halaman masing-masing, mahasiswa biasanya telah terikat cinta dengan seorang kekasih. Rasa cinta yang menggebu-gebu selama di kampung halaman harus tertunda karena kewajiban merantau ke tanah orang. Maklum saja jika ditemukan beberapa sisiwa yang muram mukanya, akibat ditinggal pergi sang kekasih. Bagi mereka yang belum memiliki kekasih, tampaknya akan sulit untuk menemukannya di tanah rantau, perbedaan agama dan budaya sering menjadi kendalanya. Tidak heran jika Face Book telah menjadi biro jodoh bagi para mahasiswa dalam pencarian kekasih yang sebudaya dan seagama.
  2. Bayang-banyang penempatan. Sebuah surat pernyataan akan ditempatkan diseluruh wilayah republik indonesia sudah harus ditandatangani mahasiswa kedinasan di awal tahun pelajaran. Luasnya wilayah negara kita telah membuat bulu roma sebagian mahasiswa berdiri, doa-doa dan jampi agar ditempatkan di kota-kota besar selalu keluar dari mulut mereka di persembahyangan. Wajar saja jika mereka takut dengan wilayah negara ini yang besar, siapa juga yang mau menjaga perbatasan negara ini, jauh dari hingar bingar kota dan manusia? Pasti ada yang mau, dan tentu lebih kepada ‘mau tidak mau harus mau’.
  3. Hilangnya masa muda. Masa muda tentu merupakan hal yang begitu menarik untuk di ceritakan turun menurun. Cerita berorganisasi, mendaki gunung dengan pencita alam, berdiskusi dengan aktivis-aktivis telah menjadi keseharian mahasiswa perguruan negeri sehari-hari. Tapi bagi mahasiswa kedinasan, hari-hari merupakan kewajiban untuk memelototi tumpukan peraturan-peraturan yang seolah tidak ada habisnya. Masa perkuliahan yang singkat, telah memangkas waktu muda mahasiswa PTK dan menjadikannya bapak-bapak kantoran sebelum waktunya.
  4. Gayusisme. Ah, tak perlu panjang lebar sepertinya membahas hal ini. Gencarnya media masa memberitakan kasus gayus dan keterkaitannya dengan dirjen pajak dan tentu saja kementrian keuangan telah mencoreng keluarga besar kementrian ini. Termasuk kami, siapapun yang tahu sekolah kami pasti akan dengan gaya so suci bertegur sapa,”owh STAN, gayus yah, jangan macem-macem yah.”

Begitulah poin-poin yang bisa saya jabarkan hasil keluh kesah kawan-kawan selama ini. Bagi anda yang berminat melanjutkan kuliah atau mengikutkan anak kuliah ke Perguruan Tinggi Dinas tentu haru berfikir matang-matang sebelum bertindak. Hidup hanya sekali, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Salam Sukses, Bahagia Selalu

,

Leave a comment

Ujian Hanya Mengejar Nilai

oleh Ferry Fadillah

"ujian"

Ujian adalah sebuah ritual yang wajib ditempuh siswa dalam periode tertentu guna menilai kemampuan akademik yang telah diperoleh dari lembaga pendidikan. Bentuknya bisa beragam, tertulis maupun lisan.

Sepertinya, semua lembaga pendidikan di manapun saat ini telah meyakini bahwa ujian sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh ukuran kemampuan siswa dalam bidang akademik.

Penyelenggara SMP akan mengadakan ujian seleksi masuk bagi siswa SD yang ingin melanjutkan sekolahnya. Perguruan Tinggi akan mengadakan Ujian Saringan Masuk untuk menyeleksi siswa SMA yang mendaftar ke kampusnya. Semua memerlukan ujian, dan muara dari semua ujian adalah mendapatkan nilai yang sempurna.

Secara normatif nilai sempurna didapat dengan cara belajar tekun dan konsisten, tapi pada pelaksanaanya terkadang proses belajar seperti ini di nomor dua kan oleh mereka yang terbiasa mendewakan uang dan relasi khusus. Sudah bukan barang aneh jika kita mendengar seorang siswa yang membayar sekian rupiah untuk masuk sekolah tertentu, sudah lazim jika kita dengar ada siswa yang memanipulasi sertifikat prestasi untuk mendapatkan sekolah idaman, dan sudah biasa jika anak guru selalu mendapat jatah bersekolah ditempat kerjanya.

Karena yang menjadi tolak ukur keberhasilan siswa adalah nilai yang sifatnya material (matter=benda), maka tidaklah heran jika benda-benda pada zaman seperti ini seolah telah menjadi dewa yang diagungkan. Nilai didewakan, rupiah didewakan, rumah mewah didewakan, dan semua benda duniawi yang akan musnah pada akhirnya telah menjadi dewa dalam kehidupan semua orang.

Sejauh apapun cita-cita sebuah bangsa untuk melihat birokrasi di negaranya bersih dari korupsi akan pudar jika ternyata nilai material masih menjadi dewa dalam semua segi kehidupan. Padahal ada sebuah nilai yang terlupakan, nilai yang menjadi penentu bersihnya sebuah sistem birokrasi, dan kejayaan sebuah bangsa yaitu nilai kereligiusan.

Nilai Kereligiusan

Sifatnya abstrak, ghaib dan berada dalam hati manusia. Sulit memang untuk melakukan penilaian ini, karena manusia diberikan karunia untuk bermuka dua di depan orang. Kadang menjadi baik, kadang menjadi buruk.

Tapi jika kita benar-benar mengusahakan penilaian ini, maka bentuk-bentuk pedewaan kepada benda akan berangsur-angsur hilang dan musnah. Pada gilirannya kehidupan pendidikan akan dipenuhi dengan keriligiusan dengan kehidupan berorinetasi akherat.

Orientasi akherat disini bukan berarti seorang siswa melupakan kehidupannya di dunia, tetapi seorang siswa dalam bersikap selalu mengingat bahwa dirinya hanya hidup sekali dan nanti akan mati. Pola pikir seperti inilah yang akan merangsang siswa untuk lebih produktif dalam berkarya bagi kesejahteraan masyarakat dan berhati-hati dalam segala tindakan.

Nilai keriligiusan hanya dapat ditanam dan dinilai oleh guru yang bernilai religius pula. Guru yang melihat siswanya dengan penuh kekhawatiran akan masa depannya, sehingga berusaha seoptimal mungkin mengubah akhlaknya yang, mungkin, jahiliyah menjadi ilahiyah.

Nilai-nilai kerilgiusan saat ini biasanya berbentuk abjad dalam buku raport. Dan itu sama sekali tidak mewakili sikap seorang siswa selama menempuh pendidikan. Alangkah baiknya penilaian berbentuk deskripsi ringan mengenai sikap seorang siswa selama menempuh pendidikan, dan deskripsi ini hanya dapat terwujud apabila guru benar-benar perhatian kepada siswanya.

Dari Guru yang mengajar dari hati, maka hadir pula siswa yang bekerja dengan hati, karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

sumber gambar : www.matanews.com

, ,

1 Comment