Posts Tagged hati

Empati

ini sebuah bentuk empati
 
aku bukan mereka, namun
berinteraksi bersama mereka
 
dari rasa terangkai kata
dari kata tersusun bahasa
dari bahasa terpatri makna
aku pahami dan aku resapi
sesaat rasa itu datang : empati
 
teriakan aksara  begitu membara
dalam hati dan media masa
tetapi mengapa? dia hanya diam
seolah mereka tak berarti
seolah mereka telah mati
 
Demi hati nurani
mungkin kini mereka berani
membuang hormat pada Bapak Kami
karena bulat sudah kesimpulan :
Ia, tidak kunjung berempati
 
Oleh Ferry Fadillah (untuk CCPNS yang menunggu tanpa pasti)
Advertisements

, , , , , ,

Leave a comment

Hati dan Sikap : Relakah Bermuka Dua Demi Ini dan Itu ?

Oleh FERRY FADILLAH

Hati manusia. Tidak sekedar organ tubuh yang berfungsi menawarkan racun, lalu begini dan begitu, tetapi lebih kepada tempat persembunyian terefektif bagi pikiran, gagasan, dan perasaan. Jika bunker persembunyian perang bisa luluh lantah hancur dengan tanah lalu diketahui isinya, hati manusia tidak. Sehebat-hebatnya ancaman, bahkan sampai mengancam diri, semua isi hati akan tetap terkunci sampai mati, dan pada akhirnya akan selalu menjadi misteri.

***

Sikap dan hati merupakan kawan lama yang senantiasa berkoordinasi terlebih dahulu sebelum bertindak. Sikap bisa seperti ini karena hati, hati bisa seperti itu karenaa sikap. Adakalanya juga, hati dan sikap berlawanan, seolah-olah bekerjasama memproteksi sesuatu yang sangat penting.

Munafik adalah kata yang paling keras didengungkan bagi mereka yang ucapan dan perbuatannya bertentangan. Lantas bagi mereka yang hati dan sikapnya berlawanan, apa boleh kita sebut dengan istilah yang sama?

Hati dan sikap yang berlawanan bisa ditemukan dalam berbagai dalih : menghormati orang lain, menjaga perasaan orang lain atau menjaga persahabatan. Tidak heran jika mereka sanggup memakai dua muka sekaligus sampai berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Alasannya karena itu tadi, ini dan itu.

Seorang Uya Kuya dapat menghipnotis seseorang lalu membuka isi hatinya, yang nantinya akan keluarlah bunyi-bunyi tulus dari palung hati terdalam seorang manusia, yang isinya bisa menyenangkan dan bisa juga menyakitkan. Tapi separah apapun bunyi yang menyakitkan, itu tetaplah suara hati, suara terjujur yang pernah ada.

Alih-alih ingin menyeragamkan sikap dan hati, maka seseorang akan menghina orang dengan perawakan improposional, gigi tidak beraturan, mata merah, dan rambut kusut nan keriting dengan sebutan Si Buruk Rupa. Memang begitu nyatanya dan memang  jujur ucapannya? Lantas haruskah  suara hati Yang Maha Jujur itu melukai hati orang lain yang sama jujurnya?

Sesama bus saja dilarang mendahului, apalagi hati, tentu tidak boleh saling menyakiti. Aneh memang analogi ini, tapi biarlah. Tidak boleh saling menyakiti bukan berarti hidup harus rela bermuka dua selama-lamanya, bukan. Tapi biarlah isi hati itu tersimpan sedalam-dalamnya, terkunci rapat penuh kode rahasia sampai saatnya nanti. Saat yang tepat bagi hati berbicara. Toh, tugas manusia dalam bersikap ialah saling menghormati, tidak kurang dan boleh lebih.

Salam Sukses, Bahagia Selalu..

"semua tampak bahagia ketika difoto, tapi apakah benar bahagia, adakah yang tahu isi hatinya masing-masing?"

,

Leave a comment